“Sayang, aku harus ke Jakarta selama dua minggu. Ada urusan pekerjaan. Kamu ke rumah Mama dulu, ya. Aku nggak tenang kalau kamu sendirian di rumah,” ucapnya lembut.
Di dalam kamar mewah itu, sepasang suami istri duduk berdampingan di atas sofa, suasananya hangat meski terselip kegelisahan yang tak terucap.
“Iya, Mas,” jawab sang wanita pelan. Tatapannya sendu menatap wajah tampan dengan garis rahang tegas itu. “Tapi beneran dua minggu saja, kan? Kamu harus cepat pulang, ya. Aku takut lahirannya lebih cepat dari perkiraan dokter. Katanya sekitar satu bulan lagi.”
“Hm, aku akan cepat pulang,” jawabnya sambil mengelus lembut perut membuncit sang istri.
“Wah, dia nendang, sayang,” serunya spontan saat merasakan respons sang buah hati yang menendang dari dalam.
Aulia Maheswari menatap suaminya dengan sorot mata hangat. Kemudian pandangannya beralih ke perutnya sendiri, dan tangannya ikut bergerak mengusap pelan, seolah menyapa kehidupan kecil yang tumbuh di sana.
“Kamu baik-baik di sini ya, Baby,” bisiknya lembut, seolah benar-benar mengajak nyawa kecil di balik perut itu berbincang.
Adrian Pratama, pria tampan berusia dua puluh delapan tahun, bekerja sebagai seorang manager di sebuah perusahaan besar di Surabaya. satu tahun lalu dia menikah dengan wanita cantik bernama Aulia Maheswari atas wasiat dari ayah Aulia sebelum pria tua itu meninggal. Meski pernikahan itu tidak di landasi cinta, bahkan mereka baru kenal, tapi Adrian memperlakukan istrinya dengan sangat baik.
Aulia tertawa kecil. Pandangan matanya beralih ke sebuah koper besar yang telah terisi pakaian suaminya.
“Semuanya sudah diisi kan, Mas? Nggak ada yang ketinggalan? Coba dicek lagi, siapa tahu masih ada barang lain yang kamu perlukan,” titahnya lembut.
Adrian berdiri. Ia tampak berpikir sejenak, lalu menutup kembali kopernya setelah merasa semuanya telah terkemas dengan rapi.
“Sudah semuanya,” jawabnya singkat, kemudian melangkah menuju tempat tidur.
Malam kian larut. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat. Adrian pun berbaring, bersiap memejamkan mata.
Aulia ikut naik ke ranjang, menempatkan tubuhnya di sisi sang suami. Sebelum benar-benar memejamkan mata, pandangannya tertuju pada punggung Adrian yang membelakanginya.
“Mas…” panggilnya pelan.
“Hm,” jawab Adrian singkat tanpa menoleh.
Dengan ragu namun penuh keberanian, Aulia membuka satu per satu kancing piyamanya. Napasnya sedikit memburu saat tangannya bergerak meremas payu-daranya sendiri, mencoba menenangkan gejolak yang tak bisa lagi ia pendam.
“Aku pengen…” ucapnya lirih, menggantungkan kalimat itu di udara.
Adrian menoleh. Tatapannya tertumbuk pada tubuh bagian atas istrinya yang sudah setengah terbuka. Pria itu menelan ludahnya kasar, memperhatikan dua bongkahan yang semakin hari semakin besar dari saat terakhir kali dia lihat, jelas pria itu berusaha menahan sesuatu yang sejak lama ia tekan.
Aulia tersenyum tipis. Malam ini terasa berbeda, setelah berbulan-bulan, akhirnya ia berhasil menggoyahkan pertahanan sang suami. Sejak kehamilan itu, Adrian tak pernah lagi menyentuhnya, terlalu takut terjadi sesuatu pada janin yang mereka nantikan.
Hampir sembilan bulan Aulia menahan rindu akan sentuhan itu, meski berkali-kali hasratnya bangkit seiring hormon yang kian sulit dikendalikan.
Namun harapan itu kembali runtuh saat Adrian perlahan mengancingkan kembali piyama yang sempat terlepas.
“Sayang, tidak sekarang,” ucapnya dengan suara berat, tangannya mengusap lembut rambut Aulia. “Kamu tahu sendiri, aku takut terjadi apa-apa sama anak kita.”
Wajah Aulia seketika masam. Bibirnya mengerucut, lalu ia membalikkan badan, membelakangi sang suami.
Adrian tak membujuk. Ia bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan keheningan yang menggantung di antara mereka.
Malam itu tak ada yang istimewa. Sama seperti malam-malam sebelumnya, selalu berakhir dengan sisa kekecewaan di hati sang wanita hamil itu.
Adrian kembali ke ranjang setelah hampir satu jam berada di dalam kamar mandi. Ia menatap Aulia yang tampaknya telah terlelap, wajahnya tenang meski menyimpan perasaan yang tak pernah benar-benar ia pahami.
Pria itu hanya menghela napas berat, lalu memejamkan mata, membiarkan malam berlalu dalam diam.
...****************...
Pagi datang begitu cepat. Seolah tak pernah terjadi apa pun semalam, Aulia kini sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang suami. Bumil itu bangun lebih awal dari biasanya, mengingat hari ini Adrian akan berangkat ke Jakarta.
Setelah selesai memasak, Aulia kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Di sana, Adrian sudah tampak rapi. Pria itu berdiri di depan cermin, menyemprotkan sedikit minyak wangi ke tubuhnya.
“Aku mandi dulu, Mas,” ujar Aulia.
Adrian hanya mengangguk singkat.
Usai mandi dan berganti pakaian, Aulia keluar kamar. Adrian sudah tak ada di sana. Tak lama kemudian, mereka duduk berhadapan di meja makan, menikmati sarapan pagi berdua dalam suasana yang tenang.
☘️
☘️
Selesai sarapan, dua insan itu melangkah menuju mobil. Adrian menyeret kopernya, lalu memasukkannya ke bagasi. Rencananya, setelah mengantar Aulia ke rumah ibunya, ia akan langsung menuju bandara tanpa kembali ke rumah.
Mobil mewah itu melaju dengan sangat hati-hati. Udara pagi yang sejuk menyapa, membelah jalanan Kota Pahlawan yang masih lengang di pagi hari.
Mobil yang dikemudikan Adrian memasuki sebuah rumah besar berlantai satu dengan halaman yang asri. Beragam bunga hias mempercantik pelataran taman, menebarkan warna dan kesegaran pagi. Di sana, tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya, sedang merawat beberapa tanaman hias.
Begitu melihat mobil sang menantu memasuki halaman, wanita itu segera meletakkan peralatan kebunnya lalu bergegas menghampiri. Senyum sumringah merekah di wajahnya, menyambut kedatangan putrinya dengan penuh suka cita.
“Selamat pagi, Ma,” sapa Adrian begitu turun dari mobil, lalu menyalami tangan mertuanya dengan sopan.
“Mama pagi-pagi sudah di taman saja,” ujar Aulia sambil memeluk tubuh ibunya.
Kania Mentari, ibu sambung Aulia, membalas pelukan putrinya dengan hangat. “Bosan kalau terus di dalam rumah, Sayang. Apalagi sendiri, sepi sekali hidup Mama,” jawabnya dengan nada sendu.
Aulia tersenyum. “Beberapa minggu ke depan Aulia di sini akan menemani Mama.”
“Iya, Mama senang sekali. Akhirnya putri Mama mau juga datang menemani wanita tua ini,” balas Kania, sengaja mendramatisasi ucapannya.
Mereka bertiga pun tertawa kecil.
“Titip Aulia ya, Ma. Dua minggu ke depan saya harus ke Jakarta,” ujar Adrian sebelum berpamitan pada istri dan ibu mertuanya.
“Tentu, Adrian. Kamu tidak perlu cemas apa pun. Mama akan menjaga istri kamu ini,” jawab Mama Kania meyakinkan.
Setelah itu, Adrian berpamitan pada dua wanita tersebut dan segera bertolak menuju bandara.
...****************...
“Sayang, hari ini Mama mau pergi arisan. Aulia mau ikut Mama atau di rumah saja sama Bibi?” tanya Mama Kania saat mereka menikmati sarapan pagi hasil olahan tangan cekatan wanita paruh baya itu. Seperti biasa, apa pun yang ia masak selalu terasa begitu lezat.
Lima hari sejak Adrian berangkat ke Jakarta, Aulia tampak betah tinggal bersama ibunya. Meski berstatus ibu sambung, hubungan keduanya sejak dulu terjalin hangat. Mama Kania begitu menyayangi Aulia sepenuh hati.
“Aku ikut ya, Ma.”
“Boleh, Sayang. Setelah dari arisan, kita ke mal, ya. Sudah lama sekali kita nggak punya waktu berdua untuk belanja,” ujar Mama Kania dengan nada ceria.
Permintaan itu langsung disambut antusias oleh Aulia. Ia memang ingin keluar rumah dan menghabiskan waktu bersama sang ibu.
...----------------...
"Kak Aulia, maaf menganggu. Tapi aku mau menyampaikan sesuatu kak. Di sini Arumi sedang kena masalah kak—"
"Apa? Masalah apa?"
"Dia di grebek penghuni dan ibu kos tengah melakukan hubungan badan dengan seseorang pria."
"HAH?"
Tbc...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai menghadiri arisan, dua wanita dengan perbedaan usia itu kini memasuki sebuah mal. Mereka berbelanja banyak barang. Beberapa paper bag ditenteng oleh sopir yang ikut masuk, sebagian lainnya dibawa oleh Mama Kania. Sementara Aulia sama sekali tidak dibiarkan membawa apa pun—takut bumil itu kelelahan.
Kini, mereka duduk di sebuah restoran di dalam mal. Beragam menu terhidang di meja, semuanya sesuai keinginan Aulia.
Di tengah asyiknya menikmati makanan sambil ditemani obrolan ringan, perhatian Aulia sedikit teralihkan oleh getaran ponselnya yang kembali berbunyi setelah beberapa kali ia abaikan.
“Siapa sih, ganggu saja,” gumamnya malas sambil membuka tas.
“Siapa, Sayang?” tanya Mama Kania, ikut melirik ke arah putrinya.
“Jenar, Ma.”
“Jenar… siapa?” tanyanya lagi, berusaha mengingat.
“Jenar, sahabatnya Arumi, Ma. Masa lupa,” tukas Aulia sambil menekan tombol hijau di layar ponselnya.
Mama Kania mengangguk singkat setelah mengingat nama itu, lalu ikut menyimak pembicaraan putrinya.
“Halo,” sapa Aulia dengan suara lembut.
“Halo, Kak Aulia. Maaf mengganggu,” ujar Jenar dari seberang sana. Suaranya terdengar cemas. “Ini… aku mau menyampaikan sesuatu. Arumi sedang kena masalah, Kak.”
“Apa? Masalah apa?” tanya Aulia dengan raut yang seketika berubah. Wajahnya menegang. Di sisi lain, Mama Kania menggeser duduknya, mendekat ke arah putrinya.
“Arumi digerebek penghuni kos lain, Kak. Katanya tengah melakukan hubungan badan seorang pria—”
“Hah?” pekik Aulia lantang. Ia langsung berdiri, sementara ponselnya terlepas dan jatuh begitu saja ke atas meja.
Mama Kania tak kalah terkejut. Namun wanita paruh baya itu berusaha tetap tenang. Ia meraih ponsel putrinya yang masih tersambung, berniat mengetahui lebih jauh.
“Halo, Jenar. Ini Tante Kania. Tadi kamu bilang apa?” tanyanya menahan gemetar.
“Tante… maaf. Jenar memang harus menghubungi Kak Aulia. Arumi digerebek penghuni kos sedang begituan, sekarang mereka sedang digiring ke rumah ibu kos. Katanya… katanya mereka mau dinikahkan, Tante,” jelas Jenar dari seberang, membuat Mama Kania nyaris limbung di kursinya.
“Saya akan datang ke sana,” ujar Mama Kania dengan suara bergetar. “Tolong sampaikan pada mereka jangan bertindak sendiri. Bilang kalau saya segera tiba.”
Ia menutup sambungan telepon dengan napas berat, telinganya masih menangkap samar suara cacian yang bisa ia tebak tertuju pada Arumi.
Tak lama kemudian, Mama Kania, Aulia, dan sang sopir bergegas meninggalkan mal, langsung menuju bandara.
Arumi Mentari, adik tiri Aulia, yang kini berkuliah di Jakarta. Aulia masih sulit mempercayai kenyataan itu. Sosok adiknya yang selama ini ia kenal begitu polos dan lugu terasa tak mungkin terlibat dalam masalah sebesar ini.
“Sayang, kamu tidak usah ikut, ya. Biar Mama saja yang ke sana,” bujuk Mama Kania sepanjang perjalanan menuju bandara. Ia masih berusaha menenangkan putri sulungnya yang bersikeras ingin ikut ke Jakarta demi memastikan keadaan Arumi secara langsung.
“Aku mau ikut, Ma. Aku mau tahu laki-laki brengsek mana yang sudah menodai adikku!” ujar Aulia dengan nada geram.
“Tapi, Sayang, kondisi kamu—”
“Aku akan baik-baik saja, Mam. Percaya sama Lia,” potong Aulia meyakinkan.
Ketegasan itu akhirnya membuat Mama Kania tak mampu lagi membujuk. Dengan berat hati, ia mengalah.
Terpaksa, keduanya berangkat bersama. Beruntung, mereka mendapatkan tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan beberapa menit lagi. Setibanya di bandara, mereka langsung masuk ke dalam pesawat, hanya berbekal pakaian baru yang sempat dibeli di mal, karena mereka tidak sempat pulang ke rumah untuk berkemas.
...****************...
Setelah lebih dari satu jam penerbangan, kini mereka berdua berada di Bandara Soekarno Hatta setelah pesawat mendarat dengan selamat.
Aulia langsung memesan taksi daring menuju kos adiknya. Alamat itu sudah di luar kepala, karena ini bukan kali pertama mereka datang ke sana.
Sepanjang perjalanan yang melelahkan, tak satu pun dari mereka bersuara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing yang sejak tadi terasa riuh.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan area kos. Di sana, Jenar masih berdiri dengan raut wajah gelisah. Ia mondar-mandir tak menentu. Beberapa orang lain ikut berdiri di sekitar, jumlahnya tidak banyak, namun mulut mereka masih sibuk berbisik.
Tak jauh dari situ, di depan rumah ibu kos, tampak beberapa warga mengintip ke dalam dengan rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.
Aulia dan ibunya turun dari mobil, lalu menghampiri Jenar.
“Jenar…” panggil Aulia.
Mata Jenar membola saat menyadari Aulia ikut datang ke sana. Wajah gadis berusia sekitar dua puluh dua tahun itu pucat pasi. Ia menyalami kedua tangan Aulia dengan gemetar.
“Kak Aulia datang…” ucapnya lirih.
“Iya. Ayo kita ke rumah ibu kos. Arumi di sana, kan?” tanya Aulia sambil menarik tangan Jenar.
Namun Jenar tak bergerak. Tubuhnya masih kaku di tempat, matanya menatap Aulia dengan ragu.
“Jenar, ayo.”
“Kak Aulia… Kakak tidak boleh ikut,” ucap Jenar dengan suara kecil. “Biar Tante Kania saja yang ke sana. Bagaimana kalau Kak Aulia ikut Jenar saja?”
Di sekitar mereka, bisik-bisik terus terdengar. Beberapa tatapan sinis diarahkan pada Aulia dan Mama Kania, seolah merekalah sumber dari semua kesalahan itu.
“Aku mau lihat Arumi, Jenar. Ayo antarkan kami ke sana,” titah Aulia tegas, tak memberi ruang bantahan.
Terpaksa, Jenar menurut. Ia melangkah mengikuti mereka menuju rumah ibu kos.
Kedatangan Aulia dan Mama Kania langsung disambut suara gaduh. Ada yang memaki, menyalahkan Mama Kania karena dianggap tak mampu mendidik anaknya dengan baik. Namun ada pula tatapan iba yang terselip di antara kerumunan.
Mama Kania dan Aulia memilih menulikan pendengaran. Keduanya menerobos kerumunan di depan rumah ibu kos, lalu masuk begitu saja.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Arumi Mentari binti Bagas Pradipta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH!!”
“Mas Adrian…”
Suara lantang itu, diucapkan dalam satu tarikan napas oleh mempelai pria, seketika meruntuhkan seorang wanita yang berdiri kaku di ambang pintu rumah ibu kos. Tatapannya kosong. Air mata membanjiri wajahnya.
Di hadapannya, pria itu, suaminya sendiri, duduk berdampingan dengan sang adik sebagai sepasang pengantin.
Deg.
“Aulia…”
“Kakak…”
Tbc...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di depan sana, di hadapan seorang penghulu, dua orang yang begitu berarti dalam hidupnya duduk berdampingan. Mereka telah sah menjadi sepasang pengantin, mengenakan pakaian sederhana dengan wajah yang masih menyisakan lebam dan luka, mungkin karena sempat di keroyok massal.
Aulia berdiri kaku. Seluruh tubuhnya terasa dingin, kaki itu mendadak kehilangan tenaga. Tangisnya tak bersuara, namun bahunya bergetar hebat, menahan runtuh yang tak sanggup ia lepaskan.
“Mas…”
Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari bibirnya.
Pikirannya menolak menerima apa yang dilihat mata. Ia masih berharap ini sekadar kekeliruan, atau mungkin halusinasi akibat lelah dan cemas. Namun harapan itu runtuh ketika jemarinya mencubit pergelangan tangan sendiri. Rasa perih yang nyata mematahkan semua sangkalan.
“Aulia…”
“Kakak…”
Wajah dua orang di hadapannya pucat pasi. Adrian langsung berdiri, diikuti Arumi yang menunduk dalam, lalu melangkah mendekat ke arah ibunya yang masih berdiri di sisi Aulia dengan tatapan syok yang sama.
Aulia mundur setapak ke belakang, pelan. Kepalanya terus menggeleng, seolah menolak kenyataan yang kini berdiri tepat di hadapannya.
“Kamu… kamu laki-laki brengsek itu, Mas. Kenapa? Kenapa harus kamu, Mas? Arghhh!” pekiknya histeris sambil menjambak rambutnya sendiri.
Aulia berbalik dan berlari keluar, tepat saat jaraknya dengan Adrian nyaris tinggal selangkah.
“Sayang, Lia…”
Mama Kania tersentak, lalu menyusul putri sulungnya setelah beberapa detik terdiam karena syok.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan.
“Siapa bumil itu?”
“Kayaknya istri mempelai pria deh, lihat tadi histeris banget.”
“Sepertinya iya. Dia kakaknya Arumi.”
“Hah?”
“Jadi suaminya selingkuh sama adik iparnya sendiri?”
“Apa ini yang orang-orang bilang ipar itu maut?”
Tatapan aneh dan penuh penilaian diarahkan pada dua orang yang masih berdiri di dalam rumah ibu kos. Adrian sendiri tampak limbung, bingung antara menyusul istri pertamanya atau tetap bertahan di sana.
“Dasar pelakor!”
“Percuma kuliah tinggi, ujung-ujungnya rebut suami orang!”
“Perempuan nggak punya adab!”
Teriakan dan cacian itu menghantam Arumi tanpa ampun. Gadis itu semakin menunduk, tubuhnya gemetar, sementara dunia di sekelilingnya terasa semakin sempit.
...****************...
Hancur.
Itu satu-satunya kata yang mampu menggambarkan apa yang Aulia rasakan. Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya bahwa suaminya tega berkhianat dengan cara sekeji itu.
“Apa ini alasannya kamu nggak pernah lagi menyentuhku, Mas?” gumamnya lirih, di sela napas yang tersengal. “Alasan takut menyakiti anak kita? Bulsit!”
Tawanya pecah, getir dan kosong. Tangannya menghantam dada sendiri, kuat, seolah ingin meredakan sesak yang kian menyesakkan napas.
“Nyatanya bukan karena kamu takut. Kamu memang nggak mau. Kamu lebih suka jajan di luar. Tapi kenapa harus Arumi, Mas?”
Pikirannya kacau. Penolakan demi penolakan selama hampir sembilan bulan sejak ia hamil kini membentuk jawaban yang terasa masuk akal, meski menyakitkan. Satu per satu potongan ingatan tentang kedekatan Adrian dan Arumi terangkai. Hal-hal yang dulu ia anggap wajar sebagai hubungan adik ipar dan kakak ipar, kini tampak berlebihan, bahkan memuakkan.
“Bodoh…” lirihnya.
“Bodoh kamu, Aulia…”
Langkahnya terus berlari tanpa arah. Jalanan Jakarta siang menjelang sore itu ramai, kendaraan berlalu-lalang, suara kota tak pernah berhenti. Namun semua itu tak lagi berarti apa-apa baginya.
Aulia berlari, menulikan pendengarannya sendiri, tenggelam dalam suara pikirannya yang terus berkicau, tanpa tahu ke mana kakinya akan membawanya.
Bahkan suara teriakan yang memanggil namanya dari belakang, oleh Jenar dan Mama Kania, tak lagi ia hiraukan. Semua terasa seperti angin lalu, melintas tanpa pernah benar-benar terdengar.
Kakinya yang sedikit membengkak akibat kehamilan tak ia rasakan perihnya, meski langkahnya semakin panjang dan tergesa. Tubuhnya terus bergerak, seolah hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan.
Hanya hatinya yang kian lama kian sakit. Seolah sebilah sembilu menghantam dada berulang kali, memukul Aulia tanpa jeda, tanpa ampun.
“Kenapa, Mas…” tangisnya makin pecah, tak kunjung reda.
Banyak pasang mata menatapnya, sebagian heran, sebagian iba. Namun semua itu seolah tak terlihat oleh Aulia. Wajahnya sembab, pandangannya kosong, dunia di sekitarnya tak lagi memiliki bentuk.
“Sayang… berhenti, Lia. Dengarkan Mama, sayang…” teriak Mama Kania dari belakang.
Wanita paruh baya itu pun hancur. Dadanya sesak menyaksikan putri sulung yang ia besarkan menangis tanpa pegangan, sementara putri kandungnya sendiri justru menjadi penyebab luka sebesar itu. Ia terjebak di posisi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, berdiri di antara rasa sayang dan rasa bersalah yang sama-sama menyesakkan.
“Aulia…”
Panggilan itu kembali meluncur, namun tetap tak digubris. Wanita di depan sana terus melangkah, bahkan tak menoleh sedikit pun.
Tak jauh di belakang mereka, Adrian ikut mengejar. Langkahnya tergesa, wajahnya panik, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk sekadar menyentuh, apalagi menghentikan Aulia.
“Aulia, jangan!” teriak Mama Kania panik saat melihat wanita hamil itu melangkah ke tepi jalan raya yang padat oleh kendaraan.
“Kak Aulia, berhenti di situ! Jangan nyebrang dulu, Kak!” suara Jenar ikut menggema, nyaris tertelan deru mesin.
Aulia sudah berdiri di pinggir aspal. Tangannya terangkat, melambai ke arah kendaraan yang melaju, memberi isyarat agar mereka melambat, dan memberinya sedikit waktu untuk menyeberang.
Beberapa mobil memperlambat laju. Celah kecil itu terbuka. Merasa cukup aman, Aulia berlari ke tengah jalan untuk menyebrang biar sampai di sisi jalan lainnya.
Namun saat kakinya baru mencapai setengah jalan, dari arah kiri sebuah mobil melesat dengan kecepatan di atas rata-rata. Bunyi klakson terlambat, ban mencicit keras, tubuh Aulia membeku sesaat.
BRAKKK!!!
Tabrakan itu tak terhindarkan.
Tubuh Aulia terhempas dan terguling ke depan. Secara refleks, tangannya langsung memeluk perutnya yang membuncit. Kepalanya terbentur keras, darah mengalir, sementara nyeri hebat menghantam sekujur tubuhnya.
Air mata Aulia berderai tanpa suara.
Samar-samar, ia mendengar tangisan ibunya yang semakin mendekat. Ada pula suara seorang laki-laki, suara yang begitu ia kenal, suara yang justru menghancurkannya hari itu.
Dengan sisa kesadaran yang masih bertahan, Aulia menurunkan pandangannya ke arah perutnya. Tangannya bergerak mengelus pelan, seolah ingin menenangkan.
Lalu semuanya gelap.
tbc...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!