Kesunyian di Sembilan Surga tidaklah sunyi; ia bergetar dengan frekuensi hukum alam yang begitu padat hingga terdengar seperti nyanyian ribuan harpa yang berdenging di dalam sumsum tulang.
Saat kelopak mata Chen Kai perlahan terbuka, hal pertama yang ia rasakan bukanlah cahaya, melainkan berat yang luar biasa. Tubuhnya seolah-olah dipaku ke lantai marmer oleh gravitasi yang melampaui logika dunia bawah. Paru-parunya menjerit; setiap embusan napas terasa seperti menghirup serbuk berlian yang membara.
"Uhuk... hoek..."
Chen Kai terbatuk hebat, memuntahkan cairan keemasan yang segera membeku menjadi kristal-kristal kecil sebelum menyentuh lantai.
"Jangan panik, Nak! Segera alirkan sisa Esensi Vitalitasmu ke dinding meridian paru-paru! Kau sedang mencoba mendorong gunung dengan napasmu, kau akan meledak jika tidak segera selaras!"
Suara itu meledak di dalam kepalanya—jernih, tajam, dan penuh kewaspadaan. Kaisar Yao tidak tertidur.
"Guru... Kau... masih di sini..." bisik Chen Kai di dalam batinnya, merasakan kehangatan familiar di tengah dinginnya atmosfer dewa.
"Tentu saja aku di sini! Tapi dengarkan baik-baik," suara Yao merendah, menjadi bisikan yang terisolasi jauh di dalam lapisan terdalam Mutiara Hitam. "Sembilan Surga dikelilingi oleh Jaring Takdir yang dipasang oleh sembilan Kaisar Agung pengkhianat itu. Aku harus menyegel auraku sepenuhnya. Aku akan tetap bangun untuk membimbingmu, tapi aku tidak bisa memanifestasikan diri atau meminjamkan kekuatanku secara fisik. Satu riak saja dariku, dan kita akan musnah dalam sedetik."
Chen Kai mengangguk lemah. Ia memaksakan dirinya untuk duduk, dan setiap gerakan sendinya mengeluarkan bunyi berderit seolah-olah ia adalah mesin tua yang berkarat.
Chen Kai berada di tengah-tengah reruntuhan yang sangat agung. Pilar-pilar batu giok putih setinggi gunung menjulang di sekelilingnya, diukir dengan relief kuno yang menggambarkan sejarah penciptaan bintang-bintang. Tempat ini adalah Reruntuhan Kuil Hening, sebuah situs purba yang terletak di wilayah pinggiran Surga Pertama—Surga Hampa.
"Tempat ini... sangat indah," gumam Chen Kai, menatap sungai energi perak yang mengalir di sela-sela lantai marmer transparan.
"Indah namun mematikan bagi mereka yang belum selaras," sahut Yao. "Udara yang kau hirup adalah Esensi Dewa. Di sini, Qi dari dunia bawahmu hanyalah uap air yang tidak bertenaga. Kau membawa satu samudera Qi, tapi di sini samudera itu hanya setetes Esensi. Kau harus memampatkan seluruh basis kultivasimu melalui Mutiara Hitam. Kau sekarang hanyalah seorang di tahap Dewa Awal."
Chen Kai menatap tangannya. Ia bisa merasakan kekuatan lima elemen yang ia bawa dari bawah, namun mereka terasa kaku, seolah-olah sedang tertidur di dalam sel-sel tubuhnya yang baru.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tenang terdengar di atas lantai kristal.
Chen Kai segera menyiagakan indranya. Dari balik bayangan pilar raksasa, muncul sesosok pria tua mengenakan jubah abu-abu panjang dengan motif awan yang mengalir. Pria itu tidak terbang, namun setiap langkahnya tampak tidak menyentuh tanah secara fisik. Wajahnya tenang, memancarkan aura ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah hidup ribuan tahun.
"Seorang Pendaki tanpa izin?" pria itu bertanya dengan nada yang tidak mengandung permusuhan, melainkan rasa ingin tahu yang dingin. "Kau membedah dinding dunia hanya untuk mendarat di kuil yang sudah mati ini? Sungguh cara yang kasar untuk menyapa surga."
Chen Kai mencoba berdiri, meskipun kakinya gemetar. Ia tidak menunjukkan rasa takut, tatapannya tetap tajam. "Aku hanya mencari jalan yang benar menuju puncak."
Pria itu tersenyum tipis, matanya menyapu rambut perak dan pupil lingkaran emas Chen Kai. "Ambisi yang besar untuk seekor semut yang baru merangkak. Kau beruntung mendarat di sini, di wilayah yang sudah dilupakan oleh para Kaisar Agung. Jika kau mendarat di Gerbang Utama, kau sudah menjadi energi murni bagi formasi mereka sekarang."
Pria itu melemparkan sebutir kristal bening ke arah Chen Kai. "Telan itu. Itu adalah Kristal Penyeimbang. Ia akan membantumu bernapas tanpa membakar meridianmu selama tiga hari. Setelah itu... kau harus belajar untuk 'selaras' sendiri melalui meditasi, atau atmosfer ini akan membuangmu kembali ke kehampaan."
Chen Kai menangkap kristal itu. "Siapa namamu?"
"Nama tidak penting di tempat yang abadi ini," jawab pria itu sambil berjalan menjauh menuju kabut emas di ujung reruntuhan. "Panggil saja aku Tetua Bayangan. Jika kau bisa keluar dari lembah ini dengan kakimu sendiri, temui aku di Kota Awan Putih. Di sana, kau akan menyadari bahwa di surga ini, kekuatanmu sebelumnya hanyalah sebuah mimpi buruk yang harus kau lupakan."
Chen Kai melihat pria itu menghilang ke dalam cahaya.
Ia menelan kristal tersebut. Seketika, rasa sesak di dadanya berkurang. Tekanan atmosfer yang tadinya meremukkan tulangnya kini mulai terasa seperti pelukan yang berat namun stabil.
"Jangan percayai dia sepenuhnya, Nak," suara Yao kembali terdengar. "Tapi dia benar tentang satu hal. Kau butuh waktu untuk bermeditasi. Duduklah. Kita akan mulai memurnikan setetes pertama Esensi Dewamu sekarang."
Chen Kai duduk bersila di tengah reruntuhan yang agung itu. Di bawah langit indigo yang dipenuhi nebula, Sang Raja Hitam yang masuk secara ilegal mulai menenun kembali kekuatannya, satu napas demi satu napas.
Perjalanan menuju takhta Pencipta baru saja dimulai dengan keheningan yang megah.
Angin di Reruntuhan Kuil Hening berhembus membawa butiran kristal mikro yang berpendar. Setiap butiran itu adalah pecahan Hukum Alam yang belum matang, namun cukup tajam untuk mengiris kain jubah yang tidak memiliki perlindungan energi. Chen Kai duduk bersila tepat di tengah altar, membiarkan tubuhnya menjadi titik pusat gravitasi yang sunyi.
Kristal Penyeimbang yang diberikan oleh Tetua Bayangan telah ia telan, dan kini ia bisa merasakan hawa dingin yang stabil menyelimuti paru-parunya. Tekanan udara yang tadinya terasa seperti bara api yang merobek meridian, kini berubah menjadi beban dingin yang bisa ia kendalikan.
"Nak, perhatikan setiap tarikan napasmu," suara Kaisar Yao bergema di dalam lapisan terdalam kesadarannya, seolah bicara dari balik dinding tebal. "Dunia bawah memberimu samudera Qi, tapi di sini, samudera itu hanyalah uap air yang tipis. Jika kau mencoba menyerang sekarang, Qi-mu akan hancur bahkan sebelum keluar dari telapak tanganmu."
"Lalu, apa yang harus kulakukan, Guru?" Chen Kai membatin.
"Kompresi. Kau harus mengubah uap menjadi kristal. Gunakan Mutiara Hitam sebagai palu tempa, dan gunakan meridianmu sebagai landasannya."
Chen Kai memejamkan mata. Ia mulai menarik Qi Naga yang meluap di dalam Dantiannya. Di Benua Tengah, energi ini sanggup meruntuhkan kota, namun di sini, ia terasa ringan dan tidak berbobot. Ia mengarahkan arus Qi tersebut masuk ke pusaran Mutiara Hitam yang mulai berputar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
KRAAAK!
Chen Kai mengerang. Rasa sakitnya luar biasa. Ia merasa seolah-olah sumsum tulangnya sedang diaduk oleh besi panas. Qi lamanya yang melimpah dipaksa untuk memadat, diperas hingga ribuan kali lipat. Dari satu samudera energi, hanya tersisa setetes cairan berwarna ungu keemasan yang sangat berat.
Itulah Esensi Dewa.
Satu tetes esensi itu kemudian dialirkan keluar dari Mutiara Hitam, merembes masuk ke dalam jaringan otot dan tulangnya. Seketika, Chen Kai merasa lengan kanannya bergetar hebat. Kulitnya yang tadi transparan mulai memadat kembali, memancarkan kilauan logam yang samar di bawah cahaya matahari perak.
"Bagus! Jangan berhenti!" Yao menyemangati dengan nada tegang. "Sembilan Surga tidak hanya menuntut kekuatan, tapi juga kemurnian. Buang sisa-sisa energi fana yang tidak bisa dikompresi melalui pori-porimu!"
Uap hitam kelabu mulai keluar dari tubuh Chen Kai, berbau amis dan kotor. Itu adalah residu dari energi dunia bawah yang tidak mampu selaras dengan hukum Sembilan Surga. Saat uap itu menyentuh lantai marmer reruntuhan, marmer itu mendesis seolah terkena asam.
Namun, ketenangan meditasi itu terganggu.
Di ujung, di antara pilar-pilar yang runtuh, suara gesekan sisik di atas batu terdengar. Sesosok makhluk merayap keluar dari bayang-bayang. Bentuknya menyerupai kadal raksasa, namun kulitnya terbuat dari lempengan kristal hitam dan matanya memancarkan cahaya ungu yang lapar.
Binatang Hampa: Penelan Sisa.
Makhluk ini adalah pemulung di Sembilan Surga, yang tertarik pada aroma "energi fana" yang baru saja dikeluarkan dari tubuh Chen Kai. Baginya, uap hitam yang dibuang Chen Kai adalah santapan yang lezat.
Lidah kadal itu menjulur, panjang dan berujung tajam, mencambuk udara ke arah Chen Kai.
Chen Kai tidak membuka matanya. Ia masih berada di tengah proses kompresi yang kritis. Namun, indra spasialnya—yang kini telah selaras sedikit dengan dimensi ini—menangkap pergerakan tersebut.
Saat lidah kadal itu hampir menyentuh pundaknya, Chen Kai hanya menggerakkan bahunya satu inci ke samping.
BAM!
Lidah kristal itu menghantam altar batu, menghancurkannya menjadi debu. Kekuatan fisik binatang di Sembilan Surga berada di level yang berbeda.
Chen Kai mengangkat tangan kanannya, tangan yang baru saja dialiri setetes Esensi Dewa. Ia tidak menggunakan teknik pedang. Ia hanya melakukan satu jentikan jari ke arah udara kosong di depan kepala kadal tersebut.
"Gravitasi: Pemadatan."
WUNG!
Meskipun ia hanya menggunakan sedikit energi, namun karena energi itu telah dikompresi menjadi Esensi Dewa, dampaknya seketika mengubah koordinat ruang di depan moncong kadal tersebut menjadi titik dengan berat tak terhingga.
Kepala kadal raksasa itu tiba-tiba tersentak jatuh, menghantam lantai marmer dengan sangat keras hingga lehernya patah. Binatang itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara sebelum tubuhnya hancur oleh berat kepalanya sendiri.
Chen Kai menghela napas panjang. Napasnya kini membawa aura putih yang jernih.
"Kekuatanku menyusut... tapi daya hancurnya menjadi lebih tajam," batin Chen Kai, menatap tangannya yang sedikit gemetar.
"Itulah jalannya, Nak," Yao terkekeh. "Di dunia ini, satu tetes embun bisa membunuh seorang raja jika kau tahu cara memampatkannya. Teruskan meditasimu. Matahari perak hampir tenggelam, dan saat malam tiba di Surga Hampa, predator yang sebenarnya akan keluar untuk berburu."
Chen Kai mengangguk. Ia tidak lagi merasa seperti sampah yang terbuang. Di tengah reruntuhan yang sunyi ini, Sang Raja Hitam sedang menempa ulang mahkotanya.
Perjalanan menuju Kota Awan Putih masih jauh, namun pondasi untuk menaklukkan surga baru saja diletakkan di atas darah dan keringat penempaan pertama.
Matahari perak Sembilan Surga mulai turun, namun alih-alih menggelap, langit Surga Hampa justru berubah menjadi lautan kabut emas yang bercahaya. Ini bukan kabut air biasa; ini adalah residu Esensi Dewa yang menguap dari sungai-sungai cahaya di kejauhan. Keindahannya mematikan, karena setiap partikel kabut membawa tekanan yang mampu mencekik meridian siapa pun yang tidak memiliki fondasi yang cukup kuat.
Chen Kai berdiri perlahan dari altar batu di tengah Reruntuhan Kuil Hening. Bangkai kadal kristal di depannya mulai memudar, terurai kembali menjadi partikel debu ungu yang segera tertiup angin. Di dunia ini, segala sesuatu yang mati akan segera diklaim kembali oleh hukum alam yang haus.
Ia menggerakkan bahunya, mendengarkan suara gemeretak tulang yang kini terdengar lebih padat, menyerupai dentingan logam yang saling beradu.
"Bagaimana rasanya, Nak?" suara Kaisar Yao bergema dari dalam Mutiara Hitam, nadanya kini lebih tenang namun tetap waspada. "Satu tetes Esensi Dewa memang sedikit, tapi ia telah menjahit kembali keretakan jiwamu akibat beban sepuluh ribu nyawa di gerbang tadi."
"Berat, Guru," jawab Chen Kai dalam batin. "Setiap langkah terasa seperti aku sedang memikul takdir seluruh benua di bawah sana. Tapi... aku merasa lebih 'nyata'. Qi dunia bawah dulu terasa seperti asap, sekarang aku merasa tubuhku terbuat dari gunung."
"Itulah perbedaan antara Fana dan Dewa," Yao terkekeh. "Tapi jangan sombong. Kau baru saja belajar merangkak. Kota Awan Putih yang disebutkan pria misterius itu... perjalanannya tidak akan mudah. Kau harus melewati 'Lembah Angin Mati' sebelum bisa mencapai pemukiman terdekat."
Chen Kai memungut bungkusan pedangnya. Ia menatap ke arah utara, di mana kabut emas tampak lebih tebal, menyembunyikan puncak-pilar kristal yang menjulang ke angkasa.
"Tetua Bayangan itu memberiku tiga hari," gumam Chen Kai, mengingat kembali pertemuannya. "Kristal Penyeimbang ini hanya bantuan sementara. Aku harus mencapai kemandirian sirkulasi sebelum efeknya habis."
Ia mulai melangkah keluar dari pelataran reruntuhan. Setiap kali kakinya menyentuh lantai marmer transparan, muncul riak energi kecil. Ini adalah pemborosan energi yang harus ia tekan; di Sembilan Surga, efisiensi adalah kunci kelangsungan hidup.
Baru beberapa ratus meter meninggalkan kuil, Chen Kai berhenti. Indra spasialnya—yang kini terintegrasi dengan fragmen Ruang dan gravitasi—menangkap gangguan di balik kabut emas di depannya.
Sret... sret...
Bukan suara binatang. Itu adalah suara kain yang terseret di atas rumput cahaya.
Dari balik kabut, muncul sesosok manusia. Pria itu mengenakan jubah abu-abu yang compang-camping, wajahnya pucat dengan garis-garis biru di lehernya—tanda dari keracunan Esensi Dewa yang tidak dimurnikan. Ia membawa keranjang anyaman yang berisi beberapa kepingan kristal kusam.
Pria itu terhenti saat melihat Chen Kai. Matanya yang cekung membelalak ngeri melihat jubah Chen Kai yang, meskipun kotor, masih memancarkan aura kemegahan seorang penguasa dunia bawah.
"P-pendaki...?" pria itu terbata-bata, suaranya parau. "Kau... kau baru saja naik?"
Chen Kai tidak menurunkan kewaspadaannya. "Siapa kau?"
"Namaku Ah-Gou," pria itu segera menjatuhkan keranjangnya dan bersujud di atas tanah kristal yang tajam. "Hamba hanyalah 'Pencari Sisa' di lembah ini. Tolong, Tuan... jangan bunuh hamba. Hamba tidak memiliki apa pun kecuali beberapa keping Pasir Dao ini."
Chen Kai mengernyit. "Berdiri. Aku tidak tertarik pada sampahmu."
Ah-Gou mendongak, gemetar. Ia melihat rambut perak Chen Kai dan mata dengan lingkaran emas yang redup. Ketakutannya berubah menjadi takjub. "Tuan... Anda selamat dari penyeberangan dengan raga utuh? Rambut itu... Anda pasti seorang penguasa di bawah sana."
"Dunia bawah sudah lewat," kata Chen Kai dingin. "Katakan padaku, ke arah mana Kota Awan Putih?"
"Awan Putih?" Ah-Gou menelan ludah. "Tuan, itu adalah kota para bangsawan dewa! Perjalanan ke sana memakan waktu berbulan-bulan bagi orang seperti hamba. Anda harus melewati 'Pos Penjagaan Sayap' jika ingin masuk melalui jalur resmi."
"Tanya dia tentang Jaring Takdir," bisik Yao tiba-tiba.
"Apa kau pernah mendengar tentang 'Jaring Takdir' di langit kota?" tanya Chen Kai.
Ah-Gou gemetar hebat mendengar nama itu. "Tuan... tolong jangan bicara keras-keras tentang itu! Jaring itu adalah mata para Kaisar Agung. Siapa pun yang memiliki aura yang 'salah' akan langsung dijemput oleh Pembersih Langit."
Ia mendekat sedikit, suaranya menjadi bisikan. "Jika Tuan ingin ke Awan Putih tanpa terdeteksi, Tuan harus memiliki Cincin Penyamar Esensi. Para penyelundup di 'Pasar Debu' biasanya menjualnya. Pasar itu terletak di gua-gua di bawah Lembah Angin Mati."
Chen Kai mencatat informasi itu. Sesuai dengan rencana miliknya, ia tidak bisa langsung menyerbu ke pusat kekuatan. Ia harus membangun fondasi di tempat-tempat tersembunyi seperti Pasar Debu tersebut.
"Bawa aku ke arah Lembah Angin Mati," perintah Chen Kai. "Jika kau jujur, aku akan memberimu perlindungan selama perjalanan."
Ah-Gou tampak ragu, menatap tubuh Chen Kai yang tampak kurus. Namun, ia teringat bagaimana para Pendaki baru biasanya memiliki kekuatan fisik yang luar biasa meskipun meridian mereka hancur.
"Baik, Tuan... tapi kita harus bergerak sebelum 'Angin Merah' bertiup. Di malam hari, esensi di udara menjadi sangat tajam hingga bisa memotong paru-paru manusia."
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan kaca yang berdenting ditiup angin. Chen Kai memperhatikan bagaimana Ah-Gou berjalan; pria itu tidak melawan gravitasi, melainkan 'menyerah' padanya, membiarkan setiap langkahnya jatuh dengan berat namun stabil.
"Pelajari cara geraknya, Chen Kai," saran Yao. "Manusia ini telah hidup di sini selama bertahun-tahun. Dia mungkin lemah, tapi dia tahu cara bernapas selaras dengan denyut Surga Hampa."
Chen Kai mulai meniru pola napas Ah-Gou. Ia menarik napas dalam tiga hitungan pendek dan menghembuskannya dalam satu hitungan panjang yang lambat.
Perlahan, rasa terbakar di paru-parunya mereda. Tekanan atmosfer yang tadinya terasa seperti musuh, kini mulai terasa seperti pelindung yang membungkus kulitnya.
Langkah sang Raja Hitam kini lebih mantap. Chen Kai tahu, perjalanannya ke Kota Awan Putih bukan sekadar mencari keamanan, melainkan langkah pertama untuk menarik perhatian dunia pada keberadaan takhta yang telah lama hilang.
Dunia dewa mungkin indah, namun di bawah permukaan emasnya, Chen Kai bisa merasakan kegelapan yang sangat akrab—kegelapan yang menantinya untuk ditaklukkan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!