Indonesia
NovelToon NovelToon

Pengagum Rahasia

Menyukai Pemandangannya

Gerimis tipis menggantung di udara, menciptakan selubung lembab di atas deretan gedung-gedung megah Fakultas Kedokteran Universitas A. Kanaya mencengkeram erat buku teks tebalnya, langkah kakinya berderap cepat di atas paving block yang mengkilap, aroma khas daun basah dan parfum mahal dari mahasiswa yang berlalu lalang mengisi indra penciumannya.

​Kanaya tidak seharusnya berada di area ini, jalurnya adalah lorong-lorong sederhana di seberang kampus, tempat Fakultas Ilmu Pendidikan berdiri dengan bangunannya yang lebih tua dan cat yang sedikit mengelupas.

Tapi siang ini, seperti hampir setiap Selasa dan Kamis di semester genap ini, Kanaya berada di sini. Tepat di balik pilar besar marmer yang dingin, di sebuah bangku kayu yang sedikit tersembunyi, di mana ia bisa melihat dengan jelas tujuannya yaitu Narendra Atmaja.

Narendra Atmaja, seorang dewa yang secara tidak sengaja terdampar di planet bumi begitulah Kanaya mendefinisikannya dalam hati. Narendra adalah Putra tunggal Atmaja Group, dinasti properti dan kesehatan yang menguasai ibu kota.

Narendra mengambil jurusan Kedokteran, bukan karena paksaan, melainkan karena ia memang cerdas. Wajahnya yang simetris sempurna, garis rahangnya yang tegas dan tatapannya yang selalu tenang bahkan dingin itu mampu membuatnya tampak seperti pahatan patung mahal yang tidak boleh disentuh.

​Sedangkan, Kanaya hanyalah Mahasiswa tahun ketiga Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, penerima beasiswa penuh yang kehidupannya sehari-hari didukung oleh uang saku yang selalu pas-pasan dan pekerjaan paruh waktu di perpustakaan.

Baju sederhana, tas punggung usang dan buku-buku yang sampulnya sudah lusuh adalah identitasnya, Kanaya adalah perwujudan dari yang biasa saja di tengah lautan yang luar biasa ini.

Kesenjangan antara dirinya dan Narendra terasa lebih jauh dari jarak antara bumi dan bintang terjauh, Kanaya pun menyadari hal itu.

​Siang ini, Narendra dan tiga teman kelompok belajarnya sedang duduk di taman tengah, membahas sesuatu yang Kanaya yakin berkaitan dengan anatomi atau bedah.

Mereka tampak serius, Narendra mengenakan kemeja biru muda yang rapi, lengan panjangnya dilipat hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang kuat. Setiap gerakannya efisien, tanpa basa-basi, ia berbicara sedikit, tapi setiap katanya selalu menjadi kesimpulan.

​Kanaya menarik napas, diam-diam menikmati pemandangan itu, ini adalah kebiasaan yang tidak sehat dan Kanaya tahu, tapi ini juga satu-satunya kemewahan yang bisa ia nikmati tanpa biaya.

Kanaya telah menjadi pengagum rahasia seorang Narendra Atmaja sejak upacara penerimaan mahasiswa baru beberapa tahun lalu, di mana saat itu, Kanaya nyaris pingsan karena dehidrasi setelah berdiri terlalu lama di bawah terik matahari. Narendra yang berdiri beberapa baris di depannya berbalik dan tanpa ekspresi menyodorkan sebotol air mineral dingin.

Narendra tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya memberikan botol itu dengan gerakan biasa saja lalu kembali menghadap ke depan, itu adalah satu-satunya interaksi langsung mereka dan itu sudah cukup untuk membuat hati Kanaya tertarik dan mengagumi seorang Narendra.

​"Lagi-lagi di sini," ucap Lista yang merupakan sahabat terbaik Kanaya, Lista adalah Mahasiswa Jurnalistik.

Suara Lista membuyarkan fokus Kanaya pada sosok Narendra, Kanaya menatap perempuan yang berdiri di samping bangkunya dengan dua bungkus mi instan cup di tangannya.

​"Aku hanya... membaca," jawab Kanaya gugup.

Kanaya berpura-pura membuka halaman buku bahkan saat ini pipinya sedikit memanas.

"Kamu membaca buku Dasar-Dasar Kurikulum PAUD di depan Fakultas Kedokteran. Kanaya, di sini tidak ada yang mau mengubah kurikulum PAUD apalagi Tuan Narendra-mu itu. Dia hanya tertarik pada ginjal dan jantung," ucap Lista.

​Kanaya tertawa pelan, "Aku hanya sedang mencari suasana baru," jawab Kanaya karena ketahuan oleh sahabatnya itu.

​"Suasana baru yang dingin dan mahal? Kamu tahu, Narendra Atmaja akan menjadi Dokter lalu dia akan mengambil alih rumah sakit Ayahnya, menikahi anak Menteri dan melupakan bahwa pernah ada mahasiswi jurusan Pendidikan yang diam-diam menyukainya dari bangku taman," ucap Lista.

Meskipun Lista mengucapkannya dengan nada santai, tapi perkataannya terasa seperti sebuah palu dingin yang memukul kesadaran Kanaya dan semua yang dikatakan Lista adalah kebenaran.

Kanaya tidak pernah berkhayal lebih dari sekadar bisa melihat Narendra, Kanaya tahu batasnya dan ia tidak akan pernah mencoba mendekat karena kesenjangan itu bukan hanya soal harta, tetapi juga soal dunia.

Dunia Narendra penuh dengan janji-janji besar dan tanggung jawab korporat, sementara dunia Kanaya adalah tentang bagaimana cara mendidik anak-anak kurang mampu agar memiliki masa depan yang lebih baik, dua dunia yang tidak akan pernah bersentuhan, kecuali dalam imajinasinya.

​"Aku tahu, Ta," ucap Kanaya.

Setelah mengatakan itu, tatapannya kembali tertuju pada Narendra. Narendra baru saja berdiri dan hendak pergi dari taman, "Aku hanya menyukai pemandangannya, itu saja. Hanya...pemandangan," ucap Kanaya.

​Saat Narendra berbalik untuk berjalan menuju gedung, tanpa sengaja matanya menyapu area di mana Kanaya dan Lista duduk. Ini bukan tatapan yang terfokus hanya pandangan sekilas yang acuh tak acuh. Namun, untuk sepersekian detik itu Narendra melihat Kanaya.

​Kanaya menahan napas, ini adalah pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama ia merasa tertangkap basah, jantungnya berdebar kencang, menuntut kebebasan dari tulang rusuknya, Kanaya segera menundukkan kepalanya dan pura-pura asyik mengaduk mi cup milik Lista.

​Narendra tidak berhenti, ia bahkan tidak menunjukkan kerutan di dahinya, ia melanjutkan langkahnya yang tenang, tubuhnya yang tegap menghilang di balik pintu kaca tebal gedung fakultas.

​Lista menoleh, tidak menyadari momen singkat itu, "Lihat, dia pergi. Sekarang, ayo kita ke perpustakaan. Aku butuh referensi untuk tugas liputan tentang dewan kota," ucap Lista.

​"Oke, ayo," jawab Kanaya dengan suara sedikit serak.

Kanaya mengangkat kepalanya hanya untuk memastikan bahwa lorong di depan pilar itu sekarang kosong, dalam keheningan yang tersisa, Kanaya merasakan sisa-sisa tatapan acuh tak acuh seorang Narendra itu.

Itu bukan tatapan yang mengakui keberadaan, apalagi perasaan, itu hanya tatapan seorang pria yang sekilas melihat dua orang gadis makan mi instan di bangku kampus elitnya. Narendra tidak melihat Kanaya Wulandari, si gadis beasiswa yang diam-diam menaruh seluruh perasaan padanya, karena bagi Narendra, ia hanya melihat dua titik di kejauhan.

​Kanaya tersenyum masam, menguatkan dirinya. Kanaya menutup buku PAUD-nya, menyimpan kembali perasaannya yang bergejolak dan mengikuti Lista menjauhi kemegahan Fakultas Kedokteran. Jantungnya kini kembali tersimpan dengan rapi di tempat yang paling aman, di mana Narendra tidak akan pernah bisa menemukannya.

Kanaya akan terus menjadi pengagum rahasia, pengamat yang tak terlihat hingga takdir atau kelulusan memisahkan mereka sepenuhnya.

.

.

.

Bersambung.....

Jurusan Apa?

Pukul tujuh malam, Perpustakaan Pusat Universitas A diselimuti keheningan yang khusyuk, hanya dipecahkan oleh gesekan kertas dan ketukan keyboard yang pelan. Di sinilah Kanaya Wulandari menghabiskan sebagian besar malamnya, tidak hanya sebagai mahasiswa yang mengejar ketertinggalan dengan beasiswa, tetapi juga sebagai petugas paruh waktu di bagian pengarsipan dan penataan ulang, Kanaya berada di lantai tiga yang jarang dikunjungi dan tempat ini adalah zona kekuasaannya.

"Kok dingin banget ya," gumam Kanaya.

Dinginnya pendingin ruangan menusuk melalui kardigan tipis Kanaya, ia sedang menyusun kembali literatur filsafat kuno. Sebuah tugas yang membutuhkan ketelitian tinggi dan kesendirian total, ia merasa nyaman dalam kesunyian tersebut.

Ketika tengah fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba suara derap langkah yang berat dan terukur mendekat, suara langkah itu tidak tergesa-gesa, namun penuh otoritas. Jantung Kanaya langsung mencelos, hanya ada satu orang di seluruh kampus yang berjalan dengan ritme seperti itu yaitu Narendra Atmaja.

'Masa Narendra sih, gak mungkinlah,' batin Kanaya.

Keraguannya itu langsung lenyap ketika melihat dari kejauhan seorang Narendra Atmaja, Kanaya menunduk dan pura-pura fokus pada Dewey Decimal System.

'Kenapa Narendra ada di bagian filsafat kuno? Bukannya seharusnya ada di bagian kedokteran dan baca tumpukan buku tebal tentang patologi dan farmakologi?' batin Kanaya yang bertanya-tanya tentang alasan Narendra ada disini sekarang.

Narendra berhenti tepat di rak di sebelah Kanaya, jarak antara keduanya kini hanya terpisah oleh rak kayu setinggi dua meter, Kanaya dapat mencium aroma samar dari sampo maskulin yang mahal dan kertas lama yang bercampur.

"Saya mencari buku Dialektika Pencerahan oleh Horkheimer," suara Narendra yang rendah dan dalam hingga mampu memecah keheningan.

Suaranya terdengar tidak terbiasa meminta bantuan, Kanaya yang mendengarnya pun refleks menegang dan menyadari bahwa ia adalah satu-satunya petugas di lantai itu dan ia harus merespons.

Kanaya pun menarik napas dalam-dalam dan mulai menenangkan detak jantungnya yang sudah seperti genderang perang.

'Tenang Kanaya, Narendra kesini bukan karena kamu, dia butuh buku,' batin Kanaya.

"I-itu di bagian kritik sosial, Rak 3A paling atas," jawab Kanaya dengan suara gemetar dan menunjuk ke ujung lorong tanpa berani mengangkat pandangannya.

"Terima kasih," ucap Narendra lalu pergi ke tempat yang ditunjuk Kanaya.

Kanaya menghela napas lega, krisis berhasil dilewati. Ia kembali pada tugasnya, tangannya masih terasa gemetar saat menata buku di rak-rak perpustakaan.

Hingga tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang begitu nyaring dan diikuti oleh seruan tertahan, Kanaya begitu terkejut mendengarnya. Kanaya bergegas mengintip di balik rak buku, Narendra berdiri kaku dan dikelilingi oleh tumpukan buku tebal yang berserakan di lantai marmer, sepertinya ia terlalu cepat menarik buku dari rak atas dan malah menjatuhkan seluruh tumpukan di sampingnya.

Kanaya seharusnya tidak melihat ini semua, seharusnya ia tetap bersembunyi di balik raknya dan membiarkan Narendra mengatasi kekacauan itu sendirian. Tapi naluri pelayanannya atau mungkin dorongan aneh dari pengagum rahasia di dalam dirinya membuatnya bergerak.

"Saya bantu," kata Kanaya dan berlutut di sebelah tumpukan buku yang berserakan.

Narendra meliriknya, tatapan matanya yang abu-abu dan tajam itu kini benar-benar tertuju padanya. Untuk pertama kalinya, Narendra Atmaja melihat Kanaya Wulandari bukan sebagai bayangan di bangku taman, bukan sebagai petugas perpustakaan, tetapi sebagai seorang Kanaya itu sendiri.

"Tidak perlu, saya bisa melakukannya sendiri," tolak Narendra dan memunguti buku-buku tersebut.

"Buku-buku ini harus diletakkan kembali sesuai nomor urut, jka tidak besok pagi staf lain akan kesulitan," ucap Kanaya.

Narendra terdiam, ia sepertinya tidak terbiasa ditantang atau dibantu, terutama oleh seseorang yang statusnya jauh di bawahnya. Namun, ada urgensi dalam perkataan Kanaya yang tidak bisa ia abaikan dan akhirnya Narendra pun menganggukkan kepalanya.

Selama lima menit yang terasa seperti keabadian, mereka bekerja dalam keheningan yang tegang. Tangan mereka sesekali berdekatan saat memunguti buku, Kanaya berusaha keras untuk tidak memedulikan kedekatan itu, ia fokus pada sampul buku dan nomor katalog.

Narendra bergerak dengan kecepatan yang menakjubkan, namun Kanaya lebih teliti, ia memastikan setiap buku ditempatkan kembali pada urutan yang benar di rak. Saat buku terakhir diletakkan, Kanaya berdiri dan membersihkan debu dari lututnya.

"Terima kasih," ucap Narendra.

Kanaya mengangkat pandangannya dan menatap mata Narendra, ia bisa melihat sedikit kelelahan di sana, mungkin karena tekanan sebagai mahasiswa kedokteran yang dituntut sempurna.

"Sama-sama," jawab Kanaya dengan senyum tulusnya.

Narendra mengambil buku yang ia cari yaitu Dialektika Pencerahan yang untungnya tidak ikut jatuh. Sebelum beranjak, ia berhenti, matanya menyipit seolah sedang mencoba mengingat sesuatu.

"Jurusan apa?" tanya Narendra pada Kanaya secara tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Kanaya terkejut, Narendra Atmaja si Pria Es itu menanyakan sesuatu tentang dirinya.

"Pe-Pendidikan Anak Usia Dini," jawab Kanaya gugup.

Narendra mengangguk tanpa ekspresi, "Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu," jawabnya lalu menghilang di lorong menuju meja baca.

Kanaya berdiri terpaku, ia menekan tangannya ke dada dan merasakan jantungnya yang masih berdebar kencang. Itu hanya lima menit dan hanya sebuah pertanyaan tentang jurusan, tapi bagi Kanaya itu terasa seperti Narendra telah melangkah melewati garis batas tak terlihat dan benar-benar melihatnya. Narendra menyadari Kanaya bukan hanya petugas perpustakaan, tapi Kanaya seorang mahasiswi Pendidikan.

Kanaya segera kembali ke rak filsafat kuno yang berantakan tadi dan mulai menata ulang beberapa buku yang tergeser dan saat Kanaya melakukannya, ia menemukan sesuatu. Sebuah halaman robekan kecil dari buku catatan bersampul kulit mahal, terselip di antara beberapa buku.

Itu adalah tulisan tangan Narendra, buruk rupa, tapi jelas dan hanya satu baris.

*PAUD, Kanaya Wulandari*

"Ke-kenapa Narendra nulis namaku? apa dia mulai tertarik sama aku, hahaha jangan mimpi deh kamu Kanaya, masa Narendra suka sama kamu, kayak gak ada perempuan lain aja," gumam Kanaya.

Kanaya melipat kertas kecil itu dengan hati-hati dan menyimpannya di saku kardigannya, ini adalah satu-satunya kenangan dari Narendra yang ia miliki, selain botol air mineral dua tahun lalu. Selembar kertas yang hanya berisi tiga kata, tetapi di mata Kanaya, ini adalah harta tak ternilai yang bisa memberinya kekuatan untuk menyelesaikan semester ini dan mempertahankan beasiswanya.

Di saat Kanaya menyambut kembali kesendiriannya di lantai tiga, Kanaya tahu bahwa setelah malam ini, meskipun Narendra akan kembali bersikap dingin dan tidak terjangkau, ia tidak akan lagi melihatnya sebagai bayangan.

Narendra akan melihatnya sebagai Kanaya, seorang gadis yang pernah membantunya memunguti buku filsafat kuno dan bagi Kanaya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bertahan dalam cinta rahasia ini, setidaknya sampai kelulusan memisahkan mereka.

.

.

.

Bersambung.....

Jadi?

Satu Minggu, setelah insiden di perpustakaan dan tidak ada lagi interaksi antara Kanaya dan Narendra bahkan setelah itu Kayla tidak pernah bertemu lagi dengan Narendra.

Saat ini Kanaya berada di ruang rapat Fakultas Pendidikan, di mana Kanaya ditunjuk untuk mewakili fakultas dalam program integrasi antar-jurusan yang menjembatani Kesehatan dan Pendidikan Masyarakat dan hal ini sekaligus menjadi kabar baik dan buruk bagi Kanaya.

Kabar baiknya adalah karena program ini menawarkan kesempatan emas untuk menambah poin beasiswa dan memperluas jaringan. Kabar buruknya adalah Kanaya tahu persis siapa yang akan memimpin delegasi dari Fakultas Kedokteran, dia adalah Narendra Atmaja.

Kanaya duduk dengan gelisah dan menunggu perwakilan dari Fakultas Kedokteran, tepat pukul sepuluh, pintu terbuka dan masuklah Narendra Atmaja yang diikuti oleh dua mahasiswa Kedokteran lainnya. Narendra mengenakan jaket varsity jurusan Kedokteran yang tampak mahal dan formal, kontras dengan kemeja flanel sederhana yang Kanaya kenakan.

Saat mata Narendra bertemu dengan Kanaya, tidak ada kilatan pengakuan, tidak ada jeda atau keraguan. Tatapannya hanya sekilas, menilai dan langsung bergeser ke Ketua Departemen Pendidikan yang menyambutnya.

'Dia kayaknya lupa siapa aku, lagian mana mungkin dia ingat mahasiswa beasiswa kayak aku,' batin Kanaya.

"Selamat pagi," sapa Narendra.

Suaranya terdengar matang dan berwibawa, jauh melebihi usianya yang baru menginjak awal dua puluhan dan hal itu membuat Kanaya semakin kagum pada seorang Narendra Atmaja.

"Saya Narendra Atmaja, ditugaskan untuk memimpin kelompok kami dalam proyek integrasi ini," ucap Narendra.

Ketua Departemen Pendidikan menjelaskan tentang tujuan proyek ini untuk menciptakan modul kesehatan dasar dan sanitasi yang dapat diajarkan kepada anak-anak usia dini di komunitas termiskin di sekitar kampus.

Ketika sesi tanya jawab dibuka, Narendra segera mengambil alih kendali, ia berbicara dengan data dan mengutip jurnal medis terbaru tentang prevalensi penyakit akibat sanitasi buruk. Bahasa dan terminologinya begitu tinggi, begitu teknis, sehingga mahasiswa Fakultas Pendidikan lainnya tampak kesulitan mengikuti.

Kanaya mendengarkannya dengan saksama, ia mengagumi kecerdasan Narendra yang tajam, tapi ia juga melihat masalahnya, di mana Narendra seolah berbicara dari menara gading yang tingginya jauh diatas Kanaya dan itu menyulitkan Kanaya untuk memahaminya, jika Kanaya saja sulit untuk memahaminya apalagi anak-anak.

"Saya kira, kita bisa mulai dengan memberikan modul tentang mekanisme kerja virus dan bakteri melalui presentasi 3D, itu akan memberikan pemahaman dasar tentang penyebab penyakit," usul Narendra.

"Maaf, Narendra," sela Kanaya dan tanpa sadar ia memanggil Narendra tanpa embel-embel saudara atau Bapak seperti yang dilakukan yang lain.

Narendra menghentikan presentasinya, tatapan tajam dan tegasnya kini tertuju pada Kanaya di seberang mejanya, ekspresinya terlihat akan ketidaksetujuan profesional, bukan ketidaksukaan pribadi.

"Ya, Saudari Kanaya?" tanya Narendra dengan menggunakan panggilan formal yang terkesan begitu dingin dan tidak bersahabat.

Kanaya menelan ludah, ia merasakan tekanan dan tatapan dari kedua fakultas. "Modul 3D dan penjelasan tentang mekanisme virus terlalu rumit untuk anak usia empat sampai enam tahun, fokus kami di PAUD adalah pada praktik bukan teori abstrak," ucap Kanaya.

"Jadi?" tanya Narendra.

Kanaya meluruskan punggungnya, mengambil alih kendali diri dan profesionalismenya sebagai seorang pendidik. "Anak-anak tidak perlu tahu nama bakteri. Mereka perlu tahu mengapa mereka harus mencuci tangan dan bagaimana cara mencuci tangan yang benar. Kita harus menggunakan cerita, lagu dan boneka tangan atau alat peraga yang bisa mereka pegang bukan istilah-istilah ilmiah," ucap Jelas Kanaya.

Suasana didalam ruangan menjadi canggung, tidak ada jawaban apapun dari Narendra hingga membuat keheningan yang begitu mencekam di ruangan tersebut hingga suara berat Narendra terdengar.

"Anda menganggap remeh kemampuan kognitif anak-anak, jika mereka mengerti sebab-akibat ilmiah, mereka akan lebih patuh," ucap Narendra.

"Mereka akan patuh pada orang tua mereka, bukan pada hukum ilmu pengetahuan, Narendra. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini adalah menanamkan kebiasaan baik, bukan mencetak ilmuwan. Kita harus menyentuh hati mereka, bukan mengisi otak mereka dengan istilah yang tidak relevan," ucap Kanaya.

Ketua Departemen Pendidikan tersenyum bangga melihat Kanaya, sementara itu rekan-rekan Narendra dari Kedokteran tampak terkejut melihat Narendra ditentang secara terbuka.

Narendra menatap lekat Kanaya, tatapan itu panjang dan intens. Kanaya merasakan jantungnya berdetak kencang karena keberaniannya yang menentang pendapat seorang Narendra.

Setelah beberapa saat, Narendra menarik napas, seolah ia baru saja membuat keputusan yang begitu sulit, "Baiklah, saya akan menyerahkan bagian metodologi pengajaran kepada kelompok Pendidikan. Sedangkan, saya dan yang lain akan fokus pada akurasi materi medis," ucap Narendra.

Narendra mengambil pena dan mencoret sesuatu di catatan tebalnya, "Saudari Kanaya, mulai sekarang, anda akan menjadi kontak utama kami untuk hal-hal yang berkaitan dengan penerapan modul. Kami akan mengirimkan materi mentah, dan anda akan bertanggung jawab untuk menerjemahkannya ke bahasa anak-anak," ucap Narendra.

Kanaya mengangguk setuju, perasaannya campur aduk, Kanaya senang karena gagasannya diterima dan ia mendapatkan peran penting dalam proyek kali ini. Namun, Kanaya sedih karena interaksi ini telah membangun tembok yang lebih tinggi lagi, tembok profesionalisme yang membuat Narendra semakin jauh. Kanaya kini tidak lagi menjadi pengagum rahasia seorang Narendra, Kanaya sudah menjadi rekan kerja Narendra.

Pertemuan pun ditutup, ketika semua orang mulai beranjak, Kanaya membereskan tumpukan notulensi. Narendra berdiri di sampingnya, mengenakan tas punggung kulitnya yang elegan.

"Jaga materi sensitif ini baik-baik, didalamnya berisi data-data penting. Jika hilang, anda yang harus bertanggung jawab," ucap Narendra dengan memberikan sebuah flashdisk berlogo Kedokteran pada Kanaya.

Narendra mengatakannya dengan begitu tegas dan terdengar seperti peringatan hingga Kanaya takut, tapi disisi lain Kanaya merasa perkataan tersebut adalah sebuah kepercayaan dari Narendra pada Kanaya.

"Saya akan menjaganya dengan baik," janji Kanaya dan mengambilnya menggunakan kedua tangannya.

"Kerja bagus," ucap Narendra.

Kanaya berdiri mematung di tengah ruangan yang kini kosong, menatap flashdisk kecil di tangannya. Ia kembali hanya menjadi Kanaya, si pengagum rahasia, si gadis beasiswa yang baru saja mendapat sedikit pengakuan profesional dari pria pujaannya.

"Kerja bagus! Kanaya, kamu dengar tadi dia bilang apa, dia bilang kerja bagus. Kanaya, dia bicara sama kamu, Kanaya kamu bisa bicara dengan pria yang kamu sukai, Kanaya, Kanaya, Kanaya," gumam Kanaya yang begitu bahagia karena bisa mengobrol dengan Narendra.

Selain itu, pujian singkat dari Narendra mampu menghangatkan hatinya sejenak, tetapi ia tahu bahwa itu hanya pujian untuk kinerja otak, bukan untuk hatinya dan itu sudah cukup untuk menjaga apinya tetap menyala dalam rahasia.

Setelah itu, Kanaya segera pergi ke kantin karena perutnya yang mulai kelaparan, "Aku harus ke kantin, aku udah kelaparan, aku butuh makan biar bisa cari ide buat proyek ini," gumam Kanaya dan pergi ke kantin yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berada saat ini.

.

.

.

Bersambung.....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!