Di sebuah kantor notaris yang terletak di sudut kota, udara terasa agak lembap dan sedikit berdebu, seolah setiap buku di rak menyimpan rahasia muram yang menunggu untuk menatap siapa pun yang berani masuk. Di kursi kulit besar, Jay duduk dengan ekspresi kesal setengah panik, tangan kanannya terus mengulurkan keripik ke mulutnya seperti pertahanan terakhir melawan dunia yang menekan.
Di depannya, Pak Hadi, notaris berpengalaman dengan alis yang seolah bisa membaca pikiran, membuka amplop kayu tua berderit. Dari amplop itu muncul aroma kertas tua yang sedikit apek, disertai suara “cekrek” misterius, seakan buku-buku di sekitarnya bersorak kecil.
PAK HADI: "Mas Jay, surat wasiat ini dibuat dengan klausul khusus. Tidak ada ruang untuk kompromi. Kakek Anda merancangnya sebelum meninggal, dengan… ketelitian yang sedikit menakutkan."
Jay menunduk, menatap keripik di tangannya seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahan kehancuran hidupnya.
JAY: (mengelus kepala, suara bergetar dramatis) "Kenapa harus begini?! Aku cuma mau hidup santai! Aku nggak minta warisan ini… atau jebakan ini!"
Dari sisi meja, dua pengacara yayasan “Harapan Kita” menatapnya dingin, seperti dua bayangan yang menunggu untuk menelan jiwa malang.
PENGACARA YAYASAN: "Maaf, Mas Jay. Klausulnya tegas. Jika Anda tetap memilih bermalas-malasan, rumah di Desa Wening akan dijual… dan seluruh hasilnya akan disumbangkan ke yayasan panti asuhan. Tanpa potongan. Sama sekali."
Jay langsung terperangah, snack yang baru saja dia celupkan ke mulutnya terjatuh, berserakan di lantai seperti tentara kecil yang gugur.
JAY: "APA?! Jual rumah?! Uang itu buat panti asuhan?! Tapi… ini warisan kakekku! Aku nggak pernah minta ini! Aku… aku cuma mau ngemil dengan tenang!"
Pak Hadi menyerahkan kunci rumah dan dokumen penjualan dengan gerakan lambat dramatis, seolah dokumen itu bisa mengubah hidup Jay menjadi mimpi buruk secara literal.
PAK HADI: "Anda punya waktu satu bulan untuk memutuskan. Jika tidak, proses penjualan akan berjalan otomatis. Kakek Anda meninggalkan catatan: ‘Semoga kamu menemukan bahwa menjadi berguna tidak selalu harus rajin.’"
Jay menjatuhkan diri ke lantai, masih ngemil, menatap kunci rumah seolah benda itu tiba-tiba bisa menembus matanya dan menertawakan segala keputusasaan yang dia rasakan.
Saat dia keluar dari kantor, matanya tertuju pada sebuah buku tua yang tergeletak di kursi sebelah. Covernya bertuliskan “SUNYI YANG brisik”—tapi halaman-halamannya seperti berkedip kecil saat dia mengambilnya. Jay menengok sekeliling, tapi tidak ada siapa pun. “Mungkin cuma ilusi… atau aku kurang tidur,” gumamnya sambil memasukkan buku ke tas.
Malam harinya, Jay membuka buku itu di kamarnya yang gelap. Hawa dingin menyelimuti ruangan, dan lampu meja berkedip seperti mencoba memberi kode. Halaman-halaman buku bergerak sendiri, membentuk gambar-gambar aneh—kadang wajah Pak Hadi, kadang anak-anak panti yang menatap Jay dengan ekspresi lucu tapi menakutkan.
JAY: (melompat ke kursi sambil menjatuhkan snack) "Apa-apaan ini?! Bukunya… bergerak?! Aku… aku cuma mau tidur!"
Buku itu tampaknya menikmati drama Jay. Tulisan-tulisan aneh menari di halaman, membentuk kata-kata yang terdengar seperti suara bisikan kakeknya.
KAKEK SURYA (dari dalam buku): "Jay… hidup ini bukan hanya soal kenyamanan. Kadang kamu harus berjuang… walau terpaksa ngemil sambil panik."
Jay menatap buku itu, campuran antara teror dan kebingungan bercampur dengan absurditas situasi. Dia menutup buku, tapi halaman-halamannya menempel di tangannya, menjeratnya sejenak—seolah buku itu ingin memastikan Jay merasakan sedikit “misteri hidup”.
Satu bulan berlalu, dan Jay mulai merasakan perubahan—walau tetap dramatis dan absurd. Dia kadang membantu anak-anak di panti asuhan, tapi caranya tidak biasa: berteriak sambil melempar snack ke udara, atau panik ketika mainan hantu di pojok ruangan bergerak seperti menatapnya dengan mata tajam. Buku tua itu selalu menempel di tasnya, kadang mengeluarkan halaman-halaman aneh, menakutkan tapi juga konyol, seolah ikut menertawakan tingkah Jay.
Kini, dengan tas penuh snack, laptop, konsol game, dan buku tua yang terus membuatnya penasaran, Jay bersiap menghadapi tantangan berikutnya: rumah tua kakeknya di Desa Wening.
JALAN DESA WENING – SIANG
Jay naik ojol, menatap tasnya yang penuh snack, laptop, konsol game, dan tentu saja buku tua yang selalu membuatnya penasaran. Saat ojol berhenti di depan rumah kayu tua kakeknya, matanya langsung tertuju pada pagar bambu dengan ukiran pola melingkar aneh, yang dari kejauhan tampak seperti wajah-wajah kecil sedang menatapnya. Dia menelan ludah, lalu berbisik pelan:
JAY: "Keren… atau menyeramkan… mungkin keduanya… atau semuanya salah satu?"
Tiba-tiba, seorang warga, Pak Joko, yang sedang menyiram tanaman, melompat dari kebunnya seperti melihat hantu.
PAK JOKO: "Mas-mas, jangan masuk! Rumah ini… sudah lama penuh cerita aneh!"
Jay menatapnya dengan tangan di kantong, ekspresi setengah lemas, setengah dramatis, senyum lebay menempel di wajahnya.
JAY: "Eh, ini kan warisan kakek saya. Kalau harus dijual dan uangnya buat panti asuhan… ya sudahlah. Tapi aku tetap nggak mau kerja keras atau jadi orang rajin!"
Pak Joko menggeleng, matanya penuh kekhawatiran.
PAK JOKO: "Setelah senja jangan keluar rumah! Jangan pernah dekat sumur di belakang! Suaranya nggak terdengar… tapi selalu ada brisik di malam hari!"
Jay mengangkat bahu dan tersenyum tipis, seolah sedang menawar deal supernatural:
JAY: "Oke pak… tapi aku cuma mau santai, ngemil, dan main game. Janji!"
Pak Joko pergi, meninggalkan Jay menatap rumah tua yang kini terasa sedikit menakutkan tapi juga memancing rasa ingin tahu. Dia masuk, menyalakan AC, menjatuhkan tas, menyalakan konsol, dan mengambil snack.
Sambil berjalan keliling rumah, Jay memperhatikan kamar-kamar tua, ruang tamu penuh perabotan berdebu, dan sumur besar di belakang yang sunyi tapi menimbulkan sensasi “ada yang mengintip dari kegelapan”. Di atas meja, sebuah foto kakeknya dengan tulisan kecil di belakang: “Semoga kamu menemukan jalanmu sendiri.”
Dia sempat membuka buku tua yang dibawa, tapi segera menutupnya sambil mengerutkan dahi:
JAY: "Terlalu rumit… aku terlalu malas… dan juga agak takut. Tapi snack masih aman, kan?"
Buku itu mengibaskan halamannya sedikit, seolah menertawakan kegelisahan Jay, membuat bulu kuduknya merinding… tapi dia tetap menahan senyum absurdnya.
Buku tua tiba-tiba menempel di tangannya, halaman-halamannya berkedip seperti mata nakal yang ingin menguji kesabarannya. Jay menatapnya malas, sambil mencomot snack dari tas.
JAY: "Eh… seriusan… kalian bercanda kan? Aku lagi sibuk ngemil nih."
Halaman-halaman buku berputar sendiri, membentuk ilustrasi aneh: sesosok bayangan kecil yang tampak seperti kakeknya, tapi dengan kepala terlalu besar dan mata mengintip nakal. Bayangan itu mengangkat satu alis, seakan memberi kode pada Jay bahwa dia sedang diamati.
Jay menghela napas panjang, duduk di lantai, dan menepuk-nepuk buku itu tanpa semangat.
JAY: "Oke, oke… aku ngerti… harus serius. Tapi… snackku dulu… nanti baru mikirin kalian."
Halaman-halaman bergerak lagi, membentuk kata-kata: “Cemaskan sedikit… tapi jangan terlalu nyaman.” Jay menatap setengah malas, setengah geli.
JAY: "Heh… cemaskan sedikit aja… ya udah lah… malas banget aku… tapi aku ngerti maksud kalian. Snack dulu deh."
Sambil berkeliling rumah, Jay mencoba mengintip sumur besar di halaman belakang. Angin sepoi-sepoi masuk dari celah-celah kayu rumah, membawa aroma lembap dan debu tua. Suara aneh terdengar dari dalam sumur—seperti bisikan halus yang sulit dipahami. Jay mengerutkan kening, menghela napas panjang, dan mencondongkan tubuh ke pinggir sumur… tapi segera duduk lagi karena terlalu capek untuk bergerak.
JAY: "Ha-ha… oke… agak menyeramkan… tapi aku terlalu malas untuk takut beneran… mungkin nanti aja kalau aku bangun energi."
Saat dia menoleh, bayangan halaman buku tampak bergerak sendiri di lantai ruang tamu, menirukan ekspresi dramatisnya. Jay menatapnya malas, menepuk meja, dan menelan snack.
JAY: "Baiklah… kalau mau main-main, silakan… tapi jangan ganggu konsol dan snackku. Itu aja."
Buku itu bergetar perlahan, seolah puas. Lampu-lampu rumah bergoyang, bayangan panjang menari di dinding, tapi Jay tetap duduk, malas, mengunyah snack, dan menahan senyum absurdnya—antara takut ringan, geli, dan penasaran.
Tidak puas hanya duduk, buku tua itu mulai menunjukkan halaman-halaman baru: sumur di belakang rumah, tapi wajah-wajah kecil muncul di dalamnya, menatap Jay dengan ekspresi nakal. Jay menatap sumur dari jendela, lalu menguap panjang.
JAY: "Oke… ya udah… nanti aja aku main ke sumur. Sekarang snack dulu."
Sebuah lembaran halaman terbang, menempel di wajahnya. Jay mengusapnya malas, tapi geli karena halaman itu seperti “menampar” dia.
JAY: "Hahaha… oke oke… aku ngerti… kalian main-main, aku juga bisa main-main… tapi jangan ganggu AC dan konsolku!"
Buku itu bergetar, seolah menyetujui perjanjian absurd mereka. Lampu rumah bergoyang ringan, bayangan panjang dari perabot tua bergerak menakutkan tapi konyol. Jay hanya duduk, snack di tangan, menahan senyum absurd—antara takut, malas, dan penasaran.
Sejak saat itu, rumah tua kakeknya bukan cuma tempat tinggal, tapi arena horor absurd—tempat di mana Jay bisa santai, ngemil, dan tetap menghadapi misteri yang mengintipnya dari setiap halaman buku tua.
Seiring malam menjelang, angin dari celah-celah rumah mulai berdesir lebih keras. Tirai bergoyang, menimbulkan bayangan-bayangan aneh di lantai yang membuat sebagian orang pasti ketakutan—tapi Jay hanya menunduk sambil menggigit snacknya.
JAY: "Oke… ya ampun… kalian gerak-gerak sendiri… lucu juga sih… tapi aku terlalu malas untuk lari. Snack dulu, nanti mikirin hantu."
Buku tua itu bergetar lagi, dan halaman-halamannya membentuk ilustrasi sosok kecil yang menirukan ekspresi Jay: tangan di pinggang, kaki menyilang, dan mulut menganga dramatis. Jay menatapnya malas tapi geli.
JAY: "Hahaha… oke, aku ngerti… kalian bisa niru aku, tapi aku tetap duduk. Duduk nyaman… snack aman… semua aman."
Tiba-tiba, dari sumur belakang terdengar suara brisik halus. Jay menoleh, menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu dan kembali duduk:
JAY: "Hmm… bisik-bisik lagi… aku terlalu capek untuk takut. Nanti aja kalau aku bangun energi… sekarang snack dulu."
Lampu-lampu rumah berkelip seakan memberi kode, dan buku tua itu sekali lagi mengibaskan halamannya. Halaman-halaman menempel di sofa, di kursi, bahkan di kepala Jay yang setengah menunduk, tapi dia tetap menahan senyum absurd.
JAY: "Oke… oke… kalau kalian mau main-main, aku juga bisa main-main… tapi jangan ganggu konsol, snack, atau tidur siangku. Itu aja peraturannya."
Di sudut rumah, bayangan perabot tua tampak menari mengikuti cahaya lampu yang redup. Sumur di belakang rumah tetap sunyi tapi terasa mengawasi. Buku tua menatap Jay—atau setidaknya, itulah yang dia rasakan—dan Jay menatap balik dengan senyum pemalas, geli, tapi penuh rasa penasaran, menyadari satu hal:
Bahwa hidup di rumah kakeknya akan selalu seperti ini. Sedikit menakutkan, sedikit absurd, penuh misteri… tapi tetap nyaman selama snack aman di tangan.
Dengan perasaan campur aduk itu, Jay menyalakan konsolnya, duduk di sofa, dan mengunyah snack. Rumah tua, sumur, bayangan, dan buku tua… semua seakan menyatu menjadi arena horor absurd tempat dia bisa bersantai, malas, dan tetap… hidup di dunia yang tak pernah membosankan.
RUANG TAMU - MALAM
Dengan perasaan campur aduk itu, Jay menyalakan konsolnya, duduk di sofa, dan mengunyah snack. Rumah tua mengeluarkan bunyi kresek-kresek seolah sendi kayu sedang mengerang, sumur di belakang rumah mengeluarkan gelembung udara yang terdengar seperti napas dalam, bayangan di dinding bergeser bukan karena angin, dan buku tua di meja mengeluarkan aroma kayu busuk yang menyengat… semua seakan menyatu menjadi arena horor absurd tempat dia bisa bersantai, malas, dan tetap… hidup di dunia yang tak pernah membosankan.
Lampu ruang tamu berkedip pelan—setiap kedipannya membuat bayangan membesar sedikit demi sedikit, menyelimuti sudut ruangan. Angin malam masuk dari jendela yang retak dengan suara siul yang menyeramkan, membawa aroma lembap tanah basah dan debu tua yang terasa seperti menghirup masa lalu. Di sudut, bayangan perabot tua tidak hanya bergerak tapi juga memanjang perlahan, ujungnya seperti tangan yang meraih, seolah menatap Jay dengan mata tak terlihat, tapi dia hanya mendesah panjang dan mencomot snack lain.
JAY: "Huh… kalian gerak-gerak sendiri… lucu juga… tapi aku terlalu malas untuk panik beneran."
Dia meneguk soda—botolnya tiba-tiba terasa dingin sekali walau baru dibuka, sambil menatap layar konsol, matanya setengah fokus setengah mengantuk. Tiba-tiba terdengar suara langkah berat dan lambat di belakangnya, tak… tak… tak—setiap langkah membuat lantai kayu bergetar dan mengeluarkan suara desisan halus seperti sesuatu yang merayap dari celah-celahnya. Jay tetap tidak bergerak.
SUARA PRIA (dengan nada dalam, dingin, seperti berasal dari dalam sumur yang dalam sekali, disertai gema lembap): "Apa itu… yang kamu makan…?"
Suaranya membuat rambut di leher Jay berdiri tegak, tapi dia masih fokus ke layar, mengangkat snack ke arah suara dengan tangan yang sedikit gemetar tapi tetap rileks.
JAY: "Snack jagung bakar, enak lho. Sana duduk dong kalau mau, saya bisa kasih juga."
Tak lama, dia mendengar suara mengunyah yang sedikit gecik-gecik seperti mengunyah kayu basah, dan suara meneguk yang disertai gelembung. Suaranya datang dari kursi sebelahnya, tapi tidak ada bayangan atau sosok yang terlihat—hanya lekukan tempat seseorang seharusnya duduk. Jay tetap tidak menoleh, hanya mengangkat bahu santai.
JAY: "Nama kamu siapa ya? Baru datang ke desa?"
SUARA PRIA (dengan nada seram yang pelan tapi menekankan huruf terakhir setiap kata, suara makin dekat seolah menyentuh telinga Jay): "Ma-la-kos… Aku… sudah ada… sebelum… desa… ini… ada…"
Kata-katanya membuat udara di ruangan menjadi lebih dingin, tapi Jay hanya menatap layar konsol dengan ekspresi dramatis tapi malas—dia bahkan menguap sebentar.
JAY: "Keren namanya. Yuk mabar game ini aja, saya lagi cari teman main yang bisa diandalkan. Kamu bilang aja langkahnya, saya yang gerakin karakter."
Suara itu terdiam sebentar, lalu terdengar napas panjang yang membawa aroma lumpur basah, dan suara kecil klik-klik yang jelas bukan dari tangan manusia—lebih seperti gesekan kayu atau cakar menggaruk. Jay menepuk-nepuk sofa, tempat yang seharusnya kosong tiba-tiba terasa lebih berat.
JAY: "Santai aja… jangan ganggu snackku. Kalau mau minum soda, tinggal ambil."
Bayangan di ruang tamu sekarang bergerak lebih cepat, seperti makhluk kecil yang berlari-lari di balik perabot. Tirai bergoyang pelan tapi secara tidak teratur, seolah ditarik dari dalam dan luar sekaligus. Buku tua di meja sesekali menampilkan halaman yang berkedip dengan cahaya merah samar, seolah menertawakan Jay. Tapi dia tetap duduk nyaman, ngemil, dan mulai mengatur strategi di game… seperti tidak ada apa-apa yang menakutkan di sekitarnya.
Jay masih duduk di sofa, snack di tangan, matanya menatap layar konsol. Dari sudut ruang tamu, bayangan perabot tua bergerak sendiri dengan bunyi krak-krak yang lebih keras—seolah kayu tua sedang patah satu per satu. Bayangan itu mulai membentuk wajah dengan mulut terbuka lebar, tapi tidak ada mata. Tirai bergoyang pelan tapi setiap gerakannya mengeluarkan suara bisik-bisik yang tidak jelas kata-katanya. Lampu redup berkedip lebih sering, dan sudut gelap seolah bernapas, menelan cahaya sedikit demi sedikit, menciptakan bayangan panjang yang merayap ke arah kakinya.
JAY: "Oke… kalian gerak-gerak sendiri… lucu juga… tapi aku terlalu malas untuk lari atau panik beneran."
Buku tua di meja bergetar dengan keras, meja itu sedikit bergoyang. Halaman-halamannya bergerak sendiri dengan cepat, membentuk gambar sosok kecil dengan mata gelap yang berkedip-kedip, menatap Jay dan mengeluarkan suara tawa bisik yang terdengar seperti kerikil bergesekan. Salah satu halaman melompat dengan cepat, menempel di sofa tepat di depan wajahnya—halamannya licin dan lembap seperti terkena embun malam, seakan menampar wajahnya dengan lembut tapi membuat kulitnya terasa dingin.
JAY: "Oke… oke… ngerti… tapi snackku aman kan? Itu penting!"
Tiba-tiba terdengar suara langkah berat di belakangnya, lebih cepat dari sebelumnya, diikuti desisan panjang dari lantai kayu yang seolah ada sesuatu yang merayap di bawahnya. Angin malam masuk dari celah jendela dengan suara siul yang lebih keras, membawa aroma lembap dan debu tua yang kini bercampur dengan bau tanah liat basah dari sumur. Jay menoleh sebentar—dia melihat bayangan besar yang berdiri di belakangnya, tapi tidak melihat sosoknya. Dia hanya mengangkat snack ke arah suara, lalu kembali ke layar konsolnya.
JAY: "Eh, kalau mau ikut main, ikut aja… tapi jangan ganggu konsolku. Snack aman, game aman… hidup aman!"
Halaman buku bergerak lebih agresif, menampilkan ilustrasi sumur di belakang rumah dengan sangat jelas—air di dalamnya tampak hitam pekat dan bergerak sendiri. Dari sumur itu muncul wajah-wajah kecil dengan mata gelap yang membesar perlahan, seolah akan keluar dari halaman buku. Angin malam membawa bisikan halus yang kini bisa terdengar jelas: “Nakal… nakal… datang… main…” Jay mengerutkan kening, menelan snack dengan suara yang sedikit tercekik, tapi tetap bersandar lebih nyaman ke sofa.
JAY: "Hmm… lucu juga… kalian menatapku dari jauh… tapi aku terlalu malas untuk takut beneran… snack dulu aja deh."
Tiba-tiba lampu berkedip kencang beberapa kali—ketika padam total selama beberapa detik, Jay bisa melihat bayangan besar yang menari-nari di lantai dengan bentuk yang terus berubah. Ketika lampu menyala kembali, Buku tua menampilkan halaman yang berkedip seperti mata nakal dengan cahaya kuning samar, dan bayangan perabot tua menari-nari dengan irama yang tidak teratur. Tapi Jay tetap duduk, ngemil, meneguk soda yang kini terasa seperti es batu, dan menahan senyum absurd—antara takut ringan, geli, dan pemalas parah.
JAY: "Haha… oke… kalian main-main, aku juga bisa main-main… tapi aku tetap duduk nyaman di sofa. Snack aman, game aman… rumah ini aman… hidup aman!"
Buku tua bergetar sekali lagi dengan kuat, lalu tiba-tiba diam seolah menyetujui. Sudut gelap ruang tamu tetap memandang—bayangan di sana tampak seperti mulut besar yang terbuka lebar. Tapi Jay hanya mengangkat bahu, memasukkan tangan ke kantong yang tiba-tiba terasa dingin, dan menyiapkan snack berikutnya.
Jay masih duduk di sofa, snack di tangan, soda di meja yang sedikit bergoyang, matanya setengah fokus setengah mengantuk menatap layar konsol. Angin malam masuk dari jendela retak dengan suara siul yang menyeramkan, membawa aroma lembap dan debu tua yang kini terasa seperti menghirup sesuatu yang hidup. Bunyi krak-krak dari perabot tua semakin keras—seolah mereka sedang merobek diri sendiri untuk bergerak. Tirai bergoyang seperti tangan transparan yang meraih- meraih, lampu redup berkedip cepat hingga membuat mata terkilir, dan bayangan di sudut ruangan menempel di lantai dengan bentuk yang terus berubah, seolah ingin menjerat kakinya dengan ujung yang seperti cakar.
JAY: "Oke… kalian gerak-gerak sendiri… lucu juga… tapi aku terlalu malas untuk lari, panik, atau berdoa… snack dulu deh."
Buku tua di meja bergetar liar, sampulnya terbuka dengan kuat dan halaman-halamannya menari dengan cepat membentuk wajah kecil dengan mata gelap yang berkedip cepat, menertawakan Jay dengan suara cicit-cicit dan seolah menulis kata “malas” di udara dengan bayangan. Tiba-tiba halaman buku melompat dengan cepat, menempel di pangkuannya—halamannya terasa hangat dan lembap, lalu tinta hitam berkerut muncul dengan sendirinya, menuliskan: “Malas… atau… Rajin?” Tulisan itu terasa seperti menusuk pandangan Jay, bulunya merinding tapi dia tetap mengunyah snack sambil mengedip dramatis, bahkan menutup mata sebentar karena mengantuk.
JAY: "Ya ampun… terlalu rumit… aku terlalu malas untuk takut beneran. Snack dulu… baru mikir horor kalian."
Dari kursi sebelah terdengar napas Malakos yang lebih berat dan serak, suara itu seolah merayap dari sumur gelap melalui lantai kayu—setiap napas membuat sofa Jay sedikit bergetar. Suara desisan muncul di udara yang kini semakin dingin: “Datang… nakal… jangan lengah… jangan duduk terlalu nyaman…” Bayangan di dinding bergerak liar, memanjang hingga menyentuh langit-langit, menekuk bentuk perabotan jadi sosok menyeramkan dengan mulut lebar dan tidak ada mata. Lampu berkedip kencang sekali lalu padam selama beberapa detik—ketika menyala kembali, halaman buku berkedip seperti mata nakal yang menatap langsung ke wajah Jay.
JAY (mengangkat bahu, cuek meskipun wajahnya sedikit pucat): "Oke… kalau mau main-main, silakan… tapi sofa ini zona aman. Snack aman, game aman, aku aman… hidup aman… horor? Nanti aja, aku lagi malas gerak."
Halaman buku melompat lagi dengan keras, menempel di sofa dengan suara thump—membentuk ilustrasi sumur besar yang tampak sangat nyata, permukaan airnya bergerak sendiri dan dipenuhi mata-mata gelap yang berkedip-kedip. Tirai terangkat oleh angin kencang yang membawa bisikan banyak suara, bayangan menari di lantai mengikuti irama napas Malakos yang kini terdengar seperti musik yang menyeramkan. Tapi Jay hanya menghela napas yang sedikit menggelegar, menaruh soda di pangkuan yang terasa dingin, dan menatap layar dengan ekspresi yang tetap malas:
JAY: "Hmm… kalian lucu juga… gerak-gerak sendiri, menakutkan, tapi aku terlalu malas untuk peduli. Snack kedua… game… aman… hidup… aman."
Dia membuka snack kedua dengan tangan yang sedikit gemetar, duduk bersandar lebih dalam ke sofa yang kini terasa seperti membungkusnya, dan menahan senyum yang sedikit goyah tapi tetap ada di wajahnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!