Indonesia
NovelToon NovelToon

Rahasia Pernikahan Sang Dokter

Bab 1

"Mas, aku ikut ke rumah sakit ya..." ujar Sekar lirih, menunduk takut menatap Ilham yang sebenarnya ia yakini tidak akan setuju. Tetapi Sekar terpaksa melakukan ini karena akhir-akhir ini perutnya mulai kontraksi walau jarang-jarang. Sebab, yang sudah-sudah suaminya itu tidak mau mengantar ke rumah sakit.

"Tidak usah bareng, naik ojek saja!" Jawab Ilham dingin, matanya tidak berpaling dari handphone. Seolah malu jalan bareng bersama istri.

Sekar emosi lalu menarik handphone dari tangan suaminya yang berprofesi sebagai dokter itu. Di rumah hanya beberapa jam, tapi hanya ia gunakan untuk main hape.

"Lancang kamu!" Ilham berdiri hendak merebut handphone yang Sekar sembunyikan di belakang.

"Kamu dokter kejam, Mas. Bayi ini anak kamu!" Sekar berteriak, tangisnya pecah. "Apa sebenarnya tujuan kamu menikahi aku? Jika hanya kamu sakiti terus? Untuk apa, Mas?!" Sekar berteriak benar-benar tidak kuat lagi menahan emosi.

Praaak!!!

Ilham berhasil merebut handphone miliknya lalu dia banting di depan Sekar hingga hancur berkeping-keping. Dia tinggalkan begitu saja handphone yang sudah menjadi puing-puing, kemudian keluar kamar berakhir dengan pintu yang dibanting dengan keras.

Begitulah rumah tangga Sekar mantan perawat menjadi istri dokter Ilham.

Sekar menangis tergugu ketika mengingat sembilan bulan yang lalu di ranjang ini, mengira dirinya orang yang paling beruntung. Ia raba wajahnya yang kusam berjerawat, betapa bahagianya dinikahi Ilham, dokter spesialis ibu dan anak. Sekar lah sebagai perawat yang selalu mendampingi Ilham di salah satu rumah sakit swasta.

Dokter Ilham bukan hanya tampan, tapi juga ramah dan santun kepada para pasien yang sedang periksa maupun melahirkan, terlihat ikhlas dan tanpa pamrih. Ilham seperti malaikat penolong di mata Sekar dan para ibu hamil yang sedang bertaruh nyawa. Ditangani Ilham suatu kebanggaan ketika pulang dari rumah sakit si ibu sudah sehat dan menggendong bayi mungil yang tak kalah sehat.

Namun, predikat malaikat yang tersemat pada diri Ilham pun luruh di mata Sekar setelah tepat 'malam pertama' berakhir.

Malam itu dokter Ilham memberi haknya sebagai suami, namun tanpa sepatah kata cinta yang terucap dari bibir Ilham. Hanya sebuah pemenuhan kewajiban yang terasa menyakitkan bagi Sekar. Dan setelah fajar menyingsing di hari kedua setelah pernikahan mereka, Ilham berubah menjadi gunung es yang tidak bisa Sekar sentuh.

Bayangan ketika Ilham mengajaknya menikah, Sekar seperti di awang-awang. "Dokter yakin mau menikahi saya?" Sekar yang menyadari wajahnya tidak cantik, merasa timpang bersanding dengan Ilham.

"Saya menikah dengan kamu karena kamu baik Sekar, fisik bukan suatu halangan."

Mengingat ucapan Ilham itu seperti baru kemarin, tapi setelah perlakuan Ilham selama ini, Sekar merasa hidup di neraka bertahun-tahun.

Tiga hari kemudian, setelah pertengkaran.

"Mas baru pulang?" Tanya Sekar saat mendengar pintu kamar terbuka, Sekar menyambutnya dengan senyuman hangat, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki rumah tangganya demi anak yang ia kandung. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi.

"Hmm..." hanya itu jawaban sang suami. Ilham masuk ke kamar tanpa menganggap Sekar ada. Ia mulai membuka kancing kemeja paling atas.

"Aku bantu buka ya, Mas," Sekar berdiri di depan Ilham, menatap gurat kelelahan di wajah suaminya yang tegas. Tetapi wajah Sekar berubah sedih ketika tangannya di singkirkan oleh Ilham.

"Mau aku buatan kopi, teh, atau susu? Biar aku siapkan," tawar Sekar, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan.

Ilham menghentikan gerakan tangannya, menatap Sekar melalui pantulan cermin rias. "Tidak usah Sekar, tidurlah, jangan membuat dirimu terlihat seperti pelayanan di rumah ini. Aku hanya ingin mandi dan tidur!" Sentak Ilham berlalu ke kamar mandi.

Sekar tidak bisa membendung air matanya. Kata-kata yang terlontar itu terasa sembilu yang menyayat hatinya. Bukan sekali dua kali Ilham menganggap perhatian Sekar sebagai gangguan. Sejak menikah, Sekar merasa hanya seperti pajangan di rumah mewah itu. Ada, tapi hanya dianggap sebutir debu.

"Tenanglah sayang... maafkan Mama jika kamu merasa tidak nyaman dengan kehidupan seperti ini. Mama janji, setelah kamu lahir akan minta cerai, terus kita hidup bahagia hanya berdua," Sekar mengusap perutnya yang sudah hamil besar, bayi di perutnya bergerak cepat seolah protes dan tidak mau berada dalam situasi seperti ini.

Begitulah keberuntungan Sekar, walaupun hanya diberi nafkah batin sekali ketika malam pertama, Allah menghadiahkan janin dalam rahimnya dan menurut pemeriksaan usg, bayi dalam perut berjenis kelamin laki-laki.

Tunggu dulu, selama kehamilan hingga sembilan bulan, jangankan menyentuh perut Sekar, memeriksa bayinya sendiri saja Ilham tidak pernah. Sekar berjalan keluar kamar utama sembari memegangi perut besarnya. Kamar lebih kecil dari kamar Ilham, di situlah Sekar setiap malam tidur seorang diri, walau kadang hingga larut memikirkan rumah tangganya yang kian menyiksa.

Di atas tempat tidur, Sekar mengoreksi diri di mana letak kesalahannya. Apakah masakannya yang tidak pernah di sentuh Ilham itu kurang enak? Atau Ilham ada wanita lain di luar sana? Mungkin jawabannya, karena Sekar bukan wanita cantik, kulit pun tidak putih seperti wanita kota kebanyakan, wajahnya berjerawat ketika kering berubah hitam.

Hingga keesokan paginya setelah membantu bibi memasak, perut Sekar mengalami kontraksi lebih sering. Sekar memberanikan diri untuk menemui suaminya di kamar. Ketika mengetuk pintu tidak dijawab Sekar mendorong pelan tapi tidak di kunci. Di dalam kamar, Sekar melihat Ilham sedang mengenakan kemeja tanpa menoleh ke arahnya.

"Mas, perut aku mulesnya semakin sering, tolong Mas, periksa dulu sebelum berangkat," Sekar menatap Ilham penuh harap. Namun, Ilham tetaplah Ilham, pria yang seolah mematikan insting kedokterannya tepat di depan istrinya sendiri.

"Mas..." lirih Sekar.

Ilham yang sedang merapikan jas kedokterannya hanya melirik sekilas tanpa minat. "Aku lelah Sekar. Di rumah sakit sudah menangani puluhan pasien, jangan manja, kontraksi itu proses alami, kamu akan baik-baik saja," jawabnya dingin, suara yang biasanya menenangkan pasien itu kini terdengar menyayat hati Sekar, wanita yang katanya 'istri'

"Baik, kalau Mas tidak mau, saya akan telepon dokter lain!" Ancam Sekar tidak main-main. Jika selama ini memilih periksa ke bidan karena masih menjaga perasaan suaminya kepada rekan-rekannya. Tetapi Sekar sekarang sudah masa bodo.

"Jangan mempermalukan aku Sekar, apa kata rekan-rekan ketika melihat istri seorang spesialis kandungan malah periksa ke dokter lain? Diam saja di rumah, kalau sudah waktunya lahir, telepon bidan terdekat," pungkas Ilham lalu menenteng tas hendak berangkat.

"Tunggu!" Sekar mendelik gusar, tapi Ilham tidak melihatnya. Walaupun berhenti tetap berdiri membelakangi Sekar. "Kamu kejam Mas.Tega!" Sekar berteriak air matanya mengalir deras. Dia guncang tubuh suaminya yang seperti patung.

"Sampai kapan kamu mau menyiksa aku?!" Sekar tergugu pilu. "Jawab, Mas!" Emosi Sekar yang terpendam berbulan-bulan akhirnya meledak akhir-akhir ini.

Ilham berbalik dengan mata memicing. "Selama ini aku sudah memberi kamu kemewahan Sekar, tidur di kasur empuk, makan enak, tinggal di rumah mewah, uang belanja setiap bulan mengalir terus. Apa itu belum cukup?!" Jawabnya tidak punya perasaan, lalu melangkah pergi meninggalkan gema pintu yang Ilham tutup dengan kencang.

"Ya Allah... Hamba tidak kuat lagi!" Sekar duduk di lantai yang dingin, tangisnya meraung-raung. Hingga terasa tangan seseorang membantunya untuk berdiri.

"Sabar Non... Astagfirullah..." Bibi memeluk tubuh Sekar mendekapnya erat.

"Saya tidak kuat Bi, biar saya mati saja... huhuhu..."

"Istigfar, Non. Non Sekar tidak sendiri, ada bayi yang tidak berdosa di dalam sini," Bibi mengusap lembut perut Sekar.

Sekar pun Istigfar, lalu dibantu bibi ke kamarnya.

Malam harinya air ketuban Sekar mengalir ke betis di kamar yang sepi, seakan lomba dengan derasnya air hujan di luar sana. Sekar menatap jam dinding menunjukkan tepat tengah malam.

Dia gigit bibir untuk menahan rasa sakit perutnya yang seakan menghujam. Di dalam kamarnya mungkin saja Ilham sudah tidur, atau belum pulang, Sekar tidak mau mengemis lagi. Dia ambil handphone menghubungi seseorang.

"Hallo,"

"Hallo... Tolong aku," kata Sekar dengan suara bergetar, ia mengatakan air ketubannya sudah pecah lebih dulu.

"Tunggu ya, aku jemput," jawab orang itu bersamaan berakhirnya pembicaraan.

 Dengan sisa tenaganya, Sekar berjalan keluar lalu duduk di kursi menunggu di teras. Wajah pucatnya disorot lampu yang tepat berada di atasnya. Sekar tidak kuat lagi hingga akhirnya jatuh pingsan.

"Tuan... Non Sekar, Tuan..." bibi berlari ke kamar memanggil Ilham.

Dengan wajah dingin dan tak ada kata-kata, Ilham berjalan ke luar. Di depan pintu, dia mendengar rintih Sekar yang berasal dari teras.

...~Bersambung~...

Bab 2

Dunia Sekar seakan berhenti berpusat saat kelopak matanya perlahan terbuka. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya. Cahaya lampu neon di langit-langit rumah sakit terasa begitu menyilaukan, seolah mengejek kegelapan yang mulai merayap di dadanya. Di samping brangkar seorang dokter wanita bersama perawat berdiri dengan gurat wajah yang tak sanggup menyembunyikan duka.

"Bayi saya mana, Dok?" Lirih Sekar ketika tangannya meraba perut yang sudah rata menyisakan rasa nyeri bekas jahitan. Tidak mendapat jawaban dari dokter, jantung Sekar berdegup kencang, sebuah firasat buruk mencengkeram lehernya hingga terasa sulit untuk bernapas. "Dok..." lanjutnya parau.

Dokter Siska menarik napas panjang, menunduk sesaat sebelum menatap langsung ke manik mata Sekar yang mulai berkaca-kaca. "Maaf Mbak Sekar, kami sudah melakukan yang kami bisa. Namun, Tuhan berkehendak lain, putra Ibu tidak bisa kami selamatkan."

"Tidak... Itu tidak mungkin!" Pekik Sekar. Kalimat 'tidak bisa diselamatkan' seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh pertahanan Sekar.

"Yang ikhlas, Mbak," lanjut perawat ikut larut dalam kesedihan, ibu mana yang rela kehilangan buah hatinya padahal dinanti-nanti.

 "Tidak mungkin, Sus..." ulang Sekar serak, tangis kecil pun terdengar hingga berubah raungan besar yang terdengar menyayat hati dokter dan suster.

Sesaat ruangan menjadi hening, satu tangan Sekar yang tidak terdapat selang infus mengepal kuat. Ingatanya kembali kepada Ilham sang suami. Seandainya pria kejam itu mau menolongnya ketika kontraksi mulai terasa, air ketuban tidak akan pecah terlebih dahulu tentu saja putranya bisa tertolong. Hancur. Kata itu bahkan tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana rasanya ketika harapannya yang ia kandung selama sembilan bulan tidak bisa dia peluk.

"Semua sudah menjadi kehendaknya Sekar..." ucap Siska lembut di samping Sekar.

"Ini salah saya, Dok. Seharusnya begitu kontraksi terasa segera ke rumah sakit," Sesal Sekar merasa bodoh. Seharusnya tidak usah menunggu belas kasihan Ilham, berangkat sendiri minta ditemani bibi. Ingat bibi, Sekar pun ingat malam tadi ketika telepon suster rekan kerjanya setahun yang lalu, saat masih bekerja di rumah sakit ini. Entah dia atau bukan yang membawa ke rumah sakit ia tidak ingat lagi. "Siapa yang mengantar saya ke rumah sakit ini Dok?"

"Untuk itu, saya tidak tahu, Mbak," pungkas dokter Siska, sebelum berjalan keluar meninggalkan Sekar.

Hanya tinggal Sekar di ruangan itu, isak tangis kecil pun ia dengar sendiri. Baju bayi yang dia beli sudah tersusun di lemari, bedak dan semua perlengkapan sudah siap. Tetapi miris sekali, bayangkan memandikan bayi mungil dan lucu semua berputar di kepala terasa sangat menyiksa.

Air mata kembali membanjiri pipinya, Sekar memejamkan mata. Mencoba mengumpulkan serpihan hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Di dalam keheningan kamar itu seolah Sekar ikut mati bersama hembusan napas terakhir putranya. Jangankan menyapa namanya melihat wajah si bayi pun belum.

"Awas Ilham, kamu akan memetik karma mu sendiri. Kematian anak aku harus kamu bayar lunas!" Sekar mencengkeram seprai. Di tengah isak tangis yang memilukan, ribuan dendam muncul di benak Sekar.

Wajah Ilham yang selalu dingin dan ucapannya yang begitu kasar bagai monster itu tidak akan pernah Sekar lupakan. Kemarahan mulai mendidih di balik rasa dukanya. Sekar teringat bagaimana semalam mengerang kesakitan, memohon di bawah kaki Ilham agar pria itu melakukan sesuatu. "Mas, tolong Mas..." ucap Sekar di teras rumah malam tadi hingga jatuh tak sadarkan diri.

Sekar tidak berharap dianggap istri, hanya ingin diperlakukan seperti semua pasien Ilham saat di rumah sakit. Tetapi Ilham sama sekali tidak menganggapnya, bahkan membiarkan darah dagingnya sendiri meregang nyawa.

Sekar mengepal kuat-kuat hingga kukunya mengenai telapak tangan. Namun, sesaat kemudian tangisnya pecah kembali.

"Dia bukan hanya membiarkan bayiku mati, dan menggunakan ilmunya untuk menyakiti aku. Tapi dia juga membunuh anaknya sendiri!" Monolog Sekar. Matanya yang sembab kini menatap lurus ke depan dengan sorot yang mengerikan. Dendam berkorban di hatinya.

Sesaat pintu kamar terbuka, dan sosok Ilham melangkah masuk dengan jubah yang tampak putih. Kontras oleh baju Sekar yang masih amis karena duka. Sekar tidak lagi menangis, menatap pria yang berjalan ke arahnya seperti orang asing.

Ilham mendekati Sekar dengan wajah duka formalitas yang sering ia berikan kepada pasien. "Aku turut berduka, Sekar. Sepertinya kondisimu memang terlalu lelah untuk..."

"Cukup Tuan, Ilham!" Potong Sekar, suaranya rendah tapi penuh penekanan. "Jangan berani-berani menilai kondisi tubuhku yang kamu anggap sudah mati sejak malam pertama kamu ambil masa gadisku!" Sekar menahan tangis, tidak mau lagi terlihat rapuh di mata Ilham.

Tidak ada lagi yang terucap dari bibir Ilham, pria itu mengeluarkan alat untuk memeriksa Sekar. Namun, tidak ada takut lagi bagi Sekar, dia tepis tangan Ilham yang akan menempelkan alat di dadanya.

"Kamu harus diperiksa Sekar, tubuh kamu demam."

"Stop!" Sekar lagi-lagi memotong. "Dan jangan lagi-lagi menggunakan istilah medis hanya untuk menutupi jiwa pembunuhmu!" Serang Sekar tanpa ampun.

"Mbak... tenang Mbak..." ucap perawat yang membantu Ilham.

"Suruh keluar pria ini Sus, lagi pula siapa yang menyuruh dokter gadungan seperti Dia lancang memeriksa saya?!" Sekar berteriak mengusir Ilham seperti mengusir ayam khawatir kotorannya jatuh ke lantai itu.

Dokter Ilham mendelik gusar lalu balik keluar diikuti perawat.

Sekar bersumpah dalam hati, mulai detik ini ia akan memastikan, suatu saat nanti Ilham mengalami kehancuran yang jauh lebih hebat daripada yang ia rasakan saat ini.

...~Bersambung`...

Bab 3

"Sus, saya mau melihat jenazah anak saya," kata Sekar lirih. Walaupun anaknya sudah meninggal ia ingin menggendong untuk yang pertama dan terakhir. Setiap ingat bayinya, air mata Sekar mengalir deras di pipinya.

"Anak Mbak Sekar sudah dimakamkan oleh Dokter Ilham," jawab perawat hati-hati.

"Apa? Anak saya sudah dikuburkan tapi tidak memberi tahu saya?!" Sekar duduk dengan cepat di tempat tidur, rasa sakit bekas caesar masih lebih sakit hatinya kini. Ilham benar-benar mencari gara-gara, bayinya meninggal pun tidak diberi kesempatan untuk melihat.

"Saya tidak tahu, Mbak," Suster takut dengan tatapan mata Sekar.

"Panggil Dokter Ilham," ketus Sekar, ia sebenarnya tidak mau berbicara keras kepada suster tapi merasa dilangkahi.

"Ada apa?" Tanya dokter Siska yang baru tiba melihat ketegangan Sekar dan suster.

"Mbak Sekar marah Dok," Suster menceritakan apa yang membuat Sekar emosi.

"Mbak Sekar, Dokter Ilham tidak mengajakmu ke pemakaman karena ada alasan. Mbak Sekar baru selesai caesar tidak boleh banyak bergerak." dokter Siska menjelaskan perlahan-lahan.

"Walaupun saya tidak ikut ke pemakaman tidak bisakah Dokter Siska memperlihatkan kepada saya terlebih dulu?" Sekar akan melawan siapapun yang bersekongkol dengan Ilham.

"Tolong panggil Dokter Ilham, Sus!" Sentak Sekar, tidak menghiraukan alasan dokter Siska. Sekar pikir dokter Siska sama saja. Padahal dia seorang ibu seharusnya tahu bagaimana perasaannya jika tidak dianggap.

"Panggil Sus," perintah dokter Siska kepada suster, ia akhirnya mengalah. Siska mendekati Sekar hendak membantunya rebahan kembali, tapi Sekar menolak.

Tidak lama kemudian Ilham pun datang, minta dokter Siska dan suster keluar. "Sudah saya duga Sekar, kamu pasti mencari saya," ucap dokter Ilham tersenyum miring. Ia pikir Sekar tidak bisa hidup tanpa dirinya yang sudah biasa penuh kemewahan.

Sekar tiba-tiba bangun, tanpa Ilham sangka, tamparan kuat mendarat di pipinya.

Tangan Ilham mengusap pipinya, dengan tatapan tajam dan merah ke wajah Sekar. "Berani sekali, kamu!" Ilham maju menekan dua sisi rahang Sekar dengan tatapan dingin. Ia pikir Sekar sekarang sudah berani melawannya.

Bukan hal yang sulit Sekar melepas tangan Ilham. "Siapa takut?! Selama ini saya selalu mengalah walaupun kamu tidak menganggap saya Istri, tapi semua itu saya lakukan hanya demi anak yang saya kandung. Sekarang anak saya sudah meninggal dan kamu penyebabnya. Saya tidak akan lemah lagi di hadapan pria sepertimu!" Sekar menyerang Ilham dengan kata-kata yang pedas.

Ilham diam menatap selang infus yang mengalir ke tubuh Sekar. Tanpa menjawab, ia hendak meninggalkan tempat itu. Begitulah Ilham, jika ada masalah dengan Sekar tidak pernah berusaha menyelesaikan justru pergi begitu saja.

"Tunggu!" Pekik Sekar tidak mau melepaskan Ilham begitu saja yang menurutnya seenaknya.

Ilham pun akhirnya berhenti dan berbalik ke arah Sekar.

"Ada hak apa kamu menguburkan bayi yang saya kandung? Tidakkah Anda sadar jika selama ini mengabaikan darah daging kamu sendiri hingga dia tidak betah tinggal di dunia?" Sekar membangkit keburukan Ilham selama mengandung. Kehilangan anak, Sekar seperti diterpa badai, tapi mendengar kelancangan Ilham hatinya terasa di obrak abrik angin topan. Ilham telah menguburkan bayi mereka tanpa memberi tahu terlebih dahulu.

"Apa kamu sudah gila Sekar, bayi yang sudah meninggal tentu harus segera dikuburkan, salah saya di mana?" Ilham membungkuk menatap lekat wajah Sekar sangat dekat.

Plak!!!

Lagi-lagi tangan Sekar melayang, membuat Ilham mengangkat kepala cepat lalu mundur dari tempat tidur pasien

"Bukan tidak boleh dikuburkan, seharusnya kamu izinkan saya untuk melihat," jawab Sekar dengan suara yang bergetar, tangannya menggenggam selimut hingga putih tulangnya terlihat. Wajahnya yang masih pucat karena kehilangan darah kini memerah karena kemarahan.

Ilham berdiri di depan ranjang dengan wajah yang tetap dingin, kali ini tidak menunjukkan rasa emosi. "Seharusnya kamu terima kasih, karena saya masih khawatir dengan kondisi kamu Sekar. Tidak usah repot-repot ikut mengantar karena tubuhmu masih lemah," lanjutnya.

"Tidak usah Sok perhatian!" Bantah Sekar, air matanya mengalir deras. "Itu bayi saya! Aku punya hak untuk tahu seperti apa wajahnya, bukan seperti ini caranya," Sekar menjawab di sela-sela isak tangis

Ilham terdiam sejenak, matanya menatap jauh ke jendela ruang rawat. Akhirnya dia berkata dengan suara yang lebih pelan, namun tetap datar dan dingin. "Ada kelainan pada bayi saat lahir yang tidak bisa saya tunjukkan kepadamu. Saya melakukan ini untuk kamu, Sekar. Supaya kamu tidak harus melihat hal yang bisa membuatmu lebih terluka."

"Omong kosong apa kamu Ilham?" Sekar tidak percaya alasan Ilham. "Jika bayi saya lahir cacat itu karena kamu selama ini mengabaikannya. Keluar kamu!" Usir Sekar, melempar bantal ke arah Ilham dan mengenai tubuhnya.

Ilham pun akhirnya pergi meninggalkan Sekar.

Seminggu kemudian, kondisi Sekar sudah membaik, sebelum pulang ke rumah, ia ke pemakaman bayinya di antar Suster yang membantu dokter Siska.

"Anakku..." Sekar memeluk gundukan tanah, tangisnya mengharu biru. Ia tidak menyangka jika bayinya yang biasa bergerak aktif di dalam perut tapi akhirnya meninggal.

Hingga beberapa menit Sekar menangis, terasa pundaknya ada yang membangunkan. Ia menoleh suster di belakangnya dengan mata yang masih bercucuran.

"Mbak Sekar, biarkan Dedek tenang di sana," kata suster itu.

Sekar pun menghapus air mata lalu berdoa untuk anaknya yang belum ada tanda batu nisan. Sekar pun akhirnya pulang. Keesokan harinya, ia datang lagi bersama pria yang mengantar batu nisan kecil dan di tulis nama. Dzaifullah, yang artinya; tamu Allah.

************

Tiga tahun kemudian di rumah sakit besar, wanita berseragam putih yang dulu wajahnya hitam dan berjerawat kini sudah menjadi wanita cantik mempesona. Dia adalah Sekar, suster yang membantu dokter Rayyan itu sekarang berjilbab panjang, wajah teduh dan religius.

...~Bersambung~...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!