Indonesia
NovelToon NovelToon

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

BAB 1. AIB BERNAMA LIORA

Tidak ada yang lebih sunyi dari pada pagi di rumah Montclair, kecuali kamar di sayap timur, tempat Lady Liora Montclair tinggal.

Kamar itu besar, tetapi dingin. Dindingnya tinggi, jendelanya lebar, namun tirai jarang dibuka. Cahaya pagi hanya menyusup sebagai garis pucat yang jatuh di lantai batu, memantul di kaki ranjang kayu tua yang sudah lama kehilangan kemewahannya.

Di sanalah Liora duduk, punggungnya sedikit membungkuk, napasnya teratur tetapi berat, seolah setiap tarikan udara harus melalui lapisan beban yang tak terlihat.

Gaun tidurnya terlalu sempit di bagian pinggang. Jahitannya menekan kulit gadis tersebut, meninggalkan bekas merah yang tak sempat memudar sebelum hari berganti. Ia tahu gaun itu sengaja dipilihkan, bukan karena tak ada yang lebih longgar, melainkan karena memang tidak ada yang peduli.

"Bangun sudah siang, Nona! Mau sampai kapan kau tidur!"

Suara itu datang tanpa ketukan.

Pintu kamar terbuka kasar, menabrak dinding hingga bergetar.

Seorang pelayan perempuan masuk dengan langkah keras, wajahnya masam, matanya memandang Liora seolah ia sedang melihat noda yang sulit dibersihkan.

"Apa kau pikir ini penginapan murah?" pelayan itu melanjutkan. "Sarapan sudah lewat."

Liora mengangkat kepala perlahan. Rambut merahnya terurai kusut, belum disisir. Matanya tak menantang, tak pula memohon. Hanya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang setiap hari diperlakukan seperti beban.

"Aku akan turun sebentar lagi," jawab Liora pelan.

Pelayan itu mendengus. "Tentu. Seperti biasa. Selalu 'sebentar lagi'. Benar-benar membuang waktu orang."

Pelayan melirik tubuh Liora dari atas ke bawah tanpa menyembunyikan jijiknya. "Mungkin kalau Nona tidak makan sebanyak itu, bangun dari tempat tidur pun tak akan sesulit ini."

Kalimat itu dilempar begitu saja, seperti batu kecil yang sudah terlalu sering mengenai kulit yang sama. Tidak berdarah. Tidak lagi terasa baru. Tapi tetap menyakitkan.

Liora tidak menjawab.

Ia menunggu sampai pelayan itu pergi, sampai langkah kaki menjauh dan pintu ditutup kembali, kali ini dengan hentakan yang sengaja diperkeras.

Barulah napas Liora goyah.

Ia berdiri, berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Di atasnya ada secangkir teh hangat dan sepiring roti manis yang terlihat masih baru. Harumnya lembut, terlalu manis untuk selera pagi. Liora menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Roti itu selalu ada.

Setiap pagi.

Dari tangan yang sama.

Liora memecah roti itu menjadi dua, mengamatinya seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu di kepalanya. Lalu, dengan ragu, ia menggigit sedikit.

Rasanya ... aneh. Tidak buruk. Tapi ada pahit samar di balik manisnya.

Seperti biasa.

Liora menelan, meski ada perasaan tak nyaman menggelitik di dadanya. Sudah bertahun-tahun ia merasa tubuhnya semakin berat, geraknya melambat, pikirannya sering kabur. Tabib keluarga berkata itu karena ia terlalu banyak makan dan jarang bergerak.

Padahal Liora tidak pernah makan berlebihan.

Ruang makan keluarga Montclair sudah ramai ketika Liora akhirnya turun. Meja panjang dari kayu ek dipenuhi piring perak dan gelas kristal, namun suasananya dingin. Tidak ada tawa. Tidak ada sapaan.

Count Bernard Montclair duduk di ujung meja, posturnya tegak, wajahnya keras seperti pahatan batu. Di sebelahnya, Countess Irene Montclair, istri kedua Count itu mengaduk teh dengan gerakan anggun, matanya hanya sesekali terangkat, bukan ke arah Liora, melainkan ke arah kursi kosong di seberang.

Kursi itu segera terisi.

"Maafkan aku," suara ceria itu memecah keheningan. "Aku terlambat."

Sera Montclair masuk dengan senyum manis. Rambut pirangnya tertata sempurna, gaunnya jatuh anggun mengikuti lekuk tubuh rampingnya. Ia menunduk hormat pada kedua orang tuanya sebelum duduk, seolah seluruh ruangan diciptakan untuk menyambutnya.

Countess Irene tersenyum. Senyum yang tidak pernah Liora dapatkan.

"Tidak apa-apa, Sera. Kau selalu tepat waktu dalam hal yang penting," kata Countess Irene.

Liora menunduk, fokus pada piringnya. Roti yang sama, teh yang sama. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkat cangkir.

"Liora?"

Suara ayahnya membuatnya berhenti.

"Ya, Ayah?" jawabnya cepat.

"Aku mendengar kau membuat keributan lagi dengan pelayan kemarin," kata Count Bernard.

Liora terdiam. Ia menatap Count Bernard dengan mata membesar sedikit.

"Aku tidak-"

"Kau selalu membuat ulah!" potong sang Count dingin. "Kau membuat pelayan itu menangis. Katanya kau melempar piring ke kepalanya."

Sera menghela napas, penuh kepura-puraan. "Kakak, kau seharusnya lebih sabar. Mereka hanya menjalankan tugas."

Liora menoleh. "Aku tidak melempar apa pun," katanya, kali ini sedikit lebih tegas. "Piring itu jatuh karena tanganku terpeleset."

"Karena terlalu banyak makan," Countess Irene menyela tanpa menatap Liora.

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Count Bernard mengangguk seolah itu sudah cukup sebagai kesimpulan. "Sudah cukup. Aku tidak ingin mendengar alasan. Kau mempermalukan keluarga ini setiap hari, Liora. Kapan kau akan bersikap layaknya putri Count? Contoh adikmu, Sera. Dia menjaga tubuh dan juga citranya di depan bangsawan lain. Tidak sepertimu yang justru menjadi aib keluarga ini."

Liora mengepalkan jarinya di bawah meja. Kukunya menekan telapak tangan sendiri. Ia ingin bicara. Ingin menjelaskan. Ingin sekali saja didengar.

Tapi ia tahu.

Ia selalu tahu.

Di meja ini, suaranya tidak pernah didengar

Sampai sesuai yang besar terjadi ....

Kabar itu datang menjelang siang, dibawa oleh utusan istana dengan pakaian resmi berwarna biru tua dan lambang kekaisaran di dada.

Seluruh keluarga Montclair berkumpul di ruang tamu utama. Pelayan berdiri di sisi ruangan, kepala tertunduk. Udara terasa tegang, seolah dinding-dinding tua itu ikut menahan napas.

"Dengan ini," kata sang utusan lantang, membuka gulungan perkamen, "atas perintah Kaisar Victor Aurelius, diumumkan perjodohan antara Keluarga Montclair dan Keluarga Ravens."

Jantung Liora berdegup keras.

Nama itu ...

tidak mungkin.

"Putri dari keluarga Count Montclair," lanjutnya, "akan dipersunting oleh Duke Alaric Ravens, Jenderal Agung Kekaisaran."

Ruangan mendadak riuh. Countess Irene menutup mulutnya, pura-pura terkejut. Count Bernard berdiri sedikit dari kursinya, wajahnya tegang.

Sera menoleh cepat, ke arah Liora.

Tatapan itu tajam. Bukan terkejut.

Melainkan ... marah.

"Ini kehormatan besar," Count Bernard berkata akhirnya, suaranya bergetar antara bangga dan takut. "Putri kami-"

"Putri yang mana?" sang utusan menyela sopan namun tegas. "Kaisar menunggu jawaban segera."

Sera berdiri lebih dulu.

"Ayah," kata Sera lembut tapi pasti. "Aku tidak bisa."

Semua mata tertuju padanya.

"Apa maksudmu?" Countess Irene berbisik panik.

"Aku tidak akan menikah dengan pria yang dikenal kejam dan dingin," lanjut Sera, suaranya jernih. "Aku masih muda. Aku ... takut. Aku juga sedang naik-naiknya di sosialita bangsawan, aku tidak mau membuang usaha kerasku untuk bisa sampai di sana."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Liora merasa pandangan itu beralih padanya, satu per satu, seperti pisau yang diarahkan tanpa perlu diangkat.

Count Bernard menoleh. Sangat lama untuk berpikir.

"Kalau begitu," kata sang Count akhirnya, suaranya rendah, berat. "Liora."

Nama itu jatuh seperti vonis.

"Kau yang akan menikah dengan Duke Alaric Ravens," kata Count Bernard akhirnya.

Dunia Liora seakan berhenti berputar.

Ia berdiri perlahan. "Ayah?"

"Kau tidak punya pilihan," potong Count Bernard dingin. "Ini perintah Kaisar. Dan kau ... setidaknya buat dirimu berguna kali ini. Bayar apa yang sudah aku berikan untuk membesarkanmu."

Sera tersenyum tipis.

Hampir tak terlihat.

Dan untuk pertama kalinya hari itu ...

Liora Montclair benar-benar merasakan darah mendidih dalam dirinya.

BAB 2. PENGHINAAN

Liora tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di tengah ruang tamu Montclair, punggungnya tegak, kedua tangannya terlipat rapi di depan tubuhnya yang selama ini dianggap memalukan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dijadikan tumbal.

"Baik. Aku terima," kata Liora akhirnya.

Satu kata itu membuat semua orang terdiam.

Count Bernard mengerutkan kening. Seolah ia mengharapkan tangisan. Protes. Permohonan. Apa pun, selama itu menunjukkan bahwa Liora masih bisa ditekan.

Namun tidak ada.

Liora hanya menunduk sopan ke arah utusan istana. "Sampaikan pada Yang Mulia Kaisar," ucapnya datar, "bahwa keluarga Montclair menerima perintah itu."

Utusan itu tampak sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk. "Upacara pernikahan akan dilaksanakan sebulan dari sekarang."

Satu bulan.

Waktu yang singkat untuk memersiapkan pernikahan, bahkan untuk bangsawan yang biasa bahkan sampai satu tahun persiapan.

Setelah utusan itu pergi, keheningan di ruang tamu tidak lagi terasa resmi. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih pribadi.

"Kenapa kau terlihat begitu pasrah?" Countess Irene memecah suasana, nada suaranya dingin. "Seolah kami melakukan kejahatan besar padamu."

Liora mengangkat wajahnya. Matanya tenang, nyaris kosong. "Bukankah memang begitu?"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Liora.

Kepala gadis itu terhuyung ke samping, rambutnya terurai. Rasa perih menyebar cepat, panas, memalukan. Beberapa pelayan menahan napas. Tak satu pun bergerak.

"Jaga mulutmu," bentak Count Bernard. "Kau akan menikah dengan Duke. Itu kehormatan."

"Kehormatan bagi siapa?" tanya Liora lirih.

Count Bernard menatapnya tajam. "Bagi keluarga ini."

Liora menatap Count dingin ketika mendengar ucapan itu. Tentu saja untuk keluarga dan bukan untuk Liora sendiri. Memang sejak kapan keluarganya ini peduli padanya.

Sera berdiri di dekat tangga, menonton dengan ekspresi cemas palsu. "Kakak, jangan memperburuk keadaan. Ayah dan Ibu juga sedang tertekan."

Liora menoleh ke arah adik tirinya itu. Tatapan mereka bertemu.

Dan di mata Sera, Liora melihatnya ... bukan rasa bersalah, melainkan kelegaan.

Dasar jalang licik, batin Liora.

Kabar pernikahan itu menyebar lebih cepat dari api di musim panas.

Di dapur, para pelayan berbisik tanpa menurunkan suara.

"Duke Ravens itu jenderal perang, kan?"

"Katanya dia membunuh musuh dengan tangannya sendiri."

"Dan Lady Liora yang akan menikah dengannya?"

"Kasihan Duke harus menikahi wanita gendut sepertinya."

Kata kasihan diucapkan sambil tertawa kecil.

Setiap langkah Liora di koridor kastil diiringi pandangan merendahkan.

Gaun yang dipakaikan untuk pengukuran pernikahan terlalu sempit di pinggang dan lengan, seolah sengaja dipilih untuk memerjelas setiap lekuk tubuh Liora.

"Berdirilah lebih lurus," kata pelayan penjahit dengan nada jengkel. "Kalau Nona tidak bisa mengontrol tubuh sendiri, setidaknya jangan menyulitkan kami."

Jarum menusuk kulitnya tanpa permintaan maaf.

Liora tidak mengeluh. Tidak bergerak. Ia hanya menatap bayangannya di cermin tinggi, sosok besar dengan wajah pucat dan mata hijau yang kini terlihat lebih tua dari usianya.

"Gaun ini terlalu polos," komentar Countess Irene dari kursi dekat jendela. "Tapi ya sudahlah. Tubuh seperti itu tidak akan terlihat anggun dengan apa pun."

Sera tertawa kecil. "Setidaknya Duke tidak akan berharap banyak."

Kata-kata itu disambut tawa pelan para pelayan.

Liora menunduk. Bukan karena malu, melainkan karena ia menyadari sesuatu.

Mereka tidak akan berhenti.

Tidak hari ini.

Tidak setelah pernikahan.

Tidak pernah, karena memang seperti itu tabiat menjijikan mereka.

Malam hari membawa bisikan yang lebih gelap.

Di kamar kecil dekat dapur, dua pelayan senior berbicara sambil melipat kain.

"Katanya Duke Ravens tidak pernah menyentuh wanita kalau tidak ia kehendaki."

"Lalu bagaimana dengan Nona Liora?"

"Siapa yang mau menyentuh tubuh sebesar itu?"

Tawa pelan kembali terdengar.

"Jangan heran kalau Duke meninggalkannya di malam pernikahan."

"Atau bahkan menceraikannya langsung."

Liora berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia tidak masuk. Tidak pergi.

Ia hanya berdiri, mendengarkan.

Setiap kata masuk ke dalam diri Liora dengan rapi, seperti disusun satu per satu, lalu disimpan. Bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diingat.

Karena Liora tidak merasa ingin membela diri. Tidak perlu ... untuk saat ini.

Ia tidak mau menghabiskan energi hanya untuk melabrak para pelayan itu, walau Liora sangat ingin menjambak rambut mereka.

Tentang Duke Alaric Ravens, cerita-cerita itu semakin liar.

Ia disebut The Iron Duke, pria yang tak pernah tersenyum di medan perang, yang memimpin pasukan dari barisan depan, yang tidak ragu memenggal pengkhianat di depan umum.

Ada yang mengatakan ia tidak punya istri karena semua wanita takut padanya.

Ada yang mengatakan ia menolak semua perjodohan karena ia tidak percaya cinta.

Ada pula yang berbisik bahwa ia hanya menikah karena perintah Kaisar, dan akan membenci siapa pun yang menjadi istrinya.

"Wanita malang, tapi itu balasan karena dia hanyalah wanita jahat yang tidak tahu diri," ucap seseorang suatu malam di kediaman Count.

"Wanita gendut, seharusnya mengurung diri saja di dalam kamar," sahut yang lain.

Liora mendengar semuanya.

Dan di tengah semua itu, tidak satu pun yang bertanya bagaimana keadaan dan juga perasaan Liora.

Namun sama seperti mereka, Liora juga tidak peduli.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti hukuman yang diulang.

Pelayan tidak lagi menyembunyikan kekasaran mereka. Makanan Liora sering datang terlambat, atau terlalu banyak. Selalu terlalu banyak.

Dan setiap kali Liora mencoba menolak, seseorang akan berkata, "Bukankah Nona menyukainya? Makan yang banyak agar Anda tidak pingsan saat pernikahan nanti, tapi jangan kebanyakan karena nanti gaun Anda bisa robek."

Ya, penghinaan seperti itu semakin jadi.

Sera sering datang ke kamarnya dengan senyum manis.

"Kakak terlihat pucat," kata Sera suatu pagi, meletakkan sepiring kue di meja. "Makanlah. Kau butuh tenaga untuk pernikahan. Aku sengaja menyuruh koki kita membuatkan makanan manis yang enak."

Liora menatap kue itu lama. Dari aromannya saja Liora tahu betapa manis kue itu, membuatnya mengernyit ngilu membayangkan Liora memakannya.

"Aku tidak lapar," tolak Liora.

Sera mengerutkan kening, lalu tersenyum lagi. "Jangan begitu. Kau akan terlihat semakin buruk kalau tidak makan. Akan sangat baik kalau kau makan banyak."

Sera pergi, meninggalkan aroma manis yang membuat perut Liora mual.

Malam itu, Liora muntah. Karena entah kenapa makanan selalu datang dan Liora sampai dipaksa makan baik oleh pelayan sampai oleh ibu tiri dan adik tiri Liora.

Di hadapan cermin, Liora membuka lengan bajunya dan menatap memar-memar lama yang belum sepenuhnya hilang, bekas cubitan, dorongan, hukuman kecil yang selalu dianggap pantas.

Ia menyentuh luka-luka itu pelan. Lalu mengangkat wajahnya.

Di mata yang menatap balik pada cermin itu, tidak ada air mata.

Hanya satu pemahaman yang akhirnya tumbuh dengan jelas:

Jika dunia ini telah memutuskan untuk menjadikannya korban, maka ia akan belajar bertahan, bahkan jika itu berarti melangkah sendirian ke sisi monster bernama Duke Alaric Ravens.

Namun entah kenapa, Liora tidak sepenuhnya takut.

BAB 3. PERNIKAHAN PENUH PENGHINAAN

Hari pernikahan itu tiba tanpa hujan.

Langit di atas Katedral Kekaisaran cerah, biru pucat, seolah dunia sama sekali tidak peduli bahwa seorang wanita sedang dikorbankan di hadapan ribuan mata. Lonceng berdentang sejak pagi, memanggil bangsawan dari berbagai wilayah, Marquis, Count, Viscount, hingg Baron, semua datang dengan pakaian terbaik, senyum terbaik, dan bisikan terburuk.

Bahkan pernikahan itu dihadiri oleh kaisar dan keluarga kerajaan. Jelas itu pernikahan yang cukup mewah dan besar.

Kereta keluarga Montclair berhenti di depan tangga marmer.

Pintu dibuka.

Lady Liora Montclair turun perlahan.

Gaun pengantinnya berwarna putih gading, sederhana, tanpa banyak bordir. Kainnya jatuh berat, menempel di tubuhnya yang selama ini menjadi bahan olok-olok. Tidak ada usaha untuk menyamarkan bentuknya, seolah keluarganya ingin semua orang melihat dengan jelas apa yang 'harus ditanggung' oleh Duke Ravens.

Bisikan langsung pecah.

"Itu dia?"

"Putri Montclair yang terkenal itu?"

"Yang selalu menyakiti pelayan dan suka bersikap kasar."

"Bahkan rumornya dia suka foya-foya dan banyak makan."

"Lihatlah tubuhnya."

"Duke Ravens akan menikahi gadis itu?"

"Kasihan."

Kata itu lagi. Kasihan.

Liora mendengarnya. Ia selalu mendengar.

Ia melangkah tanpa menoleh ke kiri atau kanan. Wajahnya tenang, matanya lurus ke depan. Setiap langkah terasa berat, bukan karena gaunnya, melainkan karena ratusan pasang mata yang menimbang tubuhnya, menertawakan nasibnya, dan menyimpulkan hidupnya hanya dari apa yang terlihat.

Namun Liora dapat melihat Kaisar dan permaisuri menatap Liora tidak senang. Entah karena rumor itu atau karena tubuh Liora.

Bahkan Liora melihat permaisuri membisikkan sesuatu ke Kaisar yang jelas itu tentang Liora karena lirikan permaisuri ke arahnya.

Biarlah, batin Liora tak peduli.

Di dalam katedral, Duke Alaric Ravens telah berdiri di depan altar.

Seragam pernikahannya hitam pekat, dihiasi lambang perak di dada. Posturnya tegak, rahangnya keras, rambut gelapnya tersisir rapi. Ia tampan, bahkan terlalu tampan, dengan cara yang dingin dan berbahaya.

Duke tidak menoleh ketika Liora masuk.

Tidak sekali pun.

Pendeta mulai berbicara. Kata-kata sakral mengalir, memenuhi ruang tinggi yang bergema. Liora berdiri di sisi Alaric, cukup dekat untuk merasakan kehadirannya; dingin, kokoh, tak tergoyahkan, berjarak bak sejauh dunia yang berbeda.

Liora mencuri pandang.

Alaric menatap lurus ke depan. Matanya seperti baja yang diasah perang. Tidak ada jijik. Tidak ada benci. Tidak ada apa-apa.

Pria itu seolah tidak melihat Liora.

Saat tiba waktunya mengucapkan ikrar, suara Liora terdengar jelas. Tidak bergetar.

"Aku, Liora Montclair, menerima engkau, Alaric Ravens, sebagai suamiku ...."

Beberapa tamu tampak terkejut mendengar ketenangan Liora.

Ketika giliran Alaric, ia mengucapkannya dengan nada datar, singkat, profesional, seperti sumpah militer, bukan janji pernikahan.

"Dengan ini, kalian resmi menjadi suami dan istri," umum pendeta.

Tepuk tangan terdengar. Tidak meriah. Tidak hangat.

Dan sebelum Liora sempat menarik napas lega ...

Alaric melangkah mundur.

Pria itu berbalik.

Lalu pergi.

Tanpa menatap istrinya.

Tanpa menunggu.

Tanpa satu kata.

Suara langkah sepatu sang Duke menggema di katedral, lalu menghilang.

Hening.

Hening yang berat, canggung, dan memalukan.

Liora berdiri sendiri di altar.

Desas-desus pun mulai langsung terdengar memenuhi ruangan.

Resepsi berlangsung seperti sandiwara murahan.

Meja-meja penuh makanan mewah, musik dimainkan dengan sempurna, pelayan bergerak cekatan, namun pengantin pria tidak ada. Kursi Duke kosong, mencolok seperti luka terbuka.

Bisikan mulai beredar, tak lagi berusaha disembunyikan.

"Dia pergi?"

"Bahkan sebelum resepsi?"

"Jadi rumor itu benar ..."

"Duke tidak bisa menoleransi tubuh gadis itu."

"Siapa pun masih malas melihatnya."

Beberapa tamu memandang Liora dengan iba. Yang lain dengan ejekan halus. Ada yang tertawa kecil di balik kipas.

Lady Mira Vellon berdiri di antara tamu-tamu bangsawan, senyumnya penuh kemenangan yang tidak disembunyikan. "Aku sudah menduganya," katanya lantang. "Tak ada pria normal yang mau menyentuh wanita seperti itu."

Tidak ada yang menegurnya.

Keluarga Montclair berdiri kaku di sisi ruangan. Count Bernard menghindari tatapan Liora. Countess Irene terlihat pucat, bukan karena sedih, melainkan karena malu.

Sera ... tersenyum kecil.

Liora duduk di kursinya, tangan terlipat di pangkuan. Ia mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap tawa tertahan.

Anehnya, tidak ada air mata.

Yang ada hanyalah kelelahan yang perlahan berubah bentuk menjadi kelegaan.

Malam itu, Liora dibawa ke kastil Ravens.

Kamar pengantin luas, megah, namun dingin. Perapian menyala, ranjang besar tertata rapi. Pelayan Duke bersikap formal, dingin, sopan, menjaga jarak.

"Yang Mulia Duke akan segera datang," kata seorang pelayan dengan nada netral.

Liora mengangguk. "Terima kasih."

Waktu berlalu.

Lilin menyusut.

Langkah kaki yang ditunggu tidak pernah datang.

Ketika tengah malam lewat dan istana semakin sunyi, Liora tahu.

Duke tidak akan datang.

Liora duduk di tepi ranjang, lalu tertawa pelan, nyaris tak terdengar.

"Jadi begini," gumam Liora.

Liora melepas perhiasan satu per satu. Gaun pengantin itu terasa lebih ringan saat dilepaskan, seolah ia menanggalkan beban bertahun-tahun. Ia mengganti pakaian tidur sederhana, menyisir rambutnya sendiri.

Tidak ada pelayan Montclair.

Tidak ada tatapan merendahkan.

Tidak ada suara Sera yang berpura-pura manis.

Hanya keheningan.

Liora berjalan ke jendela, membuka tirainya. Bulan menggantung tenang di langit.

Ia tersenyum.

Senyum sungguhan.

"Akhirnya aku bebas!" seru Liora penuh antusias.

Bebas dari teriakan.

Bebas dari tuduhan.

"Akhirnya aku bebas dari setan-setan Montclair yang tak tahu diri. Seharusnya aku melakukan ini sejak lama. Jika bukan karena kaisar, aku akan membusuk di keluarga itu. Tapi aku tidak menyangka kalau kaisar akan memilih Duke untuk keluarga Count," celoteh Liora setengah berpikir.

Ia kembali ke ranjang, merebahkan diri, menarik selimut dengan nyaman.

"Dan betapa beruntungnya aku," lanjutnya sambil menutup mata, "karena Duke tidak datang malam ini. Tetap saja tatapannya tadi terlalu dingin seperti rumor. Tapi aku tidak tahu kalau ternyata Duke tampan juga."

Liora memikirkan banyak hal saat berbaring. Terutama kehidupannya setelah ini.

"Kira-kira apakah Duke akan menceraikanku? Melihat dari apa yang terjadi di pernikahan dan dia pergi begitu saja tanpa melihatku, kurasa dia akan segera menceraikanku. Kuharap dia melakukannya, karena itu lebih baik dari pada terjebak di kastil miliknya sebagai Duchess yang diabaikan," ucap Liora.

Sesaat ia berpikir lalu tersenyum dan melanjutkan, "Segeralah ceraikan aku, Duke. Dengan begitu aku bisa pergi ke kerajaan lain dan membuka bisnisku di sana juga. Aku sudah muak dengan orang-orang di kerjaan ini."

Napas Liora melambat, matanya mulai terpejam.

"Setidaknya malam ini aku bisa tidur tenang," gumamnya.

Dan malam itu, di kamar pengantin yang sunyi ...

Nyonya Liora Ravens tertidur dengan senyum di wajahnya.

Bukan sebagai wanita yang ditinggalkan.

Melainkan sebagai wanita yang akhirnya merdeka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!