#1
“Periksa sekali lagi, apakah hanya aku yang merasakan ada yang aneh?”
Tim quality control, kembali menuruti perintah Rayyan, sekali lagi, mereka mencicipi rasa cabai yang sudah diolah menjadi pasta.
Dari beberapa sampel yang masuk, yang mana masing-masing sampel tersebut berasal dari 3 petani berbeda. Ternyata resep yang sudah Rayyan pertahankan selama 3 tahun terakhir rasanya benar-benar berubah.
Mungkin ada banyak faktor yang mempengaruhi hasil panen, cuaca, pupuk, bahkan mungkin perubahan struktur tanah.
“Sudah, Tuan. Kami sudah memastikannya, dan memang benar rasa cabainya berbeda.”
Rayyan menggebrak mejanya, SN Food adalah impiannya, tombak serta tantangan yang akan menjadi acuan bahwa dirinya memang layak menduduki kursi tertinggi di Senopati Group, menggantikan sang Papa Gusman Senopati.
Sudah beberapa bulan terakhir, penjualan mereka mengalami penurunan. Tim quality control merasa ada yang tidak beres, jadi melaporkannya pada Rayyan.
Dan hari ini Rayyan sendiri yang turun ke bagian quality control untuk memastikan bahwa timnya yang salah.
“Mulai besok, hentikan produksi sambal kita!”
“Lalu produk turunannya?”
Produk turunan cabai yang mereka buat dalam bentuk kemasan sangat bervariasi, mulai dari cabai bubuk, dan aneka snack dengan taburan chili oil atau pun cabai bubuk, yang belakangan ini sangat di gandrungi para muda-mudi.
Fokus utama Rayyan adalah mengolah sambal nusantara dalam kemasan modern, namun tak meninggalkan kualitas dan rasanya yang autentik.
Sambal terasi, sambal hijau, sambal tomat, sambal matah, bawang, hingga ada yang sudah di mix dengan berbagai macam protein. Ikan tuna, udang, cumi, dan yang terbaru adalah resep hasil ciptaan Rayyan sendiri sambal gurita pedas. Semuanya sudah siap disantap, tanpa perlu dimasak kembali.
“Dan juga hentikan pemasaran sekarang juga, tarik semua produk, lalu muat surat permintaan maaf secara resmi. Sertakan juga alasan kenapa kita menghentikan proses produksi dan juga menarik produk yang telah terlanjur beredar.”
Rayyan tahu, keputusannya ini akan berpengaruh besar pada keuntungan perusahaan. Tapi Rayyan tak mau, mengecewakan konsumen yang menyukai produk buatan SN Food.
Rayyan sedikit menghembuskan nafas ke udara, mempelopori sebuah bisnis tak mungkin semudah menjentikkan ibu jari. Ada tantangan yang harus dilewati, ada hambatan yang harus ditaklukkan, dan bisa dipastikan kegagalan demi kegagalan itu tak akan berlangsung sekali dua kali. Bisa puluhan kali, ratusan kali, bahkan ribuan kali seperti makanan sehari-hari.
Setidaknya itulah wejangan papa dan mamanya yang masih Rayyan ingat jelas, mereka juga pernah mengalami pasang surut dalam memulai usaha.
Karena menjadi pemimpin adalah menjadi orang yang berjuang paling keras, menjadi pemimpin berarti memikirkan nasib bawahannya, menjadi pemimpin juga memikirkan keberlangsungan usahanya.
Dan jangan lupa, kita memang butuh uang untuk memulai usaha, tapi uang bukan segala-galanya dalam hidup. Karena keberadaan orang-orang di dalamnya, tetap jadi yang utama.
Wajah Rayyan kusut masai ketika keluar dari pabrik yang skala kecil miliknya, padahal ia ingin membuktikan keberhasilannya pada sang kekasih yang sudah mau bertahan dengan hubungan mereka.
“Selamat malam, Tuan Ray,” ucap Pak Satpam, ketika Rayyan melewatinya tanpa menoleh.
Rayyan langsung menoleh, “Selamat Malam, Pak. Terima kasih karena sudah bekerja keras hari ini,” balas Rayyan ramah. Ini juga adalah hal kecil yang dicontohkan kedua orang tuanya sejak kecil.
Pabrik ini adalah mimpi Rayyan memulai perusahaannya sendiri, semua uang tabungannya sejak masih di bangku SMA ia kerahkan demi mewujudkan bangunan pabrik yang tak seberapa besar ini. Lalu dimana saudara serta kerabatnya, mereka semua mendukung dari kejauhan. Rayyan sudah biasa, semua demi keselamatan dirinya yang seorang penerus Senopati Group.
Dulu selain Rayyan, tuan Gusman memiliki seorang anak laki-laki lain dari istri pertamanya, sayangnya Zidan harus meregang nyawa, karena ambisi pamannya yang ingin menguasai Senopati Group seorang diri.
Kini Rayyan harus rela tak menggunakan fasilitas mewah perusahaan, dan hingga detik ini, tak banyak orang yang melihat dan bertemu secara langsung dengan dirinya sang calon penerus Senopati Group tersebut, termasuk kekasihnya sendiri. Karena rahasia besar identitas dirinya yang disembunyikan rapat-rapat dari dunia.
Rayyan membuka layar ponselnya, menatap wajah cantik dan modis kekasihnya. Paramitha Amanda Sasmito, gadis yang sangat ia cintai, dan sebentar lagi gadis itu kembali ke tanah air, Rayyan berencana mengejutkannya dengan sebuah lamaran.
Rayan mengendarai city car mungilnya, ini juga mobil yang ia beli dari sedikit keuntungan pabrik yang masuk ke kantongnya. Mobil itu melaju pelan diiringi audio musik dari era awal 2000 an.
Mobil Rayyan berhenti dan parkir di halaman rumah kakak perempuannya, Rayyan tinggal di sana, sejak orang tuanya memilih tinggal jauh dari kota dengan alasan udara di pegunungan baik untuk kesehatan.
“Assalamu'alaikum,” ucap Rayyan.
“Waalaikumsalam,” jawab Fadly dan Diana bersamaan.
“Kenapa tidak pulang ke rumah?”
“Malas, Kak. Gak ada Papa Mama, rumah terasa Sepi.” Rayyan menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa dekat Diana, kemudian menyandarkan kepalanya yang berdenyut nyeri memikirkan urusan pabrik.
“Kenapa lagi?” Fadly meletakkan tablet yang barusan ia baca, kemudian melepas kacamatanya.
“Gagal, Mas. Padahal sudah beberapa tahun aku pakai cabe dari petani di sana. Tiba-tiba kali ini saja rasanya benar-benar berubah.” Rayyan memejamkan matanya.
“Lha, terus?”
“Terpaksa semua produk yang terlanjur beredar di pasaran kami tarik,” jawab Rayyan lemah.
Sebagai kakak ipar, Fadly bisa memahami masalah serta ambisi yang ingin Rayyan wujudkan. Sejauh ini Fadly cukup bangga dengan adik tiri sang istri, Rayyan termasuk pemuda tangguh, dan tak pantang menyerah.
“Apa tidak sebaiknya kamu istirahat sebentar?” usul Diana.
“Lalu para pegawaiku mau makan apa, Kak? Kami harus terus berinovasi.”
“Iya, Kakak tahu, sementara ini diam dulu, sambil memikirkan langkah selanjutnya. Tapi produksi yang lain tetap jalan,” saran Diana.
“Maksud Kakak?”
“Produk yang gagal di pabrikmu apa?”
“Sambal basah kami, kak. Karena kualitas cabe yang kami terima berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.”
“Nah, kalau begitu hentikan saja produksi sambal basah, coba fokus dulu ke sambal kering, tapi jelas gradenya harus diturunkan. Gak bisa di oleh menjadi cabai kualitas premium.”
Wajah Rayyan berbinar, “Boleh juga ide Kak Diana.”
Seolah mendapat suntikan semangat, Rayyan berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya. Besok ia akan memulai produksi, memanfaatkan bahan yang sudah terlanjur menumpuk di gudang persedian pabriknya.
Tak lama kemudian ponsel Rayyan berdering, “Om Agung,” gumamnya.
Agung adalah mantan asisten sang papa, dan kini pria itu menggantikan Rayyan sementara di kursi direktur. Sementara jabatan Direktur Utama saat ini dipegang Moreno Senopati, sepupu Rayyan.
“Halo, Om.”
“Ray, kamu dimana?”
“Di rumah Mas Fadly dan Kak Diana, Om.”
“Om, menunggumu di rumah, ya sudah Om kirim informasi yang kamu minta via email saja, ya?”
“Oke, Om. Aku buka sekarang.”
“Sebentar—” Di ujung sana terdengar suara mouse dan keyboard, pertanda Agung sedang mengirim informasi via email. “Oke, sudah terkirim semua.”
Rayyan segera membuka folder yang dikirim mantan asisten pribadi Tuan Gusman tersebut. “Kalau saran Om, sih. Sebaiknya kamu akhiri saja hubungan kalian. Om sudah lama mengamati sepak terjang Mitha, dan Om rasa dia tak cocok menjadi calon istrimu.”
Kalimat Agung hanya terdengar seperti angin lalu di telinga Rayyan, karena pria itu tengah shock dengan semua hal yang baru ia ketahui. Foto-foto mesra yang tak sedikit jumlahnya, memperlihatkan aktivitas Mitha di luar negeri yang katanya melanjutkan pendidikan.
Tapi ternyata, semua hanya kamuflase semata, padahal pabrik kecil Rayyan yang telah membiayai sebagian pengeluaran harian gadis itu selama ia tinggal di luar negeri.
Bukan karena Rayyan bodoh, belum menikah, tapi sudah memberi nafkah. Tapi itu adalah bukti keseriusan yang mampu ia tunjukkan pada orang tua Mitha, bahwa ia fokus kuliah sambil membangun bisnis di tanah air. Biarlah Mitha yang belajar ke luar negeri setelah lulus SMU.
#2
Hingga larut malam, Rayyan masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Bimbang, galau, sekaligus sakit hati. Semua nano-nano menjadi satu. Jika dipikir-pikir bodoh sekali kalau Rayyan sedih karena merasa dicurangi sang kekasih. Karena dari sudut manapun, ia sempurna dalam segala hal.
Tampan, sudah pasti, banyak uang, walaupun sekarang masih belum. Tapi setidaknya, masa depannya sudah diramalkan akan menduduki kursi nomor satu di Senopati Group.
Tapi, demi sebuah pembuktian, Rayyan tak mau memanfaatkan statusnya untuk memikat wanita. Ia tetap menginginkan cinta sejati, wanita yang tulus tak lebih hanya sekedar wanita yang mencintai semua materi yang ada dalam dirinya.
Semua belum terlambat, yah, belum terlambat. Dirinya dan Mitha hanya berstatus pacaran, tidak tunangan, apalagi menikah. Jika Mitha bisa berbuat sesuka hati ketika dirinya berusaha setia, maka Rayyan pun merasa berhak untuk kembali memikirkan hubungan mereka ke depan.
Dengan berat hati Rayyan pun memblokir nomor sang kekasih, “Jika kamu bisa bersikap tak tahu malu, setelah aku bersusah payah memberikan sebagian hasil kerja kerasku. Maka jangan salahkan aku jika kelak aku pun bisa membuangmu.”
Rayyan meletakkan ponselnya kemudian memejamkan mata, esok ia akan memikirkan langkah apa yang harus ia perbuat.
•••
“Hati-hati, ya, Nak,” pesan Mama Marina pada putra bungsunya melalui panggilan. Rayyan baru saja pamit hendak menenangkan diri di sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya tinggal.
“Pasti, Ma.”
“Berapa lama, disana?”
“Kurang tahu, Ma. Mungkin satu bulan, bisa juga lebih.”
Krek!
Terdengar suara resleting ketika Rayyan menutup ransel besarnya.
“Itu lama sekali, katamu mau segera melamar Mitha?” tanya Mama Marina.
Rayyan terdiam, ia tak tega memberitahukan pada orang tuanya perihal Mitha. Tak tega bila nanti mereka ikut sedih.
“Biarkan saja dia berkelana. Anak kita itu laki-laki, sangat penting baginya untuk mencari banyak pengalaman. Nanti-nanti saja menikahnya, Rayyan baru 26 tahun, loh,” sela Tuan Gusman, membela Rayyan yang katanya pamit ingin berkunjung ke rumah Nanang sahabatnya.
Rayyan senang karena mendapatkan pembelaan dari papanya. “Tuan Ulat Bulu kesayangan netizen memang terdebest,” puji Rayyan selenge-an.
“Dan kamu, anak ulat bulu, jangan bikin malu Papa, ya?”
“Kalau soal itu, Tuan Gusman tak perlu khawatir. Aku akan tetap menjunjung kehormatan Anda setinggi-tingginya.” Rayyan menepuk dadanya, “Aku janji tak akan pernah membuat Papa dan Mama malu, Papa dan Mama hanya boleh merasa bangga padaku.”
“Bagus sekali. Itu baru Anak Papa.” Dengan rasa bangga, Tuan Gusman mengatakannya.
Sejauh ini, Rayyan tumbuh menjadi seseorang yang melebihi batas ekspektasinya. Tuan Gusman hanya ingin Rayyan belajar menjadi pemimpin, tapi Rayyan justru mewujudkannya dengan membuka pabrik skala kecilnya sendiri.
Dengan passion yang ia sukai, kemampuan alami yang ia miliki adalah bakat yang menurun dari kemampuan memasak sang mama, Nyonya Marina.
•••
Sungguh bukan jalur tempuh yang mudah, karena Rayyan di beri tantangan agar menggunakan transportasi umum kelas menengah kebawah. Mulai dari naik bis lintas provinsi, hingga berdesakan di minibus menuju Desa Kembang Turi, tempat Nanang berasal.
Rayyan duduk meringkuk di kursi belakang paling pojok, serta harus memakai masker sepanjang jalan. Penyebabnya, karena aroma keringat manusia, bercampur dengan aroma makanan, ditambah bau tanah sawah, serta bau peternakan, kini semua aroma itu mengepung indera penciumannya.
Rayyan mulai sedikit menyesal keputusannya, tapi apa daya ia sudah hampir tiba, tinggal satu kali pemberhentian lagi Rayyan akan tiba.
Tapi pandangan matanya tiba-tiba tertuju pada seorang gadis yang baru saja naik ke dalam bus mini, wajah lelahnya tak membuat senyum itu memudar. Sepertinya usianya masih muda, tapi wajahnya terlihat dewasa karena melawan beratnya tantangan hidup.
“Eh, Lilis, darimana?” sapa salah seorang ibu yang duduk memangku baki yang telah kosong usai berjualan di pasar.
“Dari pasar, Lek. Belanja buat ngisi warung,” jawab wanita itu.
“Wah, masih ramai, warungmu?”
“Alhamdulillah, masih, Lek. Ya, lumayan buat biaya hidup sehari-hari, dan juga biaya sekolah Arimbi.”
“Berbudi sekali kamu, Nak. Meskipun Saodah bukan ibu kandungmu, kamu tetap ikhlas menafkahi dia dan adikmu setelah bapak kalian meninggal.”
Wanita itu kembali melempar senyum, namun, kecut, enggan melanjutkan kembali pembicaraan. Bus kembali melaju perlahan, melewati jalanan yang tak selalu mulus. Tapi gadis itu tetap mengeratkan pegangan tangannya agar tetap berdiri tanpa perlu mengemis tempat duduk.
Rayyan jadi merasa malu, padahal barang bawaannya tak seberapa banyak dibandingkan gadis itu. “Mbak,” kata Rayyan.
Gadis itu menoleh, “Silahkan, pakai tempat duduk saya.”
“Terima kasih, Mas, tapi tak perlu, Lagian sebentar lagi saya turun.”
Karena mendapat penolakan, maka Rayyan bisa apa selain kembali duduk di tempatnya.
Kalimat sebentar yang diucapkan gadis itu, rupanya membutuhkan waktu hampir 30 menit. Hingga tak lama kemudian gadis itu pun turun, sambil membawa barang-barang belanjaannya.
“Desa Kembang Turi, siapa lagi yang mau turun!” teriak kernet bus.
Rayyan terperanjat, “Desa Kembang Turi, Pak?”
“Iya, Mas. Nah, tadi Masnya bilang mau ke Desa Kembang Turi?”
“Benar, Pak. Terima kasih, sudah mengingatkan.”
Rayyan bergegas turun sambil memanggul kembali tas ransel besarnya.
“Ray! Akhirnya, merasakan juga jadi orang desa!”
Sungguh sambutan yang absurd, Rayyan segera memeluk dan memiting leher Nanang namun pria itu justru tergelak bahagia, setelah mengerjai sahabatnya.
“Dasar, kunyuk!” maki Rayyan dengan nafas ngos-ngosan, “hampir dua hari aku menempuh perjalanan, nyaris saja balik lagi ke Ibu Kota.”
Nanang semakin tergelak bahagia, seraya memeluk pundak sahabatnya. “Sekali-kali lah, biar tahu rasanya menjadi diriku, ketika pulang kampung. Ayo, Emakku sudah masak belut dengan sambal spesial buatmu.”
“Wah, kebetulan aku sudah lapar.”
Mereka berjalan menghampiri motor bebek milik Nanang, yang parkir tak jauh dari sana. Ternyata Rayyan kembali melihat gadis di dalam bis yang tadi menolak tawaran kursi darinya, gadis itu tak melihat Rayyan, hanya sibuk mengikat barang belanjaannya agar tak jatuh dari motor selama ia berkendara.
Setelah semua dipastikan aman, gadis itu pergi, tanpa menyapa siapa-siapa lagi, kecuali pamit pada Nanang. “Mas Nanang, aku duluan, ya.”
“Hati-hati, Lis.”
Rayyan hanya jadi penonton, “Kamu, kenal dia?”
“Iya. Kenapa? Kamu memperhatikan dia? Tertarik padanya?” tanya Nanang, yang nampak heran dengan tatapan Rayyan pada Lilis.
“Ck, ngomong asal jeplak aja. Nggak, lah, aku cuma bertanya, karena tadi kami satu bis.”
“Oh, kirain.” Nanang mulai menstarter motor bebeknya. “Tidak apa-apa, sih, kalau tertarik, dia gadis tangguh, tulang punggung keluarga, tapi— sudah janda di usia belia.”
“What?!”
Rayyan benar-benar tak habis pikir, masih ada saja cerita semacam ini.
“Tak usah kaget begitu, di desa kami sudah biasa jika ada yang menikah muda, tapi yang bercerai setelah enam bulan menikah, baru Lilis seorang.”
Rayyan tak lagi peduli, ia saja tak menyangka jika penjelasan Nanang akan begitu panjang. Niatnya kemari hanya untuk liburan menenangkan diri, sambil berdiskusi dengan Nanang tentang situasi pabriknya.
#3
Rumah Nanang, adalah bangunan sederhana yang tidak mewah, tapi di pekarangan, ada beberapa tanaman palawija yang tumbuh subur berkat tangan telaten Nanang serta Emaknya.
“Assalamualaikum, Mak!” ucap Nanang, berseru memanggil ibunya.
Dari dalam rumah, seorang wanita paruh baya, dengan wajah yang sudah sedikit keriput, menghampiri mereka dengan senyum bahagianya. “Waalaikumsalam, Alhamdulillah, akhirnya sampai juga,” sambut Bu Siti, hangat dan ramah seperti menyambut keluarganya sendiri.
Memang Bu Siti sudah menganggap Rayyan sebagai anak, karena dulu orang tua Rayyan pernah berjasa membantu biaya pendidikan Nanang semasa kuliah. Tuan Gusman juga tidak meminta agar Nanang mengabdi di Senopati Grup, tapi pria itu justru bangga dengan pilihan Nanang yang ingin kembali ke kampung halamannya.
“Bu, apa kabar?” tanya Rayyan.
“Alhamdulillah, beginilah, masih bisa bernafas, dan merawat sawah,” jawab Bu Siti sambil berkelakar. “Ajak masuk, Nang, bersih-bersih dulu, baru makan.”
“Iya, Mak.”
“Mak, goreng sambalnya sekarang.”
“Belum siap, Mak?”
“Kalau sambal harus dadakan, biar makin nyoss pedasnya.”
“Setuju, Bu,” timpal Rayyan yang sudah menelan air liurnya, tak sabar menyantap sambal buatan Bu Siti.
•••
Bukan hidangan mewah, hanya rebusan daun singkong, belut goreng, dan sambal. Tak lupa teh tawar hangat untuk menetralisir rasa pedas.
Tapi, sejak suapan pertama lidah Rayyan sudah di buat bergoyang, seperti menyantap sambal buatan mamanya sendiri. Rasa alami dari pedesaan, serta kesegaran bahan-bahannya.
“Makan yang banyak, sejak dua malam lalu, Nanang sudah pasang perangkap di sawah. Alhamdulillah, memang sudah rezeki, belut hasil tangkapannya besar-besar,” celoteh Bu Siti.
“Alhamdulillah, Bu. Berarti rezekiku.” Rayyan kembali mengambil nasi dari dalam bakul kecil untuk porsi kedua. “Kalau begini terus makannya, balik ke Ibu Kota, aku sudah obesitas.”
Bu Siti dan Nanang tertawa keras, melihat Rayyan makan dengan lahap, membuat mereka bahagia. Padahal Rayyan anak kota, orang tuanya bukan orang sembarangan, hartanya sangat melimpah. Tapi Rayyan tak ada masalah dengan santapan orang desa.
“Bu, dimana ibu beli cabai yang rasanya seperti sambal ini?” tanya Rayyan usai makan.
“Beli? Ibu tanam sendiri di pekarangan depan, alhamdulillah, kami tak pernah beli cabai, karena hasilnya selalu melimpah. Sampai ibu bagi-bagikan ke tetangga.”
Rayyan cukup terpukau dengan ucapan Bu Siti, tak percaya, tapi nyata. “Oh, iya? Ibu punya rahasia khusus bagaimana cara menanamnya?”
“Sudah, sudah. Nanti saja belajarnya, sekarang tidur dulu.”
Nanang menyeret lengan Rayyan berpindah dari ruang tengah, menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Tak bermaksud apa-apa, tapi Nanang tahu Rayyan pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh, jadi ada baiknya pria itu tidur terlebih dahulu.
“Tapi aku mau tanya soal cabai pada Emakmu.”
“Nanti aku ajari cara menanam dan merawatnya. Asal kamu tahu, aku yang menanam cabai-cabai itu.”
“Tapi aku bukan ingin tahu cara menanamnya!”
“Lalu—”
•••
Sementara itu, di tempat lain. Lilis baru selesai masak untuk makan siang, sedikit terlambat, karena ia pun baru pulang dari pasar.
“Ibu, Mmbi— makanan sudah siap!” seru Lilis memanggil ibu serta adik tirinya.
Tak lama kemudian, wanita berdaster keluar dari kamarnya. Disusul kemudian gadis berambut panjang, serta berpakaian serba mini, dialah Arimbi, adik tiri Lilis. Ketika menikah dengan Almarhum Pak Sumartono ayah Lilis, Bu Saodah juga membawa anak dari hasil pernikahan terdahulu.
“Nggak ada lauk lain?” tanya Imbi dengan nada cibiran, ketika melihat hanya ada nasi dan tumisan ikan asin pedas.
“Nggak ada, tadi sampai di pasar kesiangan, jadi pedagang ikan segar sudah pulang.” Lilis mulai menyendok nasi dan lauk hasil masakannya, tak peduli dengan Arimbi dan Bu Saodah yang mulai bosan makan ikan asin.
Mau bagaimana lagi, hanya Lilis yang bekerja di rumah ini, setelah Pak Sumartono meninggal. Hidup mereka sedikit terjamin, ketika Lilis masih berstatus istri pria dari kota, karena keluarga suaminya mengirimkan uang bulanan pada mereka.
Namun, setelah Lilis dan suaminya bercerai, uang itu praktis tak pernah datang lagi.
“Makanya bangun lebih pagi, dong.” Bu Saodah ikut menimpali. Seolah lupa, bahwa pagi tadi dirinyalah yang membuat Lilis pergi ke pasar kesiangan. Karena Ia minta di kerok, masuk angin setelah jagongan semalaman sambil karaokean.
“Aku nggak jadi makan, bisa-bisa kulit halusku ini bersisik, karena keseringan makan ikan asin.” Arimbi melengos pergi, kembali ke kamar dengan bibir mengerucut.
Gadis itu sama seperti ibunya, manja, dan sukanya menghayal yang indah-indah, tanpa mau berusaha bekerja agar hidup mereka lebih baik.
Lilis mengacuhkan ucapan kedua orang itu, hidup sudah terlalu berat baginya, bila masih baper dengan ucapan mereka, kapan ia bisa melangkah maju.
Meski begitu, status janda lebih berharga, bila dibandingkan dengan berstatus sebagai istri, tapi tak dianggap. Getirnya kisah itu, hanya Lilis simpan seorang diri, tanpa ia bagi dengan siapapun.
•
Flashback
Malam itu Lilis buru-buru kembali ke rumah, usai menyelesaikan pekerjaan di pabrik. Menikahi anak orang kaya, tak selamanya membuat hati Lilis bahagia. Enam bulan sudah Lilis dinikahi Dio, namun tak sekalipun gadis itu di sentuh suaminya, bahkan melihat wajah Lilis saja Dio merasa enggan.
Karena itulah, Lilis di tempatkan di rumah kecil dekat dengan pabrik Roti, Lilis yang tak bisa diam tanpa pekerjaan, ikut membantu proses pengerjaan Roti di pabrik. Itu pun atas permintaan Bu Fatma sang mertua, agar Lilis tak tinggal secara gratis.
Namun setibanya di rumah, telinga Lilis tiba-tiba mendengar suara suara aneh berasal dari dalam kamar kosong di rumah yang Lilis tempati.
Kadang desahan, kadang teriakan kecil seperti tikus yang terjepit di perangkap, ditambah bisik-bisik yang cukup membuat telinga risih dan jengah.
Lilis tak berprasangka apa-apa, wanita bersuami namun masih gadis itu sedikit ketakutan, karena di hari-hari biasa tak pernah ada keanehan di dalam rumahnya. Langkah kakinya gemetar, bahkan tangannya ikut dingin ketika ia mendekat ke ruangan tersebut.
Pintu yang tak menutup sempurna, membuat Lilis bisa melihat aktivitas di dalamnya. Lilis memang polos, namun ia tidak bodoh, ia tahu apa yang tengah dilakukan dua orang berlainan jenis yang sedang berpose seperti roti tumpuk, kadang naik kadang turun.
Lilis membeku, air matanya mengalir, dadanya sesak menahan amarah yang seketika ingin meluap, namun tak bisa. Ia mundur beberapa langkah ke belakang, namun tanpa sengaja ia menyenggol kursi plastik yang ada di dekatnya.
Brak!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!