...Camila Hapsari (28 Tahun)...
Kalau ada berita yang sama pahitnya dengan berita kematian, mungkin itu adalah berita bahwa kamu diselingkuhi. Itu yang terjadi pada Mila saat tiba-tiba Nina berbisik di telinganya.
"Pssstt.. Tyas mau kencan buta di Hotel Avenue."
Jantung Mila langsung berdegup kencang. Perlahan ia menoleh ke Nina dengan alis terangkat tinggi. "Serius lo?"
Nina mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya lagi. "Jimmy tadi bilang. Mamanya Tyas yang atur. Katanya gara-gara lo nggak mau diajak nikah."
Bisa-bisanya Nina membawa kabar busuk seperti itu di tengah suasana khidmat serah terima jabatan Direktur Utama. Momen yang seharusnya haru bagi Mila karena Pak Rendra (bosnya selama lima tahun terakhir) akhirnya mundur untuk fokus membangun bisnisnya sendiri.
Mila menggigit bibirnya. Rasa sesak naik ke dada. Bukan karena perpisahan dengan si bos, tapi karena ingat Tante Ira, mamanya Tyas, wanita yang sejak dulu memang tidak terlalu menyukainya. Se-tega itu kah dia sampai harus menjodohkan Tyas dengan perempuan lain?
Otaknya berputar cepat. Acara ini seharusnya selesai pukul 21:00. Sekarang baru pukul 20:15. Masih ada sambutan dari Direktur Utama yang baru, sesi foto, dan jamuan makan.
Tapi bayangan Tyas yang sedang duduk berhadapan dengan wanita lain terus menghantui pikirannya.
Mereka sedang mengobrol, tertawa. Lalu Tyas memandangi wajah wanita itu sambil tersenyum.
No way in hell. Mila tidak akan diam saja.
"Gue harus ke sana," bisiknya pada Nina.
"Sekarang? Pak Rendra gimana?"
Mila melirik jam tangannya.
Kalau ia pergi sekarang, ia masih bisa kembali untuk pamit pada Pak Rendra secara pribadi nanti. Lagipula, acaranya sudah hampir selesai. Tinggal jamuan makan yang sifatnya lebih santai.
"Lo bilangin ke Pak Rendra kalau gue ada urusan mendadak. Gue harus cepet-cepet pulang."
Nina menghela napas. "Ya udah, hati-hati."
Mila mengambil clutch-nya dan menyelinap keluar dari ballroom. Langkahnya cepat menuju lobi, jemarinya sudah membuka aplikasi ojek online.
Sepanjang perjalanan, Mila tidak bisa berhenti memikirkan skenario terburuk. That's just how her brain worked, selalu lari ke kemungkinan paling gelap dari segala situasi.
Bagaimana kalau Tyas tertarik pada wanita itu? Bagaimana kalau wanita itu jauh lebih baik darinya? Lebih cantik, lebih mapan, dan.... lebih siap untuk menikah?
.
.
...Aryasthana Pradipta (30 Tahun)...
Mila langsung melompat turun dari motor segera setelah membuka helm. Dengan langkah lebar ia masuk ke lobi hotel dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Kalau mereka sedang makan malam, maka seharusnya ia mencari di restoran hotel. Tapi instingnya berkata lain. Tyas orangnya sopan dan kaku kalau urusan begini. Dia pasti lebih memilih tempat yang lebih privat untuk pertemuan semacam ini. Mungkin salah satu lounge atau--
Oh. There he is.
Sosok tinggi berkulit putih dengan kemeja hijau army yang familiar muncul di dekat area lounge. Tyas berdiri agak canggung, tangannya dimasukkan ke saku celana. Di sampingnya ada seorang wanita berambut panjang bergelombang dengan dress merah muda yang terlihat elegan.
Ketegangan merambat di sekujur tubuh Mila. Ia melangkah cepat, matanya terkunci pada Tyas sementara kemarahannya memuncak. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya yang mulai melirik ke arahnya. Seorang perempuan dengan dress hitam satin yang berjalan terburu-buru dengan wajah penuh emosi.
Semakin dekat.
Lima meter lagi.
Sampai tiba-tiba...
BRAKKK!!
Tubuhnya menghantam keras tubuh seorang pria jangkung yang sedang membawa kopi panas di depan dada.
"Shit!" umpat pria itu.
Mila terhuyung ke belakang, nyaris kehilangan keseimbangan. Saat ia mendongak, matanya bertemu dengan sepasang mata hitam yang menatapnya dengan campuran rasa terkejut dan waspada.
"Maaf... saya nggak lihat," ucap Mila refleks, napasnya masih tersengal.
Mila terpaku.
Wajah orang ini sangat familiar.
Jantung Mila berhenti sesaat.
Tidak mungkin.
"Masih sama aja…" gumam si pria sambil mengusap noda di kemejanya. Suaranya rendah, tapi terselip nada gurau saat ia bicara. "Sebelas tahun nggak ketemu, kamu masih suka nabrak-nabrak ya kalau jalan?"
Arya.
Mantan pacarnya. Orang yang menghilang tanpa jejak sebelas tahun lalu. Orang yang tidak pernah ia pikir akan bertemu lagi, tapi sekarang malah berdiri di hadapannya, dengan noda kopi di kemeja mahalnya dan senyum culas di wajah menyebalkannya.
"Arya..." suaranya serak.
"Hai, Mila." Pria itu tersenyum, kepalanya miring ke satu sisi. "Long time no see."
Otak Mila blank total. Dari sekian banyak kemungkinan yang ia bayangkan malam ini, bertemu Arya bukan salah satunya.
"Ngapain kamu di hotel sendirian jam segini?" Arya menaikkan sebelah alisnya, matanya menyipit seolah sedang menilai.
Voila. Pertanyaan itu justru membuyarkan keterkejutan Mila. Ia langsung teringat tujuan awalnya. Tyas dan wanita itu.
"Bukan urusan kamu! Aku lagi buru-buru!" sahut Mila, suaranya masih tinggi karena adrenalin yang belum reda.
Mila sudah hendak melangkah pergi, namun Arya menarik lengannya. "Mau ke mana? Kamu nggak berniat tanggung jawab sama apa yang kamu lakuin ke baju aku? Ini kemeja Brioni."
Mila berdecak kesal. "Nanti aku ganti uang laundry-nya, tapi sekarang aku ada urusan!"
"Selalu gitu dari dulu." Arya menaikkan volume suaranya. "Urusan sama aku nggak pernah penting untuk kamu." Pria itu menyilangkan tangan di depan dada.
Mila melirik tajam. "Kamu lagi ngomong apa sih? Bukannya kamu yang tiba-tiba hilang dan bersikap seolah-olah aku nggak pernah ada?"
Mata mereka saling menatap. Mila bisa merasakan ketegangan di antara mereka, seperti ada cerita lama yang terbuka kembali.
"Sayang kamu ngapain di sini?" Tyas muncul dengan wajah bingung, lalu menaruh tangan di bahunya.
Mila langsung menepisnya kasar. "Kamu bilang mau ketemu Mama? Kenapa malah ke hotel sama perempuan?!"
Tyas tersentak, wajahnya langsung pucat. "Kami cuma mau dinner. Dipaksa blind date sama ibu kami. Aku bisa kenalin dia ke kamu kalau nggak percaya." Tyas menunjuk ke arah lounge, di mana wanita berambut panjang tadi sedang melambai canggung.
"Tapi kamu bohong, Yas!"
"Aku cuma nggak mau kamu mikir yang enggak-enggak."
Mila menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan Tyas yang langsung mengejarnya.
Sedangkan Arya... pria itu masih berdiri diam di tempatnya. Satu tangannya menggantung di sisi tubuhnya, yang lain masih kaku memegang gelas kopi yang sudah kosong. Matanya mengikuti kepergian Mila hingga menghilang di pintu lobi.
Ia mendengus pelan, lalu bibirnya membentuk senyum samar.
.
.
...Tyas Mahardika Bachtiar (29 Tahun)...
Pintu mobil dibanting keras. Mila melempar tasnya ke dashboard dengan wajah memerah menahan marah. Tyas yang duduk di kursi pengemudi hanya bisa menghela napas panjang, tangannya masih mencengkeram setir meski mesin belum dinyalakan.
"Sayang, dengerin aku dulu--"
"Dengerin apa lagi, Yas?!" Mila memotong tajam. "Kamu bohong! Bilangnya mau ketemu Mama, ternyata kencan sama perempuan!"
"Mila, aku nggak kencan. Itu mama yang atur. Mama ulang tahun dan minta aku ketemu Nisya sebagai kadonya." Tyas mencoba meraih tangan Mila, tapi ditepis kasar.
"Nggak ada yang tanya namanya!" Mila menyalak kesal. Lagipula untuk apa Tyas melafalkan nama perempuan lain di tengah pertengkaran mereka?
Tyas hanya diam sambil susah payah menelan liurnya seolah sedang menelan kerikil.
"Dan kamu nurut aja sama permintaan ngaco kayak gitu?!"
"Sayang--"
"Mama kamu segitu nggak sukanya ya sama aku sampe jodohin kamu sama orang lain? Selama ini aku berusaha loh, Yas! Kamu kan tau aku bukan tipe yang bisa cari muka sama orang, tapi aku selalu sempetin dateng ke rumah kamu setiap weekend, bahkan waktu kamu nggak ada. Aku juga berusaha tampil jadi perempuan lembut dan penurut kayak yang mama kamu suka! Kenapa itu semua nggak cukup?!" Mila berusaha sekuat tenaga menahan air matanya. Menahan rasa frustrasi yang selama ini ia pendam.
"Sayang... Kamu tau apa yang Mama harapin dari kita," nada suara Tyas lembut, tapi matanya tajam menatap Mila. "Mama mau kita nikah."
Oh sial! Masalah ini lagi.
"Aku belum bisa Yas..." desis Mila, napasnya tertahan.
"Iya aku tau. Tapi itu penjelasan kenapa Mama mau jodohin aku sama orang lain. Aku sama sekali nggak tertarik sama siapapun pilihan Mama. Aku cuma mau kamu. Tapi sampai kapan hubungan kita stuck kayak gini? Kalau emang ada hal yang kamu nggak suka dari aku, kita bisa bicarain. Kalau ada masalah yang ganggu kamu, kita bisa diskusiin. Kita saling sayang kan? Kenapa kita nggak nikah aja?"
Mila menggigit bibirnya. Tentu saja dia ingin menikah. Apalagi dengan Tyas. Siapa yang tidak mau?
Dia tampan, mapan, calon dokter spesialis, lembut, perhatian. Dia punya semua bendera hijau. Tapi masalahnya... Mila tidak punya cukup uang. Biaya gedung, make up, pakaian, seserahan, itu semua butuh uang.
Uang memang bukan masalah bagi keluarga mapan Tyas, tapi Mila tidak mungkin tidak berkontribusi apapun.
She doesn't want to come to his family bringing nothing but her vagina.
Harga dirinya sangat tinggi untuk bilang bahwa dia terlalu miskin untuk bisa menikah.
"Atau kamu nggak semau itu sama aku?"
Bibir Mila langsung bergetar. "Yas, kamu ngomong apa sih?" Rengeknya. "Aku sayang banget sama kamu, tapi aku perlu waktu. Kamu kan tau adikku belum selesai kuliah. Seenggaknya kasih aku waktu untuk bisa temenin dia sampai wisuda. Kalau aku nikah, tanggung jawabku pasti terpecah."
Tyas menghembuskan napasnya berat. "Oke. Aku ngerti. Aku nggak akan paksa kamu. Aku akan tunggu sampai kamu ngerasa siap."
"Makasih." Mila tertunduk.
"Sini..." Tyas membentangkan lengan lebar-lebar, mengundang Mila ke dalam pelukannya.
Sebagai jawaban, Mila menyambut dengan pelukan erat.
Mila tau ia beruntung punya Tyas. Tapi sampai kapan pria ini bisa menunggunya? Ia hanya berharap Bimo bisa lulus kuliah cepat dan bisa mandiri. Syukur-syukur bisa membantunya menanggung keperluan rumah ibu mereka.
...***...
Disclaimer :
Di cerita ini ada banyak banget karakter yang bikin keputusan nyebelin, egois, bahkan gak bertanggung jawab. Itu bukan berarti aku menganggap perilaku mereka benar atau mau menormalisasinya ya guys.
Mereka cuma manusia dengan segala baik-buruknya, dan itu yang ingin aku ceritakan. Jadi kalau ada tokoh yang ngeselin, silakan kesel dan jangan ditiru 😂🙏
Arya adalah pacar Mila waktu SMA. Lupakan motor jangkrik bututnya yang terlihat tidak serasi dengan wajahnya yang seperti model Armani. Arya punya kualitas yang membuat gadis-gadis di SMA-nya dulu bahkan rela buka baju untuk jadi teman kencannya.
Dia ganteng, populer, kapten tim basket, dan ketua OSIS. Kalian tidak perlu ragukan selera Mila pada laki-laki.
Yang perlu diragukan adalah kewarasannya waktu itu.
Siapa yang menyatakan cinta pada senior secara frontal di lapangan basket? Di depan umum? Di hari kelima masuk sekolah?
Dia adalah Camila Hapsari yang sedang mabuk kepayang.
Mila ingat betul hari itu. Hari di mana seluruh SMA 15 Jakarta menganggapnya sebagai anomali sosial yang perlu dihindari.
Dia belum seminggu jadi anak baru. Belum seminggu mengenal koridor-koridor gedung. Belum seminggu hafal mana kantin yang enak. Dan belum seminggu tau siapa saja senior yang off-limits.
Dan Aryasthana Pradipta? Oh, dia The Most Off-Limits Guy dari semua senior yang ada.
Tapi entah kenapa, mungkin karena estrogen dan dopamin remaja yang sedang naik-naiknya, Mila menjadi nekat.
Ia tulis surat cinta pakai kertas merah muda dan gel pen dengan warna senada yang baru dibelinya dari Gramedia, lalu ia serahkan benda itu saat Arya sedang latihan basket.
Mila kira itu ide brilian.
But I give you spoiler alert : It was NOT a brilliant idea.
Karena dua minggu setelahnya, hidup Mila berubah jadi mimpi buruk.
Dia jadi bahan gosip dari kelas 10 sampai 12. Nama "Mila Si Norak" jadi legenda sekolah. Gadis-gadis senior memandangnya seperti serangga yang perlu diinjak. Bisik-bisik di koridor tidak pernah berhenti. Mila bahkan sempat melihat tulisan "LONTE" di meja kelasnya.
Yang paling parah? Vanya dan geng-nya.
Vanya adalah siswi kelas 11 yang pernah naksir Arya tapi ditolak. Dan sekarang dia punya misi pribadi untuk membuat hidup Mila jadi sengsara.
Suatu sore, Mila sedang jalan sendirian di koridor sekolah. Menunggu supir papa yang akan menjemputnya. Dia sudah lelah seharian, hanya ingin cepat pulang, tapi langkahnya terhenti saat lima siluet menghalangi jalannya di belakang gedung.
Vanya dan empat temannya.
"Lo pikir lo siapa?" Vanya mendorong bahu Mila dengan keras. "Baru sebulan masuk udah berani ngejar-ngejar senior? Malu-maluin lo!"
Mila mundur selangkah. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar, tapi dia coba tetep tenang. "A-aku cuma kirim surat..."
"Cuma kirim surat?" Vanya tertawa sinis. "Lo bikin heboh satu sekolah! Yang lo deketin Arya lagi! Ke-PD-an lo! Selera lo ketinggian!"
Mila merasakan punggungnya menyentuh dinding. Matanya mulai panas. Dia tidak ingin menangis. Tidak di depan orang-orang ini.
Tapi air mata itu keras kepala, mereka sudah terjun bebas dari pipinya.
"Maaf..." bisiknya pelan.
"Maaf doang cukup? Besok lo harus--"
"Harus apa?"
Suara itu datang dari belakang Vanya. Dingin. Tegas. Familiar.
Semua kepala menoleh. Seorang laki-laki berdiri di ujung koridor dengan wajah datar, tapi matanya tajam menatap kelima gadis itu.
Mila hampir tidak percaya, tapi yang ia lihat adalah Arya.
"Kak Arya..." suara Vanya langsung berubah jadi manja. "Kami cuma ngingetin dia aja kok. Dia kan--"
"Dia kenapa? Kirim surat ke gue?" Arya melangkah mendekat, posisinya kini menghalangi Mila dari kelima gadis itu. "Terus kenapa? Emang lo punya hak buat ngatur siapa yang boleh atau nggak boleh suka sama gue?"
Hening.
Tidak ada yang berani menjawab.
"Kalau bully anak baru bisa diskors... kalian tau kan?"
Wajah mereka pucat seketika.
"Kak, kok ngomongnya gitu..."
"Pergi sana."
Kelima gadis itu saling pandang, lalu pergi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Arya dan Mila sendirian.
Mila masih berdiri menempel di dinding, wajahnya merah dan air matanya sudah bercampur dengan ingus yang terus ia seka dengan punggung tangannya.
"Maaf kak... Aku nggak bermaksud bikin masalah..."
Arya melangkah mendekat, lalu memandangi wajah Mila. Satu jari telunjuknya mendarat di kening gadis itu, sedetik kemudian sentilnya menyusul.
"Aw!" Tidak sakit, tapi cukup membuatnya terkejut.
"Lagian lo berani banget nembak gue depan umum. Lo nggak ngerti yang namanya survival ya?"
Bibir Mila bergetar. Dia menahan tangisnya yang siap pecah.
"Udah jangan nangis. Gue harus apa biar lo berhenti nangis?"
Mila menggeleng cepat sambil mengusap pipinya dengan kasar.
Hening sejenak.
Kemudian Arya melakukan sesuatu yang Mila tidak pernah bayangkan akan terjadi, bahkan di delusi paling liarnya sekalipun.
Arya meraih dagu Mila, membuat gadis itu mendongak menatapnya.
"Kalo kita pacaran aja gimana?"
Dunia Mila seakan berhenti berputar.
Angin berhembus pelan. Kepak burung gagak di udara sepertinya ikut terjeda. Waktu seakan berhenti mendadak.
"...apa?"
"Lo bilang suka sama gue kan? Sekarang gue terima. Lo jadi pacar gue. Biar nggak ada yang berani ganggu lo lagi."
Neuron otak Mila mendadak hilang fungsi. Wajahnya merah total. Dari ujung telinga sampai ke leher. Nafasnya sesak. Dia yakin, 100% yakin, ini halusinasi. Atau mimpi. Atau mungkin dia sudah mati karena jantungan dan sekarang sedang di surga. Oke itu berlebihan, tapi sangat menggambarkan keterkejutannya.
"Serius?"
Arya mengangguk. Santai. Seperti baru menawari permen.
Dan kemudian...
"ALHAMDULILLAH YA ALLAH!!!"
Pekikan Mila menggema di koridor. Suaranya begitu kencang, begitu histeris, sampai Arya refleks mundur dua langkah dan menutup telinganya. Beberapa siswa yang kebetulan lewat langsung menoleh dengan ekspresi bingung.
Tapi Mila tidak peduli. Dia meloncat kegirangan seperti bocah. Air matanya berubah dari air mata sedih menjadi air mata bahagia dalam beberapa detik.
"BENERAN KAK?!"
Arya cuma mengangguk lemah. Mungkin menyesal telah menawari manusia primitif ini jadi pacarnya.
Tapi peduli setan, Mila tidak ambil pusing. Yang jelas sejak hari itu, Camila resmi jadi pacar kapten basket sekaligus ketua OSIS yang jadi idola sekolah. Dan hidupnya berubah 180 derajat.
Dari "Mila Si Nekat" jadi "Mila pacarnya Arya". Dari di-bully jadi di-respect (atau setidaknya, tidak ada yang berani mengganggunya lagi). Dari jalan sendiri di koridor jadi jalan berdampingan dengan cowok paling populer se-SMA 15.
Kedengarannya seperti cerita Cinderella, kan?
Spoiler alert lagi : It didn't last.
Karena dua tahun kemudian, mereka putus.
Dan sekarang, sebelas tahun setelah terakhir kali mereka bertemu, takdir mempertemukan mereka. Di lobi hotel. Dengan cara yang super random.
Mila menatap langit-langit kamarnya malam itu, mencoba memproses semua yang terjadi hari ini.
Arya.
Sampai kemarin ia masih menyumpahi kesialan untuk pria itu. Tapi melihatnya baik-baik saja seperti tadi, anehnya... Mila merasa lega. Setidaknya dia masih hidup.
...***...
Senin Pagi - Kantor HRD
"Jadi.. mulai hari ini kamu dipindah jadi sekretaris General Manager ya, Mil."
Mila terdiam, memproses kalimat yang baru saja keluar dari mulut Bu Cindy, kepala HRD. Tangannya yang sedang memegang gelas air mineral berhenti di udara.
"Maaf, Bu... kenapa saya harus pindah? Apa saya buat kesalahan?"
Bu Cindy tersenyum. Senyum profesional yang terlihat terlalu sempurna untuk bisa disebut tulus. "Bukan gitu, Mila. Justru sebaliknya. Kamu dinilai sangat kompeten."
Mila menunggu kelanjutan kalimat itu, tapi dadanya sudah lebih dulu mengeras.
"Pak Lukman, Direktur Utama kita yang baru, ingin Mbak Gisella tetap mendampingi beliau. Mereka sudah kerja sama lama, jadi… chemistry-nya sudah terbentuk." Bu Cindy berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih formal. "Sementara Pak Arya, General Manager yang baru, butuh sekretaris yang benar-benar paham blueprint dan kultur perusahaan kita. Dan itu kamu."
Chemistry?
Mila hampir tertawa.
Semua orang di kantor tau, chemistry antara Lukman dan Gisella tidak berhenti di ruang kerja.
"Lagian," lanjut Bu Cindy, "ini kesempatan bagus untuk kamu. Bos barumu nanti bukan orang sembarangan, loh. Dia pernah kerja di McKinsey, terus sempat di Unilever Global juga. Pengalamannya nggak main-main. Kamu bisa banyak belajar."
Mila menggigit bibirnya.
Ia tau, protes hanya akan membuatnya terlihat emosional. Keputusan ini bukan diskusi, hanya pemberitahuan. Ia hanya figuran yang dipindahkan agar si Direktur Utama bisa terus tidur dengan sekretarisnya tanpa masalah.
"Gaji saya gimana, Bu?" Mila mencondongkan tubuhnya. Rasa panik mulai menjalar. Mengingat secara struktur dan grade, sekretaris direksi memang satu tingkat lebih tinggi dibanding sekretaris eksekutif manajerial.
Ini penting. Untuk posisi mungkin Mila bisa mengalah, tapi kalau menyangkut gaji, ia tidak bisa menoleransi kekurangan satu rupiah-pun. Perut tidak kenal diskusi, dia cuma tau minta jatah makan.
"Soal itu kamu nggak perlu khawatir. Perubahan posisi ini nggak menurunkan grade atau kompensasi kamu. Gaji dan benefit tetap mengikuti struktur sebelumnya." Bu Cindy menenangkan.
Mila mendesah lega. "Baik, Bu. Kapan saya mulai?"
"Hari ini juga. Ruanganmu sudah disiapkan di lantai 35, sebelah ruang GM."
Kalimat terakhir itu memastikan satu hal. Keputusan ini jelas bukan mendadak. Hanya saja, Mila orang terakhir yang dikabari.
.
.
Mila mengemas barang-barangnya dengan perasaan dongkol. Lima tahun bekerja di lantai direksi, dan hasilnya? Dipindah seperti furniture yang bisa dibuang begitu saja.
Lalu saat jam makan siang, Nina datang dengan wajah iba dan membantunya membawa kardus menuju tempat barunya.
"Gue tau lo kesel. Tapi siapa tau ini lebih baik untuk lo."
"Lebih baik apanya?" Mila mendengus. "Gue kehilangan posisi cuma supaya Lukman bisa tidur sama selingkuhannya tanpa ribet."
"Ssshh!" Nina menoleh was-was. "Pelanin suaranya! Lo mau dapet masalah?"
Mila berdecak kesal.
Saat sampai di lantai 35, tempat itu terasa berbeda. Lebih hidup. Lebih berisik. Diskusi terbuka, suara telepon, orang lalu-lalang. Jauh dari lantai direksi yang dingin dan penuh formalitas.
"Ruangannya di situ ya, Mbak." Dira (staff admin) menunjuk satu ruangan di sebelah ruangan kaca besar milik General Manager.
"Oke, thanks Ra." Mila mengangguk lemas.
Sesuai dugaan, ruangan itu memang lebih kecil dari ruangannya dulu. Tapi cukup nyaman. Meja kerja kayu mahoni menghadap jendela dengan pemandangan kota Jakarta. Di atas meja, sudah ada table tag bertuliskan namanya.
Camila Hapsari - Executive Secretary to GM.
Mila menghela napas, lalu pandangannya bergeser ke pintu di sebelahnya.
Tertempel name plate tembaga bertuliskan :
Aryasthana Pradipta - General Manager
Mila terpaku.
Aryasthana Pradipta?
Tidak mungkin. Indonesia punya banyak orang dengan nama itu kan??
Tapi sayang sungguh sayang jawabannya adalah TIDAK.
"Ini foto Pak Arya ya, Mbak." Dira memecah lamunannya. "Jaga-jaga biar kalau Beliau masuk besok, Mbak Mila bisa sambut," gadis itu menyerahkan sebuah tablet.
Mila meraih tablet dari Dira dengan tangan gemetar.
Kemudian dunianya runtuh seketika.
Di layar itu, tersenyum seorang pria dalam setelan jas abu-abu gelap. Rahang tegas, mata tajam, rambut dengan pomade anti badai tersisir rapi ke samping.
Arya yang ia temui di lobi hotel.
Arya mantan pacarnya yang menghilang sebelas tahun lalu tanpa penjelasan.
"Mbak? Kok bengong?"
Mila tersadar, ia langsung mengembalikan tablet pada Dira.
"I-iya, oke. Makasih."
Begitu Dira pergi, Mila ambruk di kursinya.
Bagaimana bisa hidupnya jadi drama seperti ini? Atau komedi? Atau tragedi? Entahlah ia tidak tau.
.
.
Keesokan harinya, Mila benar-benar harus menyeret kakinya untuk bisa sampai di kantor. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini. Hari dimana ia harus menghadapi bencana.
Pagi itu, Mila masih sibuk menyusun ordner di bawah meja saat suara ringan seorang pria memecah fokusnya.
"Permisi, kamu sekretaris saya ya?"
Mila refleks berdiri.
Di hadapannya seorang pria tinggi, dengan kulit kecoklatan, kemeja biru langit dilipat sampai siku tanpa dasi, berdiri dengan tangan di pinggang. Senyumnya terlihat santai, tapi matanya nakal seperti mengejek.
"Iya, betul, Pak." Mila langsung berdiri.
Hari sial apa ini?
Dira bilang manusia ini baru akan muncul di kantor jam 9. Mila bahkan belum sempat sarapan sekarang.
"Wah, berarti bener. Jadi ini kamu."
Mila hanya bisa menatapnya. Napasnya sempat berhenti sejenak.
"Kamu masih hutang uang laundry ke saya."
Mila meringis dengan wajah gelisah. "Eh... iya. Nanti saya ganti Pak."
"Nggak usah. Receh kok itu." Arya menyeringai, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Ya ampun. Kok ganteng?
Di saat seperti ini bisa-bisanya Mila membatinkan pikiran tolol seperti itu. Tanpa sadar ia menggeleng pelan seraya Arya membalik tubuhnya, berjalan masuk ke ruangannya.
Tentu saja ini tidak akan menjadi kisah romantis "Cinta Lama Bersemi Kembali Dengan Bos Seksi", karena perasaan Mila mengatakan bahwa setelah ini hidupnya tidak akan mudah.
...***...
Hari berikutnya membuktikan dugaan Mila.
Suara DING dari lift menandai datangnya jam sibuk di lantai 35. Mila sudah tiba lebih awal dari biasa. Mungkin karena gugup, mungkin karena tidak ingin berhadapan dengan bos barunya tanpa persiapan.
Tapi sialnya si bos sudah datang lebih dulu. Arya berdiri di depan jendela sambil memandangi Jakarta dari ketinggian. Punggungnya yang berotot, tersembunyi di balik kemeja tipisnya yang tampak proporsional dengan kaki jenjangnya.
Mila berdecih, nyaris bersuara.
Pose apa itu? Apa ini yang orang-orang bilang main character syndrome? Dia mungkin sengaja mau kelihatan sok keren seperti seorang tokoh utama yang disorot dari belakang.
"Pagi," katanya tanpa menoleh. "Kamu telat. Saya dateng duluan."
Mila berjalan pelan lalu menaruh tasnya di atas meja. "Jam kerja mulai pukul delapan Pak. Sekarang masih tujuh empat lima. Secara teknis saya nggak terlambat."
Arya menoleh, sudut bibirnya terangkat. "Kebiasaan ngejawabnya masih nggak berubah."
"Saya jawab pakai data. Lagian Bapak nggak bosen apa nginget-nginget masa lalu terus?" Mila duduk dan membuka laptop.
Arya meletakkan cangkir di meja, lalu duduk di kursinya. "Kamu pikir saya lagi nostalgia? Ini performance review."
Mila berhenti mengetik. Kejengkelan membuatnya lupa bahwa orang ini sekarang adalah bosnya.
"Bukan soal kamu dateng jam berapa. Tapi soal cara kamu menyikapi situasi." lanjutnya. "Saya nggak butuh orang yang cuma benar secara teknis, saya butuh orang yang paham konteks. Kadang lima belas menit itu bukan soal jam, tapi soal kesiapan."
Arya bersandar di kursinya, lalu menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
“Kamu pintar, itu saya nggak ragu. Tapi kamu punya kecenderungan defensif. Setiap komentar kamu tanggapi seperti debat. Di level staff itu kelihatan kritis. Di level yang lebih tinggi, itu bisa terbaca sulit diarahkan.”
Mati lah.
Mila meneguk ludahnya sendiri.
Apa yang yang harus ia katakan di situasi seperti ini? Dia tidak ingin bonus tahunannya dipotong hanya karena ingin adu ego dengan mantan pacarnya yang sekarang jadi bosnya.
Tapi belum sempat ia membuka mulut, Arya sudah bersuara lagi.
"Jadwal saya hari ini?"
Mila langsung berdiri dari tempatnya, membawa tablet dan berjalan menuju meja Arya. "Rapat internal divisi operasional jam sepuluh, presentasi vendor baru jam satu, dan ada telepon konferensi dengan tim Singapura jam empat. Semua sudah saya masukkan ke kalender beserta dokumen pendukungnya, Pak."
Arya menggulir layar sebentar. "Rapi."
Lidah Mila sudah sangat gatal untuk menyahuti Arya dengan bilang itu adalah bare minimun untuk pekerjaan ini. Terlebih ia adalah mantan sekretaris Direktur. Menjadi sekretarisnya yang cuma level manager tidak akan membuat kualitasnya ikut turun. Tapi cepat-cepat ia gigit lidahnya. Resikonya terlalu besar.
Sebagai gantinya ia tersenyum manis dan bertanya, "Bapak sudah sarapan? Mau saya belikan makanan?"
Arya melirik jam tangannya lalu menjawab. "Kopi aja."
"Kopi hitam dengan satu setengah sendok teh gula?"
Uups, kalimat itu keluar otomatis.
"Masih ingat, ternyata." Arya mengulum senyum.
Mila sudah tidak menghitung berapa kali ia meneguk ludahnya sendiri pagi ini.
"Besok saya mau sarapan di kantor. Roti nggak masalah. Tapi tolong diangetin ya."
"Baik, Pak." jawab Mila.
Lalu ia cepat-cepat berbalik menuju ke pantry untuk membuat kopi yang dipesan Arya.
Ya ampun. Rasanya Mila tidak sanggup kalau harus menghadapi power play ini setiap hari. Tapi ia tidak ingin jadi bulan-bulanan Arya tanpa perlawanan.
...***...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!