"Mas, stop! Kalau istrimu tiba-tiba datang bagaimana? Ahhh...."
Zidan tidak menggubris ocehan Venya, yang ia butuhkan saat ini hanyalah kepuasan. Dia tidak peduli walaupun saat ini keduanya sedang berada di kantor.
"Kamu jangan cemaskan itu, Sayang. Azel tidak akan tahu."
Zidan terus memainkan benda bulat kecil di atas gundukan Venya, membuat wanita yang selama ini menjadi selingkuhannya itu mulai terbawa permainannya.
"Tapi--- ahhhh..."
Zidan tersenyum penuh arti. Ia sangat tahu bagian-bagian sensitif pada tubuh Venya yang membuat kekasihnya itu tidak akan pernah bisa menolak keinginannya.
Venya semakin membusungkan dadanya saat Zidan mulai melahap dua gundukan nya dengan rakus.
Tangan Zidan mulai bergerak mengusap paha bagian dalam Venya. Sementara jarinya mulai menelusup ke dalam segitiga sang kekasih.
"Mas, jangan!"
Venya menahan tangan Zidan yang hendak menurunkan segitiga nya.
"Sebentar aja, Sayang. Mas udah gak tahan," rengek Zidan dengan tatapan yang sudah diselimuti kabut gairah.
Vanya menelan ludahnya kasar. Di satu sisi, ia takut seseorang memergokinya. Tapi di sisi lainnya, ia pun sudah tidak tahan. Apalagi saat melihat belalai milik Zidan yang sudah berdiri tegak di hadapannya.
Perlahan Vanya mulai menganggukkan kepalanya membuat Zidan bersorak senang.
Zidan mendudukkan Venya di atas meja kerjanya, lalu melebarkan kedua paha wanitanya itu. Ia mulai mengarahkan belalainya pada inti Venya yang sudah berkedut. Namun tiba-tiba...
Brakkkk
"BRENGSEK KALIAN!"
Seorang wanita dengan perut besarnya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu. Mata hazelnya menatap tajam pemandangan menjijikkan di depan matanya.
"Ternyata begini kelakuan kalian di belakang ku? Menjijikkan!" Azelva menatap jijik dua orang pengkhianat di depannya.
Suami yang selama ini ia anggap begitu tulus mencintainya, ternyata diam-diam mengkhianatinya. Dan yang membuat Azelva lebih sakit adalah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya adalah Venya, sahabatnya yang sudah Azelva anggap seperti saudaranya sendiri.
"A-azel ini tidak seperti yang kamu lihat. A-aku---"
Tubuh Venya bergetar, dengan penampilannya yang masih berantakan, wanita itu berjalan menghampiri Azelva. Venya ingin meraih tangan Azelva, namun Azelva dengan kasar menepis nya membuat tubuh Venya terhuyung.
"Awww..."
Tubuh Venya ambruk di lantai, ia meringis sambil memegang perutnya.
"Kamu gak apa-apa? Apa bayi kita baik-baik saja?"
Zidan dengan panik membantu Venya untuk berdiri. Pria itu mengusap perut Venya yang masih datar dengan penuh kekhawatiran.
Deg
"Bayi? Jadi kalian---"
"Aku dan Venya adalah sepasang kekasih, sebelum kamu datang menghancurkan semuanya," ucap Zidan. Pria itu menatap Azelva dengan tatapan penuh kebencian. Tidak seperti biasanya yang selalu menatap Azelva penuh kasih sayang.
"Jadi maksud kamu, aku orang ke-tiganya, Mas?" Azelva terkekeh. Ia menertawakan dirinya sendiri yang justru dianggap orang ke-tiga dalam hubungan mereka. Padahal Azelva Raquel Shawn adalah istri Zidan Sadana yang sah dalam agama dan negara.
"Iya, kamu orang ke-tiganya," ucap Zidan dengan lantang. Pria itu membawa Venya ke dalam gendongannya. "Andai aku tidak berhutang budi pada keluargamu, aku tidak akan sudi menikahi wanita liar sepertimu."
Deg
Wanita liar?
Predikat yang baru saja Zidan sematkan untuknya itu begitu menampar kenyataan dan semakin menambah luka di hati Azelva.
"Jadi selama ini, kamu anggap aku wanita liar?"
Lalu apa artinya kata cinta yang selalu Zidan ucapkan untuknya?
Apakah hanya sebuah sandiwara?
Azelva tidak pernah menyangka pada kenyataannya, suaminya itu hanya menganggapnya sebagai wanita liar. Cinta, ketulusan, dan kasih sayang yang Zidan tunjukkan hanyalah kamuflase untuk menutupi kepura-puraan.
"Memangnya kamu berharap aku menganggap mu apa? Kamu memang wanita liar, kalau kamu bukan---"
"Bukan apa?" Azelva sengaja memancing Zidan. Ia ingin tahu penilaian Zidan terhadapnya selama ini seperti apa.
"Sudahlah, kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandungan Venya, aku tidak akan pernah memaafkanmu," ucap nya lagi.
Zidan melewati Azelva begitu saja bersama Venya yang berada dalam gendongannya. Ia sama sekali tidak mempedulikan Azelva yang menatapnya penuh kecewa.
Maafkan aku, Azel. Batin Zidan sebelum benar-benar pergi meninggalkan istrinya.
Azelva tersenyum getir menatap nanar punggung Zidan yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia tidak menangis. Tapi, hatinya teramat sakit. Di saat Azelva tengah hamil besar, namun ia harus mengetahui fakta jika suaminya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Bahkan saat ini tengah mengandung buah cinta mereka. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari ini.
"Tega kamu, Mas!"
Azelva tidak bisa lagi menahan genangan air mata di pelupuk matanya. Wanita cantik itu terisak pilu dengan tubuh yang perlahan ambruk.
Kenyataan di depan matanya membuat Azelva menyadari satu hal. Tidak pernah ada pria baik di dunia ini, kecuali papanya, Shawn Alfred.
Namun, papanya telah pergi menyusul mendiang mamanya tepat beberapa hari setelah pernikahannya.
"Awwww... perutku!" Azelva memegang perutnya yang tiba-tiba keram. Ia semakin panik saat merasakan cairan keluar dari sela-sela pahanya.
...----------------...
"Tuan, Nyonya Regita kecelakaan."
Pria yang dipanggil Tuan itu seketika menghentikan tangannya yang sedang menandatangani sebuah berkas. Ia menatap sang asisten yang baru saja memberinya kabar mengejutkan.
"Di rumah sakit mana?"
Suaranya sedikit bergetar karena rasa khawatir yang perlahan menyeruak. Namun, wajahnya tetap datar seolah tidak peduli dengan kecelakaan yang menimpa istrinya itu.
"Erlangga hospital."
Tidak membutuhkan waktu lama, pria yang bernama Kellano Gavintara, seorang CEO perusahaan Gavintara Corporation, akhirnya sampai di Erlangga hospital.
Langkah tegapnya menyusuri koridor rumah sakit terbesar di kota itu. Ia berjalan menuju sebuah ruangan yang membuatnya sedikit berdebar.
Sampai di ruangan itu, Kellano menatap sebuah box yang memperlihatkan seorang bayi kecil tertidur di dalamnya. Tampan dan rupawan, persis seperti dirinya.
"Ini putra Anda, Tuan. Maaf, kami terpaksa melakukan operasi tanpa persetujuan Anda. Kalau tidak, ibu dan bayinya tidak akan selamat," ucap sang dokter sedikit takut.
Siapapun tahu Kellano Gavintara adalah seseorang yang memiliki kekuasaan. Ia akan melakukan apa pun demi mencapai tujuannya. Dan ia tidak akan mengampuni siapapun yang berani berurusan dengannya.
Jadi, dia benar-benar putraku? Batin Kellano.
Kellano tidak mengalihkan sedikitpun tatapannya dari bayi tampan itu. Ia bahkan tidak mempedulikan ucapan dokter di sampingnya. Fokusnya hanya pada bayi tampan yang sempat ia ragukan.
Maafkan papa, Nak. Sesal Kellano dalam hati.
Bayi itu tersenyum dalam tidurnya, seolah merasakan ungkapan hati Kellano.
Kellano begitu menantikan hari ini, ia ingin membuktikan jika bayi yang Regita kandung bukanlah putranya. Bahkan selama Regita hamil, Kellano tidak pernah sedikitpun memperhatikan istrinya itu. Karena ia yakin bayi itu bukanlah miliknya.
Namun sekarang, tanpa melakukan tes DNA sekalipun, Kellano yakin jika itu memang putranya. Wajahnya, hidungnya, sangat mirip dengannya. Hanya matanya yang berbeda dengannya. Warnanya hazel persis seperti seseorang. Tapi, bukan Regita.
"Tuan, Nyonya Regita..."
Asisten Kellano tiba-tiba datang ingin menyampaikan sesuatu pada Kellano. Namun pria bernama Zola itu terlihat sedikit takut.
"Kenapa dengan dia?" Tanya Kellano. Ia sedikit penasaran karena asistennya tiba-tiba menghentikan ucapannya.
"Nyonya Regita pergi, Tuan. Dia meninggalkan surat ini." Zola menyerahkan surat itu pada Kellano.
Kellano membuka surat itu lalu membacanya. Rahang Kellano mengeras saat membaca kalimat demi kalimat yang Regita tulis dalam surat itu.
Sekarang kamu percaya kan, Mas? Dia putramu. Sangat mirip sekali dengan mu, kan? Maafkan aku Mas, untuk sementara ini aku harus pergi. Aku akan menjelaskannya nanti saat aku kembali. Tolong, jaga putra kita dengan baik, ucap Regita dalam suratnya.
"Kurang ajar! Dasar wanita tidak tahu diri, tidak punya hati." Kellano meremas surat itu dengan penuh kemarahan.
Kellano sangat geram dengan kelakuan Regita. Dulu, Regita menjebaknya untuk menikahinya. Wanita itu mengaku hamil anaknya. Dan sekarang, setelah melahirkan bayinya, Regita pergi seenaknya meninggalkan bayinya yang masih membutuhkannya.
"Saya akan mencari Nyonya, Tuan."
"Tidak perlu. Biarkan wanita itu pergi selamanya. Aku tidak butuh wanita tidak tahu diri seperti Regita."
Kellano awalnya ingin mempertimbangkan untuk menerima Regita sebagai istrinya. Ia berniat untuk meminta maaf atas perlakuannya selama ini yang tidak pernah menganggap Regita sebagai istrinya.
Namun kepergian Regita yang menurutnya sangat keterlaluan, membuat Kellano menyesal sempat memiliki niat itu.
"Tapi Tuan, bagaimana dengan Tuan kecil?"
Zola sempat mendengar pembicaraan dokter dan Kellano beberapa saat lalu. Bayi tampan itu membutuhkan ASI sebagai satu-satunya sumber kehidupannya. Karena ASI jauh lebih bagus daripada susu formula merk apa pun.
"Putraku memang membutuhkan ASI. Tapi bukan dari wanita itu," ucap Kellano penuh penekan. "Tugasmu sekarang, carikan ibu susu untuk putraku!"
To be continued
"Gak mungkin, Dokter. Bayiku gak mungkin meninggal... hiks... hik..."
"Maafkan saya, Nyonya. Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi bayi Anda sudah meninggal sejak dalam kandungan," ucap dokter penuh penyesalan.
Azelva tidak percaya jika bayinya telah tiada, saat persalinan beberapa jam yang lalu, ia bahkan mendengar dengan jelas tangisan putranya. Lalu, kenapa dokter mengatakan jika bayinya sudah meninggal dalam kandungan?
"Dokter, tolong jangan bohong sama saya. Saya mendengar sendiri dia menangis."
Azelva tetap bersikukuh, ia sangat yakin bayinya baik-baik saja. Sampai akhirnya dokter memberikan surat hasil pemeriksaan bayinya pada Azelva. Di sana tercatat dengan jelas, bayi Azelva meninggal dalam kandungan karena mengalami keracunan air ketuban.
"Saya bisa merasakan kesedihan Anda, Nyonya. Maafkan saya. Tapi saya mengatakan yang sebenarnya," ucap sang dokter. "Mungkin yang Nyonya dengar waktu itu tangisan bayi dari kamar sebelah."
Sebenarnya Azelva masih meragukan ucapan dokter itu, Azelva sangat yakin yang ia dengar saat itu adalah tangisan bayinya. Namun, Azelva tidak mempunyai bukti apa-apa.
Kenapa aku merasa bayiku yang menangis? Tapi, tidak mungkin juga dokter berbohong, kan? Gumam Azelva dalam hati.
Walaupun Azelva sangat sedih dan terpukul karena kehilangan bayinya. Tapi ini sudah menjadi takdirnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah.
Azelva tidak bisa menahan rasa sesak di hatinya. Ia meraung sambil memeluk erat bayi kecil yang sudah tak bernyawa dalam dekapannya.
"Kenapa kamu harus tinggalin mama, Nak. Mama tidak punya siapa-siapa lagi sekarang."
Azelva terus menangis meratapi nasibnya yang begitu malang. Setelah mengetahui perselingkuhan suaminya, anaknya adalah harapan Azelva satu-satunya. Tapi sekarang, Tuhan pun sudah mengambil putranya dari hidupnya.
Dengan langkah tertatih, Azelva melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit. Ia harusnya masih dalam pemulihan setelah melakukan persalinan normal beberapa jam yang lalu. Namun Azelva memaksa ingin mengurus pemakaman bayinya sendiri.
Pihak rumah sakit pun tidak bisa memaksa Azelva untuk tetap tinggal. Setelah menandatangani kesepakatan dengan pihak rumah sakit, Azelva akhirnya diijinkan pulang membawa jenazah bayinya.
Ia sudah tidak menangis lagi. Namun, tatapannya kosong, tidak ada lagi semangat hidup dalam diri Azelva. Kepergian sang putra seolah membawa separuh jiwanya pergi.
"Ssshh..."
"Nak, kamu gak apa-apa?"
Seorang wanita paruh baya tidak sengaja menabrak Azelva. Wanita itu sangat panik dan khawatir karena Azelva nyaris saja terhuyung. Untung saja suami wanita paruh baya itu lebih dulu menahan tubuh Azelva.
"Maaf Tante, saya tidak sengaja," ucap Azelva penuh sesal. Wanita itu sedikit shock, namun tidak menyalahkan wanita paruh baya itu. Azelva sendiri sadar, dirinyalah yang bersalah karena berjalan sambil melamun.
"Tante yang harusnya minta maaf sama kamu, Nak." Wanita paruh baya itu menatap Azelva penuh sesal, entah kenapa menatap mata sendu Azelva membuatnya tiba-tiba sedih. Hingga tanpa sadar wanita paruh baya itu pun mengusap surai Azelva.
"Aku gak apa-apa, Tante." Azelva tersenyum hangat pada wanita paruh baya itu. Tatapan lembutnya mengingatkan Azelva pada mendiang sang mama. Andai mama masih ada, batin Azelva.
Mengingat mamanya membuat air mata Azelva kembali menetes. Wanita cantik itu pun buru-buru mengusap air matanya. "Maaf Tante, aku buru-buru."
Azelva hendak meninggalkan tempat itu, namun ucapan wanita paruh baya itu berhasil menghentikan langkahnya. "Nak, apa kamu sedang ada masalah? Mungkin tante bisa bantu."
Azelva merasa hatinya tiba-tiba menghangat. Kehadiran wanita paruh baya itu membuat Azelva sedikit melupakan kesedihannya. Tatapannya, sentuhannya, dan tutur katanya yang lembut, membuat Azelva merasakan sosok sang mama dalam diri wanita paruh baya itu.
"Bayiku baru saja meninggal, Tante." Azelva mengusap pipi bayi yang terpejam dalam dekapannya. Mata Azelva kembali berkaca-kaca.
Wanita paruh baya itu menatap bayi mungil dalam dekapan Azelva. Tanpa diduga, wanita itu tiba-tiba memeluk Azelva. Ia bisa merasakan kesedihan wanita cantik itu. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya.
"Sabar ya, Nak. Tuhan pasti akan menggantinya suatu hari nanti."
...----------------...
Sementara itu di tempat lain, Zidan dan Venya baru saja kembali setelah melakukan pemeriksaan kandungan. Zidan membawa Venya ke rumah yang selama ini di tempatinya bersama Azelva.
"Mas, apa gak apa-apa kamu ngajak aku ke sini?Kalau Azel tambah marah, gimana?" Tanya Venya sedikit takut. Pasalnya, Azelva baru saja memergokinya berselingkuh. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Azelva jika mengetahui keberadaan dirinya di rumahnya.
"Kamu gak usah pikirin itu. Yang terpenting adalah kesehatan anak kita," ucap Zidan sambil mengusap perut Venya. "Soal Azel, biar mas yang urus."
Sebenarnya Zidan terpaksa membawa Venya ke rumahnya. Zidan tidak bisa membiarkan Venya tinggal sendirian di kontrakannya. Apalagi dengan kondisinya saat ini.
Venya nyaris saja mengalami keguguran. Untung saja Zidan tidak terlambat membawanya ke rumah sakit.
"Baiklah." Venya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah memastikan kenyamanan Venya, Zidan berniat untuk mencari Azelva. Ia ingin memastikan keadaan Azelva. Walau bagaimanapun juga, Azelva adalah istrinya.
"Kalau begitu, kamu istirahat. Mas mau cari Azel dulu." Zidan mulai beranjak, namun Venya mencekal tangannya.
"Mas, tunggu. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Venya. Wanita itu terlihat sedikit khawatir.
"Katakan!"
Zidan mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia kembali duduk di samping Venya. Keduanya sama-sama duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
"Sekarang Azel sudah tahu semuanya. Bagaimana kalau dia minta kamu pisah sama aku, Mas?"
Venya sangat tahu sifat Azelva. Walaupun Azelva sangat lembut dan baik hati, namun di balik sifatnya itu, Azelva sangat keras kepala. Dia terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan.
Venya sangat takut jika Azelva meminta Zidan untuk meninggalkannya. Venya tidak ingin anaknya lahir tanpa ayah.
"Kamu jangan khawatir, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Apalagi ada anak kita."
Ucapan Zidan itu tidak sepenuhnya membuat Venya lega. Wanita itu masih merasa khawatir. Walau bagaimanapun juga, Azelva memiliki kekuasaan.
Zidan memeluk tubuh ringkih Venya, wanita yang selama ini selalu menemaninya. Zidan sangat mencintai Venya, walaupun saat ini statusnya sebagai suami Azelva.
Keduanya hampir saja menikah, namun impian keduanya harus gagal karena papanya Azelva meminta Zidan untuk menikahi putrinya. Walaupun begitu, Zidan tidak pernah melepaskan Venya. Keduanya tetap menjalin hubungan di belakang Azelva.
"Tapi Mas, Azel pasti tidak akan tinggal diam." Venya sudah bersahabat dengan Azelva selama bertahun-tahun. Selain keras kepala, Azelva juga selalu nekad melakukan segala cara demi mencapai tujuannya.
"Kamu jangan khawatir, kalau dia berani nyakitin kamu, Mas gak akan segan-segan menceraikannya."
Venya diam-diam tersenyum smirk dalam dekapan Zidan. Wajahnya terlihat menyeringai puas. Itulah tujuannya.
"Mulai sekarang, kamu jangan pernah mengkhawatirkan apa pun. Kamu cukup percaya saja sama Mas."
Tanpa keduanya sadari, seseorang berdiri dengan tangan terkepal di balik pintu. Ia mendengar semua percakapan kedua orang itu dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
"Setelah apa yang kalian lakukan padaku, aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia."
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
Azelva masuk ke dalam rumah yang selama ini di tempatinya bersama Zidan. Rumah mewah peninggalan papanya, Shawn Alfred.
Azelva baru saja kembali setelah memakamkan jenazah putranya. Langkahnya terasa begitu berat, setiap Azelva menghela napas, selalu teringat pada putranya. Azelva kembali menangis sambil mengusap perutnya yang sudah rata, tidak ada lagi bayi dalam perutnya.
Azelva begitu menantikan hari kelahiran putranya, hari yang harusnya menjadi kebahagiannya saat ini. Namun kebahagiaan itu lenyap, harapannya sirna. Sosok kecil yang ia nantikan tidak akan pernah menyapanya.
"Bagaimana caranya mama bertahan tanpa kamu, Nak?"
Azelva mencoba tak menangis, namun air matanya mengkhianatinya.
Azelva berjalan melewati ruang tamu, namun tiba-tiba saja wanita cantik itu menghentikan langkahnya. Azelva mendengar suara samar-samar dari dalam kamar tamu. Rasa penasaran membuat Azelva mendekati kamar itu.
Dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna, Azelva bisa melihat suaminya dan Venya sama-sama duduk bersandar di atas ranjang.
Tangannya terkepal saat mendengar pembicaraan kedua orang pengkhianat itu.
"Kurang ajar! Dasar tidak tahu malu, umpat Azelva dalam hati.
Setelah Azelva memergoki perbuatan mereka di kantor, kini Zidan terang-terangan membawa selingkuhannya itu ke rumah mereka.
"Sebelum kamu menceraikan aku, aku yang akan lebih dulu menceraikan mu."
Azelva mengepalkan erat tangannya, sampai buku-buku jarinya memutih. Azelva mendengar sangat jelas, suaminya itu berencana untuk menceraikannya.
Azelva menggenggam handle pintu kamar itu, ia ingin memberi pelajaran pada kedua pengkhianat itu. Namun otak kecilnya kembali berpikir.
Jika aku melabrak mereka sekarang, mereka tidak akan mengerti penderitaan ku. Aku tidak boleh gegabah."
Azelva memilih untuk mengurungkan niatnya. Ia mengambil ponsel dari sakunya, lalu memotret pemandangan menjijikkan di dalam kamar itu. Zidan dan Venya sedang berciuman.
"Cih, menjijikkan. Aku akan mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan kalian. Setelah itu aku akan menceraikan mu, Mas Zidan!"
Azelva buru-buru meninggalkan tempat itu, ia tidak sudi melihat adegan panas yang mungkin sebentar lagi akan terjadi. Namun, baru saja Azelva mencapai tangga, suara seseorang membuat langkahnya terhenti.
"Azel, kamu dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?"
Suara Zidan terdengar sangat lembut dan penuh perhatian, namun begitu menjijikkan di telinga Azelva. Sikapnya sangat tenang, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, sangat memuakkan.
Azelva tidak menggubris panggilan Zidan, ia tetap menapaki satu-persatu anak tangga menuju kamarnya.
"Azel, Mas belum selesai bicara."
Zidan menarik tangan Azelva, membuat wanita cantik itu nyaris tergelincir dari tangga. Namun Zidan berhasil mendekap tubuh istrinya itu.
"Kamu gak apa-apa?" Suara Zidan terdengar sangat panik, pria itu mendekap tubuh Azelva sangat erat.
"Lepaskan!" Suara Azelva sangat lirih namun terdengar begitu dingin, tidak seperti biasanya. "Aku bilang, lepaskan!" Azelva kembali mengulang ucapannya saat Zidan tak juga melepaskan dekapannya.
Zidan baru melepaskan dekapannya saat menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Bukan cuma sikapnya yang berubah dingin, tapi...
"Azel, kamu sudah melahirkan?" Zidan menatap perut Azelva yang sudah datar. Lalu, tatapannya berpindah pada wajah istrinya yang sembab. "Di mana bayinya?" Tanyanya lagi saat tidak menemukan keberadaan bayinya.
"Kamu puas sekarang, Mas? Bayiku sudah meninggal. Dan itu semua gara-gara kamu." Lagi-lagi ucapan Azelva terdengar sangat dingin. Dan entah kenapa, Zidan tidak menyukainya.
Azelva tidak lagi menangis, bukan dia tidak ingin. Tapi dia tidak akan menunjukkan kerapuhannya di depan suami kurang ajarnya itu.
Sementara itu Zidan nampak tertegun. Namun tidak ada sedikitpun raut kesedihan ataupun penyesalan di wajahnya. Justru ucapan yang Zidan lontarkan semakin merobek hati Azelva.
"Syukurlah jika anak haram itu sudah mati!"
Plak
"Kamu benar-benar brengsek! Tidak punya hati."
Untuk pertama kalinya Azelva melayangkan tangannya pada seseorang, dan itu pada suaminya sendiri. Azelva tidak menyangka ucapan menyakitkan itu akan keluar dari mulut suaminya.
Selama ini Zidan begitu perhatian padanya, setiap saat pria itu mengatakan 'aku mencintaimu Azelva, tidak peduli seperti apa dirimu. Aku menerimamu apa adanya.'
Tapi nyatanya ungkapan itu hanya sekedar ucapan, omong kosong belaka. Pada kenyataannya pria itu hanya memainkan perannya. Dan bodohnya Azelva bisa tertipu oleh sandiwara pria itu.
Zidan mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah. Tamparan Azelva benar-benar sangat keras dan meninggalkan jejak. Namun, tamparan itu tidak berarti apa-apa untuk Zidan.
Zidan tidak marah, ia juga tidak membalas tamparan istrinya. Zidan bukanlah pria ringan tangan yang bisa sesuka hati melakukan kekerasan.
"Sudahlah Zel, kamu jangan berlebihan. Bukannya bagus kalau bayi itu meninggal?"
"ZIDAN SADANA!"
Plak
Lagi-lagi Azelva melayangkan tamparan di pipi Zidan. Ucapan suaminya itu bukan hanya mengoyak luka hatinya, tapi juga sengaja membunuh Azelva secara perlahan.
"Dasar tidak punya hati! Pantas saja ibumu membuangmu, mungkin karena dia tahu anaknya akan menjadi bajingan seperti---"
Plak
Tangan Zidan bergetar saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan pada Azelva. Untuk pertama kalinya ia melayangkan tangannya pada seorang wanita, dan itu pada istrinya sendiri, Azelva Raquel Shawn.
"A-azel aku---"
Zidan ingin mengusap pipi Azelva yang memerah, bekas tamparannya terlihat begitu jelas, kontras dengan wajah Azelva yang putih terawat. Namun Azelva langsung menepis tangan pria itu dengan kasar. Wanita itu meneteskan air matanya, hatinya teramat perih. Zidan bukan hanya menyakitinya dengan ucapan, tapi juga berani melayangkan tangan padanya.
"Aku ingin kita bercerai."
Venya yang diam-diam melihat pertengkaran suami-istri itu tersenyum puas. Sebentar lagi tujuannya akan berhasil.
Bagus, akhirnya mereka bercerai, sorak Venya dalam hati.
...----------------...
"Jadi, kamu benar-benar menghamili jalang itu, Kellan? Dasar anak kurang ajar!"
Yumna dan Arjuna baru saja sampai di rumah sakit. Orang tua Kellano itu datang untuk melihat bayi yang Regita lahirkan. Melihat wajah bayi itu mirip dengan putranya membuat Yumna sangat murka. Wanita paruh baya itu bahkan tidak berhenti memukul putranya menggunakan tas mahalnya.
"Stop, Mom. Sakit!"
"Sakit kamu bilang? Rasakan ini."
Bugh bugh bugh
Yumna terus menghajar putranya sampai puas. Ia tidak akan berhenti sebelum benar-benar mengeluarkan semua kekesalannya.
Arjuna tidak melerai ataupun menghentikan sang istri. Ia justru mendukung aksi istrinya itu, dengan begitu ia tidak perlu repot-repot memberi pelajaran pada putranya.
"Dad, tolong aku!" Kellano merengek bak anak kecil yang dihukum orang tuanya karena kenakalannya.
"Harusnya kamu bersyukur Mommy mu yang menghajar mu, bukan daddy. Jadi, terima saja," ucap Arjuna penuh ejekan.
Yumna dan Arjuna sangat kecewa pada Kellano. Padahal mereka sangat mempercayai putra mereka satu-satunya itu. 9 bulan yang lalu Kellano bahkan bersumpah jika bayi yang dikandung Regita bukanlah miliknya.
Namun, melihat kemiripan bayi itu dengan Kellano benar-benar mematahkan kepercayaan mereka.
"Tapi Mom, aku yakin tidak pernah tidur dengan Regita," ucap Kellano. "Aku bersumpah, Mom."
Kellano tetap teguh pada pendiriannya, ia tetap mengelak tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengan Regita. Namun yang membuatnya bingung adalah, kenapa bayi Regita sangat mirip dengannya?
"Kamu masih berani mengelak?"
Bugh bugh bugh
Yumna semakin keras memukul Kellano. Bukti sudah sangat jelas, kemiripan wajah Kellano dan bayi itu bisa dipastikan sangat mirip. Apalagi hasil tes DNA menunjukkan 99.99 % positif. Artinya bayi itu benar-benar darah daging Kellano Gavintara.
Kellano tidak menjawab lagi ucapan Mommynya. Ia sendiri benar-benar bingung.
"Sekarang, di mana wanita jalang itu?"
Yumna akhirnya berhenti menghajar putranya. Walaupun Yumna sangat membenci Regita, tapi bayi itu tidak bersalah. Apalagi melihat kemiripan bayi itu dengan Kellano. Tidak bisa dipungkiri, Yumna langsung jatuh hati pada cucunya itu.
"Dia sudah pergi," ucap Kellano.
Mengingat wanita itu membuat Kellano kembali kesal. Sampai sekarang, Kellano masih tidak habis pikir, kenapa ada wanita seperti Regita? Dan sialnya, wanita itu adalah ibu dari putranya.
Arjuna mengernyitkan keningnya, pria paruh baya itu merasa ada yang janggal dengan kepergian Regita.
Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Regita, batin Arjuna.
To be continued
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!