Indonesia
NovelToon NovelToon

Janda Desa Kesayangan Presdir

Chapter¹ — Talak.

Kabut pagi masih menggantung rendah di atas pematang ketika Lastri melihatnya.

Bukan kabut yang membuat dadanya sesak, melainkan pemandangan di balik jendela rumah dinas kepala desa. Rumah yang selama tujuh tahun ia sebut rumah sendiri. Dari celah tirai yang tak tertutup rapat, Lastri menangkap bayang tubuh perempuan lain, rambutnya terurai sedang tertawa kecil.

Lastri berdiri mematung di halaman. Kakinya terasa berat, seolah tanah liat basah menahan telapak agar tak melangkah. Di tangannya, ponsel bergetar pelan. Ada pesan masuk dari ibu-ibu PKK yang mengingatkan jadwal posyandu. Ironi itu menampar halus. Di desa ini, semuanya diatur, ditata, dan dipamerkan sebagai kesalehan kolektif, termasuk rumah tangganya.

Ia menarik napas. Angin sawah membawa bau jerami dan lumpur, bau yang selama ini ia cintai. Bau yang mengingatkannya pada... kesabaran.

Lastri melangkah masuk.

Pintu kayu berdecit pelan, suara tawa itu terputus. Suaminya bernama Pak Surya, sang Kepala Desa berdiri tergesa-gesa, wajahnya pucat sekejap sebelum kembali dipoles dengan wibawa. Sementara perempuan itu menutup dada dengan atasan, matanya menantang seolah Lastri adalah tamu tak diundang.

“Lastri,” kata Surya, suaranya berat dan dibuat tenang. “Kamu salah paham.”

Lastri tersenyum tipis, senyum orang desa yang terbiasa menelan pahit. “Salah paham apa, Pak Kades?” tanyanya lembut. “Salah paham sama baju yang tercecer di lantai?”

Sunyi.

Bahkan jam dinding seperti berhenti berdetak.

Lastri mengeluarkan ponselnya, tangannya tidak gemetar. Kamera terbuka. Satu, dua, tiga lalu ia rekam adegan di depannya.

“Lastri!” Surya melangkah maju. “Matikan itu! Kamu mau mempermalukan keluarga sendiri?!”

Lastri menatap suaminya lama. “Sejak kapan kebenaran mempermalukan?” ucapnya pelan. “Yang mempermalukan itu... kebohongan yang dipelihara!”

Ia berbalik, melangkah keluar dengan langkah tegas. Di teras ia duduk sebentar, menenangkan nafas. Jempolnya bergerak, video itu diunggah ke akun media sosial desa. Akun yang selama ini dipakai untuk memamerkan pencapaian, gotong royong, dan foto senyum para pejabat kecil.

Kali ini, desa akan melihat yang tak pernah dipamerkan.

Tak sampai satu jam, notifikasi berdentang seperti hujan di atap seng. Komentar mengalir, ada yang kaget dan membela. Ada pula yang mengutuk Lastri, dan lebih banyak mengutuknya.

Surya keluar dengan wajah keras. “Kamu sudah melampaui batas!”

Lastri berdiri. “Batas siapa?”

“Batas istri,” katanya. “Istri itu menutup aib suaminya!”

Lastri mengangguk kecil. “Aku sudah menutup aib-mu dengan kesabaran bertahun-tahun. Tapi hari ini, adalah batasnya.”

Surya terdiam sesaat, lalu berkata cepat, seperti memotong tali. “Aku talak kamu.”

Kalimat itu jatuh, namun Lastri tidak goyah.

“Lastri Binti Dadang, aku talak kamu sekarang juga!”

Lastri menghela napas panjang, ada perih dalam hatinya tapi lebih banyak rasa lega. “Baik, aku terima.”

Siang itu, kabar menyebar lebih cepat daripada angin panen. Lastri menjadi janda sebelum matahari condong. Di warung kopi, lidah-lidah bekerja. Di balai desa, bisik-bisik dirapikan menjadi pendapat resmi.

Lastri pulang ke rumah orang tuanya, rumah kayu sederhana di tepi sawah yang dindingnya menyimpan tawa masa kecil. Ibunya memeluknya tanpa bertanya. Ayahnya mengangguk pelan, seolah berkata "pulanglah, anakku, tanah ini masih milikmu."

Meski lahir dan tumbuh dalam himpitan kemiskinan, kecantikan Lastri tak pernah luput dari pandangan siapa pun. Sejak remaja, orang-orang desa menjulukinya kembang desa. Bukan hanya karena parasnya yang elok, tetapi juga karena tutur katanya yang halus dan sikapnya yang bersahaja.

Ketika Surya, Kepala desa yang disegani datang meminangnya, pernikahan mereka tampak seperti dongeng yang akhirnya menemukan akhir bahagia. Di hadapan warga, Surya adalah suami ideal, berwibawa, mapan, dan penuh perhatian. Namun di balik pintu rumah yang tertutup rapat, kisah itu berubah arah.

Surya menjelma menjadi sosok seorang suami yang otoriter dan dingin. Ia meremehkan Lastri, menjadikan latar belakang pendidikannya yang hanya lulusan SMA tanpa gelar sarjana, sebagai alasan untuk meniadakan suara dan pendapatnya. Setiap gagasan Lastri tentang pelestarian desa, tentang tanah, adat, dan kehidupan warga, selalu dipatahkan dengan senyum sinis dan kalimat yang menusuk harga diri Lastri.

Bagi Surya, Lastri hanyalah pelengkap citra, bukan pasangan sejajar. Dan di sanalah, cinta yang tampak utuh di mata orang lain mulai retak.

Malam itu datang, Lastri duduk di beranda memandangi padi yang bergoyang. Janda, katanya. Kata itu di desa, seperti stempel di dahi. Tapi Lastri memilih mendengar suara jangkrik ketimbang bisik-bisik manusia.

Ia tidak menangis, ia hanya ingin meneruskan hidup.

Keesokan hari, ia turun ke ladang. Menanam ulang bibit yang mati, menyiram yang layu. Kerja yang jujur menenangkan pikiran, namun pandangan orang tak bisa disiram begitu saja.

“Berani juga ya,” kata seorang ibu, separuh kagum separuh sinis.

Lastri tersenyum. “Berani itu bukan tujuan saya, Bu. Lelah lah... yang mendorong saya untuk berani.”

Hari-hari pun berlalu, Surya tetap menjabat. Desa tetap berjalan, tapi ada retak kecil di tembok kemunafikan. Lastri merasakannya setiap kali orang-orang menunduk saat berpapasan.

Suatu sore, mobil sederhana berhenti di ujung jalan tanah. Seorang pria turun. Kemeja putih digulung, sepatu berdebu. Ia berdiri lama memandang sawah, seperti menghitung nafas desa.

Lastri menegakkan punggung, ia tidak tahu siapa pria itu.

Pria itu mendekat, tersenyum sopan. “Permisi, saya mencari pemilik lahan ini.”

Lastri mengusap tangan yang berlumur tanah ke baju lusuhnya. “Lahan ini... milik orang tua saya.”

Pria itu mengangguk, seraya menyodorkan tangan. “Halo, saya Malvin.”

“Lastri,” jawabnya seraya menerima uluran tangan Malvin.

Mereka berdiri berhadapan di batas sawah. Di antara mereka padi bergoyang, seolah menjadi saksi awal dari sesuatu yang belum bernama.

“Desa ini indah,” kata Malvin.

Lastri tersenyum tipis. “Indah kalau hanya dilihat, tapi berat kalau dijalani.”

Malvin menatap Lastri dengan intens, seolah memahami tanpa bertanya. “Yang berat... biasanya menyimpan kebenaran.”

Lastri mengangguk.

Matahari turun, bayangan kedua insan manusia itu memanjang. Desa menyimpan rahasia, dan juga harapan.

Lastri belum tahu bahwa pria di depannya adalah Presiden direktur yang menyamar demi proyek desa. Dan di desa kecil itu, kisah baru mulai ditanam.

Chapter² — Lidah Desa.

Pagi di desa selalu datang dengan cara yang sama. Ayam berkokok, kabut terangkat perlahan, dan suara orang-orang yang merasa berhak atas cerita hidup orang lain.

Lastri merasakannya sejak langkah pertama keluar rumah orang tuanya.

Ia berjalan menyusuri jalan tanah menuju warung untuk membeli kebutuhan dapur. Biasanya sapaan akan datang lebih dulu, senyum tipis serta anggukan kecil dari orang-orang sekitar. Kini, yang datang lebih dulu adalah diam mereka. Diam yang berat, dipenuhi mata-mata yang memeriksa, menimbang, lalu menjatuhkan vonis tanpa suara.

“Si Janda datang,” bisik seseorang, tidak cukup pelan untuk disebut bisikan.

Lastri tetap melangkah, ia sudah belajar bahwa berhenti hanya akan memberi waktu bagi luka untuk memilih tempat paling dalam.

Di warkop Mak Rinah, beberapa laki-laki berkumpul. Tangan mereka sibuk mengaduk kopi, lidah mereka lebih sibuk lagi.

“Zaman sekarang ya,” kata seseorang, suaranya dibuat prihatin. “Istri malah buka aib suami sendiri.”

“Katanya demi kebenaran,” sahut yang lain, berdecak pelan. “Tapi kan bisa dibicarakan baik-baik, ini malah diumbar ke internet! Nggak tahu malu.”

“Kasihan Pak Kades,” lanjut suara itu. “Sudah mengabdi untuk desa kita, malah dijatuhkan oleh istrinya sendiri.”

Lastri hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip garis lurus orang yang menahan diri agar tidak berkata apa-apa.

Di warung, Lastri bertemu Bu Narti. Perempuan itu menatap Lastri sekilas, lalu cepat-cepat membayar belanjaannya.

“Kamu kuat juga ya denger orang-orang ngomongin kamu, Las,“ katanya akhirnya.

Lastri mengangguk. “Kuat itu pilihan, Bu. Kalau saya lemah, siapa yang akan melindungi saya?”

Bu Narti tidak menjawab. Ia menghindari tatapan Lastri, seolah kekuatan itu menular dan bisa membuatnya ikut terseret.

Ketika Lastri pulang, halaman rumah sudah ramai. Dua orang perangkat desa berdiri di dekat pagar. Wajah mereka resmi, sikap mereka dingin.

“Kami hanya mengingatkan,” kata salah satunya, tanpa basa-basi. “Keluarga ini sebaiknya menjaga sikap, jangan bikin kegaduhan lagi.”

Ayah Lastri keluar, punggungnya sedikit membungkuk tapi suaranya tetap tegas. “Anak saya sudah diceraikan, apalagi yang harus kami jaga?”

Perangkat desa itu tersenyum tipis. “Nama baik desa.”

Lastri melangkah maju. “Nama baik yang mana? Yang dibangun dari kebohongan atau yang dirusak oleh kejujuran?”

Tak ada jawaban, tapi mereka pergi dengan pesan yang tidak tertulis "diamlah, atau kami akan membuat hidupmu lebih sulit!"

Siang itu, gosip berubah menjadi tindakan.

Ibu Lastri yang biasanya diminta membantu menyiapkan konsumsi pengajian, kini tidak lagi dipanggil. Ayahnya yang sering diminta pendapat soal sawah desa, kini dilangkahi. Seolah-olah keberanian Lastri adalah penyakit yang bisa menular ke darah orang tuanya.

“Sudahlah, Nak,” kata ibunya pelan saat sore turun. “Biarkan saja.”

Lastri menggenggam tangan ibunya. “Justru karena Lastri anak Ibu, jadi Lastri nggak bisa diam saja.”

Malamnya, Malvin duduk di penginapan kecil dekat balai desa. Lampu redup, kipasnya berdecit. Di tangannya ponsel terbuka, menampilkan potongan komentar, video yang sudah beredar luas di desa itu—Desa Dermaga.

Ia membaca pelan. Bukan videonya yang membuat dadanya terasa berat, melainkan cara orang-orang menulis tentang Lastri. Tentang perempuan yang mereka kenal sejak kecil, kini diperas menjadi satu kata... janda.

Malvin menutup ponsel, ia teringat tatapan Lastri di sawah. Begitu tenang, tidak meminta dikasihani.

Keesokan harinya Malvin sengaja duduk di warung kopi Mak Rinah, lalu memesan secangkir kopi hitam.

“Orang baru ya?” tanya Mak Rinah, sambil menuang air panas.

“Iya,” jawab Malvin. “Katanya desa ini warganya rukun-rukun, ya.”

Mak Rinah terkekeh. “Rukun itu kalau sependapat.”

Malvin mengangkat alis. “Kalau beda?”

“Ya siap-siap disingkirkan,” jawab Mak Rinah ringan, seolah sedang membicarakan cuaca.

Disingkirkan, seperti Lastri kah? Pikir Malvin.

Sore hari, Malvin melihat Lastri kembali ke sawah. Ia berjalan agak jauh di belakang, tidak ingin mengganggu wanita janda itu.

Lastri berhenti di pematang, perempuan berusia 25 tahun itu menatap padi yang mulai menguning. Di wajahnya, ada lelah yang tidak diberi tempat untuk jatuh.

“Perempuan menarik,” gumam Malvin tanpa suara.

Sementara di balai desa, Surya duduk dengan para tokoh masyarakat. Wajahnya serius, nada bicaranya sangat santun.

“Kita harus menjaga ketertiban, jangan sampai ada yang merusak kepercayaan. Termasuk... jangan mudah percaya fitnah keji yang dilontarkan oleh seorang perempuan!“

Nama Lastri tidak disebut, tapi semua orang tahu siapa yang dimaksud. Dari pihak Surya, bantuan pun dibagikan. Ada paket sembako yang ditata rapi, disertai amplop tipis yang berpindah tangan dengan senyap. Tidak ada kata yang diucapkan, namun maksudnya terang benderang. Simpati dibeli, keberpihakan diarahkan, agar tekanan pada Lastri tak pernah benar-benar surut.

Chapter³ — Pengucilan.

Lastri baru menyadari bahwa pengucilan tidak selalu datang dalam bentuk kata-kata. Kadang hadir sebagai pintu yang tak lagi dibukakan, jalan yang mendadak dipersingkat, dan aturan yang berubah tanpa pernah ditulis.

Pagi itu, ia membawa hasil panen kecil. Dua karung padi dan satu keranjang sayur menuju pengepul di ujung desa. Biasanya, Pak Wiryo akan menyambutnya dengan senyum, menimbang dengan jujur, lalu mengobrol tentang cuaca. Namun hari itu, pria tua itu hanya berdiri di ambang gudang, tangannya bersedekap.

“Maaf, Las,” katanya tanpa menatap wanita itu. “Aku nggak bisa nerima dulu hasil panen mu.”

Lastri terdiam. “Kenapa, Pak?”

Pak Wiryo menghela napas. “Ada arahan... dari yang diatas.”

Kata itu jatuh pelan, tapi berat. Arahan selalu berarti kuasa. Lastri mengangguk, ia tak akan memaksa. Ia memutar arah, mendorong gerobak dengan tenaga yang terasa dua kali lebih berat disertai peluh yang mengucur deras.

Di jalan, ia berpapasan dengan beberapa petani lain. Ada yang pura-pura sibuk, dan ada yang menunduk. Ada pula yang memandangnya dengan tatapan yang dulu tak pernah ada, campuran iba dan curiga.

Sampai di rumah, ibunya sudah menunggu di beranda. Wajah wanita paruh baya itu tampak lebih pucat dari biasanya.

“Mereka nggak mau nerima?” tanya ibunya pelan.

Lastri tersenyum kecil. “Mungkin belum rezeki hari ini, Bu”

Ibunya memejamkan mata sejenak. Ayahnya keluar membawa kursi bambu, duduk perlahan. “Kalau begini terus,” katanya hati-hati, “Ladang kita bisa berhenti bernapas.”

Lastri menatap sawah yang terbentang. Padi-padi itu tetap hijau, tak tahu-menahu soal politik desa. “Sawah nggak salah Pak, yang salah cara manusia mengatur nafas hidupnya sendiri. Mereka menjual suara dan nurani, hanya demi lembaran uang. Surya dipilih oleh warga, itu sebabnya... mereka akan terus berdiri di pihaknya apapun yang terjadi.“

Lastri dan kedua orang tuanya menarik napas panjang. Mereka mulai lelah dengan keadaan, namun sorot mata mereka tetap memancarkan keteguhan.

Sementara itu di balai desa, Surya duduk dengan map cokelat di hadapannya. Suaranya lembut, penuh kebapakan.

“Kita harus tetap taat pada aturan,” katanya pada beberapa tokoh. “Jangan sampai ada yang memprovokasi pasar. Mengenai proyek dari perusahaan swasta untuk pengembangan kawasan, kita harus mampu meraih kepercayaan mereka. Jika berhasil, nilai investasi yang masuk ke desa ini mencapai 30 miliar. Kalian tentu paham, langkah apa yang harus diambil.“

Seorang tokoh desa menyela dengan nada yakin. “Jangan khawatir, Pak Kades. Kabar buruk apa pun tentang Bapak sudah kami tangani. Investasi ini pasti kita amankan.”

Surya tersenyum samar. Tetapi di balik itu, matanya membeku, teringat satu nama yang sempat menggores harga dirinya... Lastri.

Perempuan kurang ajar! Jika investasi itu sampai terganggu karena akibat ulahmu... kau akan menyesalinya!

Siang itu, Malvin mendengar cerita yang sama dari dua tempat berbeda. Dari sopir penginapan yang berbisik, dan dari pedagang kecil yang mengeluh pembeli berkurang karena “aturan baru”.

“Aturan apa?” tanya Malvin.

Pedagang itu mengangkat bahu. “Peraturan yang nggak tertulis dari yang diatas.”

Malvin tersenyum tipis. Ia sudah lama bekerja dengan aturan tak tertulis, dan tahu betul siapa yang diuntungkan olehnya.

Sore hari, Malvin menyusuri pematang. Ia melihat Lastri duduk di tepi sawah, membersihkan lumpur dari kakinya. Wajah perempuan janda itu tenang, tapi matanya menyimpan hitung-hitungan yang tidak sederhana.

“Panennya bagus,” kata Malvin, berdiri agak jauh, seperti biasanya dia memakai kemeja putih dan celana hitam sederhana.

Lastri menoleh. “Iya, tapi sedikit sulit untuk dijual.”

Malvin menangkap nada itu. “Ada yang berubah?”

Lastri tidak langsung menjawab, ia meremas ujung kain bajunya. “Desa ini seperti sawah, kalau aliran airnya dipersempit... yang kering bukan cuma satu petak, tapi seluruh ladang.”

Malvin mengangguk paham. “Tapi air yang jernih, akan selalu mencari jalannya.”

Lastri terdiam, seperti mengerti sesuatu.

Malamnya, ayah Lastri batuk keras. Ibu Lastri duduk di sisinya, mengusap punggung sang suami. Lastri berdiri di ambang pintu, dadanya terasa sesak melihat kedua orang tuanya. Seumur hidup mereka bergelut dengan ladang, namun kini bahkan menjual hasil panen pun tak lagi mereka mampu... semua karena Surya.

“Bapak nggak apa-apa, Neng...” kata ayahnya, memaksakan senyuman. “Cuma masuk angin.”

Lastri tahu itu hanyalah kebohongan kecil untuk menenangkan hatinya. Sebelum air mata sempat jatuh, ia berpaling dan mengusap wajahnya cepat. Lalu ia kembali dengan senyum tipis, masuk ke kamar orang tuanya, dan duduk di bawah. Tangannya memijat perlahan kedua kaki sang Ayah.

“Surya tidak memberi Lastri uang sepeserpun, Pak. Pakaian dan barang-barang di rumah dinas juga dilarangnya untuk kubawa. Lastri hanya pulang dengan baju-baju yang lama, syukurlah masih muat. Sebenarnya Lastri punya tabungan, tapi Surya mengambilnya juga. Bapak bersabarlah sedikit lagi. Kalau hasil panen sudah bisa dijual, kita berobat. Kartu KIS Bapak sepertinya sudah dinonaktifkan oleh Surya, jadi kita tak bisa lagi berobat gratis. Maafkan Lastri, Pak…”

Sang ayah menguvsap kepala putrinya dengan penuh kasih. “Mengapa kau meminta maaf, Nak? Bukan kamu yang bersalah. Kesalahan ada pada manusia yang tak mampu mengekang hawa nafsunya, lalu menutupinya dengan kebohongan demi menjaga martabat di hadapan orang lain. Tenanglah... kejujuran dan keberanianmu tak akan sia-sia. Pada waktunya, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, selama kita terus bersandar dan memohon pertolongan kepada-Nya.”

Lastri mengangguk pelan, senyum lembut mengiringi ucapannya. “Iya, Pak. InsyaAllah...”

Di penginapan, Malvin membuka laptop. Ia menelusuri data pasar lokal, jalur distribusi, dan koperasi sekitar. Angkanya berbicara jujur, ada penyumbatan. Dan itu... disengaja.

Ia menutup laptop, “Belum waktunya.”

Keesokan paginya, Lastri mencoba peruntungan ke desa sebelah. Jaraknya lebih jauh, tapi ia berangkat juga. Di sana, seorang pengepul muda menerima hasil panennya tanpa banyak tanya.

“Bayarnya memang lebih kecil,” kata pemuda itu. “Tapi kami, menerima siapa saja...”

Lastri tersenyum tulus untuk pertama kalinya hari itu, akhirnya dia bisa membawa bapaknya berobat. Ketika ia pulang, tubuhnya lelah. Namun di hatinya, ada tekad kecil yang tumbuh. Ketika satu pintu menutup, ia akan melangkah mencari pintu lain. Saat semua pintu tertutup rapat, jendela pun akan ia buka.

Dari kejauhan, mata Malvin mengikuti gerobak Lastri yang tadinya sarat hasil panen telah kosong ketika sampai di rumah. Ia menyimpan satu kesimpulan penting, Lastri tidak berdiri sebagai orang yang menanti diselamatkan oleh siapapun. Keteguhan perempuan itu, diam-diam menggetarkan hatinya.

Malam Jumat biasanya membawa ketenangan di desa. Lampu-lampu rumah menyala lebih awal, suara mengaji terdengar dari berbagai sudut, dan orang-orang mengenakan wajah paling santun yang mereka punya.

Namun bagi Lastri, malam itu datang dengan beban yang lain.

Pengajian rutin diadakan di rumah salah satu tokoh masyarakat. Undangan disebar sejak sore, lewat pesan singkat dan kabar lisan. Nama Lastri tidak disebut, tapi ibunya mendapat pesan singkat dari tetangga dekat.

"Datang ya, Bu. Biar suasana tetap rukun."

Kata rukun kembali muncul, kali ini dengan nada yang lebih licin.

Lastri sebenarnya ingin menolak. Namun ia melihat ibunya yang duduk termenung di ruang tengah, jarinya meremas ujung kerudung.

“Kita akan datang, Bu,” ujar Lastri akhirnya. “Biar mereka tahu, kita tidak bersalah dan tak perlu bersembunyi dari siapa pun.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!