Malam itu, langit seolah sedang berduka. Hujan deras mengguyur aspal kota, menyamarkan jejak ban mobil hitam legam yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah gudang tua di pinggiran pelabuhan. Di dalam salah satu mobil itu, Alana meringkuk dengan tangan terikat. Jantungnya berdegup begitu kencang, hingga ia merasa dadanya akan pecah.
Gadis berusia sembilan belas tahun itu tidak tahu apa salahnya. Yang ia ingat, setengah jam yang lalu, sekelompok pria berjas hitam mendobrak pintu flat kecilnya dan menyeretnya tanpa penjelasan.
"Turun!" bentak salah satu pria saat mobil berhenti.
Alana diseret kasar masuk ke dalam gudang yang lembap. Aroma karat dan oli menusuk indra penciumannya. Di tengah ruangan, di bawah lampu gantung yang berkedip-kedip, seorang pria paruh baya bersimpuh dengan wajah babak belur.
"Paman?" bisik Alana tertahan. Suaranya tenggelam oleh isak tangis.
Paman Alana, satu-satunya keluarga yang ia miliki, hanya bisa menunduk ketakutan. Di hadapan sang paman, berdiri seorang pria yang tampak sangat kontras dengan lingkungan kumuh itu.
Pria itu duduk di sebuah kursi kulit yang entah datang dari mana. Ia mengenakan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Tangan kanannya memainkan sebuah pemantik api emas, sementara matanya yang sebiru es menatap kosong ke arah kegelapan.
Ia adalah Dante Volkov. Sosok yang namanya hanya berani dibisikkan di lorong-lorong gelap karena kekejamannya.
"Kau datang terlambat, Lukas," suara Dante terdengar rendah, namun sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Dingin, tanpa emosi, seperti suara kematian itu sendiri.
"T-tuan Dante... saya mohon... beri saya waktu seminggu lagi," rintih Paman Lukas sambil bersujud di kaki Dante. "Uang itu... saya akan mencarinya."
Dante menghentikan gerakan pemantiknya. Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, membuat cahaya lampu mengenai garis rahangnya yang tegas dan tajam. "Waktu adalah komoditas yang mahal di duniaku. Dan kau sudah menghabiskan seluruh jatahmu."
Dante kemudian memberi isyarat kecil dengan jarinya. Salah satu anak buahnya mengeluarkan sebuah pistol berperedam dan mengarahkannya ke kepala Lukas.
"TIDAK! JANGAN!" Alana menjerit histeris. Ia meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria yang memegangnya. "Tolong, jangan bunuh dia! Saya mohon!"
Keheningan seketika menyelimuti gudang itu. Dante perlahan mengalihkan pandangannya. Untuk pertama kalinya, mata dingin itu menatap tepat ke arah Alana. Gadis dengan rambut berantakan, wajah pucat, dan mata besar yang digenangi air mata.
Dante terdiam beberapa detik. Ia memperhatikan bagaimana bibir gadis itu gemetar, namun ada binar keberanian—atau mungkin keputusasaan—di matanya yang murni. Alana tampak seperti seekor merpati putih yang tersesat di sarang serigala.
"Bawa dia ke depan," perintah Dante.
Alana didorong hingga jatuh tersungkur di depan kaki Dante. Ia bisa mencium aroma parfum mahal pria itu—campuran kayu cendana dan tembakau mahal—yang terasa sangat mengintimidasi.
Dante bangkit dari duduknya. Ia melangkah perlahan mengitari Alana, seperti predator yang sedang menginspeksi mangsanya. "Siapa namamu, Gadis Kecil?"
"A-Alana," jawabnya dengan suara nyaris hilang.
Dante berlutut di depan Alana. Dengan jari-jarinya yang panjang dan dingin, ia mengangkat dagu Alana agar gadis itu menatapnya. Alana tersentak. Mata pria itu tidak memiliki kehangatan sedikit pun. Kosong.
"Pamanmu berhutang sepuluh juta dollar padaku. Sebuah angka yang tidak akan bisa kau hasilkan meski kau bekerja seribu tahun lamanya," ucap Dante sembari mengelus pipi Alana dengan ibu jarinya. Gerakannya lembut, namun terasa seperti sayatan pisau.
"Tolong... biarkan paman saya hidup. Saya akan melakukan apa saja," pinta Alana dengan sisa keberaniannya.
Dante menyeringai kecil—sebuah seringai yang tidak mencapai matanya. "Apa saja?"
"Iya, apa saja."
Dante berdiri tegak kembali, menatap anak buahnya lalu kembali ke arah Alana. "Lukas, nyawamu hari ini selamat. Tapi mulai detik ini, keponakanmu bukan lagi milikmu. Dia adalah jaminanku. Dia milikku."
"Apa?" Paman Lukas terbelalak, namun ia terlalu takut untuk memprotes. Ia justru tampak lega karena nyawanya tertolong, meski harus menumbalkan keponakannya sendiri.
Alana merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. "Apa maksud Anda, Tuan?"
Dante tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah pergi menuju pintu keluar. "Bawa dia ke mansion. Bersihkan dia. Aku tidak suka barang milikku terlihat kotor."
"Tunggu! Tuan Dante!" Alana mencoba mengejar, namun dua pria besar langsung mencekal lengannya.
Sebelum keluar, Dante sempat menoleh sedikit. Cahaya bulan yang masuk dari sela-sela atap gudang membuat wajahnya terlihat seperti malaikat maut yang tampan namun mematikan.
"Mulai hari ini, duniamu hanya sebatas dinding mansionku, Alana. Jangan pernah berpikir untuk lari, kecuali kau ingin melihat kepala pamanmu dikirim dalam kotak kayu ke depan pintumu."
Dante melangkah masuk ke dalam mobil Rolls-Royce miliknya, meninggalkan Alana yang hancur bersimpuh di lantai gudang yang dingin. Gadis itu tidak tahu bahwa malam ini adalah akhir dari kebebasannya, dan awal dari sebuah obsesi gelap pria yang tidak mengenal kata cinta.
Mobil-mobil itu menderu pergi, membelah malam yang pekat, membawa sang mawar putih ke dalam sangkar emas milik sang predator dingin.
...Selamat datang di karya keduaku di Novel Toon ini yang berjudul 'Obsesi Sang Predator Dingin'. Semoga kalian menyukai kisah ini!...
...Peringatan: Cerita ini ditujukan khusus untuk pembaca berusia 21 tahun ke atas (21+). Mohon bijak dalam memilih bacaan. Seluruh konten dalam cerita ini adalah fiktif belaka; adanya kesamaan nama tokoh, tempat, maupun latar merupakan unsur ketidaksengajaan....
...Untuk mendapatkan pengalaman cerita yang utuh, aku memohon agar pembaca tidak melompati bab, karena setiap bagian sangat memengaruhi alur dan retensi buku ini. Mari saling menghargai karya dengan membaca secara berurutan. Jangan lupa tinggalkan like, komentar, follow, dan vote ya! Terima kasih! 😘...
Suasana di dalam gudang itu mendadak sunyi setelah deru mesin mobil Dante Volkov menjauh. Keheningan yang tersisa justru terasa lebih mencekik daripada ancaman senjata api tadi. Alana masih bersimpuh, napasnya tersengal, sementara air matanya jatuh membasahi lantai semen yang berdebu.
Ia menoleh ke arah Paman Lukas yang kini sedang berusaha berdiri sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Pria itu tampak tidak menyesal; ia justru terlihat lega seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari bahunya.
"Paman..." suara Alana serak, bergetar hebat. "Jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pria itu mengatakan aku adalah jaminan? Kenapa dia menyebut angka sepuluh juta dollar?"
Lukas tidak berani menatap mata keponakannya. Ia merapikan pakaiannya yang lusuh dengan tangan gemetar. "Aku... aku sedang sial, Alana. Meja judi itu curang malam ini. Aku hanya ingin melipatgandakan sisa tabungan kita, tapi aku malah terjebak hutang pada organisasi Volkov."
Dunia Alana seolah runtuh seketika. "Judi?" bisiknya tak percaya. "Hanya karena judi? Paman mempertaruhkan nyawaku untuk sebuah permainan kartu?"
Alana merangkak mendekat, mencengkeram lengan jaket pamannya dengan tatapan memohon yang menyayat hati. "Paman, kumohon... cari cara lain. Paman bisa menjual rumah kecil kita, atau aku akan bekerja di tiga tempat sekaligus. Aku akan mencicilnya. Tolong, jangan biarkan aku dibawa oleh pria menakutkan itu. Paman lihat sendiri kan betapa kejamnya dia? Dia monster, Paman!"
Lukas mengibaskan tangan Alana dengan kasar hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Wajah pria paruh baya itu berubah, dari rasa takut menjadi ekspresi dingin yang asing bagi Alana.
"Sudahlah, Alana! Terima saja nasibmu!" bentak Lukas, suaranya menggema di dinding gudang. "Kau pikir aku punya pilihan? Sepuluh juta dollar tidak akan lunas meski kau bekerja sampai mati di kedai kopi itu!"
Alana terpaku, air matanya berhenti mengalir karena rasa terkejut yang luar biasa. "Tapi Paman..."
"Dengar," Lukas memotong dengan nada ketus, "tinggal di mansion mewah seperti itu adalah keberuntungan buatmu. Aku tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya makanmu atau biaya keperluanmu yang lain itu. Sejak orang tuamu meninggal sepuluh tahun lalu, siapa yang memberimu makan? Aku! Siapa yang menampungmu? Aku!"
Pria itu menunjuk wajah Alana dengan jari yang gemetar karena emosi. "Aku sudah mengurusmu sejak kecil, Alana. Sekarang, anggap saja ini adalah cara kau membalas budi padaku. Lagipula, Tuan Dante itu kaya raya. Kau akan hidup di istana, bukan di lubang tikus seperti flat kita. Jadi berhenti merengek dan masuklah ke mobil itu!"
Alana mematung. Kata-kata itu terasa lebih tajam daripada peluru pistol Dante. Membalas budi? Selama ini ia menganggap pamannya adalah pahlawan yang bersedia menampungnya setelah kecelakaan maut merenggut orang tuanya. Ia selalu berusaha menjadi anak yang penurut, membersihkan rumah, memasak, dan bekerja paruh waktu hanya untuk meringankan beban pamannya.
Namun kini, ia menyadari sebuah kenyataan pahit yang menghujam jantungnya: Kasih sayang pamannya selama ini hanyalah sebuah investasi, dan malam ini, ia baru saja dijual sebagai barang rongsokan untuk melunasi hutang.
"Jadi... selama ini aku hanya beban bagimu, Paman?" tanya Alana lirih. Suaranya datar, kosong dari emosi.
Lukas tidak menjawab. Ia justru membuang muka saat dua orang anak buah Dante kembali masuk ke gudang dan memegang bahu Alana. "Waktunya pergi, Nona. Tuan Dante tidak suka menunggu," ucap salah satu dari mereka.
Alana tidak memberontak lagi. Tubuhnya terasa mati rasa. Ia membiarkan para pria berpakaian hitam itu menuntunnya keluar menuju sebuah mobil sedan mewah yang sudah menunggu di depan gudang. Pintu mobil dibuka, menyingkap interior kulit yang beraroma maskulin dan mahal—aroma yang sama dengan pria predator tadi.
Saat mobil itu mulai bergerak membelah kegelapan malam, Alana menatap ke luar jendela. Ia melihat sosok pamannya yang berdiri di depan gudang, bahkan tidak melambaikan tangan atau menatap mobilnya pergi. Pria itu justru sibuk menghitung beberapa lembar uang yang entah diberikan oleh siapa.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, Alana meringkuk di sudut kursi. Ia menatap pantulan wajahnya yang berantakan di kaca jendela yang basah oleh sisa hujan. Pikirannya melayang pada sosok Dante Volkov. Pria yang memiliki mata sebiru es dan hati yang mungkin lebih dingin dari kutub.
Ia kini resmi menjadi tawanan. Bukan karena ia melakukan kejahatan, tapi karena ia dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia percayai sebagai keluarga.
Harganya adalah nyawaku, batin Alana pedih. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan malam membawanya menuju takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di ujung jalan sana, sebuah "penjara emas" telah menunggunya, dan sang predator dingin sudah siap untuk mengklaim apa yang kini menjadi miliknya sepenuhnya.
***
Di dalam kabin mobil yang senyap, hanya terdengar suara gesekan ban dengan aspal yang basah. Alana menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang dingin. Dinginnya kaca itu seolah merambat masuk ke dalam pori-porinya, namun tak ada yang lebih dingin daripada kehampaan yang ia rasakan di dadanya saat ini.
Sepuluh tahun... batinnya lirih.
Setiap kenangan masa kecilnya kini terputar seperti film rusak. Ia teringat bagaimana ia selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan sang paman, bagaimana ia merelakan uang sakunya untuk membantu membayar tagihan listrik yang menunggak, dan bagaimana ia selalu tersenyum meski kelelahan bekerja paruh waktu demi membuktikan bahwa ia bukan beban.
Semua itu tidak ada artinya, ya?
Hati Alana berdenyut nyeri, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat. Ia teringat kalimat pamannya tadi: "Setidaknya dengan ini kau membalas budi padaku."
Balas budi? Alana memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan sebutir air mata lolos dan mengalir di pipinya yang pucat. Apakah nyawaku, kehormatanku, dan seluruh masa depanku hanya seharga hutang judi? Apakah selama ini aku hanya seekor ternak yang ia beri makan hanya untuk disembelih di saat ia butuh uang?
Rasa sakit karena dikhianati oleh darah daging sendiri ternyata jauh lebih menyiksa daripada ancaman pistol Dante Volkov. Setidaknya, Dante adalah orang asing. Kejamnya Dante adalah wajar karena dia seorang mafia. Namun, kejamnya sang paman adalah sebuah belati yang ditusukkan tepat ke punggungnya oleh tangan yang selama ini ia cium dengan hormat.
Ayah... Ibu... maafkan aku, isaknya dalam hati. Aku gagal menjaga diriku sendiri. Orang yang kalian percayai untuk melindungiku, justru adalah orang yang mendorongku masuk ke dalam mulut serigala.
Kini, Alana merasa dirinya tidak lebih dari sepotong barang. Dia bukan lagi Alana, gadis dengan mimpi menjadi seorang guru atau pemilik toko bunga kecil. Dia sekarang adalah "jaminan". Sebuah aset milik pria bernama Dante Volkov.
Ia membuka matanya kembali, menatap bayangan dirinya yang samar di jendela. Ia tampak begitu kecil dan rapuh di dalam mobil yang begitu megah.
Jika keluarga sendiri saja bisa membuangku, lantas keajaiban apa yang bisa kuharapkan dari pria seperti Dante? pikirnya getir. Dia menginginkan mawar ini untuk ia hancurkan. Dan aku... aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk memintaku pulang.
Ketakutan itu kini berubah menjadi kepasrahan yang menyedihkan. Alana berhenti menghapus air matanya. Ia membiarkannya mengalir, membasahi gaun murahannya yang kini tampak sangat kontras dengan kemewahan interior mobil itu. Ia sedang menuju sebuah tempat yang tidak ia ketahui, menjadi milik seorang pria yang tidak memiliki hati, untuk membayar hutang yang tidak pernah ia buat.
Di titik itu, Alana menyadari satu hal: Bagian dari dirinya telah mati di gudang tadi. Dan gadis yang akan turun dari mobil ini nanti adalah seorang gadis yang hatinya sudah hancur berkeping-keping sebelum sang predator sempat menyentuhnya.
Mobil mewah itu akhirnya melambat, membelok masuk ke sebuah jalanan privat yang diapit oleh pepohonan tinggi yang seolah menelan cahaya bulan. Di ujung jalan, sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi dengan ukiran lambang keluarga Volkov terbuka secara otomatis. Begitu mobil melewati gerbang, Alana terpaku melihat pemandangan di depannya.
Sebuah mansion bergaya Gotik Modern berdiri megah di tengah kesunyian. Bangunan itu begitu luas, didominasi warna gelap dan kaca-kaca besar yang memantulkan kegelapan malam. Alana merasa seperti semut yang sedang memasuki sarang raksasa.
Pintu mobil dibuka dari luar oleh seorang pria berseragam. Alana melangkah keluar dengan tungkai yang lemas. Di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati kokoh, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian pelayan yang sangat rapi—hampir terlalu kaku untuk menjadi nyata.
"Selamat datang, Nona Alana. Nama saya Arthur, kepala pelayan di mansion ini," ucap pria itu dengan suara tanpa nada, diikuti bungkukan badan yang sempurna.
Alana hanya bisa menatapnya dengan bingung. "A-Arthur... di mana saya?"
"Anda berada di kediaman Tuan Dante Volkov. Mari, ikuti saya. Tuan tidak suka menunggu lama, dan beliau sudah menanti kehadiran Anda di ruang kerjanya."
Alana berjalan mengekor di belakang Arthur, melewati lorong-lorong panjang dengan lantai marmer yang mengkilap hingga ia bisa melihat pantulan wajahnya yang ketakutan di sana. Di sepanjang dinding, tergantung lukisan-lukisan abstrak yang tampak kelam, dan di setiap sudut, ia bisa melihat kamera pengawas yang lampunya berkedip merah—seperti mata predator yang terus mengintai gerak-geriknya.
Mansion ini terlalu sunyi. Tak ada suara tawa, tak ada suara televisi, hanya suara langkah kaki mereka yang menggema secara ritmis. Tempat ini indah, namun terasa mati. Sebuah istana tanpa matahari.
Arthur berhenti di depan sebuah pintu ganda berwarna hitam legam. Ia mengetuk pelan tiga kali.
"Masuk," suara berat dan serak itu terdengar dari dalam.
Arthur membukakan pintu untuk Alana, namun ia sendiri tidak ikut masuk. "Silakan, Nona. Tuan ada di dalam."
Dengan tangan gemetar, Alana melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, dengan rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit. Di ujung ruangan, di balik meja kerja kayu besar yang tertata rapi, Dante Volkov duduk dengan tenang. Ia telah melepas jasnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan otot lengan yang kuat dan tato yang mengintip dari balik pergelangan tangannya.
Dante tidak menoleh. Ia sibuk menuangkan cairan berwarna ambar ke dalam gelas kristal.
"Duduk," perintahnya singkat.
Alana berjalan perlahan dan duduk di kursi beludru di depan meja Dante. Ia meremas jemarinya di atas pangkuan, mencoba menahan getaran di tubuhnya.
Dante meletakkan gelasnya, lalu mengangkat pandangannya. Mata biru es itu kini menatap Alana lebih dalam daripada saat di gudang tadi. Ada kilat kepuasan di sana saat melihat Alana yang tampak begitu rapuh di tengah kemewahan ruangannya.
"Kau sudah selesai menangisi pamanmu yang tidak berguna itu?" tanya Dante sinis.
Alana tersentak. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan amarah yang tiba-tiba muncul di tengah rasa takutnya. "Kenapa Anda melakukan ini? Anda punya uang, Anda punya kekuasaan... kenapa Anda harus mengambil saya?"
Dante bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di samping Alana. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Alana hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat.
"Karena uang terlalu membosankan, Alana," bisik Dante dengan suara yang rendah dan berbahaya. "Dan kekuasaan hanya terasa nyata jika aku bisa mematahkan sesuatu yang tidak bersalah. Kau adalah mawar putih yang tumbuh di tempat sampah pamanmu. Aku hanya memindahkanmu ke pot yang lebih pantas."
Dante mengulurkan tangan, ujung jarinya menyusuri garis rahang Alana, memaksa gadis itu untuk terus menatapnya. "Di sini, kau punya segalanya. Pakaian mahal, makanan terbaik, dan perlindungan dariku. Tapi kau harus ingat satu hal..."
Dante mencengkeram dagu Alana sedikit lebih kuat, membuat Alana terkesiap.
"Kau adalah milikku. Setiap napasmu, setiap tetes air matamu, dan setiap inci tubuhmu adalah propertiku. Jika kau berani berpikir untuk pergi, atau jika kau membiarkan pria lain menatapmu lebih dari tiga detik... aku tidak akan ragu untuk menghancurkan apa pun yang kau cintai. Mengerti?"
Alana tidak bisa bernapas. Ia merasa tercekik oleh aura dominasi Dante yang begitu kuat. Ia ingin berteriak, ingin menolak, tapi ia tahu ia tidak punya kekuatan.
"Mengerti?" Dante mengulangi dengan penekanan yang lebih tajam.
"M-mengerti, Tuan," bisik Alana lirih.
Dante tersenyum puas. Ia melepaskan cengkeramannya dan kembali menegakkan tubuh. "Bagus. Arthur akan mengantarmu ke kamarmu. Istirahatlah. Besok, hidupmu yang baru dimulai."
Saat Alana berbalik untuk pergi dengan hati yang hancur, ia tidak menyadari bahwa Dante terus menatap punggungnya dengan tatapan lapar—tatapan seorang predator yang akhirnya menemukan mangsa yang paling ia dambakan sepanjang hidupnya.
***
Malam semakin larut. Setelah pertemuan yang mendebarkan di ruang kerja Dante, Alana diantar oleh Arhtur menuju sebuah kamar tidur tamu yang megah. Kamar itu jauh lebih besar dari flat kecilnya, dengan ranjang berukuran king-size yang tertata rapi, sprei satin, dan tumpukan bantal empuk. Sebuah kamar mandi pribadi yang luas terhubung langsung ke dalamnya, lengkap dengan bathtub marmer dan berbagai sabun beraroma mewah.
Meskipun pikirannya masih dipenuhi ketakutan dan rasa sakit hati, tubuh Alana sudah mencapai batasnya. Kelelahan yang menumpuk setelah hari yang panjang dan penuh drama itu membuat kelopak matanya terasa sangat berat. Begitu kepalanya menyentuh bantal empuk, Alana langsung jatuh ke alam mimpi. Tidurnya pulas, seolah ia bisa menemukan sedikit kedamaian di tengah kemewahan asing ini. Mungkin juga, ini adalah caranya melarikan diri dari kenyataan pahit yang baru saja menimpanya.
Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi.
Sekitar tengah malam, pintu kamar Alana terbuka perlahan, tanpa suara. Sosok tinggi tegap Dante Volkov muncul dari balik kegelapan lorong. Pria itu berdiri di ambang pintu, matanya yang tajam menelusuri setiap sudut ruangan, lalu berhenti pada Alana yang terlelap pulas di ranjang.
Cahaya rembulan yang masuk dari jendela kamar menerpa wajah Alana, membuat kulitnya terlihat semakin pucat dan murni. Rambut panjangnya terurai di atas bantal, bibirnya sedikit terbuka, dan napasnya terdengar begitu teratur. Ia benar-benar tidur seperti bayi, tampak begitu rapuh dan tidak berdaya.
Senyum smirk tipis tersungging di bibir Dante. Ia melangkah masuk, mendekati ranjang Alana dengan langkah seringan kucing liar. Matanya terpaku pada lêhêr jêñjåñg Alana yang terekspos. Kµlï† mulus itu seolah memanggil, membangkitkan insting posesif dalam diri Dante.
Dante membungkuk, wajahnya mendekat ke lêhêr Alana. Aroma lembut sabun dan aroma alami tubuh gadis itu menusuk indra penciumannya, membuat hå§rå† terlarang bergejolak. Tanpa ragu, bibirnya yang dingin menyentuh kµlï† hangat Alana. Sebuah hï§åþåñ kuat ia berikan, meninggalkan ßêr¢åk mêråh keunguan di sana. Tidak hanya satu, Dante menggeser sedikit bibirnya, dan meninggalkan jejak kedua, lalu ketiga, di tempat yang berbeda namun berdekatan. Tanda-tanda kepemilikan yang jelas.
Alana sedikit menggeliat dalam tidurnya, namun tidak terbangun. Ia hanya bergumam pelan, membuat Dante semakin terobsesi. Pria itu menatap hasil karyanya di lêhêr Alana dengan kepuasan.
Saat Dante hendak menegakkan tubuh, matanya kembali tertuju pada ßïßïr mungil Alana yang sedikit terbuka karena tidur. Bibir yang terlihat begitu plumpy dan mêñggðÐå, seolah mengundangnya untuk mencicipi. Sebuah tarikan kuat yang tak tertahankan mendorongnya.
Dante menunduk lagi. Bibirnya yang dingin dan tipis mêñɏêñ†µh bibir Alana yang hangat dan lembut. Awalnya hanya §êñ†µhåñ, namun rasa manis yang ia rasakan membuat kendalinya hilang. Dante mulai mêñghï§åþ ßïßïr bawah Alana rakus, mêlµmå†ñɏå perlahan, merasakan setiap lekuknya.
Alana melenguh pelan dalam tidurnya, sebuah suara kecil yang justru memicu Dante untuk semakin memperdalam ¢ïµmåññɏå. Pria itu mêñ¢ï¢ïþï bibir gadis itu seolah sedang meminum air di padang gurun. Hå§rå† tak terbendung menyelimutinya.
Çïµmåñ itu berlangsung beberapa saat, terasa begitu panjang dan ïñ†êñ§ di tengah keheningan malam. Ketika Dante akhirnya melepaskan ¢ïµmåññɏå, ia melihat ßïßïr mungil Alana kini sedikit bengkak dan memerah. Sebuah pemandangan yang membuat senyum smirk Dante melebar. Ia mengusap ßïßïr Alana yang basah dengan ibu jarinya, lalu membisikkan sebuah kalimat, nyaris tak terdengar.
"Kau milikku, Alana."
Dante menegakkan tubuhnya, melirik Alana sekali lagi yang kini kembali terlelap pulas. Ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Alana sendirian, tanpa gadis itu menyadari bahwa sang predator dingin baru saja meninggalkan jejak-jejak kêþêmïlïkåñ di †µßµhñɏå, bahkan sebelum matahari terbit di tempat asing ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!