Suara langkah terdengar menggema ketika seorang wanita memasuki sebuah gedung besar tiga lantai itu.
Langkahnya sangat pasti ketika memasuki kantor milik suaminya. Arundari bahkan tidak memedulikan panggilan dari para karyawan suaminya.
"Bu, Bapak sedang tidak ada di kantor."
"Nggak masalah, aku akan ke ruangannya. Mau dia ada atau nggak, itu tak jadi soal. Lagi pula sejak kapan aku hanya boleh ke sini saat ada suamiku saja,"jawab Arundari. Dia bahkan sama sekali tidak menatap wajah orang yang bicara padanya tersebut dan fokus berjalan sambil terus menatap ke depan.
Namun tidak bisa dipungkiri, dadanya naik turun, nafasnya naik turun dengan sangat cepat, dan jantungnya berdetak lebih kerasa dari biasanya.
Dengan tangan menenteng tas, juga kaca mata hitam yang tak dilepaskan, wanita berhijab ayu itu menunjukkan wajah tenang dan datar.
Sesampainya di depan ruangan sang suami, Arundari berhenti sejenak. Dia berdiri di sana tanpa kata. Hanya diam, memejamkan matanya sejenak. Agaknya Arundari tengah mengatur nafasnya agar lebih tenang.
"Tapi Bu,"ucap karyawan suaminya yang rupanya sejak tadi mengikutinya.
"Huuft, sudahlah. Kamu pergi saja dari sini. Ini kan ruangan suamiku, apa yang kamu takutkan hmm?"ucap Arundari sembari tersenyum. Bukan sebuah senyum yang ramah melainkan senyum tipis yang terkesan menyeramkan bagi si karyawan.
Dengan gugup karyawan itu hanya menunduk lalu berkata, "B-baik Bu." Ia mundur, dan kemudian berjalan cepat meninggalkan Arundari di sana sendiri.
Haaah Huuuuft
Arundari mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Tangannya sudah menggenggam handle pintu dan siap untuk ditekan ke bawah agar pintu itu terbuka.
Blaaak
Arundari akhirnya membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci itu. Suara kencang pintu yang terbuka agaknya cukup mengejutkan orang yang ada di dalam.
"Talak aku sekarang juga,"ucapnya tenang. Tidak ada kemarahan dari wajah Arundari. Dia hanya berdiri di ambang pintu menatap suaminya yang tengah memangku wanita lain.
"Sayang, b-bukan begini. Ini nggak kayak yang kamu lihat,"ucap pria yang tidak lain adalah suami Arundari. Pria itu gugup sampai-sampai mendorong si wanita hingga si wanita tersungkur di kursi.
"Mataku nggak buta, Mas. Dan juga telingaku nggak tuli. Aku masih cukup waras buat nggak ngamuk atau ngejambak jilbab wanita itu,"sahutnya tenang. Sungguh tidak ada kemarahan dari diri Arundari saat ini. Yang dia butuhkan hanya talak dari suaminya agar sakit yang dirasakan tak terlalu dalam.
"Mbak, nggak gitu. Ini anu, Mbak,"sahut si wanita yang saat ini tengah membetulkan hijab dan bajunya yang sedikit berantakan. Entah apa yang mereka berdua lakukan tadi, tapi Arundari sama sekali tidak peduli.
"Diem kamu, aku lagi bicara sama Mas Heri. Kamu beber-bener ya Jelita. Kamu udah aku anggap kayak adikku sendiri. Wajahmu cantik Jelita sesuai namamu, tapi hatimu sungguh busuk. Kamu yang aku suapi makan dengan tanganku sendiri tega banget ngancurin rumah tangga aku. Apa kamu nggak bisa nyari laki-laki yang masih single di luaran sana. Malu sama jilbab yang kamu pake, Jelita!! Malu!!!" pekik Arundari. Dia yang awalnya enggan ribut tapi ternyata tida bisa dan akhirnya melupakan rasa sakitnya itu.
Terlebih melihat wanita yang baru saja bermesraan dengan suaminya tak menampakkan wajah malu barang sedikitpun.
"Dan kamu juga Mas, kamu udah punya istri. Kurang apa aku sama kamu, Mas? Aku udah nurut buat nggak kerja, aku nurut sama kamu buat jadi istri yang sholihah versi kamu dengan tetap berdiam diri di rumah. Tapi apa, kamu tega selingkuh sama wanita yang sudah ku anggap adik ini? Tega kamu, Mas!!"
Teriakan Arundari menggema di ruangan yang sunyi itu. Kini air matanya berurai membasahi wajah dan hijabnya. Sungguh dia tidak pernah menyangka akan meledak sekarang. Padahal keinginannya hanya meminta talak dari Heri.
"Sayang, aku beneran minta maaf. A-aku khilaf, yank. Aku, aku nggak akan ngulangi perbuatan ku. Aku nggak mau cerai dari kamu,"ucap Heri. Entah sejak kapan pria itu berpindah,tapi saat ini dia sudah ada di sisi Arundari. Dia menggenggam tangan istrinya dan bahkan berlutut.
Tapi Arundari bergeming. Dia tidak bicara apapun. Lalu selanjutnya, wanita itu menepis tangan Heri, membalikkan badannya dan melenggang peri.
Heri bangkit dari posisi berlututnya, lalu berlari mengejar Arundari.
"Tunggu yank, ayo pulang bareng. Ayo kita bicarain ini di rumah,"ucap Heri saat mengejar Arundari.
Akan tetapi, Arundari hanya bungkam. Dia juga sama sekali tidak menoleh ke belakang. Dan sampai di parkiran pun, Arundari langsung masuk ke mobil lalu menutupnya rapat dan menguncinya sehingga Heri tidak bisa ikut masuk.
Bruuum
Mobil Arundari melesat meninggalkan kantor tersbut. Maaf yang diucapkan oleh Heri ingin sekali dia mencoba untuk memercayainya, namun hatinya terlalu sakit. Hatinya sakit dengan semua perbuatan Heri dan Jelita.
"Selingkuh, Ya Allah. Kenapa bisa mereka ngelakuin itu ke aku. Apa kurangnya aku sama kamu, Mas? Apa kurangnya aku sama kamu, Jelita? Kamu udah ku anggap adik, tidur kita bersama,makan juga bersama. Setiap ada pekerjaan di luar kota, kita selalu melakukan hal bersama. Tapi kenapa kamu tega ke aku kayak gini?"
Tangis Arundari pecah. Dia bahkan berteriak di dalam mobil. Dia berteriak degan sangat keras karena di tempat itu adalah kesempatannya untuk bisa meluapkan semua kekecewaan dan sakit yang dirasakannya.
"Ya Allah, apa mungkin karena ini juga Engkau belum memberiku keturunan? Apa karena Engaku ingin menunjukkan seperti apa pria itu?"
Pernikahan Arundari dan Heri memang sudah berjalan tiga tahun lamanya. Tapi mereka belum juga dikaruniai keturunan. Sudah banyak yang dilakukan mereka termasuk dengan menjalani bayi tabung, tapi mereka gagal. Dan progam bayi tabung itu sudah dilakukan selama tiga kali.
Keterangan dari dokter menyebutkan bahwa dua-duanya sama-sama sehat.
Arundari mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu harus merasa sedih atau lega. Satu sisi wanita itu merasa lega karena dirinya tidak dalam posisi memiliki anak jadi bisa memutuskan lebih cepat terkait hubungan mereka. Tapi di lain sisi, Arundari sangatlah sedih karena cinta yang dia jaga, pernikahan bahagia seumur hidup yang dia impikan, hancur begitu saja.
"Ya Allah, jika benar ini akhir dari cintaku, maka aku akan menerimanya meski rasanya sangat sakit,"ucapnya lirih sambil diiringi isak tangis.
Sedangkan di tempat lain, Heri yang meninggalkan kunci mobilnya di ruangan segera bergegas kembali. Dia mengambil kunci yang ada di atas meja kerjanya dan langsung pergi. Namun tangannya ditahan oleh Jelita.
"Kita bicara nanti, Jelita,"ucap Heri tegas.
"Mas, kamu nggak bisa giniin aku. Kamu bilang nggak mau pisah sama istri kamu, terus aku gimana, Mas? Kamu ninggalin aku gitu aja setelah semua yang kita lakuin. Aku nggak mau, aku nggak mau dicampakan kayak gini. Kalau kamu nggak cerai sama Mbak Arundari, maka aku minta kamu nikahin aku."
Jegleeer
TBC
DISCLAIMER!!!
Cerita ini dibuat bagi yang mau baca aja ya. Dan perlu diingat, nggak ada niat Othor sedikitpun untuk menyinggung wanita berhijab. Cerita ini dibuat melihat banyaknya fenomena wanita yang kurang sadar tentang dirinya dalam berperilaku.
Semoga Suka, tolong bantu like dan komen ya. Jika suka sila lanjut baca, jika tidak silakan di skip. Dan jangan berkomentar buruk.
jika ingin kritik, silakan lakukan dengan etika yang baik.
Terimakasih.
"... Maka aku minta kamu nikahin aku."
Jegleeeer
Heriawan membulatkan matanya. Dia sangat terkejut. Pagi menuju siang yang cerah itu kini seolah dipenuhi dengan mendung. Ya mendung bagi dirinya sendiri tentunya.
"Gila kamu ya Jelita. Kenapa tiba-tiba minta nikah. Ini nggak ada ya dalam pembicaraan kita,"pekik Heri dengan mata yang menatap tajam ke arah wanita yang usianya baru 23 tahun.
Jelita Wardani, kalau bisa dibilang gadis ya usinya masih tepat untuk dipanggil begitu. Sesuai dengan namanya, Jelita adalah gadis yang cantik jelita. Wajahnya kecil, matanya bulat, kulitnya putih bersih dan halus.
Bukan hanya itu, gadis itu juga berhijab, tutur katanya lembut dan perangainya sopan juga cerita. Semua orang menyukainya. Bahkan dia menjadi ikon di perusahaan milik Heriawan.
Perusahaan Heriawan adalah perusahaan yang bergerak di bidang travel dan umrah. Selain itu juga mereka mengadakan kajian rutin yang diadakan setiap dua pekan sekali.
Jelita yang memiliki kemampuan berbicara yang mumpuni sering didapuk menjadi master of ceremony atau MC. Dan ternyata Jelita juga memiliki suara yang merdu. Hal itu diketahui ketika salah satu ustadz dalam kajian bersholawat, dan Jelita pun ikut melakukannya.
Semua terpana dan mengangumi suara Jelita. Sehingga pada akhirnya dia selalu diminta untuk menyanyikan sholawat sebelum kajian dimulai dan setelah kajian berakhir.
"Mas, kamu kok gitu sih ngomongnya. Semua ini nggak ada dalam pembicaraan kita kamu bilang? Terus kamu anggap aku ini apa, Mas? Apalagi kita udah, hmpp!"
Seketika Heri menutup mulut Jelita dengan tangannya. Dia melihat kesana kemari seolah memastikan bahwa apa yang mereka bicarakan tidak terdengar oleh orang lain. Heri juga menutup mulut Jelita agar wanita itu tak lebih banyak lagi bicara.
"Udah, kita omongin lagi nanti. Aku harus pulang buat ngejar Arundari. Kamu lanjutin aja dulu pekerjaan mu. Pekan depan kita akan ada kajian kan? Sudah dapet siapa yang bakalan ngisi? Nah konfirmasi lagi ke beliau. Ingat ya cari narasumber nya perempuan karena emang besok itu kajiannya khusus perempuan."
Heri pergi dengan terburu-buru untuk mengejar istrinya. Mau bagaimanapun, dia tak ingin berpisah dengan Arundari.
Namun jika demikian, mengapa Heri harus berhubungan dengan Jelita? Entah apa isi kepala pri tersebut.
"Please please, aku mohon kamu ada di rumah, sayang."
Heri terus bicara demikian sepanjang dirinya mengemudikan mobil. Dia merasa takut jika istrinya tidak pulang ke rumah dan malah memilih untuk pergi menghindar.
Banyak hal yang ingin disampaikannya, salah satunya adalah kata maaf. Ya dia ingin meminta maaf kepada wanita yang sudah menemaninya selama ini itu.
Fyuuuuh
Heri bernafas lega saat melihat mobil Arundari terparkir rapi di depan rumah. Itu berarti istrinya ada di dalam dan tidak pergi seperti yang dipikirkannya.
Pria itu kemudian memarkir mobilnya tepat di sisi mobil sang istri. Lalu dengan sedikit tergesa dia keluar dari mobil dan segera masuk ke rumah.
Langkahnya begitu lebar. Nafasnya juga sedikit tersengal. Bukan karena aktivitas fisik yang dilakukannya, akan tetapi karena pergolakan hati dan pikirannya dalam rangka menghadapi sang istri.
Degh!
Dada Heri naik turun, dia mengatur nafasnya lebih dulu ketika melihat Arundari ada di dapur tengah duduk sambil meminum air dingin yang baru saja diambilnya dari kulkas.
"Sayang," panggilnya lembut. Heri berjalan mendekat namun tak lantas berada di sisi Arundari. Pria itu memilih berdiri di seberang meja.
"Jangan memanggil ku begitu. Aku jijik mendengarnya tahu nggak? Mulut yang kamu pakai untuk memanggilku sayang, pasti sudah kamu gunakan untuk memanggil wanita itu begitu juga. Dan mungkin nggak hanya sekedar sayang. Entah sudah sampai mana mulutmu itu mendarat di tubuh wanita itu. Sampai kepala? Pipi? bibir? dada? atau bahan kemaluannya? menjijikkan!"
Heri sangat tercengang dengan ucapan istrinya tersebut. Mulutnya menganga lebar dan matanya membelalak.
"Nggak kayak gitu, Yank. Bayangan kamu udah terlalu jauh! Aku nggak ngelakuin sampai yang kamu katakan tadi,"jawab Heri dengan berapi-api. Dia nampak sedang mencoba meyakinkan istrinya bahwa dia sama sekali tidak melakukan apa yang Arundari katakan.
"Oh, terus sampai mana? Udahlah Mas, aku capek. Sekarang lebih baik jatuhkan talakmu itu, biar kamu lebih bebas buat main sama tuh pelacurr yang berkedok sholihah,"ucap Arundari acuh tak acuh. Dia tak memandang wajah Heri barang sedetik pun.
"Nggak sayang, enggak. Aku nggak akan menalak kamu. AKu nggak mau, aku nggak mau kita pisah. Please, aku nggak mau cerai sama kamu,"sahut Heri cepat. Wajahnya memang menunjukkan kesungguhan pun dengan suaranya.
Akan tetapi Arundari hanya bergeming. Wanita berusia 26 tahun itu diam seribu bahasa. Namun tidak dengan hati dan pikirannya. Saat ini Arundari tengah berpikir akan sesuatu.
Keheningan di rumah itu berlangsung cukup lama. Arundari yang duduk diam, Heri yang berdiri mematung dan bahkan seolah tak berani untuk bicara apapun.
Saking heningnya rumah itu, bahkan suara detik jam dinding menjadi terdengar sangat jelas.
Tiga puluh menit lamanya, mereka hanya ada dalam diam dan akhirnya Arundari pun membuka mulutnya.
"Baiklah kalau kamu nggak mau menjatuhkan talak ke aku. Hari ini juga aku mau pulang ke rumah orang tua ku. Dan kau, nggak usah nganterin aku,"ucap Arundari sambil beranjak dari tempat duduknya dan melenggang ke arah kamar.
"Tapi yank, nanti kalau~"
"Kenapa? Takut? kamu takut kalau bapak sama ibu aku tahu tentang kelakuanmu? Kamu takut kalau aku ngadu ke mereka? Cih pengecut? Pas kamu ngelakuin itu sama si jalangg itu, apa kamu nggak mikir sampai sini hah?" pekik Arundari. Meski ucapan Heri tak selesai, tapi dia sudah tahu apa yang ingin dikatakan oleh pria tersebut.
"Kamu ini beneran bikin aku ngerasa amezing lho, Mas. Kamu tahu betul apa yang kamu lakukan itu salah dan pastinya itu nyakitin hati aku, tapi kenapa kamu ngelakuin itu? Kamu berada di lingkungan orang-orang baik yang paham agama, tapi mengapa kamu nggak pernah ambil ilmu itu dan kamu terapin? Mas kalau kamu ingin poligami, seharusnya kamu bilang, karena aku akan langsung minta cerai. Maaf, aku bukan wanita yang bisa berbagi suami. Aku bukan wanita yang punya kelapangan hati untuk saling berbagi cinta dengan wanita lain. Dan kamu harusnya ingat, itu adalah syarat saat kamu melamar ku di depan kedua orang tuaku."
Jleb
Perkataan Arundari bak belati tajam yang menghunus jantung dan hati milik Heri. Pria itu sama sekali tidak bisa berkilah karena semuanya adalah fakta.
Lantas apa yang Heri lakukan sekarang ini? Jawabannya adalah diam, pria itu diam seribu bahasa dan hanya bisa menatap Arundari yang melenggang pergi meninggalkan rumah.
TBC
ps: Akan ada flashback yang lumayan smooth jadi harap perhatikan ya biar nggak bingung. Makasih
...----------------...
"Lhoh Neng, tumben kamu senin-senin begini ke rumah. Biasanya hari ahad kamu baru datang ke sini?"
Sambutan wanita paruh baya dengan hijab lebarnya itu membuat Arundari hanya bisa tersenyum kecut. Terlebih saat melihat ke belakang, seolah mencari sesuatu.
"Mas Heri nggak ikut, Ummi. Dia lagi sibuk nyiapin acara," kata Arundari langsung paham apa yang tengah dicari sang ibu. Ia lalu mencium punggung tangan Lintang dengan takzim. Ingin sekali dirinya meluapkan semua yang dirasakannya sekarang juga. Akan tetapi Arundari tidak akan melakukan itu. Dia tidak mau membuat kedua orang tuanya kepikiran.
"Oh gitu, ya udah ayo masuk. Abah lagi ke kebun tadi, nggak tahu apa yang lagi dicari sama dia.
Lintang merasa ada yang disembunyikan oleh sang putri. Meskipun Arundari mencoba tersenyum, akan tetapi terlihat ada gurat lelah dari wajahnya.
"Sudah makan belum? Pasti capek kan nyertir ke sini berjam-jam sendiri? Dan udah sholat luhur belum?" Lintang bertanya secara beruntung kepada anak perempuan satu-satunya itu.
"Aku kebetulan lagi halangan, Umii. Dan aku juga udah makan tadi. Ehm, aku boleh langsung ke kamar aja nggak? Udah lama nggak nyetir jauh sendiri ternyata pundak dan leher berasa tegang. Tambah satu lagi, pinggang beneran pegel rasanya,"jawab Arundari sambil memijit-mijit lehernya yang sungguh terasa kaku.
Dia tidak berbohong, memang tubuhnya saat ini sangat lelah. Tapi ternyata itu bisa dijadikan alasan untuk menghindari pembicaraan dengan sang ibu.
"Ya udah kalau gitu. Istirahatlah, jangan lupa buat ganti baju dulu ya baru tidur."
"Iya Ummi. Aku ke kamar dulu ya."
Arundari melenggang masuk ke kamar. Dia menarik kiper besarnya ikut serta ke kamar.
Pemandangan itu tentu terekam oleh mata Lintang. Wanita paruh baya tersebut mengerutkan alisnya, terdapat tanda tanya besar di sana.
"Kok tumben Arun bawa baju banyak? Apa dia mau nginep lama di sini?" tanya Lintang dengan lirih.
Namun Lintang tak ingin berspekulasi apapun, dia mengusir pikiran yang tidak-tidak. Karena Lintang tidak ingin bersuuzdhon dengan hubungan putri dan menantunya. Meskipun sebagai ibu, Lintang merasa bahwa saat ini Arundari tengah tidak baik-baik saja.
Bruk!
Arundari merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sebelumnya dia sudah membuka jendela kamarnya, sehingga udara yang sejuk itu bisa masuk ke dalam dan membuat hidungnya terasa sangat segar.
Tah hanya hidung yang terasa segar, tapi paru-parunya juga seolah bisa bersih dan kotoran yang ia dapat tadi di rumah dan di kantor Heri seketika luruh.
"Astagfirullah. Kenapa Ya Allah, kenapa harus aku yang mengalami ini. Ku pikir kisah istri yang diselingkuhi oleh suami dan orang terdekat itu hanya lah milik wanita-wanita yang ada di media sosial. Ku pikir itu hanya milik para public figure. Tapi mengapa aku juga harus merasakannya? Kenapa Ya Allah, kenapa aku. Hiks."
Kali ini Arundari sungguh meluapkan rasa sakit hatinya. Tangisnya benar-benar pecah dan tidak seperti tadi yang masih ditahan-tahan,
Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Heri. Dia tidak mau dianggap kalah dengan kelakuan wanita pelacur berkedok sholihah itu.
Sungguh Arundari merasa sangat muak. Dia muak dengan tampilan munafik dari Jelita. Lalu ia mengingat, ya Arundari mencoba mengingat sejak kapan hubungan Heri dan Jelita dimulai dan juga sejak kapan dia mulai mengetahuinya.
Beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat mereka tengah mengadakan kajian di kota Makasar. Sebuah perusahaan yang menggunakan jasa travel umroh milik Heri meminta diadakan sebuah kajian dulu sebelum keberangkatan menuju tanah suci.
Heri tentu senang dan setuju. Dia bahkan mendatangkan ustadz yang banyak digemari oleh banyak orang.
Ia mengajak tim yang didalamnya juga ada Jelita. Jelita yang memang didapuk sebagai MC dan juga mengisi acara pembuka dengan lantunan lagu-lagu islami, menjadi bagian penting dalam acara tersebut.
"Yank, besok kita akan pergi ke Makasar. Nggak lama paling dua hari. Sehari sampai sana. kajiannya diadakan malam dan paginya kita langsung balik lagi Jakarta. Kali ini kamu nggak ikut nggak apa-apa kan?"
Malam hari sebelum berangkat ke Makasar, Heri memberitahu jadwalnya kepada Arundari. Sejenak Arundari terkejut. Biasanya setiap akan eprgi, Heri selalu memberitahunya jauh-jauh hari. Tapi kali ini tidak. Seketika perasaan Arundari tidak nyaman.
"Emangnya kenapa kalau aku ikut, Mas? Bukannya biasanya aku juga ikut ya?" tanya Arundari. Perasaan yang tidak nyaman itu membuatnya over thinking.
"Ya nggak apa-apa. Tapi kan besok itu jatah kamu ngadain arisan kan. Bukannya kamu udah mulai nyiap-nyiapin ya," jawab Heri.
Aaah
Arundari baru ingat kalau besok rumahnya atuh giliran untuk tempat arisan. Itu adalah kelompok arisan dia dan teman-temannya. Dan jelas bahwa Arundari tak akan bisa membatalkan acara itu untuk ikut serta pergi bersama suaminya.
"Aku baru inget, iya ya besok aku ada arisan. Ya udah aku nggak ikut kali ini," balas Arundari pada akhirnya.
Keesokan harinya, ia pun tak bisa mengantar kepergian Heri ke bandara. Tapi sebuah pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Jelita.
Pesan yang biasa saja dan juga dibalas oleh Arundari dengan biasa. Bahkan di dalam pesan itu terkesan manis. Arundari yang anak tunggal sangat senang dengan kehadiran Jelita. Dia bak mendapatkan adik. Maka dari itu mereka sering bertukar pesan terlebih jika itu sedang ada acara di luar kota seperti ini.
Tanpa pernah Arundari sadari bahwa kedekatannya dengan Jelita membuat sebuah peluang bagi gadis itu untuk masuk menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan sang suami.
Acara arisan di rumah berjalan dengan sangat lancar. Teman-teman Arundari nampak puas dengan jamuan yang diberikannya. Satu per satu mereka pun pamit pulang dan hanya menyisakan satu orang. Orang tersebut adalah yang paling dekat atau bisa dikatakan sangat dekat dengan Arundari.
"Makasih lho ya udah tinggal dan bantu-bantu aku," ucap Arundari.
"Ck, kayak sama siapa aja deh. Kita kan kawan hahaha. Oh iya Run, sorry ya kalau aku ngomong gini. Tapi ya Run, emang kamu nggak curiga apa sama cewek itu. Siapa namanya, Jelita ya? Nah iya si Jelita itu. Jujur ya, aku nggak suka tahu pas lihat wajah dia. Kayak yang sok gitu lah, ehmm pick me kalau anak jaman sekarang bilang."
Arundari terdiam sejenak. Overthinking yang dirasakan semalam seketika kembali mencuat mendengar ucapan Fitri, sang sahabat.
"Dia gadis baik kok. Emang agak manja aja kelihatannya. Mungkin karena masih muda," sanggah Arundari. Meski ada perasaan yang tidak nyaman tapi mulutnya tidak bisa sejalan dengan hatinya.
"Ya udah kalau gitu. Aku cuma bilang aja kok. Kalau emang tuh anak baik, ya syukur deh. Tapi ya Run, kamu tetep harus hati-hati. Kamu nggak boleh terlalu deket dan mendekatkan wanita manapun ke rumah tanggamu. Inget itu," ucap Fitri memperingatkan.
Degh!
TBC
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!