Indonesia
NovelToon NovelToon

CINTA DI ATAS PENGKHIANATAN

Bab 1 SANDIWARA

Di sebuah kamar apartemen mewah terdapat dua insan yang berbeda jenis, suara deru nafas mereka menjadi sebuah melodi indah.

Kini mereka tanpa mengenakan sehelai benang pun yang melekat pada tubuh. Bergelut dibawah selimut yang sama berbagi keringat dan rasa candu bersama, menuju kepuasaan masing-masing.

Hingga suara perempuan itu memecah keheningan di tengah aktivitas panas yang tengah terjadi di antara mereka.

"Raka, bagaimana jika Liora tahu tentang hubungan kita?" tanya perempuan tersebut yang tidak lain adalah Salsa sahabat Liora dengan nada sedikit gelisah.

Salsa sangat menikmati momen bersama tunangan sahabatnya sendiri. Ia sama sekali tidak peduli jika dia telah mengkhianatinya.

"Maka tidak ada cara lain selain kita mengakuinya, kalau kita saling mencintai." jawab Raka dengan nada santai.

Dalam pelukannya laki-laki itu terus memainkan jemarinya dengan gerakan sensual menyusuri setiap lekukan tubuh Salsa.

"Lalu bagaimana dengan Suamiku? kamu kan tahu, kalau aku masih belum resmi bercerai dengannya!" suara Salsa sedikit meninggi, ada rasa takut jika suaminya mengetahui hubungan mereka.

"Lalu apa masalahnya? lagian cepat atau lambat mereka juga akan mengetahuinya." jawabnya santai, tanpa menghetikan aktivitasnya. Ia terus mengendus leher jenjang wanita itu.

Salsa mencengkram seprai menahan desiran gairah yang semakin memuncak, saat Raka mengecup lehernya dan memberi gigitan kecil. Suara desahan lolos dari bibirnya, menggema di dalam kamar itu.

Tanpa mereka ketahui, saat ini seorang wanita cantik tengah menuju ke arah mereka dengan mata berbinar dan selalu tersenyum manis.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Liora seorang gadis cantik sederhana, meskipun dilimpahi fasilitas mewah tidak membuatnya hidup bergaya glamor. Ia lebih menyukai kesederhanan.

Kini ia sedang berada dalam perjalanan menuju sebuah apartemen mewah. Tempat tinggal yang ia beli untuk hidup berdua bersama sang tunangan.

Liora tidak memberi kabar akan kepulangannya pada sang tunangan. Ia ingin membuat kejutan dengan kedatangannya.

"Akhirnya aku pulang, setelah tiga hari di luar kota." gumamnya tersenyum tipis.

Tiba-tiba terbesit bayangan wajah sang tunangan, yang pasti akan terkejut dengan kedatangannya.

Tanpa ia ketahui, saat ini tunangannya tengah memadu kasih dan berbagi peluh, menuju puncak kepuasan satu sama lain bersama sahabatnya sendiri.

Selama perjalanan, Liora tidak hentinya tersenyum. Ia ingin segera bertemu dan melepaskan rindu pada sang tunangan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu, di kamar apartemen mewah, suasana justru terasa sangat panas. Salsa dan Raka kembali melanjutkan adegan panas mereka yang sempat tertunda.

Lenguhan Salsa ketika pecah saat Raka terus memacu ritme hubungan intim mereka, membawa mereka ke puncak kepuasan masing-masing.

"Kau selalu bisa membuatku kehilangan akal." bisik Raka tepat di samping telinga Salsa.

Kalimat itu seperti dorongan asupan bagi Salsa. Ia yang sedang di atas Raka semakin bersemangat dan mempercepat gerakkannya.

"Tentu saja Raka, semua ini hanya milikmu." balasnya dengan nada bangga.

Salsa yang selalu membenci sahabatnya merasa bangga saat ia berhasil mendapatkan Raka.

Ia yang lebih dulu mencintai laki-laki itu, tapi ia selalu kalah dari Liora. Raka lebih memilih Liora dibandingkan dirinya, pilihan itu membuatnya semakin membenci sahabatnya.

Hingga kemudian, Salsa harus menerima sebuah perjodohan yang tidak bisa untuk dia tolak. Dia harus menikah dengan laki-laki dingin dan datar bernama Kevandra.

"Lihatlah Liora kini tunanganmu sudah menjadi milikku."

Salsa mendesah pelan. Ia menggit bibir bawahnya menikmati permainan Raka yang sedang mempercepat gerakannya.

Kedua tangannya melingkar di leher laki-laki itu.

"Yes, baby! Panggil namaku dengan desahanmu yang indah." bisiknya di tengah puncak kenikmatan.

Hingga beberapa menit kemudian, mereka mencapai puncak dan mendapatkan pelepasan masing-masing.

Keduanya mendesah panjang secara bersamaan. Napas mereka memburu setelah mendapatkan puncak kenikmatan yang mereka raih, keringat tipis masih membasahi pelipis mereka.

Kini Raka masih memeluk Salsa dengan detak jantung yang masih belum sepenuhnya normal.

Di kamar itu kini menjadi saksi bisu, sebuah pengkhianatan telah terjadi.

Namun, kebersamaan mereka tidak berlangsung lama. Tiba-tiba mereka mendengar pintu apartemen terbuka.

Suara sensor elektronik pintu apartemen berbunyi nyaring, disusul suara gagang pintu yang dibuka sedikit kasar.

Jantung keduanya berdegup semakin kencang saat menyadari kondisi mereka yang masih berada di bawah selimut yang sama, tanpa sehelai benang pun.

"Raka, bukannya Liora baru akan pulang lusa?"

Salsa mengangkat selimut semakin dalam untuk menutupi seluruh tubuhnya.

"Nggak usah banyak tanya sebaiknya cepat pakai kembali bajumu."

Dengan gerakan cepat laki-laki itu langsung bangun dari tempat tidur, disusul Salsa yang tiba-tiba merasa khawatir jika mereka kepergok oleh Liora.

Raka mulai memakai pakaiannya kembali.

Sementara itu, Salsa yang masih sedikit gemetar mencoba memungut pakaian dalam dan gaunnya yang berserakan di lantai. Ia memakainya terburu-buru, lalu berusaha mengatur raut wajahnya agar terlihat biasa saja.

Tidak lama kemudian...

Suara pintu kamar utama terbuka dan menampilkan wajah lelah Liora dengan koper kecilnya yang berada di tangan kiri.

"Raka! Aku pul..." seru Liora namun kalimatnya terhenti saat kedua matanya mendapati Salsa yang tengah berada di kamarnya bersama tunangannya.

Ia menatap punggung Salsa yang duduk di samping tempat tidur.

Raka memaksakan senyuman tipis saat mendapati sosok wanita yang menjadi tunangannya, keringat dingin masih membasahi pelipisnya. Namun, ia berusaha bangun dengan gerakan pelan untuk bersandar pada sandaran tempat tidur, seolah ia sedang sakit.

Salsa yang berada di samping membantunya untuk bersandar.

"Pelan-pelan Raka, bukankah kepalamu masih sakit... Sebaiknya kamu istirahat saja." ucapnya dengan nada khawatir.

Liora yang melihat kejadian itu mengkerutkan keningnya.

"Loh Sa, kamu disini? memangnya kenapa dengan Raka?" tanyanya, dengan raut wajah bingung dan rasa khawatir saat melihat sang tunangan sedang terbaring.

Salsa berusaha mengatur napasnya sejenak, tidak lupa memasang wajah cemas agar meyakinkan. Ia menampilkan senyum manis yang biasa ia berikan untuk sahabatnya.

"Liora... kamu sudah datang? aku pikir kamu akan kembali lusa."

Ia memasang raut wajah bahagia yang dibuat-buat untuk menyambut kedatangan sahabatnya

"Kebetulan banget kamu sudah disini tadi siang Raka mencoba menghubungiku. Dia bilang kepalanya terasa sakit... makanya aku buru-buru datang ke sini saat aku tahu kalau kamu sedang tidak ada"

Liora mendekat ke sisi Ranjang dan meletakkan tasnya begitu saja. Ia menghampiri Raka yang sedang terbaring dengan wajah pucat.

Raka yang melihat Liora mendekat. Ia langsung memegang pelipisnya sambil merintih kecil, berusaha terlihat seperti orang sakit.

Saat tiba di sisi Raka, Liora menyentuh kening sang tunangan. "Nggak panas kok, cuma kamu sedikit pucat aja, seperti orang kelelahan."

Raka dan Salsa menegang seketika, mereka mulai gugup. Salsa memilinkan ujung gaunnya dengan gemetar hingga sedikit menampilkan guratan cemas di wajahnya saat mendengar ucapan Liora. Namun, dengan cepat ia mengatur ekspresinya kembali agar tidak terlihat mencurigakan.

"Itu karena aku sudah memberinya obat tadi Li, makanya panasnya sudah turun." selanya dengan nada meyakinkan.

"Kamu memang pintar Salsa, jika soal urusan berbohong."

Liora yang mendengar penjelasan Salsa menepis rasa curiganya, lalu ia kembali menatap tunangannya yang terbaring lemah.

"Apa kamu mau aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu." tawar Liora suaranya rendah tersirat rasa cemas.

Raka menggeleng lemah, seolah ia memang benar-benar sedang sakit.

"Nggak perlu, Sayang. Aku sudah merasa lebih baik."

Liora menghela napas pelan. "Baiklah kalau begitu, sebaiknya kamu istirahat."

Lalu ia menoleh ke arah Salsa yang berdiri di samping tempat tidur. "Terima kasih, Salsa. Kamu sudah menjaga Raka saat aku sedang tidak ada." ucap Liora tulus.

Salsa tersenyum ramah, lalu mendekat dan memeluk sahabatnya.

"Sama-sama, kamu kan sahabatku."

Dalam pelukan itu ia tersenyum miring dan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal pada Raka.

Bab 2 PERMAINAN

Setelah mengatakan itu Salsa melepaskan pelukannya.

Raka hanya terkekeh dalam hati melihat kelakuan gadis itu yang selalu membuatnya tersenyum bahagia.

Berbeda jika dengan Liora, meski mereka tinggal satu atap. Raka sama sekali belum pernah menyentuhnya. Liora selalu menolak dengan alasan mereka belum menikah dan ia tahu tunangannya sangat menjunjung tinggi prinsip hidupnya.

[ boleh menyentuhku asalkan kita sudah menikah ]

Kalimat itu yang selalu Raka dengar jika ia meminta hal intim padanya. Walaupun hanya sebuah ciuman, ia tetap akan menolaknya.

Salsa yang sudah tidak ingin berlama-lama lagi, akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.

''Li, aku pamit pulang dulu, ya.''

''Kenapa buru-buru? Padahal aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu, Sa."

"Next time, aku pasti akan rajin berkunjung ke apartemenmu. Untuk menghabiskan waktu bersamamu.''

Liora hanya mengangguk pelan.

Setelah itu, Salsa melangkah pergi meninggalkan apartemen itu.

Kini hanya Liora dan Raka di kamar itu, suasana seketika hening tidak ada yang memulai percakapan.

Hingga suara Liora memecah keheningan di antara mereka.

​"Bagaimana dengan kondisi kamu?" tanyanya dengan nada cemas.

​"Aku sudah baikkan, Sayang. Ternyata sahabatmu sangat baik, ya."

Ia memuji Salsa secara langsung di hadapan tunangannya sendiri, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

​"Dia memang sangat baik." Liora terdiam sejenak. Ia menatap kedua mata Raka yang menyimpan ketertarikan pada sahabatnya. "Dia sahabatku sejak kecil. Tidak mungkin dia mengkhianatiku, kan?" ujarnya dengan penekanan di akhir kalimat.

​Seketika, tubuh Raka menjadi kaku saat mendengar kata pengkhianatan yang keluar dari mulut sang tunangan.

Ia berdehem pelan, mencoba menghilangkan rasa gugup itu. "I-iya, tentu saja. Lagian mana mungkin Dia tega melakukan itu, apalagi sama kamu, Sayang."

Raka menjawab dengan tawa hambar yang dipaksakan.

Liora hanya diam membisu tanpa ingin membalas ucapan itu.

Di tengah lamunannya. Tiba-tiba Raka menariknya masuk ke dalam pelukannya. Ia ingin mengusir kecurigaan yang sempat terbesit dalam pikirannya, tapi kalimat pujian yang laki-laki itu lontarkan untuk sahabatnya tidak bisa ia abaikan.

Raka yang melihat keraguan dari wajah Liora berusaha meyakinkan gadis itu, pelukannya seketika mengerat.

"Kamu jangan berpikir yang macam-macam, Sayang. Aku hanya mencintaimu." bisiknya dengan suara rendah tepat di samping telinga gadis itu.

Liora membiarkan tubuhnya dipeluk. Ia mencium aroma parfum dipakaian tunangannya, yang sangat ia kenal milik sahabatnya sendiri. Tanda bahwa laki-laki itu memang berbohong.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara di tempat lain, Salsa baru saja sampai di kediamannya dan Kevandra. Ia segera menuju kamar untuk membersihkan diri agar tidak tercium oleh suaminya sisa-sisa percintaannya dengan Raka.

​"Untung saja Dia belum pulang." gumamnya, menghembuskan napas lega.

Ia langsung menuju kamar mandi, air dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya membuatnya rileks. Saat memejamkan mata seketika ingatannya terbersit tentang kejadian di mana ia dan Raka hampir saja ketahuan.

​"Sedikit saja aku salah bicara, Liora pasti akan mengetahui hubunganku dengan Raka." gumamnya pelan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​Sementara di tempat lain, saat ini Kevandra sedang dalam perjalanan menuju kediamannya.

​"Rio, pastikan rapat besok pagi harus siap." perintahnya dingin dan tegas.

​"Baik, Tuan. Semuanya sudah saya persiapkan." jawab Rio, asisten pribadi Kevandra sekaligus kaki tangan kepercayaannya.

Kini mobil yang dikendarai sang asisten itu melaju membelah jalanan hiruk-pikuk kota, selama perjalanan ​hanya keheningan yang menyelimuti. Kevandra menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.

Saat matanya terpejam, pikirannya mulai berkelana memikirkan nasib pernikahannya.

Meski pernikahan ini hanya sebuah perjodohan, ia mencoba menerimanya.

Tidak dengan gadis itu. Dia selalu menjauh darinya meski ia bersikap baik.

"Kenapa Dia masih belum bisa menerima pernikahan ini? Apa yang kurang dariku?"

Lima belas menit berlalu, setibanya di rumah. Ia melihat istrinya sudah rapi dengan gaun di atas lutut.

Tanpa menoleh, ​Kevandra melangkah melewati Salsa begitu saja, lagian percuma ia mencoba ramah jika istrinya tidak menginginkan pernikahan ini.

Kening Salsa berkerut dalam, saat suaminya berlalu tanpa menyapanya seperti biasa. "Ada apa dengannya?" bisiknya pada dirinya sendiri, tidak ingin ambil pusing Salsa memilih mengabaikan laki-laki itu, pikirannya kini hanya fokus pada laki-laki yang selalu membuatnya berada di puncak kenikmatan saat mereka bersama.

"Lebih baik aku menghubungi Raka."

Tanpa membuang waktu, Ia meraih ponselnya dan langsung mengetik sebuah pesan.

​[ Raka, aku merindukanmu. ]

Senyum manis terpancar dari bibirnya saat pesan itu sudah terkirim. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa, memeluk ponselnya sembari membayangkan tunangan sahabatnya yang lebih tepatnya, kekasih gelapnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di sisi lain, tiba-tiba bunyi pesan masuk mengusik pasangan yang sedang berpelukan.

​"Siapa yang menghubungimu?" tanya Liora tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Raka.

Raka membeku sesaat ketika ia melihat layar ponsel itu, tangannya bergetar saat melepaskan pelukannya.

Semua gerak-gerik itu tidak lepas dari pengamatan Liora.

​"Re-kan... kerjaku." kilahnya, suaranya sedikit terbata-bata. "Kamu kan tahu hari ini aku sedang sakit, pasti mereka ingin menanyakan soal pekerjaan."

Raka mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan. Namun, Liora tetap menangkap gelagat yang sangat mencurigakan itu. Ia tersenyum tipis nyaris tidak terlihat.

"Aku kira, dari seseorang yang mencoba masuk ke dalam hidupmu." cibirnya dengan nada lembut, tangannya terangkat merapikan kerah baju Raka. "Selama tiga hari aku tidak ada di samping kamu."

​"Kenapa Dia menghubungiku di saat bersama Liora."

​"Tentu bukan, Sayang. Ini hanya rekan kerjaku. Sebaiknya kamu istirahat, kamu kan baru saja sampai dari luar kota." Raka terdiam sejenak, matanya bergerak gelisah mencoba mencari alasan agar Liora percaya. "Aku khawatir dengan keadaanmu. Jangan sampai kamu kelelahan karena mencemaskanku hingga melupakan kesehatanmu."

​"Baiklah kalau begitu, aku akan istirahat. Kamu juga, jangan sampai hal buruk terjadi padamu. Aku takut kamu tidak akan bisa pulang dengan selamat." jawab Liora dengan nada rendah yang sulit diartikan.

Ia bergegas melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Raka yang diam mematung.

​"Apa yang dia katakan barusan?" gumam Raka. Tersirat rasa takut jika perselingkuhannya diketahui Liora.

​Saat Liora berada di dalam kamar, air mata mulai menetes tanpa bisa ia cegah.

​"Brengsek! Kalian pikir aku tidak mengetahuinya? Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk kalian berdua." desisnya di tengah isak tangisnya. Ia mengusap air matanya dengan kasar, tangannya mengepel erat.

​"Air mata ini terlalu berharga untuk pengkhianatan kalian. Jangan Kalian pikir aku wanita bodoh yang bisa kalian tipu dengan mudah. Aku tidak sebodoh yang kalian lihat."

Ia menatap tajam layar ponsel yang menyala, tangannya meremas ponsel itu hingga kukunya memutih, mencoba menyalurkan kekecewaannya.

Langkah kakinya terasa berat saat ia menuju tempat tidur. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebelum menyusun rencana tantang langkah apa yang harus ia ambil.

Bab 3 BERMALAM

Di dalam kamar, Salsa sedang bertukar pesan dengan Raka tanpa memedulikan keberadaan Kevandra. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa perselingkuhan mereka telah diketahui oleh Liora. Bagi Salsa, malam ini terasa menyenangkan, seolah dunia hanya mereka berdua.

Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya, membayangkan sang kekasih gelap. Namun, tiba-tiba saja perhatiannya teralihkan saat ia menerima pesan masuk.

[ Salsa, aku menginginkanmu ]

Seketika ia tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa Raka sudah sepenuhnya menjadi miliknya, terikat dalam permainan yang ia ciptakan sendiri.

Tidak ingin membuat kekasihnya menunggu, ia langsung membalas pesan tersebut.

[ Aku juga menginginkanmu, Raka. Tapi bagaimana? Kita tidak bisa bertemu. Liora sudah kembali ]

Saat ia mengirim pesan itu, tiba-tiba layar ponselnya menampilkan sebuah panggilan masuk dari seseorang.

Salsa memicingkan mata, saat ia melihat nama sahabatnya yang tertera dilayar itu. "Mau apa dia menghubungiku?" gumamnya, perlahan tangannya menggeser layar ponsel. Dalam sekejap panggilan itu terhubung.

"Halo, Li. Ada apa?" tanyanya dengan nada yang terdengar ramah.

Dari sebrang sana Liora berusaha mati-matian agar tidak memaki sahabatnya, saat ia mendengar suara sok pura-pura Salsa.

"Salsa, aku dan Raka berniat menginap di rumahmu, boleh nggak?" jawab Liora dengan nada yang terdengar tidak kalah ramah.

"Hah! Kalian mau bermalam di sini?"

Seketika Salsa terlonjak ia bangkit dari tempat tidurnya, saat mendengar bahwa sahabatnya akan kerumahnya. Namun, dengan cepat ia mengubah nada suaranya agar Liora tidak curiga.

"Tentu saja boleh. Nanti aku bilang sama Kevandra kalau kamu dan Raka mau kesini." jawabnya dengan nada semanis mungkin.

"Baiklah. kalau kamu mengizinkannya, aku akan bersiap-siap dulu." balasnya dengan nada yang terdengar lembut.

Salsa mengangguk antusias, meski tidak terlihat sahabatnya. "Aku menunggumu, cepat datang, ya."

"Maksudku bukan kamu yang cepat datang, tapi Raka." lanjutnya dalam hati. Ia tersenyum manis, saat membayangkan Raka yang akan bermalam di kediamannya. Hatinya mulai dipenuhi rasa senang yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Kalau begitu, sampai jumpa, Salsa."

Ia langsung memutuskan panggilan itu sambil tersenyum miring: senyum yang bukan tanda kebahagiaan, melainkan awal dari rencana besar yang mulai tersusun di kepalanya.

"Cih! Dasar tidak tahu diri. Kita lihat Salsa, sejauh mana kamu akan bertahan dengan semua kebohongan ini."

Kini Liora mulai bersiap-siap untuk memulai rencananya. Ia mengenakan gaun berwarna pastel sederhana, lalu menata ujung rambutnya dengan gaya curly, tidak lupa ia merias wajahnya dengan riasan tipis agar terlihat lebih segar.

Lima belas menit kemudian, ia sudah siap dan melangkah keluar dari kamar.

Saat pintu terbuka, Raka yang sedang duduk di sofa ruang tamu seketika pandangan laki-laki itu langsung tertuju padanya.

"Li, kamu mau ke mana?" tanya Raka dengan raut wajah bingung.

Liora berjalan mendekati laki-laki itu. Ia bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa, menyembunyikan semua yang sedang ia rencanakan.

"Kita akan ke rumah Salsa, tiba-tiba saja aku ingin mengunjunginya. Aku ingin berbagi pengalaman kerjaku di luar kota, Salsa pasti sangat suka." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, menatap ke dalam mata tunangannya dengan tatapan penuh arti.

"Salsa selalu menyukai apa yang aku ceritakan, termasuk menyukai milikku." ucapnya sambil menekan setiap kata di akhir kalimat.

Namun sebelum Raka menyadari kalimat yang Liora lontarkan, dengan cepat ia mengalihkan perhatian laki-laki itu.

"Ayo, Raka. Sebaiknya kamu bersiap-siap! Jangan sampai Salsa menunggu kita terlalu lama."

Raka mengangguk pelan. "Iya, Sayang. Aku akan segera bersiap."

Sebelum pergi ke kamar Raka mengelus rambut Liora dengan lembut, yang justru membuat gadis itu semakin jijik dengan sentuhannya, mengingatkan ia tentang kebohongan dan pengkhianatan laki-laki itu.

Beberapa menit kemudian, Raka yang sudah bersiap menggandeng tangan Liora keluar dari apartemen.

Sepanjang lobi, hanya keheningan yang menyelimuti hati gadis itu, sesampainya di basemen, Raka membukakan pintu mobil untuk Liora.

Sikap manisnya membuat Liora muak, seolah laki-laki itu tidak pernah menyembuyikan sesuatu.

"Sudah siap, Sayang."

Liora hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan itu.

Raka mulai mengendarai mobil sport itu di tengah hiruk-pikuk jalanan kota yang mulai sepi oleh keheningan malam.

Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya suasana canggung yang terasa semakin berat.

Lima belas menit kemudian...

Akhirnya mereka sampai di kediaman Kevandra dan Salsa.

Sementara itu, Salsa sudah berdiri di teras dengan raut wajah bahagia menyambut kedatangan Liora dan Raka, padahal semua itu hanyalah sebuah topeng. Ia hanya ingin menyambut kedatangan Raka.

Di samping Salsa. Kevandra hanya bersikap dingin tampak tidak peduli dengan kehadiran mereka. Namun, ada sesuatu dari tatapan matanya kepada Liora yang hanya ia ketahui sendiri.

"Akhirnya kamu datang juga, Li." sambut Salsa dengan nada antusias, namun ujung matanya melirik ke arah Raka, seolah memberi isyarat yang hanya bisa dipahami oleh laki-laki itu.

Liora hanya mengangguk, menanggapi dengan senyuman ramah.

"Ayo, sebaiknya kita masuk dulu."

Salsa meraih tangan Liora lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah.

Dari arah belakang Kevandra dan Raka hanya mengikuti langkah kedua gadis itu tanpa banyak bicara.

Setibanya di ruang tamu, tiba-tiba Salsa memberi usulan.

"Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Setelah itu baru kita bisa berbincang-bincang."

Liora mengangguk antusias tampak setuju dengan apa yang Salsa katakan.

"Wah, kebetulan banget aku lagi laper."

Diam-diam ada sepasang mata tajam yang sedang menelisik raut wajah Liora yang tidak seperti biasanya. Seolah ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Itulah yang terlintas di dalam benaknya seolah instingnya yang tajam sebagai pengamat tidak bisa di bohongi.

Kini mereka melangkah menuju meja makan.

Saat mereka sudah di meja makan, dengan penuh perhatian Liora langsung menyiapkan makanan untuk Raka.

Diam-diam Salsa memperhatikan itu, seketika membuat terbakar api cemburu, kedua tangannya terkepal di bawah meja.

Seolah sengaja, Liora mengambilkan sayur untuk laki-laki itu dengan sedikit mencondongkan tubuhnya, seolah ingin menunjukkan perhatian penuh sebagai tunangan.

"Apakah segini cukup?" tanya Liora dengan suara lembut.

"Sudah cukup, Sayang. Terima kasih." jawab Raka sambil tersenyum canggung, diam-diam ujung matanya melirik ke arah Salsa yang berada di hadapannya.

Dengan gerakan berani Liora menyeka sudut bibir Raka di depan Kevandra dan Salsa, gerakannya tenang, tetapi penuh makna, seakan sengaja ingin memperlihatkan sesuatu.

"Pelan-pelan dong, Sayang. Sampai berantakan gini."

"Ee-eh, iya, Sayang." jawabnya gugup saat ia menyadari tatapan tajam Salsa yang tertuju padanya.

Salsa hanya bisa terdiam menahan perasaannya. Senyum di wajahnya mulai terasa kaku, sementara kedua tangannya mengepal erat di bawah meja. Ia berusaha tetap terlihat tenang, meskipun hatinya dipenuhi rasa cemburu yang membara.

Di sisi lain, Kevandra memperhatikan semua itu dalam diam. Ia mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di antara mereka, tetapi memilih untuk tidak berkomentar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!