Indonesia
NovelToon NovelToon

Genius Modern Dinegeri Kuno

Hanya Nama Yang Sama

"Anak tidak berguna..! kau dan ibumu itu sama saja, hanya bisa menyusahkanku."

"Bedebah, tidak tahu diuntung. Aku hidup bukan untuk membesarkan anak cacat penyakitan sepertimu."

"Pembawa sial, aku tidak sudi memiliki anak sepertimu. Pergi...!"

"Kau bukan putriku, kau tidak lebih dari seonggok daging busuk tak berguna."

"Arch...!"

Kepala berdenyut nyeri, suara itu sangat tajam dan nyaris memecahkan gendang telinga.

Bang Brak

Tubuh kurus kumal itu dilempar kehalaman, disusul tendangan dipunggung, mematahkan tiga tulang rusuk.

"Bawa pergi anak terkutukmu ini..!"

Wanita lemah berderai airmata, mengenakan baju tambal sulam merangkak ditanah. Tangannya gemetar, memeluk raga sang putri yang tak berdaya.

"Katakan pada anak sialanmu itu, jangan pernah memanggilku ayah diseumur hidupnya. Kalian bukan bagian dari keluarga Kang, hidup mati kalian tak ada lagi urusannya denganku."

Nafas gadis kecil kembang-kempis, sang ibu histeris tanpa suara.

"Jangan lagi gunakan nama keluargaku yang berharga, aku tidak memiliki keturunan cacat penyakitan seperti jalang sialan ini."

Kata tajam nenek tua, setelah akta perpisahan keluarga ditanda tangani.

"Baik, sekarang putriku akan menggunakan nama keluargaku. Qing Lizi, namanya mulai sekarang Qing Lizi."

Seorang wanita lain, berusia kisaran empat puluh lima datang sembari menangis.

Wanita itu membantu, mengangkat raga sekarat sang cucu. Tetangga yang menjadi saksi seorang suami menceriakan istri dan ayah membuang putrinya, ikut menolong.

Pemuda kekar berlari gesit, wajahnya diselimuti ketakutan. Ia mengambil alih tubuh gadis kecil yang napasnya tinggal satu dua.

Akta cerai dan pemutusan hubungan keluarga bercap jari disambar, disimpan dalam lipatan baju dengan gerakan kasar terburu-buru.

"Putriku bangun nak, jangan tinggalkan ibu...!"

Kebisingan ini nyata, begitu juga dengan sakitnya. Tapi, siapa mereka..?

Siapa Qing Jia...? wanita berusia dua puluh enam tahun yang dipanggil ibu itu.

Lalu siapa juga Qing Mei, wanita lembut yang dipanggil nenek.

"Arch...!"

Sakit itu datang lagi, seiringan kilasan ingatan yang entah milik siapa. Sejak bocah itu bisa mengingat dan tahu akan dunia, semua peristiwa datang diwariskan.

Qing Lizi, berusia sepuluh tahun. Putri dari pasangan Kang Cuyan dan Qing Jia. Terlahir prematur akibat Qing Jia yang kurang mendapat asupan gizi, bekerja dari pagi buta hingga tengah malam. Membuat kondisi tubuhnya lemah dan akhirnya mempengaruhi janin yang dikandung.

Qing Lizi jadi lemah sakit-sakitan.

Satu-satunya adik lelaki, meninggal dunia dua minggu setelah terlahir kedunia. Masalahnya sama, semua karena faktor kelelahan dan gizi buruk.

"Lizi, putriku, kau sudah sadar...?" tanya Qing Jia parau karena tangis yang ia ukir sejak pagi buta.

Mata Qing Lizi bergerak halus, terbuka pelan dari cuma segaris lalu melebar. Alisnya berkerut, bukan hanya karena sakit disekujur badan, tapi juga penampakan disekitar.

"Aku hidup, tapi mana mungkin bisa..?" ucap Qing Lizi aneh.

Namanya benar Qing Lizi, seorang genius dari abad 27 berusia tiga puluh tahun. Ia sedang bertugas diperbatasan dua negara berkonflik, menjadi dokter relawan yang bergabung dengan tentara perdamaian.

Terjadi bentrokan antara tentara zionis dan warga sipil. Qing Lizi bersama dokter lain datang kelokasi setelah adanya korban.

Qing Lizi sudah mengibarkan bendera putih, ia mengenakan atribut lengkap tenaga medis. Namun tetap saja moncong peluru zionis diarahkan padanya.

Bukan cuma satu, tapi tiga.

Dada, perut dan leher. Secara naluriah, seharusnya ia sudah mati. Tapi nyatanya Qing Lizi masih hidup.

Apa mereka yang menyelamatkannya..?

Orang-orang ini, bermarga Qing juga.

Namun pakaian yang dikenakan, kenapa kuno sekali..?

Fashion seperti itu memang milik negara asalnya, tapi dizaman dulu era dinasti kekisaran awal yang berdiri ribuan tahun lalu atau malah puluhan ribu tahun silam.

"Lizi, putriku..!"

Qing Mei menghela nafas lega, ia menyeka kasar airmatanya.

"Cucuku, tahan sedikit sakitmu ya..? nenek akan mencari tabib terbaik untuk mengobatimu."

Qing Jia menggenggam tangan kurus Qing Lizi "bertahan lah nak, ibu mohon..! jangan pergi, jangan tinggalkan ibu."

Qing Lizi meringis, hatinya berdesir pilu. Ia yatim piatu sejak usia lima belas tahun. Hidup bersama sang kakak lelaki yang tewas akibat kecelakaan pesawat terbang ketika usianya dua puluh tahun.

Setelahnya Qing Lizi sendirian, hidup berbekal warisan yang ditinggalkan. Menjadi dokter special diusia muda, bekerja diHospital Internasional Beijing selama satu tahun. Sebelum akhirnya memutuskan menjadi dokter militer.

Pergi kenegara berkonflik, ikut misi pembebasan sandera mafia, menjadi relawan dalam perang genosida. Sudah pernah Qing Lizi lakoni.

Ahli beladiri, penggunaan berbagai senjata, menguasai sembilan bahasa. Kerja sampingan seorang koki, ditekuni karena hobby.

Selain itu, ia juga seorang hacker, pakar genius dibidang teknologi. Memiliki IQ diatas rata-rata dan pernah merilis obat kanker kepasar dunia.

Mana mungkin masih ada ibu...?

Terlebih, usia yang mengaku ibu ini sepertinya sebaya dengannya, atau malah lebih muda..?

"Lizi, kenapa diam saja..?"

Qing Jia panik, ia mengusap wajah putrinya dengan perasaan kalut bersama dua garis airmata yang kembali menghiasi wajah lelahnya.

Ingatan milik Qing Lizi lain kembali hadir, gadis cilik itu sudah mati satu jam lalu. ia sakit sejak dua hari kemarin, sang ayah tak mau membawanya berobat dan malah bersenang-senang dengan selirnya.

Tadi ibunya kembali menghiba, karena kondisi Qing Lizi kritis. Bukannya disambut baik, malah ibunya ditampar. Tubuh lemah Qing Lizi dilempar keluar, lalu ditendang.

Si genius Qing Lizi mengangkat tangannya. Ya, kurus kering dan pucat kusam.

"Jadi aku bereinkarnasi..?" kata Qing Lizi dalam hati.

"Ah tidak, aku bertransmigrasi seperti dinovel karya penulis favoriteku."

Gigi Qing Lizi mengerat, kilat keji melintas dipupil matanya.

"Suami dan ayah macam apa itu..? bedebah, bajingan...!" geramnya mengingat semua prilaku Kang Cuyan.

"Nenek, kakek, kalian semua keluarga Kang, tunggu saja pembalasanku."

Qing Lizi menghela nafas, memejamkan mata sesaat.

"Beristirahatlah dengan tenang, sisanya serahkan padaku. Aku akan menjaga ibu dan nenek." salam perpisahan dan janji Qing Lizi pada jiwa pemilik tubuh yang kini ia tempati.

"Lizi...!"

Qing Lizi meringis, membuka matanya redup "ibu...!"

Qing Jia melepaskan nafas beban, begitu juga Qing Mei.

"Dimana yang sakit..? apa kau menginginkan sesuatu..?"

Qing Lizi menggeleng lemah, tubuhnya benar-benar terasa remuk, tidak bisa digerakan. Tulang rusuknya patah akibat ditendang bajingan Kang Cuyan.

"Lapar...!"

"Tunggu sebentar, nenek akan membuatkanmu bubur. Sabar ya..?"

Qing Mei bergegas bangkit, berlari tergesa kedapur rumahnya.

Huang Feng, pemuda yang tadi menggendongnya pulang kerumah Qing Mei. Ia orang yang dekat dan menyayangi Qing Lizi.

Ada lagi satu sahabat Qing Lizi, Jang Jiayi. Bocah itu pasti sedang bekerja diladang membantu orangtua, makanya belum datang menjenguk.

"Lizi'er...!"

Qing Lizi tersenyum sendu "kakak Feng...!"

"Tunggu ya..? aku akan memanggil tabib terbaik diIbukota."

Qing Lizi mengangguk lemah "terimakasih..!"

Huang Feng pamit, semua tetangga bubar guna kembali bekerja diladang.

Kini tinggal ibu dan anak, Qing Lizi dan Qing Jia.

"Maafkan ibu yang tidak bisa melindungimu, ibu tidak berguna. Ibu sudah membuatmu menderita." Qing Jia tergugu pilu.

"Ibu, aku tidak apa-apa. Jangan cemas, aku pasti sembuh."

Tak lama Qing Mei datang membawa bubur nasi dan kentang dicampur bayam liar.

Itu stok makanan terakhir yang ada dirumah Qing Mei. Hasil ladangnya tahun ini tak bagus, jadi ia cuma bisa menyisakan sedikit setelah sebagian dijual.

Qing Lizi & Qiao An

Suara binatang malam menembus kesunyian. Aroma tanah lembap mulai tercium samar karena embun yang perlahan turun menyapa.

Bau herbal mahal masih pekat tertinggal, sisa perjuangan Huang Feng tadi siang yang mempertaruhkan semua uang simpanan demi membawa tabib Gong guna menyembuhkan sahabat kecilnya.

Qing Lizi menelisik sekitar, kini lebih jelas terlihat ketimbang tadi siang.

Meski remang karena cuma ada lentera minyak yang dihasilkan dari lemak hewan, namun matanya tak lagi buram.

Atap jerami dikepang rapi bersama daun rumbia.

Palang kayu Kamper kokoh memangku reng bambu.

Pilar Zitan kuat menopang kontruksi dasar bangunan.

Dinding papan kayu dilapisi lumpur, mulai berlubang dibeberapa bagian.

Ini rumah keluarga Qing yang tidak pernah lagi direnovasi sejak sang kepala keluarga Qing Dayan wafat delapan tahun lalu.

Keluarga Qing tinggal didesa Zitan, begitu juga generasi Kang.

Jika rumah keluarga Kang berada disisi selatan desa, tempat tinggal generasi Qing dibagian barat.

Perlu waktu lima belas menit berjalan kaki untuk mengunjungi satu sama lain.

Desa Zitan dihuni lebih dari lima ratus kepala keluarga yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan pemburu.

Konon dinamai Zitan, karena wilayah itu dikelilingi hutan pegunungan yang banyak ditumbuhi pohon kayu Zitan.

Sekarang adalah abad keenam, dikuasai dinasti Hongcu generasi ketiga.

Qing Lizi menghela nafas, jiwanya seorang wanita tangguh. Tapi tubuhnya kini lemah dan rapuh.

"Selamat datang nona...!"

Suara muncul dipikiran, menyadarkan Qing Lizi dari lamunan. Matanya berlari kalap, mencari wujud pemilik suara.

"Nona, aku ada dipikiranmu, menyatu dalam jiwamu."

"Kau hantu..?"

"Jangan bersuara nona, apa kau mau membangunkan ibu dan nenekmu..?"

Alis Qing Lizi merajut, matanya menyipit namun berkilat kesal.

"Kalau tidak boleh bicara, lalu untuk apa kau menyapa..?"

"Untuk mengundang nona datang menemuiku."

"Kau...!" mata Qing Lizi membola sempurna, ia masih bingung mencerna.

"Ya, jika berbicara denganku cukup dalam hati dan pikiranmu."

"Lalu aku harus menemuimu dimana..?"

"Pejamkan mata nona, pusatkan pikiran pada ketenangan. Usap cincin dijari nona ucapkan saja salam."

Meski terkesan bodoh, Qing Lizi tetap mengikuti titah suara misterius itu.

Satu detik proses, semua masih tak berubah. Udara disekitar tetap sama, dingin menyesakkan.

Dua detik-----

Tiga detik-----

Hingga didetik kelima, angin sejuk beraroma wangi Kasturi menyapa indra penciuman.

Mata Qing Lizi kontan terbuka. Jantungnya bertalu-talu, ekor kelopaknya menajam tipis bak silet.

Ia bisa berdiri, tubuhnya tak begitu nyeri.

"Selamat datang nona..!"

"Siapa kau...?" tanya kaget Qing Lizi, mundur dua langkah.

Dihadapannya sosok ular putih bermahkota merah delima sebesar batang kelapa dengan sisik berkilau jernih, berdiri tegak memandang tunduk Qing Lizi.

"Aku Qiao An, penjaga alam dimensi jiwa milik nona ini."

Bibir ranum Qing Lizi menganga, netra lentiknya bergetar lalu berkedip cepat. Setelah mengalami lintas ruang dan waktu, sekarang ada lagi alam dimensi.

"Apa ini semacam ruang dimensi yang bisa memberikan apa pun tanpa takut habis..?"

"Benar nona..!"

Qing Lizi merotasi sekeliling, satu alisnya menukik tajam.

Tak ada apa pun, cuma sebuah kolam berair bening dengan luas tanah kurang dari satu hektare.

"Tapi kenapa hanya ada ini..?"

"Karena nona masih berada dilevel terendah, alam dimensi jiwa ini juga baru saja aktif. Nona harus melakukan misi agar lahan yang terkunci dapat terbuka."

"Misi...?"

Si ular Qiao An mengangguk "ya...!"

"Apa misinya...?"

"Perkuat kondisi tubuh, berbuat kebaikan, menciptakan perubahan dan misi-misi rahasia lainnya."

Qing Lizi menatap dirinya sendiri.

Tubuh kurus kering, berkulit kusam ini sekarang miliknya. Ia lemah, rapuh, penakut, cengeng dan sakit-sakitan.

Benar, ia harus memperbaikinya.

"Bagaimana agar aku bisa sembuh..?"

"Itu kolam air roh spiritual, fungsinya banyak----

Qiao An mengoceh tanpa jeda, menjabarkan manfaat air ajaib itu dan juga fungsi alam dimensi jiwa yang ia jaga.

Hukum alam yang berlaku disana tak luput dari penjelasan Qiao An.

"Lalu, apa yang akan kau berikan padaku untuk dipelajari..?"

"Nona sudah memiliki semua, hanya satu yang belum."

"Apa..?"

"Ilmu pengobatan kuno, tehnik akupuntur dan tenaga dalam serta Qi. Dimasa depan jika alam dimensi ini diperluas, nona perlu tenaga dalam untuk menggunakannya."

"Oke, berikan padaku panduannya."

Cling

Dua buku bersampul sutra melayang dihadapan Qing Lizi.

"Sekarang nona minum air roh spiritual itu, agar cepat pulih dan sembuh dari penyakit bawaan."

Qing Lizi mengangguk, meraih kitab pengobatan dan penempaan tenaga dalam serta Qi, lalu mendekati kolam air roh.

Dipinggiran danau terdapat batu giok Surgawi berwarna biru. Diatasnya ada cawan kristal mengkilap.

Satu gelas air Qing Lizi teguk, reaksinya langsung terasa.

Sejuk dan segar diluar.

Namun didalam terasa hangat, aliran darahnya berderak lirih. Tulang rapuh yang patah gemeretak, menyatu membentuk pondasi kokoh.

"Besok nona berendam dengan air itu, berikan juga pada ibu dan nenek nona. Mereka butuh memperbaiki tubuh yang juga sudah rusak keropos."

"Oke...!"

Qing Lizi menatap kulit badannya. Tak lagi pucat kusam. Yang ada merona bersih, halus, kenyal terawat.

Luka besetan akibat dibanting terhempas, sudah hilang tak berbekas.

Robekan dijarinya yang tadi banyak mengeluarkan darah juga sudah rapat kembali seperti tak pernah terluka.

Cincin, mata Qing Lizi terpaut disana.

Dalam warisan pikiran pemilik tubuh asli, cincin itu pemberian dari sang kakek ketika usianya dua tahun.

Saat itu ada festival perahu diIbukota, sang kakek yang ingin memberikan hadiah bagi cucunya berniat membeli sebuah gelang.

Tapi sayangnya uang yang dimiliki kurang, cuma cukup untuk sebuah cicin giok kusam.

Meski sedih, tapi Qing Dayan tetap membelinya.

Dengan hati pedih, Qing Dayan menyematkan cincin tersebut kejari manis sang cucu yang tengah terbaring sakit.

Yang tak pernah diketahui oleh Qing Dayan dan Qing Mei. Setelah mereka berbalik pergi, lapak dagangan itu menghilang bersama si pemiliknya yang seorang kakek tua.

Selama ini alam dimensi terkunci karena segel tak pernah dibuka.

Tapi kali ini kenapa aktif..?

Sebab darah yang berasal dari robekan dijari Qing Lizi tadi melumuri semua bagian cincin tersebut.

Netra Qing Lizi memanas, mengusap lembut cincin putih kusam dijarinya.

"Kakek, andai kau tahu cincin ini adalah benda berharga yang tak ternilai, kau pasti tak akan pernah bersedih saat memberikannya."

Alam dimensi jiwa memiliki masa waktu lebih cepat dari dunia luar.

Satu jam didunia luar sama dengan satu hari dialam dimensi jiwa.

Qing Lizi membuka kitab pengobatan, mulai mempelajari semuanya yang tertulis dengan cepat.

Ia seorang genius, tak perlu waktu lama untuk menguasai semuanya. Apa lagi memang dasar ilmu medis ia sudah miliki, berikut tehnik beladiri dan kekuatan fisik.

"Menciptakan perubahan...? sepertinya itu akan menjadi petualangan yang seru dikehidupan keduaku ini." seloroh Qing Lizi antusias.

Keluarga Qing & Kang

Burung berkicau merdu, menyambut pagi baru didunia antah berantah dengan hukum rimba yang kejam.

Qing Lizi terjaga, menggeliat malas melakukan perenggangan.

Sembuh, tubuhnya benar-benar tak lagi nyeri. Malah terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.

"Lizi...!" pekik Qing Jia mengagetkan Qing Lizi.

Qing Jia mendekat, memeriksa tubuh putrinya. Menggiring raga anaknya itu kembali keranjang.

"Kenapa bangun..? kau harus istirahat, rusukmu patah." oceh kalut Qing Jia.

"Ibu, aku sudah sembuh."

"Mana mungkin..? tabib mengatakan butuh waktu setidaknya enam bulan bagimu untuk pulih."

Qing Lizi tersenyum, hatinya menghangat mendapat perhatian dari Qing Jia. Ia seolah kembali menemukan kasih sayang ibunya yang sudah lama menghilang.

"Sungguh, lihat ini..!"

Qing Lizi bangkit, lalu melompat, kayang, jungkir balik, menendang udara.

Mata Qing Jia terbelalak, seolah akan merangkak keluar dari cangkangnya. Ia menguliti tubuh sang putri dari ujung kaki hingga kepala.

"Tapi, bagaimana bisa...?" ucap Qing Jia tergagap.

"Mungkin karena obat semalam, bukankah itu dari tabib Gong..?"

Qing Jia mengangguk bodoh.

Tabib Gong, tabib terbaik diseantero jagad. Dijuluki tabib Ilahi karena konon bisa menghidupkan orang mati.

Langkah tergopoh-gopoh terdengar, Qing Mei muncul dengan nafas tersengal cemas.

"Apa yang terjadi pada cucuku..? Lizi kenapa..?"

"Ibu...!"

"Nenek...!"

Reaksi yang ditampilkan Qing Mei tak jauh beda dengan Qing Jia. Panik, takut, meminta cucunya untuk berbaring lagi.

Qing Lizi kembali beraksi akrobatik, bertingkah konyol. Melompat, salto, kayang, menendang udara, menampar angin.

"Ini, ini semua berkat Huang Feng, dia yang sudah membawa tabib Ilahi." ucap bersemangat Qing Mei memeluk erat cucunya dengan netra berkabut haru.

Mereka bersuka cita, saling mendekap sembari menitikan airmata.

"Ibu, aku ingin mandi..!"

"Ya, ya, ibu akan siapkan air hangat untukmu." Qiang Jia berbalik, namun pergerakannya terhenti karena cekalan dilengannya.

"Tidak perlu, biar aku saja yang menyiapkan air mandiku sendiri."

"Lizi, tubuhmu lemah----

"Ibu, percayalah padaku. Sekarang aku harus bisa mandiri, aku wajib belajar menjadi kuat. Aku tidak mau dikalahkan dengan penyakitku."

Ibu dan nenek bertukar tatapan, yang dikatakan Qing Lizi benar adanya.

Meski cemas, namun Qing Jia dan nenek Mei membiarkan Qing Lizi melakukan apa yang diingini.

Qing Lizi keluar kamar, empat gubuk beratap jerapi rapi langsung menyapa. Ia menuju kehalaman belakang, mengikuti ingatan pemilik asli.

Bilik mandi berukuran dua puluh meter lengkap dengan sumur dan kolam penampungan air.

Kerekan sumur diturunkan, air tertampung diember tembaga. Qing Lizi menimba sampai sepuluh kali hingga bak kayu besar penuh.

Lima jari lentiknya terulur kepermukaan bak, dari ujungnya mengalir air roh spiritual.

Dirasa cukup, ia segera berendam.

Didapur, Qing Jia dan nenek Mei sedang memasak. Mereka baru saja menggali sisa kentang dikebun belakang.

Lagi-lagi, cuma mampu membuat bubur kentang hambar dengan campuran jamur dan pakis liar.

Qing Dayan dan Qing Mei memiliki satu putri dan dua putra.

Putri pertama Qing Jia, dua puluh enam tahun status baru menjadi janda yang diceraikan kemarin.

Putra kedua Qing Shun, meninggal diterkam beruang saat berburu diusia delapan belas.

Putra ketiga Qing Jian, seorang prajurit yang bertugas diperbatasan utara. Berusia dua puluh tahun, status belum menikah.

Qing Jian sudah dua tahun tak pulang kerumah, setelah dipindah tugaskan keperbatasan.

Untuk keluarga Kang, mereka bisa dibilang keluarga paling kaya didesa Zitan. Memiliki ladang seluas sepuluh hektare dan peternakan ayam dua ratus ekor.

Kang Kuyan berusia lima puluh empat dan Hu Shi lima puluh tahun. Mempunyai dua putra dan satu putri serta enam cucu.

Putra pertama Kang Heilan, berusia tiga puluh tahun, istrinya bibi Song dua tahun lebih muda. Putranya Kang Chen dan Kang Bolin.

Putra kedua Kang Cuyan, umur dua puluh delapan. Baru menjadakan istri dan membuang putrinya. Tapi ia masih ada istri dan anak lain.

Selir Kang Cuyan yang sekarang menjadi istri sah satu-satunya bernama Jie Xie, berusia dua puluh lima tahun. Putranya Kang Yance sembilan tahun dan putrinya Kang Muli delapan tahun.

Putri bungsu bernama Kang Tao, berumur dua puluh, menikah dengan Lei Hongli, memiliki satu putra berusia lima tahun bernama Lei Shui.

Tiga puluh menit berlalu, Qing Lizi menyudahi berendamnya. Ia menuju kedapur, diam-diam mencampur minuman bening dikendi dengan air roh spiritual.

"Kau baik-baik saja..? ada yang sakit..?" tanya cemas Qing Jia.

Bukan tanpa alasan ia bertanya begitu, tadi putrinya menimba sumur.

Selama ini Qing Lizi cuma bisa duduk diam tanpa melakukan apu pun. Pasalnya, jika Lizi bekerja walau cuma menyapu halaman saja, pasti langsung sesak nafas.

Qing Lizi menggeleng "ibu lihat sendiri, aku baik-baik saja kan..?"

Qing Jia sekali lagi mengamati tubuh sang putri dengan teliti, lalu mengangguk.

"Ibu, mulai sekarang percayalah padaku. Putrimu ini sudah sembuh dan kedepannya tak akan pernah sakit-sakitan lagi. Apa pun yang aku lakukan, ibu tak perlu khawatir, oke..!"

"Iya..!" lirih Qing Jia parau. Ia bersyukur terharu dan benar-benar berharap jika anak semata wayangnya itu sembuh total.

Mereka makan bersama, Qing Jia dan nenek Mei meneguk habis air didalam kendi.

Qing Lizi tersenyum senang.

"Maafkan nenek ya..? cuma bisa menyediakan makanan seperti ini." ucap sedih nenek Mei mengusap lembut lengan sang cucu.

"Nenek, ini jauh lebih baik dari pada tidak makan sama sekali." balas merdu Lizi.

"Qiao An, tidak bisakah kau berikan aku makanan..?"

"Tidak bisa nona..!"

"Yang aku butuhkan sekarang hanya itu, bukan yang lain."

"Kalau begitu berusahalah nona, agar alam dimensi jiwamu diperluas."

"Cih, sialan...!"

"Nona, ini era lampau, berbeda dengan dunia modern. Tutur kata dan kesopanan seorang gadis itu yang utama."

"Kau pikir didunia modernya bar-bar tak punya aturan sopan santun..?"

"Aku hanya mengingatkan nona saja, agar kelak tidak jauh jodoh."

Qing Lizi mendengus sengit, tak mau lagi meladeni Qiao An.

Usai sarapan, Qing Lizi berjalan-jalan mengelilingi rumah, sembari menghafal isi kitab pengobatan.

Ia juga memeriksa setiap tanaman yang tumbuh disekelilingnya, mengamati apakah itu bisa dijadikan obat atau tidak.

Sesekali Qing Lizi mencoba untuk mengolah Qi dan tenaga dalam, berkomunikasi dengan alam lewat bisikan udara dan gemerisik ranting dedaunan.

Gadis cilik itu berjalan lebih jauh, melihat ibu dan neneknya yang sedang bekerja menggarap kebun.

Lobak, kol, daun bawang, dan sawi. Terlihat tumbuh subur setinggi mata kaki.

Pohon kesemek serta pear, berbuah lebat disudut pekarangan. Satu bulan lagi, keduanya sudah bisa dipanen.

Qing Lizi melipir jauh, mendekat kelereng hutan pegunungan.

Pohon-pohon tak terlalu rindang sebesar pinggang orang dewasa, berjajar rapi membentengi desa.

Sepertinya bagian pinggiran ini pohon yang besar-besar banyak yang sudah ditebang. Oleh sebab itu cuma bersisa yang ukurannya kecil juga sedang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!