Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang diabaikan oleh ayah kandungnya sendiri?
Tentu saja sangat menyakitkan. Itulah yang pernah dirasakan Dylan.
Dulu, nama masa kecilnya adalah Raka.
Pada tahun 2008, Raka yang masih berusia delapan tahun sedang berlari dengan hati yang penuh gembira. Kabar bahwa ayahnya akan pulang ke Kota Noga membuatnya tidak sabar untuk bertemu dengan sosok lelaki yang sudah lama tidak dia lihat.
Sudah hampir lima bulan dia tidak bertemu dengan ayahnya, membuatnya merindukan sang ayah.
Dulu, Bobby memutuskan untuk merantau ke Jakarta karena ingin membangun usaha. Oleh karena itu, dia membujuk istrinya untuk menjual semua aset yang dia miliki agar dijadikan modal untuk mendirikan sebuah perusahaan.
Awalnya Maya menolak, karena dia ingin seluruh tanah peninggalan keluarga yang dimilikinya disimpan untuk Raka. Karena Bobby terus membujuk dan berjanji bahwa perusahaan tersebut akan menjadi milik Raka setelah dia dewasa, Maya akhirnya menyetujui. Dia menjual seluruh tanah yang dimilikinya, hanya menyisakan rumah tinggal mereka.
Kala itu Bobby berjanji, setelah perusahaannya berjalan dengan lancar, dia akan membawa istri dan anaknya pindah ke ibu kota.
Maya adalah seorang dokter ahli bedah yang bekerja di salah satu rumah sakit Kota Noga. Raka sangat mengagumi ibunya, dia juga sering belajar tentang ilmu kedokteran pada ibunya. Berharap suatu hari nanti dia bisa menjadi dokter seperti ibunya.
Namun, setelah ibunya dinyatakan mengidap penyakit leukimia stadium akhir, sang ibu harus berhenti bekerja sebagai dokter. Ibunya menjalani hari-harinya dengan berobat jalan, karena penyakitnya sulit untuk disembuhkan. Raka sangat berharap suatu saat nanti dia akan menjadi dokter yang hebat dan bisa menyembuhkan ibunya.
Entah mengapa, Raka merasa sangat diasingkan. Ayahnya jarang menemui dia dan ibunya. Sebagai seorang anak, tentu saja dia sangat merindukan kehangatan keluarga yang dulu pernah dia rasakan saat masih tinggal bersama kedua orang tuanya dengan lengkap.
Setiap kali Raka bilang bahwa dia sangat merindukan ayahnya. Ibunya selalu menenangkannya dan mengatakan, "Ayah pasti akan segera pulang, Raka."
Raka yang baru memasuki rumah, dia tersenyum saat melihat sepatu kulit hitam milik ayahnya berada di teras rumah.
"Hore! Ayah pulang!"
Raka pun bergegas masuk ke dalam rumah dengan wajah ceria. Namun, langkahnya langsung terhenti saat melihat ibunya tergeletak di lantai dengan mata terpejam.
"Ibu...!" teriak Raka, dia langsung berlari dan menghampiri ibunya.
"Ibu! Ibu kenapa! Ibu harus bangun, Bu. Jangan tinggalkan Raka!" Raka terduduk sambil menangis, mengguncang-guncang tubuh ibunya.
Raka terpaku saat menyadari ternyata ayahnya berada di sana, dia sedang berdiri di belakangnya dengan wajahnya yang nampak tegang.
"Pe-penyakit ibumu kambuh, Raka. Ayah sudah berusaha melakukan CPR, tapi ibumu belum juga bangun," ucap Bobby dengan nada terbata-bata.
"Cepat telepon rumah sakit, Ayah!" pinta Raka sambil menangis. Dia memeluk ibunya yang sudah tak berdaya.
Bobby menganggukan kepalanya, lalu segera menelpon ambulan. "Hallo, cepat kirim ambulan kesini, Kota Noga, nomor 5"
...****************...
"Mohon maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin. Namun nyawa pasien tidak bisa tertolong," ucap seorang dokter sambil menundukkan kepalanya.
Seandainya saja jika Maya lebih cepat dilarikan ke rumah sakit, dia masih memiliki kesempatan untuk hidup.
Perkataan itu bagaikan benda keras yang menghantam dada Raka. Hatinya sangat merasa sesak. Dia merasa hidupnya benar-benar hancur. "Tidak mungkin....! Ibu... Ibu... "
Bobby langsung memeluk putranya. "Ibumu sudah meninggal, Raka. Kamu harus merelakannya."
"Ibu tidak mungkin meninggal, Ayah. Padahal tadi pagi ibu baik-baik saja," lirih Raka.
Bobby hanya diam. Dia menepuk-nepuk pundak putranya yang masih berada di pelukannya.
Sore hari itu, jenazah Maya langsung disemayamkan. Hanya ada tetangga dekat yang melayat, karena memang Maya sudah tidak memiliki keluarga lagi. Hanya suami dan putranya yang dia miliki.
Raka tak berhenti menangis, dia memeluk baru nisan makam ibunya. "Ibu, jangan tinggalkan Raka!"
...****************...
Malam telah tiba. Di dalam kamar, Raka tampak termenung sendirian. Setelah ibunya pergi, dia tidak tahu harus tinggal bersama siapa. Mungkin karena dia merasa canggung dengan ayahnya, dan tidak yakin apakah ayahnya mau membawanya ke ibu kota.
Raka pun segera keluar dari kamar, menemui ayahnya yang sedang duduk di sofa. Dengan nada gugup dia bertanya. "Ayah, apakah aku boleh tinggal bersama dengan Ayah?"
Bobby sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari putranya. Setelah berpikir sejenak, dia menjawab, "Emm... I-iya, tentu saja."
...****************...
Besoknya, Raka dan ayahnya pergi meninggalkan Kota Noga. Tidak ada percakapan diantara mereka, susana begitu hening. Mungkin karena Raka masih merasa terpukul atas kematian ibunya. Sedangkan Bobby, dia terlihat sangat gelisah, seakan merasa tertekan.
Di tengah perjalanan, tepatnya di sebuah kota yang sangat asing, Bobby tiba-tiba menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah mini market.
"Ayah, kenapa berhenti disini?" tanya Raka sambil mengerutkan keningnya.
"Ayah sangat haus. Tolong belikan ayah minuman dingin!" pinta Bobby pada putranya dengan nada dingin sambil memberikan uang seratus ribu.
Raka menganggukan kepalanya sambil membawa uang tersebut, "Baik, Ayah."
Setelah Raka turun dari mobil, Bobby menghela napas dalam-dalam, lalu membaca pesan dari seseorang.
[Pokoknya aku gak mau tinggal bersama anakmu. Kamu harus pilih mau kehilangan aku atau anakmu?]
Setelah masuk ke dalam minimarket, Raka segera memilih jenis minuman yang sudah diperintahkan ayahnya.
Meskipun hatinya saat ini masih merasa sedih, Raka menyadari bahwa dia tidak boleh terus berlarut dalam kesedihan.
"Sekarang aku akan tinggal berdua dengan ayah. Aku harus berusaha menjadi anak yang baik, tidak boleh bandel, dan tidak akan pernah membuat ayah marah," gumam anak berusia 8 tahun itu dengan pelan.
Mungkin karena usianya yang masih kecil, Raka belum tahu usaha apa yang dijalankan ayahnya. Dia hanya tahu ayahnya menjalankan bisnis di Kota Jakarta. Apalagi selama ini ayahnya jarang pulang ke rumah.
Setelah membeli minuman dan menerima uang kembalian, Raka bergegas keluar dari mini market.
Namun, wajahnya langsung memucat saat tidak melihat mobil ayahnya di situ.
Raka melihat dari kejauhan mobil ayahnya yang sedang melaju. Tanpa berpikir panjang, Raka segera berlari secepat mungkin mengejar mobil itu.
"Ayah, tunggu! Jangan tinggalkan Raka!"
"Ayah!"
Di dalam mobil, Bobby yang sedang mengemudi melihat bayangan anaknya melalui kaca spion. Dia tahu Raka sedang berusaha sekuat tenaga mengejarnya.
Hal tersebut membuatnya bimbang, apakah dia harus berhenti atau terus melajukan mobilnya?
Namun dia teringat pada Vera yang menolak kehadiran Raka. Ternyata selama ini dia diam-diam telah menikah dengan wanita itu. Bahkan semua kliennya mengira bahwa Vera adalah istri satu-satunya.
Dulu, Vera adalah sekretarisnya. Dia adalah seorang janda beranak satu. Putranya bernama Pram, usianya satu tahun lebih tua dari Raka.
Awalnya mereka bekerja secara profesional sebagai atasan dan sekretaris. Namun, lama kelamaan Bobby tergoda dengan penampilan Vera yang seksi, hingga suatu hari dia tidak bisa menahan diri dan melakukan hubungan in-tim dengan wanita itu.
Setelah itu, Vera meminta Bobby untuk bertanggung jawab dengan menikahinya karena takut hamil. Karena itulah, secara diam-diam tanpa sepengetahuan istri dan anaknya, Bobby menikahi Vera. Bahkan, Bobby memperkenalkan Vera kepada semua kliennya sebagai istrinya.
Mereka hidup bahagia dan penuh kemewahan, tanpa memikirkan nasib istri pertamanya yang sedang sakit parah. Padahal mereka bisa menjalani hidup mewah seperti itu karena harta milik Maya.
Flashback On...
Ternyata perselingkuhan Bobby dengan Vera telah diketahui oleh Maya, tapi dia memendam rasa sakitnya sendirian, tidak ingin melihat Raka bersedih.
Saat Bobby berkunjung ke Kota Noga, Maya tak bisa lagi menahan amarahnya. Dia memutuskan untuk menggugat cerai Bobby dan menuntut agar semua uangnya dikembalikan.
"Kenapa kamu tega mengkhianati aku, Mas? Selama ini aku sangat mempercayai kamu," ucap Mayan sambil menangis.
Bobby tidak ingin disalahkan, "Itu karena kamu sering sakit-sakitan. Aku membutuhkan seorang istri yang sehat dan bisa mengurus suaminya."
Perkataan suaminya sangat membuat hati Maya perih. Dia memukul-mukul dada Bobby. "Setelah apa yang aku korbankan selama ini padamu, jadi ini balasanmu? Kalau begitu cepat ceraikan aku. Aku akan menarik semua aset perusahaan yang kamu jalankan itu."
Bobby sangat terkejut mendengarnya. Jika dia jatuh miskin, Vera pasti akan meninggalkannya. Dia langsung mendorong tubuh Maya yang sangat lemah itu. "Cukup Maya!"
Bobby berhenti bicara saat melihat Maya yang sedang memegang kepalanya, dia merasakan kepalanya sangat terasa sakit dan tubuhnya terasa lemah.
Bruk!
Tiba-tiba tubuh Maya ambruk ke lantai. Tak sadarkan diri.
Bobby merasa sangat panik. Dia segera merogoh ponselnya dari saku kemeja, ingin segera menelepon ambulan.
Tapi... dia mengurungkan niatnya saat mengingat jika Maya hidup, dia pasti akan menarik semua aset kekayaan yang dia miliki. Karena ketika Bobby menikahi Maya, dia tidak memiliki apa-apa.
Bobby hanya berdiri tanpa melakukan apa-apa, membiarkan Maya terbaring pingsan di lantai dalam waktu yang cukup lama, dengan jantungnya berdebar-debar.
Dua jam kemudian, dia melihat Raka pulang ke rumah. Bobby terpaksa harus pura-pura panik.
Flashback off...
Bobby masih memperhatikan Raka yang masih mengejar mobilnya sambil menangis. Dia terpaksa menaikkan kecepatan mobilnya, memutuskan untuk meninggalkan anak kandungnya itu.
Raka sudah tidak sanggup lagi mengejar mobil ayahnya. Kedua kakinya terasa sangat lemas hingga akhirnya dia terjatuh di atas trotoar. Dia menangis terisak sambil mengulurkan tangan ke arah mobil yang semakin jauh, hingga benar-benar hilang dari pandangannya.
"Ayah, kenapa ayah tega meninggalkan Raka?"
Bahkan saat ini Raka tidak tahu di mana dia berada. Dia berada di daerah yang sangat asing baginya.
Raka berjalan sendirian di atas trotoar. Dia tidak tahu di daerah mana dirinya berada saat ini, semuanya terasa sangat asing baginya.
Rasanya sungguh tak bisa dipercaya, ayahnya tega meninggalkannya begitu saja, seolah-olah telah membuangnya seperti sampah.
Hari demi hari silih berganti, Raka tinggal di jalanan. Dengan sisa uang kembalian milik ayahnya, demi bisa bertahan hidup, Raka menggunakan uang tersebut untuk membeli roti, untuk hanya sekedar mengganjal perut.
Anak kecil berusia delapan tahun itu sedang memakan sepotong roti dengan sangat lahap. Selama tiga hari terakhir, dia tidur di sudut luar toko yang sudah tutup, dan menumpang mandi di toilet umum yang tidak jauh dari sana.
Namun, Raka tiba-tiba menitikan air matanya saat melihat ada seorang ibu yang sedang berjalan sambil menggenggam tangan anaknya, anak itu terlihat sangat bahagia sekali sambil memakan ice cream.
Di tengah gelapnya malam, Raka menangis terisak-isak. Dia sangat merindukan ibunya yang sudah tiada. Andai saja ibunya masih hidup, dia tidak akan pernah mengalami pengalaman yang sangat menyakitkan seperti ini.
Selama ini, ibunya sangat menyayanginya, akan melakukan apa saja demi kebahagiaan Raka. Tutur katanya yang sangat lembut, mampu menyejukan hatinya. Tapi kini, dia sudah tidak bisa bertemu dengannya lagi.
Padahal Raka sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menjadi anak yang bandel, akan selalu giat belajar, dan tidak akan melakukan sesuatu yang membuat ayahnya marah. Tapi ternyata, ayahnya malah tega meninggalkannya. Sangat membuat hatinya terluka.
Raka terkejut saat menyadari ada dua orang pria berbaju hitam yang sedang mengawasinya secara diam-diam. Mereka berdua saling melirik satu sama lain.
Tanpa berpikir panjang, Raka segera berlari secepat mungkin. Tapi ternyata kedua pria itu malah terus mengejarnya.
"Tolong! Tolong aku!" teriak Raka dengan suara bergetar ketakutan.
Namun langkahnya terhenti saat seorang pria lain tiba-tiba muncul dan berdiri tepat di hadapannya. Pria itu tertawa sinis, "Mau pergi kemana kamu anak kecil?"
Raka tidak bisa berkutik karena saat ini dia sedang dikelilingi oleh tiga orang pria berbadan kekar. Mereka sangat menyeramkan.
...****************...
Sementara itu di kota Jakarta, di sebuah mansion yang sangat megah, terlihat Bobby yang sedang memandangi foto Raka dengan mata berkaca-kaca. Selama tiga hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, terus memikirkan anak kandungnya itu.
"Seharusnya aku tidak meninggalkannya begitu saja dijalanan. Setidaknya aku bisa menitipkan dia ke panti asuhan," lirih Bobby dengan suara pelan.
Saat itu dia tidak bisa berpikir dengan jernih, karena takut Vera marah jika ketahuan dia berniat membawa Bobby ke Jakarta, sehingga tanpa berpikir panjang, dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Raka di Kota Sagara.
Bobby pun menghela napas dalam-dalam. Seharusnya dia bisa melupakan Raka. Karena kini dia telah bahagia dengan keluarganya yang baru. Kehadiran Raka hanya akan menambah masalah di dalam hidupnya.
Tiba-tiba seorang anak berusia sembilan tahun masuk ke ruang kerjanya. Dia adalah Pram, anak tirinya Bobby. Anak kecil itu berkata dengan manja, "Papa, aku ingin mainan baru. Tapi Mama malah marah padaku."
Bobby segera menyembunyikan foto Raka ke dalam laci.
Tak lama kemudian, Vera menyusul masuk Ke dalam ruangan. "Bukannya Mama menentang. Tapi mainan kamu sudah menumpuk lho, Pram sayang. Kemarin kita sudah beli mainan-mainan mahal. Sekarang ingin mobil-mobilan seharga sepuluh juta."
Bobby malah tertawa kecil. "Tidak apa-apa. Belikan saja mainan apapun yang Pram suka."
Pram langsung bersorak gembira sambil meloncat-loncat di lantai, "Horeee! Pram akan punya mobil-mobilan baru."
Bobby ikut bahagia, dia menatap anak tirinya itu dengan lembut, "Pram sudah makan belum?"
Pram menjawab dengan hati gembira, "Sudah, Pa. Tadi Pram makan makanan kesukaan Pram. Ada burger, pizza, dan spagetti."
Bobby pun tersenyum lega. Dia sama sekali tidak memikirkan selama tiga hari ini anak kandungnya tidur dimana dan sudah makan atau tidak. Bahkan saat ini, dia telah diincar oleh orang-orang yang sering melakukan penculikan anak.
Vera mengingatkan Bobby. "Pa, jangan lupa, sebentar lagi kita akan malam bersama dengan keluarga Barack."
Bobby hanya menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma."
Sebenarnya dulu, Bobby pernah berniat menjodohkan Raka dengan putri dari keluarga Barack. Karena bagaimana pun pula, dia bisa sesukses seperti ini berkat bekerjasama dengan Antonio Barack.
Mereka bahkan sudah sepakat untuk menjodohkan anak-anak mereka kelak. Tapi, karena Vera tidak menghendaki kehadiran Raka di kehidupan mereka, Bobby terpaksa harus membuang Raka. Akhirnya, dia memilih menjadikan Pram sebagai pengganti Raka untuk melanjutkan perjanjian tersebut.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!