Di ruang bersalin di sebuah rumah sakit yang terletak di ibu kota, seorang wanita berusia awal tiga puluhan bernama Sarah tengah terbaring lemah di atas brangkar dengan rintih penuh kesakitan. Beberapa waktu lalu, Sarah dibawa oleh suaminya, Chandra ke rumah sakit Eka Kusuma karena mengalami sakit yang teramat sangat pada perutnya.
Setelah melalui pemeriksaan singkat, dokter menyatakan bahwa Sarah telah memasuki pembukaan empat, dan ia harus menunggu beberapa saat lagi sampai siap untuk melahirkan. Hal ini ternyata tidak sesuai dengan perkiraan lahir yang harusnya masih dua Minggu lagi.
“Bawa Ibu Sarah ke ruang perawatan di departemen persalinan dan minta mereka untuk pantau terus kondisinya. Jangan lupa, serahkan laporan ini ke mereka." Ucap sang dokter pada perawat disampingnya sembari menyerahkan kertas berisi catatan kesehatan Sarah. Secara lengkap.
“Baik Dok.” Dua perawat itu mengangguk, lalu segera melaksanakan apa yang dokter itu perintahkan.
Di luar, matahari semakin naik. Udara dipenuhi dengung penantian. Sarah telah berada diruang perawatan bersama Chandra untuk menunggu langkah selanjutnya.
Dalam ruangan itu juga terdapat satu orang wanita, terlihat lebih muda, sangat cantik, dengan kondisi yang sama namun sendirian. Tubuhnya sangat kurus, rambutnya sedikit awut-awutan dan matanya terlihat kelelahan. Wanita itu tak ada yang menjaga, juga tak ada yang menunggui.
Tubuh wanita itu terus bergerak-gerak ditengah rasa sakit, mencoba mencari posisi ternyaman. Kadang ke kiri, tak jarang ke kanan. Sementara desisan menyakitkan terus terdengar dari mulutnya.
Sarah merasa kasihan, namun tak dapat berbuat apa-apa. Karena dia juga dalam kondisi yang sama, kesakitan. Penuh penderitaan. Hingga waktu terus berjalan dan dua jam telah berlalu.
Perawat telah datang dua kali untuk melihat kondisi. Sarah sudah di pembukaan enam. Sedangkan Wanita muda tadi telah dibawa pergi. Hingga sampai saat itu tiba, ia masih sendirian. Padahal kondisi terakhir yang terdengar, wanita itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Banyak tanya dalam benak. Seperti, kemana suaminya? Kemana keluarganya? Kenapa mereka tega membiarkannya melalui semua ini sendiri? Meski begitu, mulut Sarah tetap terkunci rapat. Alasannya jelas, karena mereka bukan teman, juga tidak saling kenal.
Tetapi nalurinya sebagai sesama wanita, merasa hancur melihat itu. Hatinya seolah tercubit keras. Ada denyut menyesakkan yang tidak bisa dijelaskan. Juga rasa kasihan.
Tatapan Sarah jatuh pada Chandra yang kini duduk disamping ranjang. Tak ada kata, namun penuh makna. Rasa syukur yang tak terucap, juga rasa haru yang tak terbendung, tercurah lewat mata.
Sarah tak bisa membayangkan dirinya ada di posisi wanita itu yang harus melakukan semuanya sendiri. Bisa dipastikan ia tak akan kuat, juga tak akan sanggup.
Ternyata hal seperti itu tak hanya dirasakan oleh Sarah, dua perawat sebelumnya juga melayangkan tatapan yang sama, iba. Salah satu dari mereka berkaca-kaca. Satu orang lainnya menguatkan hati yang seolah retak.
Kini rasa sakit yang Sarah rasakan semakin meningkat. Kaki gelisah, mata terpejam erat. Sementara Chandra disampingnya tak tahu harus bagaimana. Perawat yang tadi datang memeriksa, berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
Perasaan sepasang suami istri itu menjadi tak menentu. Mereka tidak tahu apa yang membuat perawat begitu terburu-buru, namun hati mereka berkata itu bukan hal yang baik.
Apa sesuatu terjadi pada bayinya?
"Mas..." Sarah memanggil lirih. Tapi tatapnya menyiratkan ketakutan.
Chandra mendekat. Digenggamnya tangan sang istri yang dingin juga berkeringat dengan erat. Sementara bibirnya terus mengucapkan kalimat penenang. Meski nyatanya hal itu tak sejalan dengan hatinya yang terlanjur gusar.
Beberapa saat kemudian perawat itu kembali bersama seorang dokter. Memasuki ruangan dengan langkah cepat. Dokter perempuan bernama Hartati itu penuh senyum. Matanya begitu teduh. Seolah semuanya akan baik-baik saja karena ia berada disana.
Namun ketenangan itu tak memiliki dampak apapun pada Sarah. Ketakutan yang ia rasakan justru semakin bertambah dan bertambah.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter itu berkata dengan nada yang sangat lembut. “Kondisi bayi dalam perut ibu Sarah saat ini kurang memungkin untuk melahirkan secara normal. Posisi kepala bayi yang seharusnya berada dibawah, malah sebaliknya. Kita harus segera melakukan tindakan operasi. Karena kondisi seperti ini sangat berbahaya bagi ibu dan bayi."
“Sebagai anggota keluarga, bapak harus menandatangi dokumen persetujuan dan melakukan pembayaran agar ibu Sarah dapat segera ditangani."
Saat itu, teknologi belum secanggih sekarang. Pikiran belum sepenuhnya terbuka akan hal-hal baru. Mendengar kata operasi, tentu saja siapapun akan merasa takut. Begitu juga dengan Sarah dan Chandra. Meski resiko kematian karena melahirkan seorang anak rendah, namun bukan berarti tidak ada. Karena baik operasi atau pun tidak, selalu ada resiko yang ditanggung. Apalagi mereka tak ada pengalaman, juga tak ada gambaran tentang itu.
Sarah menatap sang suami yang sedikit linglung. Seolah seseorang telah mencabut nyawa dari raga. Tatapannya kosong, tubuhnya kaku. Sementara mulutnya terdiam membisu.
Kelahiran anak pertama mereka begitu lancar, mudah dan cepat. Dengan cara normal. Ini pertama kalinya mereka ada dalam situasi yang sangat sulit seperti ini.
“Pak…” Dokter yang melihat Chandra melamun, menepuk bahunya. Sedikit lebih keras, namun tak terlihat menyakitkan.
"Bapak harus segera mengambil keputusan. Karena tekanan darah ibu Sarah semakin menurun."
Chandra segera tersadar dan melihat kertas di genggaman tangannya. Kemudian tatapnya beralih pada Sarah yang semakin lama semakin pucat.
Dibawah tekanan, tak ada yang bisa Chandra pikirkan selain keselamatan sang istri. “Silahkan lakukan operasi.”
Dokter itu mengangguk. “Segera siapkan ruang operasi.” Perintahnya tegas dan penuh wibawa.
Para perawat disekitarnya mengangguk. “Baik dokter.”
Segera mereka membawa Sarah keruangan lain, sementara Chandra melakukan pembayaran dan admistrasi.
Ranjang didorong ke tengah. Tubuh Sarah dipindahkan, perlahan. Tak ada pencahayaan selain lampu diatas tubuh wanita itu yang menyala terang. Pisau bedah, gunting dan jarum suntik berjejer dalam wadah. Cairan pembersih, kantung darah, telah tersedia. Layar monitor menyala. Menampilkan grafik yang terus naik turun.
Dokter memakai baju khusus beserta masker dan penutup kepala. Begitu juga Chandra yang sebelumnya diminta menemani dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi.
Sarah merasakan pergerakan dalam perutnya. Yang membuat dadanya sesak dan ia kesulitan bernafas. Rintihannya keluar. Beserta erangan yang mengiringi, namun pelan. Perutnya terasa ditekan kuat. Tak ada yang menyadari, tak ada yang memahami. Keadaan itu cukup lama berlangsung hingga Sarah kembali tenang, dengan nafas tersengal.
Perawat yang baru saja membalik badan setelah melakukan tugasnya, merasa ada keanehan pada kondisi pasien, lalu segera mendekat. Begitu juga dengan Dokter Hartati. Wanita itu segera meraih transduser, lalu meletakkannya pada perut Sarah. Memeriksa keadaan.
Kelopak mata membesar. Tangan sedikit bergetar. Dokter Hartati menatap orang disampingnya dengan takjub dan juga lega. "Lihat, kepala bayi telah kembali ke jalur lahir." Ujarnya.
Kejadian seperti ini memang bisa saja terjadi, bukan sekali dua kali. Bisa juga ditangani tanpa bantuan operasi. Lewat pijatan seperti yang dilakukan para paraji di desa-desa. Namun dokter Hartati bukan ahlinya. Hanya cara medis lah yang bisa ia lakukan. Dan keadaan seperti Sarah baru pertama kali ia lihat. Dalam waktu singkat, seolah disulap. Juga tanpa bantuan apapun.
Sarah yang masih sadar seperti mendapat angin segar. “Dok… apa saya bisa melahirkannya secara normal?" Tanyanya lemah. Suara menghilang berserta angin yang tiba-tiba berhembus kencang.
“Itu tergantung pada kondisi ibu. Jika semua baik-baik saja, anda bisa melahirkannya secara normal. Tetapi jika sebaliknya maka terpaksa operasi harus tetap dilakukan.” Jelas sang dokter.
Sarah menggenggam tangan Chandra. Namun tatapannya tetap mengarah pada dokter Hartati yang tengah berdiri disebelahnya. “Saya ingin melahirkannya secara normal dok.” Ucapnya mantap.
Dokter itu mengangguk. “Baik. Saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ibu bersabarlah."
Baru setelah Sarah dinyatakan baik-baik saja, dokter menyetujui keinginan wanita itu.
***
Sementara itu di lain tempat, setelah mendapat kabar dari Chandra, Mona yang saat itu sedang menunggu anak-anak keluar dari sekolah, sangat terkejut dan juga gembira.
Sejak pagi Sarah memang mengeluh perutnya mulas, juga tak nyaman. Tapi saat Mona menawarkan diri untuk mengantarnya ke dokter, Sarah menolak. Wanita itu berkata Chandra akan pulang hari ini, jadi dia akan pergi bersama Chandra untuk memeriksakan dirinya. Sesuatu yang tidak pernah terjadi karena suami Sarah selama ini dinas diluar kota dan hanya pulang beberapa kali saja. Mona pun tak memaksa. Biarkan mereka menikmati saat-saat membahagiakan itu. Karena kesempatan seperti ini langka untuk keduanya. Tapi siapa yang menyangka kalau bayinya akan lahir saat itu juga?
Jarum jam di pergelangan tangan terus bergerak. Gerbang telah dibuka. Seharusnya anak-anak sudah keluar sejak lima belas menit yang lalu, namun hingga kini tak nampak batang hidung mereka meski bel sudah lama berbunyi. Beberapa ibu yang sedang menunggu anaknya juga menjadi tidak sabar. Mona mengenali satu diantaranya adalah ibu dari Nabila. Bernama Mirna. Mona tak mengenalnya. Hanya pernah mendengar namanya disebut. Itupun tanpa sengaja.
"Kok mereka belum keluar juga yah? Padahal yang lain udah pulang dari tadi?” tanya ibu dari anak lain pada Mirna yang berada disebelahnya.
“Mungkin ada sesuatu yang terjadi dikelas. Karena itu mereka belum keluar.” Balas Mirna.
"Bisa juga karena mereka mengadakan kuis didalam." Jawab ibu yang lain.
Beberapa mengangguk membenarkan, beberapa diam saja. Hal-hal seperti itu memang biasa terjadi. Tetapi biasanya tak selama ini.
Semua orang bertanya-tanya. Semua orang menduga-duga. Entah mana yang benar, entah mana yang salah. Tidak ada yang tahu.
Hingga tak lama setelah itu, apa yang mereka tunggu mulai berhamburan keluar gerbang. Dengan wajah lelah dan kuyu. Mona melihat putranya dan Andra tengah berlari ke arahnya. Membuat senyum terbit dari bibir. Melengkung indah bagai bunga.
"Mama nunggu lama yah?" Tanya Jeffrey sesampainya ia di depan ibunya.
Mona menggeleng. "Enggak, mama baru aja dateng. Kenapa kalian pulangnya terlambat sekali hari ini?" Tanyanya penasaran. Ia ingin mendengar langsung kebenaran itu. Tentang apa yang menahan putranya hingga bermenit-menit lamanya.
"Tadi ada teman kami yang berantem Tante, kaya gini." Bukan Jeffrey yang menjawab, melainkan Andra yang terlampau semangat. Tangan kecilnya terkepal, lalu melayang di udara. Tepat didepan wajah Jeffrey yang tak bergerak, juga tak berkedip. Tapi tak menyentuh.
Mona mundur satu langkah. Menatap ngeri. Juga karena takut terkena pukulan.
Anak itu mengakhiri adegan penuh dramatis itu dengan senyum lebar. Seolah apa yang ia lakukan tadi bukan sesuatu yang menakutkan.
Jadi kira-kira begitulah yang Anton lakukan ketika menghajar Willy dikelas berdasarkan apa yang Andra lihat.
Sambil menepuk-nepuk lengan Mona meminta perhatian, ia kembali berkata. "Terus-terus, mukanya Willy jadi kaya gini." Kali ini sudut bibirnya tertarik ke samping. Sementara matanya menyipit membentuk wajah yang lucu.
Hal itu kontan membuat Mona tertawa. Pipi bulat itu dia tangkup dengan kedua tangan, ditekan-tekan lalu di ciumi dengan gemas. "Lucu banget sih kamu."
Tapi bukannya risih ataupun malu, karena ini masih di lingkungan sekolah dan orang-orang akan melihat itu, Andra justru tersenyum geli. Seakan menikmati itu.
"Jadi tadi bu guru sibuk ngurus mereka dulu. Soalnya willy nya nangis. Terus kami di nasehatin deh sebelum pulang."
Mona mengangguk. Kini dia mengerti. Tapi rasa penasaran lain justru datang. "Tapi kok mereka bisa sampe berantem?"
Andra menyuruh Mona menunduk. Lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Sesuatu yang membuat wanita itu terbelalak tak percaya. "Oh ya? Kalian kan masih kecil."
Jeffrey hanya melihat dalam diam. Tak berniat ikut campur. Matanya mengedar dengan malas, sementara kakinya menghentak tak sabar karena panas.
"Bener Tante. Sampai mata dia biru di sebelah sini, terus bibirnya berdarah disini." Andra menunjuk mata kirinya dan juga sudut bibirnya secara bergantian.
Konflik antar anak-anak, Mona tidak menyangka akan separah itu hingga melukai fisik. Bahkan didepan umum. Bagaimana jika tak ada orang yang melerai? Akan seperti apa kondisi mereka nantinya?
Tiba-tiba Andra kembali menyuruh Mona menunduk, kemudian membisikan sesuatu sambil menunjuk ke suatu arah.
Setelah itu tatapan Mona jatuh pada dua anak laki-laki yang berjalan beriringan bersama guru mereka. Yang satu di kanan dan yang satu lagi di sebelah kiri. Sementara aura permusuhan dari keduanya jelas terasa dari mata yang memicing, juga wajah yang mengeras. Sedangkan tangan keduanya sama-sama terkepal disamping tubuh.
Satu diantara anak itu memiliki mata yang biru di sebelah kirinya, sama seperti yang Andra katakan. Satu lainnya terlihat berantakan dari atas sampai bawah. Rambut acak-acakan, dan seragam sudah tidak serapi anak-anak lainnya. Mereka berjalan ke tempat dimana orang tua mereka tengah menunggu.
Perubahan itu nyata terlihat, terjadi dalam sekejap. Seiring dengan langkah yang semakin dekat. Wajah-wajah yang terlihat garang dan penuh kekuatan, berubah menjadi ketakutan.
Sementara itu ibu-ibu mereka terlihat terkejut bukan kepalang. Raut marah, sedih, juga khawatir bercampur menjadi satu.
Mona mengalihkan kembali tatapannya pada anak-anak. Membungkukkan badannya sedikit agar sejajar dengan mereka. Lalu berkata pelan, takut orang disekitarnya mendengar dan tersinggung.
"Kalian nggak boleh berantem kaya gitu apapun yang terjadi. Apalagi karena cewek. Kalian itu masih kecil, yang harus kalian lakukan adalah belajar dengan rajin. Mengerti?"
"Mengerti ma."
"Mengerti Tante." Jawab kedua bocah itu serempak.
"Bagus." Mona menegakkan kembali tubuhnya, lantas membuka pintu belakang mobil agar anak-anak segera masuk. Setelah itu dia berjalan memutar menuju kursi kemudi.
"Jangan lupa pasang seatbelt nya." Peringat Mona.
"Baik." Lagi-lagi mereka menjawab dengan kompak. Membuat satu senyum kembali terbentuk dari bibir Mona.
Jalanan selalu sama. Padat merayap, tak pernah benar-benar tenang. Pengamen jalanan, pedagang asongan, bergiliran datang saat lampu merah menyala. Karena kasihan, Mona membeli dua botol air mineral dari seorang anak kecil yang terlihat kelelahan. Bulir-bulir keringat berjatuhan membasahi bajunya. Pundaknya turun, penuh beban. Sementara wajahnya meskipun selalu tersenyum tetapi terlihat layu.
"Ini uangnya." Kata Mona sembari menyerahkan uang lima puluh ribuan, membuat anak itu menggaruk kepalanya kebingungan.
"Ini... Nggak ada kembaliannya bu." Ucap anak itu pelan. Ragu-ragu untuk menerima.
Mona tersenyum teduh, menenangkan. "Kembaliannya buat kamu aja."
Mata anak itu melebar karena terkejut. "Beneran?" Tanyanya seolah tak percaya. Mona mengangguk. "Iya."
Lalu sorak kegirangan terdengar, dari mulut kecilnya. Berbanding terbalik dengan mata cerahnya yang kini mulai berkaca-kaca. Badannya yang kurus membungkuk berkali-kali sambil mengucapkan terima kasih. "Terima kasih Bu, terima kasih banyak."
Dari kursi penumpang, Andra yang merasa penasaran menjulurkan kepalanya ke depan dari balik kursi kemudi. Melihat anak itu, lalu melihat pada dirinya sendiri. Kepalanya penuh dengan berbagai macam pertanyaan. Tapi tak tahu harus memulainya darimana.
"Tante beli apa?"
Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut.
"Ohh ini, Tante beli minum tadi." Mona menyerahkan satu botol pada Andra. Yang diterima dengan riang oleh anak itu.
"Wah, kebetulan Andra haus banget tante. Dari tadi pengin minum tapi botol minumnya udah kosong. Terima kasih yah." Nada suaranya begitu lucu, penuh kepolosan. Sama seperti anak kecil tadi. Tetapi sayangnya dengan nasib yang berbeda.
"Iya, sama-sama." Balas Mona.
Netranya beralih pada Jeffrey yang sejak tadi terus menatap keluar. Tanpa suara. Hanya gerak kecil dari kaki yang menandakan kehadirannya.
"Jeffrey... " Panggil Mona. Namun tak ada respon. Entah apa yang sedang anak itu pikirkan hingga tak mendengar.
Andra yang menyadari itu, segera menyenggol bahu Jeffrey pelan. Lalu tersenyum saat bocah yang seumuran dengannya itu menoleh. Dia lalu menunjuk Mona. "Dipanggil Tante dari tadi."
Jeffrey mengalihkan tatap, lalu mengangkat alis. Bertanya tanpa kata. Masih tak mau bersuara.
Mona tak melunturkan senyumnya. Anaknya memang sedikit berbeda. Lebih tertutup, lebih pendiam dari anak lainnya. Tak banyak juga yang menjadi minatnya atau yang membuatnya merasa tertarik. Dan dia sudah terbiasa.
"Minum dulu." Kata Mona.
Jeffrey menerimanya. Tapi tak meminum. Hanya menyimpannya dalam pangkuan. Sementara atensinya kembali menatap keluar. Seolah apa yang ada dibalik jendela begitu menarik dari pada pertunjukan sirkus.
Saat lampu merah telah berganti warna, mobil kembali melaju. Bersisian dengan mobil lain. Saling menyalip. Mona tak menambah kecepatan. Dia lebih suka berkendara dengan tenang dan aman. Hingga mereka tiba di pertigaan, Mona mengarahkan kemudinya ke kiri. Ke arah rumah sakit.
Anak kecil biasanya tak begitu peduli, juga tak begitu mengerti. Asal sampai di rumah, mereka akan senang. Namun Jeffrey sedikit berbeda. Dia yang menyadari keanehan, segera menegakkan tubuh. Lalu menatap ke depan dengan kening mengerut. "Kita mau kemana ma? Ini kan bukan jalan ke rumah."
Andra yang semula asik bernyanyi, seketika menghentikan nyanyiannya. Lagu anak-anak berjudul balon ku ada lima seolah tak penting lagi baginya. Mata penuh binar itu memindai ke sekeliling, dan benar saja. Jalan ini terasa asing dan berbeda. Tak seperti biasa. Tak ada rumah-rumah, tak ada orang-orang yang dia kenal.
Ditempatnya, Mona seolah tersadar, lalu menepuk dahinya pelan. Ia lupa memberi tahu. "Kita mau ke rumah sakit sayang." Ucapnya santai. Seolah kata rumah sakit tak begitu menakutkan.
Jeffrey dan Andra saling bertatapan. Bertukar tanya lewat mata tentang siapa yang ada disana. Dan dengan keadaan yang bagaimana. Namun keduanya tak menemukan jawaban. Sama-sama tak tahu, sama-sama mengangkat bahu.
Mona melirik ke kursi belakang. Wajah penuh kebingungan dari dua bocah kesayangannya itu membuat ia merasa gemas. Karena tak tahan, ia kembali berkata. "Tante Sarah sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Jadi kita mau kesana jengukin."
Mendengar nama ibunya disebut, Andra segera mencondongkan tubuhnya ke depan, penasaran, dengan mata berkaca-kaca.
"Mama kenapa Tante? Mama sakit apa? Kok Andra nggak tahu."
Mona mengelus kepala kecil itu pelan. Tapi merasa kesulitan, karena terhalang kursi. Ia mencoba menenangkan. Tetapi tubuh Andra terus bergerak-gerak tak tenang. Tak ingin membuat anak-anak dilanda cemas, ia segera menambahkan. "Adik Andra kan sebentar lagi akan lahir."
Kalimat itu terdengar ringan, riang, tanpa beban. Tetapi memiliki efek yang luar biasa untuk dua bocah yang mendengarkan. Untuk beberapa saat suasana di dalam mobil menjadi hening. Tak ada yang bersuara. Seolah otak kecil mereka tak sanggup mencerna.
Mona terus menunggu dan menunggu. Namun tak ada yang terjadi. Alisnya tertaut dalam.
Apakah mereka tidak senang? Bukankah ini yang mereka nantikan? Itu lah yang ada di pikiran Mona tentang kebingungannya.
Perlahan, Jeffrey menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan sang ibu. Kemudian dengan suara yang tersendat, dia berkata. "Lily... Jadi Lily akan lahir hari ini ma?"
Lily adalah nama yang selalu Jeffrey sebut untuk memanggil bayi dalam perut Sarah. Entah apa artinya, entah apa alasannya, tak ada yang tahu. Dan semua orang sudah terbiasa. Bahkan tanpa sadar mulai mengikuti.
Andra yang mulai sadar dari rasa terkejutnya pun kini mengarahkan tubuhnya ke depan, bersiap mendengarkan. Tetapi karena tak puas, ia memanfaatkan celah kecil diantara kursi depan untuk berpindah tempat. "Tante tadi bilang apa? Adik Andra udah lahir?" Tatapannya penuh harap.
Mona tersenyum. "Saat ini belum. Tapi semoga secepatnya. Kalian sebaiknya berdo'a, semoga saat kita sampai disana, baby Lily sudah lahir ke dunia."
Selepas mendengar ucapan ibunya, Jeffrey mengangkat kedua tangan sebatas dada. Berdoa dengan mata yang terpejam erat. Sementara bibir tipisnya terus bergerak-gerak lucu. Andra secara otomatis juga melakukan hal yang sama.
Dari spion depan, Mona dapat melihat sebuah senyuman, yang begitu indah, yang begitu tulus, terbentuk dari bibir putranya. Sebuah senyuman yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Entah anak itu sadar atau tidak. Tetapi yang pasti, Mona sangat bahagia.
'semoga kelahiran Lily bisa membawa perubahan serta kebahagiaan untuk keluarganya juga.' doa-nya.
Mobil telah sampai di pelataran rumah sakit. Mona melihat sekelilingnya. Mencoba menemukan tempat yang kosong untuk parkir. Setelah ketemu, dia memarkirkan mobilnya disana dengan perlahan.
Anak-anak segera keluar dengan tidak sabar begitu mobil berhenti bergerak. Memacu kaki kecil mereka secepat mungkin. Meninggalkan Mona sendirian di belakang.
Meskipun begitu, tidak ada ke-niatan untuk mengejar. Sebaliknya, Mona justru berdiam diri bersandarkan kap mobil sambil menyilangkan tangan di depan dada, menatap keduanya dan menggelengkan kepala. Ia yakin dalam hitungan ketiga, kedua bocah itu akan berbalik padanya.
1...
2...
Dan lihat...
Bahkan sebelum Mona selesai menghitung, anak-anak sudah kembali.
"Mama ayo cepat!! Kita mau lihat Lily!!"
Tangan Jeffrey bergerak meraih lengan Mona, lalu menariknya. Tubuh kecilnya bergerak-gerak gelisah, wajahnya menjadi tak sabar. Begitu juga dengan Andra yang segera menggenggam tangan Mona yang lain. Keduanya begitu bersemangat. Membuat Mona sangat kesulitan.
Koridor rumah sakit terasa dingin dan panjang. Diterangi lampu neon yang memancar sampai ke sudut-sudut ruangan. Orang-orang sibuk berlalu lalang. Sementara doa-doa terus dipanjatkan. Tentang harapan, tentang kesembuhan dan keikhlasan.
Mona menahan langkah Jeffrey dan Andra, lalu menghentikan seseorang untuk bertanya. "Maaf mengganggu sebentar, ruang operasi ada dimana yah?"
"Itu, dari sini kelihatan. Lurus aja, lalu belok sedikit."
Mona mengangguk mengerti. Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera membawa anak-anak kesana. Namun ada yang aneh. Disana Mona tidak menemukan Chandra yang menunggu di depan. Yang ada hanya orang-orang yang tidak ia kenal. Sementara ruang operasi lain sedang tidak digunakan.
"Tunggu sebentar, kalian jangan kemana-mana. Mama mau telpon Om Chandra dulu."
Anak-anak menanggapi dengan anggukan. Begitu penurut, begitu pengertian. Mona mengambil handphone dalan tasnya. Berniat mencari nomor Chandra disana. Tetapi saat layar menyala, ada satu pesan dari pria itu yang datang 1 jam lalu. Yang tak ia sadari.
"Mama-nya Andra nggak disini ternyata. Dia di ruang bersalin. Kita salah tempat."
"Ayo kita kesana." Ajak Mona lagi. Anak-anak mengikuti. Berjalan di belakang sambil bergandengan tangan. Lebih tepatnya Andra yang memegangi tangan Jeffrey karena ia ketakutan saat melintas di depan kamar mayat.
Didepan ruang bersalin, pintu masih tertutup rapat. Lampu yang menyala di dalam, membias melalui jendela kaca yang tertutup tirai. Tak ada celah. Hanya siluet samar yang terlihat.
Mona menyuruh anak-anak duduk sembari menunggu, namun mereka menolak. Keduanya sepakat untuk berdiri saja di dekat pintu. Jadi ketika baby Lily keluar, mereka bisa langsung melihatnya.
Karena tak ingin memaksa, Mona perlahan mundur. Lalu mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia. Usianya sudah semakin bertambah, ia tak kuat lagi berdiri lama-lama. Namun tetap, matanya tak lepas dari mereka. Terus mengawasi.
Waktu terus berlalu, menit demi menit terlewati. Tak ada tanda-tanda bahwa pintu itu akan terbuka. Jeffrey dan Andra menjadi tak sabar. Wajah penuh semangat mereka saat awal datang, telah berubah menjadi gurat lelah. Lalu perlahan tubuh mereka merosot ke bawah. Terduduk di lantai sambil bersandar ke dinding.
"Ma, Tante Sarah kenapa lama banget di dalam?"
"Dulu mama juga lama di dalam situ pas Jeffrey lahir. Jeffery nya nakal nggak mau keluar dari perut mama." Jelas Mona.
"Jadi Lily nakal juga yah Tante kayak Jeffery?" Tanya Andra sembari berjalan kearah Mona. Lalu menempatkan diri disampingnya.
Mona meringis, sangat sulit memang memberikan pengertian pada anak-anak. Dia harus berpikir lama untuk mencari bahasa yang mudah di mengerti oleh mereka serta bahasa yang mendidik.
"Mungkin Lily masih betah di dalam perut mama Andra karena disana nyaman dan hangat. Makanya nggak keluar-keluar."
Mona tidak benar-benar tahu. Proses kelahiran begitu kompleks, dengan kendala yang berbeda. Dalam kondisi Sarah, Chandra tak memberi tahu detailnya.
"Apa waktu Andra lahir juga begitu Tante?"
Mona menggeleng. "Proses kelahiran Andra malah cepet banget. Pas Tante dateng ke rumah sakit, Andra nya udah lahir. Mungkin saat itu Andra sudah nggak sabar lihat dunia."
Anak laki-laki itu menganggukkan kepala. "Soalnya Andra nggak nakal kaya Jeffrey yah Tante." Ucapnya bangga. Di sertai senyum meledek.
Mona terkekeh. Lalu mengelus rambut anak itu pelan. Penuh sayang. Sementara Jeffrey sendiri masih diam di dekat pintu, dengan wajah datarnya yang tak berubah.
Saat mereka sedang asik mengenang masa lalu, datang seorang laki-laki dengan langkah tergesa-gesa menghampiri mereka. Tubuhnya tinggi dan tegap. Diselimuti jas. Dasi menggantung rapi dilehernya. Rambutnya licin. Hasil dari Pomade mahal yang menakjubkan. Sementara nafasnya terengah-engah. Pria itu berdiri tepat di depan Mona.
"Gimana keadaan Sarah?"
Mona menghentikan ceritanya. Kemudian menatap sang suami.
"Sini, duduk dulu Mas." Mona menggeser tubuhnya begitu melihat wajah lelah Rama. Begitu juga Andra. Memberi ruang yang cukup untuk pria itu duduk.
"Mana Jeffrey?" Tanya Rama ketika tak melihat sang putra.
Mona menunjuk kearah dimana Jeffrey berada. Anak itu terlihat mengantuk. Kepalanya beberapa kali hampir jatuh kepangkuan.
"Sini nak..." Perintah Rama.
Jeffrey menurut. Berjalan dengan pelan menghampiri ayahnya. Langkahnya terlihat malas dan tidak stabil. Sementara matanya berat terasa. Terbuka dan tertutup berkali-kali, mencoba menjaga kesadaran.
Saat jarak semakin dekat, tubuh Jeffrey hampir ambruk. Rama segera menangkapnya, kemudian membawanya ke pangkuan.
"Hati-hati, ngantuk yah?"
Tak ada jawaban, hanya sebuah anggukan sebagai balasan. Rama membelai kepala itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Membuat rasa kantuk semakin tak tertahankan.
"Kalian sudah makan?"
Rama dapat merasakan gelengan kepala Jeffrey di ceruk lehernya. Dan juga suara lirih ditengah kesadaran yang hampir hilang. "Belum."
Ditempatnya, Andra menatap Rama dengan kepala yang dimiringkan, karena tubuh pria itu terhalang tubuh Mona. Lalu menggeleng juga. Sementara tangan kecilnya mengelus perut yang berbunyi keras. "Belum Om."
"Maaf mas, kami asik bercerita. Jadi lupa." Ucap Mona penuh sesal. Kepalanya tertunduk dalam.
Rama kembali mengangkat Jeffrey, kemudian mendudukkannya ditempat ia duduk tadi. Anak itu merasa terusik, tetapi segera mencari tempat ternyaman untuk melanjutkan tidurnya.
"Tunggu disini sebentar, aku mau cari makanan. Kasian anak-anak."
Mona mengangguk. "Ya mas. Tolong belikan juga untuk Sarah dan Chandra."
Rama mengangguk. Setelah mengelus rambut istrinya, ia berlalu meninggalkan mereka.
***
Di dalam ruangan, Sarah masih terus mengejan. Berkali-kali menarik nafas sesuai dengan arahan dokter, lalu mendorongnya sekuat tenaga. Keringat sebesar biji jagung sudah membasahi tubuhnya yang lemas. Sementara tangannya mencengkram lengan sang suami setiap kali dia merasa kesakitan.
"Ayo coba sekali lagi ibu. Sesuai arahan saya. Tarik nafas yang dalam, lalu dorong."
Sarah melakukannya lagi, dengan nafas tersengal-sengal. Ditengah kondisi tubuhnya yang lemah, rasa putus asa itu datang. Perasaan ingin menyerah itu hadir perlahan-lahan. Namun bayangan wajah lucu seorang bayi perempuan menghiasi angan-angannya, juga bisikan penuh cinta dan semangat dari sang suami membuat ia kembali dalam kesadaran penuh.
"Ibu kepala bayinya sudah keluar, ayo sedikit lagi." Kata sang dokter.
Mendengar itu, semangat Sarah semakin membumbung tinggi. Ia mengejan sekali lagi. Dengan kuat. Hingga beberapa saat kemudian, bayi Lily berhasil keluar dengan tangisan yang kencang.
Air mata bahagia mengalir ditengah rasa lelah yang melanda. Senyum merekah. Kebahagiaan itu terasa nyata, diiringi rasa syukur yang tak ada habisnya. Dokter memotong tali pusar Lily, lalu meletakkannya diatas dada Sarah.
"Makasih sayang, sudah berjuang selama ini." Ucap Chandra.
Satu kecupan mendarat tepat di dahi, lalu perlahan turun ke hidung dan kedua pipi. Sudut bibir Sarah tertarik keatas, menampilkan senyum lemah. Sementara sebelah tangannya perlahan terangkat, kemudian mendarat tepat ditubuh Lily, berusaha memegangi.
Kini tatapan keduanya terarah pada bayi mungil diatas dada yang terus bergerak-gerak gelisah, seolah ingin meraih dunia, lalu perlahan-lahan menjadi tenang dengan sendirinya. Matanya terbuka, jernih dan berkilau seperti mutiara. Hidungnya mancung. Bibirnya mungil, selalu tersenyum. Bayi itu seperti keajaiban yang membawa kebahagiaan.
"Dia cantik, kaya kamu." Kata Chandra sembari menatap Sarah penuh cinta.
Tak ada balasan, namun rona merah yang tercipta di kedua pipi cukup untuk menjadi jawaban.
Sayang, ketenangan dan kebahagiaan itu tak bertahan lama saat tubuh Lily tiba-tiba mengalami kejang. Semua orang panik. Tangis Sarah pecah. Dokter Hartati segera berlari, lalu membawa Lily bersamanya untuk melakukan pemeriksaan.
"Dia kenapa dok? Kenapa tiba-tiba seperti itu?" Tanya Sarah cemas. Berusaha bangkit. Matanya terus menatap tak berkedip, nafasnya tercekat, jantungnya berdetak terlalu cepat. Sementara air mata sudah mengalir deras membasahi pipi. Disampingnya, Chandra mencoba untuk menenangkan. Memeluk dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Bayi anda mengalami Asfiksia yaitu kekurangan oksigen saat lahir yang disebabkan oleh cairan ketuban yang tertinggal di paru-paru. Hal ini ditandai dengan detak jantung yang melambat, kesulitan bernafas, lemah dan tidak responsif serta warna kulit yang membiru."
Dokter Hartati segera melakukan penanganan cepat. "Bawa dia ke NICU untuk incubator."
"Baik dok." Perawat dengan sigap membawa bayi itu keluar. Tak lupa ia membungkus tubuhnya dengan selimut hangat.
Dokter kembali menghampiri Sarah. "Bapak dan ibu tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja. Kami akan melakukan penanganan yang terbaik."
Chandra mengangguk. Sementara Sarah masih dalam tangisnya. Tak mampu menjawab.
"Tolong dok..."
***
Diluar ruangan, Jeffrey seketika terjaga dari tidurnya saat mendengar suara pintu terbuka. Seorang perawat keluar dengan tergesa-gesa. Langkahnya cepat. Dalam gendongan, seorang bayi terlihat meringkuk nyaman, matanya terpejam. Di hidungnya terdapat kantung oksigen yang terpasang.
Jeffrey melihatnya, Andra juga melihatnya, tapi keduanya tak berpikir apa-apa. Hanya pikiran polos anak-anak yang mengira Lily akan dibawa pergi atau diculik. Sebaliknya, dua orang dewasa di kanan dan kiri mereka sudah merasakan perasaan tidak enak, aneh dan mengguncang.
"Tante, adik Andra mau di bawa kemana?" Tangan kecilnya terkepal dipangkuan, sementara tatapannya tak lepas dari perawat itu. Sangat waspada.
Mona menggeleng. "Tante juga nggak tahu."
Tidak sepenuhnya. Bagaimanapun ia tidak sebodoh itu untuk melihat keadaan. Mona yakin ada sesuatu yang tidak beres tentang kondisi Lily tapi ia tidak tahu pasti. Mona hanya bisa menduga-duga dalam hati. Dan kegelisahan itu, tidak bisa ia katakan pada Andra. Anak itu pasti akan sangat khawatir nantinya.
Teringat kembali pada saat mereka di mobil tadi. Saat Mona mengatakan bahwa Sarah tengah dirawat di rumah sakit, anak itu begitu panik.
"Om..." Panggil Andra dengan raut putus asa. Tangan kecilnya menarik-narik ujung baju Rama.
Rama menatapnya hampa. Tak tahu harus menjawab apa. "Om juga kurang tahu."
Tepat pada saat itu, Chandra keluar. Dengan tubuh lemas nya yang bersandar pada pintu. Wajahnya terlihat sangat lelah. Sementara matanya menatap kosong ke depan. Mona dan Rama yang melihat itu segera mendekat.
"Gimana keadaan Sarah?"
"Bagaimana kondisi Sarah sekarang?"
Keduanya kompak bertanya. Seolah mereka memang ditakdirkan bersama sejak lama. Bahkan mungkin dalam kehidupan sebelumnya.
"Papa, Lily mau dibawa kemana?" Andra juga ikut mendekat. Tangan kecilnya melingkari pinggang ayahnya. Kepalanya mendongak, meminta jawaban.
Chandra menatap satu demi satu orang disekelilingnya. Lalu senyum samar terbit meski tak sampai mata. Satu tangannya membelai kepala sang putra, sementara tangan yang lain memijat kepala.
"Sarah baik-baik saja. Dia sedang di bersihkan. Tapi anak kami..." Ucapannya terhenti. Ia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Dadanya sesak, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ada apa dengan bayi kalian? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Mona khawatir. Dilihatnya Andra dibawah sana. Anak itu sedang tidak fokus dengan pembicaraan mereka. Netranya sedang tertuju kearah lain. Mungkin Jeffrey sedang melakukan sesuatu yang membuatnya penasaran. Saat itu ia baru merasa tenang.
Tapi tidak, dugaan Mona salah besar. Andra mendengarnya. Bahkan dengan sangat jelas. Fokusnya memang tidak kesitu, tapi ia punya telinga. Dan itu berfungsi dengan baik.
Ditariknya nafas panjang, lalu dihembuskannya secara perlahan. Setelah lebih baik, Chandra kembali melanjutkan ucapannya sesuai dengan apa yang di katakan dokter tadi. Dengan rinci tanpa terlewati. Tentu saja dengan suara lirih dan tidak dimengerti anak-anak.
Tanpa mereka sadari, Jeffrey perlahan-lahan menghilang dari pandangan. Meninggalkan tas sekolahnya diatas kursi. Andra yang melihat itu, segera melepaskan pelukannya di kaki sang ayah, lalu mengikutinya dari belakang.
Setengah berlari, Andra mencoba menyamakan langkah. Nafasnya terengah-engah. Kakinya sakit dan pegal, tetapi tak menyerah. Setelah dirinya berhasil sampai di samping Jeffrey, ia segera meraih seragamnya. "Kamu mau kemana Jeff?"
Jeffrey berhenti. Menatap Andra lalu menatap perawat yang membawa Lily pergi, yang kini jaraknya semakin jauh. Tak ingin kehilangan jejak, ia segera berkata. "Nggak usah banyak tanya, kamu ikut aja."
Andra kebingungan, tetapi tak menolak. Akhirnya mereka berlari bersama, beriringan. Menyusup diantara orang-orang. Kaki-kaki kecil itu bergerak cepat, lincah, menghindari tabrakan. Saat perawat itu berbelok ke kiri, mereka akan ke kiri. Saat perawat itu berbelok ke kanan, mereka juga akan ke kanan. Hingga saat perawat itu masuk ke dalam sebuah ruangan, langkah keduanya tertahan.
"Kalian mau apa?" Tanya seseorang dengan galak. Alisnya terangkat tinggi.
Kedua anak itu mundur satu langkah, lalu mendongak. Andra ketakutan melihat orang itu. Ia merasa seolah akan dimakan hidup-hidup. Tubuh kecilnya ia sembunyikan dibalik tubuh Jeffrey sembari memegangi ujung bajunya.
"Kita mau lihat Lily sus." Balas Jeffrey tenang. Suaranya mantap dan tegas. Tak terlihat gentar sedikitpun. Seakan ketenangan itu memang bagian dari dirinya.
Orang itu menyipitkan mata. Merasa tak mengerti tentang Lily yang dimaksud. Tetapi karisma yang dimiliki anak itu berhasil membuatnya terpesona.
"Siapa itu Lily?"
Jeffrey memiringkan kepala. Kemudian menunjuk sesuatu di balik punggung orang itu. Yang membuat orang galak bernametag Susan itu akhirnya menoleh. Tatapnya jatuh pada seorang perawat yang tengah menaruh bayi ke dalam box incubator.
"Bayi itu?" Nadanya telah berubah. Tak segalak tadi.
Jeffrey mengangguk. Disampingnya, Andra baru menyadari alasan dibalik Jeffrey yang terus lari-lari. Ternyata untuk ini. Untung saja dirinya terus mengikuti. Jika tidak, ia akan melepaskan kesempatan untuk bertemu adiknya, Lily.
"Kenapa dia di taruh disitu sus?" Tanya Jeffrey.
Susan membawa anak-anak itu kepinggir, lalu menutup pintu. Merasa apa yang akan mereka bicarakan akan menganggu bayi-bayi di dalam. Dari balik jendela kaca yang rendah, ia mulai menjelaskan sesuatu.
"Bayi itu mengalami Asfiksia, jadi harus ditaruh disana. Dia akan dirawat oleh kami, supaya cepat sembuh. Jadi kalian tidak perlu khawatir." Suaranya melembut.
Mata Jeffrey berkedip-kedip, tetapi wajahnya tak setegang tadi. Sementara Andra tertunduk lesu. Ia tak paham apa itu Asfiksia, juga tak mengerti. Tapi satu hal yang pasti, adiknya sedang sakit dan perlu diperiksa dokter. Hal itu membuatnya sangat sedih.
"Apa kita boleh lihat Lily sus?"
Susan mengangguk. Senyumnya terukir indah. "Boleh, tapi dari sini saja. Bukankah masih keliatan? Liat tuh, dia lagi tidur."
Jeffrey dan Andra menempel pada kaca, sedikit berjinjit. Lily terlihat sangat kecil. Tubuhnya kecil, tangan dan kakinya juga kecil. Bahkan jika Jeffrey menggenggam tangan itu dengan tangannya sendiri, masih ada ruang yang tersisa. Begitu lucu, begitu mungil. Sesekali Lily akan bergerak dalam tidurnya, lalu kembali tenang. Entah apa yang telah mengganggunya.
Di dalam ruangan, setelah perawat meletakkan Lily ke dalam box, kemudian ia melakukan pemeriksaan, mengatur suhu dalam incubator, memberikan oksigen dan mengatur kelembaban. Saat dirasa tak ada yang terlewat, ia berbalik. Kemudian menjerit dengan keras. "AAAaaaa!!!!"
Perawat itu segera menutup mulutnya. Menyadari tindakannya tak dibenarkan. Langkahnya pelan tapi pasti. Mengelilingi setiap box tanpa terlewati. Untungnya semua masih tenang. Perawat itu menghela nafas lega.
Dengan kesal, dengan kaki yang menghentak keras, perawat itu segera keluar. Lalu menatap tajam pada tiga orang yang masih menempel pada jendela layaknya cicak.
"Kalian sedang apa?!!" Tanyanya lantang. Dengan kedua tangan berada di pinggang. Memberikan kesan galak yang menakutkan.
Ketiganya menoleh serempak. Tetapi hanya sejenak. Karena sedetik kemudian tatapan mereka kembali terarah pada Lily. Susan kembali menjawab saat anak-anak bertanya.
Merasa semua orang mengabaikannya, perawat itu mendekat. Lalu menarik lengan rekannya sedikit kasar. "Kamu lagi ngapain sih disitu?"
Susan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa bersalah. "Ohh ini, lagi nemenin anak-anak ini lihat adiknya, sama jelasin sesuatu ke mereka."
"Kamu nggak ada kerjaan?" Tanya perawat itu.
Susan melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Kemudian mendesah panjang. "Tentu saja ada. Tapi..."
"Ayo pergi, bisa kena tegur kamu." Perawat itu memperingatkan.
"Tapi anak-anak itu gimana?"
"Udah biarin aja. Nanti aku bilang bagian informasi biar orangtua mereka jemput kesini."
Dengan pasrah, Susan pun pergi dari sana setelah diseret paksa.
***
Kembali pada orangtua Jeffrey dan Andra.
Mona yang sedari awal hanya menyimak obrolan, mengedarkan pandangan. Awalnya ia tidak merasakan apapun. Netranya melihat dengan asal kemana saja. Namun semakin lama, perempuan itu merasa ada sesuatu yang janggal.
Diperhatikannya lagi area sekitar, dan... Jantungnya mencelos saat ia tak melihat Jeffrey dimanapun. Mona mengalihkan tatapnya untuk bertanya pada Andra tentang keberadaan putranya, namun bocah itu juga tak ada.
Mona mundur perlahan, mencoba tak menarik perhatian. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sebisa mungkin mengontrol diri agar tak panik.
Di bukannya pintu kamar mandi, berharap Jeffrey ada disana sedang buang air kecil atau sedang melakukan apapun. Namun tak ada. Tempat itu kosong. Dalam keadaan lampu yang mati. Mona juga mencoba mencarinya disekitar. Sayangnya di tempat itu tak ada siapa-siapa. Hanya ada keluarga pasien atau tenaga medis yang sesekali lewat.
Kemana mereka?
Kali ini ketenangan sudah tidak bisa Mona dapatkan. Ia panik. Tangannya berkeringat dingin. Kakinya dengan cepat kembali menghampiri sang suami yang masih setia berbincang, lalu menarik-narik ujung bajunya. Membuat Rama merasa heran melihat tingkah istrinya.
"Kenapa Na?"
"Mas anak-anak nggak ada." Kata Mona dengan suara bergetar. Padahal ia yakin Jeffrey masih tertidur tadi. Dan ia masih melihat Andra bergelayut manja. Tapi kenapa sekarang tidak ada?
"Hah?"
Chandra yang sadar lebih dulu, langsung bereaksi. "Apa maksudnya Na?"
"Anak-anak menghilang. Mereka nggak ada dimanapun mas."
"Ini..." Kalimatnya menggantung di udara saat dirinya tak lagi merasakan pelukan hangat sang putra di pinggangnya. Sejak kapan? Kenapa dia tidak sadar?
"Bukannya Jeffrey lagi tidur." Kata Rama.
"Nggak ada mas, lihat." Tunjuk Mona pada kursi panjang dari besi khas rumah sakit yang tadi mereka duduki.
Tatapan Rama secara otomatis tertuju kesana. Dan benar saja, kursi itu kosong. Hanya ada barang-barang mereka yang tertinggal.
"Aduh gimana ini?"
"Sekarang kamu tenang dulu. Aku yakin mereka masih di sekitar rumah sakit ini. Anak-anak biar aku sama Chandra yang cari." Ujar Rama menenangkan.
Chandra mengangguk. "Kamu di sini aja, jagain Sarah."
"Ingat!! Jangan panik. Terlihatlah biasa. Jangan sampai Sarah cemas." Peringat Rama.
Mona mengangguk. Ia cukup tahu bagaimana kondisi emosional perempuan yang habis melahirkan karena pernah merasakannya.
Sesuai kesepakatan, akhirnya kedua pria itu pergi meninggalkan Mona di depan ruang bersalin. Rama ke sisi barat, sedangkan Chandra ke sisi timur.
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!