Indonesia
NovelToon NovelToon

Jerat Sumpah Sang Mantan

Bab 1 Bertemu Masa Lalu

Bismillah, karya baru. Semoga banyak peminatnya.

Empat Tahun Yang Lalu

     Dunia Saliha terasa runtuh tepat di depan gerbang perumahannya. Di hadapannya, Daviko Arfa Belanegara berdiri tegak dengan seragam loreng yang masih melekat, namun sorot matanya yang biasa teduh kini berubah menjadi badai yang mematikan.

​ "Mas Viko, ini tidak seperti yang kamu lihat. Dia hanya teman sekantorku yang mengantar pulang karena ban motorku bocor," alasan Saliha bergetar, berusaha menggapai lengan pria itu.

     ​Daviko menepisnya dengan kasar. Pria berbaju loreng dengan pangkat Letnan itu menatap Saliha dengan tajam, matanya memancarkan kemarahan.

     "Teman? Teman tidak akan membelai rambutmu di dalam mobil selama lima menit sebelum kamu turun, Saliha!" Suaranya menggelegar, mengalahkan suara petir yang menyambar di langit Jakarta.

     ​"Aku menunggumu selama dua tahun. Aku memintamu menikah, memintamu menjadi pendamping hidupku, tapi kamu menolak dengan alasan masih sangat muda dan tidak ingin melangkahi kakakmu. Tapi, sekarang aku tahu alasan sebenarnya. Kamu hanya menjadikanku cadangan sementara kamu mencari yang lebih mapan dari seorang tentara rendahan sepertiku, kan?"

     ​"Demi Allah, Mas, tidak!" sangkal Saliha mulai menangis.

     ​Daviko mundur selangkah. Tatapannya dingin, sedingin es kutub. Ketegasan seorang prajurit kini bercampur dengan luka hati yang menganga.

     "Dengarkan aku baik-baik, Saliha. Hari ini aku melepaskanmu. Tapi ingat satu hal...." Daviko mendekat, membisikkan kata-kata yang lebih tajam dari bayonet di telinga Saliha.

     ​"Kamu tidak akan pernah bahagia. Hidupmu akan selalu merasa kurang, dan kamu akan terus terbayang-bayang wajahku sampai kapan pun. Kamu tidak akan menemukan kedamaian, kecuali kamu mendapatkan maaf dariku. Dan camkan ini...maaf itu tidak akan pernah datang."

     ​Daviko berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Saliha yang bersimpuh di atas aspal basah, meraung dalam tangis yang tak terdengar oleh deru mesin mobil Daviko yang menjauh.

***

Perumahan Sederhana Pinggiran kota

     ​Empat tahun berlalu, dan kutukan itu seolah menjadi nyata bagi Saliha.

​Kehidupan Saliha hancur perlahan. Kariernya di agensi periklanan berakhir dengan pemecatan sepihak karena performanya menurun akibat depresi.

     Tagihan kos menumpuk, dan puncaknya, kekasihnya yang baru saja ia harapkan menjadi pelabuhan terakhir justru berselingkuh tepat saat Saliha berada di titik terendahnya.

     ​Stres yang luar biasa, anehnya memicu reaksi fisik yang tidak masuk akal pada tubuhnya. Mungkin karena efek samping obat penenang dosis tinggi yang ia konsumsi secara sembunyi-sembunyi, kelenjar di dadanya terus memproduksi cairan yang seharusnya hanya milik seorang ibu. Dadanya terasa sesak, sakit, dan panas.

     "Liha, sepertinya kamu stres karena akhir-akhir ini bertubi-tubi masalah menimpamu. Kekasih pergi dengan wanita lain, dikeluarkan pekerjaan, kosan menunggak. ASImu tiba-tiba keluar, karena kamu mengkonsumsi obat penenang tanpa aturan dokter. Semua itu, aku yakin akibat dari tekanan hidupmu selama ini," hibur Helda sang sahabat, beberapa hari yang lalu.

     Empat hari berlalu, dan kini Helda menemuinya. Ia memberi kabar mencengangkan sekaligus sebuah solusi.

     ​"Liha, ini gila. Tapi ini kesempatan buatmu. Lihat lowongan kerja ini." Helda, satu-satunya sahabat yang tersisa, menyodorkan ponselnya.

     "Dibutuhkan ibu susu untuk bayi baru lahir. Gaji besar, tempat tinggal disediakan. Bayinya malang, ibunya meninggal tepat setelah pulang dari rumah sakit."

     ​Saliha menatap layar ponsel itu dengan mata sembab. Ia butuh uang. Ia butuh tempat bernaung. Dan mungkin, merawat bayi bisa menyembuhkan luka batinnya sendiri.

     "Aku ambil lowongan itu, Hel. Aku butuh uang," ucapnya sesaat setelah ia membaca lowongan kerja di berita online.

     ​Kini, Saliha sudah berdiri di depan sebuah gerbang hitam tinggi. Jantungnya berdegup kencang. Ia merapikan blus longgarnya yang mulai terasa lembab di bagian dada. Dengan tangan gemetar, ia menekan bel.

     ​Pintu utama rumah besar itu terbuka. Seorang pria keluar dengan langkah tegap. Ia mengenakan kaos hitam ketat yang menonjolkan otot lengannya, kontras dengan wajahnya yang terlihat sangat lelah dan kuyu. Di gendongannya, ada sebuah bundel kain bedong berwarna biru yang mengeluarkan tangisan halus dan serak.

     ​Saliha terpaku. Oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis.

     ​Sosok itu bukan orang asing. Sosok itu adalah Daviko Arfa Belanegara. Dia sang mantan kekasih. Pria yang empat tahun lalu menyumpahinya di bawah hujan.

     ​Daviko berhenti melangkah tepat tiga meter di depan Saliha. Ia menyipitkan mata, menatap sosok wanita di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

     Tatapannya tidak lagi berisi amarah meledak-ledak, melainkan kebencian yang tenang dan mendalam.

     ​"Saliha? Kamu Saliha, kan? Perempuan yang dulu pernah...." Suara Daviko rendah, tapi berwibawa. Ucapannya terputus, seolah sedang mengingat-ingat atau mungkin sedang mengabsen kesalahan demi kesalahan Saliha di masa lalu.

     ​Saliha tidak bisa bersuara. Ia hanya mampu menatap bayi kecil yang menangis kehausan di pelukan Daviko.

     ​Daviko mendengus remeh, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya yang kaku. "Jadi, setelah empat tahun menghilang, kamu datang ke rumahku... melamar menjadi 'pabrik susu' untuk anakku?"

     ​Ia melangkah maju, membuat Saliha terdesak ke pilar gerbang. "Dunia memang sempit, atau mungkin kutukanku sedang bekerja secepat itu padamu. Kamu terlihat menyedihkan, Saliha. Apa pria yang dulu kamu bela itu tidak bisa memberimu makan sampai kamu harus menjual air susumu padaku?" lanjutnya tegas dan penuh tekanan.

     ​Saliha menunduk, air matanya jatuh tanpa permisi. "Mas Viko... bayimu... dia butuh ASI," selanya berbisik lirih.

     "Apa katamu? Mas Viko? Jangan sebut panggilan itu lagi. Aku muak mendengarnya. Panggil aku menyesuaikan di mana tempatmu kini berada," tegasnya.

     Saliha paham, ia memang tidak sepantasnya memanggil pria di depannya dengan sebutan Mas Viko. Mas Viko adalah masa lalu yang sudah ia sia-siakan.

     "Baik, Pak. Saya paham," ujarnya akhirnya.

     Daviko tidak menyahut, baginya apapun panggilan yang disematkan wanita di hadapannya ini, terdengar memuakkan.

     ​Tangis bayi itu mengeras, seolah merasakan ketegangan di antara dua orang dewasa di hadapannya.

     Daviko menatap bayinya sebentar, lalu kembali menatap Saliha dengan tatapan menghakimi. Ada pergulatan antara ego seorang pria yang terluka dan kebutuhan seorang ayah yang putus asa.

     ​"Masuk," perintah Daviko dingin. "Jangan berpikir aku menerimamu karena aku memaafkanmu. Aku menerimamu karena anakku lapar, dan kamu hanyalah pekerja yang kebetulan lewat. Ingat posisimu, Saliha. Kamu di sini bukan sebagai tamu, apalagi masa lalu. Kamu hanya penyambung nyawa anakku."

     ​Daviko berbalik, meninggalkan Saliha yang masih mematung.

     Saliha menyapu air matanya, menghirup nafas panjang yang terasa sesak. Ia melangkah masuk ke dalam rumah itu, masuk kembali ke dalam hidup pria yang pernah ia hancurkan, membawa rahasia dan luka yang sama besarnya.

Bab 2 Sisa Luka Dari Botol Susu

    Sore itu, langit di atas kota Depok tampak muram, selaras dengan perasaan Saliha yang terjepit di antara harga diri dan kebutuhan perut.

    Ia duduk di kursi kayu di pojok ruang tengah rumah besar milik Kapten Daviko. Rumah itu berbau harum kayu cendana bercampur aroma bayi yang khas, tapi bagi Saliha, udara di sini terasa mencekik.

    Setiap kali matanya tak sengaja menatap foto pernikahan Daviko yang masih terpajang di sudut ruang, menampilkan Daviko yang gagah dengan seragam upacara bersanding dengan seorang wanita cantik yang tampak begitu lembut, hati Saliha seperti disayat sembilu.

​Ia merasa seperti pencuri. Pencuri yang masuk ke ruang suci milik wanita yang telah tiada.

    "Kenapa diam saja? Anakku sudah kenyang, bukan berarti kamu bisa melamun di rumahku." Suara bariton itu menggelegar, memecah keheningan.

     ​Saliha tersentak. Daviko berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap di dada. Pangkat Kapten yang kini tersemat di bahunya seolah menambah jarak ribuan kilometer di antara mereka.

     Pria itu tidak lagi memandangnya dengan cinta yang dulu meluap-luap, melainkan dengan tatapan penuh penghakiman.

     ​"Maaf, Pak Kapten. Saya hanya...."

     ​"Saliha," potong Daviko cepat. "Jangan panggil aku seperti itu. Itu terdengar menjijikkan keluar dari mulutmu. Panggil saja seperti seharusnya seorang majikan dipanggil."

     ​Saliha menelan ludah yang terasa pahit. "Baik, Pak."

     ​Daviko melangkah mendekat, langkah sepatunya berdentum di atas lantai marmer. Ia berdiri tepat di depan Saliha, memberikan bayangan tubuh yang tinggi besar dan mengintimidasi.

     ​"Pekerjaanmu di sini hanya sampai jam empat sore setiap harinya. Aku tidak ingin kamu berada di rumah ini saat malam tiba. Meskipun aku membencimu, aku masih punya nurani. Aku sadar kamu punya keluarga, punya suami yang mungkin menunggumu pulang, dan punya anak sendiri yang butuh asupanmu," ucap Daviko dengan nada dingin yang datar.

     ​Dada Saliha berdenyut nyeri mendengarnya. Suami? Anak? Ingin rasanya Saliha berteriak bahwa tidak ada pria lain setelah Daviko pergi. Pria yang Daviko lihat di dalam mobil yang saat itu mengusap rambutnya, juga pergi setelah Daviko pergi dan memutuskannya.

    Lalu ASI yang kini membanjiri dadanya hingga terasa sesak dan panas, bukanlah hasil dari sebuah kelahiran, melainkan reaksi lain dari tubuhnya yang hancur karena depresi dan obat-obatan penenang.

Namun, lidahnya kelu. Jika ia mengaku bahwa ia belum menikah, bagaimana ia menjelaskan asal-usul ASI ini? Daviko pasti akan menganggapnya sebagai wanita gila atau pengguna obat-obatan terlarang.

     ​Saliha hanya bisa menunduk dalam, membiarkan rambut panjangnya menutupi wajahnya yang mulai memerah.

     "Satu lagi," lanjut Daviko, suaranya tak menyisakan ruang untuk bantahan. "Sebelum kamu pulang pukul empat nanti, peras semua sisa ASImu. Masukkan ke dalam botol-botol steril di dapur. Kaffara sering terbangun di tengah malam, dan aku tidak ingin dia kekurangan asupan hanya karena ibunya sudah tiada dan ibu susunya harus pulang ke rumah suaminya."

     ​Saliha mengangguk lemah. "Saya mengerti, Pak."

     ​"Bagus. Segera lakukan. Aku tidak suka orang yang lamban." Daviko berbalik pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang dulu sangat Saliha cintai, tapi kini hanya menjadi pengingat akan sumpah serapah yang pernah terucap.

     ​Saliha melangkah ke dapur dengan bahu merosot. Di sana, Bi Tita, asisten rumah tangga senior yang tampak iba padanya, sudah menyiapkan peralatan pompa elektrik. Saliha duduk di sudut dapur yang tertutup, mulai memompa ASInya sendiri.

     ​Zzzz... zzzz... bunyi mesin pompa itu seolah menjadi ritme bagi air matanya yang jatuh satu per satu.

     ​Dadanya yang tadi terasa kencang dan sesak kini mulai sedikit lega saat cairan putih itu mengisi botol demi botol. Ia memompa dengan penuh pengabdian, seolah-olah setiap tetes yang ia berikan adalah bentuk penebusan dosa atas masa lalu yang ia hancurkan sendiri.

    Ia membayangkan Kaffara Davi Belanegara, bayi merah yang malang itu. Bayi yang harus kehilangan ibu kandungnya di hari pertama ia menghirup udara dunia.

     ​"Sabar ya, Nak," bisik Saliha lirih pada botol-botol itu. "Setidaknya, lewat aku, kamu bisa tumbuh kuat."

     ​Setelah menyelesaikan lima botol penuh, Saliha merapikan pakaiannya. Ia berpamitan pada Bi Tita dengan suara yang hampir habis. Ia tidak melihat Daviko lagi. Pria itu mungkin sedang berada di ruang kerjanya atau sedang menemani Kaffara di kamar atas.

     ​Saliha melangkah keluar dari gerbang rumah megah itu dengan kaki yang terasa berat. Di tangannya, ia menggenggam uang muka yang diberikan Daviko secara kasar tadi siang, uang yang ia butuhkan untuk menyambung napas di Jakarta yang kejam ini.

     ​Perjalanan pulang menuju tempat kosannya di daerah padat penduduk terasa begitu panjang. Pikirannya melayang pada masa empat tahun lalu.

     Andai saja ia lebih berani melawan tradisi keluarganya, andai saja ia tidak membiarkan kakaknya menjadi alasan untuk menunda pernikahan, andai saja ia tidak tergoda bujukan pria lain, mungkin sekarang dialah yang berada di foto pernikahan itu. Mungkin dialah ibu dari Kaffara.

     ​Namun, kenyataan menghantamnya tepat saat ia sampai di ujung gang kosannya.

    ​Saliha terpaku. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya. Di atas tanah becek sisa hujan tadi siang, tumpukan barang-barang yang sangat ia kenali berserakan.

     Kasur lipatnya yang sudah tipis, kardus berisi pakaian-pakaian kantornya yang mulai usang, sebuah rice cooker tua, hingga tas berisi obat-obatan penenangnya, semuanya tergeletak tak beraturan seperti sampah.

​ "Saliha! Akhirnya datang juga!" seorang wanita paruh baya dengan daster bermotif bunga matahari keluar dengan wajah garang. Dia Ibu Kos.

     ​"Ibu... kenapa barang-barang saya di luar?" Suara Saliha bergetar hebat.

     "Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Sudah tiga bulan, Saliha! Tiga bulan kamu cuma janji-janji manis! Saya ini butuh uang untuk biaya sekolah anak saya, bukan butuh dongeng sedihmu!" teriak wanita itu, menarik perhatian beberapa tetangga yang mulai berbisik-bisik di balik jendela.

     ​"Saya tadi baru dapat kerja, Bu. Ini... saya punya uangnya sekarang." Saliha merogoh tasnya dengan panik, mengeluarkan beberapa lembar uang yang tadi diberikan Daviko. "Ini, Bu, tolong terima dulu...."

     ​Ibu Kos menepis tangan Saliha hingga uang itu jatuh ke tanah yang basah. "Telat! Kamarmu sudah ditempati orang lain. Sore tadi mereka sudah bayar tunai untuk satu tahun. Sekarang, angkut semua sampahmu ini dari depan rumah saya. Saya tidak mau gerbang saya terlihat seperti tempat pembuangan akhir!"

     ​Brak!

     ​Pintu gerbang kosan itu ditutup dengan keras, meninggalkan Saliha yang berdiri mematung di tengah kerumunan kecil tetangga yang menatapnya dengan pandangan antara kasihan dan jijik.

     ​Saliha jatuh terduduk di atas aspal. Ia memeluk lututnya, menatap barang-barangnya yang kini kotor terkena lumpur. Dunia benar-benar sedang menagih sumpah Daviko. Kamu tidak akan bahagia!

     ​Hujan mulai turun kembali, rintik-rintik yang perlahan menjadi deras. Saliha tidak bergerak. Ia membiarkan tubuhnya basah kuyup. Dadanya kembali berdenyut, bukan karena ASI yang penuh, tapi karena rasa sakit yang tak tertahankan.

     Di tengah derasnya hujan, di antara barang-barangnya yang hancur, Saliha menyadari satu hal yang paling menyakitkan, ia tidak punya tempat untuk pulang.

     ​Satu-satunya tempat yang memberinya sedikit rasa aman hari ini justru adalah rumah pria yang paling membencinya di dunia ini.

     ​Saliha terisak, suaranya tenggelam dalam deru hujan. Ia merasa seperti sebotol ASI yang ia tinggalkan di rumah Daviko, berguna, tapi hanya sebagai cadangan, dan akan segera dibuang jika sudah tidak dibutuhkan lagi.

Apa yang akan Saliha lakukan, pergi ke rumah pria itu atau tetap membiarkan dirinya luntang-lantung di jalanan dengan kesedihan menjalar jiwa?

Bab 3 Merendahkan Diri (Menemui Daviko)

     Dunia terasa seperti sedang mempermainkan Saliha. Di bawah guyuran hujan yang semakin menggila di pinggiran Depok, ia berdiri mematung di depan gerbang kosannya yang terkunci rapat.

    Barang-barangnya yang kini hanya berupa tumpukan sampah basah seolah menertawakan nasibnya. Ia mencoba menghubungi Helda satu kali lagi, tapi suara operator yang dingin memberitahunya bahwa nomor itu tidak dapat dihubungi. Helda benar-benar sedang berada di luar jangkauan untuk menyelamatkannya.

     ​Saliha memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat. Ia tidak punya pilihan. Di kota sebesar ini, satu-satunya alamat yang tersisa di ingatannya hanya satu, rumah besar dengan pagar hitam tinggi milik Kapten Daviko.

     ​Sambil menyeret satu tas kecil berisi dokumen dan pakaian yang belum sempat basah total, Saliha berjalan kaki menyusuri trotoar. Pikirannya kembali ke masa lalu. Bayangan wajah Hendra yang dulu terlihat sangat manis kini berubah menjadi sosok iblis dalam ingatannya.

     ​"Liha, Daviko itu tentara. Dia tidak akan pernah punya waktu untukmu. Dia keras, kaku, dan membosankan. Ikutlah denganku, aku akan memberikan kelembutan yang tidak bisa diberikan pria berseragam itu." Hasutan Hendra menggema, membuat air mata Saliha luruh menyatu dengan air hujan.

     ​Andai saja ia tidak goyah. Andai saja ia tidak tertipu oleh kelembutan palsu Hendra yang akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah Daviko pergi. Sejak hari itu, kutukan Daviko seolah menjadi magnet bagi segala kemalangan dalam hidupnya.

     Hubungan-hubungannya selalu gagal, termasuk dengan Huda yang meninggalkannya sebulan lalu tepat di saat ia mulai berharap pada sebuah pernikahan.

     ​Kini, dengan sisa tenaga yang ada, Saliha sampai di depan rumah Daviko. Dengan tangan yang membiru karena kedinginan, ia menekan bel berkali-kali.

     ​Pintu terbuka. Daviko muncul dengan wajah yang jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya. Ia mengenakan kaos oblong hitam, matanya menyipit melihat sosok wanita yang sudah seperti gelandangan di depan pagarnya.

     "Assalamualaikum, Pakkk...." Ucapan salam itu terdengar bergetar. Mata Saliha menatap sekilas wajah Daviko, lalu segera menunduk ke arah lantai.

     "Waalaikumsalam." Jawabannya pelan, hampir tidak bersuara, seolah enggan membalas salam dari seorang Saliha.

     ​"Apa lagi, Saliha? Belum cukup uang yang aku berikan tadi siang?" lanjut Daviko dengan suara bariton yang berat.

     ​Saliha jatuh berlutut di depan gerbang. "Pak... tolong... saya tidak punya tempat tinggal. Saya diusir dari kosan... barang-barang saya hancur semua. Saya tidak tahu mau pergi ke mana lagi."

     ​Daviko terdiam sejenak, menatap Saliha dengan pandangan menghakimi yang tak terbaca. "Lalu? Mana suamimu? Mana ayah dari bayi yang kamu susui itu? Kenapa kamu malah mengemis di rumah mantan kekasih yang sudah kamu khianati?" Suara Daviko sinis.

     ​Saliha mendongak, wajahnya pucat pasi tapi matanya menyiratkan kejujuran yang pedih. "Saya... saya tidak punya suami, Pak. Saya belum pernah menikah."

     ​Alis Daviko bertaut tajam. "Jangan berbohong! Lalu ASI itu? Kamu pikir aku bodoh? ASI tidak akan keluar kalau seorang wanita tidak pernah melahirkan."

     ​Saliha terisak, suaranya terputus-putus karena hawa dingin.

     "Tapi ini benar, Pak. Saya belum pernah menikah atau hamil. Dan mengenai ASI saya ini...menurut dokter ini adalah efek obat yang saya minum. Saya...."

     "Obat? Kamu mengkonsumsi obat apa sampai ASImu bisa keluar. Kamu ngarang cerita?"

     "Ti~tidak, Pak. Demi Allah saya tidak berdusta. Ini benar-benar kondisi di mana tubuh saya mengalami stress dan efeknya ASI saya keluar dan melimpah. Dokter bilang, saya mengalami galaktorea," terang Saliha meski sedikit terbata.

     "Galaktorea, apa maksudnya?" gumam Daviko. Hatinya sedikit penasaran, apa yang dikatakan Saliha benar atau berdusta.

     ​Keheningan tercipta di antara mereka, hanya suara hujan yang mengisi udara. Daviko menatap Saliha dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada keraguan, ada kebencian, tapi ada juga sedikit getaran di wajah kaku sang Kapten.

     Ia belum sepenuhnya percaya, namun melihat kondisi Saliha yang sudah hampir pingsan, sisi kemanusiaannya sebagai prajurit masih tersisa.

     "Ah...sudahlah. Masa bodoh dengan alasanmu. Aku tidak paham apa yang kamu katakan. Apapun yang kamu katakan, aku juga tidak mau percaya padamu begitu saja. Lalu, sekarang apa maumu?" Sorot mata Daviko tajam menatap Saliha yang terlihat pucat.

     "Izinkan saya tinggal di sini, Pak. Saya bisa bekerja siang dan malam untuk putra Anda," mohonnya sambil menunduk, air matanya mulai tumpah.

     Daviko kembali menatap Saliha yang kali ini terlihat mengenaskan. Tubuh basah, tas yang ditentengnya ikut basah dan sedikit kotor. Daviko merasa iba, tapi bukan iba karena cinta.

     ​"Masuk," perintah Daviko dingin. "Jangan berpikir aku percaya semua bualanmu. Tapi, aku tidak ingin ada mayat di depan rumahku."

     ​Daviko memanggil Bi Tita untuk membawa Saliha ke kamar belakang, sebuah kamar kecil di dekat area dapur dan kamar pembantu. "Beri dia pakaian kering dan obat. Besok, aku akan menanyakan kebenarannya lagi."

     ​Malam itu, Saliha tidak bisa tidur meskipun tubuhnya sudah hangat. Namun, sekitar pukul dua pagi, sebuah keributan terdengar dari lantai atas.

     Suara tangisan Kaffara pecah, melengking tinggi dan penuh penderitaan. Saliha bisa mendengar suara langkah kaki Daviko yang terburu-buru, suara botol kaca yang berdenting, dan gumaman panik Bi Tita.

    ​Tak lama kemudian, pintu kamar Saliha diketuk kasar. Daviko berdiri di sana dengan wajah frustrasi. Di gendongannya, Kaffara menangis hingga wajahnya memerah.

    ​"Dia tidak mau minum dari botol. Dia menolak semua dot yang kami berikan. Dia hanya ingin menyusu langsung," ucap Daviko dengan suara yang sedikit melunak karena kelelahan. "Cepat, tolong dia. Aku tidak peduli siapa kamu sekarang, tolong selamatkan anakku dari rasa lapar."

     ​Saliha segera bangkit. Ia mengambil Kaffara dari dekapan Daviko. Dengan gerakan canggung namun penuh kasih, ia membawa bayi itu kembali ke ranjangnya di kamar bawah.

     Daviko berdiri di ambang pintu, memperhatikan dari jauh dengan tangan bersedekap, matanya tak lepas mengawasi Saliha.

     ​Begitu Saliha mendekatkan Kaffara ke dadanya, tangis bayi itu perlahan mereda. Kaffara seolah mengenali aroma hangat dan detak jantung yang ia butuhkan. Bayi kecil itu menyusu dengan rakus, jemari mungilnya mencengkeram kemeja pinjaman yang dipakai Saliha.

     ​Saliha meneteskan air mata saat melihat wajah mungil itu. "Sayang... anak pintar... tenang ya," bisiknya lembut.

     ​Daviko terpaku di tempatnya. Melihat Saliha menyusui anaknya memberikan perasaan asing yang menyesakkan dadanya. Ada kemarahan yang masih membara, tapi melihat Kaffara yang akhirnya tenang setelah berjam-jam menangis membuat hatinya sedikit meluluh.

     ​Malam itu, Saliha tidak kembali ke kamarnya sendiri, setelah Kaffara ditidurkan di kamarnya. Kaffara tidak mau dilepaskan. Setiap kali Saliha mencoba meletakkan bayi itu ke box bayinya, Kaffara akan terbangun dan mulai merengek.

    Akhirnya, Daviko hanya bisa terdiam melihat Saliha berbaring menyamping di ranjang kamarnya, dengan Kaffara yang terlelap pulas dalam pelukannya.

     ​Daviko duduk di kursi di sofa tak jauh dari sana, menjaga mereka. Ia menatap Saliha yang sudah tertidur karena kelelahan, sementara tangannya masih memeluk Kaffara dengan protektif.

     ​"Siapa sebenarnya kamu sekarang, Saliha? Kamu tampak menyedihkan," bisik Daviko pelan, suaranya tenggelam dalam keheningan malam. "Apakah kamu malaikat pelindung anakku, atau kutukan yang sengaja kembali untuk menghancurkan sisa-sisa benteng di hatiku?"

     ​Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak kepergian istrinya, rumah Kapten Daviko tidak disambut dengan tangis bayi yang histeris.

     Kaffara bangun dengan senyuman kecil, masih berada dalam dekapan hangat wanita yang dulu pernah menyakitinya dan kini menjadi alasan bayinya untuk bertahan hidup.

     Apakah Daviko tetap tidak percaya kalau Saliha memang belum menikah, meskipun Saliha sudah berterus terang?

Jangan lupa dukungannya, ya. 🥰🥰🥰

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!