Matahari pagi di Jakarta baru saja menyembul malu-malu di balik deretan gedung bertingkat, namun bagi Alisa Putri harinya sudah dimulai sejak dua jam yang lalu.
Alisa selalu menyukai aroma pagi di sekolah tempatnya mengajar yaitu TK dan SD Pelangi Bangsa.
Ada perpaduan wangi rumput yang baru dipangkas, aroma krayon yang khas dari ruang kelas dan keharuman pembersih lantai yang segar.
Baginya sekolah ini bukan sekadar tempat kerja melainkan tempat di mana ia bisa melupakan segala kerumitan dunia luar melalui tawa tulus anak-anak.
Alisa merapikan blus berwarna peach yang dikenakannya, memastikan tidak ada kerutan yang mengganggu.
Ia menyisir rambut panjangnya yang berwarna cokelat gelap dengan jari, lalu mengikatnya menjadi ekor kuda yang rapi.
Sebagai seorang guru Alisa dikenal dengan kelembutannya, ia memiliki suara yang tenang jenis suara yang mampu meredakan tangisan balita yang sedang tantrum hanya dalam hitungan detik.
“Pagi, Bu Alisa! Segar sekali kelihatannya hari ini.” sapa Pak Bambang satpam sekolah sambil membuka gerbang lebar-lebar.
Alisa memberikan senyum manisnya, jenis senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa dihargai.
“Pagi Pak Bambang, iya nih semalam tidurnya nyenyak sekali dan ini ada sedikit gorengan untuk teman minum kopi Bapak.” ucap Alisa lembut sembari menyerahkan bungkusan kecil berisi camilan yang ia beli di jalan tadi.
Sifat Alisa memang begitu baik dan penuh perhatian pada hal-hal kecil dan itulah yang membuatnya menjadi guru favorit bagi banyak murid dan orang tua.
Namun di balik kelembutan itu Alisa adalah seorang wanita yang sangat menjaga perasaannya.
Ia jarang mengeluh dan lebih sering menyimpan kegelisahannya sendiri di balik senyum yang seolah tak pernah pudar.
Sekitar pukul 07.30, suasana sekolah mulai ramai, mobil-mobil mulai mengantre menurunkan anak-anak.
Di tengah keriuhan itu Alisa berdiri di lobi utama menyalami satu per satu muridnya, namun ada satu pemandangan yang tak biasa pagi ini.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan lobi.
Mobil itu tampak sangat kontras dengan lingkungan sekolah yang penuh warna ceria.
Pintu pengemudi terbuka dan seorang pria keluar dari sana.
Alisa merasa waktu seolah melambat selama beberapa detik.
Pria itu mengenakan kemeja biru navy yang sangat pas di tubuhnya yang tegap.
Lengannya digulung hingga ke siku memperlihatkan jam tangan perak yang berkilau di bawah sinar matahari.
Wajahnya sangat tampan dengan garis rahang yang tegas dan hidung mancung yang sempurna.
Namun ada satu hal yang mencolok yaitu ekspresinya, pria itu tampak sangat dingin seolah-olah ia baru saja keluar dari lemari pendingin rumah sakit.
Matanya yang tajam menatap sekeliling dengan datar, tanpa sedikit pun keramahan.
Dari pintu belakang seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun keluar dengan wajah cemberut.
Itu adalah Arka, salah satu murid kesayangan Alisa yang biasanya diantar oleh pengasuhnya.
“Ayo masuk, jangan lambat.” suara pria itu terdengar rendah dan bariton, tidak ada nada manis sama sekali untuk ukuran seorang paman kepada ponakannya.
Arka berlari kecil menuju Alisa dan langsung memeluk kaki gurunya itu.
“Bu Guru Alisa! Arka nggak mau sama Om Niko, Om Niko galak!” keluh Arka dengan polosnya.
Alisa merasa sedikit canggung, ia menatap ke arah pria yang dipanggil "Om Niko" itu.
Pria itu kini berdiri tepat di hadapan Alisa dari jarak sedekat ini Alisa bisa mencium aroma parfum pria itu tapi bukan wangi maskulin yang menyengat melainkan aroma segar, bersih dan sedikit ada sentuhan aroma antiseptik khas rumah sakit yang entah bagaimana terasa sangat menenangkan.
“Maaf Bu.” ucap pria itu singkat.
Suaranya datar dan matanya menatap Alisa dengan tatapan menyelidik yang membuat Alisa merasa sedikit gugup.
“Saya Niko pamannya Arka, mulai hari ini mungkin saya akan sering mengantar-jemputnya karena orang tuanya sedang di luar negeri.” ucap Niko.
Alisa berusaha mempertahankan senyum profesionalnya, meski dalam hati ia merasa ada ribuan kupu-kupu yang tiba-tiba berterbangan di perutnya.
“Oh baik pak Niko, saya Alisa wali kelas Arka, jangan khawatir Arka anak yang sangat baik di kelas.” ucap Alisa.
Niko hanya mengangguk pelan ia tidak membalas senyuman Alisa ia hanya melirik jam tangannya lalu kembali menatap Alisa.
“Saya harus segera ke rumah sakit karena ada operasi pagi ini, Arka jangan nakal.” ucap pamit Niko dan memperingatkan sang ponakan.
Tanpa menunggu balasan dari Alisa atau pelukan perpisahan dari Arka, Niko langsung berbalik dan masuk ke dalam mobilnya.
Sedan mewah itu meluncur pergi, meninggalkan Alisa yang masih terpaku di tempatnya.
“Bu Alisa, Om Niko itu dokter hebat lho tapi dia nggak pernah senyum.” celoteh Arka sambil menarik-ngarik ujung blus Alisa.
“Kakek bilang Om Niko itu es batu.” terusnya.
Alisa tertawa kecil dan berusaha menutupi rasa penasarannya.
“Es batu? Mungkin Om Niko cuma sedang lelah Arka, yuk kita masuk kelas.”
Sepanjang hari mengajar pikiran Alisa entah mengapa terus kembali pada sosok pria dingin tadi.
Alisa sudah banyak bertemu dengan berbagai macam orang tua murid mulai dari yang sangat cerewet hingga yang sangat ramah.
Namun Niko berbeda, ada sesuatu di balik tatapan matanya yang dingin itu yang membuat Alisa merasa ada sebuah cerita besar yang disembunyikan pria itu.
Sementara itu di sebuah rumah sakit swasta terbesar di kota dr. Niko Arkana, Sp.B, sedang berjalan menyusuri lorong dengan jubah putih dokternya yang berkibar.
Setiap perawat yang berpapasan dengannya menunduk hormat, namun Niko hanya menanggapi dengan anggukan minimalis atau bahkan tidak sama sekali.
Niko dikenal sebagai "Dokter Jenius yang Dingin".
Sebagai cucu dari pemilik rumah sakit tersebut ia bisa saja bersikap santai namun ia justru bekerja lebih keras dari siapa pun.
Baginya emosi adalah gangguan dalam pekerjaan medis, segala sesuatu harus logis dan terukur.
Namun saat ia duduk di ruangannya untuk menyesap kopi hitam tanpa gula sebelum operasi, bayangan seorang wanita dengan blus peach dan senyum hangat tiba-tiba melintas di pikirannya.
Wanita itu... Alisa.
Niko menyentuh dagunya dan teringat bagaimana Alisa menyambut Arka tadi.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
YEYYY AKHIRNYA UPLOAD CERITA BARU NIHHHH....
JANGAN LUPA MAMPIR BACA, FAVORITKAN, JANGAN LUPA VOTE JUGA, ULASAN BINTANGNYA, LIKE, KOMEN SAN HADIAH BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT UPDATE BAB SELANJUTNYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE IG AKU YAAA DI
@Lala_Syalala13
Jangan lupa beri aku dukungannya ya biar semangat buat upload kelanjutan Babnya....
Dan jangan lupa follow IG @LALA_SYALALA13 ada banyak rekomendasi cerita seru aku lainnya di sana....
Berbeda dengan orang-orang di rumah sakit yang selalu menatapnya dengan rasa segan atau ketakutan, guru itu menatapnya dengan binar mata yang jernih.
Bahkan setelah ia bersikap dingin, wanita itu tetap tersenyum tulus.
'Senyum yang tidak masuk akal.' batin Niko ketus dan berusaha mengusir bayangan itu.
Baginya keramahan yang berlebihan sering kali terasa palsu tapi entah kenapa senyum Alisa tadi terasa sangat... nyata.
Siang harinya saat jam pulang sekolah hujan deras tiba-tiba mengguyur.
Alisa sedang sibuk membantu murid-muridnya memakai jas hujan ketika ia melihat sedan hitam yang sama kembali parkir.
Niko turun dari mobil dengan membawa payung besar berwarna hitam.
Niko berjalan menembus hujan, ia tidak melihat ke arah lain pandangannya terkunci pada pintu masuk sekolah.
Saat ia sampai di lobi yang mulai sepi, ia melihat Alisa sedang berjongkok sedang mengikat tali sepatu Arka yang lepas.
Pemandangan itu sangat domestik dan lembut membuat langkah Niko terhenti sejenak.
“Sudah siap?” tanya Niko dengan suaranya yang mengagetkan Alisa.
Alisa mendongak dengan beberapa helai rambutnya yang lepas dari ikatan tampak sedikit basah karena tempias hujan.
Ia berdiri dan merapikan rambutnya dengan gerakan yang bagi Niko terlihat sangat anggun tanpa disengaja.
“Eh Pak Niko, iya Arka sudah siap. Ini tasnya,” Alisa menyerahkan tas ransel bergambar pahlawan super itu kepada Niko.
Niko mengambil tas itu namun secara tidak sengaja jarinya bersentuhan dengan jari Alisa.
Hanya satu detik tapi itu cukup untuk mengirimkan sensasi aneh yang membuat Alisa langsung menarik tangannya dengan cepat dan wajahnya merona merah.
Niko juga tampak sedikit terkejut, namun ia jauh lebih ahli menyembunyikan emosinya, ia tetap diam dengan wajahnya sedatar papan tulis.
“Terima kasih Bu Alisa.” ucap Niko pendek.
Ia kemudian membuka payungnya menggandeng tangan Arka dan berjalan menuju mobil.
Hujan masih turun dengan derasnya, Alisa berdiri di lobi memeluk kedua tangannya sendiri karena hawa dingin mulai menusuk.
Ia menatap mobil Niko yang perlahan menghilang di balik gerbang sekolah.
Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, ia merasa takut namun juga penasaran secara bersamaan.
Alisa tahu pria seperti Niko yang kaya, dingin, dan memiliki posisi tinggi biasanya bukan tipe pria yang mudah didekati.
Namun ada satu hal yang Alisa sadari pagi itu adalah di balik jubah putih dan sikap dinginnya Dokter Niko Arkana berhasil membuat seorang Alisa Putri merasa penasaran untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
Dan bagi Niko meski ia tidak akan mengakuinya aroma parfum melati dari Alisa seolah menempel di kemejanya sepanjang sisa hari itu dan mengganggu fokus logikanya yang biasanya tak tergoyahkan.
Pertemuan singkat di bawah hujan itu menjadi babak awal dari sebuah cerita panjang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Sebuah cerita di mana kehangatan akan mencoba mencairkan es dan di mana keheningan akan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Jika rumah sakit adalah sebuah kerajaan, maka Dokter Niko Arkana adalah pangeran mahkota yang paling disegani sekaligus paling dihindari jika seseorang tidak memiliki kepentingan medis yang mendesak.
Bagi Niko hidup adalah rangkaian algoritma yang presisi, segala sesuatu harus memiliki sebab, akibat, dan solusi yang efisien.
Tidak ada ruang untuk basa-basi dan tentu saja, tidak ada ruang untuk perasaan yang meluap-luap.
Pagi itu di lantai atas Rumah Sakit Medika Utama yaitu rumah sakit swasta bergengsi milik keluarganya, Niko baru saja menyelesaikan operasi appendectomy yaitu 'prosedur operasi untuk mengangkat usus buntu yang meradang atau terinfeksi (apendisitis).'
Ini merupakan tindakan darurat medis umum yang bertujuan mencegah pecahnya usus buntu yang dapat berakibat fatal, yang sebenarnya tergolong rutin bagi dokter sekelas dirinya.
Namun ia tetap melakukannya dengan ketelitian yang nyaris gila, ia melepaskan masker bedahnya memperlihatkan wajah yang tampak lelah namun tetap memiliki ketajaman yang mengintimidasi.
Niko melangkah menuju ruang sterilisasi, suara sepatu pantofelnya yang beradu dengan lantai marmer menciptakan irama yang teratur seolah memberi peringatan bagi siapa pun di lorong itu bahwa sang "Dokter Es" sedang lewat.
“Dokter Niko ini laporan pasien dari bangsal VIP nomor 402.” seorang perawat muda menghampirinya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Semua orang tahu, Dokter Niko tidak menyukai kesalahan sekecil apa pun dalam laporan.
Niko mengambil map itu tanpa bicara, matanya memindai barisan angka dan istilah medis di sana dengan kecepatan yang luar biasa.
“Dosis antibiotiknya terlalu tinggi untuk pasien dengan riwayat ginjal seperti beliau, koreksi dan berikan padaku sepuluh menit lagi.” ucapnya dingin, lalu menyerahkan kembali map tersebut tanpa memandang wajah perawat itu.
Ia terus berjalan menuju ruang pribadinya yang terletak di pojok lorong, sebuah ruangan yang lebih mirip perpustakaan medis daripada ruang kantor.
Di dindingnya, tidak ada foto keluarga atau pajangan seni yang mencolok tapi hanya ada deretan buku-buku kedokteran tebal dan beberapa sertifikat penghargaan internasional.
Niko menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja yang ergonomis, ia memijat pangkal hidungnya.
Kelelahan fisik bukanlah masalah baginya, ia sudah terbiasa dengan jadwal operasi yang padat.
Namun sejak kemarin ada sesuatu yang "tidak logis" yang terus mengganggu fokusnya.
Bayangan seorang wanita dengan senyum lembut di gerbang sekolah.
Niko adalah pria yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat menuntut.
Kakeknya adalah pemilik tunggal rumah sakit ini, mendidiknya dengan keras.
Sejak kecil Niko diajarkan bahwa kelemahan terbesar seorang pria adalah emosinya.
Ia melihat bagaimana ayahnya hancur secara emosional setelah kepergian ibunya dan sejak saat itu Niko bersumpah tidak akan membiarkan dirinya dikendalikan oleh perasaan yang tidak bisa ia ukur dengan stetoskop.
Namun, Alisa... guru itu adalah sesuatu yang tidak terduga.
Niko teringat bagaimana Alisa menatapnya kemarin, tatapan itu tidak mengandung rasa takut juga tidak mengandung ambisi terselubung yang biasanya ia temui pada wanita-wanita yang mencoba mendekatinya karena status sosialnya.
Mata Alisa hanya mencerminkan ketulusan yang murni dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
"Sangat tidak penting." gumam Niko pada diri sendiri.
Ia meraih cangkir kopinya yang sudah dingin, ia benci sesuatu yang mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan namun ia mendapati dirinya justru sedang memikirkan jadwal jemput Arka nanti sore.
Ponselnya bergetar di atas meja, sebuah pesan masuk dari kakaknya yaitu ibu dari Arka.
“Niko, maaf ya merepotkanmu terus. Kami masih harus di Singapura seminggu lagi. Tolong pastikan Arka tidak hanya makan nugget. Dan oh ya... bagaimana kabar Ibu Guru Alisa? Arka bilang kau mengantarnya kemarin.”
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
Niko hanya membaca pesan itu tanpa niat membalas, ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah.
"Ibu Guru Alisa." gumamnya pelan, nama itu terasa asing namun anehnya terasa pas di lidahnya.
Untuk mengalihkan pikirannya Niko memutuskan untuk berkeliling bangsal, baginya berinteraksi dengan pasien adalah satu-satunya bentuk komunikasi sosial yang ia toleransi.
Di mata pasien dokter Niko adalah sosok yang sangat kompeten.
Meski ia tidak banyak bicara tapi setiap diagnosisnya akurat dan setiap tindakannya memberikan rasa aman.
Di salah satu kamar dan ia memeriksa seorang pasien lansia yang baru saja menjalani operasi jantung.
“Dokter kapan saya bisa pulang? Saya rindu masakan istri saya.” tanya pasien itu dengan suara lemah.
Niko memeriksa monitor detak jantung.
“Tiga hari lagi jika grafik Anda tetap stabil dan katakan pada istri Anda untuk tidak memasak makanan bersantan dulu, itu bukan permintaan tapi itu perintah medis.” jawab Niko datar, meski terdengar kaku namun pasien itu justru tersenyum karena mereka tahu Dokter Niko peduli dengan cara yang berbeda.
Waktu menunjukkan pukul dua siang yang seharusnya Niko memiliki jadwal pertemuan dengan dewan direksi rumah sakit.
Namun ia melihat jadwal di tabletnya dan menyadari bahwa Arka pulang sekolah pukul tiga sore.
Ada dorongan aneh di dalam dirinya yaitu sesuatu yang ia labeli sebagai "tanggung jawab keluarga" yang membuatnya ingin berangkat lebih awal.
Ia mengganti jubah putihnya dengan jas kasual berwarna abu-abu gelap.
Ia bercermin sejenak kemudian merapikan kerah kemejanya, ia jarang sekali peduli pada penampilan di luar fungsi profesionalnya namun hari ini ia merasa perlu terlihat... pantas.
Saat ia tiba di sekolah "Pelangi Bangsa", suasana jauh lebih cerah dibanding kemarin.
Matahari bersinar terik dengan memantulkan warna-warni cat dinding sekolah yang ceria.
Niko memarkir mobilnya di tempat yang sama, ia keluar dari mobil dan kali ini ia tidak terburu-buru.
Ia berdiri di dekat pilar lobi dan memperhatikan dari jauh, jia melihat Alisa sedang berada di tengah lingkaran anak-anak.
Wanita itu sedang membacakan sebuah buku cerita, dari tempatnya berdiri Niko bisa mendengar suara Alisa yang lembut dan sesekali wanita itu tertawa kecil karena pertanyaan polos salah satu muridnya.
Niko terpaku, ia melihat bagaimana cahaya matahari sore mengenai helai-helai rambut cokelat Alisa, menciptakan aura keemasan di sekelilingnya.
Ia melihat bagaimana tangan Alisa yang lentik bergerak mengikuti alur cerita.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama Dokter Niko Arkana merasakan detak jantungnya meningkat bukan karena adrenalin operasi melainkan karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan secara medis.
'Dia terlihat sangat... damai.' batin Niko.
Kata itu sangat jauh dari dunianya yang penuh dengan bau obat, suara monitor jantung dan ketegangan ruang operasi.
Tiba-tiba, mata mereka bertemu.
Alisa yang sedang bercerita dan menyadari kehadiran sosok tinggi tegap di sudut lobi.
Ia menghentikan ceritanya sejenak dan memberikan senyum kecil ke arah Niko sebagai sapaan sopan.
Niko merasa tertangkap basah, ia segera membuang muka berpura-pura memeriksa jam tangannya dengan kaku.
Sial, ia merasa seperti remaja yang ketahuan mengintip, iaa berdeham dan mencoba mengembalikan kewibawaannya yang biasanya tak tergoyahkan.
Setelah kelas usai Arka berlari menghampiri Niko dengan semangat.
“Om Niko! Om lihat tadi Bu Alisa baca cerita tentang naga? Naganya baik, nggak galak kayak Om!” seru bocah kecil itu.
Niko mengerutkan kening dan mengacak rambut Arka dengan canggung, sebuah gestur kasih sayang yang masih terasa asing baginya.
“Om tidak galak, Arka. Om hanya disiplin.” seru Niko tidak terima dengan ucapan keponakannya itu.
Alisa berjalan mendekati mereka, membawa tas ransel Arka.
“Selamat sore, Pak Niko. Anda datang tepat waktu hari ini.”
Niko menatap Alisa, hari ini Alisa memakai kemeja katun sederhana berwarna biru muda yang senada dengan warna langit.
“Sore, Bu Alisa. Saya tidak suka terlambat, itu tidak efisien.” jawabnya.
Alisa terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng kecil di telinga Niko.
“Hidup tidak selalu tentang efisiensi Pak, kadang kita perlu sedikit santai agar bisa bernapas.” balas Alisa dengan mempertahankan senyum diwajahnya.
Niko menatap Alisa dengan tatapan tajamnya yang khas, namun kali ini ada sedikit binar rasa ingin tahu di sana.
“Di rumah sakit sedikit santai bisa berarti nyawa melayang Bu Alisa.” seru Niko.
“Tapi ini sekolah, Pak Niko. Bukan rumah sakit. Di sini tidak apa-apa jika kita sedikit terlambat karena ingin melihat pelangi atau berhenti sejenak untuk mendengarkan cerita anak-anak.” balas Alisa dengan keberanian yang membuat dirinya sendiri terkejut.
Niko terdiam, ia tidak terbiasa dibantah apalagi dengan argumen yang melibatkan "pelangi".
Namun ia tidak merasa marah justru ia merasa ada sebuah tantangan baru dalam hidupnya yaitu seperti tantangan untuk memahami cara pikir wanita di depannya ini.
“Mungkin.” jawab Niko singkat, ia mengambil tas Arka dari tangan Alisa.
“Terima kasih untuk hari ini.” ucap Niko.
"Bu Alisa, Arka pulang dulu ya." pamit bocah kecil itu kepada Alisa.
"Iya Arka, hati-hati ya. Jangan lupa tugas rumahnya di kerjakan ya." seru Alisa dengan begitu ramah.
Saat Niko berbalik untuk pergi ia sempat melirik kembali ke arah Alisa.
Ia melihat wanita itu masih berdiri di sana melambaikan tangan pada Arka dengan senyum yang tidak pernah pudar.
Di dalam mobil, selama perjalanan pulang Niko tetap diam tidak berbicara sedangkan Arka sibuk berceloteh tentang teman-temannya, namun pikiran Niko masih tertinggal di lobi sekolah tadi.
"Om bu Alisa cantik ya." seru Arka tiba-tiba saat mereka akan sampai di rumah mewah milik keluarga Arkana.
"Hm." jawab Niko singkat namun ucapan Arka tadi begitu dalam menusuk ke hatinya.
Ia adalah seorang dokter yang ahli dalam membedah tubuh manusia mengetahui setiap letak saraf dan pembuluh darah.
Namun saat ini ia merasa ada satu bagian dalam dirinya yang baru saja tersentuh, sebuah bagian yang bahkan ia sendiri tidak tahu keberadaannya.
Niko menghela napas panjang, ia harus kembali ke mode dokternya.
Namun untuk pertama kalinya bayangan tentang masa depan itu tidak lagi hanya berisi koridor rumah sakit yang putih dan dingin, melainkan ada sedikit warna peach dan biru muda yang mulai menyelinap masuk secara perlahan.
Niko belum menyadari bahwa ini baru permulaan dari runtuhnya tembok es yang telah ia bangun setelah sekilan lamanya.
Dan ia juga belum menyadari, bahwa pasien yang paling membutuhkan penyembuhan dalam cerita ini sebenarnya adalah dirinya sendiri.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!