"JELEDER!!" Suara petir yang bersaut - sautan di barengi hujan besar, tengah mengguyur kota Jakarta.
"ZRAAAAASSSSHHH!!!"
"JELEDER!!!"
"Ujan nya deres banget." Gumam seorang perempuan.
Di sofa yang berada di ruang tengah.. duduk seorang perempuan cantik dengan rambut sebahu nya sedang mengusap - usap perut buncit nya sambil di tangan kanan nya membaca buku tentang kehamilan, dia Lea..
"Abang kena macet nggak, ya." Gumam Lea lagi.
Lea sedang hamil besar saat ini, usia kandungan nya sudah 7 bulan dan baru kemarin mereka menggelar acara syukuran 7 bulanan untuk Lea dan bayinya. Dia tinggal tidak sendirian di rumah itu, ada seorang mbok - mbok yang menemani Lea selagi suaminya yaitu Esa bekerja.
"Mbak Lea, susu nya di minum." Ucap mbok Yani, asisten rumah tangga Lea.
"Makasih banyak, mbok." Ucap Lea tersenyum.
Setelah hamil, Lea terlihat memancarkan aura yang entah kenapa berbeda. Dia yang tomboy dulu sudah menjelma seperti perempuan feminin lain nya, apalagi sekarang sehari - hari nya Lea memakai dress ( Daster) sepanjang betis untuk memudahkan aktivitas nya.
"Mbok nggak sabar nungguin mas kecil lahir." Ucap mbok Yani sambil mengusap perut Lea, Lea terkekeh.
"Hehehe.." Lea terkekeh.
"Oh iya mbak Lea, mbok mau nanya. Akhir - akhir ini sepertinya mbak Lea sering keluar malam - malam, mbak Lea ada yang di rasa?" Tanya mbok Yani, senyum Lea pun memudar.
Lea kemudian mengaduk susu yang mbok Yani berikan tadi dan pandangan nya seolah sedang memikirkan sesuatu. Sudah beberapa hari, tepat nya setelah kehamilan nya menginjak usia 7 bulan, Lea tidak pernah bisa tidur nyenyak.
Awal nya Lea pikir itu bawaan bayi, tapi setelah dia resapi lagi.. Itu bukan bawaan bayi, dia tidak sama sekali kesulitan bangun atau merasa ingin terus buang air kecil, tapi hatinya selalu merasa gelisah tanpa sebab.
"Mbok, apa mbok merasa aku juga aneh?" Tanya Lea, mbok Yani mengangguk.
"Iya, mbak Lea selalu keluar dari kamar tengah malam, terus cuma mutar - mutar aja ruangan ini." Ucap mbok Yani.
"Mbok, besok.. kayak nya aku nginep di rumah mama." Ucap Lea, mama yang di maksud adalah Dara..
"Iya mbak." Ucap mbok, Lea lalu meminum susu nya.
Tak lama Esa pulang, Esa sudah menjelma menjadi laki - laki yang lebih matang di usia pernikahan mereka yang ke 3 tahun itu. Dia sudah bekerja dan mendirikan usaha nya sendiri..
"Assalamualaikum, sayang." Salam Esa, Lea tersenyum sumringah.
"Waalaikumsalam.." Sahut Lea, dia lalu salim tangan pada Esa dan Esa mengecup kening nya.
"Gimana hari ini sayang? Kamu capek??" Tanya Esa, Lea menggeleng..
"Enggak kok, aku kan nggak ngapain - ngapain." Ucap Lea terkekeh, Esa lalu jongkok di depan Lea dan mengusap perut Lea.
"Anak papa nakal nggak hari ini?" Ucap Esa sambil mencium perut Lea.
"Nggak dong, anak papa selalu baik. Nggak pernah bikin mama nya susah." Jawab Lea, Esa terkekeh dan mendongak menatap Lea..
Tapi Esa terkejut saat melihat ada sosok yang berdiri di belakang Lea, Esa melihat wajah sosok yang sudah sangat lama tidak bersinggungan dengan mereka. Padahal rumah nya di pagari, seharus nya tidak ada sosok apapun yang bisa masuk.
Esa lalu duduk di samping Lea dan menggenggam tangan Lea dengan erat..
"Sayang, apa kamu ada yang di rasa? Apa ada hal yang buat kamu sedih?" Tanya Esa, Lea menggeleng kebingungan.
"Nggak ada, sayang. Nggak ada yang bikin aku sedih, tapi.. aku merasa ada yang nggak beres." Ucap Lea, Esa tertegun.
"Besok, anter aku ke rumah mama ya? Kita nginep dulu di rumah mama, aku nggak tenang di sini." Ucap Lea, Esa mengangguk.
"Iya sayang, aku dengerin kamu." Ucap Esa. Esa lalu menggendong Lea dan mereka masuk ke kamar mereka.
Karena Lea sudah hamil besar, sekarang Lea tidur di kamar di lantai 1. Sebenar nya kamar tamu tapi mereka tempati sementara demi keamanan Lea yang sedang hamil besar.
Lea sudah di posisi nyaman sekarang, dia duduk di ranjang dengan bantalan - bantalan sebagai senderan. Ia terus mengusap perut nya sambil terus membaca dzikir karena entah kenapa dia merasa sesuatu sedang mengintai nya.
"Abang mandi dulu, ya." Ucap Esa, Lea mengangguk.
Saat Esa sedang mandi, Lea tiba - tiba mendengar suara perempuan yang sedang menangis. Lea mengedarkan pandangan nya mencari pemilik suara itu, tapi tidak ada..
"Lea."
"DEG!"
Lea terkejut saat sebuah suara tak asing terdengar di telinga nya.
"Kamu!? Kenapa kamu datang lagi?" Tanya Lea, dia sedikit khawatir.
Pemilik suara itu adalah sosok perempuan yang dulu mendiami tubuh Lea dengan waktu yang sangat lama. Sosok yang terus mengajak Lea ikut bersama nya dan menjadi penerus nya, sosok perempuan penyembah iblis yang mati nya mengenaskan.. Rukmini.
"Ojo wedhi (jangan takut), cah ayu." Ucap Rukmini, suaranya terdengar di kepala Lea.
"Mau apa kamu datang lagi?" Tanya Lea, dia memeluk perut nya.
"Saya ndak akan menyakiti kamu dan anakmu, justru saya akan ikut menjaga nya." Ucap Rukmini, Lea tentu tidak percaya.. Masalalu nya dengan sosok bernama Rukmini itu begitu gelap.
"Saya tau, apa yang saya lakukan di masalalu itu salah. Saya sangat menyesal.. Ijinkan saya, menebus nya." Ucap sosok Rukmini, Lea menggeleng masih memeluk perut nya.
"Tidak usah, aku nggak butuh kamu jaga. Allah ada bersamaku, aku juga punya suami dan keluarga yang sayang padaku. Rukmini, aku tau siapa kamu, jangan pikir bisa mengelabuhi aku." Ucap Lea, dia tentu tidak percaya dengan perempuan yang nyaris menyeret nya ke kehancuran.
Lea masih ingat dengan jelas, masih segar di ingatan nya apa yang sudah Rukmini lakukan. Meskipun memang Rukmini sendiri di bawah kendali iblis yang di sembah nya, tapi itu dulu nya merupakan pilihan hidup yang Rukmini ambil sendiri. Dia menjadi penyembah iblis, dan naas nya setelah mati dan emnjadi budak iblis, Rukmini memilih Lea karena Lea di sia - siakan keluarga nya.
"Saya cuma mau bantu, cah ayu.. saya juga ibumu." Ucap sosok Rukmini, Lea menggeleng.
"Nggak usah, terimakasih. Aku nggak mau punya urusan apapun lagi sama kamu." Ucap Lea, tapi setelah Lea mengatakan itu.. Tiba - tiba kepalanya terasa sakit dan Lea memejamkan matanya.
Saat Lea memejamkan matanya itulah, dia melihat kilasan - kilasan kejadian seorang anak kecil perempuan yang sedang di gerayangi banyak orang. Lea di beri pengelihatan apa yang pernah Rukmini alami waktu kecil.
"Rukmini! Aku nggak mau liat." Ucap Lea, dia memegangi kepalanya.
"Kenapa kamu bisa memiliki akhir bahagia, tapi saya tidak?" Ucap sosok Rukmini, Lea kesakitan dan saat itu Esa keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Esa, dia memeluk Lea yang ketakutan.
"Abang, Rukmini dateng lagi." Ucap Lea, Esa terkejut.
"DEG!"
"Apa!?"
...BERSAMBUNG!...
Esa dan Lea dalam perjalanan menuju ke rumah Dara dan Amar sekarang, untung nya rumah mereka dekat. Tapi sepanjang jalan itu juga banyak yang mengikuti mereka karena Lea sedang hamil, wangi ibu hamil sangat menarik bagi sosok - sosok pemakan.
"Ya Allah, sayang. Alhamdulillah kalian nggak kenapa - kenapa." Dara memeluk Lea yang kini sudah masuk di rumah Dara dan sudah duduk di sofa.
"Pa, perempuan itu datangi Lea lagi. Kita udah kelar waktu itu, harus nya dia nggak bisa ganggu Lea lagi, kan?" Ucap Esa, dia khawatir.
"Kita memang sudah berhasil waktu itu, mama kamu mencoba memisahkan dia dari yang di sembah nya itu tapi nggak bisa, nak. Perempuan itu terjerumus terlalu jauh, dia sudah jadi budak iblis." Ucap Amar, dia juga terkejut saat mendengar bahwa Rukmini kembali mengganggu Lea.
"Nak, sudah sejak kapan dia mulai ganggu kamu?" Tanya Amar ke Lea sejenak berpikir..
"Kalo suara nya, baru hari ini pa. Tapi aku selalu merasa ada yang aneh karena aku nggak pernah bisa tidur, sejak awal 7 bulan hamil.. Aku selalu keluar kamar." Ucap Lea, Dara tertegun.. Esa lebih tertegun.
"Sayang, kamu kok nggak bilang abang? Ya Allah, artinya kamu udah di ganggu berhari - hari." Ucap Esa, dia duduk merangkul Lea.
"Tiap malem, sejak memasuki 7 bulan hamil.. Aku nggak bisa tidur bang, terus mbok juga liat aku di ruang tengah juga.. jalan - jalan doang muterin sofa." Ucap Lea.
"Itu pasti naluri siaga kamu sayang, tanpa kamu sadar badan kamu tau ada yang mendekat. Waktu malam emang waktu yang rawan." Ucap Dara, Dara mengusap perut Lea.
"Nggak apa - apa, kamu di sini saja sama mama. Mama akan coba bicara sama Rukmini." Ucap Dara, Lea mengangguk.
"Saya cuma mau di dengar."
Tiba - tiba Lea mendengar suara Rukmini, Lea meremas pelan tangan Esa dan Amar..
"Mama dia di sini." Ucap Lea, Dara mengangguk.
'Kamu mau apa?' Tanya Lea dari batin nya.
"Dengar saya, saya tidak akan menjadi begini kalau mereka memanusiakan saya." Ucap Rukmini.. Lea terdiam.
"Oke, kalo dengan kamu bercerita bisa membuatmu tenang dan nggak ganggu aku sama keluargaku, aku dengarkan.." Ucap Lea, Esa menggeleng.
"Sayang, ini terlalu beresiko." Ucap Esa, dia khawatir Rukmini menipu Lea.
"Dia hanya ingin cerita, mungkin dia masih memiliki ganjalan di hatinya sampe dia begini, kita mungkin akan dapat pesan juga." Ucap Lea, Dara yang mendengar itu mengangguk setuju.
"Okay, kita dengarkan dia.. Mama yang jaga kamu. Kalo dia berniat sedikit saja nyakitin kamu, mama akan tarik paksa dia." Ucap Dara, Lea mengangguk..
"Silahkan kamu bercerita, tapi ingat.. Jangan pernah macam - macam." Ucap Lea..
Rukmini kemudian memulai cerita versi nya, dimana Lea, Esa, Dara dan Amar bisa melihat visual nya secara langsung. Seolah mereka di bawa ke jaman dahulu, jaman saat belum ada kemajuan. Tahun.. Saat Rukmini kecil.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
...CERITA RUKMINI DARI MASA KE MASA...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Masa itu, tahun itu adalah tahun yang paling berat bagi seorang gadis cilik berusia 12 tahun yang sedang menggendong keranjang anyaman bambu dengan isi sisiran pisang di punggung nya, ia baru saja memanen pisang di ladang nya yang tak jauh dari rumah.
Kemarau panjang membuat warga di sana kesulitan hidup, selain tidak bisa menanam padi dan yang lain nya, warga juga kesulitan mendapat air untuk hidup sehari - hari.
"Cepet!! Taro bakulnya terus pergi cari air, gentong nya kosong ndak bisa minum!" Bentak seorang perempuan paruh baya yang memakai kebaya berwarna coklat muda.
"Mak, aku rehat sek yo? aku lemes.." Ucap gadis cilik itu, setelah meletakkan bakulnya.
Perempuan galak tadi adalah ibu dari si gadis cilik itu, dia bukan ibu tiri.. Tapi ibu kandung. Tapi meski kandung, sifat nya.. sangat tidak bisa di panggil saebagai seorang ibu.
"Rehat - rehat! Koe rehat makanmu juga rehat." Ucap ibunya, lalu pergi.
Gadis cilik itu meneteskan air matanya, dia sudah kelaparan, kehausan dan kelelahan. Dia belum makan, bahkan dia tidak berani memotek satu pisang pun dari hasil panen nya, karena jika ibunya tau, dia akan kena hajar. Tapi kali ini, tubuh nya sudah gemetar hebat.. lambung nya sudah sangat perih, melihat pisang yang sudah menguning ia menelan ludah nya..
"Cepat cari air! Pokok nya nek ndak dapet air, koe ndak boleh makan ndak boleh minum!" Teriak ibunya lagi, gadis cilik itu menelan ludah nya.
Gadis cilik itu bangun, dia berjalan dengan langkah gontai menuju ke belakang rumah nya di mana di sana ada jamban atau kamar mandi orang jaman dulu yang berada di luar rumah. Gadis cilik itu mengambil ember lalu kembali lagi ke depan, dia berhenti sejenak menatap pisang di bakul tadi..
Dia mendekat dan makin menelan ludah nya, setelah dia menoleh kesan kemari memastikan tidak ada ibunya, ia pun memotek satu yang sudah kuning, dan lari.. tapi ketahuan..
"RUKMINI!!!!"
Teriak ibunya, gadis cilik yang di panggil Rukmini itu terus lari dengan wajah panik, pias dan ketakutan. Ia lari sekencang - kencang nya dan sembunyi di balik pohon..
"Hh.. Hh.. Hh.." Dia ngos ngosan.
"BERANI KOE NYURI PISANG IKI! IKI MAU DI JUAL NANTI NDAK LAKU!!" Teriak ibunya lagi.
"RUKMINI!! NANTI PULANG, HABIS KOE SAMA BAPAKMU!" Teriak ibunya lagi.
Dia masih bisa mendengar teriakan ibunya, tapi tidak keluar dari persembunyian nya. Dia mengupas pisang yang di ambil nya tadi lalu dia makan dengan rakus.. Karena dia sangat kelaparan. Sudah sejak kemarin sore dia tidak makan dia hanya bisa curi - curi minum air saja karena dia tidak kebagian jatah makan.
Pagi nya dia masih harus bekerja membantu kedua orang tua nya, dia pikir mungkin akan dapat makan, tapi.. sebiji singkong rebus pun tidak dia dapat. tenggorokan nya kering, lambung nya perih.. gadis cilik yang di panggil Rukmini itu akhir nya mencuri satu pisang milik ibunya.
"Koe kenapa makan pisang buru - buru, nduk?"
"Hh!!"
Rukmini terkejut melihat seorang pria berumur sekitar 30 tahunan berdiri menatap nya. Pria itu membawa cangkul di pundak nya dan memakai pakaian juga caping sawah. Tapi ternyata dia kenal, itu adalah salah satu teman bapak nya yang sering datang ke rumah sambil membawa ayam jago.
"Laper wa, aku belum makan." Ucap Rukmini kecil.
"Melaske, ayo wa kasih makanan. Wa masak sego (nasi) jagung." Ucap pria itu, mendengar kata itu Rukmini menelan ludah nya, tergiur..
"Mau ndak?" Tanya pria itu, Rukmini mengangguk.
"Koe bawa ember buat apa?" Tanya pria itu lagi.
"Ngangsu (nimba air), wa. Sumur di belakang rumah air nya hitam." Ucap Rukmini kecil.
"Gampang, sumur di rumah uwa banyak air nya. Yuk, melaske (kasihan) tenan koe iki.." Ucap pria itu dia membawa ember Rukmini kecil.
Rukmini akhir nya mengangguk, mereka berjalan pergi. Kampung tempat tinggal Rukmini masih sangat sepi, jarak dari rumah satu ke rumah lain nya cukup jauh. Dan kebanyakan masih ada kebun - kebun milik warga atau tanah kosong yang belum di bangun rumah.
Tak lama mereka pun sampai di rumah pria tadi yang ternyata begitu sepi. Rukmini kecil ingat pria itu sudah memiliki istri dan anak nya seumuran juga dengan nya, tapi mereka tidak ada di rumah.
"Sini masuk ae nduk, ndak usah takut uwa ndak galak koyo ibumu." Ucap pria itu tersenyum penuh arti, Rukmini mengangguk.
...BERSAMBUNG!...
Rukmini kecil lalu duduk di depan pria itu, matanya berbinar penuh harap menatap makanan yang ada di sana, dia sangat kelaparan.
"Istri nya uwa lagi pergi nginap di tempat sodaranya, si Sri ikut juga.. lagi hajatan. Makanya uwa masak sendiri.." Ucap laki - laki itu, sambil menyendokan sepiring nasi jagung.
Nasi jagung itu hanya berlaukkan ikan asin saja, lalu di berikan pada Rukmini yang tangan nya sudah gemetar hebat.
"Makan, nduk.. kalo kurang nanti tambah sendiri saja, uwa ke belakang dulu yo." Ucap laki - laki itu dan Rukmini tersenyum sumringah.
"Makasih banyak, wa." Ucap Rukmini, dia tidak curiga sama sekali..
Tanpa pikir panjang atau pikir dua kali, Rukmini memakan nasi jagung tadi dengan lahap, dia sampai berkaca - kaca karena akhir nya dia makan, perut nya sangat lapar. Cara makan nya bahkan seperti orang yang baru pertama kali menyentuh makanan, sangat rakus.
Tak lama, Rukmini menghabiskan makanan nya dan kemudian dia meminum air putih yang di sediakan oleh pria tadi, sampai gelas nya juga kosong.
"Alhamdulillah.." Gumam Rukmini kecil, dia kenyang.
Rukmini bangun sambil membawa piring dan gelas bekas nya makan, tapi saat berbalik dia terkejut melihat pria tadi sudah berdiri di belakang nya.
"Sudah habis, yo?" Tanya nya.
"Sudah wa, makasih banyak. Dimana tempat cuci piring nya, piring nya mau tak cuci." Ucap Rukmini.
"Itu, di belakang." Ucap pria itu, dan Rukmini pun kebelakang.
Dia dengan wajah sumringah nya mencuci piring bekas nya makan sekaligus piring kotor lain yang ada di sana, dia sangat berterimakasih pada dermawan baik yang mau memberinya makan itu. Setelah selesai cuci piring, Rukmini pergi mencari pria tadi untuk berpamitan pulang..
"Wa, aku pamit mulih (pulang) yo." Ucap Rukmini.
"Mau pulang yo? Boleh bantuin uwa dulu ndak nduk?" Tanya pria itu.
"Boleh wa, bantu apa?" Tanya Rukmini, dia tidak akan menolak.
"Pundak nya uwa pegel - pegel, nduk.. bantu injak - injak sebentar boleh? Nanti uwa kasih uang." Ucap pria itu, mendengar kata uang.. Rukmini kecil langsung mengangguk.
"Boleh, wa." Ucapnya.
"Sini nduk." Panggil pria itu, dia sudah tengkurap di ranjang bambu yang ada di dekat dapur.
Rukmini mendekat, dia lalu dia mulai naik ke punggung pria itu. Tubuh Rukmini memang kurus, jadi dia tidak berat sama sekali. Tapi Rukmini tidak hanya menginjak - injak punggung pria itu saja, dia juga memijat telapak kaki pria itu dan menarik jari - jari nya sampai bunyi, sebagai tanda terimakasih nya.
Rukmini sudah biasa memijat bapak nya juga di rumah, kalau bapak nya belum bilang berhenti.. Rukmini akan terus menginjak - injak punggung bapak nya dan memijat telapak kakinya sampai dia kelelahan sendiri.
"Nduk, mau bantuin wa lagi, ndak?" Tanya pria itu.
"Boleh, wa." Ucap Rukmini kecil, pria itu tersenyum dan bangun.
"Sini, koe tiduran.." Ucap nya, Rukmini kecil tidak mengerti apapun, dia menurut saja merebahkan dirinya di tempat pria tadi.
"Koe diem yo? Nek koe sampe teriak, koe ndak jadi tak kasih uang. Koe sudah makan nasi jagung toh? Iku mahal, nek koe teriak, koe ganti nasi jagung nya." Ucap pria tadi, Rukmini yang tidak mengerti apapun mengangguk saja sambil tersenyum.. Tapi kemudian senyum nya hilang.
"Wa!"
Senyum Rukmini perlahan pudar saat tiba - tiba tangan laki - laki tadi membuka celana nya. Rukmini spontan menahan celana nya tapi pria tadi melotot galak, akhir nya Rukmini kecil melepaskan tangan nya. Tubuh nya gemetar takut saat tangan kasar pria itu mulai menyentuh paha nya, dia hendak menangis pun dia tahan.
Dan ternyata.. Rukmini kecil di lecehkan. Dia di perkosa oleh pria yang Rukmini pikir orang baik yang mau memberinya makan. Tubuh kecil nya kini meringkuk gemetar di ranjang bambu tanpa busana dengan tatapan kosong. Terlihat noda darah yang mem bercak di ranjang bambu dan di sela paha Rukmini, gadis kecil itu kehilangan mahkota nya.
"Nanti kalo uwa panggil kamu harus manut yo, nek gak manut nanti uwa kasih tau orang - orang kamu sudah ndak perawan." Ucap pria itu mengancam.
"Jangan wa." Ucap Rukmini, dia takut akan di siksa kedua orang tua nya.
"Makanya manut. Pake bajumu, ambil air terus pulang." Ucap pria tadi, Rukmini mengangguk.
Tapi.. Rukmini yang baru di lecehkan itu tentu kesakitan, dia kesulitan berjalan. Dia menangis sambil menimba air, tapi suara nya dia tahan. Dan setelah menimba air, dia pun pulang dari rumah pria tadi, dan ya.. pria tadi menyelipkan uang di saku belakang celana Rukmini sambil meremas bagian belakang Rukmini.
Rukmini pun pergi dari sana dengan menahan sakit, dia harus menahan nya agar air yang di pikul nya itu tidak tumpah dan banyak yang terbuang. Dan setelah sampai di rumah, dia sudah di tunggu oleh ayah nya yang tatapan nya begitu marah padanya. Rukmini kembali gemetar ketakutan, dia pikir bapak nya mungkin sudah tau apa yang baru dia lakukan di rumah pria tadi.
"Berani koe ambil pisang! Koe tau ndak itu mau di jual!" Teriak bapak nya, setelah Rukmini meletakan air yang di pikul nya.
"Maaf pak, aku laper." Ucap Rukmini, berkaca - kaca.
"Alasan! Kecil - kecil sudah maling! Ndak usah makan koe malam iki!" Teriak bapa nya, Rukmini hanya bisa menangis saja.
"Hiks.. hiks.. hiks.."
Beberapa hari kemudian.
Rukmini sedang berada di ladang dan sedang memanen singkong. Tanah yang tandus itu hanya bisa di tanami umbi - umbian seperti singkong yang tidak begitu membutuhkan banyak air. ladang yang luas dan sepi sudah menjadi teman Rukmini kecil sehari - hari nya, dia sudah biasa bertemu ular berbisa tidak akan takut dengan hantu sekalipun.
Tapi kali ini tubuh nya gemetar hebat saat dia melihat laki - laki kemarin yang sudah memperkosa nya, laki - laki itu tersenyum menatap Rukmini kecil dan melambaikan tangan nya memanggil Rukmini kecil.
"Sini nduk." Ucap nya, Rukmini hendak lari.. tapi juga takut kalau pria itu memberi tahu orang tua nya.
"Koe ndak manut nanti wa Parto bilang bapakmu, lho." Ucap nya, Rukmini baru tau.. nama nya Parto.
"Jangan wa." Ucap Rukmini kecil, dia berkaca - kaca.
Rukmini pun mau tidak mau mendekat, dan akhir nya dia di lecehkan lagi untuk yang kedua kalinya oleh orang yang sama. Rukmini tidak bisa melawan, dia takut akan di adukan pada kedua orang tua nya. Padahal.. itu jelas kesalahan si pria yang memperkosanya.
Rukmini tidak pernah mempunyai rasa aman sedikitpun, dia tidak pernah mendapat kasih sayang yang pantas dari orang tua nya sehingga yang ada di benak Rukmini kecil hanya ketakutan. Rukmini tidak memiliki rumah untuk pulang dan mengadu atau bermanja.
...BERSAMBUNG!...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!