Indonesia
NovelToon NovelToon

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Bab 1. Kembali Ke Kampung

Bismillah

❤️❤️❤️

“Mas … kita sudah sampai.”

Kata-kata itu melayang di udara beberapa detik sebelum akhirnya mendarat. Tidak langsung di telinga Krisna—lebih dulu di kaca mobil yang berembun, di suara hujan yang mengetuk atap, di detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu pelan untuk seseorang yang seharusnya hidup.

Pria berwajah rupawan itu tidak menjawab.

Ia duduk diam di kursi belakang. Satu tangannya bertumpu di paha, tangan lain menggenggam ponsel dengan layar gelap. Jempolnya sempat bergerak, refleks, seolah masih ingin membuka chat terakhir. Tapi layar itu sudah lama mati. Tidak ada pesan baru. Tidak akan ada.

Di layar itu, percakapan mereka berhenti begitu saja. Tidak ditutup. Tidak dibereskan. Seperti luka yang dibiarkan terbuka—tidak berdarah, tapi perihnya menetap.

Di sampingnya, seorang bayi berusia enam bulan tertidur di car seat. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur. Sesekali alisnya berkerut kecil, lalu kembali tenang. Dunia belum sempat mengajarinya kecewa.

Krisna menoleh.

Matanya berhenti terlalu lama di wajah kecil itu.

Enam bulan.

Enam bulan bangun malam, enam bulan memanaskan susu sendirian, enam bulan menyandarkan dahi ke dinding kamar mandi supaya tidak ada yang melihat matanya merah. Enam bulan mencoba meyakinkan diri bahwa ia masih utuh.

Padahal ia sudah runtuh, hanya rapi dari luar.

Ia menarik napas panjang. Dada terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.

“Enam bulan,” gumamnya, nyaris tanpa suara.

Ia membuka pintu mobil.

Udara desa langsung menyerbu—dingin, basah, membawa aroma tanah hujan, rumput, dan kandang sapi. Bau yang dulu selalu ia keluhkan setiap pulang kampung. Bau yang sekarang membuat bahunya sedikit mengendur, seperti seseorang yang akhirnya boleh berhenti berpura-pura.

Langit Yogyakarta, lebih tepatnya di salah satu desa Kabupaten Kulon Progo menggantung rendah. Awan kelabu menutup rapat, dan hujan jatuh pelan tapi terus-menerus, seakan langit sendiri sedang lelah menahan sesuatu.

Di ujung halaman, Pak Wijaya sudah berdiri.

Kemejanya disetrika rapi. Kain sarungnya lurus. Rambutnya disisir ke belakang seperti biasa. Tapi matanya—mata itu tidak berubah. Tetap mata seorang ayah yang terbiasa membaca diam anaknya.

Tatapannya turun ke mobil. Naik ke Krisna. Lalu berhenti di bayi.

“Ndak memberi kabar dulu kamu,” katanya.

Nada suaranya datar, tapi di sela-selanya ada sesuatu yang tertahan. Seperti pintu yang tidak dibuka penuh.

Krisna meraih car seat. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkatnya, cepat ia sembunyikan dengan mengencangkan rahang.

“Aku nggak mau jadi ramai di sini, Yah.”

Pak Wijaya mendengus kecil. “Orang desa mana bisa ndak ramai. Wong kamu itu anak Kades. Dokter pula. Tampan. Duda kota—”

Ia berhenti.

Kata itu terlanjur melayang, lalu jatuh di antara mereka.

Krisna menegang. Otot di lehernya menonjol. “Jangan bahas, Yah.”

Suara itu tidak tinggi. Justru terlalu terkendali.

Pak Wijaya menatapnya lama. Lama sekali. Seolah ingin mengatakan banyak hal tanpa mengucapkannya. Lalu ia mengangguk pelan. “Ya sudah. Masuk. Ibukmu di dalam.”

Begitu melangkah ke dalam rumah, aroma sayur lodeh langsung menyambut. Hangat. Familiar. Seperti pelukan yang datang terlambat tapi tetap dibutuhkan.

Namun bersamaan dengan itu, ada rasa lain yang menyelinap—rasa bersalah yang menggigit pelan. Krisna pulang membawa bayi, bukan kebahagiaan. Pulang membawa sisa, bukan kemenangan.

Ibunya muncul dari dapur, tangan masih basah. Begitu melihat bayi, napasnya tertahan.

“Ya Allah ....”

Ia melangkah cepat. Tangannya gemetar saat menyentuh car seat. “Cucuku ....” Matanya berkaca. Bibirnya bergetar, tapi senyumnya dipaksakan tetap ada.

“Assalammualaikum, Bu,” ucap Krisna.

Ibunya tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah anaknya. Lama. Terlalu lama untuk sekadar ibu yang menyambut pulang.

“Waalaikumsalam,” katanya akhirnya. “Kamu kok kurusan. Matamu … kok celong begitu? Kayak orang kurang tidur."

Krisna mengalihkan pandang. Menatap lantai. “Aku baik, Bu.”

Ibunya menghela napas pelan. “Orang yang baik itu ndak perlu ngomong ‘aku baik’.”

Kata-kata itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat dada Krisna terasa sesak. Ia menelan ludah. Tidak membalas.

***

Di luar rumah besar itu, gosip sudah berlari lebih cepat daripada rintik hujan.

Di warung kopi, di teras rumah, di ladang—nama Krisna Wijaya disebut dengan nada beragam. Ada yang kagum, ada yang iri, ada yang berharap.

“Anaknya Pak Kades pulang, lho. Dokter!” bisik Bu Tumini sambil menutup mulut, padahal suaranya cukup keras untuk didengar satu kampung.

“Katanya udah cerai. Bawa bayi pula,” tambah yang lain, matanya berbinar seperti menonton sinetron gratis.

“Lha, kalau cerai, berarti … sendiri dong?” ada yang tertawa kecil, mengusap jilbabnya, membayangkan kesempatan.

Namun di antara semua yang sibuk mengunyah berita, ada satu nama yang tidak ikut disebut-sebut karena pemiliknya sedang sibuk memikirkan hal lain: cara agar besok dapur tetap ngebul.

Raisa.

Usianya 19 tahun, baru dua bulan lulus sekolah. Ia tidak punya waktu untuk kagum pada “dokter tampan anak Kades”. Dunia Raisa lebih sederhana dan lebih keras: uang belanja yang makin menipis, ayah yang penghasilannya tidak menentu, dan ibunya—Bu Rika—yang tiap pagi pergi bekerja sebagai ART di rumah Pak Kades.

Raisa tidak pernah benar-benar masuk ke rumah majikan ibunya. Ia tahu pagar besar itu, tahu halaman luas itu, tahu kabar burung tentang kaya raya. Tapi ia tidak mengenal siapa pun di dalamnya selain ibunya yang pulang dengan lelah dan cerita singkat.

Dan dr. Krisna? Raisa tidak punya alasan untuk mengenalnya. Dokter itu lama tinggal di Jakarta, sejak masa kuliahnya. Nama itu hanya selintas di telinganya, seperti angin lewat.

***

Satu jam sebelumnya ....

Siang itu, hujan rintik-rintik menorehkan titik-titik basah di kepala Raisa. Ia mengayuh sepeda tuanya, ban berderit pelan melewati jalan yang mulai licin.

Kemejanya sederhana, celana kainnya sudah agak pudar. Di keranjang depan, ada map berisi fotokopi ijazah dan surat lamaran yang dibungkus plastik agar tidak basah.

Ia menahan napas setiap kali roda sepedanya melewati genangan, takut terpeleset.

“Bismillah … semoga keterima kerja,” gumamnya, menatap papan toko kecil di ujung jalan desa—toko sembako yang kabarnya butuh pelayan.

Raisa mempercepat kayuhan.

Dan saat itulah sebuah mobil hitam melaju dari arah berlawanan. Mobil itu tidak pelan. Tidak berhenti. Tidak peduli.

Ban mobil menghantam genangan air yang lebar, dan dalam satu detik, air cokelat bercampur lumpur terlempar seperti ombak kecil.

PRAAAK!

Lumpur menyapu tubuh Raisa. Menampar wajahnya, membasahi rambut, merembes ke baju, menodai surat lamaran dalam plastik yang kini tampak buram.

Raisa terdiam sepersekian detik—otaknya seperti perlu waktu untuk memahami penghinaan itu.

Lalu suara dari mulutnya meledak.

“Hai!!”

Sepedanya oleng. Ia mengerem mendadak sampai ban berdecit. Matanya merah, bukan karena hujan, tapi karena amarah yang naik dari perut seperti api.

Mobil itu terus melaju.

Raisa menatap punggung mobil mewah itu seperti menatap musuh hidup-mati.

“Kurang ajar!” Ia melempar sepeda ke pinggir jalan begitu saja.

Tangannya menyapu tanah, mencari apa saja. Jari-jarinya menemukan batu—besar, berat, kasar.

Darah di pelipisnya serasa mendidih.

“Kalau kaya nggak berarti boleh semena-mena!” ia menggeram, lalu mengangkat batu itu dengan kedua tangan.

Raisa berlari beberapa langkah dan ....

DUAARR!

Batu menghantam kaca belakang mobil. Suara retakan terdengar jelas bahkan di tengah rintik hujan.

Mobil itu langsung mengerem keras dan berhenti beberapa meter di depan. Lampu rem menyala merah seperti mata marah.

Raisa terengah, dada naik turun. Tangannya gemetar bukan karena takut—tapi karena adrenaline.

Pintu mobil terbuka.

Bukan dari sisi sopir. Dari sisi penumpang.

Seorang pria keluar.

Tinggi. Tegap. Jaket hitam yang mahal. Rambutnya rapi tapi tampak seperti baru diacak stres. Wajahnya tampan dengan garis tegas yang membuat orang mudah terpikat—tapi tatapannya dingin, tajam, seperti pisau bedah.

Dr. Krisna Wijaya.

 

Bersambung .... 💕

Assalammualaikum, siapa nih yang kaget sama Mommy Ghina di sini? 😁 Ah, pasti nggak kangen ya 😭.

Mommy Ghina kembali lagi nih dengan cerita barunya. Seperti biasanya nih, minta kerja samanya agar retensi aman ya. No skip bab, ikuti terus ceritanya, jangan nabung bab, jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. Pokoknya minta dukungannya agar bisa stay di sini ya. Khusus buat yang suka tabung bab sebaiknya baca saat karya sudah tamat saja ya, Say.

Sebelumnya terima kasih banyak 🤗

Bab 2. Ribut Di Tengah Jalan

Pria itu menutup pintu dengan gerakan pelan, terlalu terkontrol untuk orang yang baru saja mobilnya dirusak. Lalu ia menatap kaca belakang yang retak, kemudian menoleh pada Raisa.

Tatapan itu turun-naik, menilai Raisa seperti menilai sesuatu yang mengganggu jalannya.

“Kamu yang lempar?” suaranya rendah, datar, tapi ada tekanan yang membuat udara terasa lebih berat.

Raisa mengusap wajahnya yang penuh lumpur. Gerakan tangannya kasar, jijik. Ia meludah kecil ke samping.

“Iya! Emang kenapa?” Raisa melangkah maju, sepatu sandal jepitnya menciprat air. “Masnya buta ya? Mobil segede gaban lewat genangan kayak raja! Nggak lihat ada orang di jalan?!”

Krisna menyipit. “Kamu merusak properti orang.”

“Dan kamu ngerusak hidup orang!” Raisa menunjuk tubuhnya sendiri yang kotor. “Ini baju satu-satunya yang layak buat ngelamar kerja! Kamu pikir saya punya banyak baju?!”

Krisna menahan napas. Raut wajahnya tidak berubah, tapi otot di rahangnya mengeras. “Berapa harga bajumu? Saya ganti.”

Raisa tertawa pendek—tajam, sinis. “Hah! Enak banget! Duit bisa beresin semua? Mas kira saya anjing disiram air terus dikasih tulang?”

Krisna melangkah mendekat. Aura dinginnya menekan. “Jangan kurang ajar.”

Raisa justru mengangkat dagu, menantang. “Kurang ajar itu kamu, Mas! Mobil mewah, tapi nggak punya sopan santun!”

Krisna mengangkat telunjuk, menunjuk kaca belakang mobil. “Itu retak. Kamu sadar itu tindak pidana?”

Raisa berkedip, tapi bukan karena takut. Karena kesal dengan nada mengancam itu. “Pidana? Ya laporin aja! Sekalian laporin juga Mas yang nyipratin orang!”

Krisna menatapnya beberapa detik, seolah sedang menahan sesuatu di dalam dadanya agar tidak meledak. Di balik ketenangannya, ada lelah yang menumpuk—lelah yang tidak punya tempat untuk tumpah.

Ia baru pulang membawa bayi. Kepala penuh rencana klinik, penuh kekacauan batin. Dan sekarang ada gadis barbar berlumur lumpur yang merusak mobilnya lalu membentak-bentak tanpa rasa takut.

Hari pertama datang di desa, dan semesta sudah menyambutnya dengan keributan.

“Kamu sadar mobil ini bukan mainan?” Krisna berkata perlahan. “Kamu pikir merusak itu bentuk protes yang benar?”

“Setidaknya saya berani!” Raisa membalas cepat. “Daripada orang kaya yang nyakitin orang tapi pura-pura nggak salah.”

Krisna menatap Raisa, dan untuk sesaat, ada sesuatu yang bergerak di matanya—sesuatu yang seperti … tersentuh? Bukan. Tidak mungkin. Tapi kata-kata “nyakitin orang” seperti menabrak luka yang belum kering.

Ia menegang lagi. “Jangan sok tahu.”

Raisa menyibak rambutnya yang basah, memperlihatkan pipinya yang berlumur lumpur. “Saya nggak sok tahu. Saya lihat. Kamu nyiprat saya. Kamu bikin saya gagal hari ini.”

Krisna mendekat satu langkah lagi. Jarak mereka kini hanya beberapa jengkal. Raisa bisa mencium aroma parfum mahal bercampur wangi sabun rumah sakit—bersih, steril, bertolak belakang dengan lumpur di tubuhnya.

“Kalau kamu mau kompensasi, saya bisa ganti lebih dari cukup,” Krisna berkata, suaranya masih datar tapi lebih tajam. “Tapi kaca retak ini, kamu harus tanggung jawab.”

Raisa mendengus. “Saya tanggung jawab? Kamu juga!”

Krisna menatapnya tanpa berkedip. “Kamu ini siapa?”

Raisa mengangkat dagu lebih tinggi. “Raisa.”

“Hanya ‘Raisa’?” Krisna mengulang, seolah nama itu terlalu kecil untuk keributan sebesar ini.

Raisa menyeringai. “Iya. Orang miskin biasanya nggak punya gelar. Nggak kayak ‘Dokter, polisi, atau pejabat’.”

Krisna terdiam sejenak.

Ia tidak tahu kenapa kata “dokter” terdengar seperti ejekan dari mulut gadis ini. Padahal ia menghabiskan bertahun-tahun untuk gelar itu. Dulu gelar itu membuatnya bangga. Kini … gelar itu seperti baju yang berat. Menutupinya dari rasa hancur di dalam.

“Kamu pikir gelar bikin hidup gampang?” Krisna bertanya pelan, suaranya kini mengandung bara.

Raisa menatapnya tajam. “Kalau gelar nggak bikin gampang, ya minimal punya otak buat nginjek rem kalau lihat genangan!”

Krisna mendecih, kehilangan sedikit kontrol. “Kamu ini—”

“Saya ini apa? Barbar? Kampungan?” Raisa melangkah maju, hampir menabrak dada Krisna. “Iya! Saya kampungan! Tapi saya punya hati! Saya nggak nyipratin orang terus sok suci!”

Krisna menahan gerakan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia merasa darahnya naik, bukan karena Raisa benar—tapi karena cara Raisa menelanjangi sesuatu yang ia sendiri tidak siap lihat: bahwa ia sedang kehilangan kendali, dan dunia tidak peduli ia dokter atau anak Kades.

Suara bayi tiba-tiba terdengar dari dalam mobil—rengekan kecil, pelan.

Raisa tersentak. Matanya melirik ke mobil, baru sadar ada sesuatu yang hidup di sana.

Krisna langsung menoleh ke arah suara itu, tubuhnya refleks berubah. Wajah dinginnya tetap, tapi langkahnya cepat menuju pintu belakang.

Raisa menatap punggungnya dengan bingung. “Ada … bayi?”

Krisna membuka pintu belakang. Suara tangisan bayi semakin jelas. Ia mengangkat bayi itu dari car seat dengan gerakan yang—anehnya—lebih hati-hati dari sebelumnya. Bayi itu merengek, tangan kecilnya menggenggam udara.

Krisna mengayun pelan, seperti seseorang yang belajar menenangkan dengan terpaksa.

Raisa menatap pemandangan itu, mulutnya terbuka sedikit. Amarahnya tidak langsung hilang, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Orang arogan ini … bawa bayi?

Krisna menoleh lagi pada Raisa, masih menggendong bayi. Tatapannya tetap dingin, tapi kini ada bayang gelap kelelahan.

“Kamu tetap harus tanggung jawab,” katanya, suaranya lebih rendah. “Saya bisa urus ini baik-baik. Tapi jangan pikir dengan marah-marah kamu benar.”

Raisa menggertakkan gigi. “Dan jangan pikir dengan ngomong pelan kamu jadi paling benar.”

Mereka seperti dua api saling menggesek. Hujan rintik-rintik menjadi saksi, jalan kampung menjadi arena.

Beberapa orang mulai melintas—petani pulang dari sawah, ibu-ibu membawa payung, anak sekolah yang menepi karena penasaran.

“Lho, ada apa itu?” terdengar bisik-bisik.

Seorang bapak tua menghampiri, membawa jas hujan tipis. “Heh! Kalian ini kenapa ribut di jalan?”

Raisa menunjuk mobil. “Pak! Mobilnya nyipratin saya! Terus saya—”

“Terus kamu lempar batu?” bapak itu memotong, matanya membesar melihat kaca belakang retak.

Raisa menegang. “Ya … saya emosi, Pak.”

Krisna berbicara datar. “Dia merusak mobil saya.”

Bapak itu menghela napas, menatap bergantian, lalu menatap bayi di gendongan Krisna. “Lho … kamu ini … Krisna?”

Krisna menatap bapak itu sebentar, lalu mengangguk singkat. “Pakde Suyat.”

Pakde Suyat melongo. “Ya Allah … anak Pak Kades pulang beneran.”

"Eh, ada dokter duda ganteng," salah satu Ibu-ibu ikut menyahut.

Ia menoleh cepat ke warga yang mulai berkumpul, seolah ingin menyuruh mereka menelan gosip mereka sendiri.

Raisa menelan ludah. Anak Pak Kades?

Ibunya bekerja di rumah Pak Kades. Jadi pria ini … majikan ibunya? Atau anak majikannya?

Dadanya mendadak sesak, tapi bukan karena takut. Karena rasa jengkel yang makin dalam.

Bersambung .... 💕

Bab 3. Anak ART Lawan Anak Kades

“Pakde, ini bisa diselesaikan di rumah, jangan di jalan,” Krisna berkata. Nada suaranya tetap dingin, tapi ada kesan memerintah yang biasa dimiliki orang yang terbiasa membuat keputusan.

Raisa langsung membalas, “Saya nggak mau ikut ke rumah orang kaya itu! Nanti saya dituduh macam-macam!”

Pakde Suyat mengangkat tangan, menenangkan. “Hei, hei! Tenang. Raisa, kamu juga jangan meledak-ledak. Krisna, kamu juga … kalau lewat genangan ya pelan, toh ini jalan kampung.”

Krisna menahan komentar. Ia melirik lumpur di tubuh Raisa—lalu map lamaran yang basah.

Sesaat, ia merasa ada sesuatu yang menusuk. Ia ingat dirinya dulu: bukan selalu anak Kades kaya. Dulu ia juga mengayuh sepeda ke sekolah, melewati lumpur, dihina teman kota karena bau kandang. Dulu ia bersumpah akan pergi jauh agar tidak kembali menjadi “anak desa”.

Dan sekarang ia kembali, membawa kehancuran hidupnya sendiri.

Raisa mengusap matanya, lumpur bercampur air hujan menetes. Entah kenapa, mata itu panas—bukan lagi karena marah, tapi karena rasa sakit yang tiba-tiba mengambang: sakit karena hari ini ia hanya ingin pekerjaan, hanya ingin membantu orang tuanya, tapi malah dipermalukan oleh mobil mewah.

Krisna melihat gerakan itu. Bayi di gendongannya berhenti menangis sejenak, menatap wajah Raisa dengan mata bulat.

Raisa menatap balik bayi itu, mendadak diam.

Pakde Suyat menarik napas. “Gini. Kalian berdua, jangan bikin warga tambah heboh. Krisna, kamu pulang dulu. Raisa … kamu pulang bersihin badan. Nanti sore, kita omongkan. Urusan kaca, urusan ganti rugi—diselesaikan baik-baik.”

Raisa hendak protes, tapi Pakde Suyat menatapnya tajam. “Raisa.”

Raisa menggigit bibir, napasnya memburu. Akhirnya ia mengambil sepeda, menegakkan kembali, tangannya masih gemetar.

Krisna melangkah ke mobil, masih menggendong bayi. Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke Raisa.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada senyum. Tidak ada permintaan maaf. Yang ada hanya dua luka yang saling menatap—luka lelaki dewasa yang menutupi hancurnya hati dengan dingin, dan luka gadis muda yang menutupi rapuhnya hidup dengan sikap barbar.

Krisna berkata pelan, nyaris seperti ancaman, nyaris seperti janji: “Ini belum selesai.”

Raisa membalas tanpa kalah tajam, meski suaranya serak: “Aku juga nggak minta selesai.”

Mobil itu melaju pelan kali ini, melewati genangan tanpa menciprat, meninggalkan jejak ban di tanah basah.

Raisa berdiri di pinggir jalan, tubuh kotor, surat lamaran basah, tapi mata masih menyala.

Di kejauhan, suara warga mulai bergemuruh lagi, mengubah kejadian barusan menjadi bahan cerita baru.

“Raisa berani banget, lho, sama anak Kades!”

Hujan rintik-rintik terus turun, pelan tapi pasti, seakan berkata: di desa kecil ini, sesuatu baru saja dimulai.

Dan Raisa belum tahu—hari itu, ketika ia melempar batu dan memecahkan kaca, sebenarnya ia juga sedang memecahkan pintu menuju takdir yang akan menyeret hidupnya jauh dari rencana sederhana: mencari kerja, membantu keluarga.

Sementara di dalam mobil, Krisna menatap jalan desa yang basah, bayi di gendongannya kembali tertidur.

Untuk pertama kalinya sejak ia pulang, ada perasaan yang berbeda dari kosong.

Bukan bahagia.

Bukan tenang.

Tapi … sebuah gangguan.

Dan entah kenapa, gangguan itu bernama Raisa.

***

Ruang tamu rumah Pak Wijaya terasa hangat, bukan karena cuaca—melainkan karena aroma kopi tubruk yang baru saja diseduh. Hujan masih turun rintik di luar, mengetuk genteng dengan irama pelan. Krisna duduk di sofa panjang berwarna cokelat tua, bayi laki-lakinya terlelap di ayunan kain di sudut ruangan. Kemeja hitamnya masih sedikit lembap, rahangnya kaku, matanya menatap lurus ke depan.

Pak Wijaya duduk berseberangan, menyilangkan kaki, tangan besar itu memegang cangkir kopi. Tatapannya sesekali melirik ke arah jendela—ke mobil hitam yang terparkir di halaman.

Retakan di kaca belakangnya jelas terlihat.

Pak Wijaya menghela napas berat. “Mobilmu kenapa, Kris?”

Krisna mengangkat cangkir kopi, menyesapnya sekali. Cairan pahit itu mengalir di tenggorokannya, meninggalkan rasa hangat yang tidak benar-benar menenangkan.

“Retak,” jawabnya singkat.

Pak Wijaya mengernyit. “Ayah lihat. Maksud Ayah … kenapa bisa retak?”

Krisna menurunkan cangkir, menatap permukaan kopi yang bergetar halus. Sudut bibirnya terangkat sedikit—bukan senyum, lebih mirip sindiran lelah.

“Ketemu gadis gila di jalan,” katanya datar. “Namanya Raisa.”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan air.

Di ambang pintu ruang tamu, seorang perempuan paruh baya yang baru saja masuk membawa nampan berisi camilan langsung tersentak. Tangannya bergetar, cangkir kecil di atas nampan beradu pelan.

Bu Rika.

Wajahnya yang biasanya tenang mendadak pucat. Matanya melebar, napasnya tertahan.

Pak Wijaya yang peka langsung menoleh. Tatapannya berpindah dari Krisna ke Bu Rika—ART yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumahnya, perempuan yang ia kenal jujur dan pendiam.

“Raisa?” ulang Pak Wijaya pelan. Lalu alisnya terangkat. “Bukannya Raisa itu anakmu, Bu Rika?”

Bu Rika seperti kehilangan pijakan. Ia berdiri kaku, jari-jarinya mencengkeram nampan seakan itu satu-satunya pegangan agar ia tidak jatuh.

“I-iya, Pak,” suaranya nyaris tak terdengar. “Raisa itu … anak saya.”

Udara di ruangan itu berubah.

Krisna yang semula menatap kopi, perlahan mengangkat kepala. Tatapannya mengarah ke Bu Rika—tajam, dingin, seperti pisau bedah yang siap mengiris lebih dalam.

Ibunya Raisa.

Perempuan yang setiap pagi membersihkan rumah ini. Perempuan yang mungkin—tanpa ia sadari—sudah sering ia lihat berlalu-lalang, tapi tak pernah benar-benar ia perhatikan.

“Aku nggak tahu anaknya siapa, Yah,” kata Krisna akhirnya, suaranya tetap datar, tanpa penyesalan. “Yang jelas dia masih muda. Rambutnya panjang. Pipinya agak cubby.”

Bu Rika terisak kecil, refleks. Tangannya gemetar makin hebat.

“Maaf, Den Krisna … maaf sekali,” katanya terbata, kepalanya menunduk dalam-dalam. “Anak saya memang … agak keras. Tapi dia bukan anak jahat. Dia—”

Pak Wijaya mengangkat tangan, menghentikan. “Tenang dulu, Bu Rika. Duduk dulu.”

Bu Rika ragu, lalu menurut. Ia duduk di kursi kecil dekat pintu, punggungnya bungkuk, wajahnya penuh rasa takut dan malu.

Krisna menyandarkan punggung ke sofa. Dalam kepalanya, adegan siang tadi berputar ulang: wajah Raisa yang berlumur lumpur, mata menyala penuh amarah, suara ketus yang berani menantangnya tanpa gentar.

Anak ART.

Anak Bu Rika.

Entah kenapa, fakta itu tidak membuatnya merasa menang. Justru sebaliknya—ada rasa tidak nyaman yang merayap pelan.

Pak Wijaya meneguk kopinya, lalu berkata dengan nada lebih tenang, tapi tegas, “Ceritakan dari awal.”

Krisna menghela napas. “Aku lewat jalan desa. Hujan. Ada genangan. Mobil nyiprat—”

“—Dan anak saya kena,” Bu Rika memotong tanpa sadar, lalu langsung menutup mulutnya sendiri, ketakutan. “Maaf, Pak.”

Pak Wijaya menoleh sebentar, lalu kembali ke Krisna. “Lanjut.”

Bersambung ... 💕

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!