Indonesia
NovelToon NovelToon

Fated Across Borders: Shared Wounds

Chapter 01

"Brian, ayo kita mampir ke rumah tetangga," ujar seorang wanita.

Brian yang sedang duduk santai di sofa sambil bermain gim pun bangkit perlahan. "Baiklah, Bu," balasnya datar.

Ia berjalan bersama kedua orang tuanya menuju rumah di seberang. Setelah menekan bel, beberapa detik kemudian, seorang wanita berambut hitam pendek dan matanya yang hitam seperti kopi membuka pintu.

"Ah, kalian pasti keluarga baru di perumahan ini," sambut wanita itu ramah, dengan suara yang lembut dan tenang.

Ibu Brian tersenyum. "Ya, kami hanya ingin mampir dan berkenalan."

"Oh, begitu ya? Sebentar, saya panggilkan dulu putri saya," kata wanita itu sebelum masuk kembali ke dalam rumah.

Ketika ia kembali, ia membawa seorang anak perempuan dengan rambut hitam pendek yang tampak berantakan. Ekspresi anak itu kosong dan murung, seolah tidak ada kehidupan dalam matanya.

"Nama saya Abigail Barbara, dan ini putri saya, Abigail Amayah," ujar wanita itu.

Barbara menyentuh pundak putrinya dengan lembut. "Ayo, kenalkan dirimu."

Namun, Amayah tetap diam. Ia menunduk, sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada siapa pun di sekelilingnya. Brian menatapnya dengan tatapan datar—tak jauh berbeda dengan ekspresi anak itu.

"Maaf ya, Amayah memang agak pemalu," ucap Barbara mencoba mencairkan suasana.

"Tidak apa-apa, putra kami juga begitu kok," tambah Ayah Brian.

Brian terus memperhatikan gadis bernama Amayah itu. Ada sesuatu yang terasa ‘salah’ padanya, meski ia sendiri tidak tahu apa. Namun, ia juga tidak peduli. Tidak ada yang membuatnya ingin terlibat dengannya.

Setelah itu, ketiga orang dewasa itu melanjutkan obrolan hangat. Namun, suasana antara Brian dan Amayah begitu hening dan suram. Tak ada suara, tak ada gerakan berarti, tak ada ketertarikan.

Tak lama kemudian matahari terbenam. Kedua keluarga pun berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.

"Brian, kamu harus bisa berbaur dengan tetangga. Kalau kamu kesulitan saat kami tidak ada, siapa yang akan membantumu?" kata Ibu Brian.

"Berhenti menganggap aku anak kecil, Bu. Aku bisa hidup mandiri," balas Brian datar.

"Tapi tetap saja—"

"Sudah, sudah... ayo makan malam," potong Ayah Brian menenangkan.

"Baiklah..."

---

Keesokan paginya adalah hari di mana Brian berpisah dengan kedua orang tuanya. Mereka harus bekerja di luar negeri sangat lama.

"Brian, kalau kamu kesulitan, minta tolonglah pada orang lain. Kamu harus bisa mempercayai orang lain, jangan terlalu menutup diri," pesan Ibu Brian.

"Dan jaga pola makan, pola tidur, serta rutin berolahraga. Jangan lupa belajar juga," tambahnya.

Brian hanya menatap ibunya dengan bingung. "Aku sudah bilang, aku bisa hidup mandiri. Jadi Ibu tidak perlu khawatir."

"Tetap saja Ibu akan khawatir. Kalau ada apa-apa, hubungi kami, ya..."

Ibu Brian memeluk putranya erat—kehangatan yang jarang dirasakan Brian sejak kecil.

"Kalau sewaktu-waktu kamu tidak bisa menghubungi kami, datangi saja Hannah. Dia mengurus cabang perusahaan di sini," kata Ayah Brian.

"Iya, iya, bu, hati-hati di jalan," jawab Brian letih.

Setelah melambaikan tangan perpisahan, mobil orang tuanya menjauh. Brian menatap kepergian mereka tanpa ekspresi, meski hatinya sedikit terasa kosong.

"Apakah ini... yang disebut kasih sayang keluarga?"

"Aku tidak begitu mengerti."

Brian menatap langit. "Mempercayai orang lain, huh? Aku pernah melakukannya... tapi kepercayaanku hancur."

"Sejak kejadian itu, aku tidak percaya siapa pun. Aku hanya percaya orang terdekatku."

Beberapa hari lalu, kejadian yang tidak dapat ia lupakan membuatnya menutup hati dari dunia luar. Kesendirian menjadi tempat aman untuknya.

Saat mengunci pagar rumah, ia mendengar langkah kaki. Ketika menoleh, ia melihat Amayah sedang berjalan menuju sekolah, mengenakan kaus putih, rok pendek, dan membawa tas ransel. Brian mengabaikannya dan kembali masuk.

"Aku akan mulai sekolah hari Senin... malas sekali," gumamnya. "Bayangkan seorang murid baru tiba-tiba mengacak-acak peringkat teratas padahal baru bergabung di awal semester kedua."

"Uniknya di sini, aku yang seharusnya masih sekolah dasar kini tiba-tiba menjadi SMP. Sistem sekolah yang begitu berbeda jauh dengan Indonesia."

"Mending bermain gim daripada sekolah."

---

Hari Senin pun tiba. Hari pertama Brian di sekolah barunya. Karena nilai tes masuknya sempurna, ia ditempatkan di kelas unggulan.

"Baik, silakan perkenalkan diri dulu," ucap wali kelas.

Brian menatap seluruh murid. "Nama saya Brian Narendra, dari Indonesia. Salam kenal."

Bisik-bisik mulai terdengar.

"Dia yang nilainya sempurna itu, kan?"

"Sehebat apa ya?"

Guru menenangkan kelas. "Jangan berisik."

"Silakan duduk di kursi kosong," katanya ramah.

"Ya..." jawab Brian.

Ia duduk di barisan belakang. Tak lama, siswa di sebelahnya menyenggolnya pelan.

"Hei, namamu Brian, kan? Aku John. Mau berteman denganku?" bisiknya.

Brian pura-pura tidak mendengar. Ia tidak ingin terlibat dengan siapa pun.

Pelajaran dimulai. Namun John terus saja mengganggu—melempar kertas, menjatuhkan penghapus, mengikuti Brian ke mana pun, bahkan saat ke toilet. Kesal, Brian mengelabuinya dengan mengambil rute berbelok-belok hingga John tersesat.

Saat pelajaran matematika berlangsung, Brian tertidur. Usaha John membangunkannya tidak berhasil. Guru matematika, Tuan Jimmy, akhirnya menyadarinya.

"Hei, Brian! Bangun!"

Brian terbangun ketika pundaknya digoyang. "Ah, maaf..."

Bisik-bisik kembali pecah.

"Berani tidur di pelajaran Pak Jimmy?"

"Guru killer loh!"

"Sebagai hukuman, kerjakan soal di depan," perintah Jimmy tegas.

Lesu, Brian bangkit. Namun langkahnya tetap santai, seolah tekanan tidak berarti apa pun.

"Kalau dia salah, poinnya dikurangi. Jika poinnya rendah, maka akan dipindahkan ke kelas yang lebih rendah," bisik seorang siswi.

Brian mengambil spidol.

"Aku sudah sering diremehkan. Tidak masalah," gumamnya dalam hati.

"Kalau kuingat-ingat... sistem sekolah ini cukup menekan. Poin menentukan kasta kelas—A paling unggul, lalu B, C, D. Seperti akademi kerajaan di novel fantasi," pikirnya.

Beberapa detik kemudian, seluruh kelas terdiam. Brian menjawab soal itu dengan sempurna. Bahkan Pak Jimmy pun tidak menemukan celah untuk mengkritik.

"Bagus. Jawabanmu sempurna. Beri tepuk tangan," katanya.

Kelas pun bertepuk tangan. Brian kembali duduk tanpa ekspresi.

John berseru pelan, "Kau keren sekali! Pantas berada di kelas ini!"

Brian tidak menggubris dan kembali tidur hingga melewati jam istirahat.

---

Saat istirahat kedua, Brian mencari tempat tenang untuk makan, ia melarikan diri dari teman sekelasnya yang tampak ingin menganggu murid baru sepertinya. Kantin penuh. Ia memutuskan menuju halaman belakang—spot sepi yang terlihat menarik di peta sekolah.

Namun sebelum tiba, ia mendengar suara seseorang menjerit kesakitan. Ia mendekat, mengintip, memastikan aman.

Seorang siswa tergeletak—wajahnya babak belur, pakaiannya kotor.

"Penindasan?" gumam Brian.

Namun saat ia melihat pelakunya, matanya membesar.

"Amayah...?!"

Dengan ekspresi dingin nan menyeramkan, Amayah menghajar anak itu tanpa henti. Bahkan ketika korban sudah tidak sadarkan diri, ia masih sempat menatapnya kosong sebelum pergi begitu saja.

Brian tak bisa berkata apa-apa. Tetangganya yang murung itu—ternyata pelaku penindasan.

Ia menenangkan diri dan pergi. Ia memilih untuk makan di kelas.

"Jadi... kami satu sekolah. Satu angkatan? Atau dia kakak kelasku?" pikirnya.

Saat makan camilannya di kelas, John datang lagi dan menatap makanannya serius.

"Jadi makanan orang jenius itu keripik, roti, biskuit, dan minuman bersoda ya..." gumamnya keras.

Brian tetap makan tanpa peduli.

"Tunggu, aku juga sering makan itu. Tapi kenapa nilaiku tetap jelek...? Ah! Aku harus makan lebih sering! Betul!"

Brian menghela napas. Namun ia teringat sesuatu.

"Hei, kau kenal Abigail Amayah?" tanyanya tiba-tiba.

John terkejut. Orang yang selalu mengabaikannya kini bertanya duluan.

"Akhirnya kau bicara padaku! Aku bosan diabaikan!"

"Jawab saja."

John mengangguk. "Akhir-akhir ini dia sering dikaitkan dengan rumor penindasan. Tapi tidak ada bukti. CCTV tidak pernah menangkapnya, katanya dia melakukan kekerasan di luar sekolah, tapi kurang bukti. Pengakuan korban pun dipatahkan begitu saja."

"Dia tidak pernah dihukum. Itu yang kudengar."

"Dia kelas berapa?"

"Seangkatan dengan kita. Kelas 6-D."

Brian terdiam sejenak. "Berarti nilainya sangat rendah..." gumamnya.

"Hah?" John bingung.

"Tidak apa-apa."

"Mengapa tanya dia? Kau tertarik? Aku akan mendukung hubungan kalian!" seru John.

"Siapa yang bilang begitu? Dan tolong berhenti menggangguku."

"Baiklah! Tapi kalau butuh bantuan, John siap menjadi teman!"

Brian menatapnya serius. "Kenapa kau bersikeras ingin berteman denganku?"

John terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Karena kau terlihat kesepian," ujarnya—setengah mengejek.

"Menjengkelkan," gumam Brian.

"Hahaha, kau marah!"

Tanpa sadar, Brian telah melanggar aturan yang ia buat untuk dirinya sendiri—ia mulai berinteraksi dengan orang lain.

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

Malamnya, saat sedang menonton film, perut Brian berbunyi. Ia ke dapur dan melihat makanan yang tersisa.

"Hanya buah... Aku tidak bisa memasak dengan ini semua..."

Ia memutuskan pergi ke minimarket terdekat. Namun ketika mengambil sepeda di garasi, ia melihat seseorang berdiri di depan rumah—Barbara.

"Selamat malam, Brian," sapanya dengan senyum hangat.

"Selamat malam..."

"Mau pergi ke mana malam-malam begini?" tanyanya lembut.

"Ke minimarket," jawab Brian datar.

"Begitu..."

Brian mulai curiga. "Ada keperluan apa?"

Barbara menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. "Ini soal Amayah..."

---

Keesokan paginya, Brian terbangun dengan rasa gelisah yang masih mengendap di dadanya. Ingatannya kembali pada percakapannya semalam dengan Barbara, ibu Amayah.

"Aku tidak ingin terlibat dengan siapapun… bahkan tetanggaku sendiri."

"Tapi, kenapa aku merasa terseret dalam kasus ini? Padahal aku tidak perlu ikut campur."

Semua itu berawal ketika Barbara menceritakan tentang Amayah.

“Sejujurnya, saya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Barbara pelan. “Tapi saya selalu menerima laporan bahwa Amayah melakukan tindakan kekerasan. Sebagai orang tua satu-satunya, tentu saja saya tak bisa langsung percaya. Itu sebabnya saya selalu berusaha menjaga dan mengawasinya.”

Nada suaranya bergetar lirih. “Amayah yang saya kenal… seolah sudah menghilang. Dulu, ia anak yang baik, ceria, dan suka bercerita. Kepada saya, kepada ayahnya… selalu ada hal yang ingin ia bagikan. Tapi sejak ayahnya meninggal, ia berubah drastis.”

Ekspresi cemas Barbara membuat Brian, tanpa sadar, ikut larut dalam keseriusan.

“Ia menjadi lebih pendiam. Tenang, tapi dengan cara yang membuat saya khawatir. Ia hampir tidak pernah tersenyum lagi. Saya sudah berusaha menghiburnya… tapi semua itu seperti tidak ada artinya.”

Barbara menunduk sedikit, suaranya memohon. “Saya tidak tahu bagaimana Amayah di sekolah. Dan setelah tahu bahwa kamu satu sekolah dengannya… saya berharap kamu bisa menjadi temannya. Saya tahu itu sulit, tapi saya memohon dengan segenap hati…”

“Saya hanya ingin melihat Amayah kembali menjadi dirinya yang dulu. Dan kalaupun tidak bisa… setidaknya, saya ingin melihatnya tersenyum lagi. Maaf sudah merepotkanmu…”

Brian sontak merasa bersalah melihat Barbara yang lebih dewasa darinya justru menunduk di hadapannya.

“Jangan menunduk seperti itu, Bu Barbara…” ucapnya pelan.

"Ibunya tidak tahu seperti apa Amayah di sekolah. Dia hanya tahu anaknya yang dulu… bukan yang sekarang. Tapi pasti ada alasan pribadi kenapa Amayah berubah seperti itu. Ibunya hanya polos—dia tidak mengerti bagaimana isi hati putrinya. Aku juga tidak tahu persis… tapi entah kenapa aku merasa mirip dengannya," batin Brian.

“Saya akan berusaha yang terbaik,” jawab Brian datar.

Barbara tersenyum tipis, tulus. “Terima kasih…”

Percakapan itu berakhir, namun malam itu Brian tidur dengan perasaan campur aduk—gelisah, bingung, dan penuh pikiran.

---

Kembali ke masa kini…

“Meski aku bilang begitu, tapi bagaimana caranya?!” gumam Brian sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Bicara dengannya saja sudah susah… mana mungkin aku bisa melakukan lebih dari itu?”

Ia membuka jendela dan menatap rumah Amayah.

“Tapi… apa yang ‘dia’ lakukan padaku waktu itu… mungkin aku harus melakukan hal yang sama.”

“Kebaikan tidak selalu datang padaku. Kadang… harus aku sendiri yang memulainya.”

"‘Tidak ada salahnya menolongnya, kan?’ Itu pasti yang akan Kayla katakan," ucap Brian sambil tersenyum tipis.

Tidak sengaja, ia melihat Amayah sudah berjalan menuju sekolah—pagi sekali, lebih awal daripada siapa pun. Brian terpaku menatapnya, seperti ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

“Aku harap… aku bisa mengerti dia," katanya dengan datar.

---

Di sekolah, saat jam istirahat, Brian berkeliling mencari Amayah. Ia ingin mencoba mengajaknya bicara, mengingat permintaan Barbara semalam.

Namun itu tidak mudah. Amayah tak terlihat di kelas, dan tak ada di kantin. Mungkin, sama seperti dirinya, Amayah lebih suka tempat yang sepi.

Akhirnya Brian berjalan ke halaman sekolah—ke area taman yang jarang dikunjungi. Di tengahnya berdiri sebuah pohon besar yang cantik, jauh dari gedung utama. Tempat yang sunyi… dan cocok untuk menyendiri.

Brian menghela napas. "Mungkin dia sudah kembali ke kelas…"

Ia duduk di bangku, mulai memakan cemilannya. Namun tak lama kemudian, ada sesuatu yang membuatnya menoleh.

Bukan suara—melainkan kehadiran. Dari pantulan jendela gedung, ia melihat seseorang di balik pohon.

Amayah.

Ia duduk di tanah, memakan bekalnya tanpa suara. Brian cukup terkejut, tapi ia tetap diam dan melanjutkan mengunyah rotinya.

Suasana sunyi. Hening yang justru terasa berat.

Hingga akhirnya Brian membuka suara.

“Mengapa kau melakukan itu?” tanyanya datar.

Bersambung.

Chapter 02

"Mungkin dia sudah kembali ke kelas…”

Brian duduk di bangku taman sekolah, membuka cemilannya dan mulai mengunyah perlahan. Namun tak lama kemudian, ada sesuatu yang membuatnya menoleh.

Bukan suara—melainkan sebuah kehadiran. Dari pantulan kaca jendela gedung, ia melihat seseorang duduk di balik pohon.

Amayah.

Gadis itu duduk di tanah, memakan bekalnya tanpa suara. Brian sedikit terkejut, tetapi ia tetap diam, melanjutkan mengunyah roti sambil sesekali melirik pantulan itu.

Suasana terasa sunyi. Bukan hening yang tenang—melainkan hening yang menekan.

Hingga akhirnya Brian membuka suara, nadanya tetap datar.

“Mengapa kau melakukan itu?”

Tidak ada jawaban.

Dari pantulan, Brian melihat Amayah berhenti menyantap makanannya. Ia menutup kotak bekal perlahan, kemudian bangkit dan pergi begitu saja, seolah tak ingin satu kata pun keluar darinya.

Brian terdiam. Usahanya hari ini lagi-lagi gagal. Ia menarik napas pelan, memejamkan mata sebentar sambil memikirkan cara berbicara dengannya lain kali.

---

Sepulang sekolah, perut Brian keroncongan. Ia mampir ke sebuah kedai hotdog kecil di tepi jalan. Tepat saat ia memesan, seseorang tiba-tiba merangkulnya dengan semangat berlebihan.

“Ternyata orang jenius itu suka makan hotdog ya!” seru John ceria.

“Lepaskan aku!” Brian mendesis, merasa sesak.

“Oh, maaf!” John cepat melepaskannya.

Saat Brian menunggu pesanannya, matanya menangkap sosok yang tidak asing. Amayah, berjalan melintas di seberang. Tanpa berpikir panjang, Brian berdiri dan langsung mengejarnya.

“Hei, bagaimana dengan hotdog pesananmu?!” teriak John.

“Untukmu saja! Aku bayar besok!” balas Brian sambil berlari kecil.

John hanya bisa menghela napas. “Ada-ada saja…”

Namun ketika pesanan hotdog tiba, John membelalakkan mata. Hotdog itu adalah hotdog pedas ekstra—level yang tak mungkin ia makan.

“Yang benar saja!”

Di sisi lain, Brian berusaha mengejar Amayah. Awalnya berjalan cepat, lalu menjadi lari kecil. Namun Amayah yang sadar sedang diikuti, mempercepat langkahnya juga.

Brian tidak menyerah.

Namun setibanya di perempatan, lampu penyeberangan pejalan kaki berubah merah tepat saat Amayah telah sampai di seberang. Brian berhenti, frustrasi. Ia terlambat lagi.

Tak lama kemudian, John datang dengan napas terengah, membawa sesuatu.

“Ini hotdogmu, kawan. Aku tidak bisa makan makanan sepedas ini.” Ia menyodorkannya.

“Sudah kubilang itu untukmu.”

“Tidak, ambil saja. Aku yang bayar.”

Brian menatap John dengan ekspresi datarnya. “Mengapa kau sebaik ini padaku?”

“Ini trik,” jawab John jujur. “Trik agar seseorang mau berteman denganmu.”

“Kau membongkar niatmu sendiri, kau serius? Tapi sayang sekali trik itu gagal. Cobalah ke orang lain,” balas Brian tanpa berubah ekspresi.

Setelah menerima hotdog itu dengan terpaksa, Brian berjalan pergi tanpa berpamitan. John, kebingungan, akhirnya memanggil:

“Mengapa kau mengejar Amayah?”

Langkah Brian berhenti sejenak. “Itu bukan urusanmu. Jangan ikut campur.”

Kemudian ia pergi, meninggalkan John yang semakin bingung.

---

Keesokan harinya, Brian kembali mencari keberadaan Amayah—di kelas, taman, perpustakaan—tetapi gadis itu tidak terlihat.

Hingga akhirnya, ia menemukannya di lorong yang sepi. Brian langsung menghadang jalannya.

“Hei, Amayah. Ada yang ingin kubicarakan—”

Namun Amayah melewatinya begitu saja, tanpa satu kata pun. Seolah Brian hanyalah angin lewat.

“Mengapa kau menghindariku?” tanya Brian, tetap datar tetapi terdengar menahan emosi.

Amayah tetap mengabaikannya.

Brian mengepalkan tangan diam-diam, berusaha meredam rasa kesal, ia berniat mengejar Amayah. Tepat saat itu, John kembali muncul dari belakang dan menepuk pundaknya.

“Jangan menggangguku,” kata Brian cepat, kesal karena disentuh.

“Kau justru yang mengganggu Amayah,” kata John serius. “Apa kau tahu apa yang dia pikirkan barusan?”

“Hah? Mana aku tahu.”

“Bayangkan ada seseorang yang terus mengajakmu bicara, padahal kau tidak ingin bicara dengannya. Apa yang kau pikirkan?” tanya John.

“Tentu saja itu mengganggu. Contohnya kau.”

John mengangguk. “Nah. Begitulah tanggapan Amayah padamu. Aku tidak tahu hubungan kalian apa, atau apa tujuanmu mengejarnya. Tapi kalau dia menghindarimu, berarti kau harus berhenti mengganggunya.”

Brian terdiam. Tatapannya kosong ke arah lorong yang kini sudah tak lagi ada sosok Amayah.

Ia lalu menatap John singkat. “Kukira ototmu saja yang besar. Ternyata otaknya juga… mungkin.”

“Kau mengejekku bodoh ya?! Dan apa maksudmu dengan ‘mungkin’?!”

Brian langsung pergi. Seperti biasa, meninggalkan John bingung sendirian.

---

Sesampainya di rumah, Brian menjatuhkan tubuh ke ranjang. Tatapannya kosong ke langit-langit.

Ia merasa lelah. Frustasi. Dan sedikit… kecewa.

“Aku sadar betapa mengganggunya diriku jika terus mencoba berbicara dengannya. Jelas dia tidak tertarik.”

“Kalau aku memaksakan diri… dia bisa saja membenciku. Atau mungkin dia sudah membenciku?”

Ia menarik napas panjang.

“Apa aku harus menyerah? Rasanya… tidak. Tapi terus begini juga merepotkan.”

Brian kemudian bangkit, duduk sebentar, dan menatap rumah Amayah dari balik jendela kamarnya.

Setelah itu, ia kembali berbaring, memejamkan mata pelan.

“Maafkan saya, Bu Barbara…”

Hening.

“Andai saja Kayla ada di sini… mungkin dia bisa membantuku…” gumamnya lirih.

---

Setelah hari itu, Brian tidak lagi berniat mengejar Amayah. Ia memilih fokus sepenuhnya pada dirinya sendiri. Meski begitu, beberapa tantangan tetap bermunculan. Salah satunya adalah ketika ia harus berhadapan dengan para murid berandalan di sekolah.

Pagi itu, lorong sekolah begitu ramai. Suara tawa, obrolan, dan langkah kaki memenuhi udara. Brian berjalan santai di antara kerumunan, sampai tiba-tiba seseorang menabrak pundaknya dengan kasar.

Rasa sakit langsung menjalar. Brian menoleh cepat, mencari tahu siapa pelakunya. Ternyata, pelakunya adalah salah satu murid kelasnya—Michael. Murid terpintar sejak SD Empire Heights, selalu peringkat satu, dan terkenal dengan sifat angkuhnya. Michael menoleh sambil menyunggingkan senyum meremehkan, seolah yakin Brian tidak akan berani melakukan apa pun.

Brian tetap diam, memilih menahan emosi. Ia tidak ingin terlibat masalah atau memancing keributan yang tidak penting.

Namun gangguan tidak berhenti begitu saja.

Setelah jam istirahat, Brian kembali ke kelas dan mendapati tasnya hilang. Ia mematung, kebingungan. John datang menghampirinya.

“Kau kehilangan tasmu?”

“Ya. Aku tidak memindahkannya…” jawab Brian, memeriksa setiap sudut dengan alis mengernyit.

John keluar sebentar, lalu dari arah tempat sampah terdengar suaranya. “Brian! Ini tasmu kan!?”

Brian menghampiri. Benar saja—tasnya tergeletak di tumpukan sampah.

“Ya… itu punyaku.”

“Brengsek! Siapa yang tega melakukan ini…” John mengepalkan tangan, jelas menahan kesal.

“Tidak perlu, John.”

“Tidak perlu!? Ini tidak boleh dibiarkan!”

“Isi tasnya kosong. Semua buku sudah kupindahkan ke kolong meja. Tidak ada barang penting.”

John menatap Brian tak percaya. “Kau ini… penyabar sekali.”

Brian hendak kembali ke kelas, namun berhenti dan menoleh. “Kau pikir aku tidak kesal?”

“Dari reaksimu sih… iya.”

“Memang wajahku begini. Tapi… lihat saja nanti siapa yang tertawa.”

Tatapan Brian mengarah ke kelas—dingin, tajam, penuh arti. John mengangkat alis, bingung tapi penasaran.

“Wah, apa pun kejutanmu… aku menantikannya.”

Setelah itu, para murid berandalan tidak berhenti mengganggu Brian. Saat pelajaran olahraga, mereka sengaja melempar bola basket terlalu keras ke arahnya. Untungnya, sebelum bola sempat mengenai, Brian sudah berbelok pergi, pura-pura hendak ke kamar mandi.

“Kau tidak muak dijahili mereka?” tanya John di ruang ganti sambil mengganti baju.

Brian, yang sedang mengikat sepatu, menjawab datar, “Untuk apa meladeni mereka? Tidak ada gunanya.”

“Mereka itu ingin menunjukkan eksistensi sebagai perkumpulan murid terbaik. Menyebalkan sih, tapi mereka kuat dan pintar. Orang-orang jadi takut melawan.”

“Bahkan kalau ada lomba pun, yang lain sudah menyerah duluan,” lanjut John.

Brian menghela napas panjang. “Jadi, mereka sedang cari perhatian dariku? Dasar haus validasi.”

“Yang penting, jangan bilang apa pun pada mereka. Hidupmu bisa hancur.”

“Dan jangan bicara denganku. Hidupmu juga bisa hancur.”

Brian pergi meninggalkan ruang ganti. John hanya tersenyum heran. Ia sudah terbiasa dengan cara Brian mengakhiri pembicaraan seenaknya.

---

Semester kedua berakhir, namun bagi Brian ini adalah semester pertamanya di sekolah barunya. Selama itu, Brian selalu diperbolehkan tidur di kelas, sebab meskipun sering tertidur, ia masih bisa menyelesaikan tugas yang diberikan seperti pertanyaan atau soal di papan tulis. Dan hari ini adalah pengumuman hasil ujian akademik. Aula besar sekolah penuh sesak oleh murid dari tingkat SD hingga SMP.

Tidak ada yang menyangka bahwa Brian—murid pindahan—akan membuat kejutan. Baru masuk semester ini, tapi ia langsung merebut peringkat pertama seangkatan, bahkan mendapat nilai tertinggi di SMP Empire Heights.

Brian sendiri tidak tertarik mendekati papan pengumuman. Ia berdiri di belakang, menghindari keramaian. John, entah bagaimana, langsung menemukannya.

“Brian! Kau hebat sekali! Jadi ini kejutan yang kau maksud? Semua nilaimu seratus!”

“Betul sekali.”

“Setelah ini… aku tidak yakin nasibmu bagaimana.”

“Apa maksudmu?”

“Lihat sana.”

John menunjuk Michael dan gengnya. Wajah mereka tegang, jelas tidak menerima kenyataan bahwa Michael kehilangan posisi peringkat satu.

“Sial… mana mungkin murid baru dapat nilai sempurna,” gerutu Michael.

“Kau yakin dia tidak curang?” tanya temannya.

“Pasti curang. Mana mungkin dia lebih hebat dariku? Pasti ada permainan sekolah.”

Bisikan dan tuduhan menyebar cepat. Brian dan John bisa merasakan kebencian yang makin mengarah pada Brian.

“Sepertinya kau akan kerepotan nanti,” kata John.

“Yang penting aku peringkat teratas. Bagaimana denganmu? Ah, pasti peringkat terbawah,” ejek Brian santai.

“Kau! Aku naik peringkat loh! Sekarang enam puluh tujuh! Tahun lalu aku ratusan!”

"Tunggu, bagaimana bisa kau peringkat ratusan tapi masuk ke kelas A?" tanya Brian heran.

John menjawab dengan penuh rasa bangga. "Karena aku mewakilkan sekolah ke olimpiade nasional dan memenangkan banyak penghargaan, dan itu terhitung sebagai poin!

"Tidak aku sangka kau begitu hebat. Kukira hanya sekumpulan lemak yang menjadi otot saja."

“Tapi Kalau kau belajar denganku, bisa masuk sepuluh besar. Itu pun kalau kau paham penjelasanku," tambahnya.

“Mungkin benar. Tapi waktu itu keluargaku mengajakku pergi, jadi aku tidak bisa belajar denganmu.”

“Terima kasih keluarga John.”

“Kau… memang tidak berniat mengajariku ya?” tanya John curiga.

Brian tidak menjawab. Tatapannya kembali ke papan mading—mencari nama Amayah.

“Berapa peringkat Amayah?” tanya Brian datar.

John membuka foto papan peringkat dari pacarnya. Brian menelusuri daftar itu, hingga menemukan nama Amayah—di peringkat terbawah, dengan nilai paling buruk.

“Bagaimana?” tanya John hati-hati.

“Bukan urusanku.” Brian berbalik dan pergi.

John tersenyum samar. “Kau bilang begitu, tapi kau sebenarnya peduli kan, Brian?”

Dan benar—Brian memikirkan itu terus. Ia bahkan membayangkan bagaimana perasaan ibu Amayah melihat rapornya.

“Aku… tidak tahu harus bagaimana.”

Saat mengambil rapor, Brian datang sendirian. Guru pengampu pun bahkan sampai terkejut.

“Orang tua saya bekerja. Wali saya juga.”

“Mereka… tidak bisa meluangkan waktu sedikit pun?”

“Tidak. Pekerjaan mereka penting.”

Guru itu sampai mengusap air matanya yang mulai berjatuhan, menangis terharu. “Kasihan sekali kamu…”

"Semua murid didampingi oleh orang tua mereka ke sini, tapi kamu tidak..."

"Saya sangat sedih mendengar ceritamu..."

“Tolong berikan saja rapornya, pak.”

Guru memberikan rapor sambil tersenyum. “Ah, ya... Maaf... Selamat menjadi peringkat satu.”

“Terima kasih.”

Saat keluar dari ruangan, Brian melihat Barbara dan Amayah duduk menunggu giliran. Tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan ibunya beberapa bulan lalu—betapa dekatnya ibunya dan Barbara.

“Oh ya, Ibu belakangan ini sering teleponan dengan Barbara, tetangga kita!” kata Ibu Brian dengan nada ceria.

Brian mengernyit penasaran. “Apa yang kalian bicarakan?”

“Kebanyakan tentang pekerjaan sih. Kamu penasaran? Ibu ceritakan ya—”

“Tidak perlu, Bu. Nanti Ibu malah meninggalkan pekerjaan lagi karena keasyikan bercerita."

“Iya juga ya!” Ibu tertawa kecil. “Kamu pengertian sekali, seperti ayahmu.”

“Karena aku anaknya.”

“Benar juga!”

Hening sejenak. Brian akhirnya bertanya, “Apa Bu Barbara ada bicara soal Amayah?”

“Amayah? Putrinya itu ya?” Ibu tampak ragu. “Ibu tidak berani bertanya. Ibu tidak tahu latar belakang keluarga mereka, jadi Ibu menghormati saja.”

“Begitu ya.”

“Kenapa memangnya? Kamu tertarik pada Amayah?” tanya ibunya sambil menggoda.

“Tidak.” Brian mengelak. “Kenapa Ibu bilang hal yang sama seperti temanku?”

“Wah, berarti ada yang sepemikiran!” Ibunya berseru senang. “Kalau kamu menyukainya, Ibu akan mendukungmu kok~”

“Baik. Terima kasih atas teleponnya. Sampai jumpa lain waktu, Nyonya,” ucap Brian sebelum menutup telepon.

“Eh, tunggu—!”

Sambungan telepon itu pun terputus.

"Mengapa aku peduli padanya? Aku sudah berjanji tidak akan ikut campur urusan mereka lagi."

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

Keesokan paginya, acara terakhir semester ini digelar—upacara perpisahan murid senior. Brian terpaksa hadir meski malas. Sambutan-sambutan panjang membuatnya kesal. Ketika bosan dan kebelet, ia memutuskan pergi ke toilet.

Namun saat melewati lorong, sebuah teriakan terdengar.

“JANGAN PERNAH MENYENTUH BRIAN!”

Brian menghentikan langkah. Itu… suara Amayah.

Ia segera menuju sumber suara. Begitu sampai, matanya melebar.

Amayah—si pendiam, si dingin—tengah mencekik kerah baju seorang siswa dengan kedua tangannya.

Dan yang membuat Brian paling bingung…

Mengapa Amayah menyebut namanya?

Bersambung.

Chapter 03

“JANGAN PERNAH MENYENTUH BRIAN!”

Brian menghentikan langkahnya seketika. Itu… suara Amayah.

Tanpa pikir panjang, ia segera berlari menuju sumber suara. Begitu tiba, matanya melebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Amayah—si pendiam, si dingin—tengah mencekik kerah baju seorang siswa dengan kedua tangannya.

Dan yang membuat Brian semakin bingung…

Mengapa Amayah menyebut namanya?

Terlebih lagi, siswa yang kini dicekik oleh Amayah adalah salah satu anak buah Michael—murid terkenal yang sudah beberapa waktu ini sering mengganggu Brian.

Tanpa melakukan apa pun, Brian memilih pergi begitu saja. Langkahnya tergesa, napasnya tak beraturan. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan, rasa merinding dan trauma menyelimuti dirinya.

“Amayah… menyebut namaku?”

Pikiran itu terus bergema di kepalanya hingga ia tiba di rumah. Rasa penasaran bercampur kebingungan membuatnya sulit memproses kejadian tadi. Brian yakin betul ia mendengar Amayah menyebut namanya—jelas, lantang, tanpa keraguan.

Sudah berbulan-bulan sejak Brian melepas tanggung jawabnya atas Amayah; namun kini, gadis itu kembali menghantui pikirannya. Ia ingin memahami sikap Amayah… tapi ia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.

“Aku harus bertanya padanya,” gumam Brian, akhirnya mengambil keputusan.

 

Keesokan paginya, Brian bangun lebih awal—sesuatu yang benar-benar tidak ia lakukan biasanya. Biasanya, ia baru bangun setengah jam sebelum bel sekolah berbunyi. Namun kali ini berbeda. Demi bisa berbicara dengan Amayah, ia rela mengorbankan kenyamanannya.

Brian berdiri di trotoar depan rumah Amayah, menunggu gadis itu keluar. Udara pagi masih dingin, namun ia tetap menanti dengan sabar.

Namun menit demi menit berlalu… dan Amayah tak kunjung muncul.

Brian mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Baru ketika ia mengecek jam di ponselnya, wajahnya langsung memucat.

“Sudah jam segini?! Aku harus berangkat ke sekolah sekarang juga!”

Dengan terpaksa, Brian mengakhiri niatnya pagi itu dan langsung berlari menuju sekolah.

Yang tidak Brian ketahui adalah… sejak tadi Amayah sebenarnya melihat dirinya dari balik jendela. Namun alih-alih keluar dan menemuinya, gadis itu memilih berdiam. Ia tidak ingin bertemu Brian—setidaknya belum.

Amayah kemudian keluar rumah melalui pintu belakang, berjalan menuju sekolah lewat jalur yang berbeda, seakan sengaja menghindari pertemuan itu.

 

Di sekolah, Brian terus melamun sepanjang jam pelajaran. John yang duduk di sampingnya hanya bisa mengernyit bingung; biasanya Brian sudah terlelap jauh sebelum guru menjelaskan setengah materi.

“Tumben sekali kau tidak tidur di kelas, Brian.”

“Jangan bicara seolah-olah aku ini pemalas.”

“Tapi itu kenyataannya,” ejek John sambil menyengir.

“Berisik.”

Brian menutup percakapan itu begitu saja dan memutuskan untuk benar-benar tidur setelah dikomentari.

Saat pelajaran olahraga, Brian memilih duduk di tempat teduh, menjauh dari keramaian murid lain. Angin sore berembus pelan, tapi pikirannya tidak kunjung tenang. John tiba-tiba menghampirinya sambil membawa bola.

“Apa olahraga favoritmu, Brian?” tanya John santai.

“Tidak ada,” jawab Brian datar.

“Serius? Tidak cukup hanya otak yang diasah, fisik juga harus dilatih, kawan.”

“Kau terdengar seperti kakekku.”

“Oh? Memangnya kakekmu seperti apa?” John langsung antusias. “Apakah dia sekeren aku? Setampan dan segagah diriku?”

John terus mengoceh tanpa henti, sementara Brian hanya diam. Namun tatapannya terseret pada lorong sekolah—tempat Amayah baru saja melewati beberapa detik lalu.

Untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak pahami, dadanya terasa sesak. Ia bingung. Tersesat dalam pikirannya sendiri.

“Hei, kau dengar aku?” John menyenggol lengannya.

Namun sebelum Brian sempat menjawab, John sudah menelusuri arah pandang temannya. Meski Amayah sudah tak tampak, John langsung paham apa yang sedang dipikirkan Brian.

“Sebenarnya, apa yang kau inginkan dari gadis itu?” tanyanya dengan nada yang tiba-tiba serius.

“Sudah kubilang, jangan ikut campur urusanku.”

Namun John menepuk pundak Brian dengan tegas. Brian menoleh, bingung oleh tatapan serius itu.

“Jika ada hal yang membuatmu kesulitan, mintalah bantuan orang lain. Tidak semua hal bisa kau tangani sendirian. Aku di sini… jadi percayalah padaku.”

Brian terdiam sejenak, lalu memalingkan wajah. “Jangan mengatakan hal menjijikkan seperti itu. Orang lain bisa salah paham kalau mendengarnya.”

“Apa maksudnya? Aku hanya ingin membantumu sebagai teman.”

“Kita bukan teman. Itu sudah kukatakan sebelumnya.”

Ucapan itu membuat udara di antara mereka hening sejenak. Brian menatap langit yang cerah, namun pikirannya terasa mendung.

“Baiklah, biar kuberitahu.”

Seketika, senyum kecil muncul di wajah John—sesuatu yang jarang terlihat.

Brian pun mulai menjelaskan semuanya. Tentang kebingungannya, tentang rasa tak nyaman yang ia sendiri tak mengerti, dan tentang Amayah. John mendengarkan tanpa menyela, sampai akhirnya ia bertanya:

“Jadi, apa tanggapanmu soal Amayah?”

Brian kembali terdiam. Ia mencoba mencari kalimat yang paling tepat—namun yang keluar justru…

“Dia… gadis pendiam yang terlihat hanya hanyut dalam keheningan. Tapi di balik tatapannya yang meredup seperti lampu yang pernah menyala terlalu terang, ada sesuatu yang ia sembunyikan rapat. Bukan karena ingin terlihat misterius, tapi karena bagian dari dirinya yang dulu begitu hidup… kini terlipat di sudut yang bahkan ia sendiri jarang berani sentuh lagi.”

John menatapnya lama. “…Kau ini bicara apa? Aku tidak paham.”

“Itu gambaran yang muncul di kepalaku. Tentang dirinya.”

Bel berbunyi pelan menandai akhir pelajaran olahraga. Brian berdiri dan pergi begitu saja.

“Sebenarnya aku tidak tahu apa pun tentang dirinya,” gumamnya sambil berjalan pulang.

“Aku bahkan tidak mengenalnya. Tapi kenapa aku terus memikirkan dia? Apa cuma karena dia menyebut namaku?”

“Mungkin dia ingin melindungiku… tapi kenapa? Apa alasannya? Kami bahkan tak pernah benar-benar bicara.”

“Kupikir… tidak ada gunanya memikirkan ini semua. Bahkan setelah kejadian kemarin, dia tetap tidak menunjukkan ketertarikan apa pun padaku.”

“Tapi… kenapa aku berharap begitu?"

 

Brian merasa frustrasi dengan pikirannya sendiri—semakin ia mencoba mengendalikannya, semakin liar semuanya berputar di kepalanya. Sepulang sekolah, ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membeli makanan kesukaannya di minimarket.

Namun ketika hendak pulang, ia melihat sosok yang tidak asing di seberang jalan: Amayah, berjalan sendirian.

Brian terdiam. Ada hal aneh yang langsung ia rasakan. Saat memperhatikan sekitar dengan lebih teliti, ia menyadari ada beberapa pria berpakaian serba hitam mengikuti langkah Amayah dari kejauhan.

Dugaan Brian kian kuat ketika Amayah mempercepat langkah… dan para pria itu ikut mempercepatnya.

"Firasatku buruk…"

Tanpa ragu, Brian mengikuti mereka dari sisi lain jalan. Mereka terus berjalan tanpa tujuan jelas, menyusuri kota yang perlahan dirayapi senja.

Hingga Brian melihat sesuatu yang membuatnya terkejut—tidak hanya ada pengejar di belakang Amayah, tapi juga di depan dan di sisi lain jalan.

Terpojok, Amayah akhirnya masuk ke sebuah gang sempit yang gelap dan sepi, langit sore yang mulai gelap menambah kesan mencekam.

Brian menghentikan langkahnya. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, ini tak bisa dibiarkan.

Di sisi lain, Amayah sebenarnya sudah panik sejak awal, meski berusaha menahan diri agar tetap tenang. Ia menoleh ke belakang, melihat jumlah pengejarnya justru bertambah. Tanpa pilihan lain, ia berlari melewati gang itu, masuk ke setiap belokan yang ia temui.

Namun nasib buruk menantinya. Ia berhenti di ujung jalur buntu.

Amayah berbalik cepat.

"Siapa kalian?!"

"Siapa kami?" Salah satu pria membuka masker wajahnya. Ternyata ia adalah Michael, murid satu angkatan.

"Jadi kau ingin balas dendam, ya?" ucap Amayah dengan suara bergetar.

"Tepat sekali!" ejek Michael sambil tertawa keras. "Kau pintar juga, tapi nilaimu anjlok. Ironis sekali."

Amayah mengepalkan tangan. Ia tahu ini pasti tentang anak buah Michael yang pernah ia hajar sebelumnya. Tapi jumlah mereka terlalu banyak—dan ia tak tahu sampai sejauh apa mereka akan bertindak.

"Kau memukul anak buahku tanpa ampun. Aku tidak suka itu," kata Michael sambil mendekat.

"Kau tidak suka ketika pengikutmu ditindas, padahal kau sendiri sering melakukannya."

Michael tersenyum tipis, hampir gila.

"Di sekolah ini, aku penguasanya. Tidak ada yang berani menentangku. Murid, bahkan guru sekalipun."

Ia lalu berteriak kesal, "Tapi murid pindahan bernama Brian itu menyingkirkanku dari posisi yang sudah kusandang bertahun-tahun! Aku tidak terima!"

"Itu karena salahmu sendiri yang tidak bisa menyainginya," balas Amayah.

"Hah?! Kau yang berada di peringkat terbawah berani berkata begitu?! Urus saja dirimu dan jangan ganggu rencanaku!"

Amarah Amayah memuncak.

"Jangan pernah menyentuh Brian sedikit pun."

Salah satu anak buah Michael terkekeh.

"Lucu… gadis yang suka menindas orang lain kini membela cowok yang bahkan sering ia abaikan."

"Jangan-jangan ini kisah cinta," kata Michael sambil meledek.

"Apakah ini my..." tambah salah satu anak buahnya.

Tawa mereka memenuhi gang gelap itu, membuat Amayah semakin panas.

"Sudahlah," kata Michael sambil mengibas tangan.

"Lakukan!"

Tanpa menunggu komando kedua, anak buahnya langsung menyerbu. Amayah bersiap bertarung, namun dua dari mereka memegang kedua tangannya dengan kuat. Dua lainnya menahan kedua kakinya.

"Hei, apa yang ingin kalian lakukan?!?!"

Mulutnya dibekap, membuatnya tak bisa berteriak. Amayah jatuh terduduk di tanah, tak berdaya.

Michael maju sambil menatapnya dengan tatapan bengis. Ia meraih jaket Amayah, membuka satu persatu kancing kemejanya, membuka sepatunya sebelum melemparkannya, membuang tasnya, lalu dengan paksa melepas rok pendeknya. Amayah berusaha meronta, mencoba menghindar dan melawan, namun jumlah mereka membuatnya tak bisa bergerak. Ia bahkan mencoba membenturkan kepalanya pada Michael, tapi tangan para pria itu mencegahnya, rambutnya ditarik dengan kasar.

"Sebelum aku merusakmu, lebih baik menggunakanmu dulu..." bisik Michael menggoda.

"Mantap nih bos, besar sekali!"

"Kalian tidak boleh menyentuhnya sebelum aku."

"Cepat bos, sudah tidak tahan nih!"

Panik menyergapnya, rasa sakit menjalar ke tubuhnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, semua pakaiannya hampir dilepas.

"Mengapa... ini harus terjadi..."

"Andai saja… dia ada di sini…" pikir Amayah, mengharapkan kehadiran Brian yang selalu menganggunya.

Saat Michael hendak melangkah lebih jauh—

DOR!

Sebuah suara tembakan memecah udara. Semua orang terkejut dan menoleh ke arah suara.

"Sial! Kabur!" teriak Michael.

Namun sebelum lari, ia sempat memukul pipi Amayah dengan keras hingga dar*h menetes dari sudut bibirnya.

Mereka tidak sempat menjauh. Polisi mengepung gang itu dari depan, satu-satunya jalan yang ada—terlihat jelas bahwa sudah ada operasi yang berjalan. Dalam hitungan detik, Michael dan anak buahnya ditangkap satu per satu.

"Serahkan gadis itu pada saya," ujar seorang laki-laki.

Sementara itu, Amayah hanya duduk terkulai, tubuhnya gemetar. Ia memeluk kakinya sambil menangis tanpa suara, masih tak percaya dengan yang baru saja terjadi.

Usai polisi membawa para pelaku pergi, Brian menghampirinya.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil jongkok.

"Aku menelepon polisi ketika melihatmu dalam bahaya. Mereka sudah ditangkap, jadi tidak perlu khawatir lagi."

Amayah menutup wajahnya di antara kedua kakinya, namun perlahan ia mengangkat kepalanya. Air mata masih menetes di pipinya. Begitu melihat siapa yang datang, hatinya tergetar.

"Mengapa… kau… menolongku…?" tanyanya dengan suara yang hampir tak terdengar.

Brian tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan tatapan serius. Lalu ia menyodorkan sebotol air minum.

"Minum ini. Tenangkan dirimu dulu."

Tangan Amayah bergetar saat menerima botol itu. Ia meminumnya perlahan, mencoba mengatur napas.

"Terima kasih…" bisiknya.

"Kau bisa jalan?" tanya Brian.

Amayah menggeleng lemah.

Tanpa berkata banyak, Brian melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Amayah yang kedinginan.

"Pakaianmu kotor dan robek. Pakai ini dulu. Kembalikan nanti saja."

Amayah mengangguk kecil. Hatinya hangat oleh perhatian sederhana itu.

Brian kemudian berbalik sambil berjongkok.

"Ayo. Naik. Aku antar pulang."

Terkejut sekaligus tersentuh, Amayah perlahan menaiki punggung Brian. Tubuhnya masih lemas, tetapi Brian mengangkatnya dengan mudah sebelum berdiri dan mulai berjalan menuju rumahnya.

"Tubuhnya ringan juga."

Senja telah berubah menjadi malam. Di tengah suara kendaraan kota yang bergema, keduanya berjalan pulang—perlahan, namun terasa dekat.

 

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

 

Sepanjang perjalanan, Amayah tidak mengatakan apa pun. Ia hanya bisa memandangi Brian—seseorang yang selama ini justru ia hindari.

“Mengapa kau menolongku?” tanya Amayah pelan, suaranya terdengar rapuh, pelan— membuat Brian agak sulit untuk mendengarnya.

Brian tetap menatap lurus ke depan. “Ini hanya rasa peduliku padamu.”

“Meskipun aku sering mengabaikanmu…?”

“Ya. Meski kau sering mengabaikanku.”

Amayah terdiam. Ia memejamkan mata, seolah menahan sesuatu yang selama ini ia pendam.

“Lalu... mengapa kau melakukan semua itu?” Brian meliriknya. “Maksudku, penindasan yang kau lakukan selama ini?”

Amayah membuka matanya kembali. “Aku… hanya merasa kesal terhadap... mereka yang menindasku.”

Brian menoleh sedikit, seakan baru menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah ada di depan mata. “Maksudmu?”

“Ketika ayahku meninggal dunia... duniaku terasa gelap,” ucap Amayah dengan suara nyaris bergetar. “Rasanya... seperti lampu yang menerangi seluruh ruangan tiba-tiba padam begitu saja.”

Ia menunduk. “Aku sedih setiap saat.... keluargaku berusaha menghiburku… tapi aku tidak bisa tersenyum seperti biasanya. Ayahku… adalah orang yang paling aku cintai.”

Ayah Amayah adalah pria hebat—seorang dokter berpengaruh di kota mereka. Namun karena pengaruh itu, banyak dokter lain yang merasa tersaingi dan ingin menjatuhkannya. Ia meninggal setelah mengidap Tuberkulosis selama hampir dua bulan, padahal ia dan keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit itu sama sekali.

Dan setelah kematiannya, banyak orang justru melupakan jasanya. Masa kerjanya sebagai dokter memang singkat, tetapi pengaruhnya begitu besar.

Saat itu Amayah masih kelas lima SD. Ia mulai jarang masuk sekolah. Ia mengurung diri, terperangkap dalam kesedihan. Keluarganya mencoba menghiburnya, namun ia seolah telah kehilangan cahaya hidupnya.

Yang lebih menyakitkan, teman-temannya yang dulu menghormatinya perlahan menjauh, seolah kematian ayahnya menghapus statusnya. Amayah menduga mereka telah terpengaruh oleh rumor buruk tentang ayahnya. Beberapa murid bahkan mulai menindas dan memperlakukannya dengan kasar.

Ibunya, Barbara, akhirnya memutuskan membawa Amayah pindah ke New York—menjauhkan putrinya dari lingkungan beracun itu. Amayah hanya mengangguk lemah, menyetujui keputusan itu.

Namun luka di hatinya tak kunjung sembuh. Dan pada suatu titik, ia memilih melampiaskan amarahnya kepada murid-murid yang ia anggap lemah—menghajar dan mencuri uang mereka saat pulang sekolah di tempat sepi.

“Jadi itu penyebabnya?” Brian bertanya.

“Ya… mungkin kedengarannya konyol bagimu…”

“Hah? Konyol? Jelas tidak!” Brian menatapnya tajam. “Aku juga tidak akan memaafkan perbuatan mereka kalau aku berada di posisimu.”

Amayah membisu.

“Sekarang, apa kau ingin berhenti melakukannya?” lanjut Brian. “Kau tahu, apa yang kau lakukan selama ini tidak akan menyelesaikan apa pun. Itu hanya akan menimbulkan masalah baru.”

Mereka berhenti di persimpangan, menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau.

“Aku tahu kau menghajar salah satu anak buah Michael karena kau tahu rencana mereka untuk menghajarku,” ucap Brian. “Tapi… kenapa kau melakukannya?”

“Itu karena… ibuku sangat dekat dengan ibumu. Aku tidak ingin ibuku sedih kalau dirimu tidak baik-baik saja…”

“Tapi itu tidak menyelesaikan apa pun. Setelah kau melakukannya, apa yang kau dapatkan?”

Amayah terdiam. “…Aku dilecehkan oleh mereka.”

“Itu yang harusnya kau pahami.”

Amayah menatap Brian lagi. Tangisnya sudah mereda, namun ada sesuatu yang berubah dalam pandangannya—sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia tunjukkan pada Brian.

“Kau berbuat sejauh ini untukku… mengapa?”

Brian tersenyum tipis. “Tentu saja karena aku ingin menolongmu sebagai tetangga.”

“Jawaban itu kurang memuaskan,” ucap Amayah datar.

Brian kembali melangkah, menyusuri trotoar yang mulai sepi. Perumahan mereka sudah semakin dekat.

"Karena aku merasakan apa yang kau rasakan..." ucap Brian pelan, nyaris tidak terdengar.

"Aku pernah berada di posisimu, jadi aku sedikit mengerti."

Brian melanjutkan, “Bu Barbara—ibumu—meminta bantuan padaku. Dia memintaku menolongmu keluar dari kegelapan.”

“Ibuku…?” suara Amayah melemah.

“Ya. Dia sempat menemuiku, menceritakan tentang ayahmu dan perubahan sikapmu setelah kejadian itu. Aku merasa iba dan ingin membantunya.”

“Ibumu sangat khawatir. Ia sedih, bahkan stres, melihat putrinya berubah begitu drastis. Ia merasa tak berdaya.”

“Ia hanya ingin bisa mendengar ceritamu lagi. Melihat senyummu. Tawamu.” Brian menunduk sedikit. “Tapi ia memilih menghargai perasaanmu, dan memberimu kebebasan.”

“Menurutmu… bagaimana perasaan ibumu, bahkan ayahmu yang sudah tiada kalau tahu putrinya sering berbuat jahat?”

“Ayah… ibu...”

Tiba-tiba, air mata Amayah kembali turun. Ia menangis lebih pelan, namun lebih dalam. Hatinya seolah retak kembali, menumpahkan emosi yang selama ini ia tekan.

"Aku berharap kau berjanji pada dirimu sendiri agar tidak mengulanginya lagi," ujar Brian.

Ia menyandarkan wajahnya pada punggung Brian, dan Brian bisa merasakan betapa basah seragamnya karena air mata gadis itu.

Beberapa menit berlalu.

Perlahan, tangis itu mereda—dan akhirnya, Amayah tertidur di punggungnya.

Brian menghela napas pelan. Gadis yang dulu ceria dan ramah… berubah menjadi anak berandalan. Tapi kini, ia merasa lega.

“Aku berhasil menyelesaikannya, Kayla…” ucapnya lirih.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!