Di luar sana, hujan belum juga reda. Seolah mengerti, luka yang dirasakan Meila hari ini. Bayangan Melisa bersama Zayan di butik pagi tadi, tidak juga menghilang dari ingatan Meila.
Seharusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan bagi Meila. Dia akan fitting gaun pernikahannya. Gaun yang Meila rancang sendiri, untuk dia kenakan di hari bahagianya bersama Zayan. Kini, semua itu sirna, karena ulah Melisa, sang kakak, putri kesayangan keluarga Aksara.
"Ini video yang merekam kejadian di butik tadi pagi." Dewi menyerahkan smartphone miliknya dengan layar yang menyala.
Tangan Meila terulur untuk mengambil benda pipih itu. Seperti yang Dewi sampaikan, layar itu menampilkan kejadian di butik pagi tadi. Mata Meila tajam memperhatikan video yang direkam Dewi secara diam-diam itu.
Video itu menunjukkan wajah bahagia Melisa yang tengah mengenakan gaun pengantin milik Meila. Namun, bukan itu yang membuat Meila merasa kecewa. Melainkan keputusan Zayan, yang mengizinkan Melisa mengenakan gaun pengantin itu.
Video itu kini memperlihatkan tatapan Zayan yang terpesona pada penampilan Melisa. Itulah satu-satunya kelebihan yang Melisa miliki, kakak perempuannya itu selalu saja, mampu menjadikan dirinya mendapatkan perhatian yang dia inginkan.
"Kak Zayan, aku cantik kan, mengenakan gaun ini?" Melisa bertanya dengan suara yang dibuat manja pada calon suami Meila itu. Pria yang seharusnya menjadi calon adik iparnya itu, ingin Melisa rebut dari Meila.
"Cantik." Zayan tersenyum dengan mata yang berbinar, menatap kagum pada Melisa.
Mendengar jawaban Zayan yang memuji wanita lain, menambah luka Meila. Apalagi itu Melisa, kakak yang selalu saja membuat Meila buruk dimata orang lain
Sekarang, ingatan Meila kembali pada rencana jahat sang ibu. Nyonya Hana Aksara itu membuat skenario agar Zayan tidak jadi menikah dengan Meila.
Wanita yang melahirkan Meila itu akan mengurung Meila di hari pernikahnnya. Membuat drama, seolah-olah Meila kabur di hari pernikahan itu. Lalu dia akan mengantikan posisi Meila dengan Melisa. Dengan alasan menjaga nama baik kedua keluarga, sehingga pernikahan itu tidak bisa dibatalkan.
Meila tersenyum kecut mengenang rencana jahat ibunya itu. Rencana yang Meila lihat dari rekaman cctv tersembunyi milik Meila. Sekarang, tidak perlu drama. Meila dengan senang hati melepaskan Zayan. Pria itu sudah melewati batas kesabaran Meila, dengan mengizinkan Melisa mengenakan gaun pengantin itu.
"Baiklah, aku akan mempermudah rencana kalian," gumam Meila.
Tekad Meila sudah bulat. Sudah saatnya Meila membuka topeng keluarganya yang selalu memperlakukan dirinya dengan tidak adil. Selama ini, kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menganggap Meila sebagai anak pembawa sial. Cacian dan makian menjadi makanan sehari-hari yang harus Meila terima.
Meila mengembalikan smartphone milik Dewi, setelah video itu berakhir. Berakhir dengan adegan Meila yang merobek gaun pengantin itu dihadapan Zayan dan Melisa. Sakit, namun ada kepuasan tersendiri dari dalam diri Meila. Akhirnya dia tidak lagi menjadi orang yang memilih diam, atas perlakuan yang menyakitkan dari keluarganya sendiri.
Meila juga tidak rela, gaun pengantin yang dia rancang sendiri itu dikenakan oleh Melisa. Apalagi untuk menggantikannya di hari itu, hari pernikahannya dengan Zayan. Gaun itu hasil karyanya sendiri, yang dia buat khusus untuk pernikahannya, bukan pernikahan Melisa. Itulah yang membuat Meila murka saat tahu Melisa mencoba gaun itu, bahkan sebelum dirinya sendiri mencobanya.
"Video ini mungkin akan berguna suatu saat nanti," ucap Dewi menjelaskan, setelah menerima kembali smartphone miliknya.
Meila mengangguk, membenarkan ucapan Dewi. Orang yang begitu mengerti perasaan Meila, karena mereka memiliki permasalahan yang sama. Sama-sama tidak dianggap ada oleh keluarga mereka masing-masing. Kesamaan itu membuat mereka dekat. Dewi yang dulu hanya sebagai rekan kerja satu tim, kini sudah seperti saudara bagi Melia.
Hanya saja, nasib Dewi lebih beruntung dari pada Meila. Dewi sudah memiliki Erik, suami yang baik dan sangat mencintai dirinya. Pimpinan perusahaan tempat Meila dan Dewi bekerja.
Meila merapikan meja kerjanya, lalu memasukkan smartphone miliknya kedalam tas selempang. Meila bersiap untuk pulang. Niatnya bulat untuk memberitahu keluarganya, bahwa dia membatalkan pernikahannya dengan Zayan. Bukan hanya itu, Meila mantap untuk pergi dari kediaman Aksara. Meninggalkan keluarganya. Keluarga yang selama ini, hanya bisa memberikan rasa sakit, hinaan dan cacian untuk dirinya.
"Kamu yakin akan pulang?" Erik bertanya begitu melihat Meila mencantolkan tas dipundaknya. Pria itu, baru saja keluar dari ruangannya.
"Aku harus pulang untuk menyelesaikan semuanya, dan mengambil barang milikku yang masih tersisa di rumah itu Bang," jawab Meila.
Erik mengangguk pada adik angkat istrinya itu, yang sekarang menjadi adik angkatnya juga. "Abang dan Dewi akan ikut bersama kamu."
Meila tampak ragu. Dia tidak ingin terus merepotkan Dewi dan Erik. Pasangan suami istri itu sudah terlalu banyak membantu Meila. Tanpa mereka berdua, Meila tidak mungkin bisa sekuat ini.
Erik dan Dewi meyakinan Meila, mereka lakukan ini demi kebaikan Meila. Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan Meila. Mengingat, bagaimana buruknya perlakuan keluarga itu pada putri mereka sendiri.
"Kami tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri Mei. Apa lagi tujuan kamu sudah bulat untuk pergi dari rumah itu, meninggalkan keluarga kamu dan membatalkan pernikahan kamu."
Meila terharu. Dia bertemu dua orang yang menyayangi dirinya lebih dari keluarganya sendiri. Mereka tidak memiliki hubungan darah. Tapi Erik dan Dewi sangat peduli pada Meila. Selalu ada disaat-saat terburuk Meila.
"Baiklah," balas Meila.
Bersama Erik dan Dewi, Meila menuju kediaman Aksara. Selama perjalan, tidak ada yang bicara. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Untungnya tidak butuh lama untuk sampai di kediaman orang tuanya. Karena kediaman Aksara berada di tengah kota, tidak terlalu jauh dengan perusahaan milik Erik.
Tiba di kediaman Aksara, hanya Meila yang turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah. Semetara Erik dan Dewi menunggu di mobil, sambil memantau cctv kediaman itu yang terhubung di laptop Erik. Mereka hanya berjaga-jaga saja, takut keluarga Aksara melakukan hal yang berlebihan terhadap Meila. Itu kesepakatan yang baru saja mereka buat, sebelum Meila turun.
Meila berjanji, dia tidak akan lama berada di kediaman orang tuanya itu. Seperti yang dia sampaikan pada Erik dan Dewi, Meila hanya ingin mengambil sisa-sisa barang penting miliknya. Lalu pamit pada keluarganya bahwa, dia tidak akan kembali lagi ke kediaman itu. Rumah yang penuh dengan ketidakadilan orang-orang di dalamnya.
Meila mendengus begitu melihat kendaraan milik Zayan berada di halaman kediaman orang tuanya, meskipun Meila sudah menduganya. Karena Zayan lebih mendengarkan apa yang Melisa katakan, dari pada mengejarnya untuk bicara dan minta maaf.
Saat Meila masuk, semua mata menatap padanya. Zayan berdiri, lalu menghampiri Meila. "Mei, kamu akhirnya pulang juga. Aku sudah dari tadi menunggu kamu pulang."
Tangan Zayan terulur ingin meraih pundak Meila. Namun Meila segera menepisnya. Zayan sedikit terkejut. Biasanya Meila akan kembali bersikap manis, setelah mereka selisih paham seperti tadi. Apalagi mereka saat ini bersama kedua orang tua Meila dan saudara-saudaranya. Biasanya, Meila akan menunjukkan pada mereka bahwa, Zayan adalah miliknya, terutama di hadapan Melisa.
Sementara itu, ditempat duduknya, Melisa menatap kesal melihat Zayan yang masih saja memperdulikan Meila. Tadi, waktu di butik, Zayan memarahi Meila dengan suara tinggi, karena sudah merobek gaun pengantin itu.
Melisa tentu saja sangat senang melihatnya. Apalagi saat dia melihat Meila yang terkejut karena Zayan meninggikan suaranya. Zayan bahkan mengeluarkan kalimat yang menyakitkan untuk didengar. Pria itu menganggap Meila, kali ini sangat keterlaluan dan kekanak-kanakan.
Setelah menepis tangan Zayan, Meila melanjutkan langkahnya. Baru satu langkah, suara bariton milik tuan Beni Aksara meminta Meila berhenti. "Tetap di situ Meila Ayunda! Jaga sikap kamu! Jangan kurang ajar dengan Zayan. Dia itu calon suami kamu."
Meila mendengus. Masih saja mereka bersandiwara dihadapannya, dengan mengatakan Zayan adalah calon suaminya. Mereka pikir, Meila tidak tahu jika skenario yang dibuat oleh nyonya Hana Aksara itu bekerjasama dengan semua keluarganya dan orang tua Zayan.
"Zayan bukan calon suami Saya," jawab Meila tanpa berbalik menghadap ayahnya itu.
"Kamu bicara apa Mei?" Zayan tidak terima Meila bicara seperti itu. Meila tetap calon istrinya, wanita yang ingin dia nikahi.
Meila berbalik, lalu pandangannya tajam menatap Zayan. "Bukannya kamu ingin menikah dengan Melisa, Zayan?"
Zayan tersentak mendengar Meila memanggil namanya tanpa embel-embel mas. Baru saja Zayan ingin menjawab pertanyaan yang lebih ke pernyataan itu, dari Meila. Tuan Beni Aksara sudah lebih dulu bersuara.
"Yang sopan Meila! Melisa itu kakak kamu!" Tuan Beni Aksara tidak suka Meila menyebut nama Melisa tanpa embel-embel kak.
"Bukan berarti dia bisa mengenakan gaun pengantin milik saya seenaknya saja." Tegas Meila.
"Mei, Aku hanya mencobanya saja. Tidak ada maksud apapun." Melisa masih saja berusaha membela diri.
Andai saja, Meila tidak tahu rencana ibu dan kakak perempuannya itu, Meila mungkin akan percaya dengan ucapan Melisa. Tapi Meila tahu tujuan Melisa mencoba mengenakan gaun pengantinnya itu, karena Melisa yang akan mengenakannya nanti, saat pernikahan Zayan dan Meila tiba.
Meila menatap Melisa dengan tajam. Bukan kemarahan yang menggebu, tapi tatapan yang mengancam. Tatapan itu seolah ingin mengatakan, "Aku bukan lagi Meila yang kalian anggap tidak berdaya, anak pembawa sial ataupun hal buruk lainnya."
Tatapan Meila beralih pada ibunya. Bibirnya terangkat menghadirkan senyum mencemooh. "Apa kalian pikir Aku tidak tahu rencana Mama di hari pernikahan aku nanti," ucapnya.
Tidak ada pembelaan dari nyonya Hana. Mungkin terkejut, karena Meila mengetahui rencana jahatnya yang dia susun untuk menyingkirkan Meila di hari pernikahannya.
Setelah diam sesaat, detik kemudian, wanita paruh baya itu sadar, lalu nyonya Hana membalas tuduhan Meila. "Jangan asal bicara Meila!" Ibu kandung Meila itu seolah tidak terima dengan tuduhan putri bungsunya itu.
"Betul itu. Kami tidak punya rencana apa pun Meila," timpal Melisa menambahkan.
Wajah Meila tidak bergeming mendengar pembelaan MeIisa. Kakaknya itu justru terlihat panik. Sehingga tanpa sadar, penyangkalannya itu terdengar seperti sebuah pengakuan. Mengakui dirinya terlibat dalam rencana jahat yang sudah di susun ibu mereka.
"Mei, kalau masalah gaun, aku yang memberikan izin Melisa mencobanya. Kami tidak sengaja bertemu di butik. Melisa datang untuk mencoba gaun keluarga miliknya. Kebetulan gaun kamu dipajang di etalase, Melisa melihatnya dan dia ingin mencoba gaun itu. Dia kakak kamu, aku pikir tidak masalah dia mencobanya." Zayan kembali menjelaskan untuk membela Melisa.
Penjelasan Zayan, membuat Meila semakin bulat dengan keputusannya untuk membatalkan pernikahan mereka. Hal seperti ini saja Zayan tidak bisa mengerti perasaan Meila. Bagaimana selanjutnya? Meila tidak bisa hidup dengan pria yang berpihak pada keluarganya. Keluarga yang selalu memberikan luka.
"Saya pulang bukan untuk berdebat. Tapi ingin mengambil barang-barang saya."
Zayan gelisah. Sorot mata Meila sulit ditebak. Tidak ada kelembutan disana seperti biasanya. Dan caranya bicara sangat datar. Tidak mencari perhatian seperti biasanya. Dan kata Saya yang Meila sebutkan untuk memanggil dirinya sendiri sangatlah formal.
"Duduk Mei, kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini." Mirza, kakak pertama Meila itu ikut bicara. Maksud hatinya ingin membuat Meila tenang. Tapi Meila terlalu banyak menyimpan luka. Selembut apapun Mirza bicara, tidak lagi berguna.
"Kalian nikmati saja obrolan kalian. Saya tidak ingin menganggu."
Tidak ada keramahan yang Meila tunjukkan pada Mirza. Suaranya dingin dan datar. Sama seperti yang dirasakan Zayan, Mirza ikut gelisah melihat perubahan sikap adik bungsunya itu.
Malas berdebat dengan keluarganya dan Zayan, Meila kembali berbalik. Kaki Meila kembali melangkah menjauhi keluarganya. Keluarga cemara menurut orang-orang diluar sana.
Kini kaki itu mulai menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai tiga, lantai dimana kamar Meila berada. Kamar Meila berada di lantai paling atas bangunan mewah ini. Berada tepat di samping laundry room, dan berhadapan dengan rooftop. Ruangan yang sebenarnya bukan diperuntukkan untuk kamar, melainkan gudang. Meskipun begitu, Meila tidak pernah kecil hati.
Tiba di kamarnya, Meila menyapu seluruh ruangan yang tidak terlalu besar itu. Sangat sederhana. Sangat berbeda jauh dengan kamar milik Melisa, sang kakak, putri kesayangan keluarga Aksara. Namun Meila merasa kamarnya ini, satu-satunya ruangan yang hangat dari semua ruangan yang ada di kediaman Aksara.
Pandangan Meila tertuju pada sebuah koper. Semua barang-barang yang dia butuhkan sudah Meila simpan di dalam koper tersebut, sebelum dia pergi ke butik tadi pagi. Meila tinggal membawanya saja. Tidak banyak yang Meila bawa, karena ini barang terakhir miliknya yang dia butuhkan.
Selama ini Meila sudah memindahkan barang-barang miliknya sedikit demi sedikit ke apartemen. Apartemen yang dia beli dengan hasil keringatnya sendiri. Meila sudah lama berencana keluar dari rumah itu. Namun, dia belum menemukan alasan yang tepat.
Selesai dengan urusannya di kamar, Meila kembali turun sambil membawa koper. Tentu saja hal itu menarik perhatian semua orang yang berada di ruang tamu kediaman Aksara.
Zayan yang sudah kembali duduk di samping Melisa, segera bangkit mendekati calon istrinya. Zayan sangat yakin, Meila tetap akan menjadi istrinya. Pertengkaran di butik, menurut Zayan bukan masalah besar.
Sayang, Zayan tidak tahu. Dengan mengizinkan Melisa mengenakan gaun pengantin milik Meila, itu sama saja merendahkan diri Meila.
"Kamu mau kemana Mei?" tanya Zayan. "Jangan memperbesar masalah yang terjadi di butik tadi. Melisa haya ingin mencobanya saja," ucap Zayan lagi.
"Iya Mei, Aku hanya mencobanya saja, tapi kamu sudah marah duluan dan merobek gaun itu." Melisa menimpali ucapan Zayan.
Seperti biasa, dia akan membuat keluarganya percaya bahwa dia tidak punya maksud apa-apa. Meila saja yang melebih-lebihkannya. Jurus itu biasanya selalu berhasil, membuat Meila disalahkan oleh keluarga mereka.
"Gaun itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Karena itu aku merobeknya," balas Meila. Jangan dikira dia akan diam saja seperti biasanya.
"Jangan sombong kamu Meila. Zayan mengeluarkan banyak uang untuk gaun itu."
Meila tersenyum mengejek, mendengar ucapan ibunya. Gaun itu Meila buat dengan hasil keringatnya sendiri, bukan uang Zayan.
"Betul begitu Dokter Zayan yang terhormat. Apakah gaun itu Anda yang menyiapkannya untuk Saya?" Meila melemparkan jawabannya pada Zayan.
Zayan tidak bisa bicara apapun. Dia tahu betul, Meila tidak ingin Zayan mengeluarkan uang sedikitpun untuk gaun itu. Zayan hanya membiayai acara untuk pestanya saja. Meila hanya tersenyum mengejek melihat Zayan hanya diam saja.
"Hanya gaun biasa. Harganya tidak seberapa," seru nyonya Hana, yang tidak ingin kalah berdebat. Meila malas berdebat, jadi dia tidak memperpanjang masalah gaun itu.
"Saya pulang untuk mengambil barang-barang yang Saya perlukan. Saya pamit. Saya pergi dan tidak akan tinggal di rumah ini lagi." Suaranya dingin dan tidak ada ancaman di sana, agar keluarganya peduli.
Harapannya untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya sangat besar. Membuat Meila terus bertahan tinggal di kediaman Aksara, meskipun harus menerima perlakuan yang berbeda. Namun sejak tahu ibunya dan Melisa ingin merusak hari bahagianya, keputusan Meila semakin bulat untuk pergi dari kediaman itu.
Kejadian butik hari ini, hanya mempercepat keputusan Meila untuk keluar dari kediaman Aksara. Ditambah dengan satu keputusan besar lainnya, membatalkan pernikahannya dengan Zayan yang akan berlangsung lima hari lagi.
Meila sendiri tidak menyangka dengan keputusannya sendiri. Bahwa dia memilih pergi, bukan hanya pergi meninggalkan keluarga Aksara, tapi juga meninggalkan Zayan, pria yang dia harapkan bisa menjadi sandaran.
Suara tawa menggema di ruang tamu kediaman Aksara. Tawa yang mengejek Meila. "Memangnya kamu bisa apa diluar sana."
Meila tidak menghiraukan ucapan wanita yang sudah melahirkannya itu. Keluarganya tidak tahu, jika. Meila sudah bekerja. Mereka juga tidak tahu, jika Meila sudah menyelesaikan kuliahnya yang sepenuhnya dibiayai oleh beasiswa yang Meila terima.
Setidak peduli itu keluarga Aksara pada Meila, sehingga mereka tidak tahu keberhasilan Meila diluar sana. Bagi keluarga itu, hanya Melisa yang hebat dan bersinar.
"Mei, kamu tidak bisa pergi. Pernikahan kita tinggal lima hari lagi." Zayan mencoba menasehati Meila.
"Aku sudah katakan di butik tadi pagi. Aku tidak akan melanjutkan rencana pernikahan kita, Zayan." Tatapan mata Meila tajam pada Zayan. Pria yang dia kira bisa memberikan rumah untuknya, ternyata ikut menghina dirinya.
Zayan berubah, setelah Meila memperkenalkan pria itu dengan seluruh keluarga Aksara, sebagai calon suaminya. Tidak ada lagi tatapan yang mendamba pada sosok tampan dihadapannya ini. Zayan selalu saja memihak keluarganya. Pria itu selalu mengatakan, "Meila, mereka itu keluarga kamu. Hargai mereka."
Zayan dan Meila memutuskan untuk menikah, setelah dua tahun menjalin kasih. Karena itu Meila mengajak Zayan untuk bertemu kedua orang tuanya, hal yang selalu Meila hindari. Mengingat di keluarga itu ada Melisa, orang yang selalu menginginkan apa yang menjadi milik Meila. Pertemuan itu harus terjadi. Meila harus memperkenalkan calon suaminya dan meminta restu keluargnya.
Setelah pertemuan itu, kakak perempuannya itu terus mendesak orang tua mereka untuk menikahkan Zayan dengan dirinya. Meila sudah menduga apa yang akan dilakukan Melisa. Melisa menginginkan calon suaminya, seorang dokter muda yang cukup terkenal.
Melisa dan keluarganya bahkan mampu membalikkan keadaan. Membuat keluarga Zayan yang dulu baik padanya, jadi berubah. Mereka menginginkan Melisa yang menjadi pendamping hidup Zayan. Menurut mereka, Melisa lebih pantas menjadi pendamping Zayan, dari pada Meila. Sayang, orang tua Zayan dan Zayan sendiri tidak tahu seperti apa Melisa yang sebenarnya.
"Aku pergi." Meila berlalu begitu saja, tanpa memberikan kesempatan Zayan untuk bicara. Begitu juga dengan keluarganya.
"Ini bukan akhir. Tapi baru awal," gumam Meila.
Sesaat pikiran Zayan kosong. Apakah dia sudah benar-benar keterlaluan terhadap Meila? Apakah Meila benar-benar akan pergi dari hidupnya? Saat sadar Meila sudah tidak terlihat, Zayan berusaha untuk mengejar Meila.
Belum juga melangkah, Zayan ditahan oleh Melisa. "Biarkan saja Kak Zayan. Dia tidak akan kemana-mana. Meila itu anak manja, dia tidak bisa hidup seorang diri diluar sana."
"Betul itu Zayan, dia sudah biasa seperti ini. Mengancam pergi dari rumah, tapi tetap pulang." Nyonya Hana menambahkan.
Bodohnya Zayan, dia membenarkan ucapan Melisa dan calon ibu mertuanya. Zayan juga sangat yakin, Meila tidak bisa hidup tanpa dirinya. Selama ini Zayan merasa, dia yang memenuhi kebutuhan Meila. Zayan membuatkan khusus rekening atas nama Meila. Setiap bulan, Zayan mengisi rekening itu untuk Meila gunakan. Zayan pikir, dengan apa yang sudah dia berikan, Meila tidak akan pergi dari hidupnya. Karena gadis itu terikat dengannya.
Zayan salah, Meila tidak pernah mengambil satu rupiah pun dari rekening yang Zayan buatkan khusus untuknya. Meskipun orang tuanya tidak lagi membiayai hidupnya, Meila mampu membiayai hidupnya sendiri. Dia bekerja paruh waktu untuk kebutuhannya sehari-hari, selama ini. Untuk biaya pendidikan, Meila selalu mendapatkan beasiswa, sejak sekolah menengah atas hingga dia lulus sarjana.
Lulus sarjana lebih cepat dari yang ditentukan serta mendapatkan nilai yang tinggi, membuat Meila langsung diterima kerja di perusahaan Alamanda milik Erik. Di perusahaan itu, Meila bertemu Dewi, yang memiliki kehidupan yang hampir sama dengan Meila.
Tidak ada satupun keluarga Aksara yang tahu Meila sudah menyelesaikan pendidikannya, begitupun dengan Zayan. Meila sengaja merahasiakan hal tersebut, agar Melisa tidak terus menebarkan rasa iri hatinya pada Meila.
Saat akan kembali duduk bersama keluarga Aksara, Zayan teringat kalimat terakhir Meila. "Saya sudah mengirim semua barang yang pernah Dokter Zayan berikan pada Saya, ke apartemen Dokter."
Setelah kejadian di butik. Meila tidak langsung ke perusahaan Alamanda. Dia kembali ke apartemen, lalu mengumpulkan semua barang-barang pemberian Zayan selama mereka bersama. Tidak hanya itu, Meila juga menyelipkan ATM dan buku rekening atas namanya.
Mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Meila, Zayan segera pamit. Dia ingin memastikan, Meila tidak berbohong. Itu berarti ancaman Meila tidak main-main tentang pembatalan pernikahan mereka.
"Kak Zayan mau kemana?" Melisa segera mengajukan pertanyaan karena takut. Takut Zayan menyusul Meila, lalu keduanya berbaikan lagi seperti yang sudah-sudah. Melisa tidak ingin rencananya memisahkan Meila dan Zayan menjadi sia-sia.
Zayan tidak menanggapi pertanyaan Melisa. Pria itu pergi begitu saja. Elisa mengepalkan tangannya. Kesal Zayan masih saja memperdulikan Meila.
"Tenang saja Lisa, Zayan pasti akan menjadi milik kamu." Nyonya Hana yang mengetahui kegelisahan Melisa, berusaha menenangkan putri pertamanya itu.
Diluar, di depan kediaman Aksara, Meila sudah melewati gerbang kediaman keluarga Aksara. Dia berbalik sejenak, memandangi kediaman tiga lantai itu. Kediaman itu terlihat megah dari luar. Namun, lebih banyak memberikan luka dari pada kenangan bahagia. Meila tersenyum, meskipun luka di hatinya masih terbuka lebar.
Erik dan Dewi yang sejak tadi sudah turun dari mobil, menyambut Meila yang semakin mendekat pada mereka. "Keluarga kamu tidak menyakiti kamu, kan?" Tanya Dewi.
Meila tersenyum sebagai jawabannya. Pertanyaan basa basi itu hanya sebuah bentuk perhatian dan rasa khawatir Dewi kepadanya. Meila tahu, Erik dan Dewi pasti meretas cctv di kediaman Aksara, untuk melihat apa yang terjadi.
"Ayo kita pulang!" Ajak Erik.
Suami Dewi itu segera mengambil alih koper yang ada di tangan Meila. Sedangkan Dewi menggiring Meila untuk masuk ke dalam mobil. Erik segera kembali ke belakang kemudi setelah menutup bagasi. Lalu dia melajukan kendaraannya, bertepatan dengan Zayan yang keluar dari kediaman Aksara.
Suasana dalam kendaraan itu hening, sama seperti saat mereka menuju kediaman Aksara. Erik melirik meila lewat kaca spion. Tampak gadis itu tengah melamun.
Meila sedang memikirkan yang baru saja dia lalui. Dia merasa berdosa sudah melawan keluarganya. Baru kali ini, Meila bicara kasar dan berani menatap tajam semua keluarganya. Mungkin, karena rasa sakit itu sudah sangat menyakitkan bagi Meila.
"Apa aku salah?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Meila.
Dewi segera menoleh pada Meila. "Yang kamu lakukan sudah benar Mei. Keluar dari keluarga itu untuk menjaga kamu agar tetap waras menghadapi dunia ini." Dewi mengingatkan tujuan Meila.
Tujuan Meila keluar dari kediaman Aksara untuk kewarasan dirinya. Rasa sakit yang diberikan keluarga Aksara selama ini membelenggu Meila. Kasih sayang yang timpang, pernah membuat Meila merasa dirinya kecil dan tidak berguna.
Sampai Meila berada disatu titik keputus asaan. Dimana, tidak ada satupun keluarganya yang bersedia ke sekolah setiap waktunya pembagian rapot.
"Kamu ambil sendiri saja Mei. Sekolah kamu itu sekolah kampung, tidak ada orang tua teman-teman kamu yang bisa Papa ajak kerja sama membesarkan perusahaan." Tolak tuan Beni, saat Meila meminta pria itu mengambil rapot.
"Kami harus mengambil rapot Melisa. Ibu sudah janji bertemu teman-teman Mama yang juga istri pengusaha." Nyonya Hana menambahkan.
Ingin sekali Meila bertanya, "Mengapa sekolahnya tidak disamakan saja dengan Melisa?"
Tanpa perlu mengajukan pertanyaan itu, Meila sudah mendapatkan jawaban. "Kamu itu tidak bisa apa-apa. Kehadiran kamu itu tidak diharapkan. Sejak lahir kamu itu sudah membawa sial untuk keluarga ini. Jadi terima saja kalau kamu harus sekolah di sekolah biasa. Bersyukur, kamu masih kami sekolahkan."
Andai Meila bisa memilih saat lahir kedunia ini, tentu saja dia akan memilih keluarga yang benar-benar menginginkan kehadirannya. Sayang itu tidak bisa dia lakukan. Yang bisa Meila lakukan adalah menjaga kewarasannya, dengan keluar dari kediaman Aksara.
Menikah dengan Zayan, merupakan salah satu cara Meila untuk keluar dari kediaman itu. Namun, sikap Zayan yang berubah setelah bertemu keluarganya, membuat Meila ragu, pria itu bisa membebaskan dirinya dari belenggu keluarganya sendiri. Puncaknya hari ini, keputusan besar harus Meila putuskan.
"Bang, kita mau kemana?" Tanya Meila setelah menyadari Erik melajukan kendaraannya bukan ke apartemen miliknya.
Tidak ada jawaban dari Erik. Hanya kedipan sebelah mata yang diberikan Dewi, saat kakak angkat Meila itu melihat ke kursi penumpang bagian belakang, tempat Meila berada.
Kendaraan milik Erik terus melaju menuju sebuah perumahan elite. Keluarga Meila memang keluarga berada, namun kedudukan keluarga Erik lebih tinggi diatas keluarga Aksara. Sekarang Meila tahu, kemana kedua saudara angkatnya itu membawanya.
"Selamat datang di rumah Meila," ucap Erik setelah Meila turun dari mobil.
"Ini kediaman utama Alamanda. Oma meminta kami untuk membawa kamu pulang ke tempat ini. Oma ingin, kamu tinggal bersamanya." Dewi menjelasakan.
"Kak Dewi, Bang Erik, Aku punya apartemen," balas Meila.
"Ini perintah oma. Dan tidak ada penolakan. Titik."
Bukan Erik maupun Dewi yang membalas penolakan Meila, melainkan oma Amanda. Melihat wanita tua yang masih sehat dan cantik itu, Meila segera menghampirinya dan mencium punggung tangan itu dengan takzim.
Meila bertemu oma Amanda pertama kali sebelum pernikahan Dewi dan Erik. Sejak itu, dia sering menemani oma Amanda, setiap kali nenek Erik itu ingin jalan-jalan. Dan ini, untuk pertama kalinya meila berkunjung ke kediaman utama keluarga Alamanda.
"Cucu opa sudah datang rupanya," ucap opa Alan yang baru saja tiba.
Opa Alan mengajak meila masuk setelah gadis itu mencium punggung tangan opa Alan. Hal yang tidak pernah Meila lakukan pada keluarganya. Bukan Meila yang tidak ingin melakukannya. Tapi keluarganya yang tidak ingin Meila menyentuh mereka.
"Opa sudah mengurus semuanya Meila. Mulai saat ini, kamu akan menjadi cucu kami. Bagian dari keluarga Alamanda." Opa Alan menjelaskan.
"Kamu tidak bisa menolaknya." Oma Amanda menambahkan.
"Setelah surat-suratnya selesai, Opa akan mengumumkan kamu sebagai cucu keluarga Alamanda secara resmi."
"Tapi Opa, ...."
Meila tidak melanjutkan ucapannya. Dia memang ingin keluar dari kediaman keluarga Aksara, bukan berarti memutuskan ikatan dia sebagai anak dari kedua orang tuanya. Meila hanya ingin menjauh. Tidak berpikir sampai sejauh ini.
Seolah tahu apa yang Meila pikirkan, opa Alan menambahkan penjelasannya. "Orang tua kamu sudah setuju menyerahkan kamu pada keluarga ini."
Meila terdiam mendengar penjelasan opa Alan. Keluarganya setuju dia menjadi keluarga Alamanda. Itu artinya, Beni Aksara dan keluarga lainnya, benar-benar membuang dirinya.
Harusnya Meila tidak perlu terkejut dengan penjelasan opa Alan. Sejak dulu, keluarganya selalu mengatakan, "Kamu tahu Meila, kamu itu tidak pantas menggunakan nama Aksara." Karena itulah, tidak ada satupun dari keluarganya yang memanggil Meila dengan nama keluarga Aksara. Panggilan untuk Meila hanya berhenti sampai di, 'Meila Ayunda,' saja.
Kalimat, "Tidak pantas menggunakan nama Aksara," selama ini terdengar hanya sebuah ancaman saja bagi Meila. Ancaman itu dilontarkan setiap kali, menurut mereka, Meila melakukan kesalahan.
Mengetahui dirinya benar-benar dibuang oleh keluarganya, hati Meila terasa sakit. Inikah resiko yang harus dia terima setelah memutuskan pergi dari kediaman Aksara. Dirinya benar-benar dibuang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!