Jam menunjukkan pukul 8 malam. Hujan deras menghujani kota. Di dalam Royal Restaurant, sebuah restoran dengan banyak makanan mewah dan mahal yang masih buka, telepon berdering keras di meja kasir.
Ethan, seorang pemuda yang mengenakan seragam merah-putih bertuliskan "Royal Restaurant", mengangkat telepon dengan ekspresi lelah.
"Halo, Royal Restaurant," jawab Ethan datar.
Suara dari ujung sana terdengar mendesak. "Pesan satu pizza supreme dengan jamur truffle dan dua botol cola, antar ke kamar 169 di Star Hotel. Cepat!"
Setelah menutup telepon, Ethan menghela napas. Dia mengambil pesanan dari dapur—pizza panas dalam kotak dan minuman dalam tas berpendingin. Dia mengenakan jas hujan lusuh miliknya, menghidupkan motor listriknya, dan melaju perlahan menuju Star Hotel yang terletak di tengah-tengah kota.
Hujan yang turun deras membasahi jalanan, membuat perjalanan semakin sulit. Jalan menuju hotel melewati sebuah jalur yang tergenang air. Saat mencoba menghindari lubang besar, motor listrik Ethan oleng.
"Ah!" Seruan kecil keluar dari mulutnya saat ia tergelincir, jatuh ke tanah yang basah. Celana dan sepatunya kuyup, lumpur menempel di mana-mana. Namun, tas berisi pizza dan minuman, untungnya, masih aman.
Menggerutu, Ethan bangkit dan menaikkan motornya. Tanpa berani menunda, dia kembali melaju di bawah derasnya hujan, kali ini dengan lebih hati-hati.
Ethan memarkir motornya di luar dengan tergesa-gesa, di tempat yang tampaknya asal—lantaran hujan dan buru-buru. Dia bergegas masuk ke dalam lobi hotel yang mewah namun terasa dingin. Tangannya terasa beku saat mengetuk pintu nomor 169.
Pintu terbuka sedikit. Di baliknya, Ethan melihat sosok yang sangat ia kenal.
"Halo, ini pesanan Anda—" katanya, namun kalimat itu terputus. Matanya melebar.
Tasya berdiri di sana, mengenakan jubah mandi hotel yang putih, rambut hitamnya masih basah. Aroma sabun yang akrab menyengat Ethan.
"Ethan? Kenapa yang mengantar makanan ini kau?" tanya Tasya, langkahnya mundur secara naluriah, bingung dan panik.
Sebelum Ethan bisa berkata lebih jauh, seorang pria keluar dari dalam kamar. Kael, tampan, percaya diri, juga mengenakan jubah mandi. Ekspresinya berubah saat melihat Ethan.
"Beraninya kau menyentuh wanitaku!" geram Ethan, darahnya mendidih. Dia melangkah maju.
"Berhenti!" teriak Tasya, menghalangi.
Ethan membeku. Tasya menatapnya dengan dingin.
“Ethan, kita putus!” katanya, tegas dan tanpa keraguan.
“Putus?” Ethan tersentak. “Tasya… Kau mengakhiri hubungan kita seperti ini?”
“Ya!” sahut Tasya, matanya menyala. “Lihat kehidupan yang kau berikan! Makan di warung, hadiah-hadiah murahan, pakaian diskonan. Aku malu, Ethan! Setiap jalan bersamamu, aku merasa diejek!”
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan suara penuh kebencian yang lebih menusuk.
"Kamu pikir aku tidak tahu? Kau hanya 'pewaris' yang tidak dianggap! Anak dari istri yang tak diinginkan yang selalu dihinakan oleh saudara-saudara tirimu sendiri. Keluargamu saja malu mengakuimu, Ethan. Kau diusir dari rumah itu! Dan kau berharap aku mau ikut terhina bersamamu?"
Kata-kata Tasya seperti tamparan keras. Ethan terdiam, wajahnya pucat.
“Ini bukan hidup yang kuinginkan,” lanjut Tasya, suaranya seperti es. “Aku terlalu naif dulu. Aku pantas dapat yang lebih baik—pria sejati seperti Kael, yang diakui dan dihormati.” Dia merangkul lengan Kael erat.
Kael menyeringai, menikmati kehancuran Ethan. “Oh, jadi begini ceritanya? Si kurir yang terbuang?” Dia mengambil tas pesanan dari tangan Ethan yang lunglai. Dengan santai, dia mengeluarkan pizza dan menggoyang-goyangkan kotaknya.
“Kau mengantarkan pizza untuk mantan pacarmu sendiri, yang baru saja menginjak-injak sisa harga dirimu. Luar biasa rendah hati!” Kael tertawa terbahak, sambil memeluk Tasya.
“Keluar dari sini, Ethan. Sekarang!” hardik Tasya, matanya penuh cibiran. "Pergilah kembali ke kehidupan menyedihkanmu, 'anak' tak berguna.”
Kael menambahkan, sinis, “Atau mau menonton kami makan pizza ini berdua? Mau ikut mencicipi? Mungkin ini satu-satunya kesempatanmu makan di hotel mewah.”
Ethan terdiam sejenak. Dunia di sekelilingnya seolah sunyi. Semua penghinaan dari saudara tirinya, semua lirikan hina dari orang-orang, dan sekarang, pengkhianatan dari orang yang paling ia percaya—semuanya bertumpuk menjadi satu. Tanpa sepatah kata pun, dengan pandangan kosong, dia berbalik dan berjalan pergi.
Saat dia melangkah di lorong, suara Kael mengejek dari belakang. “Hei, kurir! Kau melupakan tipnya! Pizza dan pacarmu gratis hari ini! Terima kasih ya!”
Pintu tertutup dengan keras. Tawa mereka teredam, meninggalkan Ethan sendirian di lorong yang panjang dan terang benderang.
Ethan berdiri seperti patung, masih menatap daun pintu kayu mahoni yang kini terkunci. Selama dua menit dia hanya diam, mendengar suara tawa samar dan musik dari dalam kamar.
Saat dia akhirnya menghela napas panjang dan berbalik untuk pergi, tiba-tiba pintu itu terbuka kembali.
Kael muncul, wajahnya masam. Tasya berdiri di belakangnya, masih mengenakan jubah mandi, dengan senyum kecut di bibirnya.
"Eh, tunggu dulu!" Kael menyeringai sinis. "Kau salah antar, kurir."
Ethan berbalik pelan. "Apa?"
"Pesanannya harusnya pizza supreme dengan jamur truffle, bukan pepperoni biasa ini," ucap Kael sambil mengacungkan kotak pizza yang sudah terbuka sepenuhnya, memperlihatkan isinya. "Dan colanya harus yang besar, bukan yang biasa. Lihat ini!" Dia menunjukkan botol cola biasa. "Kami bayar untuk yang premium, dapatnya barang murahan."
Tasya menambahkan dengan nada jengkel, "Kami pesan yang spesial. Yang ini makanan kelas biasa. Kalian memang selalu berantakan, ya?”
Ethan hanya bisa menatap kosong. Pikirannya berputar cepat. Ini pasti kesalahan dapur. Atau... bukan? Lalu ingatannya melayang.
Kael masih menggerutu tentang pizza yang salah. Tapi di benak Ethan, kepingan puzzle itu menyatu.
Royal Slice. Restoran pizza yang menerimanya dengan mudah, padahal ia tidak punya pengalaman. Manager restoran itu, pria paruh baya, tadi memandangnya aneh saat melamar. Seperti... seperti dia tahu siapa Ethan, dan sengaja menerimanya untuk sebuah alasan.
Keluarga Alfonso.
Mereka tahu dia butuh kerja. Mereka tahu dia akan mengambil pekerjaan apapun. Dan mereka punya pengaruh di setiap sudut Dream City—termasuk sebuah restoran mewah di tengah-tengah kota itu.
Ini semua rencana mereka, pikir Ethan, darahnya mendidih tapi wajahnya tetap datar. Mereka sengaja membuatku bekerja di tempat yang mereka kendalikan. Mereka sengaja mengatur pesanan ini. Mereka bahkan mungkin yang memberitahu Tasya untuk memesan ke sini... Semua ini sandiwara untuk menghinaku.
"Kau dengar tidak?!" hardik Kael, memotong lamunannya.
Kael masih menggerutu, tapi sekarang matanya bersinar dengan ide licik. "Karena ini salah kau, kurir, kami tidak mau barang ini. Ambil kembali!”
Dengan gerakan tiba-tiba dan sengaja, Kael bukan menyerahkan kotak pizza itu, tetapi melepaskannya tepat di depan Ethan. Kotak itu terjatuh, mendarat di karpet tebal lorong. Tutupnya terbuka, dan pizza yang masih hangat itu tergelatak, keju dan sausnya berceceran di lantai.
"Ups," Kael berkata dengan senyuman tak bersalah yang palsu. "Kelihatannya kau memang selalu menyebabkan kekacauan, ya?"
Tasya tertawa kecil, menutup mulutnya. "Coba lihat dirimu, Ethan. Bahkan mengantar makanan pun kau gagal total."
Ethan menatap pizza yang berserakan di kakiannya. Keju yang meleleh menempel di karpet merah hotel.
"Bersihkan ini!" hardik Kael, menunjuk ke karpet yang kotor. "Kau dengar tidak?? Atau kau mau aku melaporkan ini ke pihak hotel dan restoranmu?”
Ethan tidak langsung membungkuk. Dia melihat Kael, lalu Tasya, lalu pizza yang berserakan.
Dia perlahan membungkuk, mengambil kotak pizza yang rusak, menyendoki pizza yang jatuh kembali ke dalamnya dengan tangan kosong. Keju panas menempel di jarinya, tapi dia tidak merasa sakit.
Saat dia berdiri, Kael tertawa. "Lihat itu, Tasya. Mantan pacarmu akhirnya menemukan panggilannya yang sebenarnya: pemulung sampah.”
Dia tidak mengatakan apapun lagi. Dengan kotak pizza berantakan di tangan, dia berbalik dan berjalan pergi.
Kael dan Tasya saling pandang, sedikit terkejut dengan respons yang tak terduga itu. Tapi sebelum mereka bisa berkata apa-apa, Ethan sudah berbelok di ujung lorong, menghilang dari pandangan.
Ethan keluar hotel, masih membawa kotak pizza yang berantakan. Lalu membuangnya di tempat sampah yang tak jauh dari pintu masuk hotel. Lalu dia mencari motornya di tempat tadi ia parkir.
Kosong.
Dia lari ke tepi jalan, menyisir pandangan. Dari kejauhan, sebuah truk derek berwarna biru kusam sedang membawa motornya yang berwarna hitam perlahan menjauh.
"HEY! BERHENTI! ITU MOTORKU!" teriaknya, suaranya serak, berlari sekuat tenaga sambil melambai. Truk itu belok di tikungan dan menghilang.
Ethan terpana, basah kuyup oleh hujan dan kenyataan pahit. Tubuhnya lunglai. Tasya benar—dia memang seorang terbuang. Dari keluarganya, dan sekarang dari kehidupan cintanya. Dan satu-satunya alat untuk bertahan hidupnya juga hilang.
Dia berjalan tertatih, tanpa arah. Sampai matanya menangkap selembar kertas yang sedikit basah baru ditempel di tiang lampu jalan.
Yang bertuliskan,
PEMBERITAHUAN UMUM
KEPADA PEMILIK KENDARAAN:
Berdasarkan Peraturan Daerah Dream City 40-8.2 (Pelanggaran Parkir & Zona Derekan), motor listrik (merk: VoltZ, warna: hitam) yang terparkir secara ilegal di ZONA DILARANG PARKIR / JALUR PEMADAM di depan Star Hotel pada tanggal 15 April, pukul kurang lebih 20:30, telah DIDEREK DAN DIAMANKAN.
Kendaraan saat ini diamankan di:
Lahan Penitipan Kota #4
100 Industrial Parkway
(Jam Operasional: Senin-Jumat, 08:00 - 18:00)
Untuk pengambilan, Anda harus menyertakan:
· Kartu Identitas yang masih berlaku
· Bukti Kepemilikan & Registrasi Kendaraan
· Melunasi semua biaya: $185 ( $125 biaya derek + $60 biaya penitipan per hari )
Anda memiliki 14 hari kalender untuk mengambil kembali. Setelah itu, kendaraan akan dianggap terbengkalai dan akan dilelang.
Dikeluarkan oleh:
Divisi Penegakan Parkir Kota
(Stempel resmi dan tanda tangan)
“SIALANNN!!!” teriak Ethan.
Keesokan paginya
Ethan berjalan perlahan menyusuri jalur setapak. Meskipun tubuhnya ada di sana, pikirannya melayang ke mana-mana. Ia sama sekali mengabaikan pemandangan indah bunga-bunga yang ditanam di sepanjang jalan yang ia lewati.
Berbagai warna menghiasi tempat itu, membuatnya tampak seperti taman yang paling mewah, namun anehnya tempat itu bukanlah taman.
Di sisi-sisinya, selain bunga-bunga dengan beragam warna dan jenis, terdapat beberapa pohon langka yang ditanam di sana.
Beberapa pelayan terlihat di sekitar, ada yang sedang membersihkan, ada pula yang berjalan untuk menjalankan tugas yang telah diberikan kepada mereka.
Setelah beberapa saat, ia tiba di depan sebuah kediaman megah yang berdiri tinggi dan anggun. Kediaman itu memancarkan keindahan dan kewibawaan secara bersamaan.
Bangunannya sangat besar, bukan hanya dari segi panjang dan lebar, tetapi juga memiliki tujuh lantai. Kediaman itu dicat dengan warna biru turquoise. Beberapa bagian dicat putih, tetapi warna biru turquoise tetap mendominasi keseluruhan bangunan.
Saat ia tiba di depan pintu, para pelayan yang berjaga di sana bahkan tidak repot-repot membukakan pintu untuknya. Tanpa terlalu mempedulikannya, ia mendorong pintu ganda itu dan masuk ke dalam kediaman.
“Hmph, bocah tak berguna itu datang lagi.”
“Dia tahu mereka tidak mencintainya, tapi dia terus saja mencoba peruntungannya.”
“Memangnya dia bisa melakukan apa? Dia tidak pernah diberi perusahaan untuk dikelola.”
“Perusahaan apa yang bisa dia kelola? Dia tidak akan pernah mendapat kesempatan di keluarga ini.”
“Ya, kau benar. Ibunya sudah tiada. Sekarang tidak ada seorang pun di keluarga yang peduli padanya karena sikapnya.”
Begitu ia masuk, ia bisa dengan jelas mendengar dua pelayan di pintu masuk kediaman membicarakannya dengan suara penuh penghinaan.
“Oh, lihat siapa yang kembali. Aku kira kau tidak akan berani kembali ke sini.” Saat ia mengabaikan orang-orang yang membicarakannya, ia mendengar sebuah suara sombong datang dari arah depannya.
Ia mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap langsung mata pemuda di hadapannya. Orang itu bisa dibilang tampan, tetapi tidak terlalu istimewa.
Ia memiliki rambut pirang pendek yang tertata rapi. Matanya dipenuhi kesombongan dan penghinaan saat menatap Ethan. Saat itu, ia mengenakan kemeja hijau dengan blazer hitam di atasnya. Untuk bawahannya, ia mengenakan celana hitam.
Karena mereka berada di dalam kediaman, ia mengenakan sandal.
“Maksudmu Ethan kembali? Aku juga mengira dia tidak akan kembali sama sekali.” Sebelum Ethan sempat mengucapkan sepatah kata pun sebagai balasan, suara seorang wanita terdengar dari ruang tamu.
Disusul oleh suara langkah kaki, dua orang gadis kembar Lucy dan Luna dengan tinggi sekitar 170 cm mendekat ke arah mereka. Sama seperti pria pirang di depannya, mereka memiliki rambut pirang dan wajah cantik dengan nilai setidaknya 85.
Saat ini, mereka mengenakan gaun beige sepanjang lutut yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Berbeda dengan mata kakaknya yang dipenuhi kesombongan, mata gadis itu dipenuhi kelicikan, seperti seekor rubah.
Meskipun mereka tampak imut, Ethan tahu dengan jelas bahwa mereka sama sekali tidak imut.
“Aku kira kau bilang akan mencari cara untuk bertahan hidup sendiri. Kenapa kau kembali sekarang?” tanyanya begitu ia tiba di hadapannya.
Ethan menatapnya, lalu mengalihkan pandangannya ke kakaknya yang bernama Danny. Ia hanya menggelengkan kepala tanpa berkata apa pun dan berjalan melewati mereka dari samping.
Melihat dirinya diabaikan, mereka bertiga sama sekali tidak menyukainya. Karena itu, Danny segera kembali menghalangi jalan Ethan.
Ethan mengerutkan kening, tetapi tetap mencoba melewatinya dari sisi lain. Ia baru saja berhasil melewati Danny, namun mendapati Lucy dan Luna kembali menghalangi jalannya.
Meskipun koridor yang menuju ruang tamu cukup besar, dengan ketiga saudara itu bergerak ke kiri dan kanan, Ethan tidak bisa melewati mereka.
Ia tidak punya pilihan selain berhenti dan menatap mereka dengan penuh kekesalan. Untuk pertama kalinya, ia pun berbicara, “Apa yang kalian inginkan.” Suaranya tidak keras dan juga tidak pelan, tetapi mengandung daya tarik khas seorang pria.
“Kau tahu apa yang kami inginkan darimu. Katakan saja, kenapa kau kembali? Bukankah kau dengan berani mengatakan akan pergi dan bertahan hidup sendiri?” tanya Danny dengan senyum mengejek di wajahnya.
Ethan adalah putra keempat dari keluarga Williams. Ada empat putra dalam keluarga itu. Putra sulung bernama Axel, disusul oleh Danny, kemudian Mike, dan yang terakhir adalah Ethan.
Sementara itu, putri-putri keluarga Williams terdiri dari Stella sebagai putri sulung, lalu Lucy, dan yang terakhir adalah Luna.
Ayah Ethan memiliki dua istri dan seorang selir. Istri pertamanya bernama Betty. Ia adalah ibu dari Axel, Lucy, dan Luna yang merupakan saudara kembar.
Istri kedua bernama Noora. Ia adalah ibu dari Stella serta Danny dan Mike.
Sementara itu, ibu Ethan adalah seorang selir. Entah sial atau justru beruntung, ia adalah satu-satunya anak dari sang selir, Evelyn.
Dari segi usia, Axel adalah yang tertua. Ia berusia dua puluh delapan tahun. Tepat di belakangnya ada Stella yang berusia dua puluh tujuh tahun. Setelah itu adalah Danny yang saat ini berusia dua puluh empat tahun.
Berikutnya adalah Mike yang berusia dua puluh tiga tahun. Setelah dia ada Lucy dan Luna. Keduanya berusia dua puluh satu tahun. Terakhir adalah Ethan. Tahun ini, usianya genap sembilan belas tahun.
Selain harus menunjukkan rasa hormat kepada semua saudara tirinya yang lebih tua, ia juga harus menghadapi banyak perlakuan buruk dari para ibu mereka yang penuh tipu daya.
Ethan selalu diperlakukan dengan buruk, terutama sejak kematian ibunya empat tahun lalu. Sejak saat itu, hidupnya menjadi semakin sulit karena tidak ada seorang pun di keluarga yang mencintainya.
Meskipun ayahnya terkadang membantunya, bantuan itu hanya bersifat permukaan dan sama sekali tidak menyelesaikan masalahnya. Sementara itu, kakek dan neneknya membencinya.
Menurut apa yang ia dengar, mereka tidak menyukai kenyataan bahwa ayahnya memiliki seorang selir. Mereka mengatakan bahwa hal itu mencoreng reputasi keluarga. Karena itulah, mereka juga tidak pernah menyayangi anak dari selir tersebut, dan Ethan menjadi simbol aib dalam reputasi keluarga yang dianggap bersih.
Adapun paman dan bibinya, ada yang bersikap sama seperti saudara-saudaranya atau kakek dan neneknya. Tentu saja, ada juga yang sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi.
Ia juga memiliki banyak sepupu. Namun, seperti saudara tirinya, banyak dari mereka yang tidak menyukainya. Lagipula, keluarga Williams bukanlah keluarga kecil.
Keluarga Williams memiliki aset yang nilainya setidaknya tujuh ratus juta dolar. Mereka adalah keluarga terbesar sekaligus penguasa Dream City.
Di Dream City, mereka memonopoli hampir setiap industri. Pengaruh mereka bahkan telah menyebar ke kota lain bernama Rizz City. Namun, pengaruh mereka di sana tidak sebesar di Dream City.
Ethan telah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan menghadapi semua perlakuan yang mereka berikan padanya. Namun pada akhirnya, setelah ibunya meninggal, ia tidak sanggup lagi menahannya.
Ia mulai menabung sedikit demi sedikit dari uang yang ia terima dari keluarga. Ia sudah melakukannya sejak ibunya masih hidup. Saat itu, usianya baru tiga belas tahun.
Dengan kata lain, ia telah menabung selama setidaknya enam tahun. Dan karena ia tidak sanggup lagi hidup seperti ini, ia memutuskan bahwa sudah waktunya untuk melangkah maju dan mencoba peruntungannya sendiri, melihat apakah ia bisa melakukan sesuatu dengan tingkat pendidikan yang ia miliki.
Sejak sebulan yang lalu, ia meninggalkan mansion dengan mengatakan bahwa ia akan hidup mandiri. Ethan berusaha hidup mandiri di Dream City. Tanpa akses ke sumber daya keluarga, ia terpaksa menerima pekerjaan apa saja untuk bertahan hidup. Saat ini, ia bekerja sebagai kurir pengantar makanan untuk Royal Restaurant, restoran mewah milik seorang pengusaha yang entah kenapa dengan mudah menerimanya meski tanpa pengalaman.
Ia berkeliling Dream City setiap hari, tidak lagi untuk mencari peluang bisnis, tetapi untuk mengantar pesanan demi upah per jam. Dari sudut-sudut kota, ia menyaksikan sendiri betapa besar pengaruh keluarga Williams. Ethan sadar: jika saudara tirinya tahu ia masih bekerja di kota ini, mereka akan menghancurkannya tanpa ampun.
Karena itu, meski masih tinggal di sebuah apartemen kecil yang ia sewa di pinggiran kota, Ethan sudah punya rencana: meninggalkan Dream City untuk selamanya. Ia tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang keluarga yang membencinya.
Hari ini, ia datang kesini untuk mengambil barang-barangnya sebelum pergi.
“Aku akan pergi hari ini, jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkanku,” kata Ethan kepada ketiga orang yang menghalangi jalannya.
“Oh, begitu. Jadi, kemana kau berencana pergi?” Danny mengangkat alisnya dan bertanya.
“Itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui,” jawab Ethan.
Pada saat itu, Lucy dan Luna menarik Danny ke samping, membuka jalan untuk Ethan. Meskipun Danny tidak menyukai kenyataan bahwa Ethan tidak menjawab pertanyaannya, ia memutuskan untuk menuruti Lucy dan Luna. Ia tahu bahwa meskipun Lucy dan Luna lebih muda darinya, mereka bukan seseorang yang bisa ia ganggu sembarangan. Pasti ada rencana di balik tindakannya. Lalu Lucy berkata, “Oh, tidak masalah. Kami bisa membantumu berkemas.”
“Tidak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri,” kata Ethan sambil pergi dan menuju kamarnya yang terletak di lantai tiga.
Danny menatap punggung Ethan hingga menghilang di ujung koridor. Ia kemudian menoleh ke arah Lucy, seolah menunggu penjelasan.
Melihat tatapannya, Lucy membalasnya dengan senyum licik sambil berkata, “Tidak perlu khawatir ke mana dia akan pergi. Ini Dream City, tidak ada tempat baginya untuk bersembunyi. Dan kalau dia ingin keluar dari kota ini, hehe—” Sampai di titik itu, Lucy terkekeh pelan, tawa dangkal yang membuat bulu kuduk Danny meremang.
Setelah Ethan masuk ke kamarnya, ia langsung mengambil koper yang sudah ia kemas sejak hari sebelum ia pergi. Ia kemudian menatap ruangan yang dicat putih itu. Hampir semua yang ada di dalam kamar tersebut berwarna putih atau silver.
Warna-warna itu ia pilih sebagai bentuk kenangan terhadap ibunya, Evelyn. Seingatnya hingga kini, ibunya memiliki rambut silver dan mata biru. Ia adalah seorang wanita cantik, dan satu hal yang pasti, ia jauh lebih cantik dibandingkan dua istri yang dinikahi ayahnya.
Ethan mewarisi hampir seluruh ciri fisik ibunya. Jika ada satu bagian yang menyerupai ayahnya, itu adalah bentuk rahangnya. Selebihnya, semua fitur wajahnya mirip sang ibu.
Hal inilah yang membuat Ethan menjadi seorang pemuda tampan. Dengan penampilannya yang langka, ia adalah pria idaman bagi kebanyakan gadis di Dream City. Namun tentu saja, begitu mereka bertemu dengan saudara atau sepupu Ethan, mereka akan langsung menyerah. Bagaimanapun juga, mereka tidak ingin berada di pihak yang berseberangan dengan anak-anak orang kaya baru itu, sama seperti Tasya.
Ia memandang sekeliling kamar untuk beberapa saat sebelum menghela napas. Lalu ia bergumam, “Ibu, aku tidak tahu apakah kau ingin aku meninggalkan tempat ini atau tidak. Tapi aku akan pergi dan membuktikan diriku. Meskipun aku tidak membuktikannya kepada mereka, setidaknya aku ingin mereka tahu bahwa putramu sama sekali tidak sia-sia.”
Setelah itu, ia melangkah keluar dari kamarnya dan menuju kamar yang dulu digunakan ibunya sebelum meninggal. Ia memasuki ruangan itu, yang bisa dikatakan memiliki warna yang serasi dengan kamarnya sendiri.
Ia menatap sekeliling untuk beberapa saat. Kemudian, ia melangkah ke depan dan menatap lemari kecil di samping tempat tidur. Ia membukanya dan mengambil sebuah amplop besar. Ini adalah sesuatu yang ibunya minta untuk ia bawa bersamanya, selama ia yakin bahwa ia tidak akan kembali ke kamar itu lagi.
Karena ia akan pergi, ia memang tidak berniat kembali ke tempat ini. Keluarga Williams memiliki kekayaan, tetapi sama sekali tidak memiliki nilai moral. Bagaimanapun juga, darah keluarga Williams mengalir di nadinya, namun ia tetap diperlakukan dengan buruk.
Ia memasukkan amplop itu ke dalam tasnya. Ia membawa sebuah ransel. Ia tidak memiliki banyak barang karena selama bertahun-tahun ia lebih fokus menabung dan tidak pernah membeli barang-barang mewah.
Di dalam tas itu hanya ada beberapa dokumen penting baginya, beberapa pasang pakaian, dan amplop yang baru saja ia ambil.
Tanpa menoleh ke belakang, Ethan meninggalkan kamar itu dan keluar dari mansion. Ia tidak bertemu satu pun saudara tirinya dalam perjalanan keluar, dan hal itu membuatnya menghela napas lega.
Saudara-saudaranya itu selalu membuatnya pusing, dan ia belum siap menghadapi mereka tepat sebelum kepergiannya. Jadi, bisa dikatakan bahwa keberuntungan sedang berpihak padanya kali ini.
Saat ia keluar melalui gerbang utama, ia tiba di jalan yang menghubungkan ke jalan besar. Ini adalah jalan khusus untuk keluarga Williams yang dibangun oleh gubernur kota untuk mereka. Hal itu merupakan bentuk penghargaan sekaligus upaya untuk mengambil hati keluarga Williams.
Tampaknya ia merayakan terlalu cepat. Karena begitu keluar dari gerbang, ia mendapati Danny, Lucy dan Luna sudah menunggunya. Mereka bahkan telah memanggilkan sebuah taksi untuknya.
Ia menggelengkan kepala sambil berpikir dalam hati, ‘Sepertinya mereka tidak sabar untuk menyingkirkanku.’
“Ethan, ini, kami sudah memanggilkan taksi untukmu dan bahkan kami yang membayarnya. Tidak perlu berterima kasih, kita kan keluarga,” pada saat itu, Lucy melangkah mendekatinya sambil berbicara. Suaranya dipenuhi kelicikan dan niat buruk.
Ethan bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia tidak bisa menunjukkannya dengan jelas. Jika Lucy melakukan sesuatu seperti ini, pasti bukan sekadar ingin membuatnya pergi lebih cepat. Pasti ada rencana lain di baliknya.
Namun karena ia tidak bisa membaca niatnya dan ingin segera pergi, ia memutuskan untuk menggunakan taksi yang telah mereka panggilkan.
“Terima kasih,” ucapnya datar sebelum masuk ke dalam taksi. Setelah itu, sopir langsung menyalakan kendaraan dan melaju menuju jalan utama.
Saat mereka menatap taksi yang perlahan menghilang di kejauhan, Danny akhirnya tidak bisa menahan diri dan bertanya, “Jadi, apa rencanamu kali ini? Kau sama sekali tidak membayar untuknya, tapi kau bilang padanya bahwa kau sudah membayarnya.”
“Hmph, kenapa aku harus membuang uangku untuk orang sepertinya. Soal rencanaku, itu sederhana. Aku menyuruh sopir taksi memberi tahu ke mana ia akan membawa Ethan. Dari situ, kita bisa melihat apa yang akan kita lakukan. Aku akan memastikan dia kembali sambil berlutut dan memohon agar diterima kembali ke dalam keluarga,” kata Lucy dengan senyum dingin.
Danny merasakan hawa dingin menjalar di tulang punggungnya saat melihat senyum itu. Ia tidak bisa menahan diri untuk berpikir dalam hati, ‘Iblis macam apa dia ini. Lebih baik aku tidak berada di pihak yang berseberangan dengannya, atau hidupku tidak akan berjalan dengan baik.’
….
Di dalam taksi, sopir mengemudikan kendaraannya sambil sesekali melirik Ethan melalui kaca spion. Ia bertanya-tanya mengapa pemuda tampan ini meninggalkan kediaman keluarga tempat segala kekayaan berada.
Ia bisa melihat bahwa pemuda itu mengenakan pakaian yang sederhana. Dari situ, ia bisa menebak bahwa kehidupan pemuda ini di sana tidaklah baik. Namun tetap saja, ia merasa bahwa pemuda itu seharusnya tidak meninggalkan keluarganya.
Begitu mereka sampai di jalan utama, ia bertanya, “Kemana kita akan pergi, tuan?”
“Elusive City,” jawab Ethan dengan tenang. Ia menatap ke luar jendela sambil membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana.
Sopir itu mengangguk sebelum mengambil jalan yang menuju ke luar kota. Tidak lama kemudian, mereka sudah meninggalkan kota dan sedang dalam perjalanan menuju Elusive City. Perjalanan itu akan memakan waktu setidaknya lima jam.
Melihat bahwa Ethan tidak memperhatikannya, ia segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Lucy. Wanita itu telah memberinya lima ribu dolar agar ia memberitahukan lokasi tujuan Ethan.
Ia tidak melihat alasan untuk menolak uang semudah itu dan karena itu menerimanya. Lagipula, ia tahu bahwa jika ia menolak, hidupnya di kota ini pasti akan menjadi sulit. Mengapa ia harus mempertaruhkan hidupnya demi seseorang yang bahkan tidak dihargai oleh keluarganya sendiri?
Begitu pesan itu terkirim, ia langsung menerima balasan. [Beritahu aku lokasi tepat tempat kau akan menurunkannya.]
Ia segera menyetujuinya dan kembali memusatkan perhatiannya pada jalan. Ia juga berpikir bahwa, karena ia kini memiliki kontak seorang nona muda dari keluarga Williams, mungkin di masa depan ia bisa memanfaatkan hubungan itu untuk membuat hidupnya di kota menjadi lebih mudah.
Ethan sama sekali tidak tahu bahwa tujuan perjalanannya sudah terbongkar. Ia hanya duduk di kursi belakang taksi sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan begitu tiba di Elusive City.
Ia memutuskan bahwa ia akan membuka sebuah toko kecil dengan uang yang telah ia tabung selama bertahun-tahun. Dengan cara itu, ia bisa memiliki sumber penghasilan. Kemudian, setelah usahanya berkembang, ia akan bisa menancapkan pijakan di kota tersebut.
Meskipun ia tahu bahwa ia tidak akan bisa menjadi miliarder tanpa mendapatkan sebuah kesempatan besar, ia memilih untuk tetap optimis. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Ia mengambil ranselnya dan membukanya. Lalu ia mengeluarkan amplop besar yang ia ambil dari kamar ibunya. Ia merasakan dorongan kuat untuk membukanya dan melihat apa isi di dalamnya, tetapi ia menahan keinginan itu.
Amplop ini telah berada di kamar ibunya selama bertahun-tahun. Dialah yang selama ini memastikan bahwa kamar ibunya tetap rapi.
Selain itu, anggota keluarga Williams yang sombong menganggap bahwa masuk ke kamar seorang selir adalah sesuatu yang merendahkan martabat mereka. Karena itu, tidak ada seorang pun yang pernah memasuki kamar ibunya sejak ia meninggal, selain para pelayan yang bertugas membersihkan.
Meskipun para pelayan tahu bahwa selir dan putranya tidak disukai oleh keluarga, mereka tidak berani berpikir untuk mencuri apa pun dari dalam kamar itu. Jika ketahuan mencuri, nasib mereka pasti tidak akan baik. Keluarga Williams memiliki toleransi nol terhadap pencuri.
Karena itu, meskipun lemari tempat amplop tersebut berada tidak terkunci, tidak ada seorang pun yang mengambilnya.
Ethan masih mengingat dengan jelas kata-kata ibunya tentang amplop ini. Kata-katanya sederhana, “Jika kau berpikir untuk menikah dan membangun keluargamu sendiri, kau boleh membuka amplop ini. Jika tidak, jangan melakukannya. Ingat, bahkan sebelum kau berpikir untuk memiliki seorang pacar, kau harus membuka amplop ini.”
“Ibu… aku gagal. Aku jatuh cinta sebelum membuka amplop itu. Dan lihatlah apa yang terjadi. Tasya meninggalkanku, mempermalukanku, dan menginjak-injak sisa harga diriku. Mungkin jika aku mendengarkanmu… jika aku membukanya dulu… semua ini takkan terjadi. Aku sudah kehilangan pacarku. Apakah ini akibatku melupakan pesanmu?” ucapnya dalam hati.
Saat itu, usianya baru empat belas tahun. Ia tidak memahami kata-kata ibunya, dan bahkan sekarang pun ia masih belum sepenuhnya memahaminya. Selama ia ingin memiliki seorang pacar, ia harus membuka amplop itu terlebih dahulu.
Namun kali ini, ia akan melakukan apa yang diinginkan ibunya. Ia memasukkan kembali amplop itu ke dalam ranselnya. Ia belum siap untuk memiliki pacar lagi saat ini.
Selain itu, meskipun ia tampan, ia yakin bahwa begitu para gadis tahu bahwa ia tidak kaya, mereka akan pergi dengan rasa meremehkan sama seperti Tasya. Bahkan saat berhubungan dengan Tasya, pernah ada beberapa orang yang ingin menjadikannya gigolo. Tentu saja, Ethan tidak pernah tergoda oleh tawaran semacam itu. Ia tidak semurah itu.
Saat Ethan masih tenggelam dalam pikirannya, ia lupa akan waktu dan tidak menyadari bahwa lima jam telah berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas, dan pada saat itu, bayangan sebuah kota sudah bisa terlihat dari kejauhan.
Suara sopir taksi mencapai telinga Ethan saat itu, “Tuan, sekitar lima menit lagi kita sampai di kota. Kemana, tepatnya kau ingin pergi di Elusive City?”
Ethan menatap kota yang semakin lama semakin dekat seiring berjalannya waktu. Ia menghela napas dan berkata, “Antarkan aku ke Kawasan Central.”
“Baik, tuan,” jawab sopir itu saat mobil melaju masuk ke dalam kota.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!