"Anjing itu suruh minggir dulu, ngapain sih dia menggali kuburan seperti itu." teriak Samsul yang sedang gotong royong.
"Heh cepat di usir, nanti malah Nemu mayat dan di makan dia." teriak yang lain juga.
"Kenapa anjing ini mendadak saja ingin menggali kuburan seperti itu?" Pak RT merasa sangat aneh dengan kelakuan anjing liar tersebut.
"Huussssh! pergi dari sana, jangan mengganggu orang yang sudah tenang di alam kubur." Samsul berteriak sambil membawa kayu.
Guk, Guk, Guk.
"Alah malah melawan pula kau, nanti aku pukul dengan kayu ini baru kau terkaing kaing." kesal Samsul Karena anjing itu sama sekali tidak takut setelah di usir.
Warga lain juga ikut mengejar anjing itu karena mereka tidak mau bila kuburan ini sampai di gali oleh rombongan anjing tersebut, sekali saja dia berhasil menemukan mayat yang ada di dalam kuburan maka sudah pasti nanti anjing itu akan datang lagi sambil membawa kawanan untuk menggali kuburan yang lain juga.
Sebelum itu semua terjadi maka lebih baik untuk segera di cegah saja agar tidak terjadi hal yang mengerikan seperti itu, sebab orang yang sudah meninggal pasti ingin mendapat ketenangan di alam kubur sana dan tidak ada gangguan sama sekali dari alam dunia yang begitu keras dan juga mengerikan sekali.
Ini malah kuburan mereka terganggu karena para anjing datang dan menggali seolah memang ada sesuatu untuk di jadikan santapan oleh mereka semua, selama ini tidak pernah ada kejadian seperti itu namun sekarang malah mendadak saja para anjing itu mulai menggali kuburan di antara banyaknya kuburan yang ada di desa ujung pandang ini.
Raut wajah takut sudah mulai tersirat di wajah Pak RT karena dia tidak mau bilang nanti akan muncul kabar yang tidak enak di antara semua mulut para warga, sebab dengan adanya kuburan digali oleh anjing itu maka nanti para wanita pasti akan bergosip dan mengatakan bahwa itu semua azab dari Allah.
Padahal belum tentu benar karena mereka juga tidak mengetahui secara pasti apa yang telah terjadi, namun yang nama nya mulut manusia maka mereka tidak perlu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga tanpa mencari tahu langsung berbicara hal buruk kepada semua orang untuk meningkatkan gosip yang paling hangat.
Untung ini yang bergotong-royong adalah rombongan para pria sehingga mereka tidak akan pernah banyak berbicara atau nanti membicarakan di belakang, yang paling penting adalah tindakan terlebih dahulu agar malapetaka itu tidak semakin berlanjut dan nanti bisa menggemparkan seluruh warga yang ada di desa ujung pandang ini.
"Sudah terbuka lebar begini." teriak Samsul ketika berhasil mendekati kuburan itu.
"Ya Allah berarti sudah sejak tadi malam mereka membongkar kuburan ini." sambung Pak RT.
"Tapi kenapa mendadak saja para anjing ini ingin membongkar kuburan?" Ardi bertanya dengan nada heran.
"Iya ya, selama ini tidak pernah ada kejadian seperti ini walau banyak anjing di desa kita." Samsul setuju dengan ucapan Ardi barusan.
"Agak aneh saja karena ini memang terasa cukup seram." Jonathan menyambung ucapan yang lain.
"Ini paling karena mereka terlalu lapar sehingga nekat membongkar kuburan seperti ini." Davin membuka suara setelah lama terdiam.
"Benar apa yang di katakan oleh Davin karena memang banyak anjing yang kelaparan di desa kita ini." Andi juga setuju dengan ucapan sang sahabat.
"Tapi kan agak aneh saja karena selama ini mereka tidak pernah memiliki ide untuk membongkar kuburan." Jonathan tetap merasa janggal.
"Sudah lah, tidak usah di perpanjang lagi karena nanti hanya akan menimbulkan rasa takut di hati para warga." Pak RT tidak ingin mereka saling berdebat.
Namun Samsul masih diam saja karena dia merasa ada yang tidak beres dengan kuburan yang baru di bongkar oleh anjing ini, saat dia membaca batu nisan itu dan tertulis bahwa mayat yang di kubur di dalam kuburan ini meninggal belum lama, sekitar tiga bulan yang lalu sehingga kemungkinan besar jasad yang ada di dalam sana masih cukup utuh.
"Kok sama sekali tidak ada mayat di dalam kuburan ini, Pak!" Samsul langsung menatap Pak RT.
"Yang benar saja kamu Bang Samsul?!" Ardi kaget bukan main dan dia segera ikut mengintip juga di lobang itu.
"Lihat lah kalau kau tidak percaya, kalau menurut aku ini sama sekali tidak ada mayat di dalam sana." Samsul sangat yakin dengan pemandangan di dalam kuburan itu.
"Pak lebih baik untuk segera di bongkar saja agar kita mengetahui apa memang mayat itu sudah tidak ada." usul Ardi karena dia juga tidak bisa melihat dengan jelas.
"Tidak bisa langsung main bongkar begitu tanpa persetujuan dari para keluarga." Jonathan berkata agak keras karena dia ingin memperingatkan para teman.
"Benar apa yang di katakan oleh Jonathan karena kita harus meminta izin dulu dari para keluarga." Pak RT setuju dengan ucapan pemuda itu.
"Ini kuburan nya Tofa kan?" Andi membaca batu nisan itu dan memang ini adalah kuburan salah satu pemuda yang meninggal karena kecelakaan.
Pak RT segera bergegas untuk mendatangi rumah keluarga Tofa agar mereka bisa meminta izin kepada keluarga itu untuk melihat isi dalam kuburan, bila langsung membongkar tentu saja mereka tidak berani karena belum mendapat izin dari para keluarga dan nanti justru akan menimbulkan masalah bila tidak ada izin.
Yang lain masih menunggu di sini karena mereka tidak ingin bila nanti anjing itu akan datang lagi lalu menggali lebih dalam, Davin yang memiliki pengalaman agak seru tentang dunia lain maka dia menatap curiga dan melihat tanah yang seolah basah dan tidak kering seperti kuburan lama.
Tapi dia tidak berani langsung mengatakan karena nanti akan di anggap sok tahu atau bahkan di bilang selalu berkecimpung dengan hal ghaib, daripada mendengar ucapan itu semua maka dia lebih memilih untuk bungkam saja terlebih dahulu dan mendengar kabar untuk selanjutnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Andi menatap Davin yang lama terdiam.
"Tidak ada, aku hanya penasaran kenapa kok tidak ada terlihat sama sekali jasad itu di dalam kuburan sana." dusta Davin karena dia juga tidak ingin berbicara.
"Tapi kalau menurut aku masih agak aneh, anjing tadi masih berusaha mengais pada bagian atas tapi sekarang kita mengetahui bahwa di dalam itu sudah tidak ada mayat lagi." Andi berkata pelan.
Davin mengangguk karena di sini dia juga baru menyadari bahwa anjing itu memang belum mencapai dasar sehingga sudah pasti belum bisa memakan mayat yang ada di dalam, namun kenapa mayat itu sudah tidak ada di dalam liang lahat lagi.
Hallo guys selamat datang di karya baru emak Novi ya, jangan lupa like dan komen kalian semua biar emak ini tambah semangat buat nulis.
Seketika kuburan ini menjadi emang bukan main ketika kabar tentang mayat yang hilang mendadak begitu saja sudah tersebar ke seluruh desa, mereka semua penasaran apa yang telah terjadi dan ingin melihat kebenaran tentang mayat yang menghilang begitu saja dari dalam kuburan, mungkin karena ini kabar yang sangat menggemparkan sehingga sekarang seluruh kuburan telah penuh dengan para manusia.
Para polisi juga sudah datang untuk melihat keadaan tersebut karena ingin bersangkutan dengan para keluarga yang tidak rela bila mayat salah satu keluarga mereka yang hilang begitu saja dari dalam kuburan, pelaku dari hilang nya mayat tersebut harus segera di temukan agar mereka juga bisa mengungkap apa yang telah terjadi.
Jelas anjing itu tidak mungkin bisa membawa mayat utuh keluar dari dalam kuburan itu karena kuburan tersebut bukan lagi kuburan baru, jadi sudah pasti para daging dan juga tulang telah terpisah dari sana sehingga tidak mungkin bisa untuk langsung membawa satu mayat utuh keluar dari dalam kuburan.
Kalau mereka memakan bagian daging saja maka pasti tulang itu masih tersisa di sana dan bisa di temukan oleh semua orang, namun ini sama sekali tidak ada walau mereka telah membongkar kuburan itu untuk melihat lebih jelas apakah memang tulang masih tersedia di dalam liang lahat atau memang sudah di ambil semua.
Bahkan tengkorak kepala yang bisa dikatakan cukup besar namun sudah tidak ada lagi di sana dan memang telah bersih bersama dengan kain kafan yang membungkus mayat itu, padahal bila di ingat dengan kematian dari si mayat maka tidak mungkin kain kafan itu telah rusak bersama dengan tanah yang menimbun tubuh mereka.
Dugaan langsung mengarah kepada seseorang yang sedang melakukan kejahatan besar karena pencurian mayat seperti ini sudah pernah terjadi di desa ini, walau tidak secara pasti ada di desa ini namun mereka juga mulai waspada dan menganggap kemungkinan besar ini adalah motif dan tujuan yang sama.
"Jelas ini semua adalah ulah dari seseorang yang sedang menimba ilmu hitam atau bahkan untuk pesugihan." Samsul berkata dengan sangat yakin.
"Siapa yang sedang menimba ilmu hitam seperti itu karena di desa kita sama sekali tidak ada dukun." Ardi membantah ucapan Samsul.
"Ya kan kita tidak tahu apa yang telah terjadi karena itu semua pasti masih di rahasiakan oleh pelaku." ujar Samsul kembali.
"Benar apa yang di katakan oleh Samsul karena hal seperti ini pasti bersangkutan dengan ilmu hitam." Davin juga setuju karena dia agak paham.
"Kau jangan langsung membenarkan saja seperti itu karena nanti justru akan menjadi masalah." Andi menahan Davin yang langsung berkata demikian.
"Tapi memang benar bahwa orang yang mencuri mayat pasti dia sedang melakukan praktek ilmu hitam." Davin berbisik kepada Andi.
"Namun kalau kau langsung mengatakan seperti itu maka bisa saja para warga nanti akan saling tuduh." Andi memang takut bila semua nanti akan bertengkar.
Sebab mereka juga tidak tahu isi pikiran masing-masing sehingga bisa saja saling curiga dan kemudian akan bermusuhan karena tidak terima telah dituduh dengan ucapan pedas atau bahkan langsung secara tepat di depan muka, kadang orang berbicara tanpa pikir panjang sehingga hal itu yang memicu pertengkaran di antara para warga.
Andi memang benar sehingga Davin memutuskan untuk tutup mulut terlebih dahulu agar dia tidak salah bicara lagi, bila saja terus berbicara maka nanti yang ada dia akan terkena masalah dan akan kena marah dari seseorang karena di anggap telah sok tahu tentang kejadian di desa ini, hanya karena dia dulu memiliki sesuatu yang bisa untuk melihat iblis.
"Kita semua harus pulang terlebih dahulu agar polisi yang mengurus masalah ini." Pak Lurah berkata kepada para warga.
"Tapi bagaimana dengan jasad anak saya itu?" Bu Tofa sudah menangis karena dia sangat iba dengan sang anak.
"Ibu tenang saja terlebih dahulu agar polisi juga bisa memiliki waktu untuk mengurus masalah kuburan Tofa." jelas Pak RT dengan penuh perhatian.
"Ya Allah kenapa harus kuburan Tofa yang di bongkar oleh seseorang." keluh Bu Tofa sambil mengusap air mata yang meluncur di pipi.
"Kita berdoa saja dulu biar polisi yang bekerja untuk mengurus masalah ini." Bapak Tofa juga mengeluarkan suara agar sang istri bisa sedikit tenang.
Sebagai orang tua tentu saja sudah pasti ada rasa sakit dan juga takut setelah mengetahui bahwa jasad sang anak sudah tidak ada lagi di dalam kuburan, sekarang mereka hanya perlu bekerja keras untuk menemukan mayat Tofa ada di mana dan siapa yang sudah mencuri mayat itu dan yang paling penting mereka harus mengetahui motif dari sang pelaku.
"Vin apa kita langsung berbicara kepada mbak Purnama saja tentang masalah ini." Andi meminta pendapat Davin karena dia mengenal seseorang dari desa lain.
"Ah ini juga belum tentu kalau masalah gaib, kau tentu tahu sendiri bagaimana sifat Mbak Purnama." Davin tidak berani untuk langsung mengambil keputusan.
"Jadi kita tunggu saja sampai beberapa hari dan mendengar kabar dari para polisi?" tanya Andi meminta pendapat.
"Ya lebih baik begitu saja agar nanti kita bisa memberikan kejelasan kepada mbak Purnama bahwa mayat Tofa memang di culik oleh manusia." Davin setuju dengan Andi.
"Baik lah, mungkin kita memang masih membutuhkan waktu terlebih dahulu agar nanti Mbak Purnama bisa langsung mengurus saja." gumam Andi.
"Ya, aku takut nanti akan kena marah bila langsung mengadu kepada dia tentang masalah mayat ini." ujar Davin karena dia memang mengetahui bagaimana tabiat Purnama.
Andi dan Davin setuju dengan hal itu karena mereka memang harus menunggu waktu yang tepat untuk mengabarkan kepada Purnama tentang mayat hilang yang ada di desa mereka, bahkan sebenarnya Davin lebih setuju bila mereka berbicara kepada Arya saja terlebih dahulu karena adik dari Purnama itu jauh lebih sabar ketika mendengar orang lain bercerita.
"Gimana nanti kalau kita berbicara kepada Arya saja?" usul Davin kepada Andi.
"Boleh, karena nanti pasti akan sampai juga kepada mbak Purnama." Andi setuju dengan usul Davin.
"Nah kalau Arya kan masih bisa bicara sedikit santai dan kita nanti ajak dia keluar untuk nongkrong dan membicarakan masalah ini." Davin senang bila mengajak Arya berbicara.
Arya memang jauh lebih kalem sehingga ketika diajak berbicara atau memecahkan masalah jauh lebih gampang, beda dengan sang kakak yang memiliki tabiat begitu beringas sehingga orang saat akan berbicara dengan dia pasti akan berpikir dua kali agar tidak terkena semburan maut dari dia.
Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.
"Jadi emang bener ya kalau mayat nya Tofa hilang?" Sintia bertanya kepada sang suami karena tadi juga sudah mendengar tentang kabar itu.
"Iya, tapi kami semua masih ragu karena masih belum tentu apa itu ulah anjing atau ada seseorang yang sedang menuntut ilmu hitam." ujar Yose.
"Mungkin bisa jadi itu memang ulah anjing karena mencium aroma yang tidak sedap dari dalam kuburan." Sintia masih berusaha untuk berpikir normal.
"Tapi tulang yang ada di dalam sana sama sekali tidak ada, kalau di makan anjing maka pasti ada yang tersisa." Yose juga mulai berpikir tentang hal itu.
"Kalau manusia yang mengambil mayat Tofa memang mau di jadikan apa?" Sintia bertanya sambil mengelus perut dia yang mulai terasa keram.
"Kenapa, Sayang?" Yose tidak sempat menjawab karena sudah panik melihat wajah sang istri meringis kesakitan.
"Aduh!" Sintia memang sudah mulai merasakan keram beberapa hari terakhir ini karena mendekati masa kelahiran dari sang jabang bayi.
Terbukti sekarang malah air ketuban itu sudah pecah dan merembes sampai di kaki putih bersih milik wanita cantik itu, Yose tentu saja jadi panik bukan main dan segera mencari tas yang telah mereka siapkan untuk menuju rumah sakit atau bahkan klinik terdekat untuk mengecek keadaan Sintia terlebih dahulu agar tidak terjadi masalah nanti nya.
Bukan hanya darah saja yang mulai keluar dari jalan lahir itu tapi sudah bercampur dengan darah sehingga Sintia merasa sangat yakin bahwa dia akan segera melahirkan malam ini, namun dia agak takut karena kepala terasa sangat berat dan kemungkinan besar tensi wanita ini tengah naik Karena rasa panik yang begitu tinggi.
Namun sekuat tenaga dia tetap bilang tidak masalah, agar Yose juga tidak merasa panik dan mereka bisa menuju klinik dengan perasaan anteng sehingga menjamin keselamatan bayi yang sedang ada di dalam kandungan dia sekarang karena bila panik maka yang ada suasana semakin tidak terkendali saja.
"Aduh sakit sekali, Ya Allah." Sintia meremas tangan Yose.
"Ayo masuk mobil, kita berangkat sekarang." ajak Yose memapah sang istri.
"Kenapa pandangan ku buram seperti ini, Ya Allah tolong selamatkan aku dan juga anak ku." batin Sintia mulai takut.
"Hati hati, kita berangkat sekarang ya." Yose sudah gemetar sekarang karena melihat air bercampur darah.
Melihat suami dia yang sudah panik seperti itu sehingga membuat Sintia semakin yakin agar tidak mengatakan bahwa sekarang kepala dia terasa begitu sakit berdenyut, bahkan untuk melihat keadaan sekitar saja mulai terasa buram akibat kepala yang seakan mau pecah karena tekanan darah yang begitu tinggi ini.
Ini bilang sakit karena mau melahirkan saja sudah membuat Yose panik bukan main, bagaimana bila Sintia nanti mengatakan juga bahwa sekarang kepala dia terasa begitu sakit sekali seakan ingin meledak, jadi lebih baik dia memilih untuk bungkam agar nanti rasa sakit itu bisa hilang dan kemudian bisa melahirkan sang anak dengan selamat.
Walau di dalam hati Sintia saat ini juga panik bukan main karena dia takut nanti tidak bisa menyelamatkan sang jabang bayi ini, sedangkan mereka sudah menunggu dengan waktu yang cukup lama agar bisa memiliki keturunan karena kesuburan Sintia memang agak terganggu sehingga sulit untuk memberikan keturunan kepada sang suami.
"Kenapa darah nya banyak sekali yang keluar?" Yose melihat kaki sang istri.
"Wajar saja karena aku mau melahirkan jadi banyak darah." jawab Sintia walau dia juga bingung.
"Ya Allah lindungi istri dan anak ku, semoga dia bisa selamat." Yose ngebut menuju klinik terdekat.
"Aduuh, ssssh sakit nya." rintih Sintia sambil mengelus perut yang sangat buncit itu.
Walau pandangan Dia sangat buram dan tidak tentu arah seperti itu namun dia tetap saja berusaha untuk melihat keadaan sekitar, bisa di katakan sekarang bahwa darah semakin deras yang mengalir sehingga tidak bisa untuk di kontrol lagi dan mulai membasahi bagian mobil juga.
...****************...
Yose panik ketika melihat dokter yang sibuk menyiapkan segala keperluan untuk melakukan operasi saat ini juga, karena pendarahan yang hebat sehingga Sintia tidak mungkin bisa melahirkan dengan cara normal dan mau tidak mau harus segera melakukan operasi agar bayi yang ada di dalam kandungan dia bisa selamat tanpa ada yang cacat.
Namun motor juga masih bingung dan berusaha untuk memberikan obat yang tepat agar tensi di tubuh Sintia segera turun, bila sedang tinggi seperti ini maka mereka juga tidak mungkin bisa melakukan operasi karena resiko yang akan mereka hadapi tentu sangat tinggi sekali di antara Ibu dan juga anak.
"Apa emang harus melakukan operasi saat ini juga, Dok?" Yose gemetar karena ketakutan.
"Tidak bisa sekarang juga karena keadaan Ibu Sintia sedang tekanan tensi yang begitu tinggi." jelas dokter.
"Ya Allah jadi bagaimana dengan istri saya, Dok?!" Yose yang gemetar karena dia ketakutan.
"Kami pasti akan berusaha keras untuk menyelamatkan Ibu Sintia ya, Pak." janji dokter.
Namun tetap saja sebagai suami maka dia tidak bisa menerima ini dengan sangat mudah, terlebih lagi para dokter juga terlihat panik seperti itu sehingga Yose tidak mungkin bisa santai dan tetap diam di tengah keadaan yang semakin rumit serta Sintia juga sudah mulai merasa lemah dengan keadaan saat ini.
"Mas, ak..aku kesakitan." Sintia sudah sangat lemah dengan rasa sakit tersebut.
"Sayang, kamu harus kuat demi anak kita ya." Yose menggenggam erat tangan sang istri.
"Kalau memang nanti akan ada pilihan tolong kamu pilih anak kita saja." Sintia memang sudah memiliki firasat yang tidak enak.
"Tidak, aku mohon jangan berbicara seperti itu karena aku tidak akan memberikan pilihan!" Yose menggeleng cepat karena dia tidak sanggup.
Sintia menarik nafas dengan susah payah karena mulai terasa sesak pada bagian dada, sudah banyak selang yang mulai masuk ke dalam tubuh wanita cantik ini karena dia membutuhkan banyak bantuan agar bisa tetap bertahan dan melahirkan bayi yang ada di dalam perutnya sekarang.
"Detak jantung bayi mulai melemah." dokter mulai panik juga.
"Tolong selamatkan anak saya, keluarkan anak saya sekarang." pinta Sintia karena dia tau Yose sangat ingin punya anak.
"Sayang tolong lah jangan bicara seperti ini." Yose ingin menangis.
Tentu saja Yose ingin menangis karena ini bukan pilihan yang tepat untuk mengambil keputusan seperti itu, sebab dia ingin kedua nya selamat dan bisa menikmati hari bahagia itu bersama-sama hingga nanti telah mencapai masa tua dan kemudian baru meninggal dunia saat anak mereka telah dewasa.
Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!