Indonesia
NovelToon NovelToon

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Kilatan Putih yang Menelan Semuanya

Malam itu seharusnya biasa saja.

Raito mengendarai motor matic tuanya melintasi jalan tol pinggiran Jakarta yang sepi. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Lampu neon minimarket di kejauhan berkedip-kedip seperti mata yang mengantuk. Hujan gerimis baru saja reda, meninggalkan aspal yang mengkilap dan bau tanah basah yang menyengat. Dia baru pulang dari shift malam di kafe kecil tempatnya bekerja paruh waktu—mencuci piring, menyeduh kopi, melayani pelanggan yang kebanyakan mabuk atau insomnia.

Helmnya sudah terbuka sedikit karena panas, angin malam menerpa wajahnya yang lelah. Pikirannya melayang ke tagihan listrik yang belum dibayar, pesan dari ibu yang menanyakan kapan dia pulang kampung, dan mimpi kecil yang semakin samar: suatu hari punya cukup uang untuk buka usaha sendiri, mungkin warung kopi sederhana di pinggir jalan.

Lalu tiba-tiba—kilatan.

Bukan petir. Bukan lampu mobil yang menyilaukan. Ini lebih terang, lebih putih, seperti seseorang menyalakan ribuan lampu sorot tepat di depan matanya. Dunia seketika hilang warna. Suara motor mati seketika, angin berhenti, bahkan detak jantungnya terasa melambat. Raito merasakan tubuhnya ditarik ke depan, seperti tersedot ke dalam lubang hitam yang terbuat dari cahaya.

Dia mencoba berteriak, tapi suaranya tidak keluar.

Kegelapan menelan semuanya.

Ketika kesadaran kembali, yang pertama dirasakan adalah bau tanah lembab dan daun busuk. Kepalanya berdenyut sakit, seperti habis ditabrak truk. Raito membuka mata perlahan. Langit di atasnya bukan lagi langit Jakarta yang penuh polusi—ini biru pekat, hampir hitam di tepi, dengan awan tebal yang bergulung seperti asap. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, batangnya ditumbuhi lumut tebal dan akar-akar yang menjalar seperti ular. Udara terasa lebih berat, lebih lembap, dan ada suara aneh—desiran daun, kicau burung yang asing, dan sesekali raungan jauh yang membuat bulu kuduk berdiri.

Dia berbaring telentang di tanah berlumut. Baju kaos hitamnya robek di lengan kanan, celana jeansnya kotor lumpur. Tas selempang kecilnya masih ada, tapi isinya berantakan: dompet kosong, kunci rumah, dan... pisau lipat kecil yang biasa dia bawa untuk memotong buah atau membuka kemasan. Entah kenapa, pisau itu terasa lebih berat sekarang.

"Apa... ini?" gumamnya, suaranya serak.

Raito bangun perlahan, memegang kepala yang masih pusing. Tidak ada ponsel. Tidak ada sinyal. Bahkan jam tangan digitalnya mati total. Dia melihat sekeliling—tidak ada jalan tol, tidak ada minimarket, tidak ada suara klakson. Hanya hutan yang tampak tak berujung.

Panic mulai merayap. Ini bukan mimpi. Rasa sakit di kepala terlalu nyata. Bau tanah terlalu tajam. Dia mencubit lengannya sendiri—sakit.

"Tenang... tenang dulu," katanya pada diri sendiri. "Cari jalan keluar. Cari orang."

Dia mulai berjalan, mengikuti arah yang tampak paling terang—mungkin ada sungai atau jalan setapak. Setelah sekitar tiga puluh menit berjalan, kakinya mulai lelah. Hutan ini aneh. Pohon-pohonnya terlalu besar, daunnya berwarna hijau gelap yang hampir hitam di bagian bawah. Ada tanaman merambat yang bergerak pelan saat dia lewat, seperti bernapas.

Tiba-tiba, suara langkah kaki banyak orang terdengar dari depan. Raito bersembunyi di balik pohon besar. Sekelompok orang—sekitar dua puluh orang—berlari melewatinya dalam formasi longgar. Mereka mengenakan pakaian aneh: jubah panjang, rompi militer, baju olahraga ketat, bahkan ada yang pakai jubah ala ninja. Semua membawa tas ransel besar, dan wajah mereka tegang tapi fokus.

Di antara mereka, seorang perempuan berusia sekitar akhir dua puluhan berhenti sejenak. Rambutnya pendek cokelat gelap, mata tajam, mengenakan jaket kulit lusuh dan celana kargo. Dia membawa pisau besar di pinggang. Matanya menyapu sekitar, lalu tertuju pada Raito yang bersembunyi.

"Kamu," katanya tegas tapi tidak kasar. "Peserta yang tersesat?"

Raito keluar perlahan, tangan terangkat. "Aku... nggak tahu ini di mana. Aku baru... terbangun di sini."

Perempuan itu memandangnya dari atas ke bawah. "Baju robek, nggak ada nomor peserta. Tapi auramu... aneh. Kamu bukan penduduk lokal."

"Aura? Nomor peserta?" Raito bingung.

Dia menghela napas. "Namaku Mira. Kalau kamu nggak mau mati di hutan ini, ikut aku. Ini Hunter Exam. Fase pertama: maraton sampai garis finish. Kalau tertinggal dari examiner, diskualifikasi—atau lebih buruk, dimakan binatang liar."

"Hunter Exam?" Raito mengulang kata itu seperti orang bodoh.

Mira tidak menjawab. Dia hanya berbalik dan mulai berlari lagi. "Ikut atau mati sendirian. Pilih cepat."

Raito tidak punya pilihan. Dia mengikuti, meski kakinya sudah pegal.

Mereka berlari selama berjam-jam—atau begitulah rasanya. Waktu terasa melar. Raito tidak tahu berapa lama dia sudah berlari, tapi napasnya sudah tersengal, keringat membasahi baju. Kelompok itu semakin menipis; beberapa orang mulai tertinggal, meringkuk di tanah, atau menghilang ke semak-semak.

Di depan, seorang anak kecil berusia sekitar 12 tahun berlari dengan riang. Rambut hijau tegak, baju hijau dengan tongkat memancing di punggung. Dia bahkan tersenyum sambil melompat-lompat kecil, seolah ini bukan maraton maut tapi piknik.

Saat anak itu lewat dekat Raito, dia menoleh. Mata besarnya penuh semangat. "Kamu baik-baik aja? Kelihatan capek banget!"

Raito hanya bisa mengangguk sambil megap-megap. Anak itu tertawa kecil lalu melesat maju lagi.

"Siapa anak itu?" tanya Raito pada Mira yang berlari di sampingnya.

"Gon," jawab Mira singkat. "Anak aneh. Tapi kuat. Jangan remehkan orang kecil di sini."

Raito tidak bertanya lagi. Dia fokus bertahan.

Akhirnya, setelah apa yang terasa seperti seharian penuh, mereka sampai di terowongan bawah tanah yang gelap dan lembab. Examiner—seorang pria tinggi kurus berpakaian hijau tua—berdiri di depan, tersenyum tipis. Namanya Satotz, kata Mira pelan.

"Fase pertama berlanjut di sini," kata Satotz dengan suara datar. "Ikuti aku. Jangan tertinggal."

Terowongan itu panjang, gelap, dan penuh jebakan kecil: lubang tiba-tiba, gas aneh, binatang liar yang muncul dari celah dinding. Raito hampir jatuh ke lubang berduri sekali, tapi Mira menarik kerah bajunya tepat waktu.

"Terima kasih," desah Raito.

"Jangan mati dulu," balas Mira. "Aku nggak suka lihat orang mati sia-sia."

Di tengah terowongan, Raito mulai merasakan sesuatu yang aneh. Dada terasa hangat, seperti ada aliran listrik kecil mengalir di pembuluh darahnya. Saat dia hampir jatuh lagi karena kelelahan, "aliran" itu seolah mendorong kakinya maju sedikit lebih kuat. Dia tidak tahu apa itu—mungkin adrenalin, mungkin halusinasi.

Akhirnya, setelah berjam-jam lagi, mereka keluar ke ruang terbuka. Langit sudah gelap. Di depan adalah Trick Tower—menara tinggi yang tampak seperti penjara raksasa.

"Fase kedua," kata Satotz. "Masuk ke menara. Keluar dari bawah dalam waktu 72 jam."

Raito menatap menara itu dengan mata lelah. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia tidak tahu mengapa dia ada di sini. Tapi satu hal pasti: dunia ini bukan dunianya lagi.

Dan cahaya putih yang membawanya ke sini... mungkin bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Mira menepuk bahunya. "Istirahat sebentar. Besok kita masuk ke neraka lagi."

Raito mengangguk pelan. Di kejauhan, dia melihat anak bernama Gon duduk santai sambil minum air, tersenyum pada siapa saja yang lewat. Ada sesuatu pada anak itu—cahaya kecil di tengah kegelapan yang membuat Raito merasa... tidak sepenuhnya sendirian.

Tapi untuk sekarang, dia hanya ingin bertahan hidup.

Dan mencari tahu: mengapa dia—Raito—dibawa ke dunia ini?

Menara yang Menelan Harapan

Trick Tower menjulang seperti jarum raksasa yang menusuk langit malam. Permukaannya kasar, terbuat dari batu gelap yang tampak menyerap cahaya bulan daripada memantulkannya. Di depan pintu masuk utama—lubang gelap selebar gerbang kastil—ratusan peserta yang lolos fase pertama berkumpul. Beberapa duduk di tanah, memeriksa peralatan; yang lain berdiri tegang, mata memindai wajah-wajah asing. Udara terasa lebih dingin di sini, meski angin tidak bertiup.

Raito berdiri agak ke belakang, dekat Mira. Napasnya masih tersengal setelah maraton panjang tadi. Kakinya terasa seperti terbuat dari timah, tapi dia tidak berani duduk. Takut kalau duduk, dia tidak akan bisa bangun lagi.

“Berapa lama waktu yang diberikan?” tanya Raito pelan.

“72 jam untuk keluar dari bawah menara,” jawab Mira sambil memeriksa tali pengikat pisau di pinggangnya. “Bukan cuma keluar. Harus keluar dari pintu bawah. Di dalam ada jebakan, ruangan tertutup, monster, dan peserta lain yang siap membunuh demi lolos lebih cepat.”

Raito menelan ludah. “Membunuh?”

“Ini Hunter Exam. Bukan ujian masuk sekolah.” Mira meliriknya sekilas. “Kalau kamu cuma mau bertahan hidup, ikut kelompok besar. Kalau mau cepat, cari jalan pintas—tapi jalan pintas biasanya berarti darah.”

Raito tidak menjawab. Dia memandang ke arah Gon yang duduk santai di batu besar, sedang mengobrol dengan seorang anak laki-laki berambut putih dan mata dingin. Anak putih itu—Killua, kata seseorang di dekatnya—tampak bosan, tapi gerakannya lincah seperti kucing liar. Gon tertawa kecil, seolah tidak ada ancaman di sekitar.

“Anak itu… Gon… dia kelihatan terlalu polos untuk tempat ini,” gumam Raito.

“Jangan tertipu penampilan,” balas Mira. “Aku dengar dia lolos fase pertama tanpa keringat. Ada rumor dia anak pemburu terkenal.”

Sebelum Raito bisa bertanya lebih lanjut, suara keras bergema dari speaker tersembunyi di menara.

“Peserta Hunter Exam! Fase kedua dimulai sekarang! Masuklah ke Trick Tower dan temukan jalan keluar di lantai dasar dalam waktu 72 jam! Tidak ada aturan lain—lakukan apa saja yang kalian bisa!”

Gerbang batu besar terbuka pelan dengan suara gemuruh. Cahaya kuning redup dari dalam menara menyembur keluar, menerangi wajah-wajah tegang.

Peserta mulai bergerak. Beberapa langsung berlari masuk, yang lain berhati-hati. Mira menarik lengan Raito.

“Ayo. Kita ikut kelompok yang masuk dulu. Lebih aman.”

Mereka masuk bersama sekitar tiga puluh orang lainnya. Lorong pertama lebar, dindingnya polos, tapi setelah berjalan sepuluh meter, lantai tiba-tiba bergeser. Raito hampir jatuh ke depan saat seluruh kelompok terdorong ke samping.

“Jebakan gravitasi!” teriak seseorang.

Dinding sebelah kiri terbuka, memperlihatkan ruangan kosong dengan lubang di lantai. Beberapa peserta yang lambat terjatuh ke dalam—jeritan mereka terpotong tiba-tiba saat lubang menutup lagi.

Raito memegang dinding erat-erat. Jantungnya berdegup kencang.

“Ini baru permulaan,” kata Mira tenang. “Ikuti aku. Aku pernah dengar cerita tentang menara ini.”

Mereka terus maju. Setelah beberapa menit, lorong bercabang menjadi tiga pintu: kiri, tengah, kanan. Tidak ada tanda, tidak ada petunjuk.

Kelompok terpecah. Beberapa pergi ke kiri, yang lain ke kanan. Mira berhenti sejenak, mendengarkan.

“Yang mana?” tanya Raito.

Mira menutup mata. “Dengar anginnya. Pintu tengah anginnya lebih kencang—mungkin ventilasi palsu. Pintu kiri terlalu diam. Pintu kanan… ada suara gesekan kecil. Mungkin mekanisme.”

Dia memilih kanan. Raito mengikuti.

Di dalam pintu kanan adalah ruangan persegi panjang dengan lima pintu kecil di dinding berlawanan. Di tengah ruangan ada meja kayu sederhana dan lima kursi. Di atas meja tertulis dengan cat merah:

“Aturan: Pilih satu pintu dan keluar. Hanya lima orang yang boleh keluar dari ruangan ini. Sisanya akan mati.”

Raito merasa darahnya membeku.

Peserta di ruangan ini—sekitar dua puluh orang—mulai saling pandang dengan tatapan curiga. Beberapa langsung menarik senjata: pisau, tongkat, bahkan ada yang mengeluarkan pistol kecil.

“Apa-apaan ini?” gumam Raito.

“Ini tes psikologi sekaligus kekuatan,” bisik Mira. “Mereka ingin lihat siapa yang mau berkorban, siapa yang egois, siapa yang bisa bernegosiasi.”

Seorang pria besar bertato di lengan maju. “Aku duluan! Kalian mundur atau kubantai!”

Dia langsung menyerang peserta terdekat. Pisau besarnya berayun cepat. Darah muncrat. Jeritan memenuhi ruangan.

Raito mundur ke belakang, punggung menempel dinding. Dia tidak punya senjata selain pisau lipat kecilnya—dan dia tidak yakin bisa menggunakannya untuk membunuh.

Mira menariknya ke sudut. “Jangan ikut campur dulu. Biar mereka saling habis.”

Pertarungan berlangsung singkat tapi brutal. Pria bertato itu membunuh tiga orang sebelum akhirnya ditusuk dari belakang oleh seorang wanita kurus berambut panjang. Wanita itu kemudian dibunuh oleh dua orang lain yang bekerja sama.

Sekarang tersisa sepuluh orang—termasuk Raito dan Mira.

“Masih terlalu banyak,” kata seorang pemuda berambut hitam panjang, suaranya dingin. “Kita perlu kurangi lagi.”

Dia menatap Raito. “Kamu kelihatan lemah. Mundur aja.”

Raito menelan ludah. “Aku nggak mau mati di sini.”

Pemuda itu tersenyum tipis. “Semua orang di sini nggak mau mati. Tapi hanya lima yang keluar.”

Mira maju selangkah. “Kita bisa negosiasi. Bagi ruangan ini jadi kelompok. Lima kelompok, masing-masing satu pintu.”

Ide itu langsung ditolak. “Ngaco! Pintu mana yang aman? Kalau salah pilih, mati semua!”

Kekacauan hampir pecah lagi. Tiba-tiba, suara klik kecil terdengar. Salah satu pintu kecil terbuka sendiri.

Di dalamnya berdiri seorang anak laki-laki berambut putih—Killua. Matanya dingin, tangan di saku celana.

“Ruangan ini punya timer tersembunyi,” katanya datar. “Kalau kalian nggak keluar dalam 30 menit, gas beracun akan keluar. Aku sudah cek mekanismenya. Lima pintu ini semuanya aman—tapi hanya satu pintu yang langsung menuju lantai bawah. Sisanya jebakan memutar balik ke atas.”

Semua orang terdiam.

Killua melanjutkan, “Jadi, kalian punya pilihan: bunuh sampai tersisa lima, atau cari cara lain. Aku nggak peduli. Aku sudah pilih pintu.”

Dia berjalan ke pintu paling kanan dan masuk tanpa menoleh.

Ruangan hening sejenak.

Lalu pecah lagi. Kali ini lebih ganas. Orang-orang saling serang tanpa ampun. Raito melihat seseorang menusuk orang lain tepat di depannya. Darah menyembur ke bajunya.

Mira menarik Raito ke belakang. “Kita ikut anak itu. Dia tahu sesuatu.”

Mereka berlari ke pintu yang sama dengan Killua. Tapi sebelum masuk, seorang pria gempal menghalangi.

“Kalian nggak lolos!” bentaknya.

Mira langsung menendang lutut pria itu. Pria itu jatuh berlutut. Raito, tanpa berpikir panjang, menendang kepala pria itu dengan sekuat tenaga. Pria itu ambruk.

Mereka masuk ke pintu.

Di dalam adalah lorong sempit dengan tangga spiral menurun. Killua sudah jauh di depan, berjalan santai.

Mira berbisik, “Jangan dekati anak itu terlalu dekat. Dia berbahaya.”

Raito mengangguk. Tapi dia tidak bisa menahan rasa penasaran. Anak itu—Killua—terlihat sangat muda, tapi auranya… dingin dan tajam seperti pisau.

Mereka terus turun. Lorong mulai bercabang lagi. Kali ini Killua berhenti di persimpangan.

Dia menoleh ke belakang—pertama kalinya sejak masuk. Matanya bertemu dengan Raito.

“Kamu,” katanya. “Kelihatan nggak tahu apa-apa. Kenapa ikut ujian ini?”

Raito terkejut. “Aku… tersesat. Aku nggak tahu ini ujian.”

Killua mengangkat alis. “Lucu. Dunia ini penuh orang gila, tapi kamu kelihatan… normal.”

Dia berbalik lagi. “Ikut kalau mau. Tapi jangan harap aku lindungi kalian.”

Mira menarik Raito. “Abaikan. Kita pakai dia sebagai panduan.”

Mereka mengikuti Killua dari jarak aman. Lorong semakin gelap, hanya diterangi lampu redup di dinding. Tiba-tiba, Killua berhenti lagi.

“Jebakan depan,” katanya tanpa menoleh. “Lantai palsu. Lompat ke sisi kanan.”

Raito dan Mira langsung melompat. Benar saja—lantai di depan runtuh, memperlihatkan jurang dalam dengan paku-paku besi di bawah.

Mereka terus maju. Setelah beberapa jebakan lagi—panah dari dinding, gas, lantai bergerak—mereka sampai di ruangan besar dengan pintu keluar di ujung.

Di sana sudah ada beberapa peserta lain, termasuk Gon yang duduk santai sambil makan apel.

Gon melambai. “Hei! Kalian juga lolos!”

Killua mendengus. “Kamu cepat sekali.”

Gon tertawa. “Aku nemu jalan pintas!”

Raito memandang Gon dengan kagum. Anak itu tampak tidak terganggu sama sekali oleh kekacauan di sekitar.

Mira menepuk bahu Raito. “Kita hampir keluar. Tapi ingat—ini baru fase kedua. Masih ada fase lain.”

Raito mengangguk pelan. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau. Tapi di dalam dadanya, aliran hangat itu muncul lagi—lebih kuat dari sebelumnya. Seperti ada cahaya kecil yang mulai menyala di kegelapan.

Dia tidak tahu apa itu.

Tapi untuk pertama kalinya sejak terbangun di hutan, Raito merasa… bukan hanya bertahan hidup.

Dia merasa mulai memahami dunia ini—sedikit demi sedikit.

Dan cahaya itu, meski masih samar, mulai memberinya harapan.

Di luar Trick Tower, langit mulai terang. Fase kedua hampir selesai.

Tapi bagi Raito, perjalanan baru saja dimulai.

Jebakan yang Tak Terlihat

Cahaya pagi menyusup melalui celah-celah dinding batu Trick Tower, menerangi debu yang beterbangan seperti serpihan salju abu-abu. Raito, Mira, Gon, dan Killua berdiri di ruangan terakhir sebelum pintu keluar fase kedua. Ruangan ini berbeda dari yang lain—luas, bulat, dengan langit-langit tinggi yang gelap dan lantai batu polos yang terlihat terlalu bersih untuk tempat seperti ini. Di tengah ruangan hanya ada satu meja kayu sederhana, dan di atasnya sebuah kotak kaca transparan berukuran sebesar kotak sepatu.

Di dalam kotak itu ada sebuah kunci perak kecil, berkilau samar di bawah sinar matahari yang masuk.

Di dinding seberang, tertulis dengan huruf besar berwarna merah darah:

“Satu kunci, satu pintu keluar. Hanya satu orang yang boleh mengambil kunci dan pergi. Sisanya akan tetap terperangkap selamanya. Waktu tersisa: 30 menit.”

Raito merasa perutnya mual. Dia sudah melihat terlalu banyak darah di ruangan sebelumnya. Tubuhnya masih gemetar karena adrenalin yang belum surut sepenuhnya. Kini, di ruangan ini, hanya ada empat orang: dirinya, Mira, Gon, dan Killua.

Empat orang. Satu kunci.

Gon memiringkan kepala, memandang kotak itu dengan ekspresi penasaran seperti anak kecil melihat mainan baru. “Wah… ini jebakan yang menarik ya?”

Killua mendengus, tangan masih di saku celana. “Menarik buat orang gila. Ini tes terakhir fase kedua. Mereka ingin lihat apakah kita mau saling bunuh demi lolos.”

Mira melipat tangan di dada, mata tajam memindai ruangan. “Aku sudah dengar rumor tentang ruangan ini. Disebut ‘Ruang Pengkhianatan’. Tidak ada jebakan fisik—tidak ada panah, tidak ada lantai runtuh. Yang ada hanya godaan.”

Raito menelan ludah. “Jadi… kalau kita nggak ambil kunci, semua mati di sini?”

“Benar,” jawab Mira. “Timer 30 menit itu nyata. Setelah habis, gas atau apa pun akan keluar. Atau mungkin dinding akan runtuh. Pokoknya, kita nggak akan keluar hidup-hidup kalau nggak ada yang mengambil kunci.”

Gon menggaruk kepala. “Tapi kalau satu orang ambil kunci, dia lolos sendirian. Yang lain mati. Itu nggak adil!”

Killua menatap Gon dengan ekspresi setengah kesal setengah geli. “Hidup nggak adil, bocah. Itu poinnya.”

Raito diam saja. Dia memandang kunci itu. Kecil, sederhana, tapi terasa seperti bom waktu. Pikirannya berputar: dia tidak ingin mati di sini. Dia bahkan tidak tahu kenapa dia ada di dunia ini. Tapi membunuh orang lain demi lolos? Itu terlalu jauh.

Dia ingat kilatan putih yang membawanya ke sini. Apakah itu takdir? Atau hukuman? Atau hanya nasib sial?

“Kalau kita hancurkan kotaknya?” usul Raito tiba-tiba.

Mira menggeleng. “Sudah dicoba orang sebelumnya, katanya. Kotak itu dilindungi Nen—atau semacam kekuatan aneh. Kalau dipaksa, ruangan ini akan meledak atau jebakan lain aktif.”

Killua mengangguk pelan. “Benar. Aku bisa rasakan ada aura di sekitar kotak itu. Bukan aura biasa. Ini jebakan yang dirancang untuk memaksa pilihan.”

Gon melangkah maju. “Kalau gitu… gimana kalau kita nggak ambil kunci sama sekali? Mungkin ada cara lain keluar!”

Killua memutar bola mata. “Kamu terlalu optimis. Ini ujian Hunter Association. Mereka nggak kasih jalan pintas gratis.”

Timer di dinding mulai berdetak pelan. Angka merah besar: 29:58… 29:57…

Suasana semakin tegang.

Mira memecah keheningan. “Kita punya waktu 30 menit untuk memutuskan. Kalau mau berkelahi, mulai sekarang. Kalau mau negosiasi, bicara. Kalau mau menunggu keajaiban… silakan.”

Gon tersenyum lebar. “Aku nggak mau berkelahi sama kalian! Kalian semua keren kok!”

Killua menatap Gon dengan tatapan aneh—seperti orang yang baru pertama kali melihat sesuatu yang benar-benar asing. “Kamu beneran nggak takut mati ya?”

Gon menggeleng. “Takut sih takut. Tapi aku percaya kita bisa cari jalan keluar bareng!”

Raito merasa ada sesuatu yang bergerak di dadanya lagi. Aliran hangat itu—lebih kuat sekarang. Seperti ada cahaya kecil yang mencoba menerobos kegelapan di dalam dirinya. Dia tidak tahu apa itu, tapi rasanya… memberi kekuatan.

Dia maju selangkah. “Aku punya ide.”

Semua mata tertuju padanya.

“Kalau kita semua sepakat nggak ambil kunci, apa yang terjadi?” tanya Raito.

Mira mengangkat alis. “Mungkin timer habis dan kita mati.”

“Atau,” lanjut Raito, “mungkin ujian ini bukan tentang siapa yang ambil kunci, tapi siapa yang mau mengorbankan diri demi yang lain. Atau… siapa yang nggak mau mengorbankan siapa pun.”

Killua tertawa kecil—suara yang dingin. “Kamu terlalu naif. Dunia ini nggak kerja kayak gitu.”

“Tapi coba pikir,” balas Raito. “Kalau salah satu dari kita ambil kunci dan pergi, orang itu akan hidup dengan rasa bersalah selamanya. Kalau kita semua mati, nggak ada yang lolos. Tapi kalau kita tunggu sampai akhir… mungkin ada pintu lain yang terbuka.”

Gon bertepuk tangan kecil. “Iya! Kayak tes kepercayaan!”

Mira menghela napas panjang. “Kalian semua gila. Tapi… aku nggak punya rencana lebih baik.”

Killua memandang mereka satu per satu. Matanya berhenti di Gon paling lama. Lalu dia mengangkat bahu. “Baiklah. Aku ikut main game kalian. Tapi kalau timer habis dan nggak ada apa-apa, aku akan bunuh kalian semua sebelum mati.”

Mereka semua tertawa kecil—tawa gugup, tapi ada sedikit kelegaan di dalamnya.

Timer terus berdetak: 20:00… 19:59…

Mereka duduk melingkar di lantai, membicarakan hal-hal kecil untuk mengisi waktu. Gon bercerita tentang pulau tempat dia dibesarkan, tentang ayahnya yang hilang, tentang memancing ikan besar. Killua mendengarkan dengan ekspresi bosan, tapi sesekali bertanya detail. Mira bercerita sedikit tentang masa lalunya—tentara bayaran, perang di negara kecil, dendam pada perusahaan senjata. Raito mendengarkan, tapi dia tidak bercerita banyak tentang dunianya. Dia takut kalau bicara, semuanya akan terasa terlalu nyata—bahwa dia benar-benar terjebak di dunia lain.

Saat timer tinggal 5 menit, suasana berubah lagi.

“Kalau kita mati di sini,” kata Raito pelan, “setidaknya aku nggak sendirian.”

Gon tersenyum. “Kita nggak akan mati! Aku yakin ada cara!”

Killua mendengus. “Kamu terlalu percaya diri.”

Tapi di mata Killua, ada sesuatu yang berbeda—sedikit keraguan, sedikit harapan.

Timer: 1:00… 0:59…

Mereka berdiri. Semua mata tertuju pada kotak kaca.

0:30…

Tiba-tiba, suara klik keras terdengar. Kotak kaca terbuka sendiri. Kunci perak itu melayang keluar, lalu jatuh ke lantai dengan denting kecil.

Di dinding belakang, pintu besar batu terbuka pelan. Cahaya terang menyilaukan menyembur masuk.

Di atas pintu, tertulis huruf baru:

“Selamat. Kalian lolos. Ujian ini bukan tentang pengkhianatan—tapi tentang kepercayaan.”

Gon berteriak kegirangan. “Lihat! Aku bilang kan!”

Killua memandang pintu itu dengan mata terbelalak. “Nggak mungkin…”

Mira tersenyum tipis—senyum pertama yang Raito lihat darinya. “Mereka memang licik. Membuat kita pikir harus saling bunuh, padahal jawabannya adalah tidak membunuh sama sekali.”

Raito memungut kunci itu. Dingin di tangannya. Dia menatapnya sejenak, lalu melemparkannya ke dalam kotak lagi. Kotak menutup sendiri.

Mereka berjalan keluar bersama.

Di luar Trick Tower, matahari sudah tinggi. Peserta lain yang lolos mulai berkumpul di lapangan terbuka. Beberapa terluka parah, beberapa sendirian. Tapi Raito, Mira, Gon, dan Killua keluar bersama—tanpa darah di tangan mereka.

Examiner fase kedua—seorang wanita berambut pirang pendek—menatap mereka dengan ekspresi terkejut. “Kalian… lolos Ruang Pengkhianatan tanpa korban?”

Gon mengangguk riang. “Iya! Kami cuma duduk bareng!”

Wanita itu tersenyum kecil. “Langka sekali. Selamat. Kalian lolos ke fase ketiga.”

Mira menepuk bahu Raito. “Kamu beruntung punya ide gila itu.”

Raito tersenyum lemah. “Bukan ide gila. Cuma… nggak mau mati sendirian.”

Killua berjalan mendekat. Untuk pertama kalinya, dia menatap Raito langsung. “Kamu aneh. Tapi… lumayan.”

Gon tertawa. “Kita temenan yuk!”

Raito tidak langsung menjawab. Tapi di dadanya, aliran hangat itu semakin kuat. Seperti cahaya yang mulai membesar.

Mereka berempat berjalan menjauh dari menara, menuju fase berikutnya.

Raito tidak tahu apa yang menanti di depan. Tapi untuk pertama kalinya sejak terlempar ke dunia ini, dia merasa tidak sepenuhnya asing.

Ada orang-orang di sampingnya—meski baru kenal, meski dunia ini kejam.

Dan cahaya kecil di dalam dirinya mulai terasa seperti… harapan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!