Jam sebelas malam Miranda masih duduk di teras dengan menggunakan mantel lusuhnya. Udara makin dingin menembus kulit, hujan turun rintik-rintik. Mata Miranda tertuju pada gerbang, tetapi orang yang dia tunggu tak kunjung tiba.
Miranda duduk di kursi, kepalanya tertunduk, matanya terasa berat. Baru saja ia memejamkan mata, terdengar klakson mobil dari luar pagar. Suara itu membuatnya tersentak dan segera berdiri.
Miranda bangkit lalu membukakan gerbang. Mobil Avanza terbaru masuk ke garasi, mobil itu adalah milik Raka, suaminya, yang baru dibeli sebulan lalu. Lampu mobil masih menyala terang.
Miranda menutup kembali gerbang, kemudian menghampiri Raka yang sedang asyik bermain ponsel. Ia mengulurkan tangannya untuk mencium tangan suaminya sebagai bentuk hormat.
Raka memberikan tangannya tanpa menoleh sedikit pun, dan Miranda mencium tangan itu dengan takzim. Wajah Raka tetap datar, matanya tidak lepas dari layar ponsel.
Raka masih asyik dengan ponselnya. Miranda berjongkok lalu membukakan sepatu dan kaos kaki Raka. Setelah itu ia mengelap kaki suaminya, kemudian memberikan sandal rumah dengan pelan.
Raka bangkit dan melangkah masuk ke rumah. Sikapnya dingin seolah Miranda tidak ada di dekatnya. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, hanya langkah tanpa perhatian.
“Mas mau makan atau mau mandi? Kalau mau makan aku akan panaskan sop dagingnya, Mas,” tanya Miranda sambil membawakan tas kerja Raka.
“Aku sudah makan, jadi aku mau mandi,” jawab Raka dengan nada dingin tanpa melihat wajah istrinya.
“Aku sudah menyiapkan air hangat di kamar mandi, Mas.”
“Hm,” Raka hanya membalas dengan gumaman, tanpa menoleh sedikit pun. Ia terus fokus pada ponselnya seakan dunia di sekitarnya tidak penting.
Raka menaruh ponselnya sebentar lalu membuka baju dan melemparkannya secara sembarang. Kemudian ia membuka celana, memakai handuk, dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah seharian bekerja, rapat maraton, dan mengecek lapangan, tubuh Raka sangat lelah. Mandi air hangat membuat badannya kembali segar dan sedikit lebih ringan.
Setelah mandi ia keluar dari kamar mandi. Tampak celana dan baju tidur sudah tersedia rapi di atas kasur. Baju kotor tadi sudah tidak ada, dan Miranda juga tidak terlihat.
Raka memakai baju dan celana lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mengambil ponselnya dan kembali berbalas pesan dengan seseorang, wajahnya tampak lebih hidup.
Sikap Raka sangat berbeda saat membalas pesan dibanding saat berhadapan dengan Miranda. Di depan layar ponsel ia bisa tersenyum, bahkan tertawa kecil tanpa beban.
Raka tampak cekikikan saat membalas sebuah pesan. Namun wajahnya berubah masam ketika Miranda masuk ke kamar membawa satu gelas air hangat.
“Mas, ini air hangatnya,” ucap Miranda sambil menaruh gelas di atas nakas dekat tempat tidur.
Miranda lalu merebahkan dirinya di kasur, di samping Raka. Sementara itu Raka masih asyik dengan ponselnya, seolah kehadiran istrinya tidak berarti.
“Mas, aku tidur dulu ya,” ucap Miranda pelan.
“Kamu bisa tidak ganggu aku? Dari tadi ngomong terus,” ketus Raka dengan nada kesal.
“Maaf, Mas,” jawab Miranda lirih lalu memejamkan matanya.
Raka melihat Miranda, istrinya, lalu menggelengkan kepala seolah kecewa. Padahal Miranda tidak melakukan apa-apa selain menjalankan kewajibannya sebagai istri.
Raka kembali tersenyum saat terus berbalas pesan hingga tak terasa waktu berjalan cepat. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam lebih.
“Ah, sial, sudah jam satu. Besok aku ada acara penting,” gumamnya pelan.
Ia lalu menaruh ponselnya di nakas dan ikut tertidur. Suasana kamar menjadi sunyi, hanya terdengar suara hujan dari luar jendela.
Jam tiga malam Miranda bangun, hal yang sudah rutin ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Tubuhnya bergerak otomatis seperti mesin yang terlatih.
Ia harus bangun sebelum subuh karena banyak pekerjaan menantinya. Hari-harinya selalu dimulai lebih awal daripada penghuni rumah yang lain.
Di rumah itu ada Raka suaminya, Rina ibu mertua, Budi ayah mertua, Lela kakak ipar, dan Lusi adik ipar. Dua lelaki dan empat perempuan tinggal bersama.
Seharusnya pekerjaan rumah bisa dibagi rata dan Miranda tidak terlalu lelah. Namun semua penghuni rumah seolah menyerahkan seluruh beban pada Miranda seorang.
Selama sepuluh tahun Miranda melayani mereka tanpa mengeluh. Tepatnya ia tidak bisa mengeluh, karena jika mengeluh ia akan dimarahi habis-habisan.
Miranda bangkit menyibak selimut, melihat Raka masih tidur lelap. Saat itu ponsel Raka berdering pelan, terlihat ada pesan masuk dengan nama Lina dan emotikon hati.
Mata Miranda sempat melihat layar ponsel, tetapi ia memilih fokus pada daya baterai yang tinggal sepuluh persen. Ia khawatir suaminya akan kesulitan di kantor.
Miranda tidak mau Raka mendapat masalah hanya karena ponsel kurang daya. Walau ia tidak begitu memahami pekerjaan suaminya, ia tahu ponsel sangat penting.
Dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, Miranda mengambil ponsel itu lalu mengisi dayanya. Ia melakukannya dengan penuh perhatian seperti biasa.
Setelah itu Miranda berjalan ke kamar mandi, mengambil air wudu, lalu melaksanakan salat tahajud dua rakaat. Ia tidak bisa memperbanyak rakaat karena waktu sempit.
Setelah salat ia tidak lupa berdoa. Keinginan Miranda hanya satu, hidup sederhana dan membangun keluarga bahagia bersama suami yang ia cintai.
Walau sudah sepuluh tahun rumah tangganya tidak ada perkembangan, Miranda tidak pernah lelah berdoa. Harapan kecil itu selalu ia genggam erat.
Selesai berdoa Miranda menuju dapur lalu menyalakan kompor. Ia menanak nasi, sambil menunggu ia memotong sayuran dengan gerakan terampil dan cepat.
Tangannya bergerak cekatan tetapi tidak menimbulkan suara berarti. Gerakannya cepat namun presisi, bagaikan penari yang sudah terlatih bertahun-tahun.
Dalam waktu singkat sayur asam, telur goreng, sambal, dan lalapan sudah selesai. Tinggal disajikan di meja makan untuk seluruh penghuni rumah.
Miranda melangkah ke tempat cuci baju. Tampak tumpukan baju sudah menggunung, itu bukan cucian seminggu melainkan hanya satu hari saja.
Itu adalah cucian semua penghuni rumah. Semuanya malas mencuci dan akhirnya pekerjaan itu selalu diserahkan pada Miranda tanpa rasa bersalah.
Miranda menyalakan keran mesin cuci. Sambil menunggu tabung terisi air, Miranda memilah-milah baju sesuai warna dan jenis kainnya.
Baju berwarna terang didahulukan, sedangkan yang gelap belakangan. Ia melakukan semua itu dengan teliti agar tidak ada pakaian yang rusak.
Miranda memutar tombol dan mesin cuci pun menyala. Suara putarannya menjadi teman setia setiap pagi buta yang ia jalani seorang diri.
Terdengar azan subuh dari masjid dekat rumah. Miranda segera masuk ke kamarnya, sementara Raka masih tertidur lelap tanpa terganggu sedikit pun.
Miranda melaksanakan salat subuh dengan cepat. Setelah salam ia langsung bangkit tanpa berdoa panjang, karena pekerjaan masih menumpuk menunggu.
Ia membuka lemari lalu melihat kalender, hari itu hari Rabu. Miranda memilih baju seragam Raka berwarna biru muda dan celana hitam yang sudah disetrika.
Saat mempersiapkan baju seragam, ponsel Raka kembali berdering. Di layar tertera nama Lina dengan jelas, membuat tangan Miranda berhenti sejenak.
Ponsel terus berdering dan hati Miranda mulai bertanya-tanya. Siapa Lina, kenapa sejak semalam terus menghubungi suaminya tanpa henti.
Apakah dia rekan kerja Mas Raka, atau seseorang yang lain. Kalau rekan kerja, mengapa subuh begini masih membahas pekerjaan
Miranda tidak bisa melamun terlalu lama. Pekerjaan rumah masih banyak, sebentar lagi para penghuni rumah akan bangun dan Miranda harus sudah siap seperti biasa.
Miranda melangkah ke dapur lalu menyajikan makanan ke meja makan. Piring dan sendok tak lupa ditata dengan rapi, semuanya ia susun seperti aturan tak tertulis.
Setelah itu Miranda kembali ke dapur lalu mengambil plastik sampah yang sudah penuh. Ia berjalan melalui samping rumah menuju depan, mengambil plastik sampah yang ada di teras.
Miranda melangkah keluar menuju bak pembuangan sampah perumahan. Udara pagi masih lembap, sisa hujan malam membuat jalan sedikit licin dan berbau tanah basah.
“Masyaallah, rajin sekali kamu, Mir,” ucap Pak Haji Imron yang sedang menyapu halaman rumahnya.
Miranda hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Miranda memang anak yang pemalu, kurang percaya diri jika harus berbicara lama dengan orang lain.
Miranda kembali menganggukkan kepala lalu berbalik akan pergi menuju rumahnya. Langkahnya kecil dan cepat, seolah ingin segera menghindar dari percakapan.
“Miranda,” panggil Pak Imron lagi.
Miranda menoleh dan menatap Pak Imron sebentar, kemudian menundukkan kepala lagi. Tangannya meremas ujung mantel yang sedikit basah oleh gerimis.
“Mir, bilang sama suami kamu untuk rajin berjamaah lagi,” ucap Pak Imron dengan suara lembut.
“Baik, Pak, nanti saya sampaikan,” ucap Miranda lalu berjalan setengah berlari menuju rumahnya.
Miranda juga ingin melihat Raka rajin salat seperti dulu saat masih jadi karyawan kontrak. Raka dulu dikenal sebagai anak muda yang rajin ibadah dan sopan.
Sekarang Raka sepertinya jarang salat. Miranda ingin menegur, tetapi tidak punya keberanian untuk mengucapkan satu kalimat pun di hadapan suaminya.
Dan sekarang Pak Imron meminta menyampaikan pesan pada Raka. Tentu saja Miranda tidak akan menyampaikannya karena Miranda takut akan reaksi suaminya.
Hujan turun rintik-rintik, rambut Miranda sedikit basah. Miranda masuk ke dapur melalui pintu samping yang langsung terhubung dengan ruang cuci.
“Miranda,” suara melengking Rina menggelegar dari ruang tengah.
Itu adalah ritual di pagi hari, penanda waktu beranjak siang. Sehari saja Rina tidak berteriak memanggil Miranda, seolah ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
“Ya, Bu, ada apa?” tanya Miranda sambil menyeka air hujan bercampur keringat di dahinya.
“Dari mana saja kamu, dari tadi saya panggil tidak menyahut,” ucap Rina memandang tajam pada Miranda.
“Saya habis buang sampah, Bu,” jawab Miranda pelan.
“Buang sampah lama sekali, dasar tidak berguna,” ketusnya tanpa menahan nada meremehkan.
Miranda sudah terlalu kebal mendengarkan hal itu. Sepuluh tahun sudah ia diperlakukan seperti itu tanpa pernah ada yang berubah sedikit pun.
Rina akan memarahi Miranda lagi, tetapi suara Budi terdengar dari teras.
“Miranda,” panggil Pak Budi dengan suara berat.
“Baru saja bangun yang pertama dipanggil malah Miranda,” muka Ibu Rina langsung masam.
“Memang Ibu mau buatkan Bapak kopi?” Pak Budi melihat wajah Rina dengan tatapan malas.
“Ada Miranda, kenapa Ibu yang harus bikin kopi?” jawab Rina ketus.
“Ya makanya jangan marah kalau bangun tidur aku panggil Miranda,” ucap Pak Budi datar.
Wajah Rina semakin masam, bibirnya mengerucut menahan kesal.
“Miranda, buatkan Ayah kopi,” ulang Pak Budi.
“Baik, Yah,” ucap Miranda lalu bergegas ke dapur menyiapkan air panas.
Rina yang kesal melangkah ke meja makan, melihat makanan sudah tersaji rapi. Selama sepuluh tahun Miranda melayani mereka tanpa celah sedikit pun.
Sebagai menantu sebenarnya Rina mengakui Miranda sudah mengurus mereka dengan baik. Namun status pendidikan Miranda dan asal-usulnya membuat Rina sulit menerima.
Lela dan Lusi datang ke meja makan masih menggunakan baju tidur, lalu mencicipi makanan tanpa mencuci muka lebih dulu.
“Dasar pemalas, mandi dulu kalian baru makan,” ucap Rina melotot.
“Galak sekali sih, Bu,” ucap Lela sambil mengambil tempe.
“Kamu lagi, Lela, sudah umur tiga puluh tahun masih saja malas,” balas Rina semakin kesal.
“Biar malas yang penting aku punya suami yang lagi kuliah di luar negeri,” jawab Lela santai.
“Baik, baik, pokoknya Ibu tunggu suami kamu pulang. Sesuai janji dia akan membuatkan kamu rumah,” ucap Rina penuh harap.
“Tenang saja, Bu,” ucap Lela lalu mengambil tempe dan kembali masuk ke kamar.
Miranda membawa kopi ke teras. Pak Budi duduk di kursi memandang taman kecil yang selalu bersih karena rutin dibersihkan Miranda.
“Ini kopinya, Pak,” ucap Miranda sambil menyodorkan cangkir.
Pak Budi mengisap rokoknya lalu menghembuskannya pelan. Asap putih mengepul di udara pagi yang masih dingin.
“Bapak jangan banyak merokok, nanti sesak napas lagi,” ucap Miranda dengan suara pelan penuh khawatir.
Pak Budi hanya melihatnya tajam tanpa menjawab. Tatapan itu membuat Miranda langsung menundukkan kepala.
Miranda menunduk lalu pergi ke dapur. Ia mengutuk mulutnya sendiri karena merasa telah lancang mengingatkan mertuanya.
Miranda melihat sendiri saat Pak Budi sesak napas dan hampir meninggal. Seminggu penuh Miranda menunggui Pak Budi di rumah sakit tanpa digantikan siapa pun.
Mengingat hal itu Miranda ingin memberi peringatan pada Pak Budi. Namun ia lupa bahwa dirinya hanyalah menantu yang tidak dianggap di rumah itu.
Miranda melangkah ke ruang cuci lalu membilas cucian dan memasukkannya ke pengering. Tangannya bergerak cepat seperti sudah hafal irama pekerjaan.
Terdengar sayup-sayup percakapan dari ruang makan antara Raka, Rina, Lela, dan Lusi.
“Jadi kan Kak Lina nanti malam ke sini,” ucap Lusi dengan nada antusias.
“Jadilah, pokoknya kamu harus mau, Raka. Jangan mengecewakan Ibu lagi,” suara Rina terdengar tegas.
“Ya,” jawab Raka singkat.
Miranda hanya bisa mendengarkan sayup-sayup karena tercampur dengan suara dengungan mesin cuci yang berputar tanpa henti.
“Lina lagi, Lina lagi. Siapa sebenarnya Lina, kenapa ibu mertua dan ipar-iparku antusias membicarakannya,” ucap Miranda dalam hati.
Dan tentu saja pertanyaan itu hanya bisa Miranda pendam sendiri. Ia takut mengungkapkannya, takut dianggap cemburu tanpa alasan.
Mereka asyik sarapan, dan selama sepuluh tahun tinggal di rumah itu Miranda tidak pernah diajak makan bersama.
Miranda selalu makan setelah semua keluarga selesai makan. Mereka akan merasa jijik jika Miranda ikut duduk bersama hanya karena ia tidak berpendidikan.
Miranda menjemur pakaian yang sudah dikeringkan dengan cepat dan rapi. Setiap helai baju ia kibaskan agar tidak kusut.
Miranda kembali ke dapur, mengintip ke meja makan. Semua sudah selesai, piring berserakan menunggu dibereskan.
Miranda buru-buru berlari ke teras. Tampak Raka sudah duduk di kursi teras bersiap berangkat kerja.
Miranda menghampiri, berjongkok di depan Raka lalu mengelap kaki suaminya dengan kain bersih, memakaikan kaos kaki dan sepatu.
Sedangkan Raka tidak pernah melihatnya, ia sibuk dengan ponselnya. Pak Budi yang ada di samping Raka hanya menggelengkan kepala pelan.
Setelah sepatu terpakai Miranda melangkah ke gerbang lalu membukakan pintu. Ia menunggu Raka keluar dari garasi seperti kebiasaannya.
Miranda selalu memastikan Raka keluar dengan aman, mobilnya tidak lecet sedikit pun. Itu bentuk tanggung jawab yang ia pegang teguh.
Mobil Raka keluar perlahan lalu melaju meninggalkan rumah. Miranda menatap hingga mobil itu hilang di ujung jalan.
Miranda kembali menutup gerbang dan masuk ke rumah dengan langkah cepat. Pekerjaan berikutnya sudah menunggu tanpa jeda.
“Ka Miranda,” ucap Lusi tiba-tiba.
Miranda menghentikan langkahnya. Lusi sudah rapi, ia adalah mahasiswa semester tiga yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri.
“Ada apa?” tanya Miranda pelan.
“Bersihkan kamarku ya,” ucap Lusi tanpa rasa bersalah.
“Pekerjaanku masih banyak,” jawab Miranda jujur.
Lusi tampak merengut dan akan memanggil Rina ibunya.
“Jangan panggil Ibu,” ucap Miranda, wajahnya langsung ketakutan.
“Baik, aku akan bersihkan,” lanjut Miranda mengalah.
“Nah, begitu dong,” ucap Lusi lalu pergi keluar rumah dengan langkah ringan.
Miranda masuk ke kamar Lusi lalu mulai membersihkan kamar itu. Pakaian berserakan, gelas bekas minum menumpuk di meja belajar.
Miranda menggelengkan kepala pelan.
“Bagaimana ada anak perempuan sejorok ini,” gumamnya lirih.
Miranda terus merapikan kamar Lusi. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda di dekat laci tempat tidur.
Ada dua benda tergeletak di sana, yang satu tespek dan yang satunya lagi kotak kecil berwarna putih.
Miranda melihat dengan teliti lalu mengejanya pelan.
“Obat penunda kehamilan.
Miranda memandang dua benda itu dengan heran.
“Lusi memakai tespek untuk apa?” gumamnya pelan.
Miranda terus melihat obat penunda kehamilan itu dengan penuh curiga.
“Ini untuk siapa, apa jangan-jangan untuk aku.”
“Sepuluh tahun aku berumah tangga tapi tak kunjung punya anak. Apa mereka meracuniku dengan ini,” pikir Miranda dalam hati dengan dada berdebar.
“Tapi ini ada di kamar Lusi. Mas Raka juga jarang menyentuhku, apalagi enam bulan terakhir aku tak pernah disentuh,” lanjut Miranda dalam pikirannya.
“Mirandaaaa,” suara Rina menggelegar dari luar kamar.
Miranda buru-buru keluar dari kamar Lusi sambil membawa tespek dan obat penunda kehamilan itu di sakunya. Ia berniat menanyakannya pada Lusi nanti.
“Ada apa, Bu?” tanya Miranda setelah sampai di hadapan ibu mertuanya.
“Kamu itu budek ya, dari tadi aku panggil tidak menyahut,” hardik Ibu Rina dengan mata melotot.
Dengan badan gemetar Miranda menjawab, “Tadi aku habis beresin kamar Lusi, Bu.”
“Banyak alasan, dasar menantu tak berguna,” ucap Rina dengan nada ketus lalu melemparkan selembar kertas pada Miranda.
Kertas itu jatuh ke lantai, lalu Miranda mengambilnya dengan cepat dan hati-hati.
“Kamu belanja sekarang, nanti malam akan ada tamu. Barang-barang yang harus dibeli sudah aku catat, jangan sampai salah,” ucap Rina tegas.
Miranda mengambil catatan itu dan melihat daftar panjang yang harus dibeli. Hampir satu halaman penuh tulisan tangan Rina.
“Ada acara apa, Bu, kok banyak sekali belanjaannya?” tanya Miranda memberanikan diri.
“Jangan banyak bertanya, tugas kamu hanya belanja saja,” jawab Rina memotong kalimat Miranda.
Miranda diam, menelan pertanyaan yang masih menggantung di kepalanya.
Miranda melangkah ke meja makan lalu menata piring dan sendok yang habis digunakan. Sisa makanan ia masukkan ke plastik agar tidak mengotori dapur.
Piring dan gelas ditata lalu dibawa ke wastafel. Tangannya bergerak cepat seperti sudah diatur oleh kebiasaan bertahun-tahun.
Miranda mengambil nasi, lalu lauk yang tersedia hanya sepotong tempe dan sambal. Dengan lahap Miranda memakannya tanpa mengeluh.
Hari ini sedikit beruntung, nasi masih banyak tersisa. Sepertinya mereka sedang dalam kondisi hati yang baik.
Biasanya kalau sedang kesal, sebutir nasi pun tak tersisa untuk Miranda. Ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Miranda makan dengan cepat, karena kalau berlama-lama ia akan kembali dimarahi tanpa alasan jelas.
“Miranda,” kembali Rina berteriak dari ruang depan.
Miranda segera menghentikan makannya lalu minum dengan tergesa. Ia mencuci tangan lalu kembali menghadap Ibu Rina.
“Lama sekali kamu,” hardik Ibu Rina dengan mata melotot tajam.
“Tadi lagi makan, Bu,” jawab Miranda pelan.
Tampak Ibu Rina mendecih kesal.
“Apa-apa lama, kamu ini benar-benar tak berguna.”
“Cepat buruan belanja, bukankah hari ini hari pasar sayur. Sayuran lagi murah,” lanjut Rina dengan nada memerintah.
Miranda hanya menganggukkan kepala lalu melangkah ke kamarnya. Ia memakai sweter tipis untuk menahan dingin.
Miranda mengambil kunci motor dan melangkah ke samping rumah tempat motor terparkir.
Miranda melajukan motor dengan perlahan. Selama di jalan Miranda terus merenung tanpa henti.
“Siapa Lina,” bisik hatinya.
“Tespek itu milik Lusi bukan,” pikirnya lagi.
“Dan obat penunda kehamilan itu untuk siapa,” batinnya terus bertanya.
“Dan kenapa aku belum hamil juga,” pertanyaan itu seperti duri yang menusuk pikirannya.
Pikirannya terus berputar hingga tak terasa sudah sampai di pasar tradisional langganannya.
Miranda sering ke pasar itu. Ia sudah hafal di mana saja tempat yang harus ia kunjungi.
Namun karena Miranda pemalu, orang-orang di pasar tidak ada yang benar-benar akrab dengannya.
Dalam waktu cepat Miranda sudah membeli barang sesuai yang ditulis oleh ibu mertuanya.
Barang belanjaannya sampai menumpuk di motor. Tukang parkir sampai menggelengkan kepala melihat banyaknya bawaan.
Miranda melajukan motor dengan perlahan agar barang-barang tidak jatuh di jalan.
Akhirnya Miranda sampai di rumahnya. Tangannya mulai terasa pegal menahan beban belanja.
Baru saja sampai rumah, Ibu Rina sudah menunggu di depan pintu dengan muka masam.
“Lama, lama, lama,” gerutunya kesal sambil menghentakkan kaki.
“Kamu ini lelet sekali bekerja,” lanjutnya dengan nada meremehkan.
Miranda hanya bisa menahan napas. Padahal menurutnya ia sudah bekerja sangat cepat.
Ia melajukan motor perlahan juga karena banyaknya barang yang ia bawa sendirian.
Miranda hendak menjawab, namun Ibu Rina lebih dulu memerintah.
Rina melemparkan secarik kertas lagi ke arah Miranda.
“Ini daftar masakan yang harus kamu buat.”
Miranda membacanya, deretan panjang menu makanan tertulis rapi di sana.
Dalam hati Miranda bertanya, “Siapa sebenarnya tamu istimewa yang akan datang sehingga aku harus memasak sebanyak ini.”
Miranda melangkah ke ruang cucian lalu membilas baju dan memasukkannya ke pengering.
Miranda seolah tak diberi napas sedikit pun, bahkan sekadar untuk minum seteguk air.
“Kenapa belum juga mulai masaknya,” hardik Ibu Rina dari dapur.
“Ini saya mau masak, Bu,” jawab Miranda tergesa.
Tiga jam Miranda berkutat di dapur. Bolak-balik dapur, ruang cuci, dan tempat jemuran.
Kakinya terasa pegal, punggungnya nyeri. Ia hanya berhenti saat salat zuhur dan asar.
Kalau mengenai salat Miranda tidak akan mengalah. Ia mengabaikan perintah apa pun saat waktu salat tiba.
Keluarga suaminya sudah paham kebiasaan itu dan terpaksa membiarkannya.
Akhirnya semua masakan sudah selesai, tinggal disajikan di meja makan.
Miranda mengambil jemuran lalu melipatnya dengan rapi satu per satu.
Jam enam belas tiga puluh mobil Raka datang. Miranda merasa lega, malam ini ia bisa tidur lebih cepat.
Tanpa harus menunggu Raka pulang terlalu larut seperti malam-malam sebelumnya.
Miranda membukakan pintu gerbang. Mobil Raka masuk, lalu Miranda menutup kembali pintu gerbang.
Raka keluar dari mobil, dari pintu penumpang keluar Lusi.
Selanjutnya seorang wanita datang dengan dandanan khas pekerja kantoran, rapi dan anggun.
Miranda bertanya dalam hati, “Apakah ini Lina.”
Lamunannya buyar saat melihat Ibu Rina dan Lela datang menyambut wanita itu dengan senyum lebar.
Mereka langsung membawa wanita itu masuk ke dalam rumah dengan penuh kehangatan.
Miranda melangkah hendak membantu Raka membuka sepatu seperti biasa.
“Kamu ke dapur saja, aku buka sendiri,” ucap Raka tanpa menoleh.
Miranda diam kemudian masuk ke dapur dari pintu samping dengan hati terasa aneh.
Miranda menggosok baju di dapur, sedangkan di meja makan sudah terdengar dentingan sendok beradu.
Tanda mereka sedang makan bersama dengan suasana hangat.
Terdengar tawa canda penuh keakraban. Miranda hanya bisa mendengarkan saja tanpa diajak bergabung.
Setelah magrib makan itu selesai. Meja makan sudah kosong dan mereka berkumpul di ruang tamu.
Miranda membersihkan meja makan lalu membawa piring dan gelas bekas makan ke dapur.
Saat Miranda akan mencuci piring, suara Lusi terdengar memanggil.
“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!