Indonesia
NovelToon NovelToon

27 Hari Setelah Melahirkan

Bab 1

Dengan masih memakai balutan kain jarik di tubuhnya, seharusnya wanita cantik bernama Hana itu pulang, tersenyum bahagia sambil menggendong putri pertamanya yang baru saja dirinya lahirkan 2 jam lalu.

Namun, Hana kini harus pulang membawa segenggam luka, ketika kepulangannya ke rumah membawa bayi yang sudah tak bernyawa.

5 tahun penantiannya harus berujung pada luka. Di tengah isakannya menatap sang Bayi yang sudah dibawa menuju pemakaman, keluarga hanya mampu menenangkan.

Setiap malam, Hana kembali lagi menangis. Ia sering membuang Asinya cuma-cuma, sebab d4danya sampai bengkak terasa sakit. Bahkan, Hana juga sering memberikan Asinya pada bayi tetangga yang kebetulan sering ditinggalkan Ibunya bekerja.

Namun tetap saja, sakit itu mengalahkan sesak dalam dadanya.

"Mas, kamu mau kemana? Nanti malam itu 7 hari bayi kita. Ini, kamu siap-siap rapi begini mau kemana?" Hana menatap telisik penampilan Dzaki, meskipun dirinya tak menyangka sang suami akan tega meninggalkanya pagi itu.

Dzaki memegang kedua bahu Hana. Suaranya lembut, tatapanya meyakinkan. "Hana, ada customer yang minta anterin ke luar kota. Palingan kalau nggak macet, sore nanti aku udah pulang. Udah ya, nggak usah mikirin aneh-aneh. Aku hanya bekerja."

Dan memang, selain karyawan kantor biasa, Dzaki juga sering bekerja paruh waktu sebagai driver online, dari sore sampai malam. Hana mencoba mengerti, jika memang suaminya sedang mencari nafkah untuknya.

Pukul 09.00 pagi, Hana juga kedatangan sahabatnya, yakni-Mona. Selama hampir 7 hari itu Mona selalu menyempatkan datang, sekedar menghibur, ataupun memberikan semangat untuk Hana. Sebagai sesama wanita, orang yang pernah ditinggalkan, Mona tahu sesakit apa menjadi Hana, ketika dulu dirinya juga ditinggalkan suami tercinta untuk selama-lamanya.

Mona adalah seorang janda tanpa anak. Suaminya sudah tiada 1 tahun yang lalu.

"Han, maaf kalau nanti aku belum bisa ikut acara 7 harinya anakmu. Aku ada kerjaan ke luar kota. Maaf, ya...." Mona memeluk Hana sekilas, menampakan wajah sedih.

Hana mengangguk kecil, ia usap kasar lengan sahabatnya itu. "Nggak papa, Mon... Namanya juga tanggung jawab. Udah, yang penting kamu ati-ati kerjanya."

Disaat itu, Dzaki keluar dari kamarnya. Pria itu sudah memegang handbag, menatap Mona sekilas, lalu menghampiri Istrinya. "Hana, aku berangkat dulu, ya!" Hana bangkit ketika Dzaki memeluknya sejenak.

Mona yang merasa canggung, kini juga ikut bangkit.

"Han... Aku juga mau pulang, soalnya jam 10 aku nanti aku harus berangkat. Ya sudah," Mona memegang bahu Hana sekilas, berpamitan juga kepada Dzaki.

Namun ketika langkah Mona sampai di ambang pintu, Hana bersuara, "Eh, Mon... Tunggu sebentar!"

Mona menoleh. Dahinya agak mengernyit. Hana sudah berjalan mendekat bersama Dzaki. "Mon, mending kamu bareng aja sama Mas Dzaki pulangnya. Sekalian Mas Dzaki juga mau pergi. Biar kamu nggak jalan kaki."

Dzaki melipat bibirnya dalam, menatap kedua wanita disampingnya secara berganti. Lalu mengangguk kecil sebagai jawaban tidak masalahnya.

"Nggak, Han... Nanti repoti Mas Dzaki," tolak Mona merasa segan.

Hana kembali memegang lengan Mona, tapi matanya menatap Dzaki. "Mas, nggak papa 'kan Mona nebeng bentar. Kasian daripada jalan."

"Nggak papa, lagian 'kan jalanya juga searah." Dzaki menatap Mona, "Ya udah... Ayo Mon sekalian aja."

Mona mengangguk kecil. "Han, aku duluan ya!"

Hana melambaikan tangan pada suaminya. "Mas, hati-hati bawa mobilnya...."

Selepas kepergian dua orang yang paling dirinya percaya, kini langkah Hana di hadang Ibunya ketika akan masuk kamar. Wajah Bu Laksmi agak menyimpan cemas. "Han... Kamu kok biarin Dzaki anterin Mona? Seharusnya kamu biarin aja si Mona jalan kaki, orang rumahnya juga nggak jauh amat."

Hana tersenyum lembut. "Buk, aku percaya kok sama Mas Dzaki dan Mona. Nggak mungkin lah mereka berdua macem-macem. Orang Mas Dzaki juga udah kenal sama Mona dari dulu. Kalau pun iya mereka ada apa-apanya, pasti udah dari dulu lah...." Hana mengusap bahu Ibunya, "Udah ya, Bu... Nggak usah mikirin kemana-mana!"

Setelah itu, Hana masuk kedalam kamarnya begitu saja. Sementara Bu Laksmi, sebagai wanita yang lebih dulu mengenal asamnya hidup, dirinya hanya dapat berdoa, semoga keluarga putrinya selalu dalam lindungan.

7 hari telah berlalu, orang tua Hana juga sudah kembali ke kampungnya. Dan kini, hanya menyisakan dirinya dan sang suami saja. Dalih menenangkan, menghibur Istrinya, Dzaki malah berbuat sebaliknya. Ia sering keluar malam, pulang larut, dan selalu mengacuhkan Hana begitu saja.

Bahkan, Dzaki akhir-akhir ini jarang sekali pulang malam dengan alasan kena macet di jalan sehabis keluar kota.

Hana rasa, hampir mendekati 1 bulan itu, ia telah kehilangan sosok suaminya.

*****

 Pagi itu, Hana terbangun sambil meraba bantal suaminya yang masih kosong. Sudah 1 hari semalam ini, Dzaki tidak pernah pulang, alasanya selalu sama terjebak macet.

Semakin hari, perasaan Hana semakin tidak enak. Hana terbangun-menuju kamar mandi sekedar membasuh muka, barulah ia mengambil cardigan rajut, memakainya-lalu keluar dari kamar. Pagi ini Yogya memang agak dingin.

"Mas, kamu masih di jalan, ya? Nanti pulang 'kan? Kalau capek, ijin aja dulu sama kantor."

"Mas, aku masakin apa nanti?"

"Mas, kamu ini sebenarnya kemana sih?"

Disinilah, Hana terduduk diatas sofa dibawah lampu temaram di ruang tamu. Ia membuka gawainya, namun tidak satu pun pesanya dibaca oleh Dzaki. Padahal, suaminya itu baru saja online pukul tengah malam.

Pukul 06.00 pagi, Hana bangkit, ia tekan saklar lampu, lalu beranjak menuju dapur untuk membuat sarapan pagi. Ya, siapa tahu saja-Dzaki pagi ini akan pulang.

Setengah jam kemudian, menu kesukaan Dzaki sudah tersaji diatas meja makan. Tumis kangkung, sambal goreng udang, pelengkapnya hanyalah tempe goreng kriuk. Hana begitu puas menatap hasil olahan tanganya saat ini.

"Semoga aja Mas Dzaki nanti pulang," gumamnya penuh Harap.

Baru saja Hana akan masuk ke kamar mandi, tetiba ia mendengar suara mobil yang memasuki garasi rumahnya. Perasaan Hana menjadi lega, kala ia singkap tirai kordennya, dan ternyata Dzaki pagi ini sudah pulang.

Hana letakan handuk itu diatas kursi. Ia bergegas keluar untuk membukakan pintu suaminya.

Baru saja Dzaki akan mengetuk, namun pintu sudah terbuka terlebih dulu.

Ceklek!

"Mas Dzaki... Kamu pulang akhirnya," Hana sudah bersiap ingin memeluk suaminya, namun kedua tangan Dzaki menahan, menatap Hana dengan dahi berkerut dalam-hingga menelisik.

Dzaki menatap penampilan Istrinya yang hanya menggunakan daster rumahan saja, serta rambut di ikat kuda asal. Tatapan Dzaki pagi ini sukses membuat Hana merasa tak ada harga dirinya.

"Kamu itu bisa nggak sih, Han... Penampilan yang modis sedikit? Kaya Mona, kamu lihat 'kan temen kamu itu? Penampilanya enak di lihat!" cerca Dzaki menghempaskan tangan Istrinya.

Deg!

Hana terpaku. Batinya berisik, dan kenapa harus Mona yang menjadi pandangan mata suaminya.

Namun Hana masih mencoba menepis hal-hal negatif dalam pikiranya. Ia buru-buru masuk mengikuti suaminya. Tujuanya bermaksud menjelaskan.

"Mas, aku hanya belum mandi aja... Aku habis masak buat sarapan kita. Kamu makan, ya?" Hana mencoba memaksakan senyumnya, menggapai lengan Dzaki yang masih di selimuti rasa kesal.

Brak!

Handbag itu Dzaki hempaskan diatas meja, hingga membuat Hana melonjak kaget. Lalu, dengan gerakan cepat, Dzaki tarik lenganya dari tangan Hana.

"Aku selama ini udah tahan-tahan sama kamu, Han... Tapi, semakin hari penampilan kamu itu udah mirip ibi-ibu! Lihat, Mona!" sentak Dzaki menunjuk ke sembarang arah. "Dia bisa berpenampilan menarik! Nggak kaya kamu gini, gak enak dipandang! Bisa-bisa aku sakit mata kalau terus begini. Aku udah capek kerja pagi dari malam, tapi.... Arghhh!!!" geramnya.

Deg!

...----------------...

Assalamualaikum, jumpa lagi sama septi. Mohon dukungan kalian semua dalam cerita Hana ini. Macihhh🙏❤❤

Bab 2

Hana terdiam. Ucapan suaminya sukses menghantam d4dany pagi ini. Air matanya sudah menggenang dipelupuk. Dadanya kembang kempis terasa sesak.

Dengan suara bergetar, Hana berkata, "Mas... Nifas aja aku belum selesai, aku belum bisa merawat badanku lagi. Ini... Ini aku juga udah pakai korset, biar nanti perutku seperti dulu lagi," air mata itu juga ikut menetes berjatuhan. Hana masih mencoba tersenyum, "A-aku mandi dulu ya, Mas... Pasti aku bau ya, habis masak. Sebentar ya... Nanti kita sarapan sama-sama."

Dzaki bangkit dari duduknya. Tanpa mau menatap Hana ia manjawab, "Nggak usah! Aku nggak nafsu makan lihat kamu!" setelah itu dirinya masuk ke dalam begitu saja.

Hana menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Ia bahkan sampai membekap mulutnya agar isakannya dapat tertahan. Kenapa harus Mona yang menjadi alat ukur suaminya? Rasanya sulit sekali berpikir positif dalam keadaan seperti ini. Hana rasa, akhir-akhir ini pun Mona seakan menjauh dari dirinya.

Entahlah.

*

*

Hari demi hari berlalu, sikap Dzaki semakin menunjukan rasa bencinya melihat Hana. Meskipun Dzaki masih kerap pulang, namun kini pria itu lebih memilih tidur di kamar satunya, dari pada satu ranjang dengan Hana.

Hana semakin merasa terhina dengan sikap Suaminya itu. Bahkan, ia sampai bertanya-tanya, apakah karena perubahannya itu yang membuat Suaminya benci? Ataukah, karena kematian bayinya? Semua itu bagaikan daun yang tertiup angin, melayang tanpa jelas kemana jawabanya.

Pagi ini, Hana bangun terlebih dulu. Dengan semangat penuh, bergegas masuk dalam kamar mandi, cepat mandi, sedikit berdandan, dan mengenakan daster yang lebih baik.

Wanita cantik berusia 23 tahun itu berdiri didepan kaca, sudah rapi dan wangi. Senyum Hana terpancar bahagia. "Aku harus segera bangunin Mas Dzaki. Pasti dia akan senang kalau melihat aku udah cantik gini," gumanya sambil menelisik penampilanya di depan cermin.

Pukul 06.15 pagi, Hana sudah selesai dengan masakannya.

Setelah mencuci tangan, ia bergegas ke kamar sebelah untuk membagunkan suaminya. Senyum Hana sudah merekah, tanganya juga sudah siap menarik handle pintu.

Namun, senyum Hana tiba-tiba pudar, ketika ia mendengar suara Dzaki tengah bertukar suara dengan seorang wanita.

Deg!

Hana tepis semua rasa yang menghantam hati serta pikiranya. Entah dorongan dari mana, pikiran dan hatinya tertuju pada 'Mona' sahabatnya sendiri.

Sekuat apa batinya menolak, namun isi kepalanya lebih dulu bekerja, hingga Hana reflek mencari ponselnya untuk mencoba menghubungi sahabatnya itu.

"Nomor berada dalam panggilan lain!"

Hana tatap tulisan yang tertera dalam gawainya. Sahabatnya berarti saat ini juga sedang melakukan panggilan telfon entah dengan siapa.

"Nggak, nggak! Aku nggak boleh punya pikiran jelek kek gini. Nggak... Mona sahabatku, nggak mungkin dia tega berbuat itu dengan Mas Dzaki," Hana mencoba tersenyum getir. Namun nyatanya lagi-lagi air mata itu menetes.

Ia kembali menyimpan gawainya, dan beranjak lagi ke kamar sebelah.

Dan masih sama, Dzaki masih sibuk bertelfonan dengan wanita itu. Tapi, semakin Hana menghatamkan pendengarannya, entah kenapa suara itu sangat mirip sekali dengan sahabatnya-Mona.

Ditambah, suara-suara laknat dari kedua mulut yang saling bersahutan.

Hana sudah tak kuat, ia ayunkan tangnya pada handle pintu, dan ternyata pintu itu tak terkunci.

Deg!

"Ya Allah, Mas... Kamu ngapain kaya gitu?" Hana terisak sambil membekap mulutnya, ketika melihat suaminya sedang melakukan ejak*lasi didepan ponselnya.

Dan seketika suara wanita tadi menghilang.

Dzaki segera mengenakan boxernya lagi. Dirinya bangkit, menatap Hana dengan amarah yang siap meledak. "Sialan, aku sampe lupa mengunci pintu," geram batinya.

"MAS... KAMU HABIS VIDEO CALL SAMA SIAPA?" teriak Hana, tangisnya pecah. "Siapa wanita itu, Mas? Kenapa kamu sampai melakukan video mesum kaya gitu sama dia?! Ya Allah...." Hana sampai frustasi, menarik kuat rambutnya, bingung harus seperti apa mengekspresikan kecewanya.

Dzaki mendekat, dalam keadaan telanjang dada dengan boxer pendek itu, matanya terhunus tajam.

"Lancang sekali kamu masuk dalam kamarku, Hana! Sudah ku bilang, ketuk dulu-"

Hana mengusap kasar air matanya. Wajahnya terangkat lebih dekat, "Kenapa? Kenapa, ha? Aku nggak boleh masuk kamar suamiku sendiri? Jadi, selama ini kamu tidur sendiri biar bisa video call mesum sama gundikmu 'kan, Mas?" Bentak Hana tak kalah menajamkan matanya.

D4danya bergemuruh hebat, hingga nafasnya memburu.

Plak!

Wajah Hana terhempas, Dzaki dengan tega menamparnya. "Aku sudah muak hidup sama kamu! Lihat tubuhmu? Sama sekali nggak menarik lagi! Jadi, jangan salahkan aku jika cari pelampiasan di luar!"

Duar!

Hati Hana bagai tersambar petir pagi itu. Tangisanya berubah menjadi raungan. Dzaki berlalu keluar begitu saja. "Kamu tega, Mas... Kamu jahat...." suara Hana tercekat dalam tenggorokan saja.

Sementra di luar, Dzaki segera bersiap-siap mandi dan pergi ke kantor begitu saja.

Hana sudah keluar, ia terdiam, duduk di kursi sambil memandangi beberapa lauk masakannya yang selalu terabaikan, pada akhirnya dingin tertiup angin.

Tatapan Hana kosong, air matanya luruh. Dadanya kembali sesak, ucapan Dzaki kembali berputar dalam kepalanya. Jika sudah seperti ini, kepedihannya bertambah dua kali lipat.

Di sela isakannya, Hana mendengar suara motor berhenti memasuki garansinya. Hana bangkit, ia usap sisa air matanya, melihat sahabatnya-Mona datang sambil melepas helmnya.

"Han... Ada apa? Kok kaya habis nangis begitu?" Mona segera mendekat, Hana tersenyum getir diambang pintu, tengah menyambut.

Tak banyak jawaban, Hana hanya mengajak sahabatnya itu untuk masuk. Kedua wanita itu sudah duduk di sofa ruang tamu. Tak lupa, Mona membawakan oleh-oleh untuknya.

"Kamu habis dari Malang, Mon?" tanya Hana setelah melihat bingkisan keripik apel khas Kota Malang.

Mona mengangguk. "Iya, Han... Kan kemaren aku habis dari sana, aku diajakin jalan sama seseorang...." tawa kecilnya memecah suasana.

Hana juga ikut tersenyum, tatapanya masih melekat pada kalimat 'Kota Malang' yang tertera. Perasaan Hana mulai tak enak. Dua hari yang lalu, suaminya juga membuat story dalam Whatsaapnya, ketika pria berusia 28 tahun itu mengabadikan sebuah foto resort terbaru di malang.

"Apa semua ini hanya kebetulan aja, atau memang?" batin Hana menggantung, kala Mona mengusap lenganya.

Hana menoleh, "Han... Kenapa? Sepertinya kamu lagi sedih? Kamu ke inget bayi kamu, ya?" Mona mencoba bersimpati. Wanita berusia 25 tahun itu memeluk tubuh sahabatnya sejenak, mengusap lengan Hana, sambil berkata kembali. "Aku juga tahu kok, rasanya kehilangan itu seperti apa. Aku udah melewati semua itu."

Begitu Mona menarik tubuhnya, Hana masih bersikap tenang. Sorot matanya lebih dingin, namun sikapnya ia buat sehangat mungkin.

"Makasih ya, Mon... Aku udah mengikhlaskan anak aku kok! Tapi...."

"Tapi, apa?" sela Mona menatap serius.

Hana menarik napas dalam, "Tapi ini bukan tentang bayiku... Tapi, Mas Dzaki!"

Uhuk-uhuk!

Bab 3

Mona tetiba tersedak, ketika minum air pada kemasan gelas yang selalu Hana siapkan diatas meja tamu.

Hana terkejut, "Mon, kamu nggak papa 'kan? Kok bisa keselek gini sih," cemasnya sambil menyamar tisu untuk dirinya berikan pada sahabatnya itu.

Mona memaksakan senyumnya. "Itu, tenggorokan aku gatel rasanya, Han...."

"O ya, Mon... Kamu akhir-akhir ini sibuk banget, ya... Sampai nggak respon aku telfon?"

Mona menelan ludahnya. Hatinya merasa was-was, entah kenapa tetiba dirinya berkeringat dingin. "O-o, itu... Kan kamu tahu sendiri Han, aku harus ke sana kesini, ikut Bosku keluar kota. Maaf ya," ucapnya menampakan wajah melas.

Hana mencoba memahami itu semua. Sudah hampir 10 tahun berteman baik dengan Mona, tapi baru kali ini Hana merasa ada sesuatu yang sahabatnya sembunyikan.

"Oh ya, kamu tadi 'kan bilang, kamu kemaren diajakin seseorang pergi ke luar kota. Emangnya siapa sih... Syukurlah kamu udah bisa move on dari Mas Sakti, Mon...." Hana juga ikut merasa bahagia.

Mona tersenyum, "Aku belum bisa kasih tahu, Han... Aku takut kalau dia juga tinggalin aku tanpa sebab. Jadi, nanti aja ya... Setelah kita resmi, kamu juga bakal tahu kok siapa orangnya."

Hana mengangguk, merasa lega akhirnya sahabatnya itu menemukan tambatan hatinya kembali.

"Oh ya, Han... Aku mau pulang dulu ya. Soalnya aku nanti mau ada acara, karena calon suamiku ada kenaikan jabatan," pamitnya.

Melepaskan sahabatnya pulang, Hana kembali dilanda sepi dalam hidupnya. Ia masuk kedalam sambil membawa bingkisan dari Mona tadi.

Setelah Mona pulang, tepatnya pukul 11.00 siang.

Hana iseng sekedar membuka gawainya, melihat sosial medianya untuk menghilangkan kesepian dalam hidupnya. Di perumahan yang ia tinggali, tidak seperti di desanya, yang dimana Hana dapat merasa tenang sering mendapat dukungan.

Di Yogjakarta, tepatnya di kotanya, apalagi tinggal di perumahan, semua orang di sibukan dengan aktivitasnya masing-masing.

"Selamat Pak Dzaki, atas naiknya jabatan Anda sebagai Direktur!" ucap salah satu rekan Dzaki, ketika acara tadi di liput berita tv nasional.

Memandang dari jarak jauh saja Hana sudah merasa bahagia, meskipun ia tidak di libatkan dalam hal apapun yang menyangkut pekerjaan suaminya.

"Kok bisa kebetulan sama pacarnya Mona, ya?" pikiran negatif kembali muncul dalam benaknya. Sebagai Istri, Hana merasa semua kebetulan-kebetulan itu memang seolah terjadi bukan tanpa sebab.

Tapi, entahlah!

*

*

Sementara di kantor,

Dzaki kini berdiri dengan senyum mengembang didepan beberapa sorot kamera yang mengabadikan hal penting dalam hidupnya kini.

"Saya ucapkan terimakasih untuk Pak Hardi yang sudah mempercayakan semua ini kepasa saya. Dan, tanpa dukungan kalian semua, saya juga tidak akan sampai di titik puncak seperti saat ini. Sekali lagi terimakasih," ucap Dzaki mengakhiri acaranya. Pria itu sampai tega tidak menyebut nama Istrinya, padahal pencapaiannya itu tak lepas dari doa dan perjuangan sang Istri.

Setelah acara, Dzaki segera bergegas masuk kedalam ruangan barunya sebagai seorang Direktur.

Ceklek!

Wajah tampannya semakin berbinar melihat ruangan luas nan mewah itu. Dengan segera, Dzaki duduk sambil mengeluarkan gawainya.

Pria itu melakukan panggilan video, hingga beberapa detik itu panggilannya sudah terhubung.

"Hallo, Sayang... Kamu siap-siap ya, nanti aku jemput. Ini semua pasti berkat dukungan dari kamu juga, yang udah buat hidupku jadi semangat," ucap Dzaki tersenyum lembut menatap layar gawainya.

Wanita disebrang juga ikut tersenyum. "Iya, Mas... Aku tunggu ya! O ya, nanti malam kita jadi 'kan ke resort baru temenku di Jakarta?"

"Iya, jadi dong sayang... Kebetulan besuk 2 hari aku dapet cuti. Apa sih yang nggak buat cantiku ini," gemas Dzaki.

Ternyata, wanita disebrang bukanlah Hana-Istrinya. Entah siapa, yang jelas Dzaki begitu tega menghianati Istrinya dalam keterpurukan yang Hana jalani kini.

Begitu panggilan kepada wanita tadi berakhir, kini panggilan dari Hana masuk dalam gawainya.

"Ck!" decaknya merasa malas. Dzaki langsung saja menggeser tombol hijau, membuka suara tak berselera. "Ada apa, Han?"

"Mas... Selamat ya! Aku ikut seneng banget kamu akhirnya naik jabatan," ucap Hana. Suaranya menyirat rasa kebahagiaan yang begitu dalam. Sebagai sang Istri yang menemani perjalanan hidup Dzaki dari nol, seolah semua lelahnya terbayarkan dengan semestinya.

Disebrang, Hana tersenyum lembut, berjalan keluar dan kini duduk di teras. Meskipun ia mendengar helaan napas berat dari suaminya, hal itu tak akan mengurangi rasa syukurnya pada Tuhan.

"Iya lah, ini semua berkat kerja kerasku! Kamu tau apa selain meminta?" cetus Dzaki tersenyum sengit.

Dada Hana terasa sesak mendengar jawaban Dzaki. Namun, ia tidak ingin merusak hari bahagia suaminya. Jadi, ia beri candaan sedikit, agar dapat memecah suasana.

"Mas... Bukanya dulu kamu yang minta aku risen dari kerjaanku. Kalau bukan minta sama kamu, minta sama siapa lagi," jawabnya sambil tertawa getir.

Lagi-lagi Dzaki menghela napas berat. "Sudahlah, Hana... Kerjaanku itu banyak, kamu ini cuma bisa bikin pusing aja."

"Eh, Mas... Nanti mau aku masakin buat makan malam apa? Sebentar-sebentar, atau... Bagaimana kalau aku buatkan nasi kuning sebagai bentuk rasa syukur atas naiknya jabatan kamu... Gimana, Mas?"

Dzaki kembali berdecak, "Ck! Kamu itu kampungan banget! Udah, aku nanti malam ada acara sama temen-temenku! Aku udah boking resort buat mereka."

Deg!

Hana menelan getir ludahnya. Namun, meksipun sejak tadi dadanya terasa sesak. Ia masih tetap tersenyum, "Mas... Nanti kamu ajakin aku 'kan?"

"Ngajakin kamu? Yang ada, mau aku taruh mana mukaku, Hana! Istri temen kantorku aja pada bening, kinclong! Sedangkan kamu, habis melahirkan tubuhmu sudah mirip anakan kuda nil!" cercanya lagi.

Ucapan Dzaki begitu pedas hingga bukan matanya saja yang berair, tapi hatinya terasa panas dan berdarah.

Pangilan itu terputus dengan semestinya.

Hana yang sudah terlalu sering merasakan sakit, kini hanya mampu tertawa hambar. Seolah hati kecil berbisik, 'Ini rumah tangga kaya apa sih? Aku nggak salah denger 'kan? Suamiku sendiri bilang aku kayak anakan kuda nil? Ya Allah, tega sekali Mas Dzaki....'

Padahal, sejak dulu, mengandung, bahkan sampai melahirkan, berat badan Hana hanya stuck di angka 50. Tapi akhir-akhir ini, berat badanya itu turun drastis hanya bekisar 45 kg.

"Mas Dzaki buta atau gimana sih? Aku kurus kering kaya gini, dibilang kaya anakan kuda nil. Hanya karena perutku yang masih gelambir kaya gini. Tapi, ini 'kan memang selesai melahirkan. Masa nifas aja belun selesai," gumam Hana seolah ia kini tengah bebicara pada ari-arinya.

Malam harinya pukul 23.15 wib.

Dan benar saja, malam ini Dzaki tidak pulang. Hana sejak tadi mondar mandir di ruang tamu, menggenggam gawainya, dan sesekali menyibak korden ketika ada deru mobil lewat.

"Mas Dzaki nggak jadi pulang ternyata? Dia kemana sih?" Hana sibuk dengan pikiranya.

Karena sudah lelah, ia terduduk lesu diatas sofa, membuka Whatsaapnya, story Dzaki menyebutkan "Party in Jakarta" dan mengabadikan potret resort mewah di pinggir pantai dengan lampu temaram indah.

"Mas Dzaki ke jakarta? Ya Allah, dia pergi sama siapa ke Jakarta?" tiba-tiba saja perasaan Hana mendadak kalut.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!