Indonesia
NovelToon NovelToon

Dicerai Saat Mengandung

Jebakan licik

Malam itu, apartemen mewah di pusat kota Jakarta dihiasi cahaya temaram. Hana menatap kalender digital di ponselnya dengan senyum merekah. Dua tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk mempertahankan cinta di tengah badai ketidaksukaan ibu mertuanya.

Sebuah paket tiba di depan pintu. Tanpa curiga, Hana membawanya masuk. "Pasti dari Mas Cakra," gumamnya senang. Ia segera membukanya. Di dalam kotak beludru sedang itu, terdapat sebuah lilin aromaterapi dengan wadah kaca yang cantik. Begitu sumbunya dinyalakan, aroma lavender yang sangat kuat namun menyegarkan langsung memenuhi indra penciumannya.

Namun, hanya dalam hitungan menit, dunia Hana mulai berputar. Pandangannya mengabur, detak jantungnya melambat, dan rasa pening yang hebat menyerang kepalanya. Sebelum ia sempat mematikan api lilin itu, tubuhnya ambruk, tak sadarkan diri di atas lantai dingin sebelum kemudian semuanya menjadi gelap.

Tiga puluh menit kemudian, Cakra melangkah tegap di lorong apartemen. Di tangan kanannya ada sebuket mawar putih, bunga favorit Hana dan di saku jasnya tersimpan kotak perhiasan mahal. Ia ingin menebus rasa bersalahnya karena tidak mengangkat telepon Hana seharian.

Saat pintu terbuka, keheningan menyambutnya. "Hana? Sayang?"

Langkahnya terhenti. Matanya tertuju pada rak sepatu. Ada sepasang sepatu pria yang tertata rapi. Bukan miliknya. Amarah mulai membakar dadanya. Isu miring tentang kedekatan Hana dengan Riko, sepupunya, yang selama ini ia tepis, mendadak berputar di kepalanya seperti kaset yang rusak.

Cakra mempercepat langkah menuju kamar utama. Saat pintu terbuka, dunianya runtuh. Di atas ranjang mereka, Hana dan Riko terbaring diam di bawah satu selimut tebal yang sama.

"DASAR BRENGSEK KAU RIKO! KAU... BERANI BERSELINGKUH DENGAN ISTRIKU!"

Suara Cakra menggelegar. Ia menarik Riko dan menghajarnya membabi buta. Hana tersentak bangun, matanya mengerjap linglung melihat kekacauan di depannya. Ia menyadari dirinya hanya terbalut selimut, berdampingan dengan pria lain. Hana berteriak histeris, suaranya parau oleh ketakutan.

"Mas Cakra... Ini tidak seperti yang kamu lihat, aku... Aku dijebak, Mas!" Hana berusaha bangkit, namun tubuhnya masih lemas luar biasa.

Cakra menoleh, tatapannya penuh kebencian dan rasa jijik yang mendalam. "Enyahlah kau dari sini, dasar wanita jal*ng, wanita pel*cur...!"

"Mas, tolong dengarkan aku dulu!" Hana mencoba meraih tangan suaminya dengan sisa tenaga yang ada.

PLAK!

Cakra menepis tangan Hana dengan kasar hingga wanita itu tersungkur ke lantai.

Di tengah kemelut itu, pintu kamar terbuka lebar. Nyonya Inggit masuk bersama Jesika, wanita yang sejak dulu dijodohkan dengan Cakra.

"Ya ampun, ada apa ini?" ucap Nyonya Inggit dengan nada terkejut yang dibuat-buat, meski matanya berkilat puas. "Cakra, jadi ini alasan istrimu bersikeras pindah dari rumah Mama? Supaya bisa bebas berzina?"

Hana hanya bisa menunduk, air matanya tumpah membasahi lantai. Ia ingat ancaman ibu mertuanya setahun lalu: 'Aku akan menghancurkan mu sampai Cakra sendiri yang membuang mu ke tempat sampah.' Dan malam ini, sumpah itu menjadi nyata.

Hana meremas perutnya yang masih terasa mual. Di balik kehancuran ini, ada satu rahasia yang ia simpan rapat sebagai kado anniversary malam ini. Ia baru saja akan menunjukkan hasil tes kehamilan yang telah ia tunggu selama dua tahun. Namun kini, kado terindah itu terkubur di bawah puing-puing fitnah yang sempurna.

Nyonya Inggit melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya seolah mencekik udara yang sudah terasa berat. Ia menatap Hana dengan sudut mata merendahkan, lalu beralih menyentuh bahu Cakra yang masih gemetar karena amarah.

"Lihatlah, Cakra. Inikah wanita yang kamu bela mati-matian di depan Mama?" suara Nyonya Inggit terdengar prihatin, namun penuh racun. "Wanita kalau sudah berani membawa pria lain ke atas ranjang suaminya, tidak akan pernah bisa berubah. Tidak ada maaf untuk pengkhianatan sekeji ini. Dia sudah menginjak-injak harga dirimu sebagai laki-laki!"

'Matilah kau Hana, wanita rendahan seperti mu tidak pantas menjadi menantu keluarga Ardiwinata, sekarang kau akan menjadi sampah, bersiaplah Putraku menendang mu dari kehidupannya.' batinnya puas

Jesika menimpali dengan nada lembut yang dibuat-buat, "Sabar, Tante. Mungkin Hana hanya... khilaf. Tapi memang sulit dipercaya, di hari anniversary kalian, dia justru bersama Riko."

Riko menyeringai licik, ia pun sangat puas karena rencananya telah berhasil.

'Coba kau dulu tidak menolak ku Hana, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi, dan aku sengaja mendekati mu agar Cakra percaya kalau kita memiliki hubungan yang spesial.' ucapnya dalam hati.

Cakra, yang logikanya sudah lumpuh oleh ledakan emosi dan provokasi ibunya, menatap Hana dengan tatapan yang lebih dingin dari es. Rasa cinta yang selama dua tahun ia pupuk, mendadak layu dan membusuk menjadi kebencian yang amat sangat.

"Hana Zakiyah," suara Cakra rendah, namun bergetar hebat. "Mulai malam ini aku ceraikan kamu, dan sekarang kau bukan lagi istriku!"

"Mas! Jangan, Mas!" teriak Hana histeris, mencoba menggapai kaki Cakra.

Namun Cakra menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotor itu! Aku tak sudi melihat wajahmu lagi!"

Cakra berbalik, melangkah lebar meninggalkan kamar tanpa menoleh sedikit pun. Nyonya Inggit dan Jesika saling melempar senyum kemenangan yang tipis sebelum akhirnya mengikuti langkah Cakra keluar dari apartemen itu.

Apartemen yang tadinya disiapkan untuk perayaan cinta, kini menjadi saksi bisu hancurnya sebuah martabat. Hana jatuh terduduk di atas lantai, tubuhnya bergetar hebat karena tangis yang tak lagi bersuara. Ia menatap lilin aromaterapi yang kini sudah padam di atas meja nakas, bukti bisu yang mungkin tidak akan pernah dipercayai oleh siapa pun saat ini.

Ia teringat betapa keras usahanya membujuk Cakra pindah demi menghindari "neraka" di rumah mertuanya, namun ternyata iblis itu tetap bisa menjangkaunya di sini.

Perlahan, Hana menghapus air matanya dengan kasar. Rasa sakit di hatinya perlahan mengeras menjadi batu karang yang dingin. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih.

"Cukup..." bisiknya pada kesunyian.

Hana bangkit berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak akan lagi memohon. Jika pria yang ia sebut suami lebih memilih percaya pada sandiwara busuk ibunya daripada kesetiaan istrinya, maka pria itu tidak layak mendapatkan dirinya, apalagi masa depan mereka.

Hana mengusap perutnya yang masih rata, tempat di mana sebuah kehidupan baru, baru saja dimulai. Sebuah kado yang seharusnya membawa tawa, kini menjadi alasan baginya untuk menjadi kuat dan kejam.

"Mas Cakra, kau akan menyesali semua keputusanmu ini," desis Hana dengan tatapan mata yang kini berubah tajam dan penuh dendam. "Akan kubawa pergi buah cinta kita, seorang anak yang selama ini sangat kau dambakan. Jangan pernah berharap kau bisa melihatnya, bahkan untuk sedetik pun di sisa hidupmu."

Malam itu, Hana tidak meninggalkan apartemen sebagai wanita yang kalah. Ia pergi sebagai wanita yang telah mati rasa, siap untuk merancang pembalasannya sendiri.

Bersambung...

Kenyataan yang pahit

Di sebuah bar mewah dengan pencahayaan remang dan aroma alkohol yang menyengat, Cakra duduk di sudut ruangan. Botol whisky di depannya sudah hampir kosong setengahnya. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena rasa dikhianati yang membakar dadanya.

"Brengsek!" umpat Cakra seraya membanting sloki kosongnya ke meja. "Dua tahun, Hana... Dua tahun aku menjadikanmu ratu, tapi kau malah memilih menjadi sampah!"

Ia tertawa getir, tawa yang terdengar seperti rintihan. Di otaknya, bayangan Hana yang berantakan di atas ranjang bersama Riko terus berputar seperti kaset rusak. Ia tidak tahu bahwa itu adalah dekorasi busuk oleh ibunya sendiri.

"Ternyata benar kata Mamah. Kamu hanya menginginkan hartaku, dan saat aku lengah, kamu mencari kepuasan lain," racaunya sendiri. Ia kembali menuang minuman, mencoba menenggelamkan bayangan wajah Hana yang menangis tersedu tadi. Namun, semakin ia minum, semakin rasa sakit itu mencengkeramnya.

Sementara itu, di sebuah rumah sederhana namun asri, suasana terasa jauh lebih tenang namun mencekam oleh kesedihan. Hana duduk di sofa ruang tamu Evi, menggenggam gelas air putih yang sudah mendingin.

"Aku benar-benar tidak habis pikir, Han," ucap Evi dengan nada gemetar karena menahan amarah. "Nyonya Inggit itu bukan manusia, dia iblis berwajah sosialita! Dan Cakra... bagaimana bisa laki-laki yang terlihat sangat mencintaimu itu mendadak buta dan tuli?"

Hana menyeka sisa air mata di pipinya. Tatapannya yang tadi kosong kini mulai menajam. "Mas Cakra tidak pernah benar-benar mencintaiku, Vi. Dia hanya mencintai citra diriku yang patuh. Begitu Mamah nya meniupkan racun, cintanya langsung berubah menjadi debu."

Hana mengusap perutnya dengan gerakan protektif. "Tapi aku bersyukur. Tuhan menunjukkan wajah asli mereka sekarang, sebelum anak ini lahir dan harus melihat ibunya dihina setiap hari."

"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Evi lembut, tangannya mengusap bahu sahabatnya. "Kamu tahu kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau, Han."

Hana menggeleng pelan, sebuah senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya. "Terima kasih, Vi. Tapi aku tidak bisa terus di sini. Jika Nyonya Inggit tahu aku bersamamu, dia akan memburuku dan memastikan aku benar-benar hancur. Aku harus menghilang."

"Menghilang? Maksudmu?"

"Aku akan pergi ke kota kelahiran Ibuku. Aku punya tabungan rahasia yang selama ini ku pendam untuk keadaan darurat. Aku akan membangun hidup baru di sana. Hana yang lemah sudah mati di apartemen itu malam tadi."

Hana menatap Evi dengan mata yang tak lagi mengeluarkan air mata.

"Vi, berjanjilah padaku satu hal. Jika suatu saat Mas Cakra atau keluarganya mencariku, walaupun itu mustahil, tapi katakanlah pada mereka bahwa Hana Zakiyah sudah mati. Jangan pernah biarkan mereka tahu tentang anak ini. Dia adalah milikku sepenuhnya. Darah dagingku, bukan bagian dari keluarga terkutuk itu."

Evi memeluk Hana erat, ikut merasakan tekad baja yang kini menyelimuti sahabatnya. Di luar, hujan mulai turun, seolah ikut membasuh jejak masa lalu Hana yang kelam.

.

.

Keesokan paginya, matahari merayap masuk melalui celah gorden kamar tamu di rumah Evi. Hana terbangun dengan mata yang terasa bengkak dan berat. Namun, ada yang berbeda. Getaran hebat di tubuhnya semalam telah berganti menjadi ketenangan yang menakutkan, seperti permukaan laut yang tenang sebelum badai besar tiba.

Di sisi lain kota, di sebuah bar yang mulai sepi dan berbau alkohol basi, Cakra terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Ia meringis, mencoba mengingat potongan kejadian semalam. Bayangan Hana yang bersimpuh di kakinya melintas, namun segera ia tepis dengan rasa muak yang kembali membuncah.

"Sialan," umpat Cakra seraya merogoh ponselnya. Ada belasan panggilan tak terjawab dari ibunya.

Ia kembali meneguk sisa air mineral di meja sebelum bangkit dengan langkah gontai. Di benaknya, hanya ada satu tekad, yakni menghapus segala hal tentang Hana dari hidupnya. Ia tidak tahu, bahwa di saat yang sama, Hana sedang merencanakan hal yang jauh lebih besar.

Rumah Evi

Hana duduk di meja makan, menatap piring sarapan yang disediakan Evi tanpa selera. Evi memperhatikan sahabatnya itu dengan cemas.

"Makanlah sedikit, Han. Demi bayi di perutmu. Kamu butuh energi untuk menyusun rencana selanjutnya," ujar Evi lembut.

Hana mengangkat wajahnya. Matanya kini tajam, tak ada lagi sisa keraguan. "Aku tidak akan tinggal di kota ini, Vi. Aku harus pergi jauh. Mas Cakra punya segalanya; uang, kekuasaan, dan pengaruh ibunya. Kalau aku tetap di sini, mereka akan dengan mudah menemukanku jika suatu saat mereka berubah pikiran atau sekadar ingin menghinaku lagi."

Evi mengangguk setuju. "Lalu Apa kamu sudah mantap dengan keputusan mu itu Han, kau benar-benar punya tabungan?" tanya Evi ragu dan untuk kembali memastikan.

Hana mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Di dalamnya terdapat beberapa perhiasan peninggalan ibunya dan buku tabungan rahasia yang selama ini ia sisihkan dari uang belanja.

"Ibu dulu berpesan, 'Simpanlah sesuatu untuk dirimu sendiri, karena kamu tidak pernah tahu kapan duniamu akan runtuh'. Ternyata Ibu benar," ucap Hana dengan senyum getir. "Aku akan ke kota kelahiran Ibu di pelosok Jawa Timur. Di sana ada rumah tua peninggalan kakek yang masih atas nama Ibu. Mas Cakra tidak tahu tempat itu."

"Tapi Han, di sana kamu sendirian..."

"Aku tidak sendiri, Vi. Aku punya dia," Hana mengusap perutnya. "Dan aku punya dendam yang akan menjagaku tetap hidup."

Di Apartemen

Cakra tiba di apartemen dengan emosi yang masih meluap. Ia berniat mengusir Hana secara paksa jika wanita itu masih berani menampakkan diri. Namun, saat pintu terbuka, kesunyian menyambutnya.

Apartemen itu rapi. Terlalu rapi. Kamar utama kosong. Lemari pakaian Hana terbuka, hanya menyisakan gantungan baju yang bergoyang tertiup angin dari jendela yang terbuka. Tidak ada surat, tidak ada pesan, bahkan foto pernikahan mereka di atas nakas sudah hancur berkeping-keping di dalam tempat sampah.

"Baguslah kalau dia tahu diri," gumam Cakra, mencoba meyakinkan hatinya yang tiba-tiba merasa sesak.

Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah kotak kecil yang tergeletak di atas meja makan. Di sampingnya ada kunci apartemen. Cakra membukanya. Isinya adalah cincin kawin mereka dan selembar hasil tes laboratorium yang terlipat rapi.

Cakra mengerutkan kening. Ia membuka lipatan kertas itu.

Hasil Laboratorium: POSITIF (HCG)

Usia Kandungan: 6 Minggu

Darah di sekujur tubuh Cakra seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. "Hamil? Hana... hamil?"

Ponselnya berdering. Nama 'Mamah' muncul di layar. Cakra mengangkatnya dengan tangan gemetar.

"Cakra, sayang? Kamu sudah urus perceraiannya? Mamah sudah siapkan pengacara terbaik agar wanita itu tidak dapat sepeser pun harta kamu," suara Nyonya Inggit terdengar riang di seberang sana.

Cakra menatap kertas di tangannya, lalu menatap lemari yang kosong melompong. Hana pergi. Dan dia membawa pergi satu hal yang paling didambakan Cakra selama dua tahun ini, yaitu seorang ahli waris.

"Dia sudah pergi, Mah," bisik Cakra parau.

"Bagus! Biarkan dia pergi ke selokan tempat asalnya!"

"Dia pergi... membawa anakku, Mah."

Hening di seberang telepon. Cakra meremas kertas itu hingga lecek. Rasa kemenangan yang dirasakan Nyonya Inggit semalam mendadak berubah menjadi kepanikan. Namun bagi Hana, ini barulah awal dari sebuah perjalanan panjang untuk menunjukkan pada mereka, bahwa kasta rendah yang mereka injak bisa menjadi badai yang menghancurkan istana mereka.

Bersambung...

Mencari Hana

Langkah kaki Cakra yang biasanya tegap dan penuh otoritas, kini terasa limbung saat ia berlari menuju mobilnya. Deru mesin mobil sport nya membelah kemacetan Jakarta dengan brutal. Di kepalanya hanya ada satu nama: Hana. Kertas hasil laboratorium yang sudah lecek itu ia cengkeram erat, seolah-olah itu adalah satu-satunya nyawa yang tersisa baginya.

"Sial! Kenapa kamu tidak bilang, Han?!" raungnya di dalam mobil, memukul kemudi dengan frustrasi.

Stasiun Gambir

Sementara itu, suasana di peron stasiun terasa dingin meski matahari mulai meninggi. Evi memeluk Hana erat-erat, matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya yang kini tampak begitu rapuh namun sekaligus kokoh seperti batu karang.

"Keretanya sebentar lagi berangkat, Han. Kamu yakin tidak mau aku temani sampai Banyuwangi?" tanya Evi cemas.

Hana menggeleng pelan, senyumnya tipis namun penuh tekad. "Tidak, Vi. Kamu sudah melakukan terlalu banyak. Kamu harus segera pergi dari rumahmu, entah kenapa firasat ku mengatakan bahwa Mas Cakra pasti akan ke sana. Jangan biarkan dia tahu apa pun."

'aku lupa mengambil kembali hasil laboratorium kehamilan yang aku letakkan di atas meja makan, pasti Mas Cakra sudah tahu soal kehamilan ku, kenapa aku begitu ceroboh!' batinnya menyesal.

"Hati-hati, Han. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah kakekmu," bisik Evi.

Hana mengangguk, ia melangkah masuk ke gerbong eksekutif. Saat kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Jakarta, Hana menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela.

'Selamat tinggal, Mas Cakra. Selamat tinggal, penderitaan, batinnya.

Mansion Ardiwinata

Di sudut ruang tengah mansion yang megah, Nyonya Inggit berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat. Kabar tentang kehamilan Hana adalah bencana bagi rencananya. Di sampingnya, Jesika duduk dengan senyum miring yang licik.

"Tenang saja, Tante. Mas Cakra itu sedang emosional. Kita hanya perlu memberinya 'fakta' baru," bisik Jesika, lalu mendekat ke telinga Nyonya Inggit. "Katakan saja pada Mas Cakra kalau Hana sering bertemu laki-laki lain saat Mas Cakra lembur. Buat dia ragu kalau itu anaknya. Toh, mereka sudah bercerai, kan?"

Nyonya Inggit menyeringai. "Kamu benar, Jes. Aku tidak akan membiarkan anak dari kasta rendah itu masuk ke silsilah keluarga Ardiwinata."

Tanpa mereka sadari, di balik pintu perpustakaan yang sedikit terbuka, Tuan Ardiwinata duduk di kursi rodanya. Tangannya yang gemetar meremas sandaran kursi. Matanya memerah menahan amarah dan kesedihan.

'Hana... menantuku yang malang, batin Tuan Ardiwinata.

Ia ingat bagaimana Hana dengan sabar menyuapinya dan membacakan buku setiap pagi, hal yang bahkan tidak pernah dilakukan istri atau anaknya sendiri. Namun, lidahnya seolah kelu, dan tubuhnya yang lumpuh membuatnya tidak berdaya melawan tirani istrinya sendiri.

Satu jam kemudian, Cakra tiba di depan rumah Evi. Ia menggedor pintu kayu itu dengan kalap.

"Evi! Buka pintunya! Aku tahu Hana ada di dalam!" teriak Cakra.

Hening. Tidak ada jawaban. Cakra mencoba mengintip dari jendela, namun gorden tertutup rapat. Ia segera menghubungi anak buahnya melalui ponsel.

"Cari keberadaan Evi dan Hana! Periksa seluruh jadwal penerbangan, Sekarang!" perintahnya dengan suara menggelegar.

Namun, Evi sudah bergerak lebih cerdik. Mengetahui suaminya sedang dinas luar kota, ia telah mengunci rumahnya dan mengungsi ke rumah saudaranya di pinggiran kota yang tak pernah diketahui oleh lingkaran pertemanan Cakra.

Malam semakin larut di kota Jakarta, namun Cakra masih terpaku di meja kerjanya yang berantakan. Laporan dari anak buahnya nihil. Hana seolah menguap ditelan bumi. Tidak ada manifes penerbangan atas namanya, karena Hana sengaja menggunakan kereta api, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Cakra yang terbiasa dengan kemewahan.

Cakra menatap foto pernikahan mereka yang sudah hancur, yang ia ambil dari tempat sampah apartemen tadi siang. Ia mencoba menyatukan sobekan wajah Hana yang tersenyum tulus di foto itu.

"Kenapa aku baru merasa kehilangan sekarang?" bisiknya parau. Penyesalan itu datang seperti ombak besar yang menenggelamkannya. Ia telah membuang wanita yang mencintainya, tepat di saat wanita itu membawa anugerah yang selama ini ia doakan.

Di saat yang sama, di dalam kegelapan gerbong kereta yang melaju membelah malam menuju Jawa Timur, Hana mengelus perutnya yang masih rata. Ia menatap kegelapan di luar jendela dengan pandangan kosong.

"Kita akan baik-baik saja, Sayang," bisik Hana lirih. "Ayahmu mengira dia telah memenangkan segalanya, tapi dia tidak tahu bahwa dia baru saja kehilangan dunianya."

.

.

Langkah Cakra terseret saat memasuki lobi Mansion Ardiwinata yang megah. Lampu kristal yang bersinar terang biasanya memberikan kesan hangat, namun malam ini, cahaya itu terasa menusuk matanya.

Nyonya Inggit yang sudah menunggu di ruang tengah segera berdiri, wajahnya dipasang seolah-olah penuh simpati. Di sampingnya, Jesika masih setia menemani, memegang secangkir teh hangat yang aromanya memenuhi ruangan.

"Cakra, akhirnya kamu pulang, Sayang. Sudahlah, jangan cari dia lagi," ujar Nyonya Inggit seraya mendekat dan mencoba menyentuh bahu putranya. "Soal hasil laboratorium itu... kamu jangan naif. Hana itu licik. Siapa yang bisa menjamin itu anakmu? Kamu sendiri yang melihat dia di apartemen dengan Riko, kan? Bukan cuma Riko, mungkin saja dengan laki-laki lainnya. Mama dengar dari pelayan, dia sering keluar malam saat kamu di kantor."

Cakra berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. Rahangnya mengeras. Setiap kata yang keluar dari mulut ibunya terasa seperti racun yang mencoba membunuh sisa-sisa nuraninya. Namun, di dalam hati kecilnya, bayangan mata Hana yang menangis tersedu saat bersimpuh di kakinya terus menghantui. Hati kecilnya berteriak bahwa Hana tidak mungkin berkhianat.

"Sudah cukup, Mah. Aku lelah dan ingin istirahat!" potong Cakra dengan suara rendah namun tajam. Ia tidak ingin berdebat, tenaganya sudah habis terkuras oleh rasa penyesalan yang mulai menggerogoti.

Saat Cakra membalikkan badan menuju tangga, suara decit kursi roda terdengar dari arah lorong gelap. Tuan Ardiwinata muncul, wajahnya yang biasanya pucat kini tampak penuh dengan ketegasan yang sudah lama tidak terlihat.

"Cakra, putraku... Berhenti," panggil Tuan Ardiwinata dengan suara serak.

Nyonya Inggit terperanjat. "Mas? Kenapa kamu belum tidur? Ini urusan anak muda, jangan ikut campur!"

Tuan Ardiwinata mengabaikan istrinya. Ia memberi isyarat agar Cakra mendekat. "Jangan pernah kau percaya dengan perkataan dari ibumu, Cakra. Hana bukanlah wanita seperti itu. Dia adalah wanita baik-baik dan terhormat."

Cakra terpaku, ia berlutut di depan kursi roda ayahnya.

"Kau tahu bagaimana istrimu merawat Papah selama ini," lanjut Tuan Ardiwinata dengan mata berkaca-kaca. "Kalau saja ibumu tidak terus-menerus merendahkannya dan memperlakukannya tidak manusiawi, mungkin Hana betah tinggal di sini. Bagi istrimu, mansion ini sudah seperti neraka untuknya."

Cakra tertegun. "Maksud Papah?"

"Asal kau tahu, Papah lah yang mengusulkan Hana untuk pindah dari sini. Papah tidak tega melihatnya terus tersiksa. Mungkin selama ini Hana tidak pernah cerita padamu, Cakra... Tapi Papah melihat semua perlakuan ibumu dengan mata kepala Papah sendiri. Maafkan Papah karena baru mengatakan semua kenyataan pahit ini sekarang. Hana-lah yang melarang Papah bicara; ia tidak mau kau membenci ibumu sendiri."

Kalimat itu bagai petir yang menyambar kesadaran Cakra. Ia menoleh ke arah Nyonya Inggit yang kini mematung dengan wajah pucat pasi. Segala kepingan puzzle mulai menyatu di benak Cakra. Kebaikan Hana, kesabarannya, dan kepergiannya yang mendadak, semuanya karena ia telah gagal menjadi pelindung bagi istrinya sendiri.

Cakra kembali menatap ayahnya, lalu menggenggam kuat tangan pria tua itu. "Terima kasih atas semua infonya, Pah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."

Dalam benaknya, nama Riko muncul sebagai kunci utama. Kejadian di apartemen itu terlalu janggal. Ia harus menemukan bajingan itu dan memeras kebenaran dari mulutnya, apa pun caranya.

Banyuwangi, Jawa Timur

Di saat yang sama, ribuan kilometer dari hiruk-pikuk Jakarta, Hana melangkah pelan memasuki sebuah rumah tua dengan dinding kayu yang masih kokoh. Bau tanah basah dan aroma kayu jati menyambutnya. Rumah peninggalan kakeknya itu terasa dingin, namun bagi Hana, inilah tempat paling aman di dunia.

Ia meletakkan tasnya di atas balai-balai kayu. Di dinding, masih tergantung foto tua kakek dan ibunya yang sedang tersenyum.

"Ibu... Kakek... Hana pulang," bisik Hana lirih. Air matanya menetes, kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rindu yang teramat sangat. "Hana butuh kalian..."

Ia mengusap perutnya, merasakan denyut kehidupan yang mulai tumbuh di sana. Di tempat terpencil ini, tidak ada Nyonya Inggit yang menghinanya, tidak ada Cakra yang meragukannya. Hanya ada dia, bayinya, dan kenangan masa kecil yang menenangkan.

Hana memejamkan mata, menghirup udara pedesaan yang bersih. Ia tahu perjuangannya baru saja dimulai. Ia harus menjadi kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk nyawa kecil yang kini menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap berdiri tegak.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!