Indonesia
NovelToon NovelToon

Between Kook & V

BAB 1 CALM MEET CHAOS

Kalau ada satu hukum tidak tertulis di Kampus Seorin, maka bunyinya begini:

Kalau kampus lagi ribut, pelakunya pasti Geng Chaos

Dan pagi itu, hukum tersebut kembali terbukti.

Jam masih nunjukin angka 07.55, mahasiswa lalu-lalang sambil setengah ngantuk, setengah nyawa, ketika enam cowok berjalan beriringan dengan volume suara yang sama sekali gak manusiawi.

“GUE BILANG JUGA APA!”

teriak Kim Mingyu, sambil nenteng tas selempang yang kayaknya kosong tapi tetap dibawa gaya.

“DIA PASTI SALAH JADWAL!”

“Lo yang salah baca,” balas Kim Namjoon, nada sok tenang tapi urat leher udah keliatan.

“Jam delapan itu kelas kita.”

“Jam delapan masih pagi,” Park Jimin, sambil melirik jam tangan.

“Secara emosional, gue belum siap kuliah.”

“Secara emosional gue juga belum siap denger suara lo,” jawab Jung Hoseok, ketawa sambil nepuk bahu Jimin.

“Udah, udah. Nikmatin aja hidup ini. Hidup itu chaos.”

“Makanya nama geng kita Chaos,” tambah Lee Seokmin, ketawa paling kenceng sendiri.

Di depan mereka, Jeon Jungkook jalan paling depan. Langkahnya santai, wajahnya santai, tapi matanya awas—tipe cowok yang kelihatan cuek tapi selalu nyadar sekitar.

Dan tepat di depan mereka…

Ada lima cowok yang jalannya terlalu rapi buat ukuran pagi hari.

Tenang.

Hening.

Auranya dingin.

Mahasiswa lain otomatis minggir.

Karena semua orang tahu…

Itu Geng Calm.

“Anjir,” gumam Mingyu.

“Pagi-pagi ketemu manusia kulkas.”

“Volume lo kecilin dikit,” bisik Namjoon.

“Itu Seokjin di depan.”

“Terus kenapa?” Jungkook nyengir.

“Takut?”

“Bukan takut,” Namjoon mendesah.

“Capek debat.”

Geng Calm jalan lurus tanpa banyak suara.

Kim Seokjin di depan—posturnya tegap, ekspresinya datar tapi angkuh.

Di sampingnya Kim Taehyung, hoodie hitam, tangan di saku, tatapan kosong tapi tajam. Di belakang, Jeon Wonwoo dengan kacamata dan langkah santai, Min Yoongi yang kelihatan pengen tidur sambil jalan, dan Hong Jisoo dengan senyum sopan tapi berbahaya.

Dua geng itu makin dekat.

Dan seperti biasa…

Chaos gak pernah bisa diem.

“WOI!”

suara Jungkook pecah, nyaring banget.

Langkah Taehyung berhenti.

Bahunya kesenggol—lumayan keras.

Jungkook berdiri tepat di sampingnya.

“Jalan lo pelan banget,” kata Jungkook santai, tapi jelas cari perkara.

“Ini kampus, bukan runway.”

Suasana langsung tegang.

Mahasiswa sekitar pura-pura gak lihat, tapi kuping semua nyala.

Taehyung pelan-pelan nengok.

Tatapannya ketemu Jungkook.

Dingin.

Tenang.

Kosong tapi menusuk.

Jungkook sempat ngerasa… aneh.

Kayak ditantang tanpa kata.

Tapi gengsi jalan duluan.

“Kenapa?” Jungkook naikkan alis.

“Gak terima?”

Taehyung gak jawab.

Cuma ngeliatin beberapa detik.

Lalu…

Dia jalan lagi.

Tanpa dorong balik.

Tanpa omel.

Tanpa ekspresi.

“HAH?” Jimin refleks teriak.

“GITU DOANG?”

“Songong banget,” Mingyu geleng-geleng.

“Berani banget diemin lo, Kook"

Seokjin akhirnya berhenti.

Pelan-pelan dia nengok, senyum tipis—senyum orang yang keliatan sopan tapi sebenernya siap nyerang.

“Kalian caper banget pagi-pagi,” kata Seokjin kalem. “Kurang perhatian di rumah?”

“Wih,” Hoseok ngakak.

“masih galak aja.”

Wonwoo angkat suara, suaranya datar.

“Kalau mau ribut, cari waktu lain. Kita mau kelas.”

Yoongi menghela napas.

“Dan pagi ini gue belum minum kopi.”

Joshua senyum manis.

“Kalau kalian bikin masalah sekarang, dosen bakal seneng.”

“Dosen mana?” Seokmin nyahut.

“Yang galak itu?”

Seokjin melangkah maju satu langkah.

“Yang ngajarin etika.”

Jungkook nyengir makin lebar.

“Wah, kita gak ambil kelas itu kayaknya.”

Beberapa mahasiswa cekikikan.

Situasi makin panas.

Dan di tengah semua itu…

Taehyung cuma berdiri.

Diam.

Tangan masih di saku hoodie.

Matanya lurus ke depan.

Jungkook memperhatikan itu.

Aneh.

Biasanya orang udah meledak atau minimal ngomel.

Ini cowok malah… tenang kebangetan.

“Kenapa sih lo diem mulu?” Jungkook nyeletuk tiba-tiba.

“Bisu?”

Taehyung nengok lagi.

Kali ini, tatapannya lebih tajam.

“Enggak,” jawabnya akhirnya.

Suaranya rendah.

Tenang.

“Gue cuma gak tertarik ngobrol sama lo.”

SUNYI.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Lalu—

“ANJIR,” Mingyu ngakak.

“KENA BRO!”

Jimin nutup mulut, nahan ketawa.

“Habis lo, Kook.”

Jungkook bengong sesaat.

Dada panas.

Bukan karena marah sepenuhnya—

tapi karena… tertantang.

“Berani juga lo,” Jungkook senyum miring.

“Biasanya orang langsung bacot.”

Taehyung mendesah pelan.

“Capek.”

“Capek sama kita?” Jungkook makin dekat.

Taehyung ngeliat lurus ke mata Jungkook.

“Capek sama keributan gak penting.”

Seokjin langsung berdiri di samping Taehyung.

“Udah. Kita jalan.”

Geng Calm mulai bergerak pergi.

Tapi Jungkook masih berdiri di tempat.

Matanya ngikutin punggung Taehyung.

Ada rasa aneh di dadanya.

“Suatu hari,” gumam Jungkook pelan,

“gue bikin lo ribut.”

Namjoon nyikut.

“Lo cari mati?”

Jungkook senyum.

“Enggak,” katanya santai.

“Gue cuma penasaran.”

Dan tanpa mereka sadari—

Hari itu…

Bukan cuma awal perang kecil antar geng.

BAB 2 CALM MEET CHAOS

Ada satu fakta penting yang semua orang di Kampus Seorin tahu:

Kalau Geng Chaos udah bilang “penasaran”, itu bukan kabar baik.

Dan pagi itu, tepat setelah insiden tabrak bahu yang hampir jadi perang dunia kecil, Geng Chaos lagi ngumpul di kantin.

“Jadi…”

Jimin nyeruput minumannya, mata berbinar.

“Kita biarin aja cowok hoodie item itu ngomong gitu ke Jungkook?”

“GUE MASIH KEPIKIRAN,” sahut Jungkook, ngebanting sedotan.

“Dia ngomong kayak gak takut apa pun.”

“Dia emang gak takut,” jawab Namjoon, santai tapi fokus.

“Taehyung itu tipe orang yang kalau diem, justru bahaya.”

“Justru itu,” Mingyu nyengir lebar.

“Seru.”

“Seru buat lo,” Hoseok ngakak.

“Buat kita bisa masuk ruang BK.”

Seokmin langsung angkat tangan.

“Tenang! Ini prank kecil. Aman. Elegan.”

Jungkook nyender ke kursi.

“Gue mau dia bereaksi.”

“Reaksi gimana?” Jimin senyum licik.

“Nangis? Marah? Ngamuk?”

“Gak tau,” Jungkook jawab jujur.

“Tapi gue mau lihat dia gak setenang itu.”

Namjoon ngelirik ke arah meja pojok kantin.

Di sana…

Geng Calm duduk rapi.

Seokjin ngobrol pelan sama Joshua.

Yoongi sibuk sama ponselnya.

Wonwoo baca sesuatu di tablet.

Dan Taehyung…

Lagi minum es kopi.

Tenang.

Sendirian.

Seolah dunia Chaos gak pernah ada.

“Target gampang,” gumam Mingyu.

Rencana mereka sebenernya simpel.

Prank klasik.

Ganti minuman Taehyung dengan minuman super asem + soda + entah apaan yang bikin refleks orang teriak.

“Lo yakin gak ketauan?” tanya Hoseok.

“Percaya sama tangan seni gue,” jawab Seokmin bangga.

Jungkook berdiri.

“Oke. Gue yang alihin perhatian.”

“Kenapa lo?” Mingyu heran.

Jungkook senyum tipis.

“Karena dia target gue.”

Jungkook jalan santai ke meja Geng Calm.

Langkahnya bikin Seokjin otomatis ngangkat kepala.

“Oh,” kata Seokjin datar.

“Datang lagi.”

“Tenang,” Jungkook angkat tangan.

“Gue cuma mau duduk.”

Joshua senyum sopan.

“Jarang-jarang.”

Jungkook duduk tepat di depan Taehyung.

Dekat.

Terlalu dekat.

Taehyung ngangkat mata.

Tatapan mereka ketemu.

“Lo lagi-Lo lagi,” Taehyung bilang datar.

“Gue kangen,” Jungkook jawab refleks..

Semua orang di meja Calm langsung nengok.

“…apa?” Yoongi angkat alis.

Jungkook batuk.

“Maksud gue—situasi kemarin belum kelar.”

Taehyung ngeliat Jungkook lama.

“Menurut gue udah.”

“Menurut gue belum,” balas Jungkook.

Di belakang mereka, Seokmin pelan-pelan nyelip, tangan gesit ganti minuman.

Mingyu dan Jimin nahan ketawa.

Mission accomplished.

Jungkook bangkit.

“Oke. Selamat menikmati minuman lo.”

Taehyung gak jawab.

Dia ambil gelasnya.

Dan minum.

Satu teguk.

Dua detik.

Tiga detik.

Semua Geng Chaos nahan napas.

Taehyung berhenti minum.

Naroh gelas pelan.

Semua nunggu teriakan.

Atau ekspresi kaget.

Atau reaksi apa pun.

Yang terjadi malah—

Taehyung mengernyit.

“Ini… bukan pesanan gue.”

“…lah?” Mingyu refleks ngomong.

Taehyung berdiri.

Bawa gelas itu.

Langkahnya lurus.

Menuju…

Meja Geng Chaos.

Jungkook berdiri refleks.

“Eh—”

Taehyung naruh gelas tepat di depan Jungkook.

“Kayaknya ini punya lo,” katanya tenang.

“Soalnya rasanya… kekanak-kanakan.”

DEG

Satu kantin SUNYI.

Jimin nutup mulut.

Hoseok melongo.

Seokmin langsung pura-pura minum.

Jungkook nunduk, liat gelas itu.

Asamnya kecium.

“Lo tau?” Jungkook nanya pelan.

Taehyung ngangguk dikit.

“Gue lihat tangan lo gerak.”

“Kenapa lo minum?” Jungkook bingung.

Taehyung nengok lurus.

“Karena gue mau tahu sejauh apa niat lo.”

“Dan?” Jungkook naikkan alis.

“Dangkal,” jawab Taehyung singkat.

Seokjin berdiri dari kejauhan.

“Taehyung, ayo.”

Taehyung berbalik pergi.

Tapi sebelum benar-benar menjauh, dia berhenti.

“Nanti,” katanya tanpa nengok,

“kalau mau ganggu gue lagi—”

Jungkook menahan napas.

“Lakuin yang lebih pinter.”

Taehyung jalan pergi.

Kantin kembali berisik.

Dan Geng Chaos…

Terdiam.

“ANJIR,” Mingyu akhirnya ngomong.

“Kita dipermalukan secara elegan.”

Jimin melongo.

“Itu sakit, tapi berkelas.”

Seokmin nepuk dada.

“Gue tersinggung secara intelektual.”

Hoseok ketawa pelan.

“Lo oke, Kook?”

Jungkook masih berdiri.

Matanya ngeliat arah Taehyung pergi.

Dada panas.

Tapi bukan marah.

Lebih ke—

“Tantangan,” gumam Jungkook.

Namjoon geleng.

“Lo kenapa malah senyum?”

Jungkook senyum miring.

“Karena ini jadi menarik.”

Dan tanpa mereka sadari—

Prank pertama itu gagal.

Tapi perang psikologis…

Baru aja dimulai.

Tapi awal dari sesuatu yang bakal bikin Chaos kehilangan ketenangan

dan Calm kehilangan kendali.

BAB 3 CALM MEET CHAOS

Kalau ada satu hal yang lebih mengerikan dari Geng Chaos, itu adalah—

Dosen yang suka kerja kelompok.

Dan pagi itu, mimpi buruk itu datang dengan suara datar dan senyum tipis yang mencurigakan.

“Baik,” kata dosen mereka sambil nutup buku.

“Hari ini saya bagi kalian ke dalam beberapa kelompok.”

Suara gesekan kursi langsung kedengeran.

Mahasiswa auto waspada.

“Kelompok ini akan berjalan selama satu bulan,” lanjutnya santai.

“Dan nilainya besar.”

Satu kelas langsung hening.

Jungkook nyengir.

“Tenang,” bisiknya ke Namjoon.

“Selama gak sekelompok sama—”

“Kelompok satu,” potong dosen itu.

Nama-nama mulai disebut.

“Jeon Jungkook.”

Jungkook refleks angkat dagu.

“Siap.”

“Kim Taehyung.”

Jungkook langsung nengok.

Taehyung juga.

Tatapan mereka ketemu.

Bukan kaget.

Lebih ke… sial.

“Kim Mingyu.”

“Jeon Wonwoo.”

“Park Jimin.”

“Min Yoongi.”

Satu kelas mulai ribut pelan.

“ANJIR,” bisik Mingyu.

“GUE SEKELAS SAMA DIA?”

Wonwoo ngelirik sekilas.

“Sial.”

Jimin nutup muka.

“Dosa apa sih gue"

Yoongi cuma sandar di kursi.

“Bangun gue pagi ini sia-sia.”

Dosen lanjut ngomong seolah gak terjadi apa-apa.

“Silakan duduk berkelompok.”

Dan begitulah…

Chaos dan Calm resmi satu meja.

Meja itu terasa… salah.

Jungkook duduk bersandar, kaki selonjoran.

Taehyung duduk tegak, rapi.

Mingyu geser kursinya terlalu dekat ke Wonwoo.

Wonwoo geser balik.

“Lo ngapain deket-deket?” Wonwoo datar.

“Meja sempit,” Mingyu santai.

“Lagian kita satu kelompok.”

“Bukan berarti satu napas,” balas Wonwoo.

Jimin nyengir.

“Wih, udah ribut duluan aja nih sebelah.”

Yoongi buka laptop.

“Bisa diem gak? Kepala gue berisik.”

Taehyung buka buku catatan.

“Topiknya kebijakan publik.”

Jungkook melirik.

“Lo serius banget.”

“Namanya juga tugas,” jawab Taehyung tanpa nengok.

Jungkook nyengir tipis.

“Lo emang selalu gitu?”

“Gitu gimana?”

“Tenang. Dingin. Kayak gak peduli apa pun.”

Taehyung akhirnya nengok.

“Gue peduli hal penting.”

“Gue gak penting?” Jungkook refleks nanya.

Seisi meja langsung nengok.

Jungkook bengong sendiri.

“…bukan gitu maksud gue.”

Taehyung menatap Jungkook sebentar.

Lalu kembali ke bukunya.

“Buktiin aja,” katanya pelan.

Dan entah kenapa—

Kalimat itu nyangkut di kepala Jungkook.

“Oke,” Namjoon—yang duduk di kelompok lain—teriak dari kejauhan.

“Kerja yang bener, Chaos.”

“Gue bukan Chaos doang,” Jungkook balas.

“Gue sekarang Chaos plus Calm.”

Mingyu ngakak.

“Cocok.”

Wonwoo mendesah.

“Gak.”

Taehyung ngetik di laptop.

“Kita bagi tugas. Gue sama Yoongi riset. Jungkook dan Jimin presentasi. Mingyu dan Wonwoo data lapangan.”

Mingyu melongo.

“Kenapa gue sama dia?”

“Karena kalian berdua sama-sama tinggi,” jawab Taehyung datar.

“Itu alasan paling gak ilmiah,” Mingyu protes.

Yoongi ngangguk.

“Tapi masuk akal.”

Wonwoo nengok Taehyung.

“Gue setuju.”

Mingyu nunjuk Wonwoo.

“LO LIAT? DIA SELALU BEGITU.”

Jimin ngakak.

“Selamat ya kalian bisa berduaan”

Mingyu mendengus.

“Ini bukan kencan.”

Wonwoo angkat alis.

“Berisik”

Kelas selesai.

Tapi neraka belum.

“Besok kita ketemu di perpustakaan,” kata Taehyung sambil nutup laptop.

Jungkook refleks nyaut.

“Gue ikut.”

Taehyung nengok.

“Emang lo bisa diem?”

Jungkook senyum.

“Gue bisa fokus… kalau mau.”

Taehyung berdiri.

“Yaudah”

Kalimat itu lagi-lagi sederhana.

Tapi Jungkook ngerasa—

Dia ditantang.

Di luar kelas, Geng Chaos langsung nyamperin.

“LO SEKELAS SAMA DIA?” Seokmin heboh.

“Dan satu kelompok,” jawab Jungkook.

“Doaku menyertaimu kawan,” Hoseok tepuk pundaknya.

Namjoon nyengir.

“Lo keliatan seneng.”

Jungkook refleks nolak.

“Enggak.”

“Tapi dari tadi lo senyum mulu,” kata Jimin.

Jungkook diem.

Di kejauhan, Taehyung jalan bareng Seokjin.

Langkahnya tenang.

Dan untuk pertama kalinya—

Jungkook ngerasa

ketenangan itu ganggu pikirannya

Sementara itu, di sisi lain kampus…

Mingyu dan Wonwoo jalan berdampingan.

Canggung.

Sunyi.

“Jadi…” Mingyu buka suara.

“Kita ke lapangan kapan?”

Wonwoo melirik.

“Kapan pun asal lo bisa tepat waktu.”

“Gue selalu tepat waktu,” Mingyu protes.

Wonwoo senyum tipis.

“Itu lelucon.”

Mingyu bengong.

“…eh?”

Dan untuk pertama kalinya—

Wonwoo ketawa kecil.

Mingyu langsung berhenti jalan.

“Eh.”

Wonwoo nengok.

“Kenapa?”

“…Lo barusan ketawa.”

Wonwoo diem.

“Dan?”

“Gak apa-apa,” Mingyu nyengir lebar.

“Cuma… keren aja.”

Wonwoo mendengus.

“Lo aneh.”

Mingyu makin seneng.

Hari itu berakhir dengan satu kesimpulan besar:

Kerja kelompok ini bukan sekadar tugas.

Ini adalah awal dari

kekacauan yang makin dekat

dan ketenangan yang mulai retak.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!