Awan hitam menggantung pekat di atas langit kota Jakarta, menyiramkan jutaan titik air hujan yang langsung membasahi aspal panas sore itu. Angin bertiup cukup kencang, membuat beberapa siswi berseragam putih-abu-abu di halte bus meringkuk kedinginan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Keyla. Gadis berusia tujuh belas tahun itu justru berdiri di garis paling depan halte, merapikan rok abu-abunya sambil mematut diri di layar ponselnya.
"Key, buruan duduk! Nanti seragam lu basah kena cipratan air!" seru Rara, sahabat Keyla, sambil menepuk bangku besi halte yang masih kosong di sampingnya.
"Duh, Ra, cewek cantik itu nggak boleh kusam cuma gara-gara hujan. Siapa tahu aja sebentar lagi ada pangeran naik mobil mewah yang mobilnya mogok di depan halte ini, terus nanya alamat ke gue?"
Rara memutar bolan matanya malas. "Mimpi lu ketinggian, Keyla Clarissa! Cita-cita lu tuh dari kemarin aneh-aneh banget. Orang lain habis lulus SMA mau kuliah di PTN, mau jadi dokter, mau jadi pengusaha. Nah lu? Malah pengen nikah muda. Aneh!"
"Bukan aneh, Ra, tapi visioner!" potong Keyla cepat dengan nada penuh keyakinan. Ia menoleh ke arah sahabatnya lalu menyibakkan poni. "Menikah muda adalah jalan ninjaku! Lagian buat apa repot-repot pusing mikirin skripsi kalau gue bisa mengabdi jadi istri solehot yang disayang suami kaya raya? Gue cuma butuh satu pria yang matang, mapan, dan bisa membimbing cewek manja kaya gue ini."
"Terserah lu deh, Key. Tapi cowok seumuran kita di sekolah mana ada yang masuk kriteria lu? Si Alvin anak IPS yang ngejar-ngejar lu aja lu tolak mentah-mentah," cibir Rara.
"Alvin?" Keyla tertawa renyah. "Aduh, Ra... Alvin itu masih suka minta uang jajan sama mamanya, naik motor masih suka pamer knalpot blong. Ya jelas jauh dari kriteria gue lah! Gue tuh nyari yang laki banget, yang kalau berdiri aja auranya udah bikin bergetar."
Belum sempat Rara membalas ucapan sahabatnya yang penuh fantasi itu, sebuah mobil sedan hitam mewah berlogo Lexus berhenti persis di depan halte. Tak lama kemudian, pintu penumpang belakang terbuka. Seorang pria melangkah keluar sambil membuka payung hitam elegan.
Suasana di halte bus mendadak hening. Beberapa siswi yang tadinya mengobrol langsung bungkam. Bahkan Rara pun sampai melotot melihat sosok yang baru saja menginjakkan kakinya di trotoar halte.
Pria itu mengenakan setelan jas berwarna navy tailored-fit yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Celana kainnya terpotong rapi di atas sepatu kulit bernilai belasan juta. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis rahang yang tegas, hidung mancung yang kokoh, serta mata tajam berwarna cokelat gelap yang memancarkan aura dingin yang membekukan.
Melihat itu, Keyla mendadak menahan napasnya. Waktu seolah berputar lambat dalam pandangannya. Pria itu memasukkan ponsel mewahnya ke dalam saku jas, lalu berdiri hanya sejauh dua meter dari tempat Keyla berdiri. Dari jarak sedekat ini, aroma parfum woody dan citrus mahal milik pria itu tercium jelas.
"Gila... ini mah visual level dewa!" batin Keyla menjerit histeris. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.
Pria itu melirik jam tangan perak di pergelangan tangannya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Hanya ada aura kekuasaan dan kematangan yang sangat pekat.
"Pak, ban belakang kiri sepertinya bocor kena paku. Saya harus panggil derek atau ganti ban serep dulu," ujar sopir pria itu yang baru saja keluar dari mobil dengan pakaian basah kuyup.
Pria berjas navy itu menghela napas tipis. "Ganti ban serep saja. Jangan terlalu lama, sepuluh menit lagi aku ada meeting penting."
"Baik, Pak Arlan," jawab sang sopir seraya bergegas mengambil peralatan di bagasi belakang.
Keyla yang mendengar percakapan itu menyeringai kecil. Matanya berbinar penuh antisipasi. "Arlan... namanya Om Arlan. Gila, nama sama mukanya sama-sama seksi!" gumam Keyla dalam hati.
Tanpa ragu sedikit pun, Keyla melangkah maju mendekati pria bernama Arlan tersebut. Rara yang melihat aksi nekat sahabatnya itu langsung membelalakkan mata dan mencoba menarik ujung seragam Keyla, namun terlambat.
"Sore, Om," sapa Keyla dengan suara yang dibuat sehalus dan semanis mungkin.
Arlan menoleh perlahan. Ditatapnya gadis berseragam SMA di sampingnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan Arlan begitu dingin, seolah sedang menilai sebuah dokumen bisnis yang tidak berguna.
"Kamu bicara denganku?" tanya Arlan datar, tanpa ada keramahan sedikit pun.
"Iya lah, Om! Masa aku bicara sama tiang listrik?" jawab Keyla, seolahh tidak terintimidasi sama sekali oleh tatapan maut Arlan. "Lagian kasihan banget Om-nya kebasahan di pinggir jalan gini. Oh iya, kenalin, nama aku Keyla. Keyla Clarissa. Om namanya Om Arlan, kan?"
Keyla mengulurkan tangan dengan percaya diri yang membumbung tinggi. Sementara Arlan, hanya melirik tangan Keyla sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya menatap jalanan yang diguyur hujan. Ia sama sekali tidak membalas uluran tangan gadis itu.
"Aku tidak biasa berkenalan dengan anak sekolah," sahut Arlan dingin dan terkesan meremehkan.
Bukannya ciut atau sakit hati, Keyla justru semakin tertantang. Pria di depannya ini benar-benar tipe idamannya! Dingin, mahal, dan sulit ditaklukkan. Aura kaku dan ketangguhan Arlan justru makin menyulut gairah berburu dalam diri Keyla.
"Duh, Om dingin banget sih? Nanti kalau Om dingin terus, yang ada es batu kalah saing lho," goda Keyla sambil merapat selangkah lagi. "Sekarang emang cuma anak sekolah, Om. Tapi beberapa bulan lagi aku lulus kok. Dan fyi aja nih Om, cita-cita aku itu mau jadi istri. Gimana kalau calon suaminya itu Om Arlan?"
Rara, yang berada di belakangnya sampai menepuk jidatnya sendiri mendengar kenekatan Keyla. Beberapa gadis lain di halte bahkan saling berbisik kaget melihat kepedean tingkat dewa dari Keyla.
Arlan kembali menoleh. Kali ini alis tebalnya bertaut rapat. Tatapan matanya yang tajam seolah ingin menusuk keberanian gadis belia di depannya ini. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu menarik napas panjang, menatap Keyla dengan penuh penekanan.
"Dengar ya, Dek," tegur Arlan dengan nada suara tegas dan menusuk. "Fokus belajar yang benar. Masuk perguruan tinggi, capai cita-cita kamu, dan jangan buang waktu kamu buat menggoda pria dewasa. Aku bukan mainan anak SMA."
"Siapa juga yang mau jadiin Om mainan? Aku seriusan mau jadiin Om masa depan!" sahut Keyla.
"Pak Arlan, mobilnya sudah siap." ucap sopir Arlan.
Arlan tidak merespons ucapan Keyla lagi. Ia segera melangkah masuk ke dalam mobil Lexus-nya tanpa memalingkan wajah sedikit pun.
Saat mobil mewah itu perlahan bergerak membelah genangan air, kaca mobil belakang tiba-tiba turun beberapa sentimeter. Arlan menatap keluar singkat, lalu kaca kembali tertutup rapat sebelum mobil itu melaju kencang meninggalkan kawasan halte.
Dan dengan percaya dirinya, Keyla melambaikan tangannya dengan semangat membara, lalu memegang dadanya yang masih berdebar kencang.
"Gila lu ya, Key! Lu urakan banget! Itu om-om mukanya galak banget, lu malah ajak nikah!" seru Rara heboh.
Keyla menoleh ke arah sahabatnya dengan senyuman paling lebar yang pernah Rara lihat.
"Ra, lu dengar ya kata-kata gue hari ini," bisik Keyla dengan mata berbinar penuh tekad. "Mulai detik ini, pilihan gue udah resmi terkunci. Om dingin itu... harus dan pasti bakal jadi suami gue!"
Senin pagi yang cerah seharusnya diisi dengan kantuk yang membuncah saat upacara bendera, tetapi tidak bagi Keyla. Selama tiga puluh menit berdiri di lapangan sekolah, pikirannya tidak tertuju pada pidato Kepala Sekolah yang membosankan. Wajah tegas Arlan, aroma jas mahalnya, dan suara baritonnya yang ketus terus menari-nari di kepala Keyla seperti kaset rusak.
"Lu kesambet setan halte kemarin ya, Key?" bisik Rara pelan saat barisan mereka dibubarkan untuk menuju kelas. "Dari tadi lu senyam-senyum sendiri kaya orang gila."
Keyla merangkul lengan Rara santai. "Bukan kesambet setan, Ra, tapi kesambet cinta. Gue nggak bisa tidur semalaman mikirin Om Arlan. Muka gantengnya itu lho... unreal banget!"
"Duh, mending lu sadar deh," Rara menepuk paha Keyla saat mereka sudah duduk di bangku kelas. "Lu bahkan nggak tahu itu om-om siapa, kerjanya di mana, udah punya anak berapa, atau jangan-jangan dia udah punya istri yang siap ngelabrak lu!"
"Makanya, hari ini misi resmi kita dimulai," jawab Keyla penuh semangat. Ia mengeluarkan ponselnya dan menggeser layar dengan lincah. "Misi Pencarian Identitas calon suami gue."
Keyla membuka aplikasi mesin pencari dan mengetikkan kata kunci. Arlan Lexus hitam. Karena hasilnya terlalu umum, ia mengingat detail kecil dari obrolan kemarin. Sopir itu memanggilnya Pak Arlan, berpakaian jas sangat rapi, dan ada di kawasan bisnis Sudirman jam lima sore.
"Lu ingat nggak logo di plat nomor atau stiker di kaca mobilnya kemarin?" tanya Keyla membuyarkan lamunan Rara.
"Mana gue tahu! Gue kemarin sibuk nahan malu gara-gara lu ngajak nikah orang asing!" seru Rara.
"Bentar." Keyla memicingkan mata. "Kemarin pas dia buka pintu, gue sempat liat stiker valet parking warna emas di kaca depan. Tulisan huruf depannya G. Group? Grand?"
Keyla mulai mengetikkan nama-nama pengusaha muda sukses di Indonesia bernama Arlan. Setelah melewati belasan laman pencarian dan akun media sosial, mata Keyla tiba-tiba membelalak lebar.
"Dapat!" jerit Keyla hingga membuat beberapa teman kelasnya menoleh.
"Mana? Siapa?" Rara ikut penasaran dan menempelkan wajahnya ke layar ponsel Keyla.
Di layar ponsel itu terpampang sebuah artikel majalah bisnis digital terkemuka. Arlan Pratama Adhitama (28 Tahun), CEO Adhitama Group yang Dingin dan Misterius: Sukses Memimpin Ekspansi Bisnis Properti & Otomotif."
Foto yang terpasang di artikel tersebut adalah sosok yang sama persis dengan pria di halte kemarin. Arlan berdiri tegap dengan jas hitam, menatap kamera tanpa senyuman sedikit pun.
"Tuh kan, Ra! Namanya Arlan Pratama Adhitama! Umurnya 28 tahun, CEO Adhitama Group!" seru Keyla dengan mata berbinar-binar. "Gila, tajir melintir, ganteng, matang... ini sih jackpot!"
"Tunggu, tunggu, lu baca kolom di bawahnya nih," Rara menunjuk bagian profil pribadi di artikel tersebut.
Keyla membaca kalimat itu pelan-pelan. "Status Duda (Bercerai 2 tahun lalu). Tidak memiliki anak."
"Gila... dia beneran duda, Key!" Rara menutup mulutnya kaget. "Tapi wait, umur 28 tahun udah duda? Penasaran banget kenapa dia cerai."
"Bagus dong!" sahut Keyla makin bersemangat. "Berarti statusnya single, legal! Nggak ada istri yang bakal ngelabrak gue, dan nggak ada anak tiri yang bakal nolak gue jadi mamanya. Ini namanya takdir, Ra!"
"Tapi Key, dia itu CEO perusahaan raksasa! Lu cuma anak SMA yang nilai matematikanya sering remedi. Gimana caranya lu bisa ketemu dia lagi? Lu pikir gedung kantornya bisa dimasuki sembarangan?" ujar Rara.
Keyla menyenderkan badannya ke sandaran kursi sambil tersenyum misterius. "Gedung Adhitama Tower kan cuma dua blok dari tempat bimbel kita, Ra. Dan kebetulan, sepupu gue, Mas Yoga, kan kerja jadi staf IT di gedung daerah sana. Gue bisa minta bantuan dia."
"Lu bener-bener nekat ya, Keyla." cibir Rara sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Nekat itu nama tengah gue, Ra," jawab Keyla santai. "Kalau Om Arlan jual mahal, gue yang bakal beli borongan. Lihat aja, dalam seminggu ini, gue bakal bikin dia ingat nama Keyla!"
Sore harinya, tepat setelah bel sekolah berbunyi, Keyla tidak langsung pulang. Ia mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian kasual—celana jins dan kaos putih yang dipadukan dengan jaket denim gantung. Setelah memoles bibirnya dengan lip gloss tipis, Keyla berdiri di depan gedung pencakar langit megah bertuliskan ADHITAMA TOWER.
Keyla berdiri di seberang jalan, mengawasi pintu keluar utama gedung tersebut sambil memegang secangkir kopi dingin.
Setelah menunggu hampir empat puluh menit, sosok yang ditunggu akhirnya muncul. Arlan keluar dari pintu kaca utama, didampingi seorang sekretaris wanita berpenampilan sangat rapi dan sang sopir yang memegang payung. Arlan masih tampak gagah dan dominan, melangkah menuju mobil Lexus hitam yang sudah terparkir di lobby.
"Aksi fase satu dimulai," gumam Keyla pada dirinya sendiri.
Saat Arlan hendak melangkah masuk ke dalam mobil, Keyla sengaja berjalan agak cepat melintasi area lobby luar dan mendadak menjatuhkan gantungan kunci berbentuk boneka beruang berukuran cukup besar tepat di dekat kaki Arlan.
Sopir Arlan hendak memungutnya, tetapi Arlan menahan tangan sopirnya. "Tunggu."
Arlan membungkuk sedikit, memungut gantungan kunci beruang berwarna merah muda itu. Ia menatap punggung Keyla yang berjalan perlahan.
"Hei, Anak SMA," panggil Arlan dengan nada datar namun tegas.
Keyla menghentikan langkahnya. Ia berbalik perlahan dengan raut wajah pura-pura kaget yang sangat natural, lalu mengukir senyuman paling manis.
"Eh? Om Arlan?" panggil Keyla dengan nada kaget yang dibuat-buat. "Kok kita bisa ketemu lagi di sini? Wah, jangan-jangan kita emang jodoh ya, Om?"
Arlan tidak terpengaruh dengan ucapan Keyla. Ia melangkah mendekat, lalu menyodorkan gantungan kunci tersebut dengan wajah dingin tanpa ekspresi. "Barang kamu jatuh. Dan stop panggil aku jodoh. Itu menggelikan," sahut Arlan tanpa basa-basi.
Keyla menerima gantungan kunci itu, lalu dengan sengaja menyentuh jemari Arlan selama beberapa detik.
"Makasih ya, Om Arlan yang ganteng," goda Keyla sambil memasukkan gantungan kunci ke tasnya. "Lagian Om kok tahu aku anak SMA? Oh... Om ketagihan mikirin aku ya dari kemarin?"
Arlan menghela napas berat, menatap Keyla dari atas ke bawah. "Aku ingat wajah kamu karena keberanian kamu yang tidak bersopan santun di halte kemarin. Dan sekali lagi aku ingatkan, ini kawasan kantor, bukan tempat main anak sekolah. Pulang."
"Aku nggak lagi main kok, Om. Aku cuma lagi memperjuangkan masa depan. Gimana kalau sebagai rasa terima kasih karena Om udah balikin barang aku, aku traktir Om minum kopi di kafe depan?"
"Aku sibuk. Jangan muncul di depanku lagi," tegas Arlan sebelum melangkah masuk ke dalam mobil Lexus-nya dan menutup pintu .
Mobil mewah itu melaju pergi meninggalkan area lobby. Namun, di balik kaca mobil yang gelap, Arlan sempat melirik dari spion samping. Gadis SMA itu masih berdiri di sana, melambaikan tangan dengan senyuman lebar tanpa ada rasa kapok sedikit pun.
"Gadis kecil yang aneh."
Sesampainya Keyla di Perusahaan Arlan, dengan ditemani oleh Rena bersamanya, tanpa ragu Keyla langsung masuk kedalam perusahaan besar itu dengan gaya percaya dirinya.
"Mbak, saya udah bilang, saya janji sama Pak Arlan. Nama saya... Keyla Baskoro," ucap Keyla dengan wajah seserius mungkin.
Resepsionis cantik di lobi Dirgantara Group itu mengernyitkan dahi, menatap Keyla dari ujung kepala sampai ujung kaki. Keyla hari ini memakai blazer hitam milik kakaknya yang sedikit kebesaran di bagian bahu, dipadukan dengan rok span dan sepatu hak tinggi yang membuatnya berjalan agak gemetar.
"Keyla? Maaf, Adik ini adiknya Pak Arlan? Atau saudaranya?" tanya resepsionis itu.
"Bukan. Saya... calon istrinya," jawab Keyla tanpa berkedip.
Rena yang berdiri dua meter di belakang Keyla langsung pura-pura batuk keras sambil menutupi wajahnya dengan majalah bisnis yang ia ambil dari meja tamu. "Key, gila lo!" bisik Rena tertahan.
Resepsionis itu tampak menahan tawa, namun tetap profesional. "Maaf, Dek. Tapi di jadwal Pak Arlan tidak ada nama calon istri untuk jam makan siang ini. Kalau tidak ada janji atau kartu identitas karyawan, silakan tunggu di sofa sana."
"Tapi saya bawa makan siang spesial buat dia, Mbak. Ini salmon saus tiram buatan... ehem, koki pribadi saya," bohong Keyla, padahal itu hasil pesan antar dari restoran Jepang depan sekolah.
"Mohon maaf, silakan duduk dulu ya."
Keyla menghentakkan kakinya kesal, lalu berjalan menghampiri Rena. "Gagal, Re. Penjaga gerbangnya lebih galak dari ibu kantin kita."
"Ya iyalah! Lo ngaku jadi calon istrinya, ya jelas nggak dipercaya. Muka lo aja masih muka-muka butuh uang jajan tambahan gitu," cibir Rena. "Udah yuk pulang, sebelum satpam yang dateng."
"Nggak. Gue nggak bakal menyerah. Lihat itu!" Keyla menunjuk ke arah lift VIP yang baru saja berdenting terbuka.
Seorang pria dengan asisten yang membawa tumpukan dokumen keluar dari sana. Itu Arlan. Dia tampak lebih tampan dari kemarin. Kemeja putihnya yang digulung sampai siku memperlihatkan urat-urat tangan yang maskulin, menambah kesan mahal pada penampilannya.
"Om Arlan!" teriak Keyla tanpa tau malu.
Seluruh orang di lobi yang tadinya tenang seketika menoleh. Arlan menghentikan langkahnya, keningnya berkerut tajam saat melihat sosok gadis yang tampak asing namun suaranya sangat ia kenali.
"Siapa dia?" tanya Arlan dingin pada asistennya.
"S-saya tidak tau, Pak. Sepertinya tamu yang tidak terdaftar," jawab sang asisten gugup.
Keyla berlari kecil menghampiri Arlan, mengabaikan tatapan sinis orang-orang di sekitarnya. "Om! Ingat aku kan? Yang di halte kemarin!"
Arlan diam membatu. Ia memperhatikan penampilan Keyla. "Kamu... kenapa pakai baju orang dewasa? Dan kenapa ada di sini?"
"Ini baju saya sendiri kok!" bohong Keyla lagi sambil memutar tubuhnya. "Aku ke sini mau nganterin makan siang buat Om. Pasti Om capek kan kerja terus? Nih, dimakan ya."
Arlan melirik kantong plastik di tangan Keyla, lalu kembali menatap mata gadis itu dengan dingin. "Kamu bolos sekolah?"
"Nggak! Hari ini sekolah libur, ada rapat guru. Makanya aku sempetin ke sini demi Om."
"Jangan panggil saya Om di sini," desis Arlan pelan agar tidak terdengar karyawan lain. "Dan bawa pulang makanan itu. Aku tidak menerima pemberian dari orang asing."
"Ih, kok orang asing sih? Kan kita udah kenalan kemarin. Namaku Keyla, masa lupa? Ingatan Om pendek ya karena faktor usia?"
Mata Arlan menyipit. "Kamu bilang apa?"
"Eh, maksud aku... Om kan udah matang, jadi harusnya ingatannya kuat," Keyla nyengir kuda. "Ayo dong, Om, terima ya? Aku udah jauh-jauh naik ojek online ke sini."
"Pak Arlan, rapat dengan dewan komisaris akan dimulai sepuluh menit lagi," interupsi asistennya dengan sopan.
Arlan mengangguk, lalu kembali menatap Keyla. "Pergilah. Jangan buat keributan di kantorku. Ini tempat kerja, bukan taman bermain anak SMA."
"Aku nggak bakal pergi sebelum Om terima ini!" Keyla menyodorkan kotak makannya dengan gigih.
Arlan menghela napas panjang, tampak sangat tertekan dengan keberadaan Keyla. "Berikan pada asistenku."
"Nggak mau! Harus Om yang terima langsung. Biar ada kontak batinnya."
Rena yang melihat adegan itu dari jauh hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Ia benar-benar heran dengan urat malu Keyla yang sepertinya sudah putus total.
Arlan, karena tidak ingin drama ini berlanjut dan menjadi tontonan karyawannya, akhirnya ia mengambil kotak makan itu dengan kasar. "Sudah? Sekarang pulang."
"Sama-sama, Om Calon Suami! Nanti habis makan, jangan lupa kabari aku ya enak atau nggak. Ini nomor HP aku ada di dalem kotaknya!" seru Keyla sambil melambaikan tangan saat Arlan berbalik pergi tanpa mengucapkan terima kasih.
Keyla kembali ke arah Rena dengan wajah kemenangan yang luar biasa. "Lihat kan? Diterima, Re! Strategi maksa itu emang selalu berhasil."
"Key, dia nerima itu karena malu dilihatin orang kantor, bukan karena terpesona sama lo," ujar Rena realistis.
"Sama aja! Yang penting masuk ke tangannya dulu. Langkah kedua, nunggu dia telepon gue."
"Gue jamin 100 persen dia nggak bakal telepon lo. Paling itu makanan dikasih ke satpam atau dibuang ke tong sampah."
"Kita taruhan!" tantang Keyla. "Kalau dia telepon gue malam ini, lo harus bayarin gue seblak selama seminggu!"
"Oke! Kalau dia nggak telepon, lo harus berhenti ngejar-ngejar dia dan fokus belajar buat ujian nasional. Deal?"
"Deal!"
Keyla tersenyum lebar. Dalam hatinya, ia sangat yakin. Meskipun Arlan sedingin es kutub utara, tidak ada pria yang bisa mengabaikan perhatian tulus dan sedikit gila dari gadis secantik dirinya.
Namun, di dalam lift, Arlan menatap kotak makan di tangannya dengan tatapan muak. Ia membukanya sedikit, menemukan sebuah catatan kecil di atas kotak plastik itu.
"Semangat kerjanya, Om Dingin. Jangan lupa makan, karena pura-pura nggak suka sama aku itu butuh tenaga banyak. Love, Keyla."
Arlan meremas catatan itu dan membuangnya ke tempat sampah kecil di pojok lift. "Benar-benar anak nakal," gumamnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!