Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Bab 1

“Kayla, Mama dan Papa akan bercerai.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa peringatan.

Seperti pisau tumpul yang ditancapkan perlahan ke dada.

Kayla yang sejak tadi duduk di sofa sambil memeluk lututnya langsung mendongak. Tatapannya datar, kosong, menelusuri wajah dua orang yang selama ini ia sebut rumah.

Tidak ada air mata. Tidak ada reaksi berlebihan. Hanya sunyi yang mengendap di matanya.

Ibunya berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya keras, seperti sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.

“Mama udah putusin. Mama akan keluar negeri.” Ia menarik napas sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin. “Mama gak bisa bawa kamu.”

Kayla masih diam. Bola matanya tidak berkedip. Jantungnya berdetak kencang, tapi wajahnya tetap datar, seolah kabar itu tak lebih dari pengumuman cuaca.

Ayahnya melangkah mendekat satu langkah. Suaranya dibuat selembut mungkin, meski jelas bergetar.

“Kayla, kamu ikut sama Papa aja ya, Sayang.”

Belum sempat Kayla membuka suara, ibunya sudah lebih dulu menoleh tajam ke arah ayahnya.

“Sekali lagi aku tekankan. Kalau sampai kamu pilih kasih sama anak kamu, aku gak akan tinggal diam. Aku akan kembali dan membawa Kayla!” ancamnya, matanya menyala penuh emosi.

Ayahnya tertawa kecil, sinis.

“Cih. Gak usah sok paling peduli. Nyatanya kamu akan pergi dengan laki-laki lain.”

Ibunya mendengus. “Aku pergi dengan Bagas. Karena kamu yang lebih dulu s*lingkuh dari aku!”

“Aku s*lingkuh juga gara-gara kamu!” balas ayahnya, suaranya meninggi.

“Kamu selalu nyalahin aku!”

“Karena memang kamu yang salah!”

Pertengkaran itu kembali berputar seperti kaset rusak. Kata-kata tajam beterbangan, saling menabrak, tanpa peduli ada seorang anak yang berdiri di tengah-tengah reruntuhan mereka.

Kayla mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak. Kepalanya berdengung. Lalu, tanpa ia sadari, suaranya meledak.

“BERHENTIIIIII!”

Jeritannya menggema di ruang tamu. Membuat dua orang dewasa itu membeku di tempat. Untuk pertama kalinya sejak tadi, mereka menoleh ke arah Kayla bukan sebagai saksi, tapi sebagai korban.

Kayla berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi suaranya justru terdengar tegas.

“Kayla gak akan ikut Mama atau Papa.” Ia menatap ayahnya, lalu ibunya, bergantian. “Kayla bisa urus diri Kayla sendiri.”

Tidak ada tangisan. Tidak ada rayuan. Hanya keputusan yang diucapkan oleh gadis empat belas tahun yang terlalu cepat dewasa karena keadaan.

Tanpa menunggu jawaban, Kayla berbalik. Langkahnya cepat, namun terkontrol.

Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan pelan—terlalu pelan untuk seseorang yang hatinya baru saja retak.

Di dalam kamar, Kayla menyandarkan punggungnya ke pintu. Ia menatap langit-langit, membiarkan sunyi menelannya.

Dadanya sakit. Sangat sakit.

Namun Kayla menolak menangis.

Karena sejak hari itu, ia belajar satu hal:

bahwa orang dewasa bisa pergi kapan saja—

dan satu-satunya orang yang bisa ia andalkan, hanyalah dirinya sendiri.

**

Beberapa tahun kemudian.

Lampu-lampu klub berkelip liar, beradu dengan dentuman musik yang memekakkan telinga. Asap rokok bercampur aroma alkohol memenuhi udara, membuat malam terasa semakin panas dan berisik. Di sudut VIP, tawa pecah tanpa beban.

“Woooo! Cheers untuk kemenangan kita!” seru Adelia sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

“Cheers!” sahut Ditha, tak kalah semangat.

Zayn ikut menyeringai lebar. Keempat gelas itu bertemu di udara, beradu keras sebelum isinya diteguk habis. Cairan panas mengalir di tenggorokan Kayla, tapi ia tak meringis. Justru tersenyum puas.

Malam ini miliknya.

Kayla baru saja memenangkan balapan ilegal di pinggiran kota. Namanya kembali disebut-sebut. Uang taruhan berpindah tangan. Dan seperti biasa, kemenangan dirayakan dengan pesta, keras, bebas, tanpa aturan.

“Gila sih kamu, Kay,” kata Zayn sambil menepuk meja. “Mobil lo kayak setan kesurupan. Lawan-lawan langsung nyerah.”

Kayla terkekeh kecil. Rambut hitamnya tergerai, riasan matanya tebal dan tajam. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis empat belas tahun yang dulu berdiri di ruang tamu, berteriak menghentikan pertengkaran orang tuanya.

Yang ada sekarang hanyalah Kayla Aurora,, gadis yang dikenal berani, nekat, dan tak peduli konsekuensi.

“Menang itu soal fokus,” jawabnya santai. “Kalau ragu dikit aja, habis.”

Adelia mengangguk setuju. “Dan Kayla gak pernah ragu.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi bagi Kayla, itu adalah kebiasaan yang lahir dari luka lama. Kehidupan Kayla benar-benar berubah.

Sejak perceraian orang tuanya enam tahun lalu, ia memilih hidup sendiri. Tidak ikut ayah, tidak ikut ibu. Ia menolak jadi barang tarik-ulur dua orang dewasa yang sibuk dengan kebahagiaan masing-masing.

Ayahnya kini bahagia dengan keluarga barunya, istri baru, anak tiri, rumah yang katanya lebih “tenang”.

Ibunya pun sama, menetap di luar negeri bersama laki-laki pilihannya, hidup yang terlihat sempurna dari unggahan media sosial.

Tak satu pun dari mereka benar-benar menoleh ke belakang.

Dan Kayla… memilih berhenti berharap.

Ia pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sekolah ditinggalkan. Rumah hanya sekadar tempat singgah. Malam jadi sahabat, kecepatan jadi candu, dan kebisingan klub jadi pelarian dari sunyi yang terlalu berisik di kepalanya.

Di lintasan balap, ia merasa hidup.

Di klub malam, ia merasa bebas.

Meski sebenarnya, semua itu hanya cara untuk tidak merasa apa-apa.

Kayla menyesap minumannya lagi. Pandangannya sempat kosong, menembus keramaian. Di balik tawa dan sorak kemenangan, ada ruang hampa yang tak pernah benar-benar terisi.

“Lo kenapa?” tanya Ditha, menyadari perubahan itu.

Kayla menggeleng cepat. “Gak apa-apa.”

Seperti biasa. Selalu “gak apa-apa”.

Padahal jauh di dalam hatinya, ada gadis kecil yang dulu berteriak minta diperhatikan. Gadis yang belajar terlalu cepat bahwa rumah bisa hancur, dan cinta bisa pergi kapan saja.

Maka Kayla memilih sendiri. Mencari kebahagiaan sendiri. Dengan caranya sendiri, meski caranya sering kali salah.

Dan ia tak tahu… bahwa suatu hari, hidup akan memaksanya berhenti berlari, dan mempertemukannya dengan jalan pulang yang tak pernah ia rencanakan.

**

Pagi-pagi sekali atau setidaknya begitu yang Kayla kira, ponselnya berdering tanpa ampun di atas meja kecil di samping tempat tidur. Getarnya menggema di kepala Kayla yang masih terasa berat, seolah ada palu yang mengetuk-ngetuk dari dalam.

Ia meringis. Aroma alkohol semalam masih samar tercium. Tanpa membuka mata, tangannya meraba-raba permukaan meja hingga menemukan ponsel.

“Hemmm…” gumamnya malas, suara serak bercampur kantuk.

“Astaghfirullah, Kayla… kamu belum bangun, Nduk?”

Seketika itu juga, mata Kayla terbuka lebar. Suara itu. Suara yang sangat ia kenal. Suara yang selalu terdengar lembut, bahkan ketika menegur.

Kayla menurunkan ponsel sedikit, menatap layar dengan jantung yang mendadak berdebar.

Eyang.

Ia langsung duduk, pusingnya seakan terlupakan. Dengan cepat Kayla menarik napas, berusaha menetralkan suaranya menyembunyikan sisa mabuk, menyembunyikan kehidupan yang tak pernah ingin ia perlihatkan pada perempuan sepuh di seberang sana.

“Eyang… kenapa pagi-pagi udah telepon?” tanyanya, dibuat sopan dan setenang mungkin.

Di seberang sana terdengar suara kecil disusul desahan napas. “Astaghfirullah pagi darimana, cah ayu? Ini sudah jam satu!”

____

...Yuhuuuu.......

...Assalamualaikum wr. wb kesayangan Mommy semuanya. Gimana kabarnya? sehat dong ya? 🥳...

...Bantu ramaikan kamar baru Mommy ya, biar bisa tamat 🙈🤣...

...Cukup, like, komen dan Tap love nya 🥰 gampang kan (mode maksa) 🤣...

...Mulai hari ini, Kayla dan ustadz Hanan akan menemani kalian di waktu Sahur yaaa 🥰...

Bab 2

Alis Kayla mengerut. Tangannya refleks menoleh ke arah jam dinding di kamarnya. Dan benar saja. Jarum pendek sudah menunjuk angka satu. Siang. Dadanya terasa mengempis.

“Maaf, Eyang…” ucapnya pelan.

‘Kenapa waktu cepet banget jalannya. Perasaan baru merem,’ gumam Kayla dalam hati.

Tak langsung ada jawaban. Hanya terdengar napas berat yang tertahan, seperti seseorang yang ingin menegur, tapi memilih mengalah.

“Kapan kamu ke rumah eyang?” tanya sang eyang akhirnya.

Kayla memejamkan mata sejenak. Pertanyaan itu. Selalu itu. “Kayla belum ada waktu, Eyang. Kayla masih sibuk kuliah.”

Alasan yang sama. Berulang-ulang.

“Nduk…” suara eyangnya melembut. “Eyang kangen sama kamu. Pulang ya, Nduk. Temani eyang sebentar."

Kayla menggigit bibir. “Tapi Kayla masih kuliah, Eyang.”

Hening.

Beberapa detik terasa begitu panjang. Kayla bisa membayangkan eyangnya di rumah tua itu duduk di kursi kayu, memegang ponsel dengan tangan berkerut, menatap kosong halaman depan sambil menahan rindu.

Lalu suara lain menyela, lebih tegas namun tetap hangat.

“Kayla, eyang itu sakit karena kangen sama kamu.”

Napas Kayla tertahan.

“Om Arman?” gumamnya lirih.

“Pulang, Kay.” Suara Om Arman terdengar penuh desakan. “Sebentar saja. Nanti Om jemput di bandara.”

“Tapi Om—”

“Kamu gak mau eyangmu kenapa-kenapa, toh?” Kalimat itu menghantam tepat di dada.

Kayla menunduk.

Tangannya mengepal di atas seprai kusut. Segala pembelaan yang sudah siap di kepalanya runtuh begitu saja. Ia hanya bisa menghela napas panjang, berat, seperti menyerah.

Sejak dulu… hanya eyangnya yang benar-benar peduli. Saat Mama dan Papa sibuk saling menyalahkan, eyanglah yang selalu mengirim pesan.

Saat Kayla memilih hidup sendiri, eyanglah yang tak pernah berhenti menunggu. Tak pernah menghakimi. Tak pernah menuntut. Hanya bertanya, “Kamu sehat, Nduk?”

Dan sekarang, di saat hidup Kayla berantakan dalam gemerlap malam Jakarta, eyangnya masih memanggilnya pulang.

“Iya…” suara Kayla nyaris berbisik. “Kayla pulang.”

Di seberang sana, terdengar helaan napas lega. Kayla menutup panggilan dan memandangi ponselnya lama. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada perasaan aneh menguar di dadanya.

Takut.

Bersalah.

Dan… rindu.

Ia tak tahu bahwa kepulangan itu bukan sekadar pulang kampung. Melainkan awal dari perjalanan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

**

Menempuh perjalanan berjam-jam melalui udara dan darat, tubuh Kayla terasa lelah. Namun begitu mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah rumah tua bergaya kolonial di sudut kota Surabaya, hatinya justru terasa sesak.

Rumah itu tak banyak berubah.

Pagar besi berwarna hijau tua masih berderit pelan saat dibuka. Pohon mangga di halaman depan masih berdiri kokoh, menaungi teras kecil tempat eyangnya biasa duduk di sore hari.

Bau khas rumah lama perpaduan kayu, tanah, dan kenangan langsung menyergap inderanya. Begitu pintu terbuka, Kayla melihat sosok yang selama ini hanya ia dengar suaranya dari balik telepon.

“Eyang!”

Tanpa peduli lelah, Kayla langsung berlari kecil dan berlutut, memeluk tubuh ringkih itu erat-erat.

Tangannya merangkul pundak eyang Narti, mencium bau minyak kayu putih yang selalu sama sejak ia kecil.

Wanita tua itu tersenyum dari kursi rodanya, keriput di wajahnya semakin terlihat saat matanya menyipit hangat.

“Kamu itu ya… kalau nggak disuruh, nggak pernah inisiatif pulang!”

Kayla menyengir, masih memeluk. “Maafin Kayla, Eyang. Namanya juga kuliah, sibuk, Eyang.”

Eyang Narti menggeleng pelan, jemarinya mengusap punggung cucunya. “Alasan terus.”

Kayla terkekeh kecil, lalu berdiri dan berdiri di belakang kursi roda eyangnya.

Tangannya memegang pegangan kursi itu, seperti dulu, saat ia masih bocah dan eyangnya masih bisa berjalan pelan-pelan.

“Gimana Papa kamu?” tanya eyang Narti tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat langkah Kayla terhenti sesaat.

“Kayla… udah lama nggak ke rumah Papa,” jawabnya jujur, tanpa berusaha mempermanis. Eyang Narti terdiam, lalu menghela napas panjang.

“Astaga… padahal kalian sama-sama di Jakarta. Tapi masa bisa nggak tahu kabar sih?”

Kayla menunduk. Tangannya kembali mendorong kursi roda itu menuju ruang tamu. Roda berderit pelan, mengisi keheningan yang canggung.

“Eyang lupa,” ucap Kayla ringan, seolah bercanda, “cucu Eyang ini anak buangan. Jadi ya… nggak bakal dipeduliin lagi.”

“Hush!” Eyang Narti menepuk tangan Kayla pelan. “Kamu ini kalau ngomong jangan sembarangan!”

Kayla tertawa kecil. “Hehehe… kan fakta, Eyang.”

Tapi tawa itu terdengar kosong. Eyang Narti menoleh, menatap cucunya lama.

Tatapan itu bukan marah, bukan kecewa melainkan penuh kepedihan. Ia mengenal Kayla terlalu baik. Tertawa adalah tamengnya. Candaan adalah caranya menutupi luka.

Padahal di balik itu, hati cucunya rapuh. Terlalu rapuh untuk usia yang seharusnya masih belajar berharap.

“Kayla…” suara eyangnya melembut. “Kamu itu bukan anak buangan. Kamu cuma anak yang orang tuanya lupa caranya mencintai dengan benar.”

Kayla terdiam.

Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri. Ia memilih memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan tasnya.

“Di sini saja dulu, ya, Nduk,” lanjut eyang Narti. “Nggak usah mikir apa-apa. Di rumah ini kamu selalu punya tempat.”

Kayla mengangguk pelan. “Iya, Eyang.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kayla merasa tidak sendirian.

**

Malam turun perlahan di Surabaya. Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan, menemani suara televisi yang dibiarkan menyala tanpa benar-benar ditonton siapa pun.

Eyang Narti sudah terlelap di kamarnya, sementara Om Arman sibuk merapikan beberapa berkas di meja makan.

Kayla duduk di sofa dengan satu kaki ditekuk. Ponselnya ia bolak-balikkan di tangan, layar menyala lalu mati lagi. Tak ada notifikasi menarik. Tak ada suara bising. Tak ada dentuman musik.

Terlalu sepi.

Dada Kayla terasa gelisah. Sudah bertahun-tahun ia hidup dalam kebisingan, klub malam, tawa palsu, mesin mobil yang meraung di lintasan balap. Kini, keheningan rumah eyangnya justru membuat pikirannya berisik.

Ia berdiri tiba-tiba.

“Om, minjem mobilnya ya.” ucap Kayla santai.

Arman yang sedang menuang air minum menoleh. “Kamu mau ke mana, Kay?”

“Keluar sebentar.” Kayla mengambil jaket tipis yang tergantung di sandaran kursi. “Om juga nggak akan ke mana-mana kan?”

“Ya nggak sih,” Arman mengernyit, “tapi udah malam. Kamu mau ke mana?”

Kayla mengenakan jaketnya, menarik resleting sampai dada. “Ke alun-alun doang. Mau cari angin.”

Arman menatapnya beberapa detik, menimbang. Ia mengenal Kayla, keras, mandiri, tapi juga menyimpan banyak luka. Menahan gadis itu hanya akan membuatnya semakin memberontak.

Karena pernah kejadian, dulu saat Kayla kecil. Di usia sepuluh tahun, Kayla ingin belajar motor. Tapi karena pada khawatir, tidak ada yang mengizinkan.

Alhasil, Kayla belajar diam diam dan berakhir ke rumah sakit.

Sifat Kayla sangat keras, penuh rasa penasaran. Melarangnya, sama saja dengan menyuruhnya.

“Ya sudah sana.” Arman akhirnya mengalah. “Tapi jangan malam-malam pulangnya.”

Kayla tersenyum kecil. “Oke, Om. Bilangin ke Eyang nanti kalau nyari Kayla.”

“Iya, gampang.”

Bab 3

Kayla mengambil kunci mobil dan melangkah keluar. Suara pintu tertutup pelan, meninggalkan Arman sendirian di dalam rumah.

Arman adalah adik dari Damar, ayah kandung Kayla. Usianya hampir menginjak kepala empat, namun wajahnya masih terlihat muda. Rambutnya selalu rapi, pakaiannya sederhana. Ia memilih hidup tenang, jauh dari drama.

Sejak kakaknya bercerai, kondisi Eyang Narti semakin sering menurun. Penyakit datang silih berganti, seolah tubuh tua itu tak sanggup lagi menahan terlalu banyak kesedihan.

Arman sempat berpikir untuk menikah. Tapi niat itu selalu ia urungkan. Baginya, menjaga ibu jauh lebih penting daripada membangun kehidupan sendiri.

Di luar, Kayla menyalakan mesin mobil. Suara mesin yang hidup membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ada rasa akrab di sana. Rasa yang ia kenal betul.

Mobil melaju menembus jalanan Surabaya yang lengang. Lampu-lampu jalan berpendar lembut, berbeda dengan gemerlap Jakarta yang bising dan penuh godaan.

Kayla membuka jendela sedikit. Angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma kota yang asing tapi hangat.

Ia memang berkata ingin ke alun-alun. Tapi pikirannya melayang ke arah lain.

Ke masa lalu.

Ke kebiasaan lama.

Ke dunia yang selalu memanggilnya ketika ia merasa kosong.

Tangannya mencengkeram setir lebih kuat.

“Cuma cari angin,” gumamnya, entah untuk meyakinkan Om Arman… atau dirinya sendiri. Mobil terus melaju, membawa Kayla menuju malam yang belum tentu sekadar angin.

Dan ia tak menyadari, bahwa langkah kecil itu akan menjadi awal dari rangkaian kejadian yang perlahan menyeretnya ke persimpangan hidup antara kembali jatuh, atau akhirnya pulang.

Kayla mengendarai mobil menyusuri jalanan kota dengan kecepatan sedang. Tidak ngebut, tidak juga terlalu pelan.

Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis kuning pucat di kaca depan, sementara malam Surabaya terasa lebih tenang dibandingkan Jakarta.

Di dalam mobil, musik mengalun kencang.

Dentuman bass memenuhi ruang sempit itu, memantul di dada Kayla. Lagu-lagu lama yang biasa menemaninya berpesta kembali diputar irama yang sudah akrab dengan hidupnya.

Tangannya memutar volume sedikit lebih tinggi, seolah ingin menenggelamkan pikiran-pikiran yang mulai muncul.

Kayla hanya mengenakan celana pendek sepaha dan tanktop putih. Kardigan tipis ia biarkan terbuka, berkibar pelan tertiup angin dari jendela yang setengah terbuka.

Rambutnya digulung asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di pelipis. Di kakinya hanya ada sandal jepit sederhana, jauh dari kesan glamor yang biasa ia pakai di klub.

Namun justru itulah Kayla malam ini.

Apa adanya. Tanpa topeng.

Ia tersenyum kecil, lalu mulai bernyanyi mengikuti lirik lagu. Bahunya bergoyang ringan, jemarinya mengetuk setir mengikuti irama. Sesekali ia tertawa sendiri, menikmati kebebasan kecil yang ia ciptakan di ruang sempit bernama mobil.

Hanya itu yang bisa Kayla lakukan untuk mengusir jenuh.

Kalau di Jakarta, ia tahu persis harus ke mana. Klub malam dengan lampu strobo dan alkohol dingin selalu siap menyambut. Tempat di mana ia bisa lupa pada segalanya nama, luka, masa lalu.

Tapi ini Surabaya.

Di kota ini ada eyang. Ada Om Arman. Ada mata yang bisa mengenalinya. Ada rasa bersalah yang diam-diam mengintai.

Kayla tidak berani. Maka jadilah ia berdisko sendiri di dalam mobil.

Bernyanyi keras tanpa peduli suara fals. Menari kecil tanpa takut dinilai.

Di balik kaca mobil, Kayla terlihat seperti gadis biasa yang sedang menikmati malam. Tapi di dalam dadanya, ada kekosongan yang terus ia coba isi dengan musik dan gerakan.

Lampu merah menyala. Mobil berhenti. Kayla memandangi bayangannya sendiri di kaca depan. Sekilas, senyumnya memudar. Musik tetap berbunyi, tapi pikirannya melayang.

“Kenapa sih susah banget buat tenang?” gumamnya lirih.

Ia menarik napas panjang, lalu kembali tersenyum paksa. Tangan kanannya kembali menari di udara, mengikuti beat lagu.

Untuk beberapa menit ke depan, Kayla memilih lupa.

Karena terkadang, cara bertahan hidup satu-satunya adalah berpura-pura bahagia meski hanya di dalam mobil, sendirian, di tengah kota yang asing tapi terasa seperti rumah lama.

Saat sedang asyik mengikuti irama musik, tiba-tiba setir mobil terasa berat. Kayla mengernyit, refleks mengurangi kecepatan. Ada bunyi aneh seperti gesekan kasar lalu mobil oleng sedikit sebelum akhirnya berhenti total di pinggir jalan.

“Loh…?” gumamnya.

Kayla mematikan mesin. Musik berhenti. Sunyi langsung menyergap, begitu mendadak sampai telinganya berdengung.

Ia turun sedikit dari jok, menoleh ke kaca spion, lalu membuka pintu dan melihat ke arah ban. Dadanya langsung mengempis.

Bocor.

Ban depan kiri kempes nyaris rata dengan aspal.

“Ya ampun…” desis Kayla pelan.

‘’Kenapa pakai acara bocor segala sih!’’

‘’Gak bisa apa ya, kalau mau bocor tuh kasih aba aba gitu, biar aku lewat bengkel!’’

‘’Arrkkhh kalau gini gimana?’’

‘’Astagaaa! Apes apessss banget sih ahhh !’’

Ia berdiri mematung sejenak, menatap sekeliling. Jalan itu sepi.

Terlalu sepi. Lampu jalan jaraknya berjauhan, beberapa bahkan mati. Tak ada kendaraan lewat. Tak ada rumah. Hanya deru angin malam dan suara jangkrik yang terdengar menyeramkan.

Rasa tidak nyaman mulai merayap di tengkuknya. Kayla cepat-cepat masuk kembali ke mobil dan mengambil ponsel. Tangannya sedikit gemetar saat membuka layar, langsung mencari nama Om Arman.

No service.

Ia mengerjapkan mata, memastikan dirinya tidak salah lihat. Lalu mengecek data.

Tidak ada pulsa. Tidak ada data.

“Ah shittt!!” umpatnya kesal, ‘’Gembel banget gue, ya ampun sampai gak ada pulsa sama sekali!’’

Kayla menepuk dahinya sendiri. Ia lupa membeli pulsa sejak tiba di Surabaya. Terlalu terbiasa dengan Wi-Fi dan paket pascabayar di Jakarta.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tenang, Kayla. Ini cuma ban bocor.

Namun perasaan tidak aman semakin kuat.

Dan saat itulah—

Tok. Tok.

Suara ketukan di kaca samping kanan membuat jantung Kayla nyaris berhenti.

Ia menoleh cepat. Ada bayangan seseorang berdiri di luar. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.

Kayla menelan ludah. Tangannya refleks menggenggam setir erat-erat. Namun pikirannya terlalu polos malam itu ia berharap mereka adalah orang baik. Warga sekitar. Penolong.

Dengan ragu, Kayla menurunkan kaca sedikit.

“Mas…?” suaranya nyaris berbisik. “Mobil aku bocor—”

Kalimatnya terhenti. Pisau itu muncul begitu cepat. Mengkilap di bawah lampu jalan yang redup.

“Diam!” bentak salah satu dari mereka.

Kayla membelalak. Napasnya tercekat. “Mas, aku cuma—”

“Jangan teriak!” tangan kasar tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang. Tubuh Kayla menegang, jeritannya teredam di balik telapak tangan asing yang bau rokok dan keringat.

Air matanya langsung mengalir.

“Keluar!” perintah yang lain.

Kayla ditarik paksa keluar dari mobil. Kakinya hampir tersandung aspal. Kardigan tipisnya tersingkap, udara malam menusuk kulitnya. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena dingin melainkan ketakutan yang merambat sampai ke tulang.

“Serahin semua!” hardik salah satu dari mereka sambil mengacungkan pisau lebih dekat ke wajahnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!