Indonesia
NovelToon NovelToon

BABY-NYA OM GALAK

Ketahuan

"Hmm.. Aah! Faster baby!"

Lenguhan panjang dari dalam ruang tamu membuat tubuh Yuna membeku. Jari tangannya yang siap membuka handle pintu, tiba-tiba membatu. Suara jahanam itu kembali terdengar di telinganya. Yuna memejamkan mata, menarik nafas panjang untuk mengontrol emosi yang ingin meledak.

Ini bukan yang pertama kali, tapi ini yang kesekian kali. Sudah entah berapa kali, Yuna melihat dan menyaksikan perbuatan memalukan itu. Perbuatan yang dilakukan oleh Ibu kandungnya sendiri, bersama pria-pria muda yang Yuna sendiri sudah tidak ingat lagi berapa jumlahnya.

"Sial!" umpat Yuna sambil mengepalkan tangan.

Ia ingin berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Tapi sakit di perut akibat datang datang bulan. Membuatnya tidak berselera untuk pergi kemanapun.

Haaah!

Yuna menghela nafas panjang dan berat. Dalam hitungan ketiga, ia membuka pintu yangbsama sekali tidak terkunci.

Di depan matanya, terlihat sangat Ibu sedang beradu kelamin dengan seorang pria yang sangat ia kenali.

"Edo! Mama!" lengkingan suara Yuna, membuat penyatuan ala 4njing itu terlepas.

Pria muda yang tadi sedang menggagahi Ibunya langsung gelagapan. Melihat perbuatan kotornya di ketahui oleh sang kekasih!

"Yuna! Aku bisa jelasin semua ini sayang!" Edo, pacar sekaligus teman satu sekolah Yuna meraih dan memakai seragamnya cepat-cepat.

"Menjijikan!" maki Yuna.

Ia ingin menangis. Tapi entah mengapa tidak ada air matayang keluar.

"Kalian kenapa tega lakuin ini sama aku!" bentak Yuna. Wajahnya merah, matanya menatap tajam keduanya. "Kamu tahukan Do, dia itu Mama aku? Mama aku loh! Bisa-bisanya kamu gagahin dia?"

Yuna menatap benci, jijik, sekaligus malu melihat kelakuan keduanya.

"Sayang, Yuna, kamu jangan salah paham! Aku melakukan ini karena terpaksa!" Edo beralasan. Ia tidak mau kehilangan Yuna. Tapi ia juga tergoda dengan tawaran yang Ibu Yuna berikan.

"Kamu terlalu lebay Yuna! Mama dan Edo cuma sekedar bersenang-senang aja! Dia tetap pacar kamu!" kata Mala.

Di wajah wanita berusia 40 tabun itu sama sekali tidak terlihat rasa bersalah. Ia malah dengan santai duduk di sofa, menyulut rokok masih dalam keadaan tanpa busana. Tanpa memikirkan perasaan putrinya yang terluka.

"Aku terlalu lebay? Selama ini Mama berhubungan s3ks dengan siapapun aku gak peduli. Tapi kenapa harus sama pacar aku? Dari sekian banyaknya pria di dunia ini? Apa gak ada pria lain yang bisa mama ajak bercinta selain Edo?" nafas Yuna memburu, dadanya naik turun, merasakan emosi yang naik drastis bahkan nyaris meledak.

Edo yang sudah selesai berpakaian menghampiri Yuna. Ia meraih lembut tangan kekasihnya. tapi dihempas keras oleh Yuna.

"Jauhkan tangan busuk mu dari aku brengsek!" umpat Yuna! tidak ada lagi binar cinta yang terlihat di mata gadis imut yang saat ini duduk di kelas 3 SMA.

"Aku minta maaf Yuna? Aku khilaf? Aku menyesal! tolong maafin aku?" bujuk Edo. Ia menyesal, sangat menyesal sudah tergoda oleh rayuan Ibu dari kekasihnya.

Yuna tersanyum sinis. "Maaf? memangnya maaf kamu bisa mengembalikan keadaan? tidak Edo. Semuanya susah terlambat. Dan aku mau putus dari kamu!"

Yuna berlari, masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua.

"Yuna! Maafin aku Yuna!" Edo ingin mengejar, tepi pergelangan tangannya di cekal oleh Mala.

"Kamu mau kemana Edo? Permainan kita belum selesai loh!" kata Mala, dengan nada manja dan gerakan sensual yang menggoda.

Edo membeku, mulutnya menganga! Ia tidak habis pikir... bisa-bisanya ia malah minta lagi, disaat perbuatan busuk mereka diketahui oleh Yuna.

"Maaf Tante aku mau lanjutin hubungan ini?" tolak Edo, menjauhkan dirinya dari Mala.

"Gak mau lanjutin? Kamu yakin?" Mala tersanyum smirk. Ia menyalakan satu batang nikotin lagi. "Kamu rela kehilangan uang bulanan belasan juta dari tante?" lanjut Mala, tersenyum penuh kemenangan saat pertahanan Edo mulai goyah.

"Tapi aku sangat mencintai Yuna, Tante? Aku gak mau kehilangan dia?" kata Edo pelan.

Tubuhnya jatuh ke sofa. Memandang anak tangga menuju kamar Yuna yang masih tertutup pintunya.

"Kamu jangan khawatir, nanti Tante akan urus masalah ini! Selagi kamu masih bisa memuaskan Tante... Tante akan berikan semua yang kamu mau, termasuk Yuna!" bujuk Mala, kembali menggoda pria muda itu dengan dua bongkahan bulat miliknya.

Edo diam. Ia menatap Mala, lalu menatap anak tangga yang letaknya tidak jauh dari sana!

"Ayolah! Udah nanggung banget nih!" bujuk Mala lagi.

Edo yang pertahanannya memang lemah, akhirnya mengangguk. Ia kembali terlena, dalam rayuan dan godaan Mala yang memang ahlinya dalam urusan ranjang.

---

Sedangkan di lantai atas, Yuna sedang menyusun pakaiannya ke dalam koper. Ia sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah ini. Tinggal bersama ibunya, sudah seperti tinggal di rumah prostitusi. Setiap hari, rumah berlantai dua itu selalu penuh dengan lenguhan, desahan, dan peraduan dua kulit dari sang Ibu dan berbagai pria yang sering ia bawa pulang. Namun, dari sekian banyaknya pria yang ibunya bawa pulang, mengapa salah satunya harus Edo?

Yuna dan Edo sudah berpacaran sejak mereka sama-sama kelas 10 SMA. Di sekolah Edo dikenal sebagai siswa teladan, berprestasi dan salah satu penerima beasiswa. Edo berasal dari sebuah desa yang jauh dari ibukota. Karena kepintaran yang ia miliki, Edo mendapatkan beasiswa dan bisa bersekolah di tempat yang sama dengan Yuna. SMA Cakrawala, sekolah swasta bergengsi yang tidak sembarangan orang bisa mendaftar.

"Arggh sial!" Yuna memaki, ia membanting lampu tidur di samping ranjang sampai pecah. "Seharusnya aku udah curiga dari lama! Pantes saja beberapa bulan belakangan ini Edo sering pakai bareng branded. Tenyata dia jadi simpanan... tapi kenapa harus jadi simpanan Mamaku!"

Yuna menarik rambutnya dengan keras. Ia memarahi, kesal, kecewa, sakit hati. Tapi entah kenapa, sampai detik ini tidak ada satu tetes air mata pun yang keluar!

Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Yuna tanpa ragu meninggalkan kamar yang sudah ia tempati selama 17 tahun. Hatinya terasa sesak! membayangkan rumah yang dulu penuh dengan kehangatan keluarga yang lengkap. Sekarang semuanya berubah, sejak Ayahnya ketahuan selingkuh dan menikah lagi dengan daun muda.

Sejak peristiwa itu, rumah bahagia Yuna berubah jadi neraka. Ayah, Ibu yang dulunya sangat peduli padanya. Sekarang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan mungkin lupa jika mereka punya anak.

Dengan koper besar yang ada ditangan, Yuna menuruni anak tangga. Lagi-lagi penyatuan antara Ibunya dan Edo kembali terlihat.

"Ciih! Menjijikan!" cibir Yuna, yang bahkan tidak ingin melihat ke arah mereka.

"K-kamu mau kemana Yuna? Aah!" tanya Ibunya disela desahan panasnya.

Yuna tidak mau menjawab. Ia sudah terlalu jijik dengan mereka berdua yang bahkan sudah tidak lagi memikirkan status.

Penolakan Papa

Kepergian Yuna, sama sekali tidak menghentikan kegilaan Mala dan Edo. Keduanya masih terus asik mereguk nikmat, diatas luka Yuna yang sudah mereka torehkan.

"Dasar b4jingan! Gak tau diri! Gak tahu malu!" Yuna terus memaki sepanjang jalan. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang sejak tadi terus menatapnya.

Yuna masih sangat marah. Jika panas hatinya bisa diukur pakai termometer, mungkin angkanya sudah tidak lagi terlihat. Bahkan panasnya sinar matahari yang menyengat diatas kepala, sudah tidak lagi terasa.

Setelah berjalan cukup jauh, Yuna berhenti di sebuah halte. Tujuan terakhirnya saat ini hanyalah rumah Ayahnya.

Sejak Bram menikah dengan Rindu, sekalipun Yuna tidak pernah menginjakkan kakinya kesana. Selain karena Bram yang tidak lagi peduli padanya... Rindu, istri baru ayahnya juga tak suka dengannya. Tapi sekarang, Yuna tidak punya tujuan lain... selain rumah ayahnya itu.

Yuna berusaha menghubungi Bram. Namun panggilan pertama, kedua, ketiga, bahakan sampai panggilan kesepuluh, pria berusia 45 tahun itu sama sekali tidak meresponnya.

[Pa, aku boleh tinggal di rumah Papa gak? Aku kabur dari rumah Mama?]

Tidak ada pilihan lain. Yuna akhirnya mengirim pesan.

Satu menit, dua menit, tiga menit, sampai satu jam lamanya Yuna menunggu balasan. Tapi jawaban dari ayahnya tak kunjung datang.

"Sial! berkerak aku nunggu disini! Tapi gak dibalas juga!" makinya.

Lelah menunggu, Yuna akhirnya memutuskan untuk datang kesana saja. Dengan menaiki taksi, Yuna menuju ke rumah ayahnya yang tinggal disebuah komplek biasa.

Ya, sejak bercerai dari Mala. Bram hidup dalam keadaan yang sederhana. Tidak miskin, tapi tidak kaya juga. Karena semua kekayaan yang Bram punya ditarik kembali oleh Mala, sebab Mala berasal dari keluarga kaya yang punya perusahaan besar.

Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam. akhirnya Yuna sampai di sebuah rumah satu lantai dengan pagar hitam yang tidak tinggi. karena Yuna masih bisa melihat mobil ayahnya yang terparkir di garasi.

"Papa! Papa! Ini Yuna, Pa!" Yuna berteriak, sambil mengetuk pagar dengan batu kecil.

Satu kali, dua kali, sampai tiga kali Yuna berteriak. Barulah ia melihat ayahnya muncul, dengan wajah kusut yang terlihat tidak senang melihat kedatangannya.

"Mau ngapain kamu ke sini?" Bukannya diajak masuk ke dalam rumah. Yuna malah ditarik keluar menjauh oleh ayahnya.

"Aku mau tinggal sama Papa!" kata Yuna.

"Gak bisa! kamu nggak bisa tinggal di sini!" Kedua mata Bram celingukan, terus melihat ke arah rumahnya.

"Aku mohon Pa, boleh ya aku tinggal sama Papa?" Yuna memohon. karena tidak mungkin ia kembali tinggal bersama ibunya.

"Kamu kenapa nggak tinggal sama Mama kamu aja? istri baru Papa gak suka sama kamu! dia gak mengizinkan kamu tinggal disini!" tolak Bram.

Hati Yuna mencelos. Sungguh! Ia ditolak oleh ayah kandungnya sendiri?

"Pa, aku ini anak Papa loh!" kekecewaan dihatinya kembali bertambah.

"Papa tahu, kamu anak Papa. Tapi kamu kan tahu, Papa ini miskin, gak sekaya Mama kamu! udah kamu pergi sana! jangan pernah hubungi Papa lagi. Papa gak mau gara-gara kamu rumah tangga Papa berantakan!"

Tanpa perasaan, Bram mendorong putrinya menjauh. Ia melangkah masuk, lalu mengunci pagar tanpa peduli dengan putrinya yang menatapnya dengan kecewa.

"Tenyata Papa sama Mama sama aja! Kalian berdua brengsek! Kalian gak pantes jadi orang tua!" teriak Yuna, melupakan kekesalan yang ada dihatinya.

Yuna kembali berjalan menyusuri trotoar. Kosong, sepi, hampa, itulah yang Yuna rasakan saat ini. Bayangan keluarga hangat dan bahagianya dulu kembali menyeruak. Tapi sekarang, semuanya tinggal kenangan. Bukan kenangan indah, tapi kenangan pahit yang bahkan tak ingin ia ingat lagi.

Tak! Tak! Tak!

Yuna menendang kaleng kosong yang ada di tepi jalan. Tendangan kecil, pelan, lalu berubah kuat, seiring amarah yang kembali menyala.

Kletak!

"Aduh!" teriak seseorang, yang kepalanya tidak sengaja terkena tendangan kaleng kosong milik Yuna.

"Mampus! kena orang kan?" Yuna merutuki kebodohannya sendiri.

Ia berlari, menghampiri pria berjas yang sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang.

"Nanti kita sambung lagi!" katanya, menyimpan kembali ponsel itu.

"Maaf Pak, Om, aku gak sengaja?" Yuna menunduk dihadapan pria dewasa yang bahkan tak berani ia tatap wajahnya.

Sebastian Gunawan. Duda kaya pemilik perusahaan besar yang cabangnya ada dimana-mana, menatap Yuna dengan kesal.

"Kamu buta, bodoh, atau tolol sih!" kata Bastian pedas tanpa perasaan.

Yuna yang tadinya menunduk langsung mendongak! Wajahnya merah padam.

"Om jangan ngehina gitu dong! aku kan udah minta maaf? Lagi pula salah Om juga, ngapain kepalanya diletakkan di atas!" sewot Yuna tak mau kalah.

Segala emosi termasuk amarah dan kekecewaan pada kedua orangtuanya, ia luapkan ke Bastian.

"Ini bocah satu udah salah, bukannya minta maaf malah balik nyalahin orang! Gak pernah sekolah!" tatapan Bastian tajam, bengis, membuat nyali Yuna menyusut seketika.

"Tadikan aku udah minta maaf, Om! Tapi Omnya aja yang galak, omongan pedes kaya cabe!" Yuna masih bersungut-sungut meski dengan nyali seadanya.

Bastian masih menatap tajam. Baru kali ini, ada seseorang yang berani melawannya terang-terangan. Dan sialnya orang itu hanya gadis kecil berseragam SMA.

"Pokoknya aku minta maaf! Gak sengaja!"

Belum sempat Bastian bicara, Yuna sudah berlari kencang. Meninggalkan pria itu yang masih menatapnya dengan tajam.

"Dasar gadis bodoh! gak punya sopan santun!" umpatnya kemudian masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.

---

Sedangkan Yuna masih berlari tunggang langgang. ia takut berhadapan dengan Bastian yang auranya sangat menyeramkan.

"Gila! om-om galak itu manusia apa setan sih! auranya nyeremin!" Yuna bergidik ngeri.

Setelah kakinya lelah terus diajak berlari. Akhirnya Yuna berhenti di depan sebuah minimarket dengan nafas yang masih naik turun.

"Sekarang aku harus kemana?" gumamnya bingung.

Kemudian ia mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu disana.

[Hasya kamu dimana? Aku ke rumahmu ya?"]

Tak punya tujuan lain. Yuna menghubungi salah satu sahabatnya.

[Ya udah datang aja! Aku di rumah!"]

Balasan dengan cepat datang dari Hasya. Tanpa membuang waktu, Yuna menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depannya.

"Pak, ke jalan Ikan lele no 456 ya?" ucap Yuna ke supir taksi.

"Siap Mbak!"

Taksi melesat dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Hasya. Sepanjang jalan Yuna hanya diam, menatap luar jendela yang menampilkan keramaian dan padatnya ibukota. Tapi keadaan itu berbanding terbalik dengan keadaan hati Yuna yang sunyi sepi.

"Terima kasih Pak!" Yuna keluar dari taksi setelah sampai.

Hasya sudah menunggunya di depan rumah.

Alis gadis berambut pendek itu berkerut, melihat sahabatnya datang sambil membawa koper besar.

"Kamu minggat?" tanya Hasya, mengajak Yuna masuk ke kamarnya.

"Tanyanya nanti aja. Kasih aku minum atau makan dulu kek, laper nih!" pinta Yuna, yang nafsu makannya meningkat setiap kali datang bulan.

Hasya mencebik. Namun Ia tetap mengambilkan minuman dan camilan untuk sahabatnya.

"Sekarang kamu jelasin ke aku! kenapa kamu minggat dari rumah Mama kamu?" tanya Hasya tidak sabar.

Dengan kesadaran penuh, Yuna menceritakan apa yang ia lihat sepulang sekolah di ruang tamu rumahnya.

"WHAT!" syok Hasya. "Edo ewik ewik sama Mama kamu?"

Tubuh gadis itu hampir oleng mendengarnya. Tak menyangka, siswa teladan yang dianggap baik selama ini... ternyata menjadi simpanan tante-tante. dan sialnya, Tante itu Ibu dari sahabatnya sendiri.

"Sumpah Yun, Mama kamu gak ada otak!" Hasya geleng-geleng kepala.

Yuna menghembuskan nafas panjang. "Ya begitulah cerita hidupku yang sangat menyedihkan. Tapi... yang lebih gilanya lagi, baru aja sih brengsek ini minta maaf. Eh... pas aku keluar malah lanjut main lagi! 4njing banget gak tuh manusia!"

"Yang 4njing bukan cuma dia Yun. Tapi mama kamu juga! Udah tua gau diri!" umpat Hasya ikut kesal juga.

Mulai hidup baru

"Jadi sekarang kamu mau tinggal di mana?" tanya Hasya, setelah Yuna menceritakan seluruhnya.

Yuna menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu. Tapi paling aku cari kos-kosan yang murah deh!" ucapnya.

Dengan dibantu Hasya, kedua Gadis remaja itu mencari kos-kosan yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah mereka. Bukan tanpa alasan, selain mencari yang murah, mereka juga memilih lokasi yang dekat sekolah. Agar Yuna tidak perlu keluar biaya untuk transportasi.

Ting!

Jempolnya Yuna berhenti, saat membaca pesan yang di kirim oleh Ibunya.

[Rekening kamu Mama bekukan. Karena kamu memilih pergi dari rumah ini!]

Yuna menggeram. Tangannya terkepal membaca pesan tak berperasaan dari wanita yang sudah melahirkannya.

[Mama tega lakuin ini sama aku? Aku anak Mama loh! Anak yang pacarnya udah Mama rebut!"]

Tidak perlu waktu lama. Mala kembali membalas pesan putrinya.

[Mama tidak merebutnya dari kamu! Mama hanya butuh kepuasan dari Edo! Kamu masih bisa pacaran sama dia]

Mata Yuna memerah. Amarah yang tadinya sudah meredup, kini kembali membara.

"4njing banget Mama kamu Yun!" umpat Hasya marah.

[Di dunia ini, tidak ada satupun wanita yang rela berbagi pria dengan wanita lain, Ma. Mama aja marah dan langsung cerai kan, saat tahu Papa selingkuh sama Tante Rindu? Sekarang dengan entengnya Mama bilang begitu sama aku?]

Yuna membanting ponselnya ke kasur. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya yang sangat egois. Ibunya saja tidak mau berbagi suami dengan wanita lain. Lantas mengapa dia malah di minta untuk menerima hubungan terlarang itu?

Konyol!

[Jangan mengalihkan pembicaraan Yuna. Jika kamu masih mau menikmati uang Mama. Maka maafkan Edo, terima dia kembali dan biarkan dia terus melayani Mama!]

[DASAR GILA!]

Yuna tak kuat lagi. Ia langsung memblokir nomor Ibunya saat itu juga.

"Beneran sinting Mama kamu, Yun!" Hasya juga tidak habis pikir.

"Hah!" Yuna membanting tubuhnya ke ranjang Hasya. "Biarkan saja lah! Terserah mereka mau apa. Intinya aku gak mau balik cowok munafik itu! Najis!"

Yuna bersungut-sungut. Ia memukul-mukul bantal milik Hasya sebagai bentuk luapan kekesalannya. Dari tadi, hingga detik ini... belum ada satupun air mata yang membasahi pipinya.

"Yun dapet nih kosannya 500 ribu sebulan!" kata Hasya, saat mereka kembali mencari kosan untuk Yuna.

" Mana?" Yuna menarik ponsel Hasya untuk melihatnya.

"Boleh juga nih! Dekat sama sekolah kan?" tanya Yuna dan Hasya mengangguk.

Yuna, langsung meminta sahabatnya untuk menghubungi pemilik kosan tersebut. Hari ini juga ia ingin pindah. Dan beruntung, Yuna masih memiliki sedikit uang simpanan.

Saat itu juga, Yuna diantar Hasya dengan motornya untuk melihat dan membayar kosan tersebut.

"Motor kamu baru nih!" tanya Yuna. Menyadari jika motor milik sahabatnya ini berbeda dari biasanya.

"Iya dong. Motor ini dibeliin sama Om Joe!" jawab Hasya dengan bangga.

Om Joe, sugar Daddy Hasya yang sudah ia temani sejak duduk dibangku kelas 11 SMA. Hasya berasal dari keluarga sederhana yang hanya tinggal bersama Ibu dan Kakaknya. Sebenarnya Ibu Hasya masih mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi, gaya hidup Hasya yang cukup hedon. Membuat gadis itu memilih jadi sugar baby, demi memenuhi gaya hidupnya itu.

Yuna memutar bola matanya dengan malas. "Kamu gak takut ketahuan sama istrinya Om Joe?"

Hasya malah tertawa. "Main cantik dong sayang! Kamu ini gimana sih! Lagipula ya... sayang tahu ninggalin Om-om royal seperti Om Joe!"

Yuna menggeleng. Ia tidak pernah melarang sahabatnya, tapi tidak membenarkan prilakunya juga.

"Ya terserah kamu deh! yang penting hati-hati aja!" pesan Yuna.

Setelah mereka berkendara hampir 30 menit. Kini, motor Hasya sudah tiba di parkiran sebuah kos-kosan yang ada di dalam gang. Gang sempit yang jaraknya hanya 100 meter dari SMA Cakrawala.

Mereka berdua langsung turun dan menemui pemilik kos-kosan. Setelah melihat kos-kosan yang lumayan bagus dan cocok untuknya. Yuna langsung membayar untuk satu bulan kedepan.

"Ini kuncinya dan semoga betah ya tinggal di sini?" ucap seorang wanita paruh baya, yang biasa dipanggil Bu Tuti.

"Terima kasih Bu!" kata Yuna disertai senyuman.

Setelah pemilik kosan itu pergi. Yuna menutup pintu dan menghampiri Hasya yang duduk di kasur lantai tipis milik kosan tersebut.

"Setelah ini apa yang mau kamu lakukan?"

Yuna tampak berpikir sejenak. "Paling aku mau cari kerjaan deh!" jawab Yuna.

Ia sudah memikirkan hal ini sejak tadi. Karena uang simpanan yang ia miliki, hanya cukup untuk biaya hidupnya sampai 1 bulan ke depan. Itupun jika ia memakainya dengan irit-irit.

"Nggak mau jadi sugar baby aja? kalau kamu beruntung... bisa dapat om-om tajir, royal yang bukan hanya bisa kasih kamu uang banyak. Tapi juga apartemen dan mobil sekalian!" tawar Hasya, bukan untuk yang pertama kalinya.

"Hahaha! Terima kasih banyak atas tawarannya. Cukup kamu, Mega, dan Lily saja yang menjalani profesi itu!" tolak Yuna.

Ya, tidak pernah sedikitpun terlintas di dalam pikiran gadis itu, untuk menjalani profesi yang sama dengan ketiga sahabatnya. Menurut Yuna, selagi ia masih bisa bekerja keras dengan tenaga dan dengan cara yang halal, ia akan melakukannya dengan sekuat tenaga.

"Ya sudah jika memang itu keputusanmu. Tapi ingat Yun, cari uang di kota besar seperti ini tidak mudah. Cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!" Hasya memegang pundak sahabatnya. "Tapi jika kamu berubah pikiran, tiba-tiba menginginkan profesi ini... jangan lupa hubungi aku!" kata Hasya sambil mengedipkan sebelah mata.

Yuna hanya tersenyum tanpa memikirkan lebih jauh perkataan sahabat. "By the way, Mega sama Lily ke mana?

"Biasalah, mereka berdua lagi dinas!"

Kata dinas, sudah menjadi bahasa yang sangat familiar di telinga Yuna.

Karena hari sudah sore, Hasya buru-buru pamit. sebab nanti malam, ia ada janji dengan Om Joe untuk menemani pria itu.

Setelah Hasya pergi. Yuna menatap kos-kosan sempit miliknya dengan hati yang kosong. Tidak pernah sekalipun terpikir dalam otaknya, akan tinggal di tempat yang seperti ini.

"Oke Yuna jangan bersedih. Kamu harus semangat dan mulai belajar mandiri untuk dirimu sendiri!" ucap Yuna, sambil menatap pantulan wajahnya di kaca kecil yang tergantung di dinding.

Yuna mengambil pakaian ganti dari dalam koper. Setelah itu ia menuju ke kamar mandi, mengguyur kepalanya dengan air dingin. Berharap semoga melalui air ini, segala ingatan buruk tentang kejadian hari ini.. bisa menghilang terbawa air yang mengalir.

Selepas mandi, Yuna merasakan kantuk yang luar biasa. Ia membaringkan tubuhnya di kasur tipis yang keras. Namun itu jauh lebih baik, daripada ia harus tinggal di jalanan dan tidur di emperan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!