Gedung Putih, Washington D.C. - 15 Maret 2025
Hujan gerimis membasahi jendela Oval Office ketika Thomas Watson mengangkat pena emas di tangannya. Di hadapannya terbentang sebuah dokumen yang akan mengubah arah sejarah dunia: The Global Peace Accord—perjanjian damai yang akhirnya mengakhiri konflik Timur Tengah yang telah berkecamuk selama tiga dekade.
“Mr. President, anda telah menciptakan sebuah sejarah,” ucap Menteri Luar Negeri, Steven Chen, suaranya bergetar menahan emosi.
Di sekeliling mereka, para diplomat dari dua belas negara berdiri dalam keheningan yang tegang, seolah menahan napas bersama. Tidak ada yang berani bergerak, takut merusak detik yang kelak akan tercatat dalam buku-buku sejarah.
Thomas tersenyum—senyum khas yang telah menjadi ikon kepemimpinannya. Hangat, tulus, dan entah bagaimana mampu membuat siapa pun merasa didengar. Pada usia lima puluh dua tahun, rambutnya yang mulai beruban justru menambah kharisma seorang negarawan yang telah mengabdikan hampir seperempat abad hidupnya pada dunia politik.
"Bukan saya yang menciptakan sejarah, Steven," katanya lembut, pena melayang di atas kertas. "Tapi kita semua, Ini adalah kemenangan bagi kemanusiaan. Kemenangan untuk setiap ibu yang tidak perlu lagi menangis kehilangan anaknya—"
Pena itu terlepas dari genggamannya
Thomas Watson, Presiden Amerika Serikat ke-47, yang memiliki approval rating 91%—angka tertinggi dalam sejarah modern—tiba-tiba memegang dadanya. Wajahnya memucat.
"Sir?!" Steven melompat dari kursinya.
Tapi Thomas sudah jatuh. Lutut menyentuh karpet merah Oval Office, tangan kanan mencengkeram dada dengan kuat. Rasa sakit yang mengerikan menjalar dari jantung, seperti ada yang meremukkan tulang rusuknya dari dalam.
Tidak… jangan sekarang… perjanjiannya…
“PANGGIL TIM MEDIS! SEKARANG!” teriakan menggema memecah ruangan.
Pandangan Thomas mulai mengabur. Wajah-wajah panik berputar di sekelilingnya—para diplomat, pengawal, Steven—semuanya tampak terdistorsi. Tangan-tangan mencoba menopangnya, suara-suara memanggil namanya silih berganti, namun terdengar semakin jauh. Seolah ia perlahan tenggelam ke dasar sunyi yang tak terjangkau.
Detik-detik terakhir yang tertangkap oleh kesadarannya adalah langit-langit Oval Office yang megah—ruangan tempat ia menandatangani ratusan undang-undang, mengambil ribuan keputusan, dan mengubah arah hidup jutaan manusia.
Dan kemudian, semuanya menjadi gelap.
...***...
Tiga Hari Kemudian - Washington D.C.
Hujan turun lebih deras kali ini.
Ribuan payung hitam memenuhi National Mall, membentang dari Lincoln Memorial hingga Capitol Building. Dua juta orang berdiri dalam keheningan yang sakral—tak ada percakapan, hanya suara hujan yang jatuh tanpa henti dan isak tangis yang sesekali pecah.
Di atas panggung berkabung, sebuah peti mati berlapis bendera Amerika Serikat terbaring dengan penuh kehormatan. Merah, putih, dan biru tampak kontras di tengah kelabu langit Washington.
Presiden-presiden terdahulu berdiri berjajar dengan wajah tertunduk. Para pemimpin dunia dari lima benua hadir tanpa protokol berlebihan—tak ada senyum diplomatik, maupun pidato kosong. Di antara mereka, warga biasa datang dari seluruh penjuru negeri: veteran perang, ibu rumah tangga, mahasiswa, anak-anak yang menggenggam foto kecil Thomas Watson.
Hari itu, tidak ada perbedaan pangkat, jabatan, atau negara.
Hanya manusia yang berdiri bersama—mengantarkan kepergian seorang pemimpin yang gugur di ambang perdamaian.
Layar raksasa menampilkan wajah Thomas Watson.
Foto-foto berganti perlahan: saat ia masih menjadi senator muda dengan senyum penuh idealisme, momen kampanye legendaris ketika ia menolak dana korporasi dan memilih turun langsung ke jalan—berbicara dengan petani, guru, dan perawat.
Ada pula gambar ketika ia menandatangani Universal Healthcare Act, saat ia berlutut sejajar dengan anak-anak sekolah dasar, mendengarkan cerita mereka dengan sungguh-sungguh.
Layar kemudian menampilkan satu foto yang membuat banyak kepala tertunduk: Thomas Watson menangis di pemakaman korban penembakan massal—dan bersumpah, di hadapan dunia, bahwa ia akan mengubah segalanya.
Dan ia menepatinya.
Dua periode kepemimpinan. Delapan tahun pengabdian. Ia melahirkan kebijakan-kebijakan yang menurunkan angka kriminalitas, pengangguran, dan tunawisma secara drastis. Ia menyatukan kembali masyarakat yang terpecah—bahkan berhasil merajut perdamaian di Timur Tengah, sesuatu yang selama puluhan tahun dianggap hampir mustahil.
“Thomas Watson bukan sekadar seorang pemimpin,” suara Sekretaris Jenderal PBB menggema melalui pengeras suara. “Ia adalah pengingat bahwa politik masih bisa mulia. Bahwa kekuasaan dapat digunakan untuk melayani, bukan untuk menguasai.”
Keheningan kembali menyelimuti National Mall—bukan karena tak ada yang ingin berbicara, melainkan karena kata-kata itu telah mewakili semuanya.
Di barisan depan, seorang wanita tua—guru sekolah dasar yang pernah mengajar Thomas—menangis terisak. Bahunya bergetar, tangannya menggenggam erat saputangan lusuh. Di matanya, bukan hanya seorang presiden yang pergi, melainkan seorang murid yang dulu ia ajari membaca dan bermimpi.
Di seluruh dunia, bendera berkibar setengah tiang.
Di Tokyo, London, Prancis, Nairobi, hingga São Paulo, jutaan orang menyalakan lilin di tengah malam. Media sosial dipenuhi satu tagar yang melampaui bahasa dan batas negara: #ThankYouMrPresident.
Bahkan para pemimpin yang pernah menjadi lawan politiknya menyampaikan penghormatan terakhir.
“Dunia kehilangan suara kebijaksanaan,” tulis Presiden Rusia.
“Kita kehilangan sahabat sejati bagi perdamaian,” tulis Perdana Menteri Inggris.
Saat peti mati diturunkan ke tanah Arlington, dua puluh satu dentuman meriam menggema, memecah langit yang masih diselimuti hujan. Burung-burung beterbangan dari pepohonan, seakan ikut terkejut oleh gema perpisahan itu.
Dan Thomas Watson,The People’s President—dimakamkan bukan hanya sebagai kepala negara,
melainkan sebagai pahlawan kemanusiaan.
...***...
Fortress of Scarlet Dawn - Wilayah Vancroft, Kekaisaran Valcrest
"“Argh—!”
Thomas terbangun dengan teriakan, namun yang keluar hanyalah erangan serak. Tenggorokannya terasa kaku, seolah sudah lama tidak digunakan untuk berbicara.
Tuhan… ini benar-benar sakit.
Seluruh tubuhnya terasa berat dan kacau, seperti baru saja dihantam sesuatu yang tak kasatmata. Dadanya tertekan, napasnya pendek, dan ada sensasi panas yang aneh mengalir di dalam dirinya—tidak membakar, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang sangat salah.
“Apa… apa yang—”
Ia terdiam.
Suara itu bukan miliknya.
Karena terdengar lebih dalam dan berat. Asing di telinganya sendiri.
Dengan susah payah, Thomas membuka mata. Cahaya matahari langsung menusuk penglihatannya, memaksanya menyipit. Sinar itu menembus tirai sutra merah yang bergoyang pelan tertiup angin.
Dan saat kesadarannya mulai utuh, ia menyadari satu hal—
Ini bukan Gedung Putih.
Bukan pula kamar rumah sakit.
Ruangan ini… sama sekali tidak dikenalnya.
Langit-langit di atasnya terbuat dari batu berukir dengan simbol-simbol asing yang bersinar redup—seolah diukir dengan tinta emas. Lampu kristal raksasa tergantung, memancarkan cahaya lembut yang... tunggu, tidak ada kabel listrik?
"Dimana..."
Thomas mencoba bangkit—dan hampir pingsan lagi karena rasa sakit yang menghantam. Seperti ada ribuan jarum menusuk setiap saraf.
Dengan gigi terkatup, ia memaksakan diri untuk duduk. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipis.
Ruangan ini... terasa begitu asing.
Dinding batu granit merah dengan permadani sutra bertahtakan lambang—semacam perisai berwarna merah tua dengan pedang bercahaya di tengahnya. Jendela besar dengan kaca patri bergambar sosok berpedang yang berdiri di atas tumpukan iblis. Perapian besar di sudut ruangan dengan api yang menyala tanpa kayu bakar.
Ini bukan mimpi.
Detak jantungnya mulai berdetak kencang.
"Fokus, Thomas," gumamnya dengan suara serak.
Ia mencoba menggerakkan kaki. Namun setiap gerakan yang ia lakukan terasa begitu berat. Dengan langkah gontai, Thomas turun dari tempat tidur berkanopi sutra dan nyaris saja terjatuh.
Lututnya bergetar. Otot-otot tubuhnya tidak merespons dengan benar.
Matanya menangkap kilauan di seberang ruangan—sebuah cermin besar dengan bingkai emas, berdiri setinggi dua meter.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Dengan langkah terseret, ia berjalan ke arah cermin itu, satu tangan meraba furnitur di sekitarnya untuk menjaga keseimbangan.
Akhirnya, ia berdiri tepat di depan cermin.
Dan dunianya seakan berhenti.
Sosok yang menatap balik ke arahnya bukanlah dirinya yang ia kenal.
Melainkan seorang pria—tidak, seorang lelaki muda di akhir usia dua puluhan—dengan mata berwarna merah darah. Bukan merah muda, bukan cokelat kemerahan, melainkan merah menyala seperti batu rubi cair, dengan lingkaran obsidian tipis mengitari pupilnya.
Rambut hitam legam jatuh hingga tengkuk, sedikit berantakan, namun memberi kesan rapi dengan caranya sendiri.
Bukan tampilan liar—lebih seperti seseorang yang terbiasa dihormati tanpa perlu berusaha.
Wajah itu tegas. Rahangnya jelas, hidungnya mancung, proporsinya nyaris terlalu sempurna—seperti pahatan halus yang dibuat dengan penuh perhitungan.
Tapi yang membuat Thomas tersentak adalah auranya.
Bahkan dalam kondisi tubuh yang jelas belum pulih—lingkaran hitam di bawah mata, dan kulit pucat —pria di cermin itu tetap memancarkan tekanan. Sejenis wibawa yang tak kasatmata, seperti gravitasi halus yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.
“Ini… tidak mungkin…”
Thomas mengangkat tangannya.
Pantulan di cermin ikut mengangkat tangan.
Tangan itu lebih besar dan lebih panjang dari yang ia kenal. Jari-jarinya ramping, namun jelas kuat. Di lengan kiri, sebuah bekas luka panjang membentang, seolah terkena cakar sesuatu yang sangat besar.
Ia menyentuh wajahnya—wajah asing itu.
"Ini bukan aku."
...***...
Catatan:
Ini fiksi aja yah guys dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata.
"ini bukan tubuhku."
secara tiba-tiba sebuah kilatan cahaya muncul.
BZZZT.
Sebuah jendela holografis—holografis—muncul di depan matanya. Transparan dan bercahaya biru keemasan serta melayang di udara seperti layar komputer dari film fiksi ilmiah.
Thomas melompat mundur hingga kakinya tersandung dan ia jatuh ke lantai dengan keras.
"Argh~!" Rasa nyeri menyambar singkat, cukup untuk memaksanya menarik napas tajam. Namun sebelum ia sempat mengumpat atau berpikir lebih jauh, sesuatu yang jauh lebih mengganggu menyita perhatiannya.
Jendela itu tidak menghilang tapi mengikuti pandangannya.
Ke mana pun Thomas menoleh, antarmuka itu tetap berada tepat di tengah penglihatannya.
╔══════════════════════════
[SOVEREIGN'S LEGACY SYSTEM]
HOST: Arthurian Vancroft
TITLE: The Crimson Aegis, Archduke of Valcrest
◈ PHYSICAL POWER: 8%(CRITICAL)
◈ MAGICAL POWER: 8% (CRITICAL)
◈ REPUTATION: 87% (Masih ditakuti publik)
◈ RELATIONSHIP (Valerine): -15%(Hostile)
◈ TERRITORY DEVELOPMENT: 34% (Terbengkalai)
⚠️ WARNING: Host dalam kondisi kritis
⚠️ Mana Core: Retak 73%
⚠️ Magic Circuits: Putus di 12 titik vital
⚠️ Mana Heart: Fungsi 11%
【MAIN QUEST UNLOCKED】
► Survive the First Month
Reward: +5% Physical Recovery
Failure: Death
[SELAMAT DATANG, THOMAS WATSON]
[Anda telah bertransmigrasi ke tubuh Arthurian Vancroft]
---
Thomas terdiam.
Mulutnya terbuka, namun tak satu pun kata berhasil keluar.
Otaknya—otak yang selama puluhan tahun ditempa untuk menghadapi krisis internasional, negosiasi paling rumit, dan permainan strategi geopolitik tingkat dunia—mendadak kosong.
“Apa…”
Ia menatap jendela holografis itu. Dan membacanya berulang kali.
Tangannya gemetar saat ia menggeleng pelan.
“Ini gila,” bisiknya. “Aku sudah gila. Serangan jantung merusak otakku, dan sekarang aku berhalusinasi—”
DING.
Jendela baru muncul.
╔══════════════════════════════════╗
║ ANDA TIDAK BERHALUSINASI
║
║ Kematian Anda di dunia asal:
║ Serangan jantung akut
║ Waktu kematian: 15 Maret 2025
║ 14:37 EST
║
║ Transmigrasi berhasil:
║ 18 Maret 2025 (Waktu Bumi)
║ 3 Kalon 1.457 (Waktu Valcrest)
╚══════════════════════════════════╝
Thomas merasakan darah seolah surut dari wajahnya. Ia terdiam, bingung, sama sekali tak mampu memahami apa yang sedang ia alami.
"Tidak. Tidak, tidak, tidak." Ia menggeleng keras, mencoba membuat jendela itu hilang. "Ini tidak nyata. Aku pingsan dan mungkin sekarang lagi koma. Aku—"
Rasa sakit di dadanya terasa lagi.
Thomas menjerit, tubuhnya melengkung. Seperti ada sesuatu yang merobek dari dalam. Dia bisa merasakannya—sesuatu yang retak di inti tubuhnya, seperti kaca yang pecah perlahan. Rasa sakit itu menyadarkan nya bahwa ini nyata.
"Oh Tuhan..." Thomas merangkak mundur, punggungnya menabrak sisi tempat tidur. "Ini nyata. Ini benar-benar nyata."
Napasnya tersengal. Panik mulai merayap.
Tapi kemudian—ia berusaha menenangkan diri..
Thomas memejamkan mata, memaksa paru-parunya menarik napas panjang dan perlahan.
“Baik,” katanya lirih. Suaranya bergetar, namun tetap terjaga. “Baik. Aku… aku pernah menghadapi yang lebih buruk.”
Bohong.Tidak pernah seburuk ini.
Ia membuka mata kembali.
“Fakta pertama,” ucapnya tegas, sengaja meninggikan suara agar terdengar nyata di telinganya sendiri. “Aku bukan lagi Thomas Watson.”
Keheningan ruangan menelan kata-katanya—namun anehnya, justru itu membantu menata pikirannya.
“Fakta kedua. Sekarang aku adalah… Arthurian Vancroft.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah. “Seorang Archduke. Di sebuah kekaisaran bernama Valcrest.”
Thomas—tidak, Arthur—mengalihkan pandangan ke jendela sistem yang masih melayang didepannya.
“Fakta ketiga,” lanjutnya pelan. “Tubuh ini berada di ambang kehancuran.”
Ia menghela napas pendek.
“Kekuatan tersisa delapan persen. Mana Core… retak.” Alisnya berkerut. “Apa pun arti istilah itu di dunia ini, satu hal jelas—kondisiku saat ini sangat buruk.”
Matanya turun ke baris berikutnya.
Relationship (Valerine): -15% (Hostile).
“Valerine…” gumamnya. “Istri?”
Ia membaca penjelasan singkat di bawahnya, lalu menghembuskan napas pendek yang nyaris terdengar seperti tawa.
“Hubungan bermusuhan. Luar biasa.”
Sudut bibirnya terangkat samar.
“Di kehidupanku sebelumnya, aku tak pernah menikah karena terlalu sibuk dengan politik,” lanjutnya pelan. “Dan di sini… aku bahkan tidak punya hubungan yang baik dengan istrku.”
Ia menggeleng kecil. Nasib memang punya selera humor yang kejam.
Lalu pandangannya jatuh ke baris terakhir.
Main Quest: Survive the First Month.
Thomas tertawa—tawa pendek, pahit, lebih mirip hembusan napas kasar daripada suara kegembiraan.
“Bahkan setelah mati,” katanya lirih, “aku masih harus bertahan hidup.”
Namun tawa itu terhenti.
Kesunyian kembali menekan ruangan, ia kembali teringat dengan kehidupan sebelumnya.
Sekarang, The Global Peace Accord kemungkinan telah ditandatangani oleh Wakil Presiden. Pemerintahannya akan tetap berjalan. Negara itu akan terus bergerak maju.
Rakyatnya akan melanjutkan hidup.
Thomas Watson… sudah tidak ada.
Namun—
Pandangan matanya jatuh pada tangannya yang kini bergetar, bukan karena takut, melainkan karena tubuh ini belum sepenuhnya pulih.
“Arthurian Vancroft,” bisiknya pelan, mengucapkan nama itu dengan hati-hati, seolah sedang menguji bobotnya. “Apa yang kau lakukan… sampai tubuhmu hancur seperti ini?”
DING.
╔══════════════════════════════════╗
║ INFORMASI HOST SEBELUMNYA ║
╚══════════════════════════════════╝
Nama: Arthurian Vancroft
Usia: 28 tahun
Julukan: The Crimson Aegis
Prestasi:
- Memusnahkan Legiun ke-7 Demon Realm (500.000 iblis) sendirian
- Mengalahkan 9 Demon Lord dalam pertempuran tunggal
- Pahlawan Perang Perbatasan Selatan
- Satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest
Kondisi Terakhir:
2 bulan lalu bertarung melawan Demon God Zarathos dan 12 High-Demon lord. Kemenangan dengan harga mengerikan. Luka permanen pada sistem sihir. Publik percaya ia sedang "penyembuhan". Musuh politik menunggu kesempatan untuk menyerang.
Warning: Jika kelemahan terdeteksi, wilayah Vancroft akan diserang oleh faksi rival.
---
Thomas membaca dengan seksama.
"Jadi aku adalah..." Ia menarik napas. "Seorang legenda perang yang sekarat, dengan musuh di mana-mana, dan harus berpura-pura masih kuat."
Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya—senyum yang dulu kerap membuat lawan politiknya gelisah sebelum menyadari bahwa mereka sudah kalah.
“Huft," ia menghela nafas pelan. "Kedengarannya,” lanjutnya tenang, “seperti hari Selasa biasa.”
Ia menggunakan sisi tempat tidur untuk bangkit berdiri. Setiap otot berteriak protes, tapi ia mengabaikannya seperti ia mengabaikan rasa lelah setelah berhari-hari negosiasi tanpa tidur.
Selama dua periode menjabat sebagai Presiden, Thomas Watson telah menghadapi kudeta yang hampir berhasil, krisis nuklir yang nyaris meledak, pandemi global, dan bahkan upaya pembunuhan. Dari semua itu, ia mempelajari satu kebenaran sederhana.
Ketika dunia runtuh, kau harus tetap berdiri tegak dan tersenyum.
Karena saat mereka melihatmu runtuh, segalanya benar-benar berakhir.
Ia mengangkat pandangan ke jendela holografis yang melayang di depannya.
“Baiklah, Sistem,” ucapnya datar, namun tegas. “Kau bilang aku bisa pulih melalui reputasi dan kepemimpinan?
DING.
[BENAR.]
[Sistem akan memberikan quest untuk membangun kembali kekuatan, reputasi, dan hubungan.]
[Setiap pencapaian \= Reward]
[Setiap kegagalan \= Konsekuensi]
╚══════════════════════════════════╝
Thomas mengangguk perlahan.
“Maka kita punya kesepakatan.” Ia menatap pantulan dirinya di cermin. “Aku tidak tahu mengapa aku ada di sini. Aku juga tidak tahu apakah ini surga, neraka, atau sekadar lelucon kosmik yang kejam.”
“Tapi jika aku diberi kesempatan kedua,” lanjutnya pelan, “dalam tubuh siapa pun, di dunia mana pun—aku akan melakukan apa yang selalu kulakukan.
"Bertahan hidup. Menang. Dan melindungi mereka yang tidak bisa melindungi diri mereka sendiri."
Sistem berkilau.
DING.
╔══════════════════════════════════╗
║ MINDSET TERKUNCI ║
║ Trait Activated: ║
║ [THE PEOPLE'S SHIELD] ║
║ ║
║ Bonus: +10% ke semua aksi ║
║ yang melindungi rakyat ║
╚══════════════════════════════════╝
Arthur menatap refleksinya di cermin untuk terakhir kalinya—mata merah yang bersinar dengan tekad baru. Tubuh ini mungkin hancur, tapi semangatnya tidak.
"Satu langkah pada satu waktu," gumamnya, mengutip mantra yang selalu ia gunakan saat menghadapi krisis. "Pertama, aku perlu memahami situasi lebih—"
CRACK.
Arthur membeku
Sesuatu retak di dalam dadanya.
Itu bukan metafora maupun kiasan. Tapi Sesuatu benar benar retak di inti tubuhnya—ia seperti mendengar kaca pecah dari dalam tulang rusuk.
"Akh—!"
Rasa sakit meledak dengan intensitas yang membuat serangan jantung yang ia rasakan sebelumnya terasa seperti sensasi geli. Seperti ada tangan raksasa yang meremukkan jantungnya, menarik setiap tetes energi dari pembuluh darah, membakar setiap saraf dengan api hitam.
Lutut Arthur melemah.
Dunia berputar, keseimbangannya lenyap begitu saja. Ia terhuyung ke belakang, tangannya mencakar udara, mencari apa pun yang bisa dijadikan pegangan—namun tidak ada. Punggungnya nyaris menghantam lantai marmer yang dingin dan keras—
WUSH.
Hembusan angin dingin menyapu ruangan.
Dalam sepersekian detik sebelum kepalanya jatuh, sebuah lengan ramping—namun mengejutkan kuat—melingkari pinggangnya, menahan tubuhnya.
"Dasar bodoh."
Suara itu dingin—sedingin embun beku di pagi musim salju. Feminin, namun tajam, seperti bilah tipis yang tersembunyi di balik sutra halus.
Arthur berusaha memusatkan pandangan, tetapi dunianya masih berputar pelan. Yang tertangkap olehnya hanyalah siluet—sesosok wanita dengan rambut panjang berwarna perak-putih, berkilau lembut seperti cahaya bulan. Matanya berwarna perak keabu-abuan, dingin seperti logam cair, menatapnya dengan campuran kejengkelan dan kekesalan.
“V-Valerine…?”
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya
“Siapa lagi?”
Valerine Vancroft—The Silver Frost—mendengus pelan. Tanpa basa-basi, ia menggeser posisi Arthur dengan gerakan terlatih, seolah sudah terlalu sering berada dalam situasi seperti ini. Tangannya memindahkan lengan Arthur ke pundaknya, menopang tubuhnya.
"Berat," keluh Valerine, tapi langkahnya stabil dan pasti saat berjalan menuju tempat tidur. "Kau bilang akan mengurangi latihan pedang. Bohong lagi, seperti biasa."
Ia membaringkan tubuh Arthur dengan gerakan efisien, nyaris profesional.
“Setidaknya sadarilah bahwa kondisimu sedang tidak baik-baik saja,” lanjutnya dingin. “Kalau kau ingin mati, jangan libatkan aku di dalamnya.”
Arthur mencoba berbicara, tapi mulutnya tidak merespons. Kesadarannya hampir hilang.
Yang terakhir ia rasakan sebelum kegelapan menelan adalah sensasi aneh—kehangatan dari tangan Valerine yang kontras dengan sikapnya yang dingin, dan aroma samar lavender bercampur peppermint yang entah kenapa... menenangkan.
"Selalu... merepotkan," bisik Valerine,
Lalu, Arthur kehilangan kesadaran.
...***...
FLASHBACK: TIGA TAHUN LALU - ISTANA KEKAISARAN AURELIUS
"**Aku menolak.”
Arthur¹ berdiri di hadapan takhta emas Kaisar Valcrest III tanpa sedikit pun menunjukkan sikap hormat. Amarah masih jelas terpancar dari raut wajahnya, dipicu oleh titah kaisar yang baru saja diucapkan. Usianya memang baru dua puluh lima tahun, namun aura yang ia pancarkan cukup membuat para duke veteran tanpa sadar melangkah mundur.
Ruang takhta yang megah itu dipenuhi puluhan bangsawan tinggi. Tak satu pun berani bersuara. Udara terasa menegang, seolah seluruh ruangan menahan napas.
Kaisar Valcrest III—seorang pria paruh baya dengan mahkota runcing bertengger di kepalanya dan janggut hitam yang terawat rapi—mengernyitkan dahi.
“Menolak?” suaranya bergema
“Kau berani menolak perintah langsung dari seorang Kaisar?”
“Bukan perintah,” jawab Arthur dengan dingin. Matanya yang merah menatap tanpa berkedip. “Yang Mulia menyebutnya ‘saran untuk kepentingan kekaisaran’. Jadi aku berhak menolak.”
Kaisar menghela napas panjang, matanya menatap Arthur dengan campuran keheranan dan frustrasi.
“Arthurian… Kau adalah pedang terhebat kekaisaran, yang telah mempertahankan perbatasan selatan sendirian. Namun, untuk memperkuat perbatasan ini, dibutuhkan dua kediaman terkuat yang kompak dan solid. Sayangnya, Kediaman Vancroft dan Kediaman Silvaine telah berseteru selama tujuh generasi.”
Kaisar berdiri, jubah ungu yang megah mengalir di sekelilingnya.
“Perang saudara hampir pecah tahun lalu karena ‘insiden’ di perbatasan wilayah kalian. Aku tidak akan membiarkan dua house terkuat di kekaisaran saling merobek satu sama lain, sementara iblis mengintai dari selatan.”
Arthur tidak menjawab, tapi rahangnya mengeras.
“Maka,” lanjut Kaisar, suaranya berat dan tegas, “pernikahan antara kau dan Valerine Silvaine akan menyatukan dua kediaman utama. Ini bukan permintaan—ini perintah. Demi keselamatan kekaisaran.”
Arthur tertawa, tapi tawa itu pahit, menusuk, seolah udara di ruangan ikut membeku.
“Jadi aku harus menikahi musuh politikku hanya karena Yang Mulia tidak mampu mengendalikan bangsawan sendiri? Luar biasa.”
“ARTHUR!” teriak Duke Aldric Vancroft, ayah Arthur, melangkah maju dengan wajah memerah. “Tunjukkan rasa hormat—”
“Aku sudah menunjukkan rasa hormat dengan mengalahkan musuh kekaisaran, ayah” potong Arthur, suaranya tegas. “Jangan harap aku juga akan mengorbankan hidupku untuk—”
“Aku menerima.”
Semua kepala menoleh, terkejut.
“Valerine—!” seru Duke Edmund Silvaine, ayah Valerine, namun Valerine tetap melangkah maju. Setiap gerakannya elegan, terkontrol, gaun biru yang dikenakannya berkilauan di bawah cahaya kristal.
“Aku menerima pernikahan ini,” ucap Valerine dengan tenang, suaranya sejuk tapi tegas. Matanya menatap Arthur langsung, menantang namun entah kenapa malah menenangkan suasana.
“Jika ini yang dibutuhkan untuk menghentikan perang bodoh antara keluarga kita, maka aku akan melakukannya. Karena, tidak seperti seseorang, aku tidak menempatkan ego di atas tanggung jawab.”
Arthur menatapnya. Mata mereka bertemu, panas dan penuh tantangan.
“Kau pikir ini akan menyelesaikan masalah?”
“Aku pikir,” jawab Valerine, senyum tipisnya penuh arti—lebih mirip ancaman daripada keramahan, “kau akan belajar bahwa tidak semua pertempuran bisa dimenangkan dengan pedang.”
Keheningan menguasai ruang tahta, tegang dan nyaris tak tertahankan.
Kemudian, Kaisar bertepuk tangan satu kali—suara kerasnya memecah ketegangan itu.
“Sudah diputuskan! Tiga bulan dari sekarang, Kekaisaran Valcrest akan menyaksikan pernikahan abad ini!
Antara Arcduke Arthurian Vancroft, Jenderal Agung Kekaisaran kita, dan Valerine Silvaine, Penyihir Agung dari keluarga Silvaine dan Menara Penyihir!”
Arthur—dengan rahang terkatup, tangan terkepal, dan mata yang menyala—tidak mengatakan sepatah kata pun lagi.
FLASHBACK: 2 BULAN YANG LALU
Langit berwarna merah darah.
Di dataran tandus yang retak-retak dan dipenuhi sungai magma, pasukan iblis bergerak seperti gelombang laut hitam—puluhan ribu, bahkan ratusan ribu. Ada Demon tingkat rendah, kulit mereka hitam legam dan mata kuning menyala, lalu Demon tingkat menengah, bertanduk dan mengenakan armor dari tulang serta Demon tingkat tinggi, bersayap dan membawa senjata cursed yang memancarkan aura kematian.
Di tengah kengerian itu, berdiri Demon God Zarathos—raksasa setinggi lima meter, kulitnya merah tua seperti besi yang dipanaskan, tanduk melengkung seperti mahkota raja neraka, dan matanya seperti lubang hitam yang menelan cahaya.
Disekelilingnya, ada 12 High Demon Lord, masing-masing cukup kuat untuk menghancurkan kerajaan kecil hanya dengan satu serangan. Setiap gerakan mereka menggetarkan bumi, setiap tatapan mereka membawa rasa takut yang membuat pasukan iblis di bawahnya semakin liar dan ganas.
Dan di hadapan mereka, Arthur Vancroft berdiri sendirian.
Armor merah-hitamnya memancarkan cahaya sihir, jubah scarlet berkibar liar diterpa angin panas dari dataran magma. Di tangan kanannya, pedang katana—Blood Demon—terhunus, bercahaya dengan api crimson yang menari-nari seperti nyala kematian.
“Hanya satu orang?” tawa Zarathos bergemuruh seperti guntur, mengguncang tanah. “Kekaisaran mengirim satu manusia untuk menghentikanku?”
Arthur tersenyum tipis.
“Mereka tidak mengirimku. Aku yang datang sendiri.”
Ia mengangkat pedang, aura kekuatannya meledak di sekitarnya.
“Karena kalian membuat kesalahan masuk ke wilayahku. Entah apa yang ada di otak bodohmu itu sehingga kau berani datang kemari.”
Zarathos tertawa terbahak-bahak,
“Sepertinya aku tahu siapa kau… Arthurian, keturunan langsung dari Dewa Naga Elemen. Seseorang yang konon mampu membunuh dewa. Rumormu… sungguh berlebihan. Siapa yang menyebarkannya?”
“Kau benar. Terlalu berlebihan. Jadi bagaimana kalau kau tutup mulut baumu itu dan kita mulai saja.”
Zarathos meludah api ke udara.
“HANCURKAN DIA!”
Pasukan iblis mulai menyerang dan tanah pun ikut bergetar.
Arthur bergerak.
WHOOOM!
Api merah meledak dari tubuhnya—Element Utama: Api—membakar ratusan Demon tingkat rendah sekejap mata. Ia melesat ke depan, kecepatan tubuhnya membuat udara di sekitarnya meledak.
Element Utama: Angin. Pedangnya menari, memotong Demon seperti rumput di ladang yang diterpa badai.
Melihat bahkan Demon tingkat tinggi pun tak mampu menahan satu tebasan Arthur, para High Demon Lord akhirnya turun tangan.
“FORMASI!” teriak salah satu High Demon Lord, suaranya bergema seperti gong perang.
Mereka menyerang dengan koordinasi sempurna—tombak dari kiri, kapak dari kanan, sihir gelap dari atas.
Arthur menghentakkan kakinya.
KRAKKK!
Tanah meledak di sekelilingnya—Element Utama: Tanah—menciptakan dinding batu raksasa yang menghancurkan setiap serangan..
Kemudian, dengan satu ayunan tangan, langit menjadi gelap.
CRAAASH!
Petir menyambar dengan ganas—Element utama: Petir—memanggang lima High Demon Lord sekaligus, membuat tanah di bawah mereka meleleh dan membara.
“Apa-apaan itu!? Makhluk mana yang bisa memiliki **dan menguasai** lebih dari tiga elemen!?” teriak salah satu High Demon Lord yang selamat, matanya melebar ketakutan.
Arthur belum berhenti.
Ia membentangkan tangan, dan udara di sekitarnya bergetar, bergema seperti badai akan datang.
WHOOOOSH!
Air muncul dari ketiadaan—Element Utama: Air—membentuk ratusan tombak es yang melesat secepat peluru, menembus armor tulang para Demon yang tersisa seperti kertas tipis.
Setiap tombak menghujam, setiap gerakan Arthur menandakan satu hal: perang ini baru saja dimulai, dan lawannya belum melihat apapun.
Dalam sepuluh menit, seluruh pasukan Demon hancur luluh lantak. Lava dan darah membakar tanah, meninggalkan aroma kematian yang pekat. Yang tersisa hanyalah 7 High Demon Lord… dan Zarathos.
Namun kemudian—7 High Demon Lord yang tersisa menyerang bersamaan, koordinasi mereka seperti badai kematian.
Arthur bergerak seperti dewa perang. Pedangnya menari, setiap ayunan dan setiap tebasan menciptakan kematian. Ia menggabungkan lima elemen, api untuk serangan ofensif, angin untuk kecepatan luar biasa, petir untuk menembus pertahanan, tanah untuk benteng, dan air untuk fleksibilitas tak terduga.
Satu per satu, High Demon Lord jatuh, meledak menjadi kepingan tulang dan energi gelap.
Namun tidak ada kemenangan tanpa luka. Robekan di bahu Arthur membuat darahnya menetes, bekas cakaran yang dalam.
Akhirnya, hanya Zarathos yang tersisa, berdiri megah di atas medan yang hancur, matanya menyala seperti lubang neraka.
“Kau… monster,” desis Zarathos, suaranya penuh kebencian—meski ia sendiri adalah iblis, rasa takut jelas tercermin di matanya. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan orang semengerikan ini, yang bahkan setelah membunuh ratusan ribu dia tidak terlihat kelelahan atau bahkan tertekan karena terlalu banyak membunuh.
Arthur berdiri di tengah tumpukan mayat Demon, napasnya berat, pedangnya masih berlumuran darah.
“Iya… aku monster,” katanya pelan, suaranya dingin . “Jadi… bisakah kita selesaikan ini sekarang?”
Zarathos meraung, matanya menyala seperti lubang neraka, dan menyerang dengan seluruh kekuatannya, tanah bergetar, langit berderak.
Arthur mengangkat pedang dengan kedua tangan, seluruh tubuhnya menahan gelombang kekuatan iblis itu. Energi itu begitu dahsyat, membuatnya harus mengalirkan lebih banyak mana ke dalam tubuhnya.
Aku bisa mengakhiri ini dengan elemen lanjutan… pikirnya.
Tapi pikirannya segera menahan keputusan itu.
…Tapi kekuatan itu terlalu destruktif. Jika aku tak bisa mengendalikannya, aku bisa saja menghancurkan Kekaisaran sendiri.
Akhirnya, ia memilih jalan yang lebih keras—hanya menggunakan lima elemen utama.
Pertempuran terakhir berlangsung tiga jam penuh. Api, petir, angin, tanah, dan air menari di medan perang, menghancurkan sekitarnya, memutarbalikkan medan magma dan batu.
Dan akhirnya, Zarathos jatuh. Tubuh raksasanya runtuh, kepalanya terpisah dari tubuhnya. Kengerian terakhir yang tersisa hanyalah keheningan medan perang.
Namun, kemenangan itu datang dengan harga mahal.
Arthur juga jatuh.
CRACK.
Mana Core-nya retak. Magic Circuits putus di dua belas titik vital, seperti kabel listrik yang terbakar. Mana Heart-nya nyaris berhenti. Darah memenuhi mulutnya.
Dengan sisa tenaga, ia berusaha berdiri. Perlahan, ia berjalan kembali ke Kediaman Vancroft… sebelum akhirnya tak sadarkan diri, tubuhnya ambruk di kamarnya.
...****...
KEMBALI KE MASA KINI
Arthur terbangun dengan terengah-engah, tubuh basah keringat dingin.
"Sial..." bisiknya, suara serak.
Memori itu terasa terlalu nyata. Terlalu jelas. Seperti ia sendiri yang mengalaminya—rasa sakit pertempuran, berat keputusan, dapat ia rasakan sepenuhnya.
Ia mencoba duduk dan merintih saat otot-ototnya protes.
Tapi ada sesuatu di samping tempat tidur yang menarik perhatiannya. Selembar kertas dengan tulisan elegan.
Arthur mengambilnya, mata merah menyipit membaca tulisan tinta hitam
---
**Arthurian,
Kau pingsan lagi. Entah sudah berapa kali itu terjadi dalam dua bulan terakhir. Aku sudah menyalurkan cukup mana untuk menstabilkan Mana Heart-mu—bukan karena aku peduli, tapi karena jika kau mati, aku harus berhadapan dengan Duke Aldric dan menjelaskan bagaimana aku “membunuh” ahli warisnya.
Saat kau sadar, temui aku di Perpustakaan Utara. Jangan membuatku menunggu. Aku benci menunggu.
Oh, dan tolong sadarkan dirimu. Saat ini kau terluka parah dan berada dalam kondisi yang menyedihkan. Jadi, bisakah kau berhenti bersikap keras kepala dan benar-benar mendengarkanku, walau hanya sebentar?
Jadi, jangan coba-coba berlatih pedang lagi.
Bodoh.
...V. S.V...
...***...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!