Indonesia
NovelToon NovelToon

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan

Gia menatap nanar ke arah mesin espresso di depannya. Aroma kopi yang biasanya tercium elegan di kafe-kafe Jakarta, kini terasa seperti bau kegagalan yang menyengat. Tiga bulan lalu, ia masih mengenakan setelan kerja seharga jutaan rupiah dan memimpin rapat divisi pemasaran. Sekarang? Ia hanya mengenakan celemek kain kusam milik ayahnya yang baunya sudah mirip gudang tua.

"Hidup memang suka bercanda ya, Pak," gumam Gia pada mesin kopi yang berderit itu.

Gia baru saja mau mengelap meja kayu yang sudah mulai lapuk ketika seorang pria masuk dengan sandal jepit yang mengeluarkan bunyi tak-tek-tak-tek yang menjengkelkan. Pria itu memakai kaus oblong warna hitam yang sudah memudar warnanya menjadi abu-abu monyet, lengkap dengan beberapa noda semen yang mengering di celana jinsnya.

Itu Rian. Si "Duta Utang" nomor satu di kampung ini.

"Neng Gia, kopi satu. Hitam ya, sehitam masa depan saya kalau nggak dapet proyek minggu ini," ujar Rian sambil nyengir, menampakkan barisan gigi yang rapi—satu-satunya hal yang tampak 'mahal' dari penampilannya yang berantakan.

Gia menghentakkan kain lap ke meja dengan suara keras. "Bayar utang dulu, Rian! Catatan utang kamu sudah sampai ke halaman belakang buku kas Bapak. Aku nggak mau nambahin lagi."

Rian tertawa renyah. Tanpa rasa bersalah, ia duduk di kursi kayu tinggi pojok bar sambil menopang dagu. "Galak banget. Padahal kalau senyum dikit, kopinya jadi nggak usah pakai gula. Masukkan ke catatan saya saja dulu, Neng. Nanti kalau mandor cairkan uang borongan, saya lunasin sampai akar-akarnya. Janji, deh."

"Nggak ada janji-janji! Ini kedai kopi, bukan pegadaian," ketus Gia. Namun, tangannya tetap bergerak otomatis menyiapkan cangkir. Sialan, dia terlalu tidak tega melihat wajah lelah pria itu yang sepertinya baru saja memikul semen berkarung-karung.

Gia menuangkan air panas ke bubuk kopi, memperhatikan uapnya yang membumbung. Ia meletakkan cangkir itu di depan Rian dengan kasar. Rian menyesapnya pelan, lalu matanya terpejam sejenak seolah sedang meminum kopi dari hotel bintang lima.

"Enak. Beda sama buatan Bapakmu. Ada rasa... rasa amarahnya sedikit, tapi entah kenapa malah bikin nagih," puji Rian sambil menaikkan satu alisnya.

"Berisik," sahut Gia singkat, meski dalam hati ia merasakan sedikit kebanggaan yang aneh. Setidaknya, ilmu barista yang ia pelajari dari kursus mahal di Jakarta tidak benar-benar terbuang sia-sia di sini.

"Ngomong-ngomong, Neng," Rian mencondongkan tubuh ke depan. Aroma maskulin yang bercampur bau matahari dan debu tipis tercium oleh Gia. "Kamu itu nggak cocok pakai muka cemberut terus. Orang kota kalau pulang kampung itu harusnya cari ketenangan, bukan cari kerutan di jidat."

Gia terdiam. Kalimat itu menembus pertahanan egonya. Ia baru saja mau membalas dengan kalimat pedas ketika tiba-tiba terdengar suara rem mobil yang berdecit keras di depan kedai.

Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap—yang sangat tidak cocok berada di jalanan berbatu desa ini—berhenti tepat di depan pintu. Debu jalanan beterbangan menyelimuti bodi mobil yang mahal itu.

Seorang pria dengan setelan jas rapi dan jam tangan berkilau turun dari sana. Mata Gia membelalak. Seluruh tubuhnya mendadak kaku seolah disiram air es. Itu Niko. Mantan atasannya, sekaligus mantan tunangannya yang telah menghancurkan kariernya dan membuatnya melarikan diri ke pelosok desa ini.

"Gia? Jadi benar kamu sembunyi di tempat kumuh ini?" suara Niko terdengar begitu tajam dan meremehkan, memecah ketenangan sore itu.

Gia mematung. Tangannya gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan kain lap di genggamannya. Di saat ia merasa dunianya akan runtuh untuk kedua kalinya, tiba-tiba sebuah tangan kasar namun hangat merangkul bahunya dengan sangat santai.

"Waduh, Neng Gia, ini tamu dari mana? Rapi amat kayak mau ke kondangan," Rian bertanya dengan nada polos yang dibuat-buat. Pria tukang bangunan itu berdiri tegak di samping Gia, menatap Niko dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mau nagih utang juga kayak saya, atau mau beli kopi?"

Gia menoleh ke arah Rian. Pria yang tadi ia maki-maki karena utang seribu perak itu, kini berdiri di sampingnya seperti tameng yang kokoh.

Bab 2: Tameng Debu Semen

Niko melangkah masuk ke dalam kedai dengan ekspresi seolah-olah ia sedang melewati tumpukan sampah. Sepatu pantofelnya yang mengkilap beradu dengan lantai semen kedai yang tidak rata, menciptakan bunyi yang kontras dengan suasana pedesaan di luar. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, lalu menutup hidungnya sejenak.

"Gia, aku sudah mencarimu ke mana-mana, dan ternyata kamu berakhir di sini? Menjadi pelayan di warung reyot yang bahkan tidak punya pendingin ruangan?" Niko tertawa sinis, matanya menyapu seisi kedai dengan hinaan yang nyata.

Gia merasa lidahnya kelu. Rasa sakit hati yang ia kubur dalam-dalam selama tiga bulan terakhir mendadak meluap kembali. Niko bukan hanya menghancurkan hatinya dengan berselingkuh, tapi pria itu juga yang memfitnahnya melakukan penggelapan dana kantor hingga Gia dipecat secara tidak hormat.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Niko? Pergi," suara Gia bergetar, meski ia berusaha keras untuk tetap terdengar tegar.

"Pergi? Aku ke sini untuk memberimu kesempatan, Gia. Ayolah, aku tahu kamu tidak berbakat hidup miskin. Kembalilah ke Jakarta, aku bisa mengatur agar namamu bersih, asal kamu mau menuruti permintaanku," Niko melangkah mendekat, mengabaikan keberadaan Rian yang masih merangkul bahu Gia.

Baru saja Niko hendak menyentuh tangan Gia, Rian berdeham sangat keras. Ia melepaskan rangkulannya dari bahu Gia, lalu berpindah posisi berdiri tepat di depan gadis itu, menghalangi pandangan Niko.

"Waduh, Tuan Jas Rapi," sela Rian dengan suara berat yang sengaja dibuat ramah namun terdengar menyindir. "Di sini aturannya jelas. Kalau mau bicara sama Neng Gia, harus beli kopi dulu. Dan kalau mau bicara sombong, tarifnya beda lagi, Mas. Harus bayar pajak polusi suara."

Niko mengernyitkan dahi, menatap Rian dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Siapa kamu? Tukang sampah? Singkirkan tangan kotormu itu dari hadapanku. Kamu tidak tahu siapa aku, hah?"

Rian bukannya takut, ia justru terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya yang kasar dan masih ada sedikit sisa debu semen kering, lalu dengan sengaja menepuk-nepuk pundak jas mahal Niko. "Saya? Saya ini nasabah prioritas di sini, Mas. Utang saya banyak, jadi saya punya hak istimewa buat jagain pemilik kedainya dari lalat-lalat besar yang bau minyak wangi mahal tapi hatinya busuk."

"Kamu!" Niko berteriak, wajahnya merah padam saat melihat noda abu-abu samar tertinggal di jas kasmirnya. "Jangan lancang! Jas ini harganya lebih mahal dari seluruh isi warung kumuh ini!"

"Oh ya?" Rian menaikkan sebelah alisnya, wajahnya yang penuh keringat kini tampak sangat provokatif. "Di sini, jas Mas itu nggak berguna. Kalau Mas nggak bisa bantu Neng Gia cuci piring atau angkut karung kopi, mending Mas balik ke kota aja. Kasihan mobilnya, nanti debu desa ini bikin mesinnya batuk-batuk."

Gia terpaku di belakang punggung Rian. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Selama ini, Niko selalu mendominasi hidupnya, menekannya, dan membuatnya merasa kecil. Namun hari ini, seorang pria yang bahkan tidak punya uang untuk membayar secangkir kopi hitam, berdiri dengan kepala tegak membelanya di depan orang paling berkuasa yang pernah ia kenal.

"Gia, kamu lebih memilih dibela oleh gelandangan ini?" Niko menatap Gia melewati bahu Rian. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat. Apa yang bisa diberikan pria ini padamu? Cinta? Rumah dari kardus?"

Gia menarik napas panjang. Ia melangkah maju, berdiri di samping Rian. "Dia punya sesuatu yang tidak pernah kamu miliki, Niko. Dia punya harga diri yang tidak perlu dibeli dengan uang."

"Gia!"

"Pergi, Niko. Sebelum aku memanggil warga desa dan memberitahu mereka kalau ada orang kota yang sedang menghina satu-satunya kedai kopi di kampung ini," ancam Gia dengan nada dingin yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya.

Niko mengepalkan tinjunya. Ia tahu, di desa seperti ini, sentimen warga terhadap "orang kota yang sombong" sangat kuat. Dengan geram, ia memutar tubuhnya, melangkah keluar kedai menuju mobil sedannya. Sebelum menutup pintu mobil, ia sempat berteriak, "Kamu akan menyesal, Gia! Kamu akan memohon padaku untuk membawamu pergi dari lumpur ini!"

Mobil mewah itu melaju kencang, meninggalkan kepulan debu yang tebal di depan kedai. Gia mendesah panjang, bahunya merosot lemas. Seluruh energinya seolah terkuras habis.

"Neng, jangan dipikirin. Orang kayak gitu biasanya cuma berisik di mulut, tapi hatinya kecil kayak kerikil," ujar Rian sambil kembali duduk di kursinya seolah tidak terjadi drama apa pun.

Gia menatap Rian dengan tatapan yang sulit diartikan. "Terima kasih, Rian. Tapi... jas dia beneran mahal. Kamu nggak takut dia bakal balas dendam?"

Rian tertawa terbahak-bahak, lalu ia meminum sisa kopinya hingga tandas. "Takut? Saya ini sudah biasa kena reruntuhan bangunan, Neng. Kena gertakan orang pakai jas itu rasanya cuma kayak digigit nyamuk. Lagian, anggap saja tadi itu cicilan buat lunasin utang kopi saya hari ini, ya? Berarti utang saya berkurang seribu?"

Gia tidak tahan untuk tidak tersenyum tipis. "Enak saja! Seribu tetap seribu. Tapi... ya sudah, khusus hari ini, utangmu aku hapus satu baris."

"Nah, gitu dong! Senyum itu bikin kopi jadi manis beneran," Rian mengedipkan sebelah matanya, lalu bangkit berdiri. "Saya balik ke proyek dulu ya. Mandor galak sudah nungguin. Sampai ketemu nanti sore, Barista Cantik!"

Rian melenggang pergi dengan sandal jepitnya yang berbunyi tak-tek-tak-tek, meninggalkan Gia yang kini berdiri sendirian di kedai. Namun kali ini, aroma kopi di sana tidak lagi terasa pahit oleh kegagalan. Ada sedikit rasa hangat yang tersisa di sana, rasa hangat yang tidak berasal dari mesin espresso, melainkan dari punggung lebar seorang pria berkos oblong pudar yang baru saja menjadi tamengnya.

Gia menatap buku catatan utang di atas meja. Ia mengambil pena, lalu mencoret satu baris nama Rian. Namun di bawahnya, ia menuliskan sesuatu yang tidak pernah ia duga akan ia tulis: Terima kasih, si Tukang Utang.

Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong

Matahari mulai turun, menyisakan warna jingga yang memantul di kaca-kaca kedai kopi yang sedikit berdebu. Gia duduk di kursi bar, menopang dagu sambil memperhatikan jalanan desa yang mulai sepi. Ucapan Niko tadi siang masih terngiang-ngiang seperti kaset rusak di kepalanya. “Tempat kumuh,” katanya. Gia menghela napas, matanya beralih ke jemarinya yang kini kasar karena terlalu sering terkena air cucian dan bubuk kopi. Dulu, jemari ini selalu cantik dengan manikur mahal.

"Dunia memang berputar terlalu cepat, ya?" gumamnya pada diri sendiri.

Tiba-tiba, suara tak-tek-tak-tek yang sudah mulai familiar di telinganya terdengar. Tapi kali ini ada yang berbeda. Rian tidak datang sendirian. Ia berjalan bersama seorang pria tua yang memikul cangkul, keduanya tampak tertawa akrab.

"Neng Gia! Masih buka, kan? Ini Pak kades mau nyobain kopi 'amarah' bikinan kamu," seru Rian sambil melambaikan tangan dengan semangat.

Gia buru-buru berdiri dan merapikan celemeknya. "Eh, iya, Pak Kades. Silakan duduk."

Pak Kades duduk dengan tenang, sementara Rian langsung nyelonong ke arah belakang bar—sesuatu yang biasanya akan membuat Gia berteriak marah. Namun entah kenapa, sore ini Gia membiarkannya. Rian mengambil botol air mineral dan membasuh wajahnya di wastafel sudut.

Saat itulah, Gia tertegun.

Ketika Rian membasuh leher dan wajahnya, air mengalir membasahi kaus oblong hitamnya yang tipis, membuatnya menempel ke kulit. Di balik kain pudar itu, Gia melihat sekilas siluet tubuh yang tidak tampak seperti kuli bangunan biasa. Postur tubuhnya tegak, bahunya bidang, dan ada cara berdiri yang sangat... berwibawa. Bukan tipe orang yang tumbuh besar dengan memikul beban semen.

Lebih dari itu, saat Rian menyeka wajah dengan handuk kecil yang ia gantung di bahu, Gia menangkap sesuatu di pergelangan tangan pria itu. Sebuah jam tangan hitam yang sangat kontras dengan penampilannya. Jam itu tidak berkilau seperti milik Niko, tapi Gia yang dulu sering bergaul dengan kalangan atas tahu persis: itu adalah jam tangan taktis militer yang harganya bisa untuk membeli tiga motor baru.

Kenapa seorang tukang bangunan serabutan pakai jam tangan seharga itu? batin Gia.

"Neng? Heii... Neng Gia? Melamun ya lihat kegantengan saya yang alami ini?" celetuk Rian sambil mengibaskan tangan di depan wajah Gia.

Gia tersentak, wajahnya mendadak panas. "Apa sih! Siapa juga yang melamun. Aku cuma... cuma bingung mau kasih Pak Kades kopi apa."

"Kopi yang paling enak dong. Pak Kades ini yang punya lahan di ujung sana, tempat saya lagi ngerjain proyek," kata Rian sambil duduk di samping Pak Kades.

Pak Kades terkekeh. "Rian ini pinter promosi, Gia. Dia bilang kopi buatanmu lebih enak dari kafe manapun di kota. Oh ya, gimana tadi siang? Rian bilang ada tamu jauh dari Jakarta?"

Gia melirik Rian dengan tajam. Tukang gosip! batinnya. Namun Rian hanya mengedipkan sebelah mata sambil asyik mengupil pelan—tingkah yang sangat tidak estetik tapi entah kenapa malah membuat Gia ingin tertawa.

"Cuma teman lama, Pak. Nggak penting," jawab Gia singkat sambil mulai menyeduh kopi.

"Oh, syukurlah kalau nggak penting. Soalnya Rian tadi bilang ke saya, kalau orang itu datang lagi, dia mau minta izin saya buat pasang papan 'Dilarang Masuk' khusus buat mobil mewah itu," Pak Kades tertawa lebar.

Gia hanya bisa tersenyum getir. Setelah Pak Kades pulang, kedai kembali sunyi. Rian masih di sana, asyik membersihkan sisa kopi di meja tanpa diminta.

"Rian," panggil Gia pelan.

"Ya, Neng Bos?"

"Jam tangan kamu... bagus."

Rian sempat terhenti sejenak. Gerakannya sedikit kaku, namun hanya sepersekian detik sebelum ia kembali santai. Ia melirik pergelangan tangannya, lalu terkekeh. "Oh, ini? Ini mah barang loakan, Neng. Saya beli di pasar loak deket terminal. Kelihatan keren ya? Ya iyalah, yang pakai kan emang sudah keren dari lahir."

"Jangan bohong. Aku tahu itu jam mahal," desak Gia, melangkah mendekat.

Rian berdiri, tingginya yang hampir kepala lebih tinggi dari Gia membuat gadis itu harus mendongak. Tatapan jail yang biasanya ada di mata Rian mendadak hilang, digantikan oleh tatapan dalam yang membuat jantung Gia berdegup sedikit lebih kencang.

"Neng Gia," suara Rian merendah, terdengar jauh lebih serius dan "mahal" dari biasanya. "Ada alasan kenapa orang lebih suka pakai kaus oblong daripada jas. Jas itu panas, kaku, dan seringkali dipakai buat nutupin borok di dalam hati. Kaus oblong ini... meski bolong, dia jujur. Sama kayak saya."

Rian kemudian tersenyum lagi, senyum miring yang menyebalkan itu kembali. "Sudah ah, jangan diinterogasi terus. Saya belum mau daftar jadi menantu Bapak kamu kok. Belum sanggup bayar maharnya pakai utang kopi."

Ia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Gia yang masih mematung dengan beribu pertanyaan. Rian bukan sekadar tukang bangunan yang berutang seribu rupiah. Cara dia bicara, cara dia menatap, dan jam tangan itu... semuanya tidak masuk akal.

Gia kembali menatap catatan utang. Nama 'Rian' di sana kini terasa memiliki misteri yang lebih besar daripada angka-angka yang tertulis.

Siapa kamu sebenarnya, Rian?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!