Indonesia
NovelToon NovelToon

A Story'Of Us

episode 1

“SMA Garuda Bangsa bukanlah sekolah sembarangan. Dikenal dengan prestasi akademiknya yang menjulang, sekolah ini juga memiliki standar disiplin yang sangat tinggi. Di puncak hierarki murid, berdirilah Aria Putri.

Kelas 3 di SMA Garuda Bangsa adalah fase yang penuh tekanan. Ini bukan lagi masa untuk bermain-main; ini adalah tahun "penghakiman" di mana setiap detik berharga untuk masa depan.

Bagi para siswa kelas 3, kelulusan bukan sekadar akhir dari masa seragam putih abu-abu, melainkan gerbang menuju realitas yang keras. Kata-kata seperti *"Perpisahan adalah awal,"* mungkin terdengar manis, namun bagi mereka, kelulusan adalah tentang melepaskan identitas remaja untuk menjadi dewasa yang mandiri.

Aria Putri adalah anomali. Dia menjabat sebagai Ketua OSIS selama tiga periode berturut-turut—sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dia cerdas, bertalenta dalam musik dan debat, namun memiliki tatapan mata sedingin es. Kedisiplinannya tidak mengenal kompromi, dan ketegasannya sering dianggap sebagai tirani oleh teman-temannya sendiri.

\---

Pagi itu, di gerbang utama, Aria berdiri tegak dengan buku catatan kecil di tangannya. Matanya yang tajam menangkap sosok Bimo, seorang siswa kelas 10 yang berjalan santai dengan kerah baju terbuka tanpa dasi.

"Berhenti," suara Aria rendah, namun sanggup menghentikan langkah Bimo seketika.

Bimo menoleh, wajahnya pucat. "Eh, Kak Aria... pagi, Kak."

Aria melangkah mendekat, jaraknya hanya satu meter. "Di mana dasimu?"

"Anu, Kak... ketinggalan di meja belajar. Tadi buru-buru karena takut telat," jawab Bimo terbata-bata.

Aria tidak tersenyum. "Takut telat bukan alasan untuk melanggar aturan estetika dan martabat seragam. Kamu tahu apa fungsi dasi di sekolah ini? Itu simbol kesiapanmu untuk belajar. Jika dasi saja kamu lupakan, apalagi tanggung jawabmu di dalam kelas?"

"Maaf, Kak, cuma hari ini kok..."

"Diam!" bentak Aria, suaranya naik satu oktav membuat beberapa murid di sekitar menoleh. "Jangan membela diri atas kelalaianmu. Masuk ke ruang OSIS, ambil dasi pinjaman, dan terima poin pelanggaranmu. Jangan sampai aku melihat leher kosongmu lagi besok, atau kau akan berdiri di lapangan sampai upacara selesai. Mengerti?"

Bimo hanya bisa menunduk dalam, bibirnya terkunci rapat. Dia tidak berani membantah aura dominan yang dipancarkan Aria.

\---

Siang harinya, saat jam istirahat, suasana koridor lantai dua sangat ramai. Dua siswi kelas 11, Rina dan Maya, tampak berlarian sambil tertawa keras, mencoba mengejar satu sama lain.

\*TAP. TAP. TAP.\*

Langkah sepatu pantofel Aria yang beradu dengan lantai keramik terdengar seperti lonceng kematian bagi kegaduhan tersebut.

"KALIAN PIKIR INI LAPANGAN LARI?" suara Aria menggelegar di sepanjang koridor.

Rina dan Maya mendadak berhenti, hampir tergelincir. Napas mereka tersengal.

"Maaf, Kak Aria, kami cuma bercanda," kata Maya sambil mencoba mengatur napas.

"Bercanda ada tempatnya! Ini koridor, tempat orang berjalan dengan tenang untuk menuju ruang kelas atau perpustakaan!" Aria mendekat, wajahnya tampak sangat marah. "Bagaimana jika kalian menabrak guru yang membawa tumpukan tugas? Atau menabrak siswa lain hingga terluka? Apakah tawa kalian bisa menyembuhkan luka orang lain?"

"Kami tidak bermaksud begitu..."

"Aku tidak butuh maksudmu, aku butuh tindakanmu! Sekarang, kembali ke kelas dengan berjalan kaki secara normal. Jika aku melihat kalian berlari lagi di lingkungan sekolah, aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak akan mendapat izin keluar kelas saat istirahat selama satu minggu. Pergi!"

Kedua siswi itu tertunduk malu, berjalan kaku di bawah tatapan tajam Aria yang mengawal mereka hingga masuk ke kelas.

\---

Ketegasan Aria mencapai puncaknya saat dia memergoki tiga siswa kelas 2 sedang menyudutkan seorang anak kelas 1 di area belakang kantin. Mereka tampak sedang mengintimidasi adik kelas tersebut untuk menyerahkan uang sakunya.

Aria muncul dari balik pilar, melipat tangan di dada. "Sangat heroik ya, tiga orang melawan satu anak yang bahkan belum genap satu semester di sini."

Para perundung itu terlonjak. Sang ketua geng, Satria, mencoba berlagak berani. "Hanya urusan kecil, Ar. Jangan ikut campur."

Aria melangkah maju tanpa rasa takut sedikit pun. "Urusan kecil? Memeras dan menindas itu adalah pelanggaran berat di SMA Garuda Bangsa. Kalian tahu apa sanksinya?"

"Ar, ayolah, kita kan sudah lama kenal..."

"Aku tidak mengenal pengecut," potong Aria cepat. "Kalian punya dua pilihan. Lepaskan dia sekarang dan minta maaf, atau aku akan membawa kasus ini langsung ke meja Kepala Sekolah dengan rekomendasi skorsing atau bahkan pengeluaran. Aku punya rekaman suara kalian sejak lima menit yang lalu."

Satria dan teman-temannya saling berpandangan. Mereka tahu Aria tidak pernah menggertak sambal. Kata-katanya adalah hukum.

"Maaf..." gumam Satria pelan kepada anak kelas 1 itu sebelum mereka bergegas pergi meninggalkan tempat kejadian dengan wajah kesal.

Aria menatap anak kelas 1 itu sebentar. "Jangan biarkan dirimu diinjak. Laporkan jika terjadi lagi. Paham?" Setelah anak itu mengangguk, Aria pergi tanpa menunggu ucapan terima kasih.

\---

Meski Aria menjaga ketertiban, kebencian murid-murid kepadanya semakin memuncak. Di kantin, di grup chat tanpa Aria, dan di pojok-pojok sekolah, protes mulai bermunculan.

"Dia itu robot atau manusia sih?" gerutu seorang siswa. "Tiga tahun kita dipimpin diktator. Kapan kita bisa bebas?"

"Dia terlalu disiplin sampai tidak punya empati," sahut yang lain. "Iya dia pintar, iya dia hebat, tapi sekolah ini jadi terasa seperti penjara karena dia. Kita tidak butuh ketua OSIS yang hanya tahu cara marah-marah."

Banyak siswa yang merasa bahwa kepemimpinan Aria terlalu kaku. Mereka merasa tercekik oleh aturan-aturan kecil yang selalu diawasi oleh "Mata Elang" Aria.

Ketidaksukaan itu berubah menjadi atmosfer dingin setiap kali Aria melewati kerumunan. Tidak ada lagi sapaan hangat, yang ada hanyalah bisikan-bisikan sinis yang sengaja dikeraskan agar dia mendengar.

Aria Putri, sang Ketua OSIS yang segera lulus, berdiri di tengah lapangan saat senja. Dia mendengar semuanya. Dia tahu mereka tidak menyukainya.

Namun, baginya, kedisiplinan adalah bentuk kasih sayang yang paling keras untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia luar yang jauh lebih kejam daripada tegurannya di koridor sekolah.

\---

Pagi itu di SMA Garuda Bangsa, suasana kelas 3-1 tampak sangat kontras dengan hiruk-pikuk koridor saat jam istirahat.

Di dalam ruangan ini, keheningan adalah hukum. Semua murid telah duduk rapi di kursi masing-masing, buku-buku cetak tebal sudah terbuka di atas meja, dan pandangan mereka tertuju ke depan.

Di barisan depan, Aria Putri duduk dengan punggung tegak, pena di tangan, dan wajah yang tidak menunjukkan emosi apa pun.

Pak Heru, guru Matematika yang dikenal kaku, masuk ke dalam kelas. Tanpa banyak basa-basi, beliau membuka buku absen yang sampulnya sudah mulai mengelupas.

"Baik, bapak absen dulu. Tolong dengarkan namanya baik-baik," ujar Pak Heru dengan suara berat.

Satu per satu nama disebutkan. "Ahmad?"

"Hadir, Pak."

"Aria Putri?"

"Hadir, Pak," jawab Aria singkat dan tegas.

Absen berlanjut hingga Pak Heru berhenti pada satu nama. Matanya menyipit menatap baris nama di urutan bawah.

"Sasha Arka?"

Hening. Tidak ada jawaban. Pak Heru mendongak, menyapu seluruh penjuru kelas. "Sasha Arka hadir?"

Sekali lagi, hanya suara kipas angin yang terdengar. Murid-murid lain saling lirik, namun mereka hanya mengangkat bahu. Tak ada yang tahu di mana keberadaan gadis itu.

"Ada yang tahu di mana Sasha?" tanya Pak Heru lagi, nada suaranya mulai terdengar kesal.

Aria terdiam, ingatannya melayang pada percakapan dengan wali kelas beberapa bulan lalu. Saat itu, sang guru berkata kepadanya, \*"Aria, Sasha itu siswi yang bermasalah. Kelakuannya makin menjadi-jadi sekarang sudah kelas tiga. Awalnya dia di kelas 3-3, tapi di sana dia tidak bisa dikendalikan. Saya pindahkan dia ke kelasmu, 3-1, agar kau sebagai Ketua OSIS bisa membantunya, setidaknya memberinya pengaruh positif. Dia akan resmi pindah di semester dua."\*

Kini, semester dua sudah berjalan, namun kursi di pojok belakang itu lebih sering kosong daripada terisi.

Aria mengerutkan kening. Baginya, ketidakhadiran adalah pelanggaran disiplin yang paling tidak bisa ditoleransi, apalagi bagi seseorang yang sudah diberi kesempatan kedua.

Pak Heru menghela napas panjang, menutup buku absen dengan sedikit bantingan. "Ya sudah. Bapak tidak heran lagi. Kita mulai saja pelajarannya. Buka halaman 142 mengenai turunan fungsi."

Pak Heru berbalik ke papan tulis. Kapur di tangannya mulai bergerak cepat, menciptakan bunyi \*tek-tek-tek\* yang berirama saat menuliskan rumus-rumus kompleks. Kelas sangat sunyi, hanya suara kapur dan desah napas murid yang berusaha memahami materi.

\*BRAK!\*

Pintu kelas terbuka secara tiba-tiba tanpa ketukan. Semua kepala menoleh serentak.

Di ambang pintu, berdirilah seorang siswi. Penampilannya sangat jauh dari standar SMA Garuda Bangsa.

Ia mengenakan \*hoodie\* putih kebesaran yang menutupi seragamnya, dan bukannya rok abu-abu, ia justru mengenakan celana panjang kain berwarna gelap. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya terlihat sayu, namun ada kesan menantang di sana.

"Sasha?" Pak Heru meletakkan kapurnya, tangannya bertumpu di pinggang. "Dari mana saja kau? Kenapa jam segini baru masuk?"

Sasha melangkah masuk tanpa rasa bersalah. Suaranya terdengar malas saat menjawab, "Hanya terlambat bangun saja, Pak."

Jawaban itu memicu bisikan di antara murid-murid lain. Aria Putri mengepalkan tangannya di bawah meja. "Terlambat bangun? Di semester akhir kelas tiga?" batin Aria dengan amarah yang tertahan.

Pak Heru mulai mengomel, suaranya naik beberapa desibel. "Terlambat bangun? Kamu pikir ini hotel? Kamu sudah kelas tiga, Sasha! Nilaimu sudah di ujung tanduk, kehadiranmu nol besar, dan sekarang kamu datang dengan pakaian seperti itu? Mana rokmu? Kenapa pakai celana?"

Sasha tidak berhenti berjalan menuju mejanya di pojok belakang. Ia seolah menganggap omelan Pak Heru hanyalah kebisingan latar belakang yang tidak penting.

Ia menarik kursi dengan suara decitan yang memekakkan telinga lalu duduk sambil menyandarkan kepalanya.

"Sasha! Saya bicara denganmu!" bentak Pak Heru.

Sasha hanya menoleh sekilas, lalu mengeluarkan sebuah buku tulis kusam dari dalam tasnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri atau meminta maaf.

Pak Heru memijat pelipisnya, tampak sangat lelah menghadapi siswi yang satu ini. "Dengar, Sasha. Saya peringatkan kamu sekali lagi. Jika besok kamu terlambat lagi, atau masuk dengan atribut yang melanggar aturan seperti ini, saya tidak akan segan-segan melaporkanmu langsung ke wali kelas dan memanggil orang tuamu ke sekolah. Mengerti?"

Sasha tetap diam, matanya menatap kosong ke papan tulis. Pak Heru mendengus kesal, lalu kembali mengambil kapurnya. "Semuanya, perhatikan lagi ke depan. Kita lanjutkan materi."

Suasana kelas kembali ke rutinitas pembelajaran, namun ketegangan masih terasa di udara. Aria Putri sedikit menoleh ke belakang, menatap Sasha dengan tatapan dingin dan penuh selidik.

Di matanya, Sasha bukan sekadar siswi bermasalah, melainkan sebuah noda dalam sistem disiplin yang selama ini ia jaga dengan susah payah selama tiga tahun menjabat.

Bersambung...

episode 2

Bel istirahat berdentang nyaring, memecah ketegangan pelajaran Matematika yang melelahkan. Namun, bagi Aria Putri, ini bukanlah waktu untuk bersantai.

Matanya terkunci pada satu target: Sasha Arka. Saat Sasha bangkit dari kursinya dengan gerakan malas dan hendak melangkah keluar menuju kantin, Aria sudah lebih dulu berdiri di depan pintu, menghadang jalannya seperti tembok baja yang tak tergoyahkan.

Sasha menghentikan langkahnya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku *hoodie* putihnya. Ia menatap Aria dari bawah ke atas dengan tatapan tidak peduli.

"Siapa kau? Ada apa?" tanya Sasha ketus, suaranya serak seolah jarang digunakan untuk bicara.

Aria berdiri tegak, dagunya sedikit terangkat, memancarkan aura otoritas yang biasa ia tunjukkan di depan ribuan murid saat upacara. "Nama saya Aria Putri. Kelas 3-1. Saya adalah Ketua OSIS sekaligus Ketua Kelas di kelas ini," jawabnya dengan artikulasi yang sempurna.

Mendengar rentetan jabatan itu, Sasha bukannya terkesan, ia malah mengeluarkan siulan panjang yang bernada mengejek. Ia terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala.

"Wah, banyak juga jabatanmu," ucap Sasha dengan senyum miring. "Memangnya kau dibayar berapa oleh sekolah sampai mau repot-repot mengurusi semua itu? Apa kau tidak punya kehidupan lain selain menjadi pesuruh guru?"

Aria tidak terpancing. Ia tetap diam dengan wajah sedatar dinding batu. Baginya, hinaan pribadi hanyalah angin lalu dibandingkan dengan pelanggaran aturan. "Aku tidak peduli apa pendapatmu tentangku," sahut Aria dingin.

"Yang aku pedulikan adalah fakta bahwa selama satu semester penuh kau membuat ulah di kelas 3-3, dan sekarang sudah satu bulan di semester dua ini kau menghilang tanpa keterangan. Tadi kau masuk, terlambat, dan bersikap tidak sopan pada Pak Heru. Apa kau punya alasan masuk akal atas semua kekacauan yang kau buat?"

Sasha melangkah maju satu tindak, memperpendek jarak di antara mereka hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Ia tersenyum remeh, matanya berkilat penuh tantangan.

"Memangnya siapa kau? Ibuku?" bisik Sasha tepat di depan wajah Aria. Senyumnya melebar saat melihat Aria tetap tak bergeming. "Minggir. Jangan ganggu aku, aku lapar."

Tanpa menunggu jawaban, Sasha sengaja menyenggol bahu Aria dengan keras saat ia melewatinya. Tubuh Aria sedikit bergeser, namun ia segera berbalik dengan mata yang berkilat tajam.

"Kau mau ke mana, Sasha?" tanya Aria dengan nada yang lebih berat. "Sebenarnya apa yang sedang kau coba lakukan di sekolah ini?"

Sasha tidak berhenti berjalan, ia hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. "Bukan urusanmu, Tuan Putri."

Aria menghela napas pendek. Ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul hitam—"buku dosa" yang ditakuti seluruh murid SMA Garuda Bangsa.

Ia mencabut pena dari saku dadanya dan mulai menulis dengan cepat, suara goresan penanya terdengar kasar di atas kertas.

"Sasha Arka," panggil Aria, suaranya kini menghentikan langkah Sasha di tengah koridor yang mulai ramai. "Terlambat masuk kelas tanpa alasan yang sah: 15 poin. Membangkang dan bersikap tidak sopan kepada tenaga pendidik di dalam kelas: 25 poin. Melanggar aturan seragam dengan memakai celana dan jaket non-sekolah: 10 poin."

Aria merobek kertas kecil itu dari bukunya dengan bunyi *sret* yang tajam. Ia berjalan mendekati Sasha dan menyodorkan kertas tersebut tepat di depan mata gadis itu. Kertas itu penuh dengan coretan angka dan catatan pelanggaran yang rapi.

"Dengan semua poin pelanggaran yang kau kumpulkan hanya dalam waktu satu jam ini," ucap Aria dengan nada rendah namun penuh ancaman, "aku punya hak penuh sebagai Ketua OSIS untuk memberimu sanksi langsung tanpa menunggu keputusan guru BK. Aku menghukummu untuk membersihkan seluruh toilet perempuan di lantai ini selama satu minggu penuh, mulai hari ini."

Sasha terdiam. Senyum remehnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan kosong yang sulit diartikan.

Ia menatap kertas di tangan Aria, lalu menatap mata dingin sang Ketua OSIS. Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka berdua di tengah koridor, sementara murid-murid lain mulai berkumpul di kejauhan, berbisik-bisik menyaksikan konfrontasi dua kutub yang sangat berbeda tersebut.

Tatapan mata Sasha Arka berubah menjadi sangat gelap saat ia melihat kertas sanksi di tangan Aria.

Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, tangan Sasha bergerak cepat menyambar kertas itu. Dengan gerakan yang sangat tenang namun menghina, ia merobek kertas tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil di depan wajah Aria.

\*Sret! Sret! Sret!\*

Serpihan kertas putih itu jatuh berserakan di lantai koridor yang bersih. Sasha kemudian melangkah pergi begitu saja, menginjak serpihan kertas tersebut dengan sepatu ketsnya yang kumal.

Aria terpaku. Dadanya naik-turun menahan amarah yang jarang sekali ia perlihatkan. Tangannya mengepal kuat. "Sasha! Kembali ke sini! Kau belum—"

"Kak Aria!"

Langkah Aria terhenti. Seorang anggota OSIS kelas 11 berlari menghampirinya dengan wajah cemas. "Kak, maaf menyela, tapi Bu Sarah sudah menunggu di ruang rapat. Perwakilan tiap kelas sudah berkumpul untuk membahas persiapan ujian akhir dan perpisahan. Kakak harus memimpin rapatnya sekarang."

Aria melirik punggung Sasha yang semakin menjauh, lalu beralih ke anggota OSIS-nya. Ada pergulatan batin di matanya antara harga diri sebagai penegak disiplin dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin organisasi.

"Baiklah," ucap Aria akhirnya dengan suara yang ditekan. "Bersihkan kertas-kertas itu. Aku akan mengurus Sasha nanti. Jangan biarkan dia berpikir dia bisa lolos begitu saja."

\---

Sementara itu, di kantin SMA Garuda Bangsa yang riuh, Sasha duduk di pojok ruangan yang agak gelap.

Ia memesan sepiring nasi goreng penuh dan segelas jus jeruk besar. Seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, ia makan dengan sangat lahap, hampir seperti orang yang tidak makan selama dua hari. Ia mengabaikan pandangan sinis atau takut dari murid-murid lain di sekitarnya.

Tiba-tiba, seorang siswa laki-laki kelas satu yang sedang bercanda dengan temannya berjalan mundur tanpa melihat arah.

\*BRAK!\*

Punggung siswa itu menyenggol pinggiran meja Sasha dengan cukup keras. Gelas jus jeruk yang masih penuh itu terguncang, kehilangan keseimbangan, dan isinya tumpah membasahi meja serta merembes ke celana yang dipakai Sasha.

"Aduh! Maaf, Kak! Maaf banget, aku nggak sengaja!" seru siswa kelas satu itu dengan wajah pucat pasi. Ia segera mengambil tisu, mencoba mengelap tumpahan itu dengan gemetar. "Aku ganti Kak, aku belikan yang baru sekarang juga. Benar-benar maaf..."

Sasha berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendoknya perlahan. Kepalanya tertunduk, rambutnya yang berantakan menutupi matanya, namun aura yang terpancar darinya berubah menjadi sangat mencekam.

"Kau..." suara Sasha rendah, bergetar karena emosi yang meledak.

"Maaf Kak, aku—"

Belum sempat siswa itu menyelesaikan kalimatnya, Sasha bangkit berdiri dengan gerakan eksplosif.

Ia menyambar nampan makanannya yang masih berisi sisa nasi goreng dan saus, lalu dengan kekuatan penuh, ia melemparkan nampan itu tepat ke arah wajah siswa tersebut.

\*PRANG! PLOK!\*

Nampan logam itu menghantam wajah si siswa sebelum jatuh ke lantai. Nasi goreng dan minyak berceceran di seragam putih bersih milik anak kelas satu itu.

Ia terjatuh ke lantai karena terkejut dan kesakitan, memegangi hidungnya yang memerah.

Seketika, kantin yang tadinya sangat bising menjadi sunyi senyap seolah seseorang baru saja mematikan saklar suara.

Semua murid berhenti makan. Para pedagang di stand kantin berhenti melayani. Semua mata tertuju pada Sasha yang berdiri dengan napas memburu dan tangan yang masih gemetar karena amarah.

Mereka semua tahu siapa Sasha Arka. Meskipun dia seorang perempuan, reputasinya sebagai berandalan sekolah sejak kelas satu sudah melegenda. Dia tidak takut pada siapa pun, dan dia tidak ragu untuk menggunakan kekerasan fisik jika merasa terganggu.

Di salah satu meja, seorang siswa kelas tiga berbisik pada temannya sambil menggelengkan kepala. "Lihat itu... ternyata masih ada juga bocah kelas satu yang tidak tahu siapa dia. Cari mati saja menyenggol meja singa betina seperti Sasha."

"Habislah dia," sahut temannya dengan nada ngeri. "Aria Putri mungkin tegas dengan aturan, tapi Sasha... dia tidak punya aturan. Dia hanya punya amarah."

Sasha menatap siswa yang tersungkur di lantai itu dengan tatapan jijik. "Jangan pernah sentuh mejaku lagi jika kau masih ingin punya wajah yang utuh," desisnya.

Bersambung...

episode 3

Sasha Arka melangkah lebar meninggalkan kantin dengan rahang yang mengeras. Nafsu makannya telah lenyap, berganti dengan rasa panas yang membakar di dadanya.

Ia tidak mempedulikan nampan yang berserakan atau anak kelas satu yang masih gemetar di lantai. Baginya, sekolah ini hanyalah kotak sesak yang penuh dengan aturan tidak berguna dan orang-orang yang lemah.

Sasha Arka adalah rangkaian catatan hitam yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding. Dia bukan berandalan yang lahir kemarin sore.

Reputasinya sudah terbangun sejak ia masih duduk di bangku SMP. Sasha tidak pernah mengikuti latihan bela diri formal seperti karate atau silat; dia tidak butuh teknik indah. Gaya berkelahinya kasar, mengandalkan insting binatang dan tenaga yang luar biasa besar di balik tubuhnya yang tampak kurus. Dia hanya meninju, menendang, dan menghantam apa saja yang ada di depannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.

Ada sebuah legenda urban yang nyata di kota ini tentangnya. Saat masih SMP, Sasha pernah dihadang oleh 30 siswa SMA dari sekolah lawan yang mencoba memalaknya. Bukannya lari, Sasha justru memungut dua bongkah batu bata dari pinggir jalan.

Dengan mata merah padam, dia menerjang kerumunan itu seperti badai. Hasilnya? Ketiga puluh siswa SMA itu berakhir di ruang unit gawat darurat rumah sakit dengan luka robek dan patah tulang, sementara Sasha hanya menyeka darah dari pipinya dan berjalan pulang seolah baru saja menyelesaikan tugas belanja.

Tak hanya sesama pelajar, preman-preman pasar pun pernah merasakan keganasannya. Sepuluh orang dewasa yang terbiasa hidup di jalanan mencoba mengeroyoknya karena Sasha menolak memberikan jalan.

Tanpa sepatah kata pun, Sasha menghajar mereka satu per satu dengan brutal hingga kesepuluh orang itu pingsan tergeletak di aspal dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Memasuki masa SMA, kebengalannya semakin menjadi-jadi. Banyak geng sekolah lain yang merasa harga dirinya terinjak karena dikalahkan oleh seorang perempuan.

Mereka sering datang bergerombol untuk menantangnya, namun satu per satu SMA berandalan itu tumbang di tangan Sasha. Kadang dia bertarung sendirian, kadang ada beberapa siswa laki-laki dari sekolahnya yang cukup "gila" untuk ikut bertarung di belakangnya sebagai pengikut tak resmi.

Namun, rekam jejaknya tidak berhenti pada perkelahian jalanan. Sasha pernah ditangkap polisi karena terlibat dalam aksi balap liar yang berujung pada perusakan fasilitas umum.

Dia menabrak barikade polisi dan melawan saat akan diamankan. Meski sempat ditahan, dia dibebaskan karena kurangnya bukti kuat bahwa dialah otak di balik kegiatan tersebut.

Tindakannya yang paling nekat adalah ketika dia tertangkap basah mencuri di sebuah supermarket besar.

Bukan karena dia tidak punya uang, tapi lebih karena dia ingin menantang adrenalin dan otoritas. Dia tertangkap saat mencoba keluar dengan tas penuh barang tanpa membayar. Karena usianya yang masih di bawah umur saat itu, dia hanya dijatuhkan hukuman penjara selama satu minggu sebagai pembinaan. Namun, jeruji besi sama sekali tidak mengubahnya.

Kini, di kelas tiga, tingkah laku Sasha semakin liar di luar kendali sekolah. Dia lebih sering terlihat di area-area gelap kota, terlibat dalam urusan-urusan yang tidak seharusnya disentuh oleh seorang pelajar.

Ketidakhadirannya selama berbulan-bulan bukan karena sakit, melainkan karena dia merasa dunia di luar sana jauh lebih menarik daripada duduk diam mendengarkan rumus matematika yang membosankan.

Sasha menyusuri koridor menuju gerbang belakang sekolah, melompati pagar dengan gerakan tangkas yang menunjukkan betapa seringnya dia melakukan hal itu.

Baginya, SMA Garuda Bangsa hanyalah tempat persinggahan sementara sebelum dia kembali ke "habitatnya" yang keras di jalanan. Di saat Aria Putri sibuk menjaga keteraturan, Sasha Arka adalah perwujudan dari kekacauan yang tak bisa dijinakkan.

----

Bunyi bel masuk jam pelajaran terakhir bergema di seluruh penjuru SMA Garuda Bangsa. Pak Jaka, guru Fisika yang dikenal sangat disiplin terhadap waktu, masuk ke kelas 3-1 dengan tumpukan buku di lengannya. Suasana kelas kembali menegang saat absen mulai dibacakan.

"Sasha Arka?" panggil Pak Jaka.

Hening.

Kursi di pojok belakang yang tadi sempat diduduki Sasha kini kembali kosong melompong.

Pak Jaka mendongak, menatap kursi itu dengan dahi berkerut. "Tadi dia masuk pelajaran Matematika, kan? Ke mana dia sekarang?"

Semua murid hanya diam, saling pandang tanpa jawaban. Aria Putri, yang duduk di barisan depan, merasa jantungnya berdegup kencang karena amarah yang tertahan. "Dia benar-benar cabut?" batin Aria tidak percaya.

Sebagai Ketua OSIS, ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Bagaimana bisa seorang siswi perempuan begitu berani melompati pagar sekolah di siang bolong? Benar-benar gila dan tidak punya rasa takut.

---

Sore harinya, matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga di langit kota. Karena tidak ada agenda rapat OSIS, Aria memutuskan untuk pulang lebih awal.

Ia berjalan menyusuri trotoar dengan seragam yang masih sangat rapi, tas sekolah tersampir sempurna di bahunya.

Namun, langkah Aria terhenti saat ia melewati sebuah gang di samping supermarket besar. Di sana, di antara deru mesin kendaraan, ia melihat segerombolan remaja laki-laki dari SMA lain yang dikenal sebagai sekolah berandalan.

Mereka sedang nongkrong, duduk di atas motor-motor yang dimodifikasi bising. Di tengah-tengah kerumunan itu, Aria menangkap sosok yang sangat ia kenali.

Itu Sasha.

Sasha sedang duduk santai di atas beton pembatas jalan, masih mengenakan *hoodie* putihnya.

Yang membuat Aria lebih terkejut lagi adalah melihat Sasha yang dengan santainya menyelipkan sebatang rokok di antara jemarinya, mengembuskan asap tipis ke udara sambil tertawa kecil mendengar lelucon salah satu remaja laki-laki di sana.

Tanpa rasa takut, Aria melangkah mendekat, membelah kerumunan remaja laki-laki yang menatapnya dengan pandangan heran sekaligus menggoda.

"Sasha Arka!" suara Aria memecah kebisingan nongkrong mereka.

Semua mata tertuju pada Aria. Salah satu siswa dari SMA lain, seorang cowok berambut gondrong dengan jaket denim, bertanya sambil menoleh ke arah Sasha, "Oi, Sha. Ada yang kenal dengan cewek rapi ini? Siapa dia? Pacarmu?"

Sasha menghela napas panjang, wajahnya yang tadi tampak santai mendadak berubah menjadi sangat letih dan kesal.

Ia membuang puntung rokoknya ke aspal lalu menginjaknya dengan kasar. "Merepotkan saja," gumamnya. Ia menatap Aria dengan mata sayu yang penuh kebencian. "Apa maumu, Ketua OSIS? Kau mengikutiku sampai ke sini?"

Aria berdiri tegak, tidak mempedulikan tatapan mengancam dari teman-teman Sasha. "Kau bolos pelajaran Fisika tadi, dan sekarang kau berada di sini, merokok dengan siswa sekolah lain? Ini sudah keterlaluan. Kau akan dikenakan sanksi yang sangat tegas, Sasha. Kali ini aku tidak akan hanya memberimu poin."

Aria mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Aku akan meminta orang tuamu untuk datang ke sekolah besok pagi. Kita selesaikan ini dengan wali kelas dan kepala sekolah."

Mendengar kata "orang tua", raut wajah Sasha berubah drastis. Senyum remehnya hilang, digantikan oleh aura dingin yang membuat teman-teman di sekelilingnya pun terdiam.

"Lebih baik kau pulang sekarang, Aria," kata Sasha dengan nada yang sangat rendah dan berbahaya. "Aku sedang *bad mood*. Dan satu hal lagi... jangan pernah sebut-sebut nama orang tuaku."

Aria justru merasa di atas angin karena merasa telah menemukan titik lemah Sasha. "Kenapa? Apa kau malu? Seharusnya kau memang malu. Orang tuamu sudah bersusah payah menyekolahkanmu di sekolah bergengsi seperti Garuda Bangsa, tapi kau malah menjadi sampah jalanan seperti ini. Kau tidak kasihan pada mereka?"

Sasha tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, lalu perlahan ia menoleh ke belakang, menatap Aria dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menusuk—sebuah tatapan yang menyiratkan luka yang sangat dalam sekaligus kemarahan yang bisa meledak kapan saja.

"Ketua OSIS," desis Sasha dingin. "Kau punya telinga, kan? Kubilang jangan sebut orang tuaku."

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!