Deg
"Ini...." Ratih menjeda ucapannya, dia masih berusaha untuk mencerna semua perkataan dokter dan hasil laporan di tangannya.
"Kemungkinan, Naufal memang bukan darah daging nyonya"
Ratih mengetahui kebenaran itu langsung dari dokter di depannya, juga dari selembar hasil laboratorium yang tampak biasa, namun menghantam perasaannya tanpa ampun.
Saat dokter menyebutkan golongan darah Naufal, Ratih sempat tersenyum kecil, yakin tak ada yang aneh. Tapi senyum itu membeku ketika dokter melanjutkan dengan menyebutkan golongan darahnya sendiri dan golongan darah suaminya. Angkanya tidak saling bertemu. Tidak beririsan.
Wajah Ratih langsung berubah. Matanya melebar, alisnya terangkat tinggi, napasnya tertahan sesaat sebelum terlepas cepat dan dangkal. Tangannya yang tadi menggenggam tas perlahan melemah, jemarinya gemetar. Ada jeda hening yang berat, seolah ruangan itu tiba-tiba kehilangan udara.
"Dok…" suaranya serak, nyaris berbisik. "Apa… apa mungkin ada kesalahan? Maksud saya… apa mungkin anak saya, golongan darahnya seperti itu, walau saya dan suami saya berbeda?" tanyanya yang masih berusaha untuk mengambil sedikit saja kemungkinan.
Ratih sudah merawat anaknya itu selama lima tahun, dia menyayangi Naufal dan tak pernah terbesit sedikitpun bahwa anak itu bukan anaknya. Dia melahirkannya saat itu, di rumah sakit ini juga. Ratih sangat kebingungan.
Dokter menatap Ratih dengan hati-hati, ekspresinya tenang namun serius. Ia tidak langsung menjawab, seakan memberi waktu pada Ratih untuk bersiap.
"Begini, nyonya Ratih," ujar dokter pelan, "golongan darah diturunkan secara genetik. Ada pola-pola yang memungkinkan dan ada yang secara medis tidak mungkin terjadi." jelas dokter itu.
Dokter lalu menjelaskan dengan bahasa sederhana. Jika kedua orang tua memiliki golongan darah tertentu. Misalnya A dan O, atau A dan B maka hanya ada beberapa kemungkinan golongan darah anak yang bisa muncul. Kombinasi itu sudah pasti, tidak bisa melompat ke golongan yang sama sekali tidak membawa gen dari salah satu orang tua.
Ratih sebenarnya juga cukup mengetahui pelajaran biologi yang saat dia pelajari ketika dia masih SMA itu. Tapi, terlalu sulit baginya untuk menerima bahwa Naufal bukanlah anak kandungnya.
"Dalam kasus Ibu dan suami," lanjutnya, "semua kemungkinan sudah kami hitung. Dan… golongan darah Naufal tidak termasuk dalam kemungkinan tersebut. Artinya, secara ilmu genetika, itu tidak bisa terjadi. Naufal, bukan anak kandung Nyonya, itu yang jelas!" dokter kembali menegaskan pernyataannya dan juga pernyataan yang ada di dalam kertas laporan hasil laboratorium itu.
Ratih menggeleng pelan, bibirnya bergetar. "Jadi… tidak ada kemungkinan lain, Dok? Tidak ada keajaiban medis?" Ratih masih sangat berharap.
Dokter menarik napas kecil sebelum menjawab jujur.
"Untuk hal ini, tidak. Ini bukan soal jarang atau kecil kemungkinannya. Ini soal tidak mungkin, nyonya!"
Kata itu jatuh pelan, tapi menghancurkan. Ratih menunduk, dadanya sesak. Dunia yang selama ini ia yakini utuh, retak hanya oleh satu fakta sederhana, darah yang mengalir di tubuh anak yang ia pikir telah ia lahirkan, rawat, dan cintai sepenuh hidupnya, bukan darahnya. Lalu darah siapa?
Dengan langkah gontai, Ratih keluar dari ruangan dokter yang memang menangani Naufal yang mengalami sakit demam berdarah. Sudah tiga hari Naufal di rawat di rumah sakit ini. Dan Ratih, datang ke tempat dokter itu karena memang ingin mengambil hasil tes laboratorium.
Tapi, apa yang didapatkan justru menghancurkan hati dan perasaannya. Air matanya mengalir, dia benar-benar bingung.
"Mas Fandi, aku harus mengatakan semua ini pada mas Fandi!"
Ratih meraih ponsel dari dalam tasnya, niatnya adalah untuk menghubungi suaminya. Namun, suaminya mengatakan kalau dia sudah berada di rumah sakit. Sudah ada di ruangan Naufal.
[Ada apa? aku sudah berada di ruangan rawat Naufal, kamu sudah ambil hasil laboratoriumnya?]
"Sudah mas, tapi..."
"Nyonya Ratih, dokter Gunawan memanggil anda ke ruangannya!" kata pada seorang perawat yang datang buru-buru menghampirinya.
"Mas, sebentar. Aku akan menemui dokter dulu!"
Ratih mematikan ponselnya. Dia segera pergi kembali ke ruangan yang tadi baru saja dia tinggalkan. Tapi, begitu dia mau masuk, perawat itu keluar lagi.
"Maaf nyonya, ternyata aku salah. Bukan nyonya Ratih Auliani, tapi Ratih Aisyah. Maafkan saya" kata perawat itu yang ternyata salah.
Ratih mengangguk perlahan. Dia juga tidak mempermasalahkan hal itu.
Ratih pun kembali berjalan dengan cepat ke ruangan Naufal.
Tangannya baru akan memegang handel pintu, ketika dia mendengar suara tangis yang sangat familiar.
"Hiks... mas, bagaimana aku tidak khawatir. Anak kita sudah tiga hari berada di rumah sakit dan aku tidak boleh menjenguk?"
Deg
'Anak kita?'
Ratih melihat kembali ke arah kertas di tangannya. Tangannya meremass kertas itu dengan sendirinya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, kalau Ratih dengar bisa berantakan semuanya!"
Deg
"Kan kamu yang bilang dokter memanggilnya lagi. Tidak mungkin dia akan kembali cepat. Aku mau pastikan Naufal baik-baik saja, baru aku pulang!"
"Cepatlah! jangan membuat masalah. Jangan sampai semua usaha kita selama lima tahun ini sia-sia. Tinggal sedikit lagi, batas waktu deposito Ratih berakhir. Dia akan punya banyak uang, setelah kita dapatkan uangnya. Kita tidak perlu lagi...!"
Brakk
Ratih membuka pintu dengan keras. Dia sungguh tidak tahan lagi. Air matanya sudah bercucuran di wajahnya.
"Ratih!"
Fandi sangat terkejut. Sarah juga langsung memeluk Naufal.
"Brengsekk kamu mas! teganya kamu membohongi aku selama ini!" pekik Ratih yang langsung memukul dada dan lengan Fandi tanpa henti.
"Ratih... Ratih, kamu salah paham! dengarkan dulu penjelasanku!"
Bahkan pria itu masih mengelak. Pria itu masih berusaha menahan Ratih, dan mencoba menjelaskan, sudah pasti yang dia jelaskan adalah kebohongan.
Tangis Ratih pecah, hatinya hancur. Jiwanya meronta. Suami yang dia percayai yang dia cintai selama 5 tahun, kenapa bisa seperti itu? kenapa bisa mengkhianatinya seperti itu?
"Aku mendengarnya sendiri! apa lagi yang mau kamu coba jelaskan!" pekik Ratih.
Wanita itu sudah sampai pada batasnya. Dia menjerit, dia bahkan tidak perduli lagi dia berada di rumah sakit. Dia hanya ingin memaki Fandi, berapa jahatnya suaminya itu padanya.
"Mulai sekarang! aku tidak ingin melihat kalian lagi. Jangan sampai aku melihat kalian bertiga, muncul di hadapan ku!" teriaknya yang langsung memilih berlari keluar dari ruangan itu.
Dia tidak sanggup, dia sama sekali tidak sanggup berada di sana. Nafasnya tercekat, melihat tiga orang yang selama ini telah membohonginya dengan begitu lihai selama lima tahun, mungkin lebih itu sungguh membagi dada Ratih mau meledakk.
"Mas, bagaimana ini?" tanya Sarah panik.
Tangan dan rahang Fandi terlihat mengepal dan mengeras. Dia tahu, kalau dia mengejar Ratih saat ini. Dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
'Aku harus menyingkirkannya' batin Fandi.
***
Bersambung...
Bak seseorang yang hatinya patah, Ratih juga merasakan dunianya seolah runtuh. 5 tahun lamanya, dia menjadi istri yang selalu mementingkan kepentingan suaminya. Karirnya yang cemerlang, dia tinggalkan demi menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak, yang bahkan anak simpanan suaminya.
Air matanya sudah habis, dia keluar dari dalam mobilnya dengan mata sembab, menuju ke rumah mewahnya yang bahkan dibangun sesuai dengan keinginan suaminya.
Ratih melangkah dengan langkah gontai.
Dari arah rumah, keluar seorang wanita paruh baya. Pengasuh yang menemaninya sejak kecil. Melihat Ratih yang begitu sedih, pelayan itu bergegas menghampiri Ratih.
"Nyonya, nyonya kenapa?"
Ratih menoleh, dan langsung memeluk pelayannya itu.
"Bibi Erma!"
Tangisnya pecah, dia tidak memiliki siapapun lagi. Kedua orang tuanya sudah tiada tiga tahun yang lalu. Karena sebuah kecelakaan. Hanya bibi Erma yang dia percaya saat ini.
"Mas Fandi, bi. Mas Fandi!"
Ratih seolah mengadu, berusaha membagi beban berat di dalam hatinya. Rasa sesak itu, rasa kecewa, rasa sedih, sakit yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Dia menumpahkannya lewat air mata di pelukan seseorang yang sudah dia anggap keluarga, bukan pelayan semata.
Usapan lembut bibi Erma di punggung Ratih, membuat Ratih tahu. Setidaknya dia tidak sendirian, tidak benar-benar sendirian.
Malam semakin larut, Ratih masih berdiri diam di belakang jendela kamar Naufal. Jika Naufal bukan anaknya, lantas dimana anaknya. Jawaban itu sungguh hanya bisa diberikan oleh Fandi, namun saat ini dia sungguh tidak ingin melihat Fandi. Dia takut tidak bisa menahan diri dan melakukan sesuatu yang akan dia sesali di kemudian hari.
Butiran air mata itu menetes lagi, 5 tahun lamanya. Artinya anaknya ada di luar sana selama 5 tahun ini. Entah bagaimana nasibnya. Pasti banyak kesulitan di luar sana. Sementara dia memanjakan anak orang lain, dengan kasih sayang dan kemewahan, dia tidak tahu apakah di luar sana anaknya bahkan bisa makan.
Air mata itu tak kunjung berhenti. Dia sudah menghubungi pengacaranya, untuk datang besok. Untuk membantunya mencari anaknya. Dia sudah berencana mengatakan semuanya pada pengacaranya.
Ceklek
"Nyonya, nyonya belum makan dari siang. Setidaknya minumlah susu hangat ini, nyonya!" kata bibi Erma.
Ratih menoleh ketika bibi Erma berjalan menghampirinya.
"Nyonya, nyonya harus kuat. Besok pak pengacara Markus pasti akan membantu nyonya menemukan anak nyonya yang sebenarnya. Minum dulu susunya selagi hangat, ini akan nyaman untuk perut nyonya!"
Bibi Erma menyerahkan gelas berisi susu putih hangat itu pada Ratih. Ratih menerimanya, meminumnya setengah.
"Terima kasih, bi Erma. Bibi istirahatlah, bibi pasti lelah!"
Bibi Erma meraih gelas itu, tapi tiba-tiba saja pintu kamar Naufal itu terbuka. Fandi dan Sarah masuk bersama.
Mata Ratih terbelalak lebar, dadanya bergemuruh, dia merasa begitu marah melihat keduanya.
"Berani-beraninya kalian datang kemari? bibi Erma, usir mereka pergi!" pekik Ratih yang memang tidak ingin melihat kedua pengkhianat itu.
"Nyonya, mana mungkin aku mengusir anakku sendiri?"
Deg
Ratih tertegun, matanya melebar. Menatap bibi Erma dengan raut wajah kaget bukan main.
"Anak?" tanya Ratih.
"Iya, bibi Erma adalah ibuku!" kata Sarah.
Ratih terhuyung, dia tidak percaya semua ini. Semua orang yang dia makan, semua orang yang dia anggap keluarga, ternyata para penipu.
"Uhukkk!"
Ratih merasa dadanya sesak, dan ketika dia batuk, cairan merah keluar dari mulutnya.
"Karena kamu sudah mau matii, maka aku akan katakan semuanya padamu. Percuma kamu cari anakmu, dia sudah kamu jual. Dia kami jual pada orang yang akan menjadikan dia pengemis di pinggir jalan. Aku dengar orang itu tak segan mematahkann kaki atau tangan, supaya banyak yang kasihan pada anak-anak yang dijadikan pengemis di jalanan itu!"
Ratih marah, mata dan wajahnya merah. Di sudut bibirnya kembali mengalir cairan merah itu.
Dadanya sakit, dia ingin memukul Fandi. Tapi dia malah terjatuh di lantai.
Brukk
"Susu itu beracun, kamu akan matii, nyonya!" kata bibi Erma yang mendekati Sarah dan merangkulnya.
"Kalian semua, kalian semua jahat!" pekik Ratih dengan semua sisa tenaganya.
"Orang tuamu, bukan jatuh ke jurang tanpa sengaja juga Ratih..."
Mata Ratih makin melebar, sakit di dadanya akibat racun itu tak sebanding dengan rasa sakit ketika dia mendengar pengakuan lain dari Fandi.
"Remnya blong, aku yang melakukannya. Satpam Joni, dia orangku. Dia yang melakukannya!"
Ratih seperti tertusukk dan tertusukk lagi. Kenapa orang-orang yang dia percaya semuanya menaikannya dari belakang seperti itu.
"Kamu merasa sendirian ya? tapi itu salahmu. Orang-orang yang setia malah kamu usir!"
"Itu karena kalian!" pekik Ratih, "kalian sudah menipuku..."
"Ya, dan kamu harus matii sekarang! Besok, pengacaramu akan datang, dan mengatakan kamu terkena serangan jantung!"
Ratih menggelengkan kepalanya. Pengacaranya juga? sungguh dia ingin menertawakan betapa bodohnya dirinya. Bagaimana bisa dia menyingkirkan orang-orang kepercayaan ayahnya, dan menggantinya dengan semua orang Fandi. Dia benar-benar sudah butaa.
"Kalian akan dapat balasan... agkh!"
Fandi mencekikk leher Ratih.
"Balasan? balasan katamu?" Fandi terkekeh, "bahkan kamu akan mati. Wanita kotor sepertimu, menurutmu pantas untukku!"
Brakk
Fandi kembali menghempaskan tubuh Ratih.
Ratih kesakitan, nafasnya terasa semakin tercekat dan pendek-pendek.
"Anak itu anakmu, kenapa kamu tega...." Ratih masih berusaha menyadarkan Fandi. Anaknya juga anak Fandi, kenapa harus sekejam itu pada anaknya sendiri.
Jika pun dia harus mati, setidaknya Fandi harus menyelamatkan anak itu.
"Yang menyelamatkanmu malam itu dari para perampok bukan aku! yang memberimu penawar obat itu juga bukan aku. Ada seseorang yang mendahuluiku. Tapi, karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi orang kaya maka aku menikahimu. Anak itu bukan anakku!"
Ratih memejamkan matanya. Dia benar-benar menganggap Fandi penyelamatnya. Ternyata bukan. Betapa bodohnya dia.
Dadanya terasa sesak, meski sudah mengetahui semuanya. Dia juga tidak bisa melakukan apapun. Ratih terkulai lemas di lantai, pandangannya mulai kabur. Meski begitu dia bisa melihatnya samar. Ketiga orang di dalamnya sedang tertawa.
"Aku tidak akan memaafkan kalian! aku akan membalas...."
Brukk
Bip
Bip
Bip
"Ratih, Ratih?"
Ratih membuka matanya perlahan, semuanya putih. Dia pikir dia sudah matii. Tapi beberapa saat...
"Ratih, akhirnya kamu bangun. Jangan tidur nak, setelah melahirkan kamu tidak boleh tidur!"
"I...ibu!"
Ratih melihat ibunya.
"Iya ini ibu. Selamat ya nak, anak kamu laki-laki. Bibi Erma sedang mengikuti perawat yang membersihkannya..."
Ratih mencubit tangannya sendiri. Dan rasanya sakit.
'Ini bukan mimpi!' batinnya.
Ratih melebarkan matanya, dan berusaha bangun.
"Jangan bangun dulu..."
"Bu, tolong ikuti bibi Erma. Awasi anakku Bu, jangan biarkan dia sendirian, jangan biarkan anakku bersama bibi Erma. Cepat Bu!"
***
Bersambung...
Meski belum mengetahui dengan pasti kenapa anaknya itu sangat khawatir, namun Maya tetap melakukan apa yang dikatakan oleh Ratih.
Maya bergegas mengikuti perawat yang membawa anak Ratih dan juga bibi Erma. Sampai di ruangan itu, bibi Erma sudah menggendong bayi dan akan di bawa keluar.
"Nyonya" kata bibi Erma yang wajahnya terkejut.
"Bagaimana sudah di bersihkan? Ratih tidak sabar melihat putranya! sini berikan padaku, cucuku!"
"I... iya nyonya!" kata bibi Erma menyerahkan bayi yang dia gendong pada Maya.
Maya senang sekali menggendong bayi itu.
"Cucu nenek!" kata Maya yang segera membawa bayi itu ke ruangan rawat Ratih.
Bibi Erma pun segera mengikuti.
Sementara itu, Ratih menghubungi salah satu temannya. Dia minta temannya itu dan minta temannya itu datang. Teman yang dulu bermusuhan dengannya, karena di anggap ingin melukai Naufal. Semua itu karena trik Sarah. Jika tidak, bagaimana bisa dia bermusuhan dengan orang yang berulang kali membantunya dan perusahaan ayah juga ibunya.
"Ratih!"
Begitu Maya datang, Ratih segera meletakkan ponselnya.
"Ibu"
"Ini anakmu sayang, mau kasih nama siapa?" tanya Maya.
Bibi Erma yang berjalan di belakang Maya. Segera mendekat.
"Naufal saja nyonya, itu nama yang bagus. Dia sangat tampan, nanti teman-temannya akan sangat menghormatinya!"
Ratih melirik tajam ke arah ini Erma. Kata-kata yang sama. Dulu kata-kata itu juga dia ucapkan, sampai Ratih benar-benar menamai anaknya dengan nama Naufal.
'Dia sudah menukarnya!' batin Ratih yang tangannya terkepal di balik selimut rumah sakit itu.
Dari wajah bibi Erma yang terlihat senang. Dan dari caranya memberi saran nama itu, Ratih yakin kalau anaknya sudah di tukar.
"Ibu berikan anakku, padaku!" kata Ratih.
"Ini nak, pelan-pelan ya. Tapi, apa kamu yakin sudah bisa menggendongnya?" tanya Maya.
"Iya nyonya, apa nyonya sudah yakin bisa menggendong bayi itu, nanti dia..."
"Jangan khawatir, aku sudah sangat kuat!" kata Ratih menyela.
Dia mengendong anak itu. Anak yang dulu juga dia perlakukan dengan sangat baik, dan dia besarkan menggantikan anaknya sendiri yang ternyata di jadikan pengemis oleh orang-orang jahat itu.
Ratih ingat betul, ada tanda merah di bawah ketiak kiri Naufal. Ratih harus memeriksanya, dan dia tidak mungkin melakukannya di depan bibi Erma.
"Bibi Erma, aku mau makan melon. Tolong belikan ya!" kata Ratih yang masih bersikap dan berkata ramah juga lembut sama seperti dulu.
"Oh, iya nyonya. Mau melon ya, bibi akan belikan!" kata bibi Erma yang langsung keluar dari ruangan itu.
Maya yang penasaran, segera mendekati putrinya.
"Ratih sebenarnya ada apa?" Tanya Maya.
Ratih menoleh ke arah ibunya. Jika dia memberitahukan pada ibunya sekarang. Bukankah itu akan membuat rencananya berantakan. Mungkin ibunya akan langsung mengungkapkan semuanya. Ayahnya juga sangat emosian, mungkin akan langsung memenjarakan Erma. Tapi, Ratih juga yakin, kalah Erna pasti akan melindungi Sarah dan Fandi. Dia tidak bisa membiarkan keduanya bebas juga.
Dan hukuman penjara, bukankah itu terlalu mudah untuk mereka. Kenapa mereka tidak merasakan rasa sakit di pisahkan dengan anak tercinta mereka selama 4 tahun juga?
"Bu, tidak apa-apa. Aku hanya khawatir!"
Maya mengangguk paham. Namanya juga baru menjadi seorang ibu. Hal itu wajar saja.
Tapi kemudian, Ratih membuka bedong bayi itu dan memeriksa bawah ketiak kiri bayi yang dia gendong.
"Loh, kenapa di buka bedongnya. Nanti dingin Ratih" Maya menegur Ratih.
Ratih masih belum merespon ibunya. Dia ingin memastikan apa itu anaknya atau Naufal yang asli.
Ratih mendengus pelan. Ternyata ada tanda di bawah ketiak kiri bayi itu. Jelas bibi Erma memang sudah menukarnya.
'Ini Naufal, ini bukan bayiku!' batin Ratih geram.
"Bu, apa ada bayi lain yang lahir hari ini juga. Bayi laki-laki?" tanya Ratih.
Maya mengangguk.
"Iya ada, kalau tidak salah ada tiga bayi, satu perempuan dan dua bayi laki-laki. Sebenarnya ada apa nak? sejak tadi kamu membuat ibu bingung?" tanya Maya pada Ratih.
"Tidak ada Bu, aku hanya ingin tahu!"
"Jadi, akan kamu beri nama siapa? Naufal bagus juga!"
Ratih langsung tidak senang. Kedua alisnya menegas, dia tidak akan memberikan nama itu pada anaknya.
"Tidak Bu, anakku akan aku beri nama Rafa"
"Rafa juga bagus. Baiklah, cucu oma yang tampan. Namamu sekarang Rafa" kata Maya terlihat senang.
Tak lama, bibi Erma kembali ke ruangan itu. Dengan membawa setengah buah melon di tangannya.
Ratih sudah bisa menebaknya. Sebenarnya uang yang diberikan oleh ibunya pada bibi Erma cukup untuk membeli satu buah melon. Hanya saja, bibi Erma pasti memberikan setengahnya pada Sarah yang juga melahirkan di ruangan lain.
"Nyonya, ini melon nya. Katanya ini yang paling manis, jadi harganya agak mahal" kata bibi Erma.
Jelas dia berbohong. Tapi Maya tidak mempermasalahkan harganya.
"Tidak masalah bibi Erma. Yang penting itu manis dan bagus. Cepat potong dan sajikan ya, supaya Ratih bisa cepat menyusui Rafa!"
Bibi Erma yang meletakkan melon itu di atas meja, terkejut dengan apa yang dikatakan Maya.
"Rafa? namanya Rafa nyonya? padahal Naufal juga bagus loh nyonya" kata bibi Erma yang terlihat kecewa.
"Rafa juga bagus tapi kan?" tanya Maya.
Ratih melihat ke arah pelayan yang sudah bekerja belasan tahun padanya dan keluarganya itu. Wajah bibi Erma terlihat kecewa. Namun bagi Ratih, itu belum apa-apa. Dia masih punya banyak kejutan untuk orang-orang yang sudah dia percaya dan anggap keluarga, tapi malah menghabisinya dengan begitu kejam.
"Iya nyonya" kata bibi Erma sambil memotong buah tapi wajahnya jelas tidak senang.
Dan wajah itu berubah cepat, menjadi tersenyum ketika menghadap ke arah Ratih dan Maya.
"Nyonya, ini buahnya. Silahkan!" kata bibi Erma.
"Berikan padaku. Aku akan suapi Ratih!" kata Maya.
Dan ketika malam tiba, Maya dan Erma sudah meninggalkan rumah sakit. Fandi juga mengatakan dia ada di luar kota, padahal dia sedang menemani Sarah melahirkan. Tapi itu bukan masalah lagi bagi Ratih. Dia memang sudah tidak perduli pada semua itu. Yang dia inginkan sekarang hanya membalas suami brengsekknya itu.
"Nona..."
"Ben!" mata Ratih berkaca-kaca.
Ben adalah penjaganya, orang yang dipercaya oleh ayah Ratih menjaga Ratih sejak SMA. Namun karena pengaruh Sarah dan Fandi. Ratih malah mengusirnya, karena Sarah menuduhnya melecehkannya.
"Ada apa?" tanya Ben.
"Ben, lakukan sesuatu untukku. Tukar bayiku..."
"Nona..."
"Ben, lakukan perintahku! Ada yang menukar bayiku, dan aku ingin bayiku kembali. Tukar bayiku dengan bayi yang ibunya bernama Sarah!" tegas Ratih.
Pria bertubuh tegap dengan jaket kulit coklat gelap itu mengangguk cepat.
"Akan ku lakukan!"
***
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!