Indonesia
NovelToon NovelToon

Penjara Suci

Bab 1. Foto Hanin

Langit sore di rumah sederhana itu biasanya terasa teduh. Halaman luas dengan pohon mangga tua di sudut kiri, suara burung gereja, dan angin yang suka membawa aroma tanah basah dari kebun belakang. Rumah Ustaz Rahmat dikenal orang sebagai rumah yang damai. Tempat orang datang mencari nasihat, menumpahkan gelisah, pulang dengan dada lebih lapang.

Ustaz Rahmat sangat terkenal di desa kecil ini. Siapa yang tak tahu dengan namanya.

Hari itu seharusnya tidak berbeda. Namun, damai kadang runtuh bukan oleh badai, tapi oleh satu gambar. Satu foto.

Ponsel itu bergetar di atas meja kayu jati ruang tamu. Getarnya pendek, hanya sekali, lalu diam. Ustaz Rahmat yang baru saja selesai mengajar tafsir sore di serambi masjid mengambilnya sambil melepas peci. Keningnya masih sedikit berkeringat. Notifikasi WhatsApp masuk dari nomor yang tak ia simpan.

Tanpa curiga, ia buka. Pesan pertama hanya satu kalimat. “Mohon maaf, Ustaz. Saya rasa Anda perlu melihat ini.”

Di bawahnya, ada satu foto. Jempolnya menyentuh layar.

Tubuhnya tidak langsung bereaksi. Justru terlalu diam. Seolah semua ototnya lupa cara bergerak.

Foto itu menampilkan seorang gadis tanpa hijab. Rambut panjangnya tergerai, sedikit tertiup angin. Wajahnya terlihat jelas, terlalu jelas untuk bisa disangkal. Di dalam pelukan seorang pemuda. Lengan pria itu melingkar di bahunya. Wajah mereka dekat. Senyum mereka, bukan senyum basa-basi.

Itu bukan foto kebetulan. Foto itu menampilkan wajah anaknya Hanin.

Jari Ustaz Rahmat mengencang di sisi ponsel sampai buku-buku jarinya memutih. Napasnya berhenti di dada. Untuk beberapa detik ia bahkan lupa cara menarik udara.

“Abi?”

Suara istrinya, Bu Salma, muncul dari arah dapur. “Teh hangatnya sudah ....”

Kalimatnya terpotong saat melihat wajah suaminya. "Ada apa, Abi? Kenapa wajah Abi terlihat pucat?” tanyanya pelan. Pria itu tidak dijawab.

Ustaz Rahmat masih menatap layar, seolah berharap kalau ia menatap cukup lama, gambar itu akan berubah. Menghilang. Menjadi salah kirim. Menjadi orang lain. Menjadi rekayasa.

Tapi tidak. Itu tetap Hanin. Gadis yang setiap pagi mencium tangannya sebelum berangkat sekolah.

Gadis yang hafal tiga juz dan selalu ia banggakan di depan jamaah. Gadis yang ia sebut dalam doa dengan suara bergetar.

“Astaghfirullah …,” ucap Ustaz Rahmat pelan, hampir berbisik.

Bu Salma mendekat. “Abi, ada apa?” Kembali istrinya bertanya.

Tanpa kata, ponsel itu disodorkan. Bu Salma melihat.

Reaksinya berbeda. Tangannya langsung menutup mulut. Bahunya jatuh. Wajahnya pucat seperti kertas.

“Bukan …,” ucapnya cepat. “Ini bukan Hanin. Pasti hanya mirip saja ....”

“Ini Hanin.” Suara Ustaz Rahmat terdengar pelan. “Itu bajunya. Itu jam tangannya. Itu gelang dari Umrah kemarin.”

Bu Salma duduk pelan di kursi. Lututnya lemas.

“Siapa yang kirim?” tanya Bu Salma.

“Nomor tidak dikenal.”

“Bisa jadi editan.”

“Kalau editan kenapa hati saya langsung tahu ini nyata?” tanya Ustaz Rahmat.

Suasana ruang tamu terasa sunyi. Kedua orang tua Hanin tampak terdiam karena syok.

Nama Ustaz Rahmat bukan nama kecil di kota itu. Ceramahnya sering diundang ke mana-mana. Suaranya tenang, dalilnya rapi, hidupnya terlihat lurus. Orang-orang menyebut keluarganya sebagai contoh. Rumah tangganya, anaknya, cara mendidiknya.

Ia tidak pernah memamerkan. Tapi reputasi kadang tumbuh sendiri. Dan reputasi bisa hancur oleh satu foto.

Ia menekan tombol panggil. Nama di layar, Hanin. Berdering. Beberapa kali di coba, tak juga diangkat.

Darah di pelipisnya terasa berdenyut. Ia mencoba lagi. Masih tidak diangkat.

Ustaz Rahmat lalu mengirim pesan singkat. “Pulang sekarang.”

Terkirim. Centang dua. Biru. Tapi, tidak dibalas.

“Astaghfirullah .…” Ustaz Rahmat tampak menarik napas berat. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir. Tangannya di belakang punggung, langkahnya keras. Bu Salma memperhatikan dengan cemas.

“Abi … kita dengar dulu penjelasannya.”

“Penjelasan apa?” Potong Ustaz Rahmat cepat. “Penjelasan foto berpelukan tanpa hijab?”

“Dia anak kita.”

“Karena dia anak kita, maka harusnya dia lebih tahu.”

Nada suaranya masih rendah, tapi tajamnya terasa.

Bu Salma menunduk. Ia kenal suaminya. Jika sudah begini, kemarahan bukan di permukaan, tapi di dalam. Membara tanpa api terlihat.

Sementara itu, di sebuah kafe kecil dekat sebuah pantai, Hanin sedang tertawa.

Tangannya memegang gelas es kopi susu. Di depannya, Fahmi bercerita dengan gaya lebay tentang dosen killer yang salah masuk kelas. Hanin menutup mulut menahan tawa.

“Aku sumpah, itu kelas Teknik Mesin. Aku masuk bawa proposal syariah,” kata Fahmi. “Mereka lihat aku kayak lihat ustaz nyasar.”

Hanin menggeleng. “Kamu memang magnet masalah.”

“Kamu magnetnya aku.”

“Gombal.”

“Bukan gombal, tapi itu kenyataannya."

Hanin memutar mata, tapi senyumnya tidak hilang.

Hari itu ia memang tidak memakai hijab. Sudah direncanakan. Ia bilang di rumah ada tugas kelompok khusus perempuan. Bohong kecil, pikirnya. Sekali-sekali. Ia ingin merasa bebas. Ingin merasa normal seperti gadis lain. Angin sore menyentuh rambutnya, perasaan yang dulu terasa biasa, sekarang terasa seperti rahasia.

“Foto lagi?” tanya Fahmi sambil mengangkat ponsel.

“Jangan aneh-aneh.”

“Biasa aja.”

Hanin mendekat. Bahu mereka bersentuhan. Lalu, tanpa banyak pikir, Fahmi merangkulnya. Refleks. Hanin tidak menolak.

Tidak sadar bahwa beberapa meja di belakang, seseorang juga mengangkat ponsel. Bukan untuk selfie. Untuk mengambil gambarnya dan mengirimkan ke abinya.

Ponselnya Hanin bergetar. Ada pesan masuk dari abinya.

Alis Hanin sedikit mengernyit. Jarang ayahnya mengirim pesan sependek itu. Biasanya panjang, ada salam, ada doa.

“Kenapa?” tanya Fahmi.

“Abi nyuruh pulang sekarang.”

“Ya sudah, nanti balik lagi.”

Hanin mengangguk, tapi ada rasa aneh di hatinya. Seperti firasat kecil yang tidak nyaman.

Ia tidak tahu, dunianya sudah retak, hanya belum mendengar bunyinya.

Maghrib lewat sepuluh menit saat Hanin membuka pintu rumah. Biasanya rumah terasa hangat di jam seperti ini. Ada suara piring, aroma tumisan, lantunan murattal dari ruang tengah. Tapi sekarang terlalu sepi.

“Assalamu’alaikum …,” ucap Hanin.

“Wa’alaikumussalam.” Jawaban abinya datang dari ruang tamu.

Hanin melepas sepatu. Langkahnya melambat. Ada sesuatu berbeda. Terasa tegang dan kaku. Ia melihat ibunya duduk dengan tangan saling menggenggam. Wajahnya cemas.

Ayahnya duduk tegak di kursi. Tidak bersandar. Ponsel berada di tangannya.

“Hanin,” ucap abinya dengan nada datar.

“Iya, Bi.”

“Mendekatlah!”

Nada suara abinya tak seperti biasa. Hanin merasa sesuatu pasti telah terjadi.

Hanin duduk di tepi kursi seberang. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

“Apa ada yang mau kamu jelaskan?” tanya abinya.

Tentang apa? Hampir itu terucap dari bibirnya, tapi ia tahan. Naluri menyuruhnya diam dulu.

“Tidak ada, Abi."

Ponsel itu diletakkan di meja. Lalu didorong pelan ke arahnya. “Kamu lihat sendiri!"

Hanin meraih ponsel abinya. Dia melihat foto itu. Sangat jelas, potret dirinya dan Fahmi.

Wajahnya kehilangan warna. Tenggorokannya jadi kering. Tangannya dingin. Ia merasa seperti jatuh dari ketinggian tanpa bergerak.

Foto itu, foto yang barusan diambil. Foto yang seharusnya hanya ada di ponsel Fahmi.

“Ab ... Abi .…” Suaranya terdengar terbata.

“Siapa pria itu?” tanya Abi masih dengan suara datar. Tapi bagi Hanin sudah seperti petir menyambar.

Hanin tidak langsung menjawab. Otaknya mencoba mencerna foto itu. Bagaimana foto ini sampai ke ayahnya? Siapa yang kirim? Kenapa? Apa maksud mereka? Banyak pertanyaan bermain di pikirannya.

“Jawab!" Suara abinya sedikit lebih keras.

“Teman kampus, Bi .…”

“Teman kampus yang bisa merangkulmu seperti itu?”

Air mata langsung memenuhi mata Hanin. Refleks tanpa bisa ditahan.

“Abi, dengar dulu ....”

“Tanpa hijab.” Potong abinya. “Bahu dipeluk dengan wajah begitu dekat? Apakah itu yang kamu sebut teman?”

Bu Salma menunduk, ikut menangis pelan. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya.

“Aku … aku salah, Bi …,” bisik Hanin.

Pengakuan paling jujur, kadang sering paling mematikan. Ustaz Rahmat menutup mata sebentar. Bukan lega. Tapi seperti ditusuk lebih dalam.

Bab 2. Kecewanya Abi

"Sudah berapa lama kamu dan dia berhubungan?” Ustaz Rahmat bertanya dengan suara tertahan.

Hanin diam. Tak berani menjawab.

“Sudah berapa lama?” ulangnya.

“Beberapa bulan, Bi .…”

Kursi kayu berderit saat Ustaz Rahmat berdiri. Beberapa bulan. Bukan khilaf satu kali. Bukan hanya terpeleset sesaat. Tak menyangka anak yang selalu dia banggakan karena Tahfiz Qur'an di usia muda sangat mengecewakannya.

“Namanya?”

“Fahmi ....” Hanin menjawab dengan pelan. Dia sadar dengan kesalahan yang diperbuat.

“Dia tahu kamu siapa?”

“Iya, Bi.”

“Dia tahu kamu anak siapa?”

“Iya, Bi .…”

“Dan dia tetap memelukmu di tempat umum tanpa hijab.”

Tidak ada yang bisa Hanin jawab. Karena semua benar. Semua memang salahnya. Bukan hanya salah Fahmi. Dia juga tak berpikir akan jadi begini.

Tamparan tidak datang. Bentakan tidak meledak. Justru itu yang membuat Hanin makin takut. Ayahnya berjalan ke jendela, membelakangi mereka.

“Abi gagal menjadi seorang ayah,” ucap Ustaz Rahmat dengan suara pelan. Sepertinya mencoba menahan emosi.

“Jangan bilang begitu, Bi. Abi tak salah!” Bu Salma terisak.

“Saya ceramah ke mana-mana soal menjaga anak. Menjaga kehormatan. Menjaga pandangan.” Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar pahit. “Ternyata rumah sendiri bocor.”

“Abi ….” Hanin menangis. “Maaf .…”

“Maaf tidak menghapus jejak. Maafmu pada Abi tak juga menghapus dosa mu. Dosa Abi juga, karena gagal mendidik anak.”

Langkah Ustaz Rahmat terdengar berat saat menuju kamar. Tidak ada lagi kalimat yang keluar dari lisannya. Tidak ada nasihat. Tidak ada dalil. Hanya punggung yang terlihat semakin tegang sebelum akhirnya pintu kamar tertutup pelan.

Bukan dibanting. Justru terlalu pelan. Itu yang membuat suasana terasa lebih menyakitkan.

Hanin berdiri terpaku beberapa detik. Rasanya seperti baru saja dihantam ombak besar, tapi ia masih dipaksa berdiri di pasir yang sama. Dadanya sesak. Tangannya dingin. Air mata terus jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia menoleh pada ibunya.

Bu Salma masih duduk di kursi yang sama. Kedua tangannya menggenggam ujung mukena yang masih ia pakai sejak Maghrib. Tatapannya kosong, tidak marah, tidak juga lembut. Lebih seperti seseorang yang kehilangan pegangan.

“Umi …,” suara Hanin serak.

Tidak ada jawaban.

Hanin melangkah pelan, lalu berlutut di depan ibunya. Ia menunduk, seperti anak kecil yang sedang menunggu hukuman.

“Maafkan Hanin, Mi ….”

Bu Salma menarik napas panjang. Seolah sedang menahan sesuatu yang berat di dadanya.

“Umi tak tahu harus berkata apa, Hanin,” ucapnya akhirnya, suaranya lelah. “Umi sangat kecewa denganmu.”

Kalimat itu tidak keras. Tidak ada nada tinggi. Tapi justru itulah yang membuat Hanin merasa lebih hancur.

“Pukul saja Hanin, Mi!” Tangisnya pecah. “Semua salah Hanin. Hanin yang bodoh. Hanin yang khilaf. Pukul saja .…”

Bu Salma menatap anaknya lama. Mata yang biasanya penuh kasih itu kini dipenuhi luka.

“Apakah dengan memukul kamu semua akan kembali?” tanyanya pelan. “Apakah malu kami akan hilang? Apakah dosa kami sebagai orang tua yang gagal akan terhapus?”

Hanin tersentak. Apa yang uminya ucapkan seperti palu menghantam dadanya.

“Abi dan Umi tidak gagal ….” Ia menggeleng cepat, air matanya makin deras. “Aku yang salah. Semua itu dosaku. Aku yang bohong. Aku yang ingin merasa bebas. Aku yang sengaja melepas hijab hari. Abi dan Umi tak salah .…”

Bu Salma memejamkan mata. Air matanya jatuh juga akhirnya.

“Kamu tahu, Nak ….” Suara Umi terdengar bergetar, “Yang paling sakit itu bukan fotonya.”

Hanin menahan napas. “Yang paling sakit adalah bohongnya. Umi percaya kamu, tapi ternyata kamu tega membohongi kami.”

Kata “percaya” terasa seperti belati yang pelan-pelan diputar di dada Hanin.

Ia teringat bagaimana setiap pagi ia mencium tangan orang tuanya. Bagaimana ia menghafal Qur’an di ruang tengah. Bagaimana ayahnya selalu menyebut namanya dalam doa setelah tahajud. Semua itu kini terasa seperti ironi yang kejam.

“Maafkan Hanin, Mi.”

Bu Salma berdiri pelan. “Umi lelah.”

Tidak ada lagi kalimat penghiburan. Tidak ada pelukan.

Tanpa menunggu balasan Hanin, Bu Salma berjalan menuju kamar menyusul suaminya. Pintu kamar kembali tertutup.

Kini ruang tamu itu benar-benar sepi. Hanya ada Hanin. Dan penyesalan yang terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri.

Ia duduk di lantai. Tangisnya tidak lagi keras. Hanya isak pelan yang terputus-putus. Jam dinding berdetak pelan, seolah sengaja memperjelas kesunyian.

Rumah yang biasanya hangat kini terasa asing.

Hanin memeluk lututnya. Untuk pertama kalinya sejak berhubungan dengan Fahmi, ia benar-benar merasakan konsekuensi. Bukan sekadar rasa bersalah kecil yang bisa ditepis dengan tawa atau alasan. Ini nyata. Ini menyentuh orang tuanya. Ini melukai kepercayaan.

Dan yang lebih menyakitkan, ia tahu semua ini berawal dari satu kebohongan kecil.

“Aku cuma ingin merasa biasa. Aku hanya ingin seperti gadis desa lainnya,” gumamnya lirih.

Biasa seperti gadis lain yang bisa duduk santai di kafe tanpa merasa diawasi. Biasa seperti yang bisa tertawa tanpa memikirkan reputasi ayahnya. Biasa seperti yang bisa punya pacar tanpa bayang-bayang ceramah.

Tapi ia lupa satu hal. Ia bukan hanya dirinya sendiri. Ia adalah anak dari seorang ustaz yang dikenal banyak orang. Setiap langkahnya membawa nama keluarganya.

Beberapa menit berlalu. Atau mungkin setengah jam. Hanin tidak tahu pasti.

Akhirnya ia berdiri dengan kaki lemas. Ia melangkah menuju kamarnya.

Kamar itu masih sama. Rak buku tafsir di sudut. Al-Qur’an yang terbuka di meja belajar. Jadwal murajaah yang ditempel di dinding. Semua terlihat suci dan rapi.

Kontras dengan hatinya yang terasa kotor. Ia duduk di tepi tempat tidur dan meraih ponselnya. Satu nama langsung muncul di pikirannya, Fahmi.

Tangannya gemetar saat membuka kontak. Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.

Sekali. Dua kali. Lalu terdengar suara operator. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”

Hanin mengernyit. Ia mencoba lagi. Hasilnya tetap sama.

“Tidak mungkin …,” bisiknya.

Beberapa jam lalu Fahmi masih tertawa di hadapannya. Masih menggombal. Masih merangkulnya tanpa beban. Tidak mungkin sekarang nomornya tidak aktif.

Ia membuka WhatsApp.

Pesan terakhir dari Fahmi masih ada. Stiker tertawa. Foto kopi susu. Kalimat manja yang tadi terasa menyenangkan, kini terasa memuakkan.

Hanin mengetik cepat. “Kamu di mana? Abi tahu semuanya.”

Terkirim. Centang satu. Hatinya berdegup.Ia menunggu beberapa saat. Masih centang satu. Hanin menelan ludah. Ia mencoba menelepon lagi. Tetap tidak aktif.

Keringat dingin mulai terasa di punggungnya.

“Fahmi, jangan begini …,” gumam pada diri sendiri.

Ia membuka Instagram. Mencari akun Fahmi. Tapi sudah tidak ditemukan. Ia mencoba mengetik ulang. Masih tidak ada.

Dadanya mulai sesak. Ia membuka akun kedua. Kosong juga.

Seolah nama itu menghilang dari dunia maya. “Tidak … tidak mungkin,” bisiknya panik.

Ia mencoba mengingat. Tadi sore, setelah foto itu diambil, Fahmi sempat memegang ponsel cukup lama. Apakah dia sadar ada yang memotret? Apakah dia melihat seseorang?

Atau ... atau justru dia yang mengirim? Pikiran itu membuat Hanin merinding.

Tidak. Tidak mungkin Fahmi melakukan itu. Dia selalu bilang sayang. Dia selalu bilang ingin serius. Tapi kalau bukan dia, kenapa sekarang ia menghilang?

Hanin memeluk dirinya sendiri.Ia teringat ucapan abinya tadi. “Sudah berapa lama?”

“Beberapa bulan.”

Beberapa bulan kebohongan. Beberapa bulan pertemuan diam-diam. Beberapa bulan merasa bahagia di atas rasa bersalah.

Ia baru sadar, selama ini ia terlalu fokus pada perasaan sendiri. Pada kebutuhannya merasa dicintai. Pada sensasi diperhatikan.

Ia tidak pernah benar-benar memikirkan risiko. Air matanya kembali mengalir.

Bab 3. Keputusan Abi

Di balik pintu kamar orang tuanya, suasana tak kalah sunyi. Ustaz Rahmat duduk di tepi ranjang. Peci masih di tangannya. Ia menatap kosong ke lantai.

Bu Salma duduk di sampingnya.

“Abi …,” panggilnya pelan.

“Aku terlalu percaya diri,” jawabnya lirih. “Merasa sudah cukup mendidik. Merasa rumah ini aman.”

“Anak bukan robot, Bi.”

“Tapi ini bukan sekadar salah kecil.”

Bu Salma menggenggam tangan suaminya. “Mungkin ini ujian untuk kita.”

Ustaz Rahmat menghela napas panjang. “Aku selalu bilang ke jamaah, ujian terbesar bukan harta atau jabatan. Tapi keluarga. Ternyata Allah benar-benar mengujiku dengan anak.”

Tidak ada amarah lagi dalam suaranya. Hanya rasa perih yang dalam.

“Kita tidak boleh hancur karena ini,” ucap Bu Salma pelan. “Kalau kita runtuh, Hanin makin jauh.”

Ustaz Rahmat terdiam. Sementara itu, di kamar, Hanin masih menatap layar ponselnya.

Ia mencoba menghubungi Fahmi sekali lagi. Nomor ponselnya masih tidak aktif.

Ia membuka galeri. Melihat foto-foto mereka. Senyum dan tawa menghiasi wajahnya. Chat panjang penuh janji.

Kini semuanya terasa seperti lelucon pahit. Tiba-tiba satu pikiran menamparnya keras.

Bagaimana jika Fahmi memang tidak pernah serius? Bagaimana jika ia hanya hiburan? Bagaimana jika foto itu tersebar lebih luas?

Nama ayahnya. Jamaah masjid. Tetangga. Sekolah tahfiznya dulu. Hanin menutup mulutnya menahan tangis.

“Ya Allah …,” bisiknya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar merasa takut pada dosa, bukan hanya pada konsekuensi sosialnya.

Ia turun dari tempat tidur, mengambil wudhu dengan tangan gemetar, lalu menggelar sajadah. Sujudnya panjang. Tangisnya pecah tanpa suara.

“Ya Allah, aku salah … aku yang salah .…”

Ia tidak tahu doa apa yang pantas dipanjatkan. Ia hanya mengulang istighfar berkali-kali sampai dadanya terasa sedikit ringan.

Tapi ketakutan itu belum hilang. Selesai salat, ia kembali meraih ponsel. Masih tidak ada balasan.

Ia mencoba menghubungi nomor Fahmi untuk terakhir kalinya malam itu.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.” Suara operator itu terdengar seperti vonis.

Hanin menatap layar yang gelap. Dunia yang tadi siang terasa penuh warna kini seperti dipadamkan satu per satu.

Ia tidak tahu apakah yang lebih menyakitkan, kekecewaan orang tuanya, atau kemungkinan bahwa lelaki yang ia bela mati-matian justru pergi saat masalah datang.

Di luar kamar, angin malam berembus pelan melewati pohon mangga tua di halaman. Rumah itu tetap berdiri seperti biasa. Tapi di dalamnya, ada hati yang retak.

Dan Hanin baru saja menyadari, mungkin ini bukan hanya tentang satu foto. Mungkin ini tentang ujian yang jauh lebih besar.

Ponselnya tetap sunyi di tangannya. Nomor Fahmi tetap tidak aktif. Akhirnya Hanin terlelap dalam tidurnya.

Tak terasa pagi telah menjelang. Biasanya suara ayam tetangga, denting sendok di dapur, dan aroma teh hangat menjadi tanda rumah itu hidup seperti biasa. Tapi hari ini, semuanya terdengar lebih pelan. Lebih hati-hati. Seolah setiap bunyi takut menyinggung luka yang masih segar.

Hanin keluar kamar dengan mata sembap. Ia sudah berusaha menutupinya dengan bedak tipis, tapi bekas tangis semalam tak bisa sepenuhnya disamarkan. Langkahnya pelan menuju ruang makan.

Abi sudah duduk di kursi seperti biasa. Peci hitamnya terpasang rapi. Wajahnya tetap tampak tenang. Umi meletakkan piring terakhir di meja, lalu duduk tanpa banyak bicara.

Tidak ada sapaan “Selamat pagi.”

Tidak ada pertanyaan “Tidur nyenyak?”

Hanya sunyi yang ikut duduk bersama mereka.

Hanin lalu berucap, "Assalamualaikum, Abi, Umi."

"Waalaikumsalam." Abi dan Umi menjawab pelan.

Hanin menarik kursi perlahan. Bunyi gesekan kayu terdengar nyaring di telinganya sendiri. Ia menunduk, mengambil nasi secukupnya, lalu lauk seadanya. Tangannya sedikit gemetar saat menyendok sayur.

Biasanya Abi akan bercerita tentang rencana ceramah hari ini. Atau Umi akan menanyakan jadwal murajaah Hanin. Tapi pagi ini, tak satu pun dari itu terjadi. Mereka makan dalam diam.

Setiap kunyahan terasa berat. Seolah nasi yang masuk ke tenggorokannya berubah menjadi batu kecil yang mengganjal. Hanin tak berani mengangkat wajah. Ia takut bertemu tatapan Abi. Takut melihat kekecewaan yang semalam sudah cukup menghancurkannya.

Beberapa menit berlalu. Piring hampir kosong. Suara sendok yang menyentuh piring menjadi satu-satunya percakapan.

Lalu Abi berdeham pelan. Hanin refleks menegang.

“Ada yang ingin Abi sampaikan,” ucapnya datar.

Umi berhenti makan. Tangannya diam di atas meja.

Hanin mengangkat wajah perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Setelah Subuh tadi, Abi sudah menghubungi seorang sahabat lama,” lanjutnya. “Beliau pimpinan pesantren di desa kecil, sekitar tiga jam dari sini.”

Hanin merasa napasnya tertahan. “Mulai bulan depan, kamu akan tinggal di sana.”

Kalimat itu jatuh seperti palu. Hanin menatap Abi, tak yakin apakah ia salah dengar.

“Pesantren, Bi?” suaranya pelan, hampir tak terdengar.

Abi mengangguk. “Di sana kamu bisa memperbaiki diri. Menguatkan lagi hafalanmu. Sekaligus membantu mengajar ngaji anak-anak desa.”

Tidak ada nada marah. Tidak ada ancaman. Justru itu yang membuat keputusan ini terasa final.

Hanin menelan ludah. “Berapa lama, Bi?”

“Tidak ditentukan. Sampai Abi merasa kamu siap kembali.”

Siap kembali. Siap menjadi apa? Anak ustaz yang sempurna lagi?

Umi tidak menyela. Tidak membela. Ia hanya menatap meja, lalu berkata pelan, “Itu yang terbaik untukmu, Nak.” Kalimat itu seperti pengesahan.

Hanin tahu, kalau Umi sudah berkata begitu, artinya keputusan ini tidak akan berubah. Umi mungkin sedih. Mungkin berat. Tapi ia tidak akan melawan suaminya.

Dan Hanin tidak punya hak untuk membantah. Semua memang salahnya.

Hanin menunduk. “Baik, Bi.” Hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Abi mengangguk singkat. “Persiapkan dirimu. Jangan membawa hal-hal yang tidak perlu. Di sana hidup sederhana.”

Sederhana. Kata yang dulu selalu terasa indah kini terdengar seperti hukuman.

Sarapan selesai tanpa tambahan kalimat apa pun. Abi berdiri lebih dulu, mencuci tangan, lalu pergi ke ruang tamu mengambil tas kerjanya. Umi mengumpulkan piring-piring dengan gerakan pelan.

Hanin masih duduk beberapa detik. Ia merasa seperti baru saja dijatuhi vonis. Bukan penjara. Tapi pengasingan.

Pesantren di desa kecil. Jauh dari kota. Jauh dari teman. Jauh dari semua yang selama ini ia kenal. Dan tentu saja jauh dari Fahmi. Nama itu kembali menghantam pikirannya.

Begitu Umi masuk dapur, Hanin segera kembali ke kamar. Ia menutup pintu pelan, lalu meraih ponselnya yang sejak tadi terasa seperti benda paling berat di dunia.

Ia langsung menekan nomor Fahmi. Nada sambung. Beberapa saat kemudian terdengar suara yang sama seperti semalam.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”

Hanin memejamkan mata. “Ya Allah .…”

Ia mencoba lagi. Hasilnya tetap sama.

Tangannya berpindah ke WhatsApp. Pesan semalam masih centang satu. Tidak ada foto profil. Tidak ada status. Seolah Fahmi benar-benar menghapus dirinya dari dunia.

“Kenapa kamu hilang saat aku butuh?” bisiknya lirih. Dadanya terasa panas. Antara marah dan takut.

Kalau ia benar-benar akan dikirim ke pesantren, setidaknya ia ingin tahu satu hal, apa Fahmi serius atau tidak dengan hubungan mereka selama ini. Apa semua ini hanya permainan.

Ia membuka Instagram lagi. Tetap tidak ditemukan.

Hanin berjalan mondar-mandir di kamar. Otaknya bekerja cepat.

Datang ke rumahnya? Tapi ia tak pernah benar-benar diperkenalkan pada keluarganya. Setiap kali ia bertanya, Fahmi selalu mengalihkan pembicaraan. Bertemu pun lebih sering di luar desa, di kafe kecil atau taman kota.

Ia bahkan tidak yakin alamat lengkapnya. Hanin menggigit bibir. Ia menyadari betapa bodohnya. Beberapa bulan berhubungan, tapi ia tidak benar-benar tahu siapa lelaki itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!