"Jangan bergerak, atau kalian semua mati!"
Seorang wanita tiba-tiba di tarik dan di sandera oleh laki-laki bertopeng saat ia hendak pergi ke toilet. Ia berada dalam kereta Bandung-Jakarta.
Dira. Nama wanita itu.
Dira kaget sekali. Ia ketakutan di todong pistol. Lelaki bertopeng itu sangat kasar. Semua orang di dalam kereta kaget, ketakutan seperti Dira. Entah laki-laki itu ingin merampok, atau sedang di kejar polisi makanya nekat menyandera orang tidak bersalah.
Lalu tiba-tiba seorang laki-laki lain dari kursi penumpang berdiri. Begitu ia berbalik dan tatapannya bertemu dengan Dira, keduanya sama-sama kaget. Terutama Dira.
Ethan ... Itu Ethan...
Gumam Dira dalam hati menyebut nama lelaki itu. Ethan masih terlihat sama dari terakhir kali ia melihat pria itu. Sebelum perpisahan yang menyakitkan itu terjadi.
Tatapan Ethan seketika berubah dingin, sangat dingin. Seakan Dira adalah musuh yang ingin ia musnahkan.
"Sialan! Duduk brengsek! Aku tidak menyuruhmu berdiri! Kau ingin aku membunuh wanita itu di depan matamu bangsat?!"
"Bunuh saja, aku tidak peduli dengan nyawa orang asing."
Orang asing.
Kata-kata itu di ucapkan dengan nada yang santai. Sangat santai, seolah sengaja melukai hati Dira.
Orang asing? Huh! Dira tertawa dalam hati. Ternyata seasing itu ia di mata Ethan sekarang. Yah, lagipula sudah enam tahun mereka tidak pernah bertemu lagi. Walau di masa lalu mereka pernah berpacaran, tapi perpisahan mereka pun bukan perpisahan baik-baik. Mereka memang orang asing sekarang. Apalagi Ethan sangat membencinya karena kejadian di masa lalu.
"Kau pikir aku tidak berani membunuhnya?"
Laki-laki di belakang Dira sudah bersiap menarik pelatuk. Dira menelan ludah, jelas ketakutan sekali. Meski dia berusaha terlihat tidak ketakutan agar tidak memalukan di depan laki-laki yang pernah ia cintai itu, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan betapa dia takut sekali sekarang ini.
Dira menutup matanya kuat-kuat. Kalau memang dia akan segera mati, dia berharap semua orang yang dia tinggalkan hidup bahagia. Suasana dalam kereta tersebut sudah tegang sekali. Dira tidak membuka matanya. Lalu...
Dor! Dor!
Bunyi tembakan di sertai teriakan orang-orang dalam kereta membuat Dira membeku. Apa dirinya yang tertembak? Tapi ia tidak merasakan apa-apa. Kemudian ia merasakan laki-laki yang menyandera nya jatuh tergeletak di lantai, mati.
Lututnya bergetar. Ia menghadap depan dan melihat Ethan sedang memegang pistol yang masih mengarah padanya. Semua orang di dalam kereta ketakutan. Laki-laki yang menyandera Dira tadi terkapar tak bernyawa. Sementara pelaku yang menembaknya berdiri dengan tenang di depan sana, sorot matanya dingin sekali seperti orang tak berhati.
Mereka masih saling menatap lama, sebelum akhirnya Ethan duduk kembali dan seseorang datang berbisik di telinganya.
"Dek, ayo duduk." kata seorang wanita paruh baya menarik tangan Dira kembali duduk. Orang-orang di dalam kereta sudah kembali tenang namun tetap ketakutan. Ada yang sampai syok.
Dira duduk, wajahnya masih syok, matanya tak beralih sedikitpun pada Ethan. Laki-laki itu duduk membelakanginya. Sesaat kemudian, ada beberapa orang laki-laki berbadan besar yang datang mengambil mayat pria yang sudah mati tertembak itu.
"Adek, nggak apa-apa? Ini minum dulu." tanya ibu-ibu yang tadi. Ia menyodorkan sebotol air ke Dira karena melihat wajah Dira yang masih syok.
"Makasih bu,"
Ibu-ibu itu tersenyum.
"Mereka itu mafia kelas satu. Nggak ada yang bisa ngusik mereka, semua orang takut. Bahkan kepala negara kita tunduk sama kelompok itu. Terutama laki-laki itu, ada dua temannya juga. Ibu asalnya dari Jakarta, anak ibu kebetulan salah satu pelayan di rumah laki-laki itu. Jadi ibu cukup tahu tentang mereka. Tapi adek tenang saja, mereka gak bunuh orang yang gak bersalah kok. Mereka jahat, tapi gak ngerugiin negara. Oh ya, adek asli dari Bandung? Mau cari kerja di Jakarta?"
Dira tersenyum, mengangguk.
"Iya bu." hanya itu. Dia tidak ingin terlalu mengekspos kehidupan pribadinya dengan orang asing. Beberapa tahun ini dia telah berubah jadi sosok wanita yang lebih tertutup, dan jauh lebih pendiam.
Masa lalunya yang menyedihkan dengan laki-laki yang pernah dia cintai, membuat dirinya menjadi lebih tertutup seperti sekarang ini.
Pandangan Dira kembali ke sosok Ethan yang masih duduk di depan sana, entah berapa baris kursi penumpang dari dirinya berada.
Laki-laki itu masih sama. Masih tampan, belum terlihat menua. Yang berbeda adalah, cara dia menatap Dira, seperti Dira adalah sosok wanita yang paling tidak ingin dia lihat lagi di dunia ini.
Dira menghadap ke langit-langit, berusaha menahan air matanya yang hendak keluar. Sekitar tiga puluh menit kemudian, kereta berhenti di stasiun Jakarta. Dira turun begitu melihat Ethan sudah turun.
Namun begitu dia menginjakkan kakinya di luar, langkahnya terhenti. Ethan berdiri di depan sana. Menghadap ke arahnya. Tajam, dingin, dan ... Jijik? Pria itu terus menatapnya sampai seseorang datang.
Seorang wanita cantik. Lebih tua darinya. Mungkin hanya dua atau tiga tahun lebih muda dari Ethan.
"Ethan sayang! Astaga, kamu lama banget sih!"
Wajah Ethan yang dingin tadi berubah dalam sesaat. Ia mengusap kepala wanita itu dan tersenyum lembut. Wanita itu juga memeluk lengannya tanpa ragu. Sesekali menatap Dira. Tapi tatapannya berubah dengan cepat saat menatap Dira.
Dira menahan nafas. Hatinya sakit. Sakit melihat Ethan begitu akrab dengan wanita lain, mungkin pacar, atau istrinya. Ya, mereka sudah lama berpisah. Ethan pasti sudah menemukan penggantinya sekarang.
Ia tidak ingin berlama-lama lagi, melihat mantan kekasihnya bersama kekasihnya atau istrinya tampak akrab di depan sana. Dira menarik koper kecilnya dan berjalan melewati mereka.
Kepalanya tertunduk saat melewati tubuh tinggi Ethan. Ia tidak lihat dirinya sedang ditatap lama oleh pria itu. Dira hanya ingin pergi secepatnya sekarang dan berharap mereka tidak pernah bertemu lagi. Kisahnya dan Ethan sudah lama berakhir, di antara mereka sudah tidak mungkin, meski dirinya sudah melahirkan anak pria itu tanpa sepengetahuannya.
Ethan tidak akan pernah tahu. Untuk apa juga laki-laki itu tahu? Karena sudah putus, dan Dira merasa bersalah seumur hidup pada Ethan dan Kara, dia tidak akan pernah lagi mengganggu hidup mereka. Biarlah putra mereka menjadi hadiah terakhir untuknya dari Ethan. Dia akan membesarkan anak mereka dengan baik.
Seorang anak laki-laki yang imut. Hanya Raka yang tahu siapa ayah kandung anak itu. Selain itu, tidak ada seorang pun yang tahu. Selama pindah di Jakarta, Dira juga menyembunyikan tentang anak itu. Bukan karena tidak mau orang tahu, pekerjaannya di kantor yang sekarang menuntut dia tidak boleh punya anak. Jadi orang kantor tidak boleh ada yang tahu.
Dira tersenyum pahit.
Aku berharap kau bahagia.
Gumamnya dalam hati.
"Siapa wanita itu, kenapa kau menatapnya terus? Suka ya?"
Tanya perempuan yang bersama Ethan. Namanya Liana, sepupu Ethan yang tinggal di luar negeri. Dia sedang berlibur dua minggu di Indonesia. Sampai sekarang keluarga mereka masih suram karena Kara, sang keponakan tercinta yang hilang dalam kecelakaan belum ditemukan juga.
Liana juga dengar tentang kehidupan percintaan Ethan hancur. Sudah dari enam tahun yang lalu. Pasca Kara hilang jatuh di jurang, beberapa bulan kemudian hubungan Ethan dan sang kekasih putus. Padahal keduanya hampir menikah. Jadi, tujuan Liana datang ke sini adalah untuk mencarikan jodoh buat Ethan.
Laki-laki itu sudah 43 tiga tahun. Wajah boleh awet muda, tapi umur tidak bisa menipu. Kasihan sekali kalau dia terus-terusan jadi perjaka tua. Eh, nggak perjaka lagi. Ethan pernah punya kekasih yang hampir menikah, pasti mereka sudah berhubungan intim. Ya, pasti Ethan bukan perjaka tua lagi. Tapi tetap saja dia belum punya pasangan sampai sekarang karena telah putus dengan mantan kekasihnya.
"Aha, kalau kau suka, bagaimana kalau kenalan saja. Aku lihat perempuan tadi cantik, agak cocok denganmu yang tampan ini. Gayanya juga sederhana. Keluarga kita nggak mandang harta kan? Tunggu sebentar di sini, aku akan mengejarnya untuk di ajak kenalan, dia pasti akan suka padamu."
Liana hendak pergi namun dengan cepat Ethan menarik tangannya, menatap sang adik tajam. Sudah kepala tiga tapi kelakuannya kayak abg muda.
"Jangan gila. Aku tidak butuh wanita. Ayo pulang." kata Ethan datar lalu berjalan meninggalkan Liana.
Liana memutar matanya malas.
"Sebenarnya apa yang di lakukan mantan kekasihnya sih sampai-sampai hatinya berubah lebih keras dari batu." katanya kesal sendiri.
"Ethan, tunggu!"
Liana mengejar Ethan. Semakin melihat Ethan seperti itu, semakin dia penasaran dengan mantan kekasih pria itu.
Begitu sampai rumah, Ethan segera masuk ke kamarnya Ia membanting pintu. Liana sampai kaget.
"Astaga, emosinya betul-betul tidak stabil. Lama-lama aku bisa mati berdiri menghadapi laki-laki seperti itu." Liana menghembuskan nafas kasar, lalu berjalan menuju dapur. Dia kesal dengan sikap Ethan.
Di kamar, Ethan membanting tubuhnya di sofa. Ia mengusap wajahnya kasar. Setelah bertahun-tahun, ia tidak pernah menyangka akan melihat wajah itu lagi. Wajah yang tidak pernah bisa hilang dari hatinya. Ethan tidak menyangkal, sampai sekarang ia masih sering memimpikan Dira. Namun begitu wajah itu muncul, ingatan saat Dira telanjang, bercumbu dengan Jeremy ikut masuk dalam ingatannya. Fakta itu membuat kepalanya serasa mau pecah.
Ia tidak bisa melupakan wanita itu, tapi juga tidak bisa melupakan rasa sakit karena dikhianati.
"Ahhhhkh!"
Pria itu melempar barang apa saja yang ada di dalamnya.
"Pergi, pergi, pergi!"
Tukasnya kasar. Tangannya meremas kepalanya kencang akibat rasa sakit yang luar biasa. Seperti inilah Ethan enam tahun belakangan. Kepalanya akan terus sakit tiap kali memikirkan Dira. Dia berusaha mengusir bayangan itu jauh-jauh, tapi tidak bisa.
Sementara itu di tempat lain, Dira memasuki sebuah apartemen sederhana. Bukan rumah kontrakan kecil yang berada di lorong kumuh lagi. Sekarang, ia bisa menyewa apartemen yang sedikit lebih baik dari tempat tinggalnya dulu. Tempat yang baru mereka tempati satu bulan yang lalu.
Mereka memang baru kembali lagi ke Jakarta setelah bertahun-tahun. Sejak putus Dengan Ethan, Dira dan Raka pindah ke Bandung, di sebuah desa kecil. Tempat yang nyaman dan tidak mengeluarkan biaya hidup yang tinggi.
Selama proses kehamilannya, wanita itu banyak membaca dan belajar hal-hal baru. Ia juga mendapatkan pekerjaan yang lumayan bagus dari warga desa. Orang-orang di desa yang dia tinggali bersama Raka begitu baik. Mereka tidak menghakimi dirinya yang hamil tanpa suami. Sebaliknya, mereka menerimanya dengan baik. Mereka bahkan membantu mencarikan dia pekerjaan. Gaji pas-pasan tapi cukup untuk kehidupan sehari-hari serta uang sekolah Raka.
Satu tahun setelah Dira melahirkan, dia punya uang tabungan yang cukup untuk kuliah di sebuah universitas cukup bagus di Bandung. Dia ambil kuliah online, mengingat ada anak yang harus dia urus. Jadi tahun-tahun itu, Dira kuliah sambil kerja, sambil ngurus anak. Raka sering membantunya kalau libur sekolah. Tetangga mereka juga sering datang bermain dengan anaknya ketika dia harus ikut kuliah online.
Dira sangat bersyukur menemukan desa yang di dalamnya masih terdapat banyak orang-orang baik. Namun dia juga tahu, mereka tidak mungkin tinggal di sana seumur hidup. Raka harus sekolah di sekolah yang bagus. Dia sendiri berhasil di terima di salah satu perusahaan Farmasi di Jakarta. Namanya perusahaan Sinogenix. Salah satu perusahaan besar yang memiliki ribuan karyawan.
Gajinya bisa di bilang sangat tinggi untuk ukuran warga biasa seperti dia tentunya. Dira tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Meski itu artinya mereka harus pindah kembali ke Jakarta. Namun demi adiknya, serta putranya, dia akhirnya mengambil keputusan tersebut.
Itu sebabnya mereka di sini sekarang. Setelah enam tahun lamanya.
"Mamaa!"
Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun berlari kepelukannya. Mukanya tembem sekali. Bocah itu sangat lucu dan imut. Dira menggendongnya.
Arelio Dira putra. Itu nama anaknya. Dia tidak mungkin menggunakan nama belakang Ethan bukan? Meski pria itu ayah kandungnya. Dira rasa Ethan pasti akan lebih membencinya kalau tahu dia berani melahirkan anak pria itu.
"Hai, anak mamaa ..."
"Mama paman Raka nggak mau kasih Arel candy. Padahal Arel mintanya satu aja." lapor bocah itu manja, tangannya menunjuk Raka yang duduk di sofa.
"Paman Raka pelit, hmph!" tambahnya lagi. Kali ini menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang mama.
Dira dan Raka saling bertukar tatap lalu tertawa kecil.
"Cup, cup, cup, uh anak mama sayang. Nanti mama hukum paman Raka-nya ya." Dira pura-pura menatap galak ke sang adik yang sudah tumbuh tinggi.
"Mm! Paman Raka harus di hukum berdiri. Biar capek! Kalo udah capek, pasti paman Raka haus. Terus, pas paman Raka minum di dapur, kita ambil candy-nya diam-diam ya ma? Arel tahu paman Raka simpen candy-nya di mana."
Raka tertawa keras. Keponakannya lucu sekali. Dira ikut tertawa, mengecup puncak kepala Arel.
"Paman denger rencana licik kamu bocah."
"Hmph! Arel gak temenan lagi sama paman Raka!" Pelukan bocah kecil itu makin kuat di tubuh mamanya.
Dira duduk, tangannya tak berhenti mengelus-elus lembut punggung Arel sampai bocah itu tertidur.
"Kakak gak capek? Naik kereta Whoosh atau biasa?"
"Biasa. Gak capek sayang. Udah biasa."
"Ada surat-suratnya?" tanya Raka lagi. Dira mengangguk.
"Sekolah baru kamu gimana?" ia balik bertanya.
"Baik. Aku udah punya temen baru. Mereka semua baik banget, apalagi yang namanya Bian. Aku sama dia langsung akrab pas ketemu."
Dira tersenyum. Dia senang. Dari dulu dia tahu benar Raka selalu suka tinggal di kota. Lihat saja sekarang, bocah remaja itu tampak antusias sekali.
"Mulai hari ini, kau akan bekerja menjadi asisten profesor Liana Zhou."
Kata seorang pria paruh baya berjas abu-abu itu sambil menyerahkan map cokelat tipis ke hadapannya. Dira cukup kaget mendengar nama itu tersebut. Siapa yang tidak kenal Liana Zhou? Wanita cantik, terkenal yang berhasil mendapatkan gelar profesornya di usia yang masih terbilang sangat muda.
Dua minggu bekerja di perusahaan ini, Dira hanya menjadi karyawan biasa yang bahkan tidak di anggap sama sekali keberadaannya. Karena dia hanya lulusan kampus biasa yang tidak terkenal. Yang kuliah lebih terlambat dari yang lain, bahkan sudah cukup berumur. Usianya 28 tahun ketika ia di terima di perusahaan ini. Seumuran profesor Liana Zhou.
Dira juga sempat heran kenapa dirinya bisa di terima di sini. Padahal rata-rata yang bekerja di kantor ini adalah mereka yang lulus dari universitas bergengsi dalam negeri, bahkan hampir rata-rata luar negeri. Dira menganggapnya sebagai keberuntungan.
"Kamu yang namanya Dira Ananta?" seorang wanita pirang berwajah jutek bertanya. Dira menganggukkan kepala.
"Profesor Zhou menunggumu di ruangannya." habis berkata seperti itu, wanita itu langsung pergi. Dira pun harus mencari sendiri di mana letak ruangan sang profesor cantik. Padahal sudah dua minggu dia jadi karyawan di sini, tapi belum ada teman juga. Atau mereka memang sengaja tidak ingin berteman dengannya. Mungkin karena dia terlalu biasa?
Tok tok tok.
Dia mengetuk pintu.
"Masuk." suara dari dalam. Lembut dan halus. Dira menarik nafas dan menghembuskannya lagi.
"Siang prof, perkenalkan saya Dira, asisten baru anda."
"Oh iya, hai Dira. Kebetulan. Aku ingin kamu bantu aku di laboratorium." wanita cantik itu tampak ramah dan lemah lembut.
Sekejap Dira terdiam. Dia pikir wanita itu akan galak seperti yang lain. Ternyata jauh berbeda dari yang dia pikirkan. Sepertinya bos-nya yang ini akan membuat dia lebih betah.
Hari itu, Dira bekerja dengan sepenuh hati. Dia banyak belajar juga. Kalau dia salah, wanita itu akan mengajarinya melakukan dengan benar, tidak marah, tidak membentak dan tidak galak.
Dan setelah seharian bekerja, Dira diberitahukan nama lain wanita itu. Zora.
"Kamu boleh pulang. Pekerjaanmu sudah selesai." kata Zora. Dira melirik jam tangannya lalu menganggukkan kepala. Jelas dia suka pulang cepat, karena bocah kecilnya nungguin dia di rumah.
Arel sudah TK. Dan Dira membayar orang khusus buat jagain anaknya dari pagi hari sampai dia pulang kerja. Tabungannya lumayan untuk menyewa babysitter. Tapi Arel sangat melekat dengannya. Jadi kalau jam tujuh malam dia belum pulang, Arel pasti rewel.
"Makasih prof, aku pulang dulu."
Zora mengangguk tetap dengan senyum ramahnya yang adem sekali. Dira mampir ke supermarket, membeli susu dan snack sehat untuk buah hatinya. Tak lupa juga dia membeli stok makanan buat mereka bertiga. Dirinya, Raka dan Arel.
"Semuanya 379 ribu kak." ucap kasir. Dira segera membuka tasnya untuk mengambil dompet.
Dompetnya tidak ada. Ia terus mencari. Cukup lama sampai si kasir mulai kesal menunggu. Antrian di belakang makin panjang.
"Maaf kak, masih lama? Yang lain nungguin." kata kasir setengah sebal dari nadanya.
Wajah Dira memanas. Tangannya sedikit gemetar saat kembali mengaduk isi tasnya, berharap dompet itu tiba-tiba muncul di sela-sela kertas dan ponselnya. Nihil. Napasnya tercekat.
"Maaf, sebentar ya," ucapnya pelan, nyaris berbisik. Ia menoleh ke belakang, menangkap tatapan tidak sabar dari beberapa orang di antrean.
"Kak, kalau belum siap bayarnya, silakan minggir dulu," ujar kasir itu lebih tegas.
Dira menelan ludah. Ia mengangguk cepat.
"Iya, maaf."
Dengan wajah tertunduk, ia mendorong troli ke samping, membiarkan antrean berjalan lagi. Kepalanya berputar. Dompetnya jelas ada tadi pagi. Ia ingat betul memasukkannya ke tas sebelum berangkat kerja. Apa tertinggal di kantor? Atau … jatuh di jalan?
Dira memijat keningnya. Jam sudah hampir menunjukkan pukul enam sore. Arel pasti sudah menunggu. Dira makin gelisah sekaligus malu, orang-orang pasti natap dia sekarang. Mana hapenya pake habis baterai pula. Ketika ia mengangkat kepala, tatapannya tidak sengaja bertemu dengan mata tajam seseorang. Seseorang yang amat sangat dia kenal.
Ethan.
Deg ...
Lagi? Kebetulan macam apa ini? Dia baru sebulan resmi balik ke kota ini, tapi malah sudah dua kali bertemu dengan laki-laki itu. Pertama di kereta, sekarang di supermarket. Semuanya dalam situasi yang memalukan.
Tatapan pria itu tajam bak elang. Dira kembali menunduk pura-pura mencari dompetnya lagi. Padahal jantungnya sedang berdebar-debar luar biasa. Begitu ia melihat langkah kaki di bawah maju, ia diam-diam mencuri pandang.
Ethan tidak melihatnya lagi. Pria itu fokus mengambil barang di dekat kasir. Entah kenapa Dira penasaran dan terus menatap ke tangan Ethan yang meraih benda tersebut. Mengambil benda itu dalam jumlah yang cukup banyak.
Kondom?
Ia cepat-cepat membuang muka ketika Ethan menatap ke arahnya lagi. Dira berdeham. Ia memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan barang di troli yang sebenarnya sudah rapi. Dadanya naik turun tidak teratur. Ia berharap Ethan segera pergi tanpa menyadari keadaannya. Tapi tidak mungkin tidak sadar, mereka kan baru saja saling menatap.
"Lihat, lihat! Itu om ganteng abiss. Aktor ya?"
"Badannya bagus banget. Pria matang emang paling menggoda. Lihat yang dia pakai, semuanya mahal banget. Gue bahkan rela tidur sama dia biar gak di bayar."
Dira menatap pada kedua anak remaja yang masih mengenakan pakaian SMA dengan wajah tidak percaya. Bisikan mereka terlalu kencang hingga sampai di telinganya. Bahkan mungkin sampai di telinga Ethan. Memang Ethan yang mereka bicarakan.
Astaga, abg jaman sekarang memang luar biasa tidak tahu malunya. Begitu Ethan selesai membayar dan keluar tanpa menoleh padanya lagi, Dira langsung maju. Dompetnya sudah ketemu.
Dira mendorong troli ke kasir dengan langkah cepat, seolah ingin segera menutup bab memalukan barusan. Tangannya merogoh saku kecil di sisi dalam tas, dan jantungnya nyaris berhenti ketika jemarinya menyentuh kulit dompet itu. Ada. Dari tadi ada di situ.
Astaga.
"Maaf," ucapnya pada kasir, kali ini suaranya lebih tegas meski pipinya masih panas.
"Tadi dompetnya nyelip."
Kasir itu hanya mengangguk singkat, kembali memindai barang-barang. Bunyi beep mesin kasir terasa terlalu nyaring di telinga Dira. Ia menunduk, berusaha menenangkan napas, menyingkirkan bayangan punggung Ethan yang barusan keluar dengan langkah tenang tanpa menoleh sedikit pun.
Dia juga mengingat kondom yang pria itu beli. Lalu tersenyum kecut.
Dia berhak melakukan apapun yang dia mau Dira. Kalian hanya orang asing sekarang. Jangan berharap dia masih mencintaimu.
Gumamnya dalam hati. Begitu ia keluar, langkahnya terhenti. Ternyata Ethan masih di sana, bersandar di dinding samping supermarket sambil merokok. Dan Dira tanpa sengaja menjatuhkan barang-barang bawaannya, mengundang perhatian orang-orang. Ia menutup matanya dalam-dalam.
Dira ...
Kamu betul-betul ceroboh.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!