Mata Sandrina bergerak liar menelusuri setiap sudut area parkiran Museum Capitolini, salah satu museum terkenal di Roma. Senja sudah berganti malam, lampu-lampu taman mulai menyala kekuningan, menciptakan bayangan panjang di atas aspal. Suara mesin mobil berlalu-lalang, obrolan turis, dan denting lonceng gereja di kejauhan bercampur menjadi satu.
Namun, ada satu hal yang membuat jantung Sandrina berdegup tidak karuan. Mobil travel hitam yang mengantar rombongannya, lenyap. Hilang entah ke mana. Tidak ada jejaknya sama sekali.
Sandrina memutar tubuhnya, menatap barisan kendaraan dengan napas tersengal.
"Ke mana pergi mobil itu?!" teriaknya panik, suaranya menggema di area parkir yang mulai sepi.
Beberapa turis menoleh heran, tetapi Sandrina tidak peduli. Dengan rok panjangnya yang sedikit tersingkap angin, ia berlari mengitari area parkiran, matanya menajam, berharap mobil itu hanya berpindah tempat.
Langkah Sandrina terhenti di sisi lain parkiran. Tetap tidak ada mobil travel berwarna hitam. Sandrina menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?!" pekiknya, kali ini nyaris menangis.
Dalam hati, ia menyesali keputusan nekatnya turun lagi ke toilet tanpa memberi tahu siapa pun secara jelas. Ia hanya menepuk bahu orang di sampingnya dan berkata cepat, “Aku ke toilet sebentar, ya!” Tanpa tahu siapa orang itu sebenarnya.
Saat ini Sandrina sedang liburan keliling Eropa setelah mendapatkan tiket gratis dari event yang diadakan menteri kebudayaan dan pariwisata yang bekerja sama dengan pariwisata negara-negara Eropa.
Masalahnya Sandrina tidak fasih berbahasa Inggris, apalagi bahasa Italiano. Jadi, dia bingung harus minta tolong pada siapa.
Sandrina menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia merogoh tas selempangnya, mengeluarkan ponsel, lalu tanpa ragu menekan kontak yang paling ia andalkan.
Nada sambung berbunyi. Tiga detik kemudian, suara berat namun hangat terdengar di seberang.
"Halo, assalamualaikum, Ayah!" ujar Sandrina dengan nada merengek, campuran antara panik dan manja.
"Waalaikumsalam. Ada apa, Sandrina?" jawab Pak Barata santai. "Jangan bilang kalau kamu protes lagi karena banyak patung tidak pakai baju di museum."
Sandrina langsung mengerucutkan bibir. "Bukan, Ayah! Sekarang aku sedang ada di Roma, bukan di Athena."
"Oh." Suara Pak Barata terdengar sedikit terkejut. "Ada apa? Apa mie spaghetti-nya tidak enak karena tidak pakai caos cabe?"
Sandrina memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. "Bukan, Ayah!"
"Terus, apa?" tanya Pak Barata, masih santai.
"Mobil travel yang membawa aku hilang!"
"Hah?! Kok bisa?" Nada suara Pak Barata berubah panik.
Sandrina mengusap keningnya yang mulai berkeringat. "Mana aku tahu! Tadi aku turun lagi karena ingin buang air kecil. Jadi, aku ke toilet dulu. Pas kembali ke parkiran, mobilnya sudah tidak ada!"
"Itu bukan hilang namanya, Sandrina. Tapi kamu tertinggal. Mobilnya sudah pergi," ujar Pak Barata dengan nada gemas karena putrinya selalu saja telat memahami keadaan.
"Hah?! Apa?!" pekik Sandrina. "Sungguh terlalu mereka meninggalkan aku sendirian di sini!"
"Apa kamu izin ke supir, guide, atau panitia?" tanya Pak Barata.
Sandrina terdiam sejenak. "Tidak, aku cuma bilang ke orang yang duduk di samping aku."
"Orang yang duduk di samping kamu itu siapa? Orang mana?"
Sandrina mengernyit. "Aku tidak tahu karena aku tidak tanya."
Terdengar helaan napas panjang dari Pak Barata. "Astaghfirullah, Sandrina. Pastinya panitia menyangka kamu ada di dalam mobil. Makanya mereka tidak menunggu kamu dan langsung pergi," jelas Pak Barata, menduga-duga.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, Yah?" tanya Sandrina dengan suara menahan isak tangis.
"Ya, kamu hubungi panitia penanggung jawab travelnya," jawab Pak Barata.
"Aku tidak tahu harus menghubungi ke mana?" balas Sandrina.
"Astaghfirullah." Terdengar suara helaan napas Pak Barata.
"Ayah? Kenapa? Sesak napas, ya?" Sandrina langsung panik.
"Iya. Ayah sesak napas karena kamu," jawab Pak Barata tanpa ampun.
Sandrina meringis, merasa bersalah sekaligus kesal.
"Ayah akan coba menghubungi KBRI di Roma. Mau bilang kalau ada WNI yang tersesat," lanjut Pak Barata.
"Ih, Ayah! Jangan bilang aku tersesat! Malu-maluin saja!" protes Sandrina.
"Lalu Ayah harus bilang apa?"
"Ya, bilang saja aku ketinggalan mobil."
"Iya, iya. Sekarang kamu cari tempat aman dulu. Kalau bisa cari hotel. Nanti kirim alamatnya ke Ayah."
"Iya, Ayah."
Telepon terputus. Sandrina menurunkan ponselnya perlahan, menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk. Dia tidak tahu berada di mana sekarang karena sejak tadi kakinya melangkah tanpa arah, sementara bibirnya sibuk ngoceh kepada ayahnya yang sedang ada di kampungnya.
"Ini di mana, ya?" gumam Sandrina lirih. "Jangan-jangan sekarang aku beneran tersesat!"
Angin malam berhembus dingin, membuat jilbabnya sedikit berkibar. Lampu jalanan mulai menyala satu per satu. Jalan besar tadi perlahan menghilang, berganti dengan gang-gang sempit berbatu khas Italia.
Sandrina mempercepat langkahnya, berharap menemukan hotel atau setidaknya restoran yang masih buka. Namun, bukannya menemukan tempat ramai, ia justru semakin masuk ke jalanan sempit yang makin sunyi.
Langkahnya terhenti saat ia berbelok. Tubuhnya membeku.
Di depan matanya, seorang pria terjatuh terduduk di tengah jalan sempit. Wajahnya pucat, napasnya terengah. Di hadapannya berdiri beberapa pria bertubuh tinggi, mengenakan mantel hitam panjang, wajah mereka sebagian tertutup bayangan lampu redup. Di tangan salah satu pria itu teracung pistol.
Sandrina menutup mulutnya refleks, matanya membelalak.
Detik berikutnya—
Tsssh!
Bunyi tembakan yang nyaris tak terdengar karena memakai peredam, memecah keheningan.
Tubuh pria yang terduduk itu langsung jatuh tersungkur ke aspal. Darah mengalir dari pelipisnya, membasahi batu jalan. Matanya terbuka lebar, kosong, menatap langit malam tanpa kehidupan.
Sandrina membeku total. Jantungnya berhenti berdetak sesaat, lalu berdegup kencang tak terkendali. Kakinya terasa seperti dipaku ke tanah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Mereka … lagi shooting film, atau itu beneran pembunuhan?" batin Sandrina, penuh ketakutan dan syok.
Lampu jalan berkedip. Angin berdesir. Suasana terasa mencekam.
Sementara itu, salah satu pria bermantel hitam perlahan menoleh tepat ke arah Sandrina.
***
Assalammualaikum, kembali lagi dengan karya baru. Semoga kalian suka. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar, nonton iklan, atau kasih gift. Semoga retensi karya ini aman biar aku terus semangat berkarya. Untuk perhatiannya aku ucapkan terima kasih.
Bau mesiu masih menggantung di udara. Aspal jalan sempit itu tampak gelap oleh bercak darah yang mulai mengalir perlahan dari tubuh pria yang tergeletak kaku. Lampu jalan di atas mereka berkedip samar, membuat bayangan para pria bermantel hitam terlihat semakin menyeramkan.
Alecio berdiri tegak dengan pistol masih mengepul tipis di tangannya. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras, tatapannya setajam mata elang. Namun, ekspresinya berubah seketika ketika ia menangkap gerakan di ujung gang.
Seorang wanita berdiri mematung. Berpakaian tertutup dari ujung kaki hingga ujung kepala, jilbab rapi, gamis panjang, dan mantel tipis menutupi tubuhnya. Wajah pucatnya tertutup cadar, matanya membelalak, tubuhnya bergetar nyaris tak terlihat.
Alecio mengangkat pistolnya tanpa ragu, mengarahkan tepat ke arah wanita itu.
Sandrina, yang baru saja tersadar bahwa ini bukan adegan syuting, merasa dunia seolah berputar. Tidak ada kameraman. Tidak ada sutradara. Tidak ada lampu sorot. Hanya mayat, darah, dan pria bersenjata.
Kakinya terasa lemas seperti agar-agar. "Aduh… apa yang harus aku lakukan?" batin Sandrina panik, tetapi tubuhnya tetap membeku.
Otaknya yang pernah mengalami cedera ringan lima tahun lalu—yang sering membuatnya bertindak impulsif—tiba-tiba bekerja dengan kecepatan luar biasa. Sebuah ide nekat muncul.
Sandrina perlahan membalikkan bola matanya ke atas, hingga hanya terlihat bagian putihnya. Napasnya diatur sepelan mungkin. Tubuhnya ia renggangkan, tangannya terangkat sedikit, meraba-raba udara di depannya seperti orang buta.
Dengan langkah hati-hati, Sandrina mulai berjalan perlahan ke arah seberang gang, tempat terlihat jalan besar dengan lampu lebih terang.
"Pura-pura tidak bisa melihat. Pura-pura tidak tahu apa yang mereka lakukan," gumam Sandrina dalam hati, berusaha menenangkan diri.
Patrick, yang berdiri tak jauh dari Alecio, langsung mengernyit curiga.
"Fermati!" teriak Patrick tegas dalam bahasa Italia. ("Berhenti!")
Sandrina tentu tidak paham sepatah kata pun. Ia terus berjalan, langkahnya gemetar tetapi berusaha stabil.
"Pura-pura tuli … pura-pura tidak dengar apa-apa," batinnya lagi.
Max, salah satu anak buah Alecio, berjongkok di dekat mayat sambil memeriksa denyut nadi yang sudah tidak ada.
"È sorda?" (Apa dia tuli?) tanya Max sambil melirik Sandrina.
Patrick tidak menjawab. Ia mengangkat pistolnya, mengarahkannya ke kaki Sandrina.
Namun, sebelum Patrick sempat menembak, Alecio lebih dulu menggerakkan jarinya.
DOR!
Peluru menghantam aspal tepat di dekat kaki Sandrina. Pecahan batu beterbangan.
Jantung Sandrina seperti copot. Tubuhnya terlonjak kaget, napasnya tertahan di tenggorokan. Refleks, ia hampir menjerit, tetapi buru-buru menggigit bibir bawahnya sampai perih.
"Pura-pura tidak dengar, pura-pura tidak dengar," ulang Sandrina dalam hati, meski tubuhnya bergetar hebat.
"Ya Allah, lindungi aku dari para penjahat ini." Doa Sandrina dalam hati, matanya masih terbalik putih.
Max menyeringai kecil. "Avevo ragione, è davvero sorda." (Benar dugaan aku, dia benar-benar tuli.)
Alecio menurunkan pistolnya sedikit, kewaspadaannya berkurang. Ia melangkah cepat mendekati Sandrina, lalu berdiri tepat di depannya, menghalangi jalan keluar.
Sandrina merasakan kehadiran seseorang di depannya, tetapi tetap mempertahankan akting butanya. "Aih, kenapa dia malah berdiri di sini?" batinnya panik.
Alecio menatap lekat-lekat wajah Sandrina. Ia memperhatikan matanya yang tampak kosong, hanya menampilkan bagian putih. Alisnya sedikit terangkat.
"È cieca e sorda," gumam Alecio pelan. (Dia buta dan tuli.)
"Bos," panggil Patrick ragu-ragu, melihat Alecio menurunkan pistolnya.
Alecio menoleh sekilas. "Dia buta dan tuli. Tidak akan menjadi ancaman."
Namun, Patrick tidak semudah itu percaya. Instingnya selalu tajam. Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sesuatu, sebuah ular mainan berwarna hitam, lengkap dengan mata mengkilat.
Dengan santai, Patrick melemparkannya ke arah Sandrina.
Plak!
Ular mainan itu jatuh tepat di bahu Sandrina, lalu meluncur ke tangannya. Refleks, Sandrina menangkap benda itu. Begitu matanya yang semula terbalik kembali normal dan melihat jelas apa yang ada di tangannya. Seekor ular hitam dengan mata mengkilat.
Otaknya berhenti bekerja. "Aaaa!" teriak Sandrina histeris.
Tanpa berpikir panjang, Sandrina melompat ke tubuh tinggi Alecio seperti kucing panik memanjat pohon. Kedua tangannya melingkar erat di leher Alecio, sementara kakinya spontan mengunci pinggang pria itu.
Alecio membeku total. Tubuhnya kaku seperti patung marmer.
Seluruh anak buahnya terperangah, mulut mereka ternganga lebar. Semua orang tahu, bos mereka sangat membenci sentuhan fisik. Bahkan jabatan tangan pun jarang ia terima.
Patrick langsung mengangkat pistolnya dan mengarahkannya ke kepala Sandrina. "Chi sei?!" (Siapa kamu?!) bentaknya.
Sandrina menelan ludah, wajahnya pucat pasi. "E, gawat! Penyamaran aku terbongkar," batinnya panik setengah mati.
Alecio akhirnya bereaksi. Dengan suara menggelegar, ia berteriak tepat di telinga Sandrina.
"SCENDI DA ME!" (Turun dari tubuhku!)
Sandrina yang masih syok malah berteriak balik, refleks. "Berisik! Aku tidak budek!"
Wajah Alecio menegang. Matanya menyipit tajam.
Max menoleh ke Patrick. "Cosa ha detto?" (Dia bilang apa?)
Patrick menggeleng. "Non lo so (Mana aku tahu), tapi jelas dia tidak buta dan tidak tuli."
Alecio menatap Sandrina dengan tatapan membunuh. Perlahan, ia mengangkat pistolnya dan menempelkan moncongnya tepat di kening Sandrina.
Benda itu terasa dingin, namun mematikan. Wajah Sandrina langsung memucat. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca, keringat dingin mengalir di pelipisnya sebesar biji jagung.
Mulutnya komat-kamit cepat, seperti orang membaca doa tanpa suara.
"Ya Allah, aku belum mau mati. Jangan dulu kirim malaikat Izrail kepadaku. Aku masih muda, belum menikah, belum punya anak yang akan jadi generasi penerus umat Nabi-Mu ...."
Alecio menatapnya tanpa berkedip, jari telunjuknya siap menarik pelatuk.
Angin malam berdesir. Suasana di sana semakin mencekam.
Di tengah ketegangan itu Sandrina masih bergelayut di tubuh Alecio seperti koala ketakutan.
"Kamu sudah siap mati rupanya." Alecio menyeringai dan menarik pelatuk pistol miliknya.
Malam di kota Roma terasa mencekam. Sirene jauh terdengar samar, lampu-lampu jalan berpendar keemasan, dan bayangan gedung-gedung tinggi menjulang seperti saksi bisu atas kejahatan yang baru saja terjadi.
Alecio tidak ragu lagi. Sandrina tahu terlalu banyak. Wanita itu melihat pembunuhan, melihat wajahnya, dan yang lebih parah sudah menyentuhnya tanpa izin. Dalam dunia Serigala Hitam, satu kesalahan saja bisa berujung kematian. Apalagi kesalahan sebesar ini.
Tanpa berkata apa-apa, Alecio menarik lengan Sandrina dengan kasar.
“Hei! Sakit!” pekik Sandrina, terhuyung-huyung mengikuti langkah panjang Alecio.
Patrick sudah lebih dulu membuka pintu mobil hitam anti peluru. Dua anak buah lainnya mengamankan mayat, sementara Max memeriksa keadaan gang itu dengan tatapan waspada.
Sandrina didorong masuk ke dalam mobil Alecio.
“Eh! Eh! Ini penculikan, ya? Ini pelanggaran HAM internasional!” teriak Sandrina panik, tangannya mencengkeram sandaran kursi.
Alecio masuk setelahnya, menutup pintu dengan keras. Suara klik otomatis mengunci seluruh kendaraan.
Patrick duduk di mobil depan, sementara iring-iringan tiga mobil hitam mulai bergerak mulus menyusuri jalanan kota Roma yang mulai lengang.
Sandrina menoleh cepat ke Alecio, matanya penuh ketakutan bercampur amarah.
“Kamu mau apa denganku?! Mau bunuh aku juga? Atau jual aku? Dijadikan budak? Diambil organku? Ya Allah, ginjal aku masih bagus, jantung aku sehat, jangan diambil, ya!”
Alecio meliriknya tajam. Rahangnya mengeras. Dia tidak paham apa yang baru saja dikatakan oleh Sandrina yang bicara dalam bahasa Indonesia.
“Diam kamu!” ucap Alecio dalam bahasa Inggris, suaranya rendah namun penuh tekanan.
“Tentu aku tidak diam! Kamu baru saja membunuh orang di depan mataku!” balas Sandrina gemetar, tetapi mulutnya tetap saja tak bisa berhenti.
Alecio menghela napas panjang, menahan amarah.
Di depan, Patrick berbicara lewat interkom. “Bos, rute aman. Kita menuju markas.”
Alecio hanya mengangguk tipis.
Mobil melaju cepat, melewati jembatan, gedung-gedung tinggi, dan tikungan tajam. Suasana di dalam mobil tegang terutama karena Sandrina terus mengoceh tanpa henti.
“Ya Allah, lindungi aku. Jauhkan aku dari orang jahat. Kalau boleh, kirim malaikat Jibril saja sekarang, ya, tapi jangan Izrail dulu. Aku belum siap.”
Alecio memijat pelipisnya. Ia belum pernah merasa begitu terganggu dalam hidupnya. Namun, tiba-tiba—
DOR!
Suara tembakan memecah udara. Ban mobil depan meledak. Mobil oleng, hampir menabrak pembatas jalan. Patrick sigap menstabilkan kendaraan, sementara anak buah di mobil ketiga berteriak melalui radio.
“Kita diserang!”
Alecio menegakkan tubuhnya. Tatapannya berubah dingin dan waspada.
“Sniper,” gumam Patrick dari mobil depan. “Banyak gedung tinggi di sekitar. Kita tidak tahu dari arah mana tembakan berasal.”
Sandrina menjerit seketika.
“Aaaa! Astaghfirullah! Innalillahi wa inna ilaihi raji’un! Ya Allah, aku masih muda! Aku masih mau makan gelato Italia lagi!”
Alecio menoleh tajam padanya. “TUTUP MULUTMU!”
Tapi Sandrina tidak bisa berhenti.
“Belok kiri! Belok kiri!” teriak Sandrina histeris, meski sebenarnya ia tidak tahu sama sekali arah jalan di Roma.
Alecio meliriknya tajam tanpa mengurangi kecepatan mobil. “Kamu bahkan tidak tahu kita ada di mana!”
“Aku memang tidak tahu!” balas Sandrina panik. “Tapi instingku bilang jangan lurus! Pokoknya jangan lurus!”
Alecio menggertakkan gigi. “Kami lebih tahu, makanya percayakan pada orangku!”
“Kalau tahu, kita tidak akan ditembak terus!” teriak Sandrina, suaranya nyaris pecah.
DOR! DOR!
Dua tembakan lagi menghantam mobil. Kaca depan retak, tetapi tidak tembus.
Mobil anti peluru itu kuat, tetapi bannya tidak kebal.
BLAM!
Ban belakang kanan meledak. Mobil langsung oleng hebat. Sopir Alecio membanting setir, memutar kendaraan dengan manuver ahli agar tidak menabrak gedung di sisi jalan. Ban berdecit, asap mengepul, mobil nyaris terbalik.
Sandrina terlempar ke sisi Alecio, refleks memeluk lengannya.
“Ya Allah! Ya Allah! Jangan biarkan aku mati di tangan mafia Italia yang tidak bisa nyetir!”
Alecio menepisnya kasar. “LEPAS!”
Mobil berhenti mendadak di balik sebuah bangunan tua yang menjadi tempat perlindungan sementara.
Alecio keluar lebih dulu, pistol sudah di tangan. Wajahnya penuh amarah, bukan hanya karena serangan musuh, tetapi karena Sandrina yang berisik dan mobilnya rusak parah.
“Turun!” bentak Alecio pada Sandrina.
Wanita itu turun terburu-buru, hampir tersandung rok panjangnya sendiri. “Pelan-pelan. Aku hampir terjatuh!”
Namun, sebelum mereka sempat mencapai tempat berlindung sepenuhnya—
TSSSH!
Suara tembakan lain terdengar. Alecio mendorong Sandrina ke samping secara refleks. Namun, terlambat. Mereka berdua terkena tembakan.
Sandrina memejamkan mata, menunggu rasa sakit luar biasa, tetapi tidak ada. Tidak ada rasa sakit dan tidak ada darah pada tubuhnya. Cuma ada rasa sedikit perih di bagian lengan.
Alecio menatap lengannya, terkejut. Jaketnya basah, tetapi bukan oleh darah, melainkan cairan bening sedikit kental.
Sandrina melihat ke lengannya sendiri. Matanya membelalak.
“Ini apa? Ini bukan peluru, kan?” gumam Sabdrina bingung.
Alecio mengernyit tajam, menyadari sesuatu. Bukan peluru timah. Bukan peluru berisi racun, juga bukan obat bius biasa. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan memalukan untuk seorang bos mafia seperti dirinya.
Sandrina menatap Alecio dengan wajah pucat. “Apa yang kamu rasakan?” tanyanya ragu.
Alecio mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, napasnya mulai berubah tidak teratur. Tatapannya perlahan bergeser ke Sandrina.
Malam di Roma semakin gelap. Dan permainan baru yang jauh lebih berbahaya baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!