Indonesia
NovelToon NovelToon

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar

Cahaya matahari pagi yang menembus celah anyaman bambu belum terasa hangat, tapi ponsel pintar di atas meja kayu jati tua itu sudah panas.

"Ting! Ting! Ting!"

Rentetan notifikasi itu terdengar seperti mesin penghitung uang yang rusak.

Sekar Ayu duduk di tepi dipan, menyesap teh melati panasnya dengan tenang. Matanya memindai layar ponsel dengan kecepatan membaca yang tidak wajar.

3.500 pesan baru di WhatsApp Business.

Server situs web down karena traffic membludak.

DM Instagram penuh dengan tawaran endorsement.

"Grafik eksponensial," gumam Sekar pelan, suara 'profesor'-nya mengambil alih. "Efek validasi sosial dari figur otoritas tertinggi."

Dalam ilmu marketing, anggukan Sri Sultan semalam adalah katalisator. Reaksi kimia sosial yang mengubah melon biasa menjadi emas hijau.

"Mbak Sekar! Mbak!"

Pak Man berlari tergopoh-gopoh dari halaman depan. Sandal jepitnya menepuk tanah keras-keras, menerbangkan debu tipis.

Wajah sopir setia itu pucat, tapi matanya berbinar panik.

"Ada apa, Pak? Tenang dulu, atur napas," ujar Sekar, meletakkan cangkir tehnya.

"Di depan... gerbang desa macet total, Mbak! Truk-truk ekspedisi berebut masuk mau ambil stok Royal Essence. Orang-orang kota juga banyak yang datang pakai mobil mewah, mau beli melon langsung di kebun."

Sekar tersenyum tipis. Sudut bibirnya terangkat presisi.

Sesuai prediksi.

Produk Royal Essence—serum wajah dari ekstrak lendir melon emas hasil mutasi ruang spasial—memang baru diluncurkan terbatas. Tapi begitu Sultan terlihat berbicara dengannya, nilainya bukan lagi sekadar kosmetik.

Itu adalah tiket masuk status sosial.

"Bilang pada mereka, stok hari ini habis. Kita pakai sistem pre-order batch kedua. Batasi pembelian maksimal dua botol per orang," perintah Sekar tegas.

"Baik, Mbak. Tapi..." Pak Man ragu sejenak, menunjuk ke arah jalan setapak yang menuju rumah gubuk mereka.

"Ada satu mobil yang tidak mau disuruh pulang. Mobilnya... beda, Mbak."

Belum sempat Sekar bertanya, suara deru mesin halus terdengar mendekat.

Bukan suara mesin diesel truk, ataupun suara mobil MPV biasa.

Itu suara mesin V6 yang teredam sempurna.

Sebuah sedan hitam mengkilap dengan bendera kecil lambang Keraton Yogyakarta di kap depan merayap pelan memasuki halaman tanah yang bergelombang.

Plat nomornya merah. Dua huruf.

Warga desa yang mengintip dari balik pagar menjauh dengan segan. Aura kekuasaan yang memancar dari kendaraan itu membuat udara pagi terasa berat.

Sekar berdiri. Postur tubuhnya otomatis tegak.

"Analisis ancaman: Siaga 1," batinnya.

Pintu penumpang belakang terbuka.

Bukan Pangeran Arya yang turun. Bukan pula ajudan berseragam militer.

Yang turun adalah seorang wanita paruh baya.

Usianya mungkin sekitar lima puluh tahunan. Tubuhnya agak gempal namun padat.

Dia mengenakan kebaya kutubaru motif bunga sogan klasik yang warnanya sudah matang, dipadu dengan kain jarik wiru yang lipatannya setajam silet.

Rambutnya disanggul tekuk gelung malang tanpa satu helai pun yang berantakan keluar dari jalurnya.

Wanita itu berdiri, menepuk pelan kain jariknya yang tidak berdebu, lalu menatap Sekar.

Matanya tajam, menelisik dari ujung rambut Sekar yang tergerai hingga ujung kaki yang telanjang.

Tatapan itu bukan tatapan kagum. Itu tatapan scanner bandara yang mencari barang selundupan.

Sekar mengenali jenis tatapan ini.

Ini adalah tatapan predator yang sedang menilai apakah mangsanya layak dimakan atau sekadar dikunyah lalu dimuntahkan.

Sekar melangkah maju, memasang topeng 'gadis desa yang sopan'.

"Sugeng enjang," sapa Sekar lembut, sedikit menunduk.

Wanita itu tidak tersenyum. Wajahnya kaku seperti topeng kayu.

"Saya Sasmi," suaranya rendah, serak, namun memiliki intonasi yang sangat jelas. "Emban Dalem Kilen."

Emban Dalem. Pelayan senior keraton.

"Kilen" berarti Barat. Wilayah kekuasaan GKR Dhaning.

Alarm bahaya di kepala Sekar berbunyi nyaring.

Invasive Species detected.

Spesies invasif adalah organisme yang dimasukkan ke lingkungan baru dan menyebabkan kerusakan pada ekosistem asli. Wanita ini adalah spesies asing yang berbahaya bagi ekosistem tenang Sekar.

"Saya diutus langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu Pembayun Dhaning Ayu Wirabhumi," lanjut Bu Sasmi, menyebutkan nama lengkap majikannya dengan penekanan penuh hormat yang berlebihan.

Dia melangkah mendekat, aroma melati tua dan minyak kelapa yang menyengat menguar dari tubuhnya.

"Gusti Dhaning prihatin," kata Bu Sasmi. Matanya menyapu gubuk sederhana Sekar dengan pandangan merendahkan yang sangat halus.

"Prihatin?" ulang Sekar, nadanya polos.

"Nggih. Semalam, meski Njenengan berhasil menarik perhatian Ngarsa Dalem, tata krama Njenengan..." Bu Sasmi mendecakkan lidah, seolah baru saja melihat noda kotoran di lantai marmer.

"...sangat memalukan."

Pak Man yang berdiri di belakang Sekar terperangah. Berani sekali orang ini menghina di kandang orang lain.

Namun wajah Sekar tetap datar. Dia tahu ini serangan psikologis.

"Cara jalan Njenengan terlalu lebar. Cara berdiri Njenengan terlalu kaku. Dan tatapan mata Njenengan..." Bu Sasmi menatap lurus ke mata Sekar. "...terlalu liar. Tidak ada andhap asor sama sekali."

"Karena Njenengan sekarang sudah masuk lingkaran dekat Pangeran Arya, Gusti Dhaning tidak ingin Njenengan mempermalukan keraton lebih jauh."

Bu Sasmi memberi isyarat pada sopir.

Sopir itu mengeluarkan dua koper besar dari bagasi dan meletakkannya di teras gubuk Sekar.

"Mulai hari ini, saya akan tinggal di sini," putus Bu Sasmi sepihak.

Sekar mengerjap. "Maaf?"

"Saya ditugaskan untuk mengajari Njenengan menjadi wanita yang pantas. Dari cara duduk, cara bicara, sampai cara bernapas."

Senyum Bu Sasmi akhirnya muncul. Tipis, dingin, dan mengerikan.

"Anggap saja saya hadiah dari Gusti Dhaning. Tanda kasih sayang seorang calon kakak ipar."

Sekar menatap koper-koper itu, lalu menatap Bu Sasmi.

Ini bukan hadiah. Ini adalah CCTV berjalan.

Dhaning tidak bisa membunuhnya secara fisik karena perlindungan Arya dan sorotan publik. Jadi, dia mengirim mata-mata untuk mengawasi setiap gerak-gerik Sekar 24 jam sehari.

Jika Bu Sasmi ada di sini, bagaimana Sekar bisa masuk ke Ruang Spasial?

Bagaimana dia bisa mengurus ladang di dalam sana jika ada pengawas yang tidur di kamar sebelahnya?

"Bagaimana, Mbak Sekar? Njenengan tidak akan menolak niat baik Gusti Dhaning, bukan?" desak Bu Sasmi. Nada suaranya mengandung ancaman halus. Menolak berarti menentang titah keluarga raja.

Otak Profesor Sekar berputar cepat. Kalkulasi risiko.

Menolak sekarang \= Menciptakan konflik terbuka. Citra buruk.

Menerima \= Kehilangan privasi. Risiko rahasia terbongkar tinggi.

Namun, dalam strategi perang, musuh yang terlihat lebih mudah ditangani daripada musuh yang bersembunyi.

Sekar menghela napas panjang, lalu tersenyum manis. Senyum yang menyembunyikan ribuan jarum di baliknya.

"Tentu saja tidak, Bu Sasmi," jawab Sekar halus.

"Merupakan kehormatan bagi saya dididik langsung oleh senior keraton. Monggo, silakan masuk. Rumah saya kecil, semoga Bu Sasmi betah."

Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan lebih lama, batin Sekar dingin.

Bu Sasmi mengangguk puas, merasa sudah memenangkan ronde pertama. Dia melangkah masuk ke dalam rumah gubuk itu dengan dagu terangkat, seolah dia pemilik barunya.

Sekar menatap punggung wanita itu.

Cahaya di matanya meredup, tergantikan oleh kilatan tajam seorang ilmuwan yang siap membedah kodok percobaan.

Masa tenang sudah berakhir.

Perang dingin di lereng Menoreh baru saja dimulai.

Memutus Sinyal Rasa Sakit

Udara di dalam rumah kayu itu terasa berbeda pagi ini.

Biasanya, aroma tanah basah dan ubi rebus yang mendominasi.

Namun hari ini, aroma itu terusir paksa oleh wewangian ratus, dupa keraton yang manis, berat, dan mencekik.

Sekar Ayu berdiri di tengah ruang tamu sempitnya sendiri.

Ia tidak lagi mengenakan baju katun longgar yang nyaman.

Tubuhnya kini dibalut kain jarik motif Parang Rusak yang dililit begitu ketat hingga membatasi volume pengembangan paru-parunya.

"Napas, Mbak Sekar," suara Bu Sasmi terdengar dari sudut ruangan, setajam irisan silet. "Jangan seperti kerbau membajak sawah. Napas itu tidak boleh terlihat di dada. Simpan di perut."

Sekar menahan keinginan untuk memutar bola matanya.

Diafragma, batin Sekar mengoreksi. Dia ingin aku melakukan pernapasan diafragma murni untuk menyembunyikan pergerakan tulang rusuk.

"Nggih, Bu Sasmi," jawab Sekar pelan.

Bu Sasmi berjalan mengelilingi Sekar. Langkah kakinya di atas lantai tanah yang dipadatkan hampir tidak terdengar.

Wanita paruh baya itu memegang kipas cendana lipat. Sesekali, ujung kipas itu menyentuh bahu Sekar, mengoreksi postur yang menurutnya 'kurang simetris'.

"Hari ini, kita mulai dengan hal paling dasar," ujar Bu Sasmi, berhenti tepat di depan Sekar.

Dia menunjuk ke arah meja rendah di sudut ruangan.

Di sana, seperangkat alat minum teh porselen putih tulang sudah tertata rapi.

Uap panas mengepul dari teko, menandakan air di dalamnya baru saja mendidih 100 derajat Celcius.

"Duduk," perintah Bu Sasmi.

Sekar melangkah mendekat. Dia hendak menekuk lututnya untuk duduk bersila.

"Ah!" Bu Sasmi mendecakkan lidah keras. "Siapa yang mengajari Njenengan duduk seperti preman pasar begitu?"

Mata Bu Sasmi memicing jijik.

"Di hadapan Ngarsa Dalem atau Gusti Ratu, wanita tidak punya tulang punggung yang boleh bersandar. Kaki harus terlipat sempurna di bawah pinggul. Timpuh."

Duduk timpuh. Posisi duduk di mana kaki dilipat ke belakang dan bokong menumpu di atas tumit.

Bagi orang awam, posisi ini adalah siksaan jika dilakukan lebih dari sepuluh menit.

Aliran darah akan terhambat, memicu parestesia, kesemutan, dan nyeri sendi lutut.

Sekar menarik napas panjang. Dia menurunkan tubuhnya perlahan.

Analisis Biomekanika: Aktifkan.

Sekar tidak sekadar menjatuhkan pantatnya ke tumit.

Dalam benaknya, dia memvisualisasikan struktur rangka tubuhnya.

Vertebrae, Tulang belakang harus tegak lurus dari Cervical C1 hingga Lumbar L5.

Pusat gravitasi harus dipusatkan di panggul, bukan dibebankan sepenuhnya ke lutut.

Sekar mengatur sudut kemiringan panggulnya.

Dia mengaktifkan otot inti perut bagian dalam untuk menopang berat badan bagian atas, sehingga beban yang diterima oleh tumit dan lutut berkurang 30%.

Dia duduk dengan gerakan fluida. Halus. Tanpa suara.

Punggungnya tegak lurus seolah ada benang tak kasat mata yang menarik ubun-ubunnya ke langit-langit.

Bu Sasmi, yang sudah siap melontarkan celaan, terdiam sejenak.

Alis tebal wanita itu berkerut. Dia mencari celah.

"Dagu," tegur Bu Sasmi dingin. "Terlalu naik. Njenengan mau menantang langit?"

Sekar menurunkan dagunya dua sentimeter. Presisi.

"Tangan," lanjut Bu Sasmi. "Letakkan di atas paha. Jari-jari harus rapat seperti kuncup bunga melati. Jangan menyebar seperti cakar ayam."

Sekar menyatukan jari-jarinya.

Bu Sasmi tersenyum miring. Ini baru permulaan. Dia mengambil teko porselen itu.

Air di dalamnya benar-benar mendidih. Uapnya saja sudah cukup membuat kulit wajah terasa lembap.

Bu Sasmi menuangkan teh hijau pekat itu ke dalam cangkir kecil tanpa telinga, cawan.

Dia mengisinya hingga bibir cangkir. Nyaris tumpah.

Tidak ada gula.

"Minum," perintah Bu Sasmi. "Habiskan dalam tiga tegukan. Tidak boleh ditiup. Tidak boleh bersuara. Dan..."

Mata Bu Sasmi berkilat kejam.

"...tidak boleh ada satu tetes pun yang tumpah ke nampan. Jika tumpah, kita ulang dari awal. Dengan air yang baru mendidih lagi."

Ini bukan pelajaran tata krama. Ini penyiksaan fisik.

Cangkir itu terbuat dari porselen tipis. Konduktivitas termal keramik cukup tinggi.

Tanpa gagang, panas dari air 90-100 derajat itu akan langsung merambat ke dinding luar cangkir.

Memegang cangkir itu sama saja memegang bara api.

Sekar menatap cairan hijau pekat itu.

Di kehidupan sebelumnya, sebagai ilmuwan lab, dia terbiasa memegang tabung reaksi panas atau peralatan sterilisasi. Tapi tubuh gadis desa ini...

Tunggu.

Sekar mengingat memori otot tubuh aslinya. Gadis desa ini terbiasa mencabut singkong, membelah kayu bakar, dan mengangkat panci panas dari tungku tanah liat.

Ujung-ujung jari gadis ini memiliki lapisan epidermis yang menebal. Calluses. Kapalan.

Lapisan kulit mati yang tebal adalah isolator panas alami yang cukup baik.

"Kenapa diam?" desak Bu Sasmi. "Menunggu disuapi?"

Sekar mengulurkan tangan kanannya. Gerakannya lambat namun stabil.

Sistem saraf parasimpatik, stabilkan detak jantung, perintah otak Sekar. Jangan biarkan adrenalin memicu tremor pada tangan.

Jari telunjuk dan ibu jari Sekar menyentuh bibir cangkir, bagian yang paling tidak panas karena kontak dengan udara.

Namun, untuk mengangkatnya, dia harus menopang bagian bawah cangkir dengan jari tengah.

Srett.

Panas menyengat langsung menyerang ujung saraf di jari tengahnya.

Rasanya seperti ditempel setrika.

Wajah Bu Sasmi menyiratkan kepuasan sadis.

Dia menunggu Sekar memekik kaget dan menjatuhkan cangkir mahal itu. Itu akan menjadi alasan sempurna untuk melaporkan ketidakbecusan Sekar pada GKR Dhaning.

Tapi Sekar tidak bergeming.

Wajahnya sedingin es batu, kontras dengan panas yang membakar kulitnya.

Di dalam kepalanya, Sekar memutus sinyal rasa sakit dari reseptor saraf tepi menuju otak.

Dia menganggap rasa panas itu hanya sebagai data.

Input termal: Tinggi. Kerusakan jaringan: Minimal. Toleransi: Masih dalam batas aman.

Sekar mengangkat cangkir itu.

Air teh berguncang sedikit, menciptakan gelombang kecil di permukaan, tapi tegangan permukaannya menahan air itu agar tidak tumpah.

Tangan Sekar stabil. Tidak bergetar satu milimeter pun.

Dia mendekatkan bibir cangkir ke mulutnya. Uap panas menerpa hidung.

Tanpa meniup, karena itu melanggar etika keraton, Sekar memiringkan cangkir.

Cairan panas itu mengalir masuk.

Lidah manusia biasanya terbakar pada suhu di atas 60 derajat. Teh ini setidaknya masih 80 derajat.

Sekar menggunakan teknik aerasi mikro.

Dia membuka sedikit celah di antara bibir dan gigi, membiarkan udara luar ikut terhisap bersama cairan teh.

Udara itu mendinginkan cairan secara instan sebelum menyentuh lidah bagian belakang.

Slurp (Tanpa suara).

Tegukan pertama.

Panas menjalar di kerongkongan. Tapi wajah Sekar tetap datar.

Dia menurunkan cangkir sejenak, tapi tidak meletakkannya. Jari tengahnya masih menempel pada dasar cangkir yang membara.

Bu Sasmi menahan napasnya sendiri, matanya membelalak tak percaya.

Bagaimana bisa? batin Bu Sasmi. Cangkir itu seharusnya melepuhkan kulit halusnya.

Tegukan kedua.

Sekar meminumnya dengan keanggunan seorang putri raja yang bosan, bukan gadis desa yang kesakitan.

Tegukan ketiga. Habis.

Sekar meletakkan kembali cangkir kosong itu ke atas nampan.

"Ting."

Bunyi sentuhan keramik dengan nampan kayu terdengar sangat pelan. Hampir tidak ada.

Sekar menarik tangannya kembali ke atas paha, menyatukan jari-jarinya kembali seperti kuncup melati.

Ujung jari tengah, telunjuk, dan ibu jarinya memerah parah. Kulitnya sedikit melepuh.

Tapi ekspresi Sekar tetap tenang, seolah dia baru saja minum air es.

Hening.

Hanya suara burung perkutut dari kejauhan yang mengisi kekosongan di ruangan itu.

Bu Sasmi menatap cangkir kosong, lalu menatap wajah Sekar.

Dia mencari tanda-tanda air mata, keringat dingin, atau bibir yang gemetar menahan tangis.

Nihil.

Gadis di depannya ini duduk tegak seperti patung batu.

Keringat memang mengalir di pelipis Sekar, tapi napasnya teratur. Ritmis.

"Apakah... ada yang salah dengan cara minum saya, Bu Sasmi?" tanya Sekar lembut.

Suaranya halus, sopan, namun memiliki getaran dingin yang membuat bulu kuduk Bu Sasmi meremang.

Bu Sasmi berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang mendadak runtuh.

"Lumayan," katanya kaku, suaranya sedikit tercekat.

"Untuk pemula, lumayan. Tapi caramu meletakkan cangkir masih terlalu kasar. Bunyinya masih terdengar."

Itu alasan yang dicari-cari. Sekar tahu itu.

"Nggih. Saya akan belajar lebih giat lagi," jawab Sekar, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat palsu.

"Kaki," sergah Bu Sasmi lagi, mencoba menyerang dari sudut lain. "Kakimu pasti sudah kesemutan. Jangan pura-pura kuat. Kalau mau luruskan kaki, bilang. Jangan sampai Njenengan lumpuh dan menyalahkan saya."

Sekar tersenyum tipis.

Sudah lima belas menit dia dalam posisi timpuh.

Asam laktat memang mulai menumpuk di otot quadriceps-nya. Aliran darah di popliteal artery, belakang lutut memang tertekan.

Namun, Sekar secara berkala melakukan kontraksi isometrik, menegangkan dan mengendurkan otot betis secara mikroskopis tanpa mengubah posisi duduk, untuk memompa darah kembali ke jantung.

"Boten, Bu," jawab Sekar santai. "Saya masih nyaman. Di desa, saya biasa jongkok berjam-jam mencari kutu beras. Duduk seperti ini rasanya... mewah."

Jawaban itu menohok logika Bu Sasmi.

Wanita tua itu mendengus kesal. Rencananya untuk membuat Sekar menangis di jam pertama gagal total.

"Baiklah. Kalau begitu, tetap duduk di situ," perintah Bu Sasmi sambil berdiri dan merapikan kain batiknya.

"Saya mau ke kamar kecil sebentar. Jangan ubah posisimu satu inchi pun. Saya akan tahu kalau Njenengan bergerak."

Bu Sasmi membalikkan badan dan berjalan menuju bagian belakang rumah.

Langkah kakinya terdengar lebih berat dari sebelumnya, tanda frustrasi.

Begitu punggung Bu Sasmi menghilang di balik tirai pintu, bahu Sekar turun satu sentimeter.

Dia menghembuskan napas panjang lewat mulut, membuang panas tubuh yang terperangkap.

Matanya melirik jari-jarinya yang memerah.

Luka bakar derajat satu. Epidermis rusak ringan. Butuh pendinginan segera.

Sekar tidak bisa masuk ke Ruang Spasial sekarang. Terlalu berisiko. Bu Sasmi bisa kembali kapan saja.

Dia hanya memejamkan mata sejenak, memfokuskan pikirannya.

Dia membayangkan air dingin dari sungai di dalam Ruang Spasialnya mengalir membungkus jari-jarinya.

Sugesti psikologis untuk meredam nyeri. Placebo effect.

Ketika dia membuka mata kembali, tatapannya bukan lagi tatapan gadis desa yang pasrah.

Itu tatapan seorang predator yang sedang mempelajari pola perilaku mangsanya.

"Data diperoleh," gumam Sekar nyaris tanpa suara.

"Subjek: Bu Sasmi. Metode: Intimidasi fisik berkedok tradisi. Kelemahan: Tidak siap menghadapi anomali data."

Sekar menyeringai tipis. Jari-jarinya memang sakit, tapi mentalnya justru semakin tajam.

Jika GKR Dhaning berpikir secangkir teh panas bisa meluluhkan seorang Profesor Bio-hayati yang pernah menghabiskan 48 jam non-stop berdiri di lab isolasi virus...

Maka sang Putri salah besar memilih lawan.

Sains Adalah Pedangnya

Jam dinding kayu jati di dinding berdetak berat.

Pukul 02.00 dini hari.

Suara jangkrik dan kodok dari arah kolam teratai di halaman belakang terdengar bersahut-sahutan, menciptakan simfoni malam khas pedesaan Yogyakarta yang seharusnya menenangkan.

Namun bagi Sekar, malam ini terasa mencekik.

Udara di dalam kamar itu berbau minyak urut dan bedak dingin, aroma khas wanita paruh baya tradisional.

Sumber aroma itu sedang berbaring di atas dipan kayu kecil di sudut ruangan, hanya berjarak tiga meter dari ranjang Sekar.

Bu Sasmi.

Wanita itu tidak tidur di kamar tamu. Dengan alasan "menjaga keselamatan calon keluarga keraton", dia bersikeras tidur sekamar dengan Sekar.

Alasan yang konyol.

Sekar tahu, ini adalah bentuk surveillance 24 jam. Panoptikon modern tanpa CCTV, hanya bermodal mata tua yang tajam dan telinga yang sensitif.

Sekar berbaring miring memunggungi Bu Sasmi. Matanya terbuka lebar dalam kegelapan.

Punggungnya masih terasa pegal akibat latihan duduk selama enam jam hari ini.

Namun, bukan nyeri otot yang membuatnya terjaga.

Tanda lahir berbentuk bulir padi di jari manis tangan kirinya terasa panas. Berdenyut.

Itu sinyal alarm biologis.

“Stok menipis,” batin Sekar, menganalisis inventaris dalam ruang spasialnya.

Di dalam Ruang Spasial, tanaman melon varietas Golden Aroma yang dia tanam tiga minggu lalu sudah memasuki masa panen puncak. Kadar Brix pasti sudah mencapai angka 18%.

Jika tidak dipanen malam ini, fermentasi alami akan dimulai.

Melon-melon itu akan membusuk, meledak, dan mengotori tanah hitam dengan etanol.

Masalahnya, dia tidak bisa masuk.

Sekar memejamkan mata, memusatkan pendengaran.

Suara napas Bu Sasmi terdengar teratur.

Inhale dalam, exhale panjang dengan sedikit bunyi 'ngik' di ujungnya.

Indikasi mild obstruction pada saluran napas atas. Tidur nyenyak fase Non-Rapid Eye Movement.

Ini kesempatannya.

Sekar menyentuh tanda lahir di jarinya dengan ibu jari.

“Masuk.”

Sensasi tarikan gravitasi itu selalu sama.

Seperti jatuh dari gedung tinggi, lalu mendarat di atas tumpukan bulu angsa.

Detik berikutnya, Sekar sudah berdiri di atas tanah hitam yang gembur.

Udara di sini jauh lebih segar, kaya akan oksigen murni yang dihasilkan oleh fotosintesis tanaman super-subur.

Tidak ada bau minyak urut. Hanya aroma tanah basah, vanila, dan manisnya buah matang.

Sekar menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru astralnya dengan energi.

Di hadapannya, hamparan tanaman melon merambat pada lanjaran bambu.

Buah-buahnya menggelantung berat, berwarna kuning keemasan, memancarkan cahaya redup yang magis.

“Oke, mode kerja cepat,” gumam Sekar.

Dia tidak punya banyak waktu.

Rasio waktu di sini memang menguntungkan, 1 jam di sini \= 6 menit di dunia nyata, tapi dia tidak boleh mengambil risiko.

Sekar berlari kecil ke gubuk peralatan.

Dia mengambil keranjang rotan dan gunting pangkas.

Snip. Snip. Snip.

Tangannya bergerak cekatan, memotong tangkai buah dengan presisi bedah.

Dia menyisakan 2 cm tangkai berbentuk huruf T, standar estetika untuk melon grade premium.

Satu keranjang penuh.

Dua keranjang.

Keringat mulai membasahi keningnya.

Adrenalin memacu fokusnya.

Dia bekerja mungkin selama dua jam waktu ruang spasial.

Membersihkan lahan, menabur benih baru, dan meminum seteguk Air Spiritual dari mata air untuk memulihkan kelelahan mentalnya.

Rasanya segar.

Seperti minum air kelapa muda yang didinginkan, tapi dengan aftertaste mint yang membersihkan pikiran.

Sekar merasa bugar kembali.

Lelah fisiknya di dunia nyata seolah tidak pernah ada.

"Cukup untuk hari ini," putusnya.

Dia meletakkan hasil panen di gudang penyimpanan, zona vakum waktu di mana benda tidak akan busuk.

Sekar menatap pintu keluar visualisasinya.

“Keluar.”

Gelap kembali menyergap.

Sekar membuka matanya di atas ranjang paviliun.

Dan saat itulah, teror yang sebenarnya dimulai.

Dia tidak bisa bergerak.

Tubuhnya terasa seberat beton. Jari-jarinya kaku. Kelopak matanya terasa seperti direkatkan dengan lem super.

Sleep Paralysis? Tidak, ini berbeda.

Otak Sekar, kesadarannya, sudah bangun sepenuhnya, waspada, dan tajam.

Tapi sistem saraf motoriknya masih offline total, gap yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya.

Dia mendengar suara langkah kaki terseret.

Srek. Srek.

Bu Sasmi bangun.

Jantung Sekar berdegup kencang, tapi dia tidak merasakan detak itu di dadanya.

Dadanya hening. Terlalu hening.

"Mbak Sekar?" suara serak Bu Sasmi terdengar dari jarak dekat.

Sekar ingin menjawab.

Dia ingin sekadar berdeham atau mengubah posisi tidur untuk menunjukkan bahwa dia sedang tidur normal, tapi sinyal dari korteks motorik tidak sampai, atau belum sampai ke otot.

Analisis Cepat: Saat kesadaranku berada di Ruang Spasial, tubuh fisikku masuk ke mode hibernasi ekstrem.

Kondisi ini ditandai dengan Bradikardia, detak jantung melambat drastis. Hipotonia, hilangnya tonus otot. Dan Hipoventilasi, napas yang sangat dangkal.

Bagi orang awam, kondisi ini tidak terlihat seperti tidur.

Ini terlihat seperti mati.

Atau koma.

Cahaya senter menyilaukan menembus kelopak mata Sekar yang tertutup.

Bu Sasmi menyalakan senter ponselnya, mengarahkannya tepat ke wajah Sekar.

Sekar bisa merasakan hawa panas tubuh Bu Sasmi mendekat.

Wanita tua itu membungkuk.

"Napasnya..." bisik Bu Sasmi.

Nadanya curiga bercampur panik.

Tangan kasar Bu Sasmi terulur, menyentuh leher Sekar. Mencari denyut nadi karotis.

Sekar berteriak dalam diam.

Ayo, tubuh bodoh! Bangun!

Pompa adrenalin!

Detik terasa seperti abad.

Di dalam ruang spasial, waktu berjalan cepat. Tapi rupanya transisi kembali ke tubuh fisik membutuhkan waktu "reboot" sistem saraf sekitar 10-15 detik.

Dan 15 detik itu adalah celah keamanan fatal.

Jika Bu Sasmi menyadari nadinya berdetak di bawah 40 bpm, detak per menit dan napasnya nyaris tak terdeteksi, besok pagi seluruh Keraton akan gempar.

GKR Dhaning akan mengirim tim medis istana. Mereka akan mengambil darahnya. Mereka akan menemukan anomali.

Rahasia Ruang Spasial akan terbongkar bukan karena sihir, tapi karena diagnosis medis:

Mati Suri Berulang.

Ujung jari Bu Sasmi menekan arteri leher Sekar.

Satu... Dua...

Sekar mengerahkan seluruh kekuatan tekadnya untuk memicu respons fight or flight.

Dia membayangkan bahaya. Dia membayangkan wajah ibunya yang menangis.

SENTAK!

Sistem saraf simpatik akhirnya merespons.

Sebuah kejutan listrik biologis menjalar dari batang otak ke seluruh tubuh.

"Hah!"

Sekar tersentak bangun dengan kasar.

Tubuhnya mengejang seperti orang yang baru saja lolos dari mimpi buruk jatuh ke jurang.

Dia membuka mata lebar-lebar, langsung menatap wajah Bu Sasmi yang hanya berjarak lima sentimeter.

Bu Sasmi melompat mundur saking kagetnya.

Ponselnya nyaris terlempar.

"Astaghfirullah!" pekik Bu Sasmi, memegangi dadanya.

Sekar terengah-engah.

Kali ini sungguhan.

Jantungnya memompa keras, mencoba mengejar ketertinggalan oksigen.

Keringat dingin membasahi punggungnya.

"Bu... Bu Sasmi?" suara Sekar parau, lemah, dan gemetar. Akting yang sempurna karena didukung kondisi fisik yang shock.

"Kenapa... kenapa Ibu ada di atas saya?"

Bu Sasmi mengatur napasnya yang memburu. Matanya menatap Sekar dengan tatapan aneh. Selidik.

"Njenengan..." Bu Sasmi menelan ludah.

"Njenengan tadi tidak bernapas. Saya panggil tidak menyahut. Badan Njenengan dingin sekali seperti mayat."

Sekar memijat pelipisnya, berpura-pura pusing. Otak jeniusnya berputar cepat menyusun alibi logis.

"Saya... saya punya Tekanan Darah Rendah saat tidur nyenyak, Bu," dusta Sekar dengan istilah medis yang terdengar meyakinkan.

"Kadang kalau terlalu lelah, saya tidur seperti orang pingsan. Efek samping kelelahan saraf."

Sekar menatap Bu Sasmi dengan mata sayu yang dibuat-buat.

"Maaf kalau membuat Ibu kaget. Apa saya ngelindur?"

Bu Sasmi masih menatapnya curiga.

Tapi penjelasan "tekanan darah rendah" dan fakta bahwa Sekar baru saja menjalani penyiksaan fisik seharian cukup masuk akal baginya.

Lagipula, sekarang dada Sekar naik turun dengan jelas.

Kulitnya mulai memerah kembali. Hangat kehidupan sudah kembali.

"Lain kali kalau tidur jangan seperti orang mati," gerutu Bu Sasmi, menyembunyikan rasa takutnya sendiri.

"Bikin jantungan orang tua saja."

Wanita itu mematikan senter ponselnya dan kembali ke dipannya dengan langkah menghentak kesal.

"Tidur lagi. Besok jam 4 pagi sudah harus bangun. Kita belajar jalan pakai kain jarik," perintah Bu Sasmi dari kegelapan.

Sekar berbaring kembali.

Dia menarik selimut sampai ke dagu.

Di balik selimut, tangannya mengepal erat hingga kuku menancap ke telapak tangan.

Itu tadi terlalu dekat.

Sekar menyadari kesalahan kalkulasinya.

Ruang Spasial memang memberinya keuntungan waktu dan sumber daya.

Tapi mekanisme masuk-keluarnya memiliki lagging fisik yang berbahaya jika ada pengamat.

Dia tidak bisa terus-menerus "mati suri" di malam hari. Bu Sasmi bukan orang bodoh. Sekali dua kali mungkin dianggap kelelahan.

Tapi jika setiap malam dia terlihat seperti mayat?

Wanita tua itu pasti akan melapor ke Dhaning bahwa Sekar mempraktikkan ilmu hitam atau punya penyakit mematikan.

Keduanya sama-sama berbahaya.

Sekar menatap langit-langit kamar yang gelap.

Dia butuh privasi mutlak.

Dia butuh pintu kamar yang terkunci dari dalam, di mana tidak ada satu orang pun, bahkan Bu Sasmi, yang boleh masuk.

Tapi bagaimana caranya mengusir "anjing penjaga" resmi yang ditugaskan oleh Putri Raja?

Sekar tersenyum tipis dalam kegelapan. Dingin.

Jika sains adalah pedangnya, maka medis adalah perisainya.

Dia butuh penyakit.

Bukan penyakit sembarangan, tapi penyakit orang kaya. Penyakit modern yang terdengar rumit, membutuhkan ketenangan total, dan sulit dibuktikan secara fisik oleh orang awam.

Insomnia Kronis dengan Hipersensitivitas Sensorik.

"Bu Sasmi," batin Sekar, matanya berkilat tajam.

"Besok, Njenengan akan memohon untuk tidur di luar."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!