Indonesia
NovelToon NovelToon

Terjebak Hasrat Monsieur Leopold

Luka

...“Jangan tinggalkan Elena lagi. Elena juga tidak akan meninggalkan Papa.” — Elena De Gaulle...

Notes :

Monsieur \= Tuan (Bahasa Prancis)

Madame \= Nyonya (Bahasa Prancis)

Mademoiselle \= Nona (Bahasa Prancis)

Latar Novel : Prancis, Eropa

...Selamat membaca :)...

...****************...

Di sebuah gudang yang ada di pelabuhan kota Prancis, terbuka dengan lebar pintu gerbang besi yang tebal itu.

Seorang pria penuh wibawa yang sudah berambut perak keabuan memasuki gudang itu. Di kota itu, semua orang memanggilnya Monsieur De Gaulle dengan kepala tertunduk. Ia diikuti oleh beberapa pengawal berjas hitam, bertubuh tegap dan memiliki headset berwarna hitam di masing-masing telinga mereka.

“Ck!” suara decakan wanita terdengar. “Aku sudah menduga, semua ini ulah Papa!”

Elena De Gaulle. Anak semata wayang Martin De Gaulle—pebisnis kaya dan salah satu mafia terhormat di kota Prancis.

“Aku sudah peringatkan kau, Gaston!” tegas Martin dengan dagu terangkat. Meskipun usianya sudah tak lagi muda, tubuhnya masih terlihat bugar dan sehat.

“Lepas!” perintah Elena memarahi anak buah ayahnya yang sedang memegang kedua tangan Gaston—pria yang ia cintai. “Kau tidak dengar?! Kubilang lepaskan dia!”

Gaston tertunduk tak berdaya. Jika tak dipegang oleh kedua anak buah calon mertuanya, mungkin saat ini ia sudah jatuh tersungkur di lantai dingin penuh debu itu. Wajah dan tubuhnya penuh dengan darah dan lebam akibat pukulan. Tentu saja itu perintah oleh calon mertuanya.

“Papa akan memberikan kamu kesempatan terakhir.” Dinginnya cuaca saat itu, tak bisa mengalahkan dinginnya aura yang terpancar oleh Martin. Hanya Gaston satu-satunya pria yang berani menyentuh putri mafia itu.

“Apapun yang kamu mau, Papa berikan. Asalkan—”

“Aku mau Gaston. Titik!” dengan sigap Elena meraih belati dari tangan anak buah Martin. Lalu ia memposisikan belati itu ke lehernya. “Kalau Papa tidak mendengarkanku, maka... relakan aku selamanya.”

Martin tersentak. Meskipun mimik wajahnya masih tenang. Tapi matanya tak bisa berdusta. Satu-satunya permata peninggalan istrinya, mana mungkin sanggup ia biarkan pergi meninggalkannya.

Semua anak buah Martin mendadak tegang. Ia tahu, Elena segalanya bagi Martin. Mana mungkin bos mereka melepaskan anaknya begitu saja. Tapi mereka juga kenal siapa Elena. Sekalinya wanita itu mengatakan A, maka selamanya A. Tak akan pernah berubah.

“Papa butuh bukti?” Elena menggoreskan belati tajam tersebut ke lehernya. Buliran darah segar muncul dari goresan tajam itu. Ia meringis kesakitan. Tapi lebih sakit lagi saat cintanya tak disetujui.

“Elena!” Bentak Martin dengan kedua tangan yang terkepal. Ia berjalan mendekat ke arah anaknya selangkah demi selangkah.

“Berhenti!” perintah Elena dengan mata yang berkaca-kaca. “Selama ini aku tak pernah menolak perintah Papa. Tapi satu kali ini saja, Pa. Izinkan aku memilih sendiri jalan hidupku!”

Beberapa detik berlalu. Keheningan menyelimuti gedung luas itu. Seluruh kotak kayu yang ada di dalam gudang itu menjadi saksi bisu sebelum keesokan harinya dibawa berlayar ke masing-masing pembeli.

Martin tertunduk tak berdaya. Anak buah tak berani melakukan apa-apa sebelum menerima perintahnya.

“Bawakan aku mobil ke dalam!” perintah Elena lagi.

Tujuh detik berlalu. Tak satupun ada yang bergeming.

“Cepat—”

“Kalian dengar?!” bentak Martin dengan tatapan nelangsa ke arah anaknya. Meskipun matanya tak bisa berkaca-kaca, tapi hatinya? Luluh lantak tak berdaya. “Lakukan perintahnya!”

Salah satu anak buah Martin keluar. Tak lama kemudian ia masuk sambil mengendarai mobil ke dalam gudang. Sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di sebelah Elena.

“Masukkan Gaston ke dalam!”

Kedua anak buah Martin menatap bosnya.

Dengan rahang yang menegang dan mata yang berurat menahan amarah sekaligus kecewa, Martin mengedipkan pelan matanya—memberikan aba-aba singkat.

Dan kedua orang berjas hitam itu memapah tubuh Gaston masuk ke dalam mobil. Lalu Elena, ia masuk ke kursi kemudi dan mengemudikan mobil meninggalkan ayahnya dengan luka yang sangat dalam.

Sekilas terlintas bayangan Elena kecil di memori Martin. Anak kecil berambut coklat dengan mata yang bulat berlari mendekatinya.

“Papa...” Elena kecil memeluknya dan ia menggendong lalu melambung tinggi anaknya ke udara. Tawa riang penuh suka cita memenuhi taman. “Jangan tinggalkan Elena lagi.”

“Tidak, Sayang. Tadi Papa ada urusan,” sahutnya dengan suara yang hangat.

“Janji ya?”

“Janji, Sayang.”

“Kalau begitu, Elena juga tidak akan meninggalkan Papa.”

Tubuh Martin mendadak oleng. Namun dengan sigap, anak buahnya menopang tubuhnya. Dan salah satu dari mereka mengambilkan kursi agar bos mereka bisa duduk untuk menenangkan diri sejenak.

Martin menolak. Ia melangkah keluar dari gudang. Berjalan dengan langkah yang berat dan penuh kesedihan. Langkahnya terhenti tepat di ujung pembatas antara darat dan laut. Mata yang kini sudah keriput menatap lurus ke depan.

Pemandangan langit malam itu sangat suram. Hawa dingin angin laut malam menyapu lembut kulit keriput Martin. Kedua tangannya menyelip di dalam saku mantel coklat mahalnya. Lalu, ia mengeluarkan sebuah liontin dari saku mantel tersebut. Liontin yang selalu menemaninya kemanapun.

Martin membuka liontin tersebut. Terpampang potret usang seorang wanita muda. Dan itu adalah potret istrinya. Ia mengusap pelan potret usang itu.

“Pria itu, bukan pria yang baik, Emma,” lirih Martin pelan. “Kau tahu... sebesar apa cintaku untuk anak kita?”

“Tapi kali ini... aku terpaksa melepaskannya dengan cinta juga.”

“Meski aku tahu... kelak pria itu akan mengecewakan anak kita.”

“Aku gagal, Sayang. Aku gagal.”

“Maafkan aku.”

Dua puluh tahun semenjak kepergian istrinya, Martin tak pernah menangis. Tapi kali ini, airmata itu kembali luruh dan tak tertahankan. Di balik punggungnya, semua anak buah ikut berduka dengan jarak 5 meter darinya. Mereka memberikan waktu untuk Martin berdamai dengan rasa sakit itu.

Namun, siapa sangka... moment itu dirusak oleh seorang anak laki-laki kecil yang kumuh berlari ke arah Martin dan menabraknya.

Semua anak buah mereka tersentak dan berlari dengan sigap. Mereka memegang anak laki-laki itu dan tak lama kemudian... ada dua orang pria yang berlari mengincar anak laki-laki itu.

“Hei, kau! Maling kecil!” teriak salah satu dari mereka.

Martin menoleh ke arah anak laki-laki yang menabraknya.

Pakaian yang lusuh dan compang camping di cuaca yang dingin ini. Ia berlari tanpa alas kaki. Tubuhnya penuh dengan bekas luka. Dan rambutnya berantakan.

“Apa yang kau curi?” tanya Martin tenang. Namun sorot matanya tajam dan mencekam.

“Lepaskan aku!” bentak anak laki-laki itu mencoba meronta-ronta dari pegangan anak buah Martin.

Martin memberi aba-aba untuk melepaskannya. Dan usai dilepaskan, anak laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.

Semua anak buah Martin siaga. Mereka memegang pistol dari dalam jas hitam mereka. Tak ada yang tahu, apakah anak itu sepenuhnya maling kecil, atau... bahaya yang tak bisa ditebak?

Dan sesuatu yang keluar dari kantong anak laki-laki itu hanyalah sepotong roti. Ia tertunduk tak berdaya. Lalu mengembalikan potongan roti tadi kepada dua orang pria yang ternyata pengemis di sekitar pelabuhan itu.

...****************...

Bersambung....

Kelahiran Elios Leopold

...“Hari di saat aku mencuri sepotong roti. Hari itu... aku sedang ulang tahun.” — Elios Leopold...

Martin menarik nafas pelan sesaat anak kecil itu mengembalikan sepotong roti yang ia curi. Ia memerintahkan agar anak buahnya menyembunyikan senjata. Kemudian, ia berlutut agar tubuhnya sejajar dengan anak laki-laki itu.

“Apa kau lapar?” tanya Martin iba.

Anak laki-laki itu menunduk. Tapi perutnya tidak bisa berdusta.

Martin tertawa pelan. Ia teringat pada Elena kecil. Saat itu, ia terlambat pulang ke rumah. Dan Elena kecil sedang duduk menunggu di atas kasur. Gadis kecil itu merajuk saat ia masuk ke kamar. Ia mendapatkan info dari kepala pembantu, bahwa anaknya itu tidak mau makan malam sendiri.

Dan pertanyaan yang sama ia tanyakan pada Elena kecil. “Apa kau lapar?”

Elena kecil diam dan menunduk karena marah. Tapi perutnya yang menjawab. Bunyi krucuk yang tak pernah bisa berdusta.

Martin menempik kenangan masa lalu itu. Ia mengambil dompet dari sakunya, mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan 100 Euro. Kemudian, ia berikan pada anak laki-laki itu.

“Ambil ini. Aku harap kau tidak kelaparan lagi.”

Anak laki-laki itu tidak langsung mengambil uang yang disodorkan padanya. Ia masih tertunduk dengan kedua tangan yang meremas kuat ujung baju lusuhnya.

“Uang itu terlalu banyak.”

“Tidak apa-apa. Asalkan kau tidak mencuri lagi.”

“Tapi...”

Martin meraih tangan mungil anak laki-laki itu. Lalu ia memberikan uang itu padanya. “Ambillah. Dan segera isi perutmu. Ajak keluargamu makan bersama.”

Setelah itu, ia mengusap pelan kepala anak laki-laki itu, lalu berdiri dan memunggunginya. Langkahnya terhenti saat kelingkingnya di genggam oleh tangan mungil yang kedinginan.

“Aku... kabur dari panti asuhan. Orangtuaku membuangku ke sana.”

Martin terdiam. Ia menoleh ke belakang. Anak kecil itu tertunduk dan semakin menggenggam erat jari kelingkingnya.

“Tuan, bisakah kau mempekerjakan aku di rumahmu? Aku tak masalah jika harus melakukan apapun. Asalkan aku bisa makan sekali sehari.” Airmatanya bercucuran tak tertahankan, berjatuhan tepat ke atas jalanan dingin pelabuhan itu.

“Aku sudah terbiasa makan sekali sehari di panti. Aku tak akan menyusahkanmu. Aku janji akan melakukan apapun.”

“Kalau aku bohong, saat itu juga kau bisa membunuhku.” Ujarnya putus asa.

Hati nurani Martin terusik. Meskipun ia dikenal sebagai mafia berdarah dingin, tapi semua itu hanya berlaku untuk orang dewasa. Tidak dengan anak kecil yang tak berdosa. Sebelum ia berbalik badan, salah satu pria kepercayaannya berbisik pelan.

“Monsieur De Geulle, sebaiknya jangan dengarkan anak kecil ini. Kita tak tahu jika ia dikirimkan oleh salah satu klan yang—”

“Kau terlalu berlebihan. Dia hanya anak kecil.”

“Tapi—”

“Aku akan membawanya di sisiku. Jadi, dia tak akan berbuat hal-hal tak masuk akal selama di dekatku.”

Andrew Huston—ajudan setia Martin yang selalu bersamanya sejak puluhan tahun yang lalu. Ia tak bisa berkutik jika Godfather—panggilan tertinggi untuk Martin di Klan Mafia mereka—sudah mengutarakan keinginannya. Sama seperti Elena.

Dan kini, anak laki-laki itu berada di mobil yang sama dengan Martin. Ia duduk bersebelahan dengan pria tua itu sambil melahap dengan rakus roti yang dibelikan untuknya. Martin menatap anak laki-laki itu dengan tatapan hangat. Sementara Andrew, ia memegang pistol dari balik jas untuk bersiaga kalau-kalau ada hal tak terduga yang dilakukan anak laki-laki itu.

“Pelan-pelan saja,” ucap Martin tenang. “Kelak kau tak akan kelaparan lagi.”

Anak laki-laki itu berhenti mengunyah. Matanya kembali berair, dan airmata kembali bercucuran. Ia menangis pilu meski mulutnya penuh dengan makanan.

“Aku tidak suka laki-laki yang cengeng.”

Ucapan Martin membuat anak itu memaksa henti tangisannya. Namun ia masih tersedu-sedu dan berusaha mengunyah makanan dengan hati yang teriris pilu.

“Siapa namamu?”

“El—Elios... Tuan.”

“Elios?”

“Elios... Leo—Leopold.”

Martin tertawa terbahak-bahak mendengarkan nama Elios. Bukan karena lucu. Tapi... ia sadar, arti nama anak laki-laki itu sangat luar biasa.

“Elios Leopold... cahaya yang memimpin dengan dengan keberanian singa.”

Elios menelan paksa rotinya. Ia menoleh ke arah Martin dengan mata membulat. “Bagaimana Tuan tahu arti nama saya?”

Lagi. Martin tertawa dengan ciri khasnya. Membuat supir serta ajudannya menatap dirinya dari kaca spion dengan penuh rasa terkejut. Sudah lama ia tak mendengar bosnya tertawa seperti itu.

“Aku sudah 60 tahun hidup di dunia ini, Elios.”

Malam itu... kesedihan Martin seolah sedang diobati dengan kehadiran Elios. Sesuai namanya, Elios yang berarti cahaya, matahari dan sumber kekuatan. Anak laki-laki itu memberikan cahaya di dalam kegelapan dunianya karena ditinggalkan oleh dua orang wanita berharga di hidupnya.

Hari-hari Martin dan Elios berlalu dengan sangat cepat. Bukan sebagai pembantu atau tukang di rumah megah itu. Tapi Elios mengalahkan posisi Andrew sebagai ajudan. Kemanapun Martin pergi, di sanalah Elios berada.

Anak laki-laki yang baru berusia 9 tahun itu diajarkan bagaimana caranya hidup oleh Martin. Bahkan Martin merekrut guru privat untuknya untuk mengejar semua ketertinggalan pelajarannya selama ini.

“Kapan ulang tahun mu?” tanya Martin saat ia sedang duduk di meja kerjanya. Sementara Elios, ia memiliki meja belajar tersendiri di samping meja kerja Martin.

Gerakan tangan Elios yang saat itu sedang mengerjakan tugas dari gurunya terhenti. Dengan wajah datar ia berbicara. “Hari di saat aku mencuri sepotong roti.”

“Hari itu... aku sedang ulang tahun.”

Martin kembali menghela nafas berat. Ia merasa sangat iba dengan anak yang malang itu. Ia berdiri dari duduknya. Kemudian ia mendekat ke arah Elios.

Elios berkeringat dingin, karena ia mengira bahwa Martin akan melakukan sesuatu padanya. Tapi perkiraannya salah. Pria tua itu memeluknya dengan erat dan penuh kehangatan.

“Mulai hari ini, aku yang akan menjadi orangtuamu.”

Elios terbelalak. Matanya membulat sesaat. Dan sesaat kemudian, airmata bercucuran tanpa tertahankan. Ia mencengkeram erat sweater coklat yang pria tua itu kenakan. Entah kenapa, ini pertama kalinya ia merasa dicintai dengan tulus. Bahkan ia tak pernah tahu bagaimana rasanya dicintai sedalam itu oleh orangtuanya—sebelum ia ditinggalkan di panti asuhan.

“Tuan...,” Elios menangis terisak-isak. Ia membenamkan wajahnya ke dalam dekapan pria tua itu. “Aku janji. Aku janji akan selalu setia melakukan perintah apapun yang kau berikan.”

“Bahkan membunuh orangpun akan aku lakukan.”

Ucapan yang tak seharusnya keluar dari mulut anak 9 tahun itu, lolos begitu saja. Semua karena ketulusan Martin—raja singa yang terkenal bengis, namun berhati Hello Kitty.

... ...

...****************...

Epilog.

“Ambil ini,” Martin menyerahkan sekantong plastik berisikan beberapa roti yang ia beli. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Elios yang duduk terpojok di kursi mewah mobil itu. “Makanlah.”

Elios langsung mengambil bungkusan yang diberikan pria tua itu. Ia sempat mendengarkan anak buah pria tua itu menawarkan diri untuk membelikan roti untuknya. Tapi pria tua itu menolak, dan ingin memilihkan secara langsung roti untuknya.

Elios melihat nota yang ada di dalam plastik yang terselip di balik beberapa bungkusan roti itu.

23 Juni 19XX.

Kemudian mata elang Elios melirik sekilas jam yang ada di dashboard mobil.

21.45.

“Hari ini adalah hari kelahiranku. 23 Juni 19XX, jam 21.45,” batin Elios tegas. “Tuan... terima kasih. Aku akan mengenang hari ini sebagai hari kelahiranku untuk selamanya.”

...****************...

Bersambung....

Berita Duka

...“Monsieur De Geulle... Mademoiselle Elena dan suaminya, kecelakaan.” — Andrew Huston...

11 tahun kemudian.

Di salah satu ruang VVIP yang ada di sebuah kelab malam yang terkenal di kota Paris, seorang pria bertubuh tegap terlihat sedang memegang sebuah pistol di tangan kanannya. Mata elang berwarna coklat itu menatap tajam ke depan—ke arah target yang sedang ia bidik.

“Monsieur, tolong beri aku satu kesempatan lagi. Aku tidak akan berkhianat,” ucap seorang pria berambut cepak sedang bersujud di depan pria bermata elang itu.

Elios Leopold. Setelah 11 tahun sejak kejadian di pelabuhan itu, kini ia menjadi seorang pria matang penuh wibawa dan sangat ditakuti di kota Prancis. Semua yang mengenal Monsieur De Geulle, pasti juga sangat mengenal Monsier Leopold. Ia adalah bayangan yang diciptakan oleh Martin.

Bayangan kelam, penuh darah dan mematikan tanpa belas kasih. Namun semua itu tertutupi oleh ketampanannya yang memiliki anugerah oleh dewa. Ketampanan yang membuat siapapun terpesona saat melihatnya.

Elios tak berkutik. Namun tangan kirinya mulai ia selipkan ke dalam saku celana. Sementara tangan kanan masih membidik mangsa di depannya. Semua anak buahnya yang sedang berdiri menjaganya di belakang sudah paham dengan situasi saat itu.

“Kesempatan?” suara bariton Elios terdengar menggelegar di dalam ruangan kedap suara itu.

“Kumohon, Monsier Leopold. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku.”

“Tapi...” Elios menaikkan alisnya sebelah. “Kau sudah mencoreng nama baik Monsier De Geulle.”

“Aku bersumpah akan setia,” pintanya sambil menangkupkan kedua tangannya ke atas, dengan kepala yang masih bersujud.

“Baiklah. Sekarang kau bisa berdiri.”

Mendengarkan belas kasih Elios, pria berambut cepak itu mengangkat kepalanya dengan sebuah senyuman yang penuh lega.

Dor!

Sebuah tembakan mendarat tepat di dahi pria berambut cepak itu. Dan tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai dengan darah yang mengalir tanpa henti.

Usai menembak pengkhianat tersebut, Elios tak menampakkan ekspresi apapun. Sebaliknya, ia berbalik badan dan keluar dari ruangan tersebut. Lalu, beberapa anak buah membersihkan mayat pengkhianat. Sementara beberapa lagi mengikuti Elios.

Saat melewati lorong yang bersebelahan dengan lantai dansa, ada beberapa wanita yang datang mendekat menggoda Elios. Namun seperti biasa, ia tak pernah sekalipun tertarik. Karena di otaknya hanya ada satu. Menyerahkan seluruh hidupnya untuk setia pada Martin De Geulle. Tak ada yang lebih penting dari itu.

Waktu kosongnya hanya di isi dengan menambah ilmu, menambah pengetahuan berbahasa. Karena ia sangat terobsesi dengan ilmu, di mana dulu saat di panti asuhan ia sedikitpun tak pernah bisa menyentuh yang namanya pendidikan.

...****************...

Setibanya sedan hitam itu di depan teras dengan hiasan air mancur yang megah dan besar, ajudannya turun dan membukakan pintu untuknya.

Ia keluar dan disambut dengan hangat oleh Martin di pintu utama yang besar dan berkilau. Semua anak buah sedang berdiri berjejeran menyambut kepulangannya.

Martin melebarkan kedua tangannya ke arah Elios. Senyum lebar tampak di wajah keriputnya.

“Kau terlalu kejam, Elios,” kekeh Martin saat Elios memeluk tubuhnya sesaat. “Aku sudah mendengar semuanya dari Andrew.”

“Dia sudah mencoreng nama baik Monsieur.”

Martin menepuk pelan pundak Elios. “Sampai kapan kau akan terus memanggilku Monsieur?”

Keduanya berjalan memasuki istana megah itu. Berjalan melewati lampu gantung mahal, menuju ke arah meja makan.

“Panggilan Papa terlalu mewah untukku, Monsieur.”

Martin menghela nafas pelan. Ia sedikit tertunduk dengan wajah yang penuh kegundahan dan kesedihan. “Aku merindukan anakku memanggil sebutan itu.”

“Tapi dia tak pernah menghubungiku sejak kejadian itu,” imbuhnya penuh sesal.

“Haruskah aku mendatangi Madame Elena—”

“Jangan. Yang ada, dia hanya akan semakin membenciku,” sanggah Martin.

Di saat Martin dan Elios baru saja ingin duduk di meja makan untuk menyantap makan malam yang sudah larut, tiba-tiba ada suara gaduh dari luar. Suara derap langkah Andrew yang berlari ke arah ruang makan.

Nafasnya terengah-engah dengan wajah yang pucat. Keringat dingin bermunculan.

“Monsieur De Geulle...,” Andrew panik setengah mati. “Madame Elena dan suaminya, kecelakaan.”

“Di dalam mobil itu ada putri mereka. Dan... kecelakaan itu sangat parah.”

Martin terduduk bersandar di kursi. Ia terdiam mematung sambil memegang dadanya dengan penuh kebingungan. Dadanya mendadak sakit sesaat. Di saat yang sama, Elios menghampiri Martin dan memegang kedua bahu Martin.

“Monsieur!” Elios panik.

“Ambilkan obat! Cepat!” perintahnya pada anak buah.

“El....” Martin memegang lengan Elios. Kedua mata mereka bertatapan dan sama-sama panik. “Aku ingin bertemu Elena.”

“Baik.” Elios langsung memapah tubuh Martin untuk duduk di kursi roda yang baru saja disediakan oleh anak buahnya. Karena di saat seperti ini, Martin tak akan bisa berjalan dengan cepat. Mengingat kondisi kesehatannya yang kian memburuk karena usia.

Elios mendorong kursi roda menuju ke pintu utama, di mana di depannya mobil sudah bersiap untuk membawa mereka ke rumah sakit.

...****************...

“Maaf, Tuan. Nyonya De Geulle dan Tuan Moreau tidak bisa kami selamatkan. Mereka meninggal saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.”

Begitu ucapan itu keluar dari petugas medis, Martin terdiam seribu bahasa. Tak ada satupun ekspresi yang dapat ia keluarkan saat ini. Karena semuanya bercampur aduk menjadi satu kata.

Penyesalan.

“Bagaimana dengan putri mereka?” tanya Elios khawatir.

“Putri mereka selamat. Hanya saja... ia sedikit trauma. Saat ini ia sedang di IGD.”

Elios menoleh ke arah Martin—menunggu aba-aba. Namun Martin masih tak bergeming.

“Kami ingin bertemu dengan Nyonya De Geulle dan Tuan Moreau.”

Permintaan Elios membuat petugas medis membiarkan kedua orang tersebut memasuki ruangan. Saat kain putih yang menutup tubuh kaku itu di angkat, Martin berdiri dari kursi rodanya.

Dan... tangis pria tangguh itu akhirnya pecah tepat di tubuh kaku anak kesayangannya.

Elios menunduk membisu. Ia tahu, seperti apa rasa sakit kehilangan yang sedang Martin rasakan. Ia tahu, sehancur apa hati Martin saat ini. Dan yang bisa ia lakukan, hanyalah menemani pria tua itu menikmati sisa waktu bersama putri kesayangannya yang sudah tak bernyawa.

Usai perpisahan penuh duka itu berlalu, keduanya menghampiri cucu berharga keturunan De Geulle.

Saat memasuki ruang IGD dengan hamparan kasur putih dingin yang kosong, hanya satu kasur yang sedang di tempati oleh pasien. Tepat di pojok ruangan. Dan pasiennya adalah seorang gadis muda yang sedang duduk meringkuk memeluk lutut.

Eleanore Moreau.

Tatapannya nelangsa dan tak bertumpu. Semua trauma dan putus asa tergambarkan di wajah cantik yang teduh itu.

Dan... untuk kedua kalinya, Elios merasakan iba dan simpati kepada seseorang selain Martin De Geulle.

Ia mendorong kursi roda Martin sambil melangkah mendekat ke arah ranjang rumah sakit yang berwarna putih. Lalu... matanya menatap dalam ke arah wajah perempuan yang sampai saat ini ia tak tahu siapa namanya.

“Lea....” Martin memanggil nama cucunya untuk pertama kali. Hatinya penuh, hangat, suka namun tetap diselimuti duka. “Eleanore Moreau....”

“Ini aku... kakekmu.”

...****************...

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!