Indonesia
NovelToon NovelToon

Suamiku Juragan Kerupuk

Chapter 1 - Suami Pengganti

Arisa baru saja selesai dirias. Kecantikannya tambah sempurna saat dia mengenakan gaun pengantin. Gaun putih itu berarak indah sekali.

Arisa tersenyum saat melihat pantulan dirinya di cermin. Ia sudah tak sabar ingin memamerkan kecantikannya pada Marcel, calon suaminya.

"Nah, sekarang kita hanya perlu menunggu dipanggil keluar. Kau cantik sekali!" ujar Nita, si perias pengantin.

"Makasih, Mbak. Ini kan juga karena Mbak yang merias," tanggap Arisa.

Bersamaan dengan itu, ayahnya Arisa datang. Lelaki paruh baya tersebut melengos masuk begitu saja ke dalam kamar.

"Kenapa, Papa?" tanya Arisa.

"Ini loh, Papa mau kenalin Ogi sama kamu. Ayo masuk, Gi!" sahut Fedi sambil membuka lebar pintu.

Mendengar nama Ogi, seketika Arisa memutar bola mata jengah. Bagaimana tidak? Ogi bagaikan nama yang selalu menghantuinya. Fedi sering sekali memuji bagaimana kebaikan dan kerajinan Ogi. Bahkan beberapa kali Fedi menyarankan Arisa untuk menikah dengan Ogi saja. Ogi adalah murid kebanggannya saat masih menjadi dosen di universitas.

"Punten..." sosok bernama Ogi itu muncul. Dia tampak culun dengan rambut klimis, serta kemeja yang dimasukkan ke dalam celana. Namun meskipun begitu, dia terbilang tampan untuk ukuran pemuda dari desa.

"Ini anakku, Arisa." Fedi merangkul Ogi. Membawanya ke hadapan Arisa.

Ogi tak langsung bicara. Dia terdiam sejenak saat menatap Arisa. Seolah dia tersihir dengan kecantikan gadis tersebut.

Berbeda dengan Arisa yang justru tersenyum sumringah. "Hei, Ogi. Aku Arisa. Papa banyak sekali bicara tentangmu. Ogi beginilah, Ogi begitulah. Bahkan saat aku berbuat salah, dia tak jarang membandingkanku denganmu. Aku rasa dia lebih menyayangimu dibandingkan aku," cerocosnya.

"Punten, Neng. Aku Ogi." Ogi tersenyum malu.

"Kau tahu? Papa bahkan menyuruhku menikah denganmu. Gila bukan?" balas Arisa. Sekarang dia merasa sangat bersemangat karena pernikahannya sudah di depan mata.

"Ya, itu gila..." Ogi hanya menjawab seadanya.

Fedi terkekeh. "Sudahlah, Ris. Jangan meracuni Ogi," timpalnya.

Tak lama, teman-teman Arisa berdatangan. Gadis itu sibuk meladeni teman-temannya sejenak. Sementara Ogi di ajak makan oleh Fedi keluar.

Saat menikmati makanan, atensi Ogi tak lepas dari Arisa. Dia terpesona dengan gadis itu. Kecantikannya dan keceriaannya sangat menarik.

Ogi tak tahu kenapa, tapi jantungnya bedebar kencang sekali saat melihat Arisa. Ia tak tahu apakah dirinya mengalami cinta pada pandangan pertama.

...***...

Waktu berlalu, namun calon pengantin pria tak kunjung datang. Itu tentu membuat Arisa panik. Dia lantas menghubungi Marcel. Namun nomornya tidak aktif. Hal serupa juga berlaku dengan nomor keluarganya. Tidak ada kabar sama sekali dari mereka.

Arisa semakin dibuat gelisah saat penghulu mulai menanyakan keberadaan calon pengantin pria. Satu hingga dua jam berlalu, barulah Arisa mendapat pesan dari Marcel.

'Maafkan aku, Ris. Sejak awal kita merencanakan pernikahan, sebenarnya aku sudah ragu. Aku belum siap untuk menikah. Belum siap menanggung beban untuk calon istri yang tak bekerja. Aku jadi semakin mantap dengan pilihanku saat mendengar kalau bisnis papamu sedang di masa sulit. Aku harap kau baik-baik saja. Mengenai semua kerugiannya, biar aku yang tanggung. Selamat tinggal.'

Mata Arisa berkaca-kaca saat membaca pesan itu. Hatinya seketika remuk. Kalimat di surat itu seperti pedang yang menghujam hatinya.

Dengan mudahnya Marcel membatalkan pernikahan di hari H hanya lewat sebuah pesan. Meskipun begitu, Arisa mencoba menahan tangisnya. Dia berusaha kuat. Sekarang ada banyak orang di rumahnya. Menantikan momen sakral dan membahagiakan.

"Aku nggak bisa biarin Marcel menyakitiku begitu saja. Aku juga nggak mau membuat papa malu," gumam Arisa sambil menatap Fedi yang sedang bicara dengan tamu.

"Papa!" Arisa memanggil ayahnya.

Fedi lantas mendatangi Arisa ke kamar. "Ada apa, Nak?" tanyanya.

"Mana Ogi?" tanya Arisa.

"Dia ada di luar. Kayaknya lagi bantu menyajikan makanan tadi," jawab Fedi.

"Suruh dia ke sini, Pa. Aku ingin dia memakai pakaian pengantin," sahut Arisa.

"Apa?!" Fedi sontak kaget. Matanya membulat sempurna.

Arisa mengangguk. "Aku mau menikahinya, Pa!" ungkapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia lalu memaksakan dirinya tersenyum.

Chapter 2 - Resmi Menikah

Ogi yang sibuk mengambilkan piring kotor, mendadak disuruh pergi ke kamar Arisa. Dia pergi saja tanpa mengetahui alasannya. Saat sudah di kamar, Fedi langsung bicara padanya baik-baik.

"Nak, kamu mau nggak menikah sama Arisa?" tanya Fedi.

"A-apa?" Ogi tentu kaget. Dia langsung menatap ke arah Arisa. Gadis itu tampak sedih dan memasang tatapan penuh harap.

"Papa, bisakah kau tinggalkan aku berdua sama Ogi? Aku ingin bicara dengannya," pinta Arisa.

"Ya, tentu saja. Aku akan menunggu di depan pintu." Fedi segera keluar.

Kini tinggal Arisa dan Ogi berdua. Saat itulah Arisa mencoba menjelaskan semuanya pada Ogi. Termasuk alasan kenapa calon mempelai pria tidak datang.

Arisa terlihat berusaha keras untuk tidak menangis. Dia menarik nafas dan mencoba kuat. "Aku hanya nggak mau membuat papaku malu. Aku juga ingin pergi dari kota ini sejenak. Aku janji akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti. Kita akan bercerai di waktu yang tepat," tuturnya.

"Apa kau yakin ingin ikut aku ke tempat tinggalku? Aku tinggal di desa yang jauh dari kota, Neng..." balas Ogi.

"Aku akan lakukan apapun untuk membuang perasaanku pada lelaki sialan itu!" sahut Arisa.

Ogi sempat terdiam untuk sesaat. Membuat Arisa jadi merasa tidak enak.

"Kalau kau tidak mau, nggak apa-apa. Aku nggak mau memaksamu," ucap Arisa.

"Bukan begitu, Neng." Ogi cepat membantah. "Aku mau kok! Mau banget. Sekarang mana pakaian pengantinnya? Aku akan memakainya," lanjutnya.

Senyuman seketika mengembang di wajah Arisa. Dia segera memanggil perias untuk mengambil baju pengantin pria.

Dalam sekejap, akad nikah diucapkan oleh Ogi. Kala itu tentu saja banyak yang bingung dengan digantinya pengantin pria. Namun semua orang tak mau bertanya lebih banyak karena Arisa terlihat bahagia.

Sesi foto dilakukan. Arisa berusaha keras memasang topeng bahagianya. Namun berbeda dengan Ogi yang entah kenapa benar-benar merasa bahagia.

Dari kejauhan Fedi menatap putrinya dan Ogi. Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, dia sebenarnya tahu alasan kenapa Arisa memilih menikah dengan Ogi. Yaitu karena tak mau membuat keluarganya malu. Tapi di sisi lain, Fedi sejujurnya merasa bahagia dan tenang melihat Arisa menikah dengan Ogi.

Fedi sangat mengenal Ogi. Dia yakin, siapapun wanita yang menikah dengan pria itu pasti akan bahagia.

Fedi bisa saja menghentikan pernikahan dadakan itu terjadi. Namun dia memilih membiarkannya. Lalu di hatinya Fedi berharap Arisa dan Ogi akan saling jatuh cinta seiring berjalannya waktu.

Setelah semua tamu pulang, Arisa dan Ogi berganti pakaian. Arisa menyuruh Ogi menunggu di depan. Sementara dia sibuk mengemas pakaian di kamarnya.

Arisa berniat ingin pergi langsung dari kota. Rasanya dia tak sanggup menanggung malu jika terus tinggal di sini.

Dengan perasaan dangkal, Arisa masukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper. Tanpa sepengetahuannya, dari ambang pintu Fedi berdiri.

"Menangis saja, Nak. Jangan ditahan... Jangan malu sama Papa..." ujar Fedi sambil mendekati Arisa.

Seketika tangis Arisa pecah. Dia langsung memeluk erat ayahnya. Arisa juga meminta maaf pada Fedi sambil terisak.

Cukup lama Arisa menangis. Tangisannya bahkan sampai sesegukan. Hatinya rasanya benar-benar sakit. Ia tidak pernah merasakan sakitnya dikhianati sampai seperti ini.

"Kau tidak usah mencemaskanku. Karena aku bahagia melihatmu menikah dengan Ogi," kata Fedi sambil mengelus punggung Arisa.

"Papa!" Arisa melepas pelukan dan menatap kesal ayahnya.

"Dia lelaki yang paling aku percaya. Aku akan pergi dengan tenang kalau kau hidup bersamanya. Mungkin inilah cara Tuhan menjawab doaku, Nak..." sahut Fedi.

"Papa, jangan bicara begitu. Memangnya Papa mau pergi kemana? Justru aku yang harus pergi sekarang," balas Arisa. Dia dan ayahnya kembali berpelukan.

Chapter 3 - Pergi Ke Desa

Setelah menyiapkan barang-barang, Arisa siap berangkat. Dia langsung menemui Ogi yang menunggu di depan bersama Fedi.

"Kalian harusnya tidur dulu semalaman di sini. Nggak capek apa?" tukas Fedi.

"Aku ingin pergi sekarang, Pa. Secepatnya," sahut Arisa.

"Kalau aku ikut Neng Arisa aja atuh, Om..." ucap Ogi.

"Ya sudah. Kalian akan di antar ke terminal sama Pak Doni," kata Fedi.

"Iya, Pa. Papa jaga kesehatan ya." Arisa memeluk Fedi. Dia dan Ogi lantas pamit meninggalkan rumah.

Saat masih di mobil, Arisa terlihat masih tenang. Namun ketika sudah di bus, barulah dia menangis. Meski Arisa melakukannya diam-diam, Ogi yang duduk di sebelah tentu mengetahuinya.

Tanpa bertanya, Ogi mengambil tisu dan menyodorkannya pada Arisa.

"Makasih..." ucap Arisa sambil mengambil tisu. Dia lalu membuang ingusnya. Bunyinya terdengar jelas. Namun keadaan bus kala itu sedang banyak penumpang, jadi suara ingus Arisa tidak begitu menarik perhatian.

Selesai membuang ingus, Arisa kembali lanjut menangis. Ia cukup lama menangis berlarut-larut. Sampai tiba-tiba Arisa mendadak tersedak.

Mendengar itu, Ogi sigap menyodorkan sebotol air. Arisa segera meminum air yang diberikan Ogi.

"Makasih..." kata Arisa lagi. Usai minum, dia mengembalikan botol berisi air pada Ogi.

Ogi mengangguk sambil tersenyum. Ia menerima botol yang dikembalikan Arisa.

Arisa lanjut menangis lagi. Membuat Ogi jadi cemas.

"Sudahlah, Neng... Jangan nangis terus, engke cimata na beak atuh..." tutur Ogi, setengah berbahasa sunda.

"Apaan tuh? Kau ngomong apa?" tanya Arisa yang berhenti menangis sejenak.

Ogi tersenyum. "Artinya, nanti air matanya habis. Ulah ceurik terus atuh, Neng..."

"Oh... Terus itu apa lagi? Kau nggak ngejek aku kan?" tanggap Arisa.

"Artinya jangan nangis terus atuh, Neng..." sahut Ogi.

"Nggak mau! Kau nggak tahu bagaimana rasanya dikhianati. Aku akan menangis di sepanjang perjalanan ini. Biarkan saja air mataku habis... Biarkan saja air mata darah yang keluar..." isak Arisa penuh drama.

"Jangan ngomong begitu atuh, Neng... Nggak malu apa dilihatin orang?" sahut Ogi.

"Biarkan saja! Kalau kau malu, pindah duduk saja sana," balas Arisa.

Ogi lantas tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan. Namun dia tersenyum tipis karena merasa yakin kalau Arisa tidak akan menangis di sepanjang perjalanan. Ogi tahu, perjalanan ini akan berlangsung sangat lama.

Benar saja, setelah dua jam, Arisa berhenti menangis karena kelelahan. "Apa masih jauh, Gi?" tanyanya.

"Lumayan, Neng." Ogi menjawab tenang.

Arisa terdiam dan menengok keluar jendela. Dia tampak kecewa.

"Ngomong-ngomong panggil saja aku Akang gitu. Biar lebih enak di dengarnya atuh, Neng..." pinta Ogi.

"Akang? Kang Ogi?" tanggap Arisa. Dia tampak mengusap wajahnya yang sembab.

Ogi mengangguk.

"Baiklah kalau begitu." Arisa mengerti. Dia terdiam beberapa saat karena terpikirkan sesuatu. Ia berkata, "Kita belum membicarakan kontrak pernikahan. Ayo kita bicarakan sekarang!"

"Terserah, Eneng saja. Aku ikut saja," balas Ogi. Nada bicaranya selalu ramah dan hangat. Membuat Arisa merasa nyaman meski baru mengenalnya.

"Oke. Pertama, aku nggak mau disentuh. Jadi nggak ada yang namanya malam pertama bagi kita ya. Kalau kau berani menyentuhku, aku akan lapor polisi!" ujar Arisa dengan ekspresi galak.

Namun Ogi tersenyum melihatnya. Sama sekali tak membuatnya takut. Menurutnya Arisa malah terlihat lucu.

"Kenapa kau senyum? Aku lagi bicarain masalah serius loh ini, Akang!" tegur Arisa.

Ogi langsung merubah wajahnya jadi datar. "Maaf. Urang jangji moal noel, Eneng! (Aku janji nggak akan menyentuh, Eneng!)"

"Nah ini nih satu lagi. Jangan pakai bahasa asing terus pas bicara sama aku. Pakai Bahasa Indonesia. Bahasa kesatuan!" omel Arisa sambil melipat tangan di depan dada.

"Bukan bahasa asing, Neng. Tapi ini bahasa sunda atuh..." ralat Ogi.

"Mau bahasa asing, sunda, atau alien. Pokoknya pakai Bahasa Indonesia pas bicara sama aku. Awas aja kalau ketahuan mengejekku pakai bahasa sunda," timpal Arisa.

"Neng Arisa bisa mempercayaiku," sahut Ogi mantap. Sungguh, dia merasa gemas pada sikap blak-blakkan Arisa. Rasanya dia semakin menyukai gadis itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!