Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Prolog

Hujan baru saja berhenti, menyisakan jalanan aspal yang basah dan udara dingin yang menusuk sampai ke tulang. Lampu teras rumah Arsy Raihana Syahira menyala temaram, menerangi halaman depan yang malam itu berubah menjadi saksi runtuhnya hidup seseorang.

Arsy berdiri di sana dengan napas tersengal, matanya memerah, dan tangannya yang gemetar menahan sesuatu yang rasanya hampir meledak di dadanya. Di hadapannya berdiri dua orang yang paling ia percaya.

Radit Pradana, calon suaminya. Lelaki yang seharusnya menjadi imam yang menggenggam tangannya di hadapan penghulu untuk mengucap janji suci. Dan Nadira Anindya, sahabat yang sudah Arsy anggap seperti saudara sendiri. Namun malam ini, keduanya berdiri berdampingan bukan sebagai dua orang yang akan membantu Arsy dalam mempersiapkan hari bahagianya melainkan sebagai dua pengkhianat yang dengan satu kesalahan, berhasil meruntuhkan seluruh kepercayaan Arsy.

Nadira berdiri terlalu dekat dengan Radit yang membuat bahu mereka hampir bersentuhan. Sementara Radit menghela napas berat, menoleh sebentar ke arah Nadira yang menunduk malu, lalu kembali menatap Arsy dengan ekspresi yang datar tanpa ada rasa bersalah.

Pandangan Arsy mengabur karena air matanya yang berusaha ia tahan supaya tidak jatuh.

“Jelasin.” Suaranya terdengar lirih hampir tak terdengar tapi cukup untuk membuat Radit mengangkat wajahnya. “Jelasin sekarang apa yang sudah terjadi diantara kalian berdua.” ulang Arsy yang kali ini terdengar lebih tegas, meski tenggorokannya terasa terbakar.

Radit menghela napas panjang, seperti seseorang yang lelah menghadapi masalah sepele. Bukan seperti pria yang baru saja ketahuan berselingkuh.

“Kamu udah lihat sendiri, kan? Gue jalan sama Nadira, yang artinya gue dan Nadira memang ada hubungan.” kata Radit dengan datar.

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada bantahan apa pun. Arsy tertawa kecil. Tawa yang terasa getir bagi siapapun yang mendengarnya.

“Jadi aku nggak salah lihat? Kalian berdua udah selingkuh di belakang aku.” kata Arsy dengan gemetar.

Nadira menunduk. Tangannya saling meremas. Bahunya bergetar, ia tak percaya kalau Arsy telah memergoki hubungannya dengan Radit.

“Arsy… A-aku bisa jelasin semuanya,” suara Nadira gemetar. “Aku bersumpah, ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”

“DIAM.”

Arsy menoleh cepat. Tatapannya tajam. Air matanya menggenang di sudut matanya, tapi ia berusaha untuk menahannya supaya tidak jatuh.

“Kamu jangan lagi memanggil nama aku dengan mulutmu yang kotor itu.” ucap Arsy pelan namun mengancam. “Kamu nggak punya hak.”

Nadira terisak setelah dibentak oleh Arsy, tapi Radit justru melangkah maju dihadapan Nadira seolah olah ia siap melakukan apapun untuk melindungi Nadira dari kemarahan Arsy.

“Jangan bentak dia,” sahut Radit dengan dingin. “Ini bukan salah Nadira, tapi aku. Aku yang sudah meminta Nadira untuk menjadi pacarku.”

“Oh,” Arsy mengangguk pelan. “Sekarang kau terang terangan mengakui hubunganmu dengan Nadira dihadapan ku sendiri?”

Radit terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil.

“Iya.”

Satu kata itu cukup membuat dunia Arsy runtuh.

“Kalian…” Arsy menelan ludah. “Kalian berdua benar benar sangat keterlaluan. Tega teganya kalian melakukan ini padaku. Apa salahku pada kalian, HAH?!”

Radit tak langsung menjawab. Ia justru melirik sekitar, ke arah rumah-rumah tetangga, ke orang-orang yang pura-pura sibuk tapi jelas jelas tengah menguping pertengkaran mereka. Wajah Arsy memanas.

"Aku calon istri kamu, Radit. Aku yang nemenin kamu dari nol sampai kamu sukses dan diterima jadi dokter. Aku yang selalu kamu cari tiap kamu butuh sesuatu. Aku yang—”

“Cukup." Potong Radit yang nada suaranya membuat Arsy terdiam. “Aku nggak pernah minta kamu buat ngelakuin itu semua,” lanjut Radit. “Kamu sendiri yang mau melakukannya.”

Kalimat itu seperti tamparan keras di wajah Arsy.

“Jadi sekarang aku yang salah?” tanya Arsy nyaris berbisik dan membuat Radit mengangkat bahu.

“Aku cuma berkata jujur.”

Arsy menggeleng, tertawa kecil sambil mengusap wajahnya.

“Jujur?” ulang Arsy “Jujur yang mana, Radit? Jujur karena kamu mengakui telah berselingkuh atau jujur karena kamu malu untuk mengakui semua yang telah aku lakukan untuk membuatmu sampai di posisi saat ini?”

Radit menatap Arsy lurus lurus. Ia tanpa ragu mengakui perselingkuhannya dengan Nadira di depan semua orang.

“Yang sekarang.”

Keheningan menyergap. Arsy merasa lututnya lemas. Tapi ia memilih untuk bertahan. Ia menolak jatuh di hadapan Radit dan Nadira.

“Kenapa?” tanya Arsy akhirnya. “Kenapa kalian tega ngelakuin ini ke aku?”

Radit menghela napas, jelas tak sabar meluapkan semua pikirannya selama ini.

“Karena aku nggak cinta sama kamu, Arsy.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Radit tanpa rasa empati dan bersalah. Membuat perasaan Arsy semakin ditusuk semakin dalam. Arsy menatap Radit dengan tatapannya yang kosong. Ia tak percaya kalau laki laki yang selama ini ia anggap mencintainya, ternyata tidak mencintainya.

“Apa?”

“Aku nggak pernah cinta sama kamu, Arsy.” ulang Radit. “Aku setuju nikah sama kamu cuma karena orang tua aku yang minta aku buat nikahin kamu. Mereka suka sama kamu dan keluarga kamu. Dan aku hanya menuruti permintaan mereka.”

Air mata Arsy akhirnya jatuh juga setelah mendengar pengakuan menyakitkan dari Radit.

“Terus aku ini kau anggap apa, Radit?” suara Arsy pecah. “Boneka? Pajangan?”

“Anggap aja gitu,” jawab Radit ringan yang membuat Nadira tersentak.

“Radit—”

“Nadira tolong, tolong jangan hentikan aku buat kasih tahu ke perempuan ini. Aku capek pura-pura terus. Apa kau tahu Arsy, sejak aku sama Nadira, aku ngerasa lebih hidup.”

Kalimat itu menghancurkan sisa hati Arsy. Arsy menoleh ke Nadira. Tatapannya penuh dengan luka.

“Kamu tahu nggak Nadira, Aku selalu cerita semuanya ke kamu. Entah itu masalah aku sama Radit. Ketakutan aku. Bahkan rencana pernikahan aku. Kamu tau aku sayang sama kamu, aku anggap kamu seperti saudara aku sendiri. Tapi apa balasan kamu ke aku? Kamu justru balas semua kasih sayang dan kepercayaan aku dengan selingkuh sama calon suami aku.” pinta Arsy dengan lirih.

Nadira menangis.

“Aku jatuh cinta, Arsy… Aku nggak bermaksud merebut Radit dari kamu. Aku berusaha menjauh dari Radit, tapi aku nggak bisa.”

Beberapa tetangga mulai berbisik lebih keras. Nama Arsy terdengar di antara mereka. Membuat Radit mengusap wajahnya, lalu berkata lantang dan sengaja meninggikan suaranya.

“Udah cukup. Aku rasa nggak ada lagi yang perlu dipertahanin.”

Jantung Arsy berdetak kencang.

"Apa maksud ucapan kamu ini, Radit?" Tanya Arsy yang membuat Radit menatap Arsy tanpa ragu.

“Lebih baik kita batalkan pernikahan ini.”

Kalimat itu menggema di udara malam. Beberapa tetangga terdengar menarik napas kaget. Sementara Arsy merasakan kakinya lemas setelah Radit dengan sepihak membatalkan pernikahan diantara mereka.

“Kamu… kamu ngomong apa Radit?” tanya Arsy dengan terbata-bata.

“Aku bilang kita batalkan saja pernikahan ini,” ulang Radit. “Aku nggak mau nikah sama perempuan yang nggak aku cintai.”

Kalimat itu masih menggantung di udara malam ketika suara pintu rumah Arsy terdengar terbuka. Suara itu tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Arsy menoleh.

Bab 1

Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu dengan tubuh sedikit membungkuk. Rambutnya sudah mulai memutih di beberapa bagian, wajahnya tampak pucat, dan langkahnya tidak lagi setegap dulu. Namun sorot matanya—mata yang selama ini selalu memandang Arsy dengan penuh kasih, kini dipenuhi kebingungan. Pria paruh baya itu tak lain adalah ayah Arsy.

Pak Rahman Syahira.

Sejak tadi, dari dalam rumah, ia mendengar suara pertengkaran. Awalnya ia mengira hanya kesalahpahaman kecil. Namun satu kalimat yang diucapkan Radit barusan, yang ingin membatalkan pernikahannya dengan Arsy terdengar terlalu jelas untuk diabaikan oleh pak Rahman.

“Ada apa ini?” tanya pak Rahman yang suaranya terdengar lemah, tapi tegas.

Semua mata termasuk para tetangga yang sejak tadi pura-pura sibuk langsung tertuju padanya. Arsy membeku.

“Ayah…” lirihnya. Suaranya bergetar hebat.

Pak Rahman melangkah turun dari teras. Pandangannya beralih dari Arsy ke Radit, lalu ke Nadira yang berdiri sedikit di belakang Radit. Wajah Nadira tampak panik, sementara Radit justru memasang ekspresi datar seperti sebelumnya.

Pak Rahman berhenti tepat di depan Radit.

“Apa yang barusan kamu katakan, Radit?” tanya pak Rahman pelan, namun penuh tekanan. “Ayah dengar kamu bilang ingin membatalkan pernikahan?”

Radit tidak langsung menjawab. Ia menoleh sebentar ke arah Arsy, lalu kembali menatap Pak Rahman.

“Iya, Pak,” jawab Radit akhirnya. “Saya mau membatalkan pernikahan saya dengan Arsy.”

Pak Rahman merasakan tenggorokannya tercekat setelah mendengar sendiri permintaan Radit yang ingin membatalkan pernikahannya dengan Arsy.

“Radit, apa yang kamu katakan ini? Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?” tanya pak Rahman yang kali ini sedikit lebih keras. “Pernikahan itu bukan main-main. Apalagi pernikahan kalian tinggal hitungan hari. Undangan sudah disebar. Keluarga besar sudah tahu.”

Radit menghela napas, seperti orang yang sedang dijatuhi nasihat yang menurutnya tidak lagi penting.

“Saya sadar apa yang saya katakan ini, pak.”

Pak Rahman menggeleng pelan, mencoba mencerna semua yang ia dengar.

“Apa alasannya?”

Arsy menatap ayahnya dengan matanya yang basah. Hatinya menjerit ingin menghentikan semua ini. Ia tidak sanggup melihat ayahnya berdiri di tengah keributan seperti ini, ayah yang seharusnya ia jaga, bukan ia lukai. Namun Radit justru membuka mulutnya lagi.

“Saya sudah nggak menginginkan pernikahan ini, Pak.”

Pak Rahman terdiam beberapa detik.

“Kamu… kamu pasti bercanda, kan?” tanyanya pelan. “Radit tolong katakan padaku kalau semua ini tidak benar?”

Radit menggeleng.

“Tidak pak, saya tidak sedang bercanda.”

“Kamu ini calon suami Arsy,” suara Pak Rahman mulai bergetar. “Anak saya. Kamu datang ke rumah ini, melamar dengan baik-baik. Kamu berjanji akan menjaga dan menikahi dia.”

Radit menoleh sebentar ke arah Nadira, lalu kembali menatap Pak Rahman.

“Tolong maafkan saya, Pak. Saya nggak pernah mencintai Arsy.”

Kalimat itu membuat Arsy menutup mulutnya dengan tangan. Tangisnya pecah tanpa suara. Sementara pak Rahman membeku.

“Apa…?” suaranya nyaris tak terdengar.

“Saya menerima pernikahan ini dulu karena permintaan orang tua saya,” lanjut Radit tanpa ragu. “Bukan karena saya mencintai Arsy.”

Wajah Pak Rahman semakin pucat.

“Lalu sekarang?” tanyanya lirih.

“Saya mencintai perempuan lain,” jawab Radit. “Dan perempuan itu adalah Nadira.”

Nama itu jatuh seperti palu godam di dada pak Rahman. Pak Rahman tanpa sadar mundur selangkah ke belakang. Dadanya terasa sesak. Napasnya mendadak pendek. Ia menoleh ke arah Nadira—perempuan yang selama ini sering datang ke rumahnya, yang sering ia sambut dengan ramah karena mengira dia sahabat baik putrinya.

“Kamu?” gumam Pak Rahman, nyaris tak percaya.

Nadira menunduk. Tangisnya pecah setelah bertemu dengan pak Rahman.

“Maafkan saya, Om…”

Pak Rahman menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Dunia di sekitarnya seperti berputar. Ia lalu menoleh ke arah Arsy, putrinya. Arsy berdiri dengan tubuh gemetar, wajahnya basah oleh air mata, bahunya naik turun menahan tangis. Tatapan Arsy kosong, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sakit hingga akhirnya kehabisan tenaga.

Dan semua itu disaksikan oleh tetangga-tetangga mereka. Pak Rahman merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat.

“Arsy…” panggilnya lirih.

Arsy menoleh dan membuat mata mereka bertemu. Di mata putrinya, Pak Rahman melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, kehancuran. Dan saat itu, rasa sakit di dadanya tiba-tiba datang tanpa peringatan.

“Ah—”

Pak Rahman refleks memegangi dada kirinya.

Napasnya terhenti sesaat. Pandangannya menggelap.

“Ayah?” Arsy panik.

Pak Rahman mencoba berdiri tegak, tapi lututnya melemah. Rasa nyeri itu semakin kuat, menjalar hingga ke lengan dan rahangnya.

“Ayah, kenapa?” suara Arsy mulai meninggi.

Pak Rahman terhuyung.

“Pak Rahman!” teriak salah satu tetangga yang saat ini tengah menghampiri pak Rahman.

Namun tubuh Pak Rahman sudah lebih dulu ambruk ke tanah.

“AYAH!”

Arsy berlari secepat yang ia bisa. Ia berlutut di samping ayahnya dan memeluk tubuh pria itu yang kini terbaring tak bergerak.

“Ayah bangun, Ayah… tolong bangun…” tangis Arsy pecah. “Ayah jangan buat Arsy takut, Ayah… Arsy mohon…”

Tangan Arsy gemetar saat mengguncang bahu ayahnya. Sekeliling mereka mendadak riuh. Tetangga-tetangga berteriak panik. Seseorang menyuruh memanggil ambulans. Yang lain berlari masuk ke rumah untuk mengambil minyak kayu putih untuk diberikan kepada pak Rahman. Sementara Radit berdiri terpaku di tempatnya.

Keributan di depan rumah itu belum sepenuhnya reda ketika tubuh Pak Rahman sudah terbaring tak sadarkan diri di atas tanah yang masih basah oleh sisa hujan. Arsy masih berlutut di samping ayahnya, kedua tangannya menggenggam erat tubuh pria yang sejak kecil menjadi dunianya itu.

“Ayah… Ayah dengar Arsy, kan?” panggil Arsy dengan parau. Dadanya naik turun tak beraturan. “Ayah jangan gini, Ayah… tolong…”

Namun Pak Rahman tetap diam. Matanya terpejam. Wajahnya semakin pucat, bahkan bibirnya terlihat kebiruan. Rasa panik mulai menjalar di dada Arsy seperti api yang membakar pelan tapi pasti. Tangannya terlihat gemetar saat memeriksa detak jantung ayahnya. Tapi yang ia rasakan hanya rasa dingin yang perlahan menjalar.

“Kenapa ambulansnya belum datang?” teriak seseorang di antara kerumunan tetangga.

“Sudah ditelepon! Katanya lagi di jalan!” sahut yang lain.

Arsy sudah tidak peduli lagi pada suara-suara itu. Dunia saat itu seperti menyempit hanya berisi dirinya dan ayahnya yang tergeletak lemah. Lalu, di tengah kekacauan itu, Arsy teringat satu hal. Radit.

Dengan napas tersengal, Arsy mengangkat kepalanya. Matanya yang basah langsung menemukan sosok Radit yang masih berdiri tak jauh dari mereka. Lelaki itu berdiri dengan tangan terlipat di dada, ekspresinya datar, seolah semua yang terjadi bukan urusannya. Dan di sampingnya ada Nadira, Sahabat yang dulu sering berbagi suka dan duka bersamanya. Sesuatu di dalam dada Arsy pecah.

Ia bangkit berdiri dengan gerakan kasar, meninggalkan ayahnya yang kini dijaga oleh beberapa tetangga. Langkahnya goyah, tapi kemarahan menopang tubuhnya.

Bab 2

“Kamu puas sekarang?” suara Arsy bergetar, tapi cukup keras untuk membuat Radit menoleh. “Kamu puas lihat ayahku kayak gini?!”

Radit menatap Arsy sekilas. Tatapannya kosong. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah.

“Arsy, jangan mulai lagi deh,” katanya datar.

“Jangan mulai?” Arsy tertawa kecil, tapi tawanya terdengar patah. “Ayahku jatuh pingsan di depan mata kamu, Radit! Itu semua karena kamu! Karena ucapan kamu!”

Radit menghela napas, seperti sedang menghadapi drama yang melelahkan.

“Itu bukan salah aku,” jawab Radit santai. “Aku cuma berkata jujur kepada ayah kamu.”

Arsy mengepalkan tangannya. Kukunya menancap di telapak tangan sendiri.

“Jujur?” suaranya meninggi. “Kamu pikir kejujuran kamu itu nggak ada akibatnya? Ayahku punya riwayat jantung, Radit! Kamu tahu itu! Kamu sering datang ke rumah ini, dan kamu tahu kondisinya!”

Radit mengangkat bahu.

“Itu urusan keluarga kamu,” kata Radit tanpa ragu. “Aku nggak pernah minta ayah kamu untuk ikut campur.”

Kalimat itu menghantam Arsy lebih keras daripada apapun. Beberapa tetangga yang mendengar langsung terdiam. Ada yang menggeleng tak percaya. Ada yang berbisik geram.

“Radit! Kamu manusia atau bukan?!” teriak Arsy yang membuat Radit menatap Arsy dengan dingin.

“Arsy please, nggak usah drama seolah Lo yang paling tersakiti disini deh. Hubungan kita sudah selesai. Jangan tarik aku ke dalam urusan yang bukan jadi tanggung jawab aku.”

Arsy mendekat satu langkah. Matanya merah, wajahnya basah oleh air mata yang terus mengalir.

“Kalau ayahku kenapa-kenapa,” ucapnya pelan tapi penuh ancaman, “aku nggak akan pernah maafin kalian. Sampai kapan pun.”

Radit menatap Arsy beberapa detik. Lalu, tanpa ekspresi apa pun, ia mengalihkan pandangannya ke Nadira.

“Ayo Nadira, kita pergi dari sini sekarang.” katanya singkat.

Nadira terlihat ragu. Matanya sempat melirik ke arah Pak Rahman yang masih terbaring, lalu ke arah Arsy yang hancur. Namun keraguan itu hanya berlangsung sesaat. Radit mengulurkan tangannya. Dan Nadira menerimanya. Tangan mereka saling menggenggam. Pemandangan itu membuat dada Arsy terasa diremas lebih kuat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah.

“Pergi!!!” ucap Arsy lirih, suaranya pecah. “Pergi jauh jauh dari hidup aku.”

Radit tidak menjawab. Ia langsung menarik Nadira berjalan menjauh dari halaman rumah Arsy. Langkah mereka mantap, seolah tak ada apa pun yang perlu mereka sesali. Bisik-bisik tetangga semakin ramai. Namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Radit maupun Nadira yang mantap meninggalkan Arsy dan juga kondisi yang dialaminya saat ini.

“Ya Allah, tega banget mereka...”

“Itu cewek sahabatnya sendiri, kan?”

“Kasihan Arsy…”

Nadira menunduk, tapi tetap berjalan mengikuti Radit. Ia tidak menoleh lagi. Tidak sekali pun. Dan malam itu, di bawah lampu teras yang redup, Arsy melihat dua orang yang paling ia percaya berjalan pergi, meninggalkannya dalam kehancuran yang bahkan belum sempat ia pahami sepenuhnya.

Suara sirene ambulans akhirnya terdengar dari kejauhan. Arsy tersentak. Ia langsung berbalik dan berlari kembali ke arah ayahnya.

“Ambulans! Ambulansnya datang!” teriak seseorang.

Mobil putih itu berhenti tepat di depan rumah Arsy. Dua orang petugas medis turun dengan cepat, membawa tandu dan peralatan darurat.

“Apa yang terjadi?” tanya salah satu petugas.

“Serangan jantung!” jawab tetangga yang lain.

“Tiba-tiba ambruk!”

Petugas medis segera memeriksa kondisi Pak Rahman. Salah satu dari mereka memasang alat di dada Pak Rahman, sementara yang lain mengecek denyut nadi dan tekanan darahnya. Arsy berdiri di samping mereka, tubuhnya gemetar.

“Pak… Ayah saya kenapa, Pak?” tanya Arsy dengan panik.

“Kami akan bawa beliau ke rumah sakit sekarang,” jawab petugas itu cepat tapi tenang. “Mohon beri kami jalan.”

Pak Rahman segera diangkat ke atas tandu yang membuat Arsy memegang tangan ayahnya dengan erat dan enggan untuk melepaskan.

“Saya ikut pak!” katanya cepat dan membuat petugas medis itu mengangguk. “Silakan.”

Tanpa berpikir panjang, Arsy naik ke dalam ambulans bersama ayahnya. Pintu belakang ditutup, dan sirene kembali meraung, memecah keheningan malam. Di dalam ambulans, cahaya lampu putih ambulans yang terang membuat wajah pak Rahman terlihat semakin pucat. Arsy duduk di samping tandu, menggenggam erat tangan ayahnya dengan kedua tangannya.

“Ayah…” suaranya bergetar. “Maafin Arsy, Ayah…” Air mata Arsy jatuh satu per satu ke punggung tangan ayahnya. “Kalau Arsy nggak keras kepala, kalau Arsy nggak maksa nikah, Ayah nggak akan lihat semua ini.” ia terisak. “Ayah jangan ninggalin Arsy, Arsy cuma punya Ayah.”

Petugas medis bekerja cepat. Ada yang memeriksa monitor, ada yang menyiapkan oksigen. Bunyi alat-alat medis terdengar bersahut-sahutan, menambah rasa takut di dada Arsy. Namun Pak Rahman tetap tidak sadarkan diri. Tangan ayahnya terasa dingin di genggamannya.

“Ayah, dengerin Arsy, ya…” Arsy mendekatkan wajahnya. “Ayah kuat. Ayah selalu kuat. Kali ini juga ayah harus kuat.”

Ambulans melaju kencang, lampu sirene memantul di dinding-dinding jalanan kota yang sepi. Arsy menatap wajah ayahnya tanpa berkedip, seolah takut jika ia mengalihkan pandangan sedetik saja, sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Ayah… jangan tinggalin Arsy…” bisik Arsy berulang kali, seperti doa yang ia panjatkan dengan putus asa.

Namun tak ada jawaban. Dan di dalam ambulans yang melaju menuju rumah sakit itu, Arsy menyadari satu hal dengan menyakitkan, kalau malam ini ia bukan hanya kehilangan calon suami atau sahabatnya, tetapi juga hampir kehilangan seseorang yang menjadi dunianya.

Mobil ambulans seketika berhenti ketika mobil itu berhenti mendadak di depan pintu rumah sakit. Lampu-lampu rumah sakit yang terang menusuk mata Arsy yang sejak tadi hanya mengenal gelap dan ketakutan.

“Cepat bawa pasien ini ke IGD! Pasien mengalami serangan jantung!” teriak petugas medis yang suaranya menggema begitu pintu ambulans dibuka.

Arsy tersentak. Pegangannya pada tangan ayahnya semakin menguat, seolah takut jika lelaki itu akan menghilang begitu saja jika ia melepaskannya walau sedetik. Namun petugas bergerak cepat. Tandu diturunkan dan membuat roda-roda besinya berbunyi nyaring saat didorong masuk ke dalam lorong

IGD.

“Ayah… Ayah mau dibawa ke mana?” suara Arsy terdengar serak, nyaris tak terdengar.

“Kami akan membawa pak Rahman ke ruang IGD, Mbak,” jawab salah satu perawat sambil terus berjalan. “Mohon tenang, ya.”

Tenang.

Kata itu terasa seperti lelucon pahit di telinga Arsy. Ia berjalan cepat mengikuti tandu ayahnya dan hampir berlari. Tangannya tak pernah lepas dari pinggiran tandu, matanya tak pernah meninggalkan wajah Pak Rahman yang terbaring tak sadarkan diri dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya.

Lorong IGD terasa panjang. Bau antiseptik menusuk hidung. Suara langkah kaki, bunyi alat medis, dan teriakan petugas medis bersahut-sahutan, menambah rasa sesak di dada Arsy.

Begitu sampai di depan sebuah pintu dengan tulisan RUANG TINDAKAN – IGD, tandu Pak Rahman berhenti mendadak.

“Maaf, Mbak,” kata seorang perawat sambil menahan langkah Arsy. “Sampai di sini saja. Keluarga tidak diperbolehkan masuk.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!