Sore itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit mendung menggantung rendah, membiarkan rintik hujan mulai membasahi kaca jendela apartemen mewah di lantai 22 tersebut. Di dalam unit itu, kehangatan justru terpancar dari sosok Hana Anindita.
Hana baru saja kembali dari pusat perbelanjaan. Meski perutnya yang berusia tujuh bulan membuatnya cepat lelah, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Ia baru saja membeli sepasang sepatu bayi mungil berwarna putih bersih dengan aksen pita biru kecil di bagian samping. Sepatu itu begitu kecil, hingga Hana bisa menggenggam keduanya hanya dengan satu telapak tangan.
"Anak kita pasti sangat tampan saat memakainya," bisik Hana pelan sembari mengelus perut buncitnya.
Suara pintu depan yang terbuka membuat jantung Hana berdesir senang. Bima pulang lebih awal. Hana segera bangkit, merapikan daster hamilnya yang berbahan sutra, dan berjalan menyambut suaminya.
Bima Erlangga melangkah masuk dengan wajah yang lebih dingin dari hujan di luar sana. Dasinya sudah dilonggarkan, jasnya tersampir sembarangan di lengan kiri. Tidak ada sapaan, tidak ada kecupan di kening seperti biasanya.
"Mas Bima sudah pulang? Mau mandi dulu atau mau minum?" tanya Hana lembut, mencoba mengabaikan aura dingin yang dibawa suaminya.
Bima tidak menjawab. Ia justru melempar tas kerjanya ke atas sofa kulit, lalu duduk dengan menyandarkan kepala. Matanya terpejam, tapi rahangnya mengeras.
Hana mendekat, membawa kotak sepatu kecil yang tadi ia beli. "Mas, lihat ini. Aku tadi pergi ke toko perlengkapan bayi. Bukankah ini lucu? Aku membayangkan dia menendang-nendang kecil saat memakainya nanti."
Hana menyodorkan sepatu mungil itu tepat di depan wajah Bima. Ia berharap Bima akan tersenyum, mengelus perutnya, atau setidaknya memberikan sedikit perhatian pada calon putra mereka. Namun, yang terjadi justru di luar nalar.
Bima membuka mata. Bukannya binar bahagia, yang ada hanyalah tatapan muak. Dengan kasar, Bima menepis tangan Hana. Sepatu mungil itu terlepas dari genggaman Hana dan jatuh ke lantai, terpisah begitu saja di dekat kaki meja.
"Jangan bahas soal anak itu terus, Hana. Aku muak," suara Bima rendah, namun tajam bagai sembilu.
Hana terpaku. Ia mematung, menatap sepatu yang tergeletak di lantai. "Mas... ada apa? Apa ada masalah di kantor? Kenapa bicara begitu?"
Bima berdiri, membuat Hana harus mendongak untuk menatap mata suaminya. "Masalahnya bukan di kantor. Masalahnya ada di sini. Di rumah ini. Di pernikahan ini."
Bima merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan melemparkannya ke atas meja. "Aku ingin kita selesai."
Jantung Hana seolah berhenti berdetak. "Selesai? Apa maksudmu, Mas?"
"Aku ingin kembali pada Clarissa," ucap Bima tanpa ragu. Nama itu terucap dengan begitu penuh kerinduan, berbanding terbalik dengan cara ia menatap istrinya sendiri. "Dia sudah kembali. Dia membutuhkanku. Dan jujur saja, selama dua tahun ini, aku terus mencoba mencintaimu, Hana. Tapi nyatanya, aku gagal. Aku tetap menginginkan dia."
Hana merasa dunianya seolah runtuh. Oksigen di sekitarnya mendadak hilang. "Lalu... bagaimana denganku? Bagaimana dengan bayi ini? Kamu yang memintaku berhenti bekerja agar fokus menjaga kandungan, kamu yang bilang ingin membangun keluarga kecil yang bahagia..."
"Itu sebelum Clarissa kembali!" potong Bima keras. "Aku tidak mau berbelit-belit. Aku tidak mau menunggu sampai anak itu lahir. Semakin lama aku di sini, aku merasa semakin terpenjara."
Bima menarik napas panjang, menatap Hana dengan sorot mata penuh tantangan. Ia mengharapkan reaksi yang biasa ia lihat di drama televisi atau yang ia bayangkan semalaman.
Bayangan di mana Hana yang akan menangis histeris, bersimpuh di kakinya, memohon-mohon demi janin yang ia kandung, atau setidaknya memaki-makinya dengan amarah yang meluap.
Bima sudah menyiapkan tameng egonya. Ia ingin merasa dibutuhkan, ingin merasa bahwa ia adalah pusat semesta Hana yang jika ia pergi, maka Hana akan hancur lebur.
Namun, keheningan menyergap.
Hana tidak menangis. Tak ada air mata yang jatuh membasahi pipinya yang pucat. Ia hanya berdiri mematung, menatap lurus ke dalam bola mata Bima. Tatapannya kosong, namun sangat dalam. Seolah-olah saat itu juga, Hana sedang menghapus setiap inci kenangan tentang Bima dari kepalanya.
Satu menit berlalu. Dua menit. Hana tetap diam membeku.
Bima mulai merasa tidak nyaman. "Kenapa diam? Marah? Maki aku! Bilang kalau aku jahat! Ayo, teriak!" Bima berteriak, mencoba memprovokasi istrinya.
Hana masih diam. Keheningan itu justru terasa lebih mengerikan daripada teriakan bagi Bima. Keheningan yang menunjukkan bahwa Hana tidak lagi menganggap kata-kata Bima berharga untuk ditanggapi.
"Kau dengar tidak?" Bima mencengkeram bahu Hana, mengguncangnya sedikit. "Aku menceraikanmu! Aku menjatuhkan talak padamu sekarang juga! Pergi dari hidupku dan kembali ke keluargamu. Aku akan urus semua dokumennya lewat pengacara."
Hana melepaskan cengkeraman tangan Bima dari bahunya dengan gerakan yang sangat tenang, nyaris mekanis. Ia membungkuk, mengambil kembali dua sepatu bayi yang tadi terjatuh. Ia mengusap debu imajiner yang menempel di sana dengan ujung jarinya.
"Hanya itu?" suara Hana keluar. Datar. Tanpa getaran.
Bima terperangah. "Apa?"
Hana menatap Bima kembali. Kali ini ada sedikit kilatan di matanya, bukan cinta, melainkan rasa jijik yang murni. "Hanya itu alasanmu? Karena wanita dari masa lalu?"
"Dia bukan sekadar wanita masa lalu, dia cintaku!" bela Bima, meski dalam hatinya ia merasa aneh karena Hana tidak menunjukkan kerapuhan.
Hana mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau itu yang kamu inginkan. Terima kasih sudah mengatakannya sekarang, sebelum aku membuang lebih banyak waktu untuk mencintai orang yang salah."
Hana berbalik, berjalan menuju kamar tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya tegak, meski perutnya berat. Tidak ada isak tangis, tidak ada bahu yang berguncang.
Bima berdiri mematung di ruang tamu. Ia merasa kalah. Harusnya ia yang merasa menang karena telah melepaskan beban, tapi melihat ketenangan Hana, ego Bima justru terasa tercabik.
Ia ingin Hana memohon, ia ingin Hana menangis agar ia bisa merasa kuat dengan memberikan belas kasihan.
Tapi Hana justru memberinya kesunyian yang mematikan.
Di dalam kamar, Hana menutup pintu dengan perlahan. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu. Tangannya menggenggam sepatu bayi itu begitu erat hingga kukunya memutih. Barulah di sana, dalam kesendirian, satu tetes air mata jatuh. Hanya satu.
Ia mengusap perutnya. "Jangan takut, Sayang. Ayahmu mungkin sudah mati hari ini. Tapi ibu akan menjadi duniamu." lirihnya dalam hati.
Di luar, Bima menendang meja kopi dengan kesal. "Sial! Kenapa dia bersikap seolah aku tidak penting?!" umpatnya.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang menangis, sebuah janji suci telah dibunuh dengan dingin. Bima tidak tahu, bahwa dengan menjatuhkan talak tersebut, ia bukan hanya kehilangan seorang istri, tapi ia baru saja menutup pintu surga yang selama ini Hana bukakan untuknya setiap hari.
...----------------...
To Be Continue...
**Apa kabar, Sahabat NovelToon?**
**Aku hadir lagi dengan cerita yang lebih berani dan emosional. Kali ini, aku ingin mengajak kalian masuk ke dalam kisah Hana, dan merasakan dinginnya talak yang diucapkan Bima.**
**Jangan lupa tinggalkan jejak, karena komentar kalian adalah energi bagiku untuk menyelesaikan perjalanan panjang ini hingga episode terakhir.**
**Selamat membaca semuanya, i love u sekebon buat kalian semua. Sampai jumpa di Up selanjutnya...**
**See You. ❤️🤗**
"Selamat datang di lembaran baru yang akan mengaduk emosi kalian. Pernahkah kalian merasa berada di titik terendah, tepat saat kalian membawa harapan baru di dalam rahim? Kisah ini bukan sekadar tentang perpisahan, tapi tentang harga diri seorang wanita yang diinjak-injak oleh pria yang ia panggil 'Rumah'. Siapkan hati kalian, karena perjalanan Hana dimulai dari sini..."
.
.
Lampu gantung di ruang tengah apartemen itu tampak berpijar redup, seolah turut kehilangan gairah setelah badai talak yang baru saja dilepaskan Bima. Udara terasa tipis dan mencekam. Hana masih berdiri di posisi yang sama, memegang sepasang sepatu bayi yang kini terasa seperti beban seberat gunung di tangannya.
Bima tidak beranjak. Ia berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang buram karena rintik hujan. Ia menunggu. Egonya yang haus akan pengakuan masih berharap mendengar isak tangis yang pecah.
Ia ingin Hana menyerah, memohon belas kasihan, dan mengakui bahwa tanpanya, Hana bukanlah siapa-siapa.
Namun, Hana justru bergerak. Bukan menuju kaki Bima, melainkan menuju kamar utama.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Bima, suaranya parau, terkejut melihat Hana yang begitu tenang.
"Melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang asing di rumah orang lain, Mas. Berkemas," jawab Hana tanpa menoleh.
Bima mendengus sinis, menyembunyikan rasa tidak nyamannya. "Bagus kalau kau sadar diri. Apartemen ini atas namaku. Clarissa akan datang besok, dan aku tidak ingin dia melihat jejakmu di sini."
Kalimat itu bagai belati yang diputar di dalam luka yang masih basah. Hana menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu kamar. Dadanya sesak, namun ia menolak untuk ambruk. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki demi nyawa kecil di perutnya.
Di dalam kamar, Hana mengeluarkan sebuah koper tua dari bawah ranjang. Koper yang dulu ia bawa saat pertama kali pindah ke sini setelah akad nikah. Ironisnya, koper itu kini akan menjadi saksi kepulangannya yang tragis.
Hana mulai membuka lemari pakaian. Ia tidak mengambil semuanya. Ia hanya memilih pakaian-pakaian sederhana, beberapa daster hamil, dan baju-baju yang ia beli dengan uang hasil kerjanya sendiri sebelum ia dipaksa berhenti oleh Bima.
Gaun-gaun mewah, tas desainer, dan mantel bulu yang dibelikan Bima sebagai simbol status istrinya, ia biarkan tetap tergantung kaku.
Setiap helai kain yang ia masukkan ke dalam koper terasa seperti serpihan kenangan yang ia buang. Ia melihat sebuah syal biru yang dulu diberikan Bima saat mereka berbulan madu di pegunungan. Untuk sesaat, tangan Hana bergetar.
Kenangan tentang pelukan hangat di balik dinginnya salju menyerbu pikirannya. Namun, bayangan wajah Bima yang muak saat melihat sepatu bayi tadi segera menghapus semua kehangatan itu.
Hana melipat syal itu, lalu meletakkannya kembali ke rak lemari. Bukan milikku lagi, batinnya.
Setelah koper itu terisi, Hana berjalan menuju meja rias. Di sana terdapat sebuah kotak beludru merah berukuran besar. Di dalamnya tersimpan set perhiasan berlian - *kalung, anting, dan gelang* - yang Bima berikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang pertama setahun lalu. Saat itu, Bima berjanji akan menjaganya sampai rambut mereka memutih.
Hana mengeluarkan semua perhiasan itu. Bukan untuk dipakai, melainkan untuk diletakkan di atas meja makan di ruang tengah, tepat di bawah lampu yang bersinar pucat. Satu per satu. Kilau berlian itu kini tampak seperti air mata yang membeku.
Bima, yang masih berdiri di ruang tengah sambil menenggak segelas wiski, mengamati gerakan Hana dengan kening berkerut.
"Kenapa kau taruh di situ? Ambil saja. Anggap saja itu upah karena kau sudah melayaniku selama dua tahun," ucap Bima dengan nada merendahkan yang kental.
Hana menegakkan punggungnya. Ia berjalan mendekati meja makan, namun tidak untuk mengambil perhiasan itu. Ia melepaskan cincin kawin emas putih yang melingkar di jari manisnya, jari yang kini sedikit membengkak karena kehamilan. Dengan sekali gerakan tegas, ia meletakkan cincin itu di tengah-tengah berlian lainnya.
"Aku tidak butuh upah, Mas. Aku istrimu, bukan wanita sewaan," suara Hana terdengar sangat jernih dan berwibawa di tengah kesunyian malam. "Simpan semua ini. Berikan pada Clarissa. Mungkin dia lebih butuh benda-benda ini untuk menutupi kekosongan hatinya."
Bima meletakkan gelasnya dengan keras di atas meja. "Kau sombong sekali, Hana! Kau tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, dan kau sedang hamil tua. Tanpa perhiasan itu, kau mau makan apa? Rumput?"
Hana menatap Bima tepat di manik matanya. Sebuah tatapan yang membuat Bima tersentak karena tidak ada lagi sisa-sisa pemujaan di sana.
"Aku mungkin keluar dari sini dengan koper yang hampir kosong, Mas. Tapi aku keluar dengan harga diri yang penuh. Aku tidak butuh sisa-sisa darimu. Tidak perhiasanmu, tidak uangmu, dan mulai detik ini... tidak juga cintamu."
Hana menyeret kopernya menuju pintu depan. Suara roda koper yang bergesekan dengan lantai marmer terdengar seperti suara perpisahan yang menyayat. Saat ia sampai di ambang pintu, ia berhenti sejenak, namun tidak berbalik.
"Satu hal lagi, Mas Bima," ucap Hana pelan. "Tadi kamu bilang apartemen ini atas namamu. Kamu benar. Tapi anak yang ada di rahimku ini, dia adalah atas namaku. Dia tumbuh dari darahku, dan dia bernapas dari napasku. Jangan pernah bermimpi untuk mengklaimnya sebagai milikmu suatu saat nanti."
"Halah! Jangan bicara terlalu tinggi," Bima tertawa meremehkan, meski hatinya terasa seperti tertusuk duri. "Paling-paling sebulan lagi kau akan mengemis di depan kantorku agar aku membayar biaya persalinanmu."
Hana tidak membalas lagi. Ia membuka pintu. Angin dingin malam hari langsung menyergap masuk, menerbangkan ujung rambutnya. Ia melangkah keluar tanpa ragu.
***Brak***!
Suara pintu tertutup dengan keras. Bima berdiri sendirian di tengah ruangan yang mendadak terasa terlalu luas dan hampa. Ia melihat tumpukan perhiasan di atas meja makan yang berkilau di bawah lampu. Ia mengira akan merasa lega, seolah baru saja membuang sampah yang menghalangi jalannya menuju Clarissa.
Namun, kenyataannya berbeda. Kepergian Hana yang begitu tenang, tanpa air mata, dan tanpa sedikit pun keraguan, justru meninggalkan lubang besar di egonya. Ia meraih cincin kawin yang ditinggalkan Hana, meremasnya kuat-kuat di dalam genggamannya.
"Dia akan kembali. Semua wanita sama, mereka tidak bisa hidup tanpa uang," gumam Bima pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang mulai ragu.
Di luar, di koridor apartemen yang sepi, Hana menyandarkan tubuhnya pada dinding lift yang bergerak turun. Saat itulah, kedua kakinya terasa lemas. Ia mengelus perutnya yang terasa kencang.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir pelan, membasahi pipinya. Bukan karena ia menyesal kehilangan Bima, tapi karena ia merasa bersalah pada janinnya yang harus merasakan kerasnya dunia bahkan sebelum ia melihat cahaya.
"Maafkan Ibu, Nak," bisiknya lirih. "Tapi mulai malam ini, kita hanya punya satu sama lain."
Hana melangkah keluar dari lobi gedung. Hujan masih turun, namun ia terus berjalan menuju pinggir jalan untuk mencari taksi. Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi malam ini, tapi satu hal yang ia tahu pasti, ia tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.
Sementara itu, di lantai 22, Bima melemparkan cincin kawin Hana ke sudut ruangan dengan penuh emosi. Kemenangan yang ia impikan ternyata terasa sepahit empedu.
Akankah Hana menemukan tempat berteduh malam ini, ataukah penderitaannya baru saja dimulai saat ia melihat Bima dan Clarissa justru bermesraan keesokan harinya?
...----------------...
**To Be Continue** ...
Malam yang dingin telah berganti menjadi pagi yang gerah dan menyesakkan. Hana tidak pergi jauh. Setelah keluar dari apartemen itu semalam, ia hanya mampu menyewa sebuah kamar di penginapan murah tak jauh dari sana karena tubuhnya yang hamil tua tak lagi sanggup diajak berkompromi.
Pagi ini, dengan sisa tenaga yang ada, ia berdiri di pinggir jalan raya, tepat beberapa ratus meter dari gerbang utama apartemen mewah yang dulu ia sebut rumah.
Tangan kanannya mencengkeram erat pegangan koper, sementara tangan kirinya menyangga pinggang yang terasa seperti akan patah. Matahari Jakarta mulai menyengat, membakar kulit pucatnya yang kurang istirahat. Ia menunggu taksi daring yang tak kunjung datang, sementara peluh mulai membasahi dahi dan lehernya.
"Sabar ya, Sayang... sebentar lagi kita pergi dari sini," bisik Hana pada janinnya yang mendadak aktif bergerak, seolah merasakan kegelisahan sang ibu.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan sport berwarna putih yang sangat ia kenali keluar dari gerbang apartemen. Jantung Hana berdegup kencang. Itu mobil Bima.
Mobil itu melambat tepat di depan lobi gedung, tak jauh dari posisi Hana berdiri. Hana mematung. Dari balik kaca mobil yang transparan, ia melihat Bima turun dengan kemeja slim-fit berwarna biru muda, wajahnya tampak cerah, sangat kontras dengan wajah Hana yang kuyu.
Pintu penumpang terbuka. Seorang wanita dengan gaun merah menyala dan kacamata hitam besar keluar dari sana. Clarissa. Wanita itu tertawa renyah, lalu tanpa malu-malu merangkul lengan Bima.
Bima membalasnya dengan senyuman lebar, jenis senyuman tulus yang sudah berbulan-bulan tidak pernah ia berikan pada Hana.
Hana memalingkan wajah, berusaha bernapas meski dadanya terasa seperti dihantam palu godam. Ternyata benar, dia tidak membuang waktu sedikit pun untuk menggantiku, batin Hana pedih.
Bima yang sedang membukakan pintu untuk Clarissa, tak sengaja mengedarkan pandangannya ke arah jalan raya. Matanya menangkap sosok wanita hamil yang berdiri kepanasan sambil menggendong tas ransel berat di punggung dan menyeret koper.
Itu Hana.
Bima tertegun sejenak. Ia melihat istrinya tampak begitu menyedihkan. Baju daster hamilnya kusut, rambutnya hanya diikat asal, dan wajahnya memerah karena sengatan matahari.
Untuk sepersekian detik, ada secuil rasa tidak nyaman di hati Bima. Namun, Clarissa segera membuyarkan itu.
"Sayang, lihat itu. Bukankah itu Hana? Wah, dia benar-benar pergi ya? Kupikir dia hanya menggertakmu semalam," ucap Clarissa dengan nada mengejek yang sengaja dikeraskan.
Bima menatap Hana lagi. Melihat Hana yang tetap berdiri tegak meski tampak payah, ego Bima kembali meradang. Ia teringat betapa sombongnya Hana semalam saat menolak semua perhiasannya.
"Dia ingin jadi pahlawan, biarkan saja. Dia ingin membuktikan kalau dia bisa hidup tanpa aku, kan?" sahut Bima dingin.
"Tapi kasihan sekali dia, seperti gelandangan. Kenapa tidak kamu beri sedikit 'uang tip' saja?" Clarissa tertawa, memanas-manasi.
Bima menyeringai tipis. Ia ingin memberi Hana pelajaran. Ia ingin meruntuhkan martabat wanita itu sampai ke dasar bumi agar Hana sadar bahwa menentang Bima adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Bima masuk ke kursi kemudi. Ia menghidupkan mesin mobilnya yang menderu keras. Hana, yang menyadari mobil itu mulai bergerak mendekatinya, mencoba mundur beberapa langkah.
Ia tahu Bima tidak akan berhenti untuk menolongnya, tapi ia tidak menyangka apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.
Tepat di depan Hana, terdapat sebuah genangan air sisa hujan semalam yang cukup dalam dan berlumpur. Bukannya melambat, Bima justru menginjak pedal gas dalam-dalam.
Craaattt!
Ban mobil sport itu menghantam genangan air dengan kecepatan tinggi. Air berlumpur itu muncrat ke atas, menyiram sekujur tubuh Hana dari kepala hingga kaki.
Baju hamilnya yang berwarna cerah kini berubah menjadi cokelat kotor. Bahkan wajah dan matanya terkena percikan air yang amis itu.
Hana tersentak, hampir kehilangan keseimbangan. Ia terbatuk, mencoba menghapus air lumpur dari matanya.
Lewat kaca spion, ia bisa melihat Clarissa tertawa terpingkal-pingkal di dalam mobil, sementara Bima terus melaju tanpa sedikit pun menginjak rem.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Hana. Ia berdiri mematung di pinggir jalan yang ramai, menjadi tontonan orang-orang yang lewat. Rasanya lebih sakit daripada saat ia dijatuhi talak.
Ini bukan lagi soal cinta yang hilang, tapi soal kemanusiaan yang telah mati di hati pria yang pernah ia muliakan.
"Astaga, Mbak! Tidak apa-apa?" seorang ibu penjual jamu lari mendekati Hana, mencoba membantu mengelap baju Hana dengan handuk kecilnya. "Tega benar orang kaya itu, sudah tahu ada orang hamil malah sengaja!"
Hana tidak menjawab. Tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena kedinginan, tapi karena kemarahan yang membuncah. Ia melihat ke arah mobil Bima yang kini sudah menghilang di tikungan jalan.
Cukup, Bima. Cukup, batinnya berteriak.
Hana mengusap perutnya yang mendadak menegang keras. "Jangan takut, Nak. Lumpur ini bisa dicuci, tapi dosa ayahmu tidak akan pernah bersih."
Saat itu juga, sebuah taksi berhenti di depannya. Sopirnya segera turun dan membantu memasukkan koper Hana ke bagasi dengan wajah iba.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya sopir itu lembut.
Hana menatap apartemen megah di seberangnya untuk terakhir kali. Apartemen itu kini tampak seperti penjara yang mengerikan di matanya.
Ia tidak akan pergi ke rumah orang tuanya untuk dicaci maki ibu tiri. Ia juga tidak akan tetap tinggal di Jakarta untuk menjadi sasaran hinaan Bima.
"Ke Stasiun Gambir, Pak," jawab Hana mantap. Suaranya tidak lagi bergetar.
"Stasiun, Mbak? Mau pulang kampung?"
Hana mengangguk pelan. "Iya. Saya mau pulang ke tempat di mana manusia masih punya hati."
Di dalam taksi, Hana mengeluarkan ponselnya. Ia menghapus semua foto Bima, memblokir nomor teleponnya, menghapus semua akun media sosialnya, dan mematahkan kartu SIM-nya menjadi dua bagian.
Ia membuang serpihan kartu itu ke luar jendela taksi saat mobil mulai membelah kemacetan Jakarta.
Bima mengira ia telah menang karena berhasil menghina Hana. Ia mengira Hana akan menderita dan akhirnya merangkak kembali padanya. Namun, Bima tidak tahu bahwa saat air lumpur itu mengenai tubuh Hana, rasa cinta terakhir yang tersisa di hati wanita itu ikut luruh dan hanyut bersama kotoran.
Hana Anindita yang lembut telah mati di pinggir jalan itu. Dan yang kini sedang menuju stasiun adalah seorang ibu yang memiliki dendam paling tenang yang pernah ada.
Akankah Bima menyadari bahwa tindakannya hari ini telah memutus rantai terakhir yang menghubungkannya dengan anak kandungnya? Dan tantangan apa yang menanti Hana saat ia tiba di stasiun dengan kondisi baju yang kotor dan tubuh yang mulai demam?
...----------------...
To Be Continue ...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!