Indonesia
NovelToon NovelToon

Sang Penjinak Semut: Evolusi Raja Naga Merah

Bab 1: Debu di Balik Topeng Keagungan

​Angin musim gugur yang menyelinap masuk melalui celah pilar raksasa Aula Langit Biru terasa seperti pisau yang menyayat kulit. Di tengah aula yang megah itu, berdirilah Lu Chen. Pakaian abu-abunya yang lusuh tampak sangat kontras dengan jubah sutra bersulam emas milik para murid elit yang berdiri di tribun atas. Hari ini adalah Upacara Penentuan Takdir, sebuah hari di mana seorang pemuda bisa menjadi naga yang terbang ke langit atau cacing yang terinjak di tanah.

​Di hadapan Lu Chen, berdiri sebuah monolit hitam setinggi tiga meter, BATU PENGUJI BAKAT. Batu itu telah menentukan nasib ribuan orang selama berabad-abad.

​"Selanjutnya, Lu Chen dari Cabang Luar," suara Penatua Feng terdengar berat dan acuh tak acuh.

​Lu Chen melangkah maju dengan jantung yang berdetak kencang hingga telinganya berdenging. Dia meletakkan telapak tangannya pada permukaan batu yang sedingin es itu. Dia menutup mata, berharap ada secercah cahaya keemasan atau ungu, warna bagi mereka yang memiliki bakat luar biasa. Namun, yang terjadi justru keheningan yang memekakkan telinga. Semua terdiam.

​Batu itu tetap hitam. Tak ada cahaya. Tak ada getaran energi.

​"Lu Chen, bakat: F-Rank. Afinitas Spiritual: Nol."

​Suara Penatua Feng bergema di seluruh aula, diikuti oleh keheningan sejenak sebelum akhirnya meledak dalam gelombang tawa dan ejekan.

​"Nol? Bagaimana mungkin seseorang yang hidup di lingkungan energi spiritual tinggi seperti sekte ini memiliki afinitas nol?" celetuk seorang pemuda tampan dengan jubah biru, Han Wei, yang dikenal sebagai jenius peringkat A. "Dia bukan hanya sampah, dia adalah ruang hampa! Keberadaannya di sini hanya menghabiskan oksigen kita saja."

​Lu Chen merasakan wajahnya memanas. Dia mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih. Di dunia ini, kekuatan spiritual adalah mata uang utama. Tanpa afinitas, dia tidak akan pernah bisa menyerap energi alam, tidak akan bisa berkultivasi, dan secara teknis, dia hanyalah manusia biasa yang akan menua dan mati dalam sekejap mata di mata para kultivator.

​Namun, tepat saat dia akan menarik tangannya dari batu itu, sebuah sensasi aneh mengalir dari ujung jarinya. Itu bukan energi hangat, melainkan sebuah getaran dingin yang sangat canggih.

​[Ding! Menemukan Inang yang Memenuhi Syarat.]

[Sistem 'Omnipotence Mask' (Topeng Mahakuasa) Berhasil Diaktifkan.]

​Sebuah layar transparan yang hanya bisa dilihat olehnya muncul di depan mata.

​[Status Asli: SSS+ (Divine Sovereign)]

[Status Penyamaran: F-Rank (Sampah Total)]

[Peringatan: Kekuatan Anda terlalu besar untuk dunia saat ini. Sistem akan menyembunyikan level asli Anda di bawah 'Topeng' agar tidak memicu kiamat prematur.]

​Mata Lu Chen membelalak. SSS+? Legenda mengatakan bahwa tingkat tertinggi yang pernah dicapai manusia hanyalah S-Rank, dan itu pun hanya terjadi sekali dalam seribu tahun. Tapi apa maksud dari "memicu kiamat"?

​Belum sempat dia mencerna informasi itu, layar sistem kembali berkedip merah.

​[Misi Darurat Pertama Aktif!]

[Deskripsi: Kontrak dengan makhluk hidup pertama yang Anda temui dalam 10 detik ke depan untuk menstabilkan aliran energi SSS+.]

[Waktu Tersisa: 09... 08...]

[Hadiah: Sinkronisasi Jiwa Naga & Pembukaan Gerbang Meridian Pertama.]

[Gagal: Tubuh Inang akan meledak karena kelebihan energi spiritual.]

​"Apa?!" Lu Chen panik. Dia melihat ke sekeliling dengan liar. Di aula ini hanya ada manusia, dan dia tidak mungkin mengontrak manusia secara paksa. Pikirannya buntu. Kematian terasa sangat dekat.

​"03... 02..."

​Secara tidak sengaja, mata Lu Chen menangkap gerakan kecil di dekat retakan lantai marmer di bawah kakinya. Seekor semut hitam kecil, kurus dan tampak lemah, sedang berjuang membawa sebutir remah roti yang berat. Tanpa pikir panjang, Lu Chen berlutut.

​"Maafkan aku, teman kecil!" Lu Chen menggigit ujung jarinya hingga berdarah dan menekankannya langsung ke punggung kecil semut tersebut.

​Wusss!

​Sebuah lingkaran sihir merah darah yang sangat kecil—hampir tak kasat mata—terbentuk di bawah semut itu. Cahayanya hanya sekejap, seperti kerlipan lilin yang tertiup angin.

​"Hahahaha! Lihat itu!" Han Wei tertawa sampai memegangi perutnya. "Dia benar-benar sudah gila! Karena tidak punya bakat, dia mencoba menjadi Penjinak Binatang dengan mengontrak seekor semut? Hei Lu Chen, apa kau akan memerintah semut itu untuk menggigit kaki kami sampai kami mati tertawa?"

​Penatua Feng menggelengkan kepala dengan jijik. "Memalukan. Pergi dari sini, Lu Chen. Kau bukan lagi bagian dari murid resmi. Mulai besok, kau diturunkan menjadi pelayan pembersih kandang binatang buas."

​Lu Chen tidak mendengar hinaan itu. Telinganya berdenging karena suara lain. Sebuah suara yang tidak berasal dari sistem, melainkan dari dalam jiwanya sendiri—sebuah suara yang mengandung otoritas purba, penuh dengan kemarahan yang bisa meruntuhkan gunung.

​"Manusia rendahan! Berani-beraninya kau?! Aku adalah Ignis, Raja Naga Merah, penguasa dari segala api yang pernah ada! Aku lebih tua dari peradabanmu, lebih kuat dari dewa-dewamu! Bagaimana bisa aku terperangkap dalam tubuh serangga menjijikkan ini dan terikat kontrak dengan kutu sepertimu?!"

​Lu Chen tertegun. Dia menatap semut yang sekarang diam membeku di telapak tangannya. Semut itu seolah-olah sedang menatap balik ke arahnya dengan kemarahan yang membara.

​"Lepaskan kontrak ini sekarang, atau aku akan memastikan jiwamu terbakar di neraka terdalam selama sepuluh ribu tahun!" gertak suara itu lagi.

​Lu Chen justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Di balik sistem SSS+ miliknya, dia menyadari sesuatu. Mereka berdua sama—dua entitas besar yang sedang terperangkap dalam bungkus yang terlihat lemah.

​"Jika kau memang raja naga," bisik Lu Chen sangat pelan sehingga hanya semut itu yang bisa mendengarnya, "maka buktikan padaku. Untuk saat ini, kau dan aku hanyalah debu di mata mereka. Mari kita lihat siapa yang akan terbakar pada akhirnya."

​[Ding! Misi Selesai.]

[Hadiah 'Sinkronisasi Jiwa Naga' sedang digabungkan...]

​Sebuah ledakan energi yang sangat halus namun padat mengalir dari semut itu ke jantung Lu Chen, memperbaiki setiap sel tubuhnya secara instan tanpa ada satu orang pun di aula itu yang menyadarinya. Permainan hebat baru saja dimulai.

...****************...

...RILIS SETIAP HARI...

Bab 2: Api di Dalam Cangkang Kecil

​Matahari mulai terbenam, menyisakan semburat jingga yang tampak seperti luka di cakrawala. Lu Chen berjalan gontai menuju pinggiran Sekte Langit Biru, tempat di mana gubuk-gubuk kayu reyot berdiri berhimpitan. Itu adalah area bagi para pelayan dan murid buangan—tempat yang jauh dari kemegahan menara-menara kultivasi yang menjulang tinggi.

​Di telapak tangannya, semut hitam itu tetap diam. Meskipun ukurannya tak lebih besar dari sebutir beras, Lu Chen bisa merasakan bobot yang aneh. Bukan bobot fisik, melainkan bobot keberadaan yang sangat masif, seolah-olah dia sedang menggenggam sebuah gunung berapi yang siap meledak kapan saja.

​"Jadi, Ignis... itu namamu?" bisik Lu Chen saat dia memasuki gubuknya yang pengap.

​"Jangan lancang menyebut namaku dengan mulut fana itu, Manusia!" Suara itu kembali menggelegar di dalam kesadaran Lu Chen. "Jika bukan karena kontrak sialan ini yang mengikat sisa-sisa jiwaku, aku sudah membakarmu menjadi abu sejak detik pertama kau menyentuhku!"

​Lu Chen meletakkan Ignis di atas meja kayu yang permukaannya sudah kasar dan lapuk. Dia menyalakan sebuah lilin kecil, cahayanya bergoyang tertiup angin yang masuk dari celah dinding. "Kau terus bicara soal membakar, tapi lihat dirimu. Kau bahkan tidak bisa mematikan lilin ini sekarang."

​Semut itu tampak gemetar, antenanya bergerak liar. Lu Chen bisa merasakan gelombang kemarahan yang luar biasa terpancar dari makhluk kecil itu. Tiba-tiba, Ignis merayap menuju nyala api lilin. Alih-alih terbakar, semut itu justru berdiri di tengah kobaran api. Dia membuka mulut kecilnya dan mulai menghisap api itu seolah-olah itu adalah madu yang manis.

​Dalam hitungan detik, api lilin itu padam, meninggalkan ruangan dalam kegelapan.

​"Hmph, api berkualitas rendah ini hampir tidak cukup untuk membasahi tenggorokanku," ejek Ignis, meskipun Lu Chen bisa merasakan bahwa energi sang naga sedikit lebih stabil setelah "sarapan" singkat itu.

​[Ding! Hewan Kontrak Anda telah mengonsumsi Energi Api Tingkat Rendah.]

[Proses Sinkronisasi Dimulai: 0.1%]

[Anda menerima umpan balik energi: Penguatan Tulang Tahap 1.]

​Tiba-tiba, rasa sakit yang menusuk menjalar ke seluruh tubuh Lu Chen. Dia jatuh tersungkur ke lantai tanah, mencengkeram dadanya. Rasanya seperti ada besi panas yang mengalir di dalam sumsum tulangnya. Suara derak tulang terdengar jelas di keheningan malam.

​Inilah efek dari sistem SSS+ Omnipotence Mask. Karena dia terhubung dengan Raja Naga Merah, setiap peningkatan yang dialami si semut akan berlipat ganda dan mengalir ke tubuh Lu Chen. Namun, karena tubuh Lu Chen saat ini masih "fana", proses adaptasi ini terasa seperti siksaan.

​"Sial... ini... menyakitkan!" geram Lu Chen, keringat dingin membanjiri pelipisnya.

​"Tahan, bocah lemah!" Ignis berseru, kali ini tanpa nada mengejek. Ada sedikit rasa penasaran dalam suaranya. "Tubuhmu sedang dipaksa untuk menanggung sedikit dari Fondasi Naga. Jika kau pingsan sekarang, pembuluh darahmu akan hancur."

​Lu Chen menggertakkan gigi. Dia mengingat wajah sombong Han Wei dan tatapan jijik Penatua Feng. Dia mengingat bagaimana dia diusir seperti sampah hanya karena sebuah angka di batu penguji. Dia tidak akan menyerah di sini. Dia memaksakan dirinya untuk duduk bersila, mengatur napas sesuai dengan instruksi yang tiba-tiba muncul di layar sistemnya.

​[Teknik Kultivasi 'Napas Naga Tak Terlihat' diaktifkan secara otomatis.]

​Perlahan, rasa panas itu mulai mereda, berubah menjadi aliran hangat yang menyejukkan. Lu Chen merasa panca inderanya menjadi jauh lebih tajam. Dia bisa mendengar suara jangkrik di luar gubuk dengan sangat jelas, bahkan dia bisa merasakan aliran energi spiritual yang tipis di udara—sesuatu yang sebelumnya mustahil bagi seseorang dengan "Afinitas Nol".

​"Menarik..." Ignis merayap kembali ke bahu Lu Chen. "Kau memiliki teknik pernapasan yang unik. Aku tidak bisa merasakan level kultivasimu, padahal aku tahu kau baru saja menembus tahap awal. Kau... kau sengaja menyembunyikannya?"

​"Bukan aku yang menyembunyikannya," jawab Lu Chen sambil mengusap keringat di wajahnya. "Sistem ini... ia melindungiku agar dunia tidak tahu siapa kita sebenarnya. Jika mereka tahu ada naga di dalam semut, atau bakat SSS+ di dalam tubuh pelayan, kita akan diburu oleh seluruh benua."

​Ignis terdiam sejenak. Sang Raja Naga yang sombong itu mulai menyadari bahwa manusia di hadapannya ini bukan sekadar pemuda beruntung yang bodoh. "Jadi, kita berdua memakai topeng. Baiklah. Tapi jangan harap aku akan menundukkan kepalaku padamu selamanya."

​"Aku tidak butuh kau menunduk, Ignis. Aku butuh kau tumbuh," Lu Chen berdiri, merasa tubuhnya jauh lebih ringan dan kuat. "Mulai besok, aku adalah pelayan pembersih kandang. Itu artinya kita akan memiliki akses ke sisa-sisa material berharga dan energi dari hewan buas. Kita akan berpesta di sana."

​Tiba-tiba, pintu gubuk didobrak dengan kasar hingga hampir terlepas dari engselnya.

​"Lu Chen! Keluar kau, anjing rendah!"

​Suara itu milik Han Wei. Di belakangnya, berdiri dua murid lainnya yang membawa obor. Han Wei masih memegangi tangannya yang tadi digigit Ignis di aula, wajahnya merah padam karena amarah dan malu.

​"Kau berani mempermalukanku di depan banyak orang tadi pagi!" teriak Han Wei sambil melangkah masuk, tidak peduli dengan bau apek di dalam gubuk itu. "Aku tidak tahu trik kotor apa yang kau gunakan, tapi aku datang untuk mengambil kompensasi. Berikan semua batu roh yang kau punya, dan bunuh semut menjijikkan itu di depanku!"

​Lu Chen menatap Han Wei dengan tatapan dingin. Di matanya, sebuah antarmuka biru berkedip:

​[Analisis Target: Han Wei]

[Level: Tahap Pengumpulan Roh - Level 3]

[Ancaman: Rendah]

[Saran: Gunakan 5% Energi Naga untuk melumpuhkan tanpa membunuh (Mempertahankan Penyamaran).]

​"Semut ini tidak bersalah, Kakak Han," kata Lu Chen dengan nada datar, yang justru membuat Han Wei semakin emosi. "Dan soal batu roh... bukankah itu milik murid resmi? Aku sudah bukan murid resmi lagi, bukan?"

​"Jangan banyak bicara!" Han Wei mengangkat tangannya, energi spiritual berwarna biru pucat berkumpul di telapak tangannya. "Jika kau tidak mau memberikannya, aku akan mematahkan kedua kakimu agar kau harus merangkak ke kandang binatang besok!"

​Ignis yang berada di bahu Lu Chen mulai mengeluarkan desisan kecil. "Bocah ini sungguh berisik. Biarkan aku membakar lidahnya agar dia belajar diam."

​"Jangan," batin Lu Chen pada Ignis. "Terlalu mencolok. Biar aku yang mengurusnya."

​Lu Chen melangkah maju, tangannya tetap berada di samping tubuhnya. Dia tampak sangat lemah dan tidak berdaya, namun di dalam pembuluh darahnya, energi naga mulai bergejolak, menunggu untuk dilepaskan dari balik topengnya yang sempurna.

...****************...

...RILIS SETIAP HARI...

Bab 3: Keheningan di Balik Serangan

​Udara di dalam gubuk yang sempit itu seketika menjadi berat. Cahaya obor yang dibawa oleh dua kaki tangan Han Wei menari-nari liar di dinding kayu yang lapuk, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tampak seperti monster yang sedang mengintai. Han Wei berdiri dengan angkuh, wajahnya yang tampan terdistorsi oleh kebencian yang mendalam. Baginya, harga diri adalah segalanya, dan fakta bahwa dia merasa terintimidasi oleh "sampah" seperti Lu Chen di Aula tadi pagi adalah noda yang harus dihapus dengan darah.

​"Kenapa diam saja, Lu Chen? Mana keberanianmu yang tadi?" Han Wei menyeringai, melangkah maju hingga ujung sepatunya yang mahal bersentuhan dengan kaki Lu Chen yang telanjang. "Apa kau baru sadar bahwa di dunia ini, semut tetaplah semut, tak peduli seberapa keras ia mencoba merayap ke atas?"

​Di bahu Lu Chen, Ignis—sang Raja Naga Merah dalam wujud mungil—merasakan gejolak emosi lawannya. Antenanya bergetar hebat. "Manusia kerdil ini... dia membandingkanku dengan serangga biasa lagi? Lu Chen, jika kau tidak membiarkanku menghanguskannya sekarang, aku bersumpah akan menggigit telingamu sampai putus!"

​Lu Chen tetap tenang. Di bawah pengaruh sistem SSS+, penglihatannya berubah. Dunia di sekitarnya seolah melambat. Dia bisa melihat setiap pori-pori di wajah Han Wei, bahkan dia bisa melihat aliran energi spiritual biru yang tidak stabil di dalam meridian lengan Han Wei. Itu adalah aliran energi yang kasar dan penuh celah.

​"Aku hanya berpikir, Kakak Han," suara Lu Chen terdengar tenang, hampir seperti bisikan. "Apakah bijaksana bagi seorang jenius peringkat A seperti Anda membuang-buang waktu di gubuk pelayan seperti ini? Jika penatua tahu Anda menggunakan kekuatan untuk menindas orang biasa, reputasi Anda mungkin akan sedikit... ternoda."

​"Reputasi?" Han Wei tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh kedua temannya. "Di sekte ini, yang kuat adalah hukum! Penatua tidak akan peduli jika aku membunuhmu sekalipun. Mati!"

​Han Wei tidak lagi menahan diri. Dia melayangkan sebuah pukulan telak yang dilapisi dengan teknik Telapak Pemecah Batu. Udara di sekitar tinjunya berdesing, tanda bahwa serangan itu cukup kuat untuk mematahkan tulang rusuk manusia biasa.

​[Ding! Analisis Serangan Terdeteksi.]

[Nama Teknik: Telapak Pemecah Batu (Peringkat Perunggu - Rendah).]

[Kelemahan: Titik tumpu pada pergelangan kaki kiri saat rotasi.]

[Opsi: Aktifkan 'Refleks Naga' (Penggunaan Energi 0.01%).]

​Lu Chen tidak menghindar dengan gerakan besar. Dia hanya menggeser kakinya beberapa sentimeter ke samping. Tinju Han Wei meleset tipis, hanya melewati helai rambut Lu Chen. Namun, Lu Chen tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang sangat halus sehingga terlihat seperti kecelakaan, dia menyenggol siku Han Wei menggunakan telapak tangannya yang telah dialiri sedikit energi naga dari Ignis.

​Brak!

​Han Wei kehilangan keseimbangan. Aliran energinya yang sedang memuncak tiba-tiba berbalik arah karena gangguan kecil tersebut. Dia tersandung dan jatuh tersungkur ke tumpukan kayu bakar di sudut ruangan.

​"Kau... kau berani melawan?!" Han Wei merangkak bangun dengan wajah penuh debu dan amarah yang memuncak. "Tangkap dia! Patahkan tangannya!"

​Dua murid lainnya segera maju. Mereka tidak menggunakan teknik, melainkan hanya mengandalkan kekuatan fisik sebagai kultivator tahap awal. Lu Chen tahu dia tidak boleh menunjukkan kemampuan bertarung yang sebenarnya. Jika dia menjatuhkan mereka dengan satu pukulan, sistem penyamarannya akan goyah.

​"Ignis, lakukan sekarang. Tapi ingat, jangan ada api," perintah Lu Chen dalam hati.

​"Hmph, kau terlalu banyak mengatur! Tapi baiklah, aku akan menggunakan 'Tekanan Mental' saja," balas Ignis.

​Saat kedua murid itu hendak menerjang, Ignis melepaskan sebuah gelombang aura yang sangat tipis. Bagi mata telanjang, tidak ada yang terjadi. Namun, di tingkat spiritual, kedua murid itu tiba-tiba merasa seolah-olah mereka sedang berdiri di hadapan seekor predator raksasa yang tingginya mencapai langit. Jantung mereka berdegup kencang secara tidak wajar, dan kaki mereka terasa lemas seperti jelly.

​"Ugh... ada apa ini?" salah satu murid jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal.

"Rasanya... rasanya seperti ada gunung yang menindihku..." gumam yang lainnya, wajahnya pucat pasi.

​Han Wei yang baru saja berdiri tertegun melihat kedua pengikutnya tumbang tanpa disentuh. Dia tidak merasakan tekanan itu karena Ignis secara spesifik mengarahkan auranya. Di mata Han Wei, Lu Chen hanya berdiri di sana dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat.

​"Dasar tidak berguna! Minggir!" Han Wei berteriak frustrasi. Dia menarik sebuah belati perak dari pinggangnya. "Aku akan mencungkil matamu sendiri!"

​Namun, saat Han Wei hendak melompat, Lu Chen bergerak lebih cepat. Kali ini, dia menggunakan kecepatan murni dari sinkronisasi jiwanya. Dia menangkap pergelangan tangan Han Wei yang memegang belati.

​Krak.

​Bukan suara tulang patah, melainkan suara sendi yang terkilir. Lu Chen menekan titik saraf tertentu di lengan Han Wei sambil menyalurkan sedikit rasa panas yang menyengat.

​"Aaakhhh! Panas! Tanganku terbakar!" Han Wei menjerit. Belatinya jatuh berdenting ke lantai. Dia melihat lengannya, tidak ada api, tidak ada luka bakar fisik, tapi rasa sakitnya seolah-olah dagingnya sedang dipanggang dari dalam.

​Lu Chen segera melepaskan genggamannya dan mundur, memasang wajah panik. "Kakak Han! Anda kenapa? Apa Anda sakit? Tolong jangan menakutiku, aku tidak menyentuh Anda dengan keras!"

​Han Wei memegangi tangannya yang gemetar. Dia menatap Lu Chen dengan pandangan yang kini bercampur dengan ketakutan yang mendalam. Dia merasa ada sesuatu yang salah, sangat salah dengan pemuda di depannya ini. Tapi egonya menolak untuk percaya bahwa seorang F-Rank bisa menyakitinya.

​"Kau... kau dikutuk! Kau membawa sial!" teriak Han Wei dengan suara parau. Dia tidak berani menyerang lagi. Dengan tangan yang masih terasa seperti terbakar, dia berbalik dan lari keluar dari gubuk, diikuti oleh dua temannya yang merangkak ketakutan.

​Keheningan kembali menyelimuti gubuk itu. Lu Chen menghela napas panjang, bahunya yang tegang akhirnya rileks. Dia menutup pintu gubuknya yang rusak dan menguncinya dengan palang kayu seadanya.

​"Kau terlalu lembut, Nak," suara Ignis terdengar di telinganya saat semut itu merayap kembali ke puncak kepalanya. "Jika itu aku sepuluh ribu tahun yang lalu, gubuk ini sudah akan penuh dengan tumpukan abu mereka."

​"Kita sedang bersembunyi, Ignis. Jika mereka mati di sini, penatua akan melakukan investigasi besar-besaran. Dan saat ini, kita belum cukup kuat untuk melawan seluruh sekte," jawab Lu Chen sambil duduk kembali di tempat tidurnya yang keras.

​[Ding! Konflik Selesai.]

[Anda memperoleh 200 Poin Pengalaman Penyamaran.]

[Bonus: Hubungan dengan Hewan Kontrak meningkat (Loyalitas: 5%).]

[Pesan Sistem: Kekuatan Anda saat ini setara dengan Tahap Pengumpulan Roh - Level 5. Tetap pertahankan profil rendah.]

​Lu Chen melihat tangannya. Meskipun terlihat biasa saja, dia bisa merasakan energi yang berdenyut di bawah kulitnya. Dia memejamkan mata dan mulai melakukan teknik 'Napas Naga Tak Terlihat'. Di dalam kegelapan batinnya, dia melihat sesosok naga merah raksasa yang terbelenggu oleh rantai emas, dan di depan naga itu, berdiri sebuah topeng putih polos yang bercahaya.

​Ini baru hari pertama. Dia telah diusir, dihina, dan diserang. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lu Chen tidak merasa takut. Dia menatap semut kecil di mejanya yang kini sedang asyik mengunyah sisa belati perak milik Han Wei—menghancurkan logam keras itu dengan rahang kecilnya seolah-olah itu hanyalah biskuit rapuh.

​"Makanlah yang banyak, Ignis," bisik Lu Chen sambil tersenyum. "Besok, di kandang binatang buas, kita akan mulai mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita."

...****************...

...RILIS SETIAP HARI...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!