Indonesia
NovelToon NovelToon

RATU (Terjebak Di Tubuh Anak Malang)

Bab 1

Di sebuah rumah terpencil, Hana dikurung oleh seorang pria setengah baya bertubuh bongsor. Ia menyiksanya setiap hari sampai darah di tubuh gadis itu habis. Tak ada makanan, tak ada minuman, hanya siksaan yang ia dapatkan.

Malam itu, Hana meringkuk di sudut ruangan yang sempit dan kotor. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Pakaian yang dikenakan telah terkoyak oleh cambuk si lelaki tua. Ia menangis tanpa air mata. Kulit bibirnya pecah dan berdarah, telapak tangan dan kaki pun tak jauh beda. Kotoran berserakan, air seni menjadi pengharum ruangan sempit itu. Hana merasa jijik pada dirinya sendiri.

Kapan aku akan mati?

Hatinya melirih, perih dan hancur. Luka-luka di tubuhnya tak pernah sembuh, basah oleh darah dari luka baru yang ia dapatkan setiap harinya.

"Jika kalian memang tidak menginginkan aku, mengapa membawaku pulang dari desa? Menjodohkan aku dengan laki-laki yang sebenarnya tidak mencintai aku. Aku memang bodoh, kukira orang tua kandungku benar-benar ingin mengambilku. Ternyata aku hanya alat yang mereka gunakan. Nenek, aku ingin pulang," rintih Hana dengan suara lirih nyaris seperti bisikan.

Ia membenamkan wajah di atas lutut, perlahan-lahan tenaganya mulai habis. Di saat-saat terakhir itu, sayup-sayup ia mendengar suara orang berbincang di depan gubuk tersebut. Akan tetapi, Hana sudah tidak memiliki kekuatan untuk beranjak dari tempatnya. Hanya telinganya saja yang masih berfungsi.

"Sampai hari ini dia belum mati? Sekuat apa perempuan desa itu? Disiksa setiap hari, tidak diberi makan dan minum, tapi masih bisa bernapas sampai detik ini," ucap seorang wanita, suaranya penuh kebencian.

Hana mengernyit, suara itu tidak asing di telinganya.

"Bunuh saja, lalu buang jasadnya ke jurang di selatan kota. Biarkan dia membusuk di sana!" Suara seorang laki-laki menyambut, suara yang sangat akrab di telinga Hana.

Shopia, Evan, ternyata kalian yang merancang penculikan ku. Kalian juga yang menyuruh penculik menyiksaku. Shofia, kau mengambil posisiku, merebut orang tuaku, merebut tunangan ku. Kau merebut semua yang seharusnya menjadi milikku. Aku tidak rela! Aku tidak rela! Tuhan, aku sungguh tidak rela mati seperti ini!

Batin Hana menjerit, kemudian terkulai. Ia mati mengenaskan setelah satu Minggu lamanya mengalami siksaan dari penculik.

Shopia dan Evan memasuki tempat tersebut dengan perasaan kesal, dituntun oleh si penculik yang membukakan pintunya. Mereka saling menatap dan tersenyum melihat tubuh Hana yang terkulai di lantai. Shofia menggerakkan kepala, meminta si penculik untuk memeriksa.

Laki-laki bertubuh bongsor itu memeriksa napas Hana dan menggelengkan kepala. Sophia dan Evan meninggalkan tempat itu setelah memberikan uang pembayaran kepada si penculik.

"Lakukan sesuai perintah, buang jasadnya ke jurang!" titah Shopia yang diangguki si penculik.

Mereka pergi meninggalkan tempat terpencil itu dengan perasaan gembira. Si penculik membungkus tubuh Hana dengan selimut dan membawanya ke dalam mobil. Membuang jasad gadis malang itu ke jurang terdalam di selatan kota.

Tubuh Hana melayang di kegelapan jurang, tak ada yang tahu apa yang ada di dalam sana. Air matanya jatuh, terbang bersama angin.

Siapapun kau yang di sana, tolong aku! Tolong balaskan dendamku!

Batin Hana melirih sebelum jiwanya benar-benar pergi. Jatuh menghantam bebatuan basah di dasar jurang. Darah merembes di dasar jurang, mengalir bersama air beriak menuju ke dalam gua di mana sebuah tempat persembahan berada. Di sana sebuah patung perempuan agung dibangun, tersembunyi dari dunia.

Darah Hana terus mengalir hingga menyentuh kaki patung perempuan itu. Patung tersebut memancarkan cahaya, menerangi gua yang gulita.

*****

Di dunia lain, di waktu yang berbeda, seorang ratu yang perkasa baru saja kembali dari sidang istana. Membantu Kaisar menghukum para koruptor di kerajaan Amerta. Seorang perempuan agung yang dicintai rakyat, dan disegani para pejabat. Dihormati para jenderal, kesayangan sang Kaisar.

Ia berbaring di ranjangnya, melepas penat. Memejamkan mata untuk tertidur sejenak, ratu yang tenang dan bijaksana. Ia tak pernah menyangka takdir sedang menunggunya.

Siapapun kau yang di sana, tolong aku! Tolong balaskan dendamku!

Ratu yang sedang terpejam, membuka matanya segera. Ia melilau ke segala arah, tapi entah di mana berada. Itu adalah ruang hampa yang tak berbatas.

"Di mana ini?" Ia menatap dirinya sendiri yang melayang di ruang waktu.

"Tolong aku!" Suara rintihan itu kembali mengiang di telinganya.

"Siapa?"

Argh!

Ia menjerit saat sesuatu menariknya dengan cepat. Cahaya putih yang menyilaukan membuatnya tak dapat melihat apapun. Saat ia membuka mata, kelembapan gua menyambutnya. Di hadapannya terbaring tubuh Hana yang memiliki garis wajah serupa dengannya.

"Siapa dia?"

Lintasan kisah pun berputar di dalam sebuah layar di langit-langit gua. Kisah pilu seorang putri sah yang ditukar dan hidup di desa. Lalu dibawa kembali hanya untuk dijadikan alat. Ratu menggenggam tangannya sendiri, jiwanya diliputi amarah.

Lalu, jiwa Hana menarik jiwa sang ratu untuk menggantikannya kembali ke keluarga Haysa.

Ia membuka mata, bangkit perlahan.

"Karena kau memanggil jiwaku, maka aku akan membantumu. Entah dunia seperti apa yang kau tinggali ini, tapi dengan berbekal ingatanmu aku tidak perlu khawatir."

Ia melangkah keluar dari gua, meski tubuhnya masih berlumuran darah. Sebagian luka bahkan terlihat karena pakaian yang terkoyak. Ia tak peduli, satu tujuannya adalah kembali ke keluarga Haysa.

Bab 2

Di pusat kota selatan Eldoria, dua keluarga besar tengah melangsungkan pertunangan anak-anak mereka dengan pesta yang megah dan meriah. Seorang gadis mengenakan gaun putih dengan taburan mutiara di seluruh bagiannya. Bahkan, ia mengenakan mahkota yang dipenuhi oleh mutiara laut selatan yang terkenal indah dengan harganya yang fantastis.

Dekorasi pesta yang megah dan berkelas. Selain dua keluarga besar itu, para tamu sebagian besar adalah kolega bisnis dari keduanya. Di ruangan yang lain, pemuda tampan nan gagah, dambaan setiap gadis di kota selatan, tengah bersiap-siap bersama keluarganya.

"Apakah kau gugup?" tanya seorang laki-laki paruh baya sembari membenarkan jas yang dikenakan anaknya.

"Ah, ini momen yang sangat sakral tentu saja aku gugup sekali, Ayah," jawab Evan yang tak lain adalah tunangan dari Hana.

"Apa kau masih teringat pada Hana? Sudah dua Minggu dilakukan pencarian, tapi tak ada hasil. Terima saja Shopia sebagai istrimu meski dia hanya anak angkat dari keluarga Haysa. Tidak masalah, bukan?" ujar Nyonya Falcon yang lebih menyukai Shopia dari pada Hana.

Evan tersenyum, dan mengangguk kecil.

Tentu saja karena yang aku cintai adalah Shopia, bukan si gadis desa yang kampungan itu. Tak sudi rasanya aku menikah dengan orang kasar seperti itu. Lebih baik Shopia yang meskipun anak angkat, tapi telah dididik sejak kecil.

Evan bergumam di dalam hati, berharap pertunangannya akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

"Apakah perlu dibatalkan saja? Aku merasa ini tidak pantas karena mengingat jasad Hana belum ditemukan," ucap Tuan Falcon sangat tiba-tiba.

Evan dan ibunya menoleh dengan wajah tak sedap dipandang. Mata mereka melotot, membuat Tuan Falcon mengernyit.

"Tidak bisa!" jawab keduanya serentak.

"Kau ingin mempermalukan nama besar kita? Jika kita membatalkan pertunangan ini seluruh kota Eldoria akan menertawakan kita. Pesta ini sudah direncanakan sejak sebulan yang lalu, tiba-tiba Hana menghilang begitu saja. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan gadis desa itu!" ucap Nyonya Falcon dengan tegas.

"Aku hanya merasa kepergian Hana yang tiba-tiba terlalu janggal," gumamnya diakhiri helaan napas yang berat.

Evan dan ibunya saling menatap satu sama lain, mereka khawatir laki-laki paruh baya itu akan membatalkan pertunangan dengan tiba-tiba.

"Buang jauh-jauh pikiranmu itu! Hari ini Evan harus bertunangan dengan Shopia!" ancam sang istri yang membuatnya tak dapat membantah lagi.

Di dalam gedung, Shopia berdiri gugup di atas podium. Ditemani keluarga angkatnya yang terdiri dari ayah dan ibu, serta kedua kakak laki-laki yang memanjakannya.

"Bu, bagaimana jika nanti kak Hana tiba-tiba muncul? Aku akan sangat malu sekali," ucap Shopia berpura-pura.

Nyonya Haysa mengusap bahunya dengan lembut. Mereka sama sekali tidak merasa kehilangan Hana. Satu-satunya anak perempuan yang mereka akui adalah Shopia. Alasan mengapa Tuan Haysa membawa Hana dari desa hanyalah karena sebuah reputasi semata untuk menaikkan gengsi.

"Kau tenang saja, Shopia. Pertunangan ini adalah milikmu. Sekalipun dia datang, dia tidak akan bisa mengambilnya darimu. Salahkan saja dirinya yang tiba-tiba pergi tanpa pamit sampai harus merepotkan kepolisian kota," jawab Nyonya Haysa dengan entengnya.

"Iya benar, Shopia. Kau jangan mencemaskan apapun. Jika dia datang, Kakak yang akan menanganinya. Kau tenang saja," timpal Ethan, kakak tertua Hana.

Shopia tersenyum, menatap mereka dengan penuh kebahagiaan.

Jadi, bagaimana denganmu, Hana? Meskipun kau anak sah dari keluarga ini, tapi mereka lebih menyayangiku. Aku tidak bisa menolak semua ini. Salahkan dirimu yang tiba-tiba muncul dan ingin merebut Evan dariku.

Shopia bergumam di dalam hati, membayangkan Hana yang mati mengenaskan di tangan si penculik. Ia khawatir kemewahan yang selama ini dinikmatinya, akan hilang begitu saja.

"Terima kasih, Bu, Kak. Kalian selalu menyayangiku," katanya dengan sikapnya yang lembut dan penuh kepura-puraan.

Di sebuah sudut, dua pasang mata memperhatikan dari kejauhan. Mereka bersembunyi untuk mengawasi. Memeriksa kabar yang diterima.

"Yang Mulia, sepertinya kabar yang mengatakan bahwa ratu bereinkarnasi di keluarga ini hanyalah rumor semata. Keluarga ini hanya memiliki satu putri angkat, dan putri mereka yang tinggal di desa pun sudah tidak ada," ucap salah satunya setelah mengamati selama satu Minggu penuh.

Aku tidak akan menyerah untuk mencari keberadaanmu, Hana. Kau tiba-tiba menghilang dari istana, membuatku kebingungan. Kabar apapun tentangmu meskipun hanya sedikit kemungkinan akan aku kejar.

Ia berbalik dan pergi meninggalkan tempat pesta. Mobil mewahnya terparkir di samping gedung, dengan empat pengawal yang berjaga di sana. Dia putra mahkota dari keluarga Locke, Alaric yang terkenal misterius dan jarang menampakkan diri di hadapan publik.

Mobil mereka melesat cepat di jalanan hingga tak menyadari saat berpapasan dengan Hana yang dalam keadaan kacau berlumuran darah. Di jalan ia mendengar bahwa keluarganya tengah melangsungkan pesta pertunangan yang seharusnya menjadi miliknya.

"Aku datang untuk memberi kalian kejutan, bukan untuk mengacaukan pesta ini. Semoga kalian semua akan senang menerimanya," gumam Hana sembari berjalan menuju gedung milik keluarganya itu.

****

Pesta pertunangan sedang berlangsung, sepasang kekasih di atas podium sudah bersiap untuk bertukar cincin. Para tamu tak sabar menunggu, mereka ikut merasa gugup melihat keduanya.

Lalu, tiba-tiba pintu terbuka, sesosok bayangan yang muncul mencuri perhatian semua orang.

Argh!

"I-itu ...."

"Tidak mungkin!"

"Hantu!"

Bab 3

Hana berjalan di atas karpet merah dengan gaun putih yang berlumuran darah. Luka basah yang terus berdarah membuat semua orang terkesima sekaligus merasa jijik dengan keadaan Hana.

"Siapa dia? Kenapa datang dengan keadaan seperti itu?"

"Sungguh tidak tahu malu."

"Bukankah itu anak yang baru saja mereka ambil dari desa? Kenapa bisa seperti itu?"

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Bukankah dia adalah tunangan Tuan Muda Evan yang sebenarnya?"

"Ini bencana, pesta kebahagiaan ini dinodai oleh darah. Leluhur pasti akan marah pada keluarga ini."

"Apakah dia masih manusia? Atau hantu?"

Deg!

Hana menghentikan langkah dan menoleh kepada yang berbicara tadi. Lirikan matanya begitu tajam menggetarkan nyali mereka. Ia kembali menatap ke depan, melanjutkan langkah menuju keluarganya.

Desas-desus pun tak terelakkan, menggelitik telinga dua keluarga yang sedang melanjutkan pesta pertunangan itu. Kehadiran Hana sungguh mengganggu meriahnya pesta tersebut.

"Sungguh memalukan! Di hadapan para tamu kenapa dia berpakaian seperti itu!" geram seorang wanita tua dari keluarga Haysa, ia memukul-mukulkan tongkatnya ke lantai, begitu malu kepada semua yang hadir di pesta.

"Apa yang terjadi?" Tuan Haysa bertanya sendiri, ia terlihat marah dengan kedatangan Hana.

"Bukankah penculik itu mengatakan dia sudah mati? Kenapa bisa ada di sini?" bisik Evan kepada Shopia.

"Aku juga tidak tahu. Kita sendiri melihat mayatnya di sana. Sungguh kebal akan kematian," balas Shopia berbisik pula.

Hana berhenti di bawah podium, menatap satu per satu mereka yang berada di atasnya. Sepasang suami istri yang merupakan calon mertuanya dulu, menatap bingung keadaan Hana. Mereka tidak tahu apa-apa, tapi juga tidak suka dengan Hana yang tumbuh di desa.

Nyonya tua Haysa maju, berjalan tertatih dibantu oleh tongkatnya. Menghampiri Hana yang mematung menatap ke podium.

Ini adalah keluargamu, Hana? Tidak satu pun orang baik di dalam keluargamu ini. Kenapa kau mau kembali waktu itu?

Batin Hana bergumam, menelisik satu per satu dari anggota keluarga yang ada di sana. Lalu, tiba-tiba ....

Plak!

Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipinya yang dipenuhi luka gores. Hana berpaling, menahan rasa perih yang mendera lukanya.

"Anak tidak tahu diri! Apa maksudmu datang ke pesta pertunangan adikmu dengan pakaian memalukan seperti ini? Kau ingin mempermalukan seluruh keluarga, hah?" hardik nyonya tua Haysa berapi-api.

Hana mengeraskan rahang, berpaling menatap wanita tua di hadapannya. Tamparan itu berasal darinya, dari tangan tua yang sudah keriput, tapi masih bisa menyakiti cucu sendiri.

Mata Hana memindai tajam, membuat gugup nyonya tua di hadapannya.

Kenapa? Kenapa aku merasa takut kepadanya?

Nyonya tua Haysa bergumam di dalam hati, rasa takut merayap di dalam dirinya, tapi ia tepis begitu saja. Gadis di hadapannya adalah gadis desa yang lemah dan bodoh.

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau sudah tidak menganggap aku sebagai leluhur, hah?" bentak nyonya tua, matanya melotot tajam seperti belati yang siap menghunus.

"Leluhur? Kau ingin aku mengakuimu sebagai leluhur?" ujar Hana diakhir tawa menggelegak darinya. "Mimpi!" Hana memicingkan mata tajam.

Nyonya Tua tersinggung, tak terima dengan sikap Hana yang begitu lancang dan menantang dirinya.

"Kau ...!"

Tangan tua itu kembali terangkat hendak menampar Hana, tapi tangan Hana bergerak cepat menangkapnya. Ia mencengkram kuat pergelangan tangan wanita tua itu, tak peduli pada usia. Satu yang ia tahu, siapapun tidak boleh meremehkan seorang ratu.

"Wanita tua, kau menghadap leluhurmu sendiri tidak berlutut. Apa kau pantas menjadi penerus dari leluhur keluargamu?" Hana mengempeskan tangan wanita tua hingga membuatnya nyaris terjerembab.

Tuan Haysa, ayah Hana gegas berlari menangkap tubuh itu.

"Kau lihat! Buka matamu! Anak yang kau ambil kembali dari desa berani sekali melawanku! Apa yang kau harapkan darinya? Semestinya kau biarkan saja dia di desa!" cerocos wanita tua itu memarahi anaknya sendiri.

Nyonya Haysa menghampiri dan mengelus-elus dadanya dengan lembut. Menenangkan amarah wanita tua itu.

"Tenang, Bu. Tenangkan dirimu, jangan sampai sakit karena marah," katanya merayu.

Wanita tua itu menghentak, mendengus kesal.

"Bukan aku yang mau kembali ke keluarga ini, tapi dia yang mengambilku dengan menjanjikan kebahagiaan dan kehidupan yang mewah kepadaku. Tapi, ternyata aku hanya menjadi lelucon di keluarga ini. Jika kalian tidak menginginkan aku, kenapa tidak membiarkan aku tetap tinggal di desa?kemewahan yang kau janjikan, sama sekali tidak aku rasakan. Apa kalian benar-benar orang tuaku?" ujar Hana. Suara Hana memang rendah, tapi penuh dengan wibawa.

Mata Hana melirik Evan dan Shopia, senyum mencibir tercetak di bibirnya. Ia memandang kedua manusia hina itu.

"Kau mengaku sebagai tunanganku, tapi kemesraan itu hanya kau berikan kepada anak angkat itu. Sekarang, jasadku bahkan belum ditemukan, tapi kalian sudah tidak sabar. Aku harus merangkak dari neraka untuk menyaksikan kalian. Sungguh pasangan serasi yang menjijikkan!" lanjut Hana membuat gugup Evan dan Shopia, serta orang tua mereka.

"Lihatlah! Tuan Muda Evan sungguh tak sabar ingin segera mengikat cintanya dengan adik angkat ku. Padahal, tunangannya masih di sini. Apakah keluarga Anda begitu rendahnya, hingga menerima seorang putri angkat yang tidak jelas asal-usulnya itu?" cibir Hana menatap orang tua Evan setelah menatap para tamu undangan.

Bisik-bisik pun sampai di telinga mereka. Evan semakin gugup, tak ada kata yang keluar dari bibirnya untuk membungkam Hana.

"Kurang ajar!"

Plak!

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!