Indonesia
NovelToon NovelToon

Braja Geni

Bab 1

Iring-iringan pedati itu melintasi jalan sempit di pinggiran Hutan Tambak Baya. Roda kayunya berderit lirih, memecah sunyi malam yang pekat. Di kiri kanan, pepohonan tua menjulang seperti bayangan raksasa, daunnya berdesir pelan diterpa angin.

Rombongan itu terdiri dari empat orang pengawal bersenjata lengkap. Wajah-wajah mereka tegang, sorot mata waspada, seakan setiap bunyi ranting patah bisa menjadi pertanda bahaya.

Di dalam pedati utama, duduk seorang tumenggung yang gelisah tak karuan. Dialah Ki Martanu, senopati wilayah barat Mataram, tepatnya dari Karangwilis. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak muram. Tangannya sesekali mengepal di atas lutut, menahan kecemasan yang mengguncang batinnya.

Di sampingnya terbaring sang istri, tubuhnya lemah, napasnya berat. Malam itu ia sudah tak lagi mampu menahan derita. Kandungannya telah berusia dua belas bulan—suatu kejanggalan yang membuat siapa pun bergidik. Namun sang jabang bayi seakan enggan melihat dunia.

Sudah entah berapa tabib dan dukun yang dipanggil untuk membantu. Ramuan terbaik telah diracik. Doa-doa telah dipanjatkan. Mantra-mantra telah dilantunkan. Tetapi semua usaha itu tak membuahkan hasil.

Dan kini, di tengah perjalanan sunyi menuju harapan terakhir, kegelisahan Ki Martanu terasa semakin menyesakkan.

Namun tiba-tiba, di tengah hutan belantara yang sunyinya nyaris mencekik, terdengar suara tawa menggelegar.

Tawa itu bukan tawa manusia biasa. Ia bergulung-gulung di antara batang-batang pohon, memantul dari satu rimba ke rimba lain, seolah seluruh hutan ikut menertawakan malam. Tanah bergetar halus. Udara terasa berat.

Para pengawal serentak menghentikan iringan pedati. Kuda-kuda meringkik gelisah, menghentakkan kaki ke tanah. Beberapa pengawal terhuyung, tangan mereka mencengkeram dada.

Dada mereka terasa sesak—seakan gelombang tak kasatmata menghantam jantung dari dalam. Nafas memburu, pandangan berkunang.

Di dalam pedati, Ki Martanu turut merasakan tekanan itu. Dadanya berdenyut keras, namun ia segera memusatkan tenaga dalamnya. Nafasnya ditarik panjang, lalu dilepaskan perlahan. Gelombang tekanan itu berangsur surut di tubuhnya.

"Aji Gelap Ngampar…" geramnya pelan.

Matanya menyala waspada.

Ilmu tingkat tinggi. Ilmu yang tak sembarang orang mampu menguasainya.

"Siapa yang malam-malam begini berani bermain ilmu…" desisnya, suaranya rendah namun sarat amarah tertahan.

Di sampingnya, sang istri semakin gelisah. Tubuhnya yang lemah kini gemetar. Kedua tangannya mencengkeram kain penutup perutnya.

"Siapa itu, Kakang?" tanyanya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat, mata dipenuhi ketakutan.

Ki Martanu menoleh, berusaha menenangkan, meski hatinya sendiri mulai digerogoti firasat buruk.

"Entah, Nyai…" jawabnya lirih namun tegas. "Namun firasatku tak enak. Ilmu seperti itu bukan sembarang unjuk kesaktian. Ada niat yang tak bersih di baliknya."

Angin malam mendadak berhenti.

Dan dari balik pepohonan, sepasang mata merah menyala perlahan muncul di kegelapan.

Tiba-tiba, dari dalam rimbunnya hutan, berkelebat tiga sosok bayangan.

Gerak mereka begitu cepat—seperti bayang-bayang yang terlepas dari tubuhnya sendiri. Dalam sekejap, ketiganya telah berdiri menghadang iringan pedati. Tanah yang mereka pijak seperti tak bersuara, seolah malam merestui kehadiran mereka.

Para pengawal spontan membentuk formasi. Tombak dan pedang terhunus. Nafas ditahan. Mata mereka menyapu gelap, mencoba membaca gelagat lawan.

“Hey! Siapa kau malam-malam begini berani menghalau kami? Minggir…!” bentak pemimpin pengawal, suaranya menggelegar memecah sunyi.

Salah satu dari tiga sosok itu melangkah maju. Tubuhnya tinggi, berselubung jubah hitam panjang. Wajahnya samar tertutup bayangan, namun senyumnya terdengar jelas dalam nada suaranya.

“Oh… jangan galak-galak, kisanak,” ujarnya ringan, hampir mengejek. “Aku hanya ingin bertemu Ki Martanu. Dan… aku juga menginginkan istrinya.”

Beberapa pengawal saling berpandangan. Rahang mereka mengeras.

“Jangan main-main, kisanak!” hardik sang pemimpin pengawal. “Kami sedang terburu-buru. Di dalam pedati itu ada istri tumenggung yang hendak melahirkan. Kami menuju seorang dukun sakti untuk menolongnya. Dan kau berani menghalangi?”

Ia melangkah setapak ke depan, ujung pedangnya mengarah lurus ke dada si penghadang.

“Apa kau sudah gila? Kami pengawal seorang senopati Mataram! Kau hendak mencari mati, hah?!”

Tawa rendah terdengar dari balik tudung hitam.

“Hahaha… aku tak peduli siapa kalian,” balas sang ketua penghadang. “Nyai Raras akan kuambil. Ia akan kuserahkan kepada seseorang… yang telah lama menantinya.”

Angin malam mendadak berputar di sekitar mereka. Daun-daun beterbangan tanpa sebab.

“Sekarang… serahkan Nyai Raras,” lanjutnya, suaranya berubah dingin dan tajam. “Atau akan kubantai kalian semua.”

Aura kelam memancar dari tubuhnya. Dua sosok di belakangnya mulai menyebar, mengepung perlahan.

Di dalam pedati, Ki Martanu membuka tirai perlahan.

Matanya menatap lurus ke arah tiga bayangan itu.

Tenang.

Namun di balik ketenangan itu, bara amarah mulai menyala.

Pintu pedati terbuka perlahan.

Ki Martanu turun dengan langkah mantap. Tanah berderak pelan di bawah pijakannya. Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras. Sepasang matanya membara oleh amarah yang nyaris tak terbendung.

Ia berjalan melewati para pengawalnya dan berdiri beberapa tombak dari ketiga penghadang.

“Kisanak,” suaranya rendah namun bergetar oleh wibawa. “Kau tak berhak mengancam kami. Jika kau tak memberi jalan… tubuhmu akan kucincang hingga lumat!”

Angin malam berdesir keras, seolah menyibakkan aura yang memancar dari tubuh sang tumenggung.

Ketua penghadang itu justru tertawa panjang.

“Hahaha… Ki Martanu. Akhirnya kau keluar juga. Selamat malam, Ki.”

Ia melangkah maju setapak. Tudung hitamnya tersingkap sedikit, memperlihatkan sorot mata tajam penuh siasat.

“Kami tak berniat mencelakaimu tanpa alasan. Kami hanya meminta istri dan calon bayimu.”

Beberapa pengawal menggeram.

“Aku tahu,” lanjutnya, “istrimu tengah menderita karena kandungannya yang tak kunjung lahir. Dua belas bulan… bukan waktu yang wajar bagi manusia biasa.”

Suasana hutan terasa makin pekat.

“Maka biarlah kami membantunya. Ada seorang pertapa sakti yang menanti kehadiran bayi itu. Bayi ajaib… bayi satu Suro.” Suaranya kini terdengar lebih dalam, hampir seperti bisikan gaib. “Kau tahu sendiri, Ki. Malam ini adalah malam 1 Suro. Waktu ketika tabir antara dunia terbuka tipis.”

Ia menatap lurus ke arah Ki Martanu.

“Ia akan lahir malam ini. Dan kau tentu tahu mitos itu, bukan?”

Ki Martanu tak berkedip.

“Ya,” jawabnya datar. “Konon, bayi yang dikandung selama dua belas bulan dan lahir pada malam 1 Suro akan memiliki kekuatan bagai Gatotkaca. Tulangnya sekeras baja, uratnya sekuat kawat, dan raganya tak mudah ditembus senjata.”

Ia melangkah setapak maju. Tanah di bawah kakinya retak tipis oleh tekanan tenaga dalam.

“Tapi itu hanya mitos, kisanak.”

Tatapannya berubah tajam bagai bilah pedang.

“Dan sekalipun itu benar… anak itu adalah darah dagingku. Tak akan kubiarkan siapa pun menyentuhnya. Sekarang… minggirlah.”

Hening.

Hanya suara daun yang bergesekan pelan.

Ketua penghadang itu tersenyum tipis.

“Oh… jadi kau memilih jalan darah, Ki Martanu?”

Dua sosok di belakangnya mulai merentangkan tangan. Aura hitam berputar di sekeliling mereka.

Malam 1 Suro belum mencapai puncaknya.

Dan pertumpahan darah tampaknya tak lagi bisa dihindari.

Bab 2

“Sayang sekali, Ki Martanu,” ujar ketua penghadang dengan suara dingin. “Kami tak akan pergi sebelum mendapatkan istrimu… dan bayimu.”

“Kurang ajar!” geram Ki Martanu. Urat di pelipisnya menegang.

Tanpa menunggu lebih lama, ia mengangkat tangan memberi aba-aba.

“Serang…!!”

Empat pengawal itu langsung menerjang dua penghadang di sisi kiri dan kanan. Pedang beradu dalam kilatan cahaya bulan. Denting baja memecah malam, memercikkan bunga api di udara gelap.

Sementara itu, Ki Martanu berdiri tegap menghadapi sang ketua.

Ia mengatur kuda-kuda silatnya dengan tenang namun penuh kesiapan. Kakinya bergeser perlahan ke samping, renggang dan kokoh. Tanah di bawahnya seperti ikut menahan tenaga yang mengendap di tubuhnya. Tangan kanannya telah menggenggam sebilah pedang pusaka, bilahnya berkilau redup diterpa cahaya rembulan.

Angin berputar kecil di sekitar mereka.

“Siapa sebenarnya kau, kisanak?” tanya Ki Martanu, suaranya berat namun terkendali. “Apakah kau yang menggunakan Aji Gelap Ngampar itu?”

Lelaki berjubah hitam itu terkekeh pelan.

“Hehe… akhirnya kau bertanya juga.”

Ia membuka tudungnya sepenuhnya. Wajahnya keras, rahangnya tajam, kumisnya tebal melintang. Sorot matanya liar namun penuh keyakinan.

“Benar. Akulah yang menggetarkan dadamu tadi, Ki Tumenggung. Seharusnya kau sudah sadar dan mengikuti kemauanku sejak awal.”

Aura hitam perlahan menyelimuti tubuhnya. Tanah di sekitarnya menghitam seperti terbakar bayangan.

“Ilmumu tak akan mampu menandingiku,” lanjutnya dingin. “Namaku Warok Gondosupit.”

Nama itu seakan menggema di antara pepohonan.

Beberapa pengawal yang masih bertarung sempat tertegun mendengarnya.

“Menyerahlah, Ki Tumenggung,” ancam Warok Gondosupit. “Serahkan istrimu… dan kau akan terbebas dari maut.”

Ki Martanu tersenyum tipis.

Senyum yang bukan lahir dari rasa gentar—melainkan dari keyakinan seorang ksatria.

“Warok atau bukan…,” ucapnya perlahan. “Tak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa memaksaku menyerahkan darah dagingku.”

Pedangnya terangkat sejajar dada.

“Jika maut harus datang malam ini… biarlah ia datang setelah aku menghunuskan pedangku ke lehermu!”

Mata mereka saling mengunci.

Sepersekian detik kemudian—

Angin berhenti.

“Sringgg—!”

Sebuah golok besar berwarna perak meluncur keluar dari sarungnya. Bilahnya lebar dan berat, memantulkan cahaya bulan dengan kilau dingin. Dalam sekejap, senjata itu telah tergenggam kokoh di tangan Warok Gondosupit.

“Aku sudah memperingatkanmu, Ki Tumenggung,” desisnya. “Jangan menyesal!”

“Heiyaaahhh—!”

Tubuhnya melesat maju. Golok perak itu menyilang ke atas dalam tebasan ganas, membelah angin dengan suara siulan tajam.

Ki Martanu tak bergeming. Dengan sigap ia mengangkat pedangnya, mengerahkan tenaga dalam ke kedua lengannya.

“Trangggg—!!”

Golok dan pedang beradu keras.

Dentangannya memekakkan telinga. Gelombang tenaga dari benturan itu memancar liar, menggoyangkan ranting dan semak belukar di sekitar mereka. Debu berhamburan. Tanah bergetar.

Itu bukan sekadar adu senjata—itu benturan dua tenaga dalam yang sama-sama matang.

Ki Martanu terdorong setengah langkah ke belakang. Tatapannya mengeras. Ia tak menyangka Warok Gondosupit memiliki tenaga sebesar ini.

Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Ki Martanu telah mendengar desas-desus yang beredar di wilayahnya.

Konon, bayi yang dikandung istrinya akan menjadi rebutan para jago silat. Entah dari aliran putih yang mengaku menegakkan kebenaran… atau dari aliran hitam yang haus kekuatan.

Namun kabar itu menyebutkan bahwa perebutan akan terjadi setelah sang bayi lahir.

Ternyata ia keliru.

Bahkan sebelum jabang bayi itu melihat dunia, sudah ada tangan-tangan licik yang ingin merebutnya.

Warok Gondosupit hanyalah pelaksana.

Di balik semua ini, ada sosok lain yang lebih berbahaya.

Seorang pertapa aliran hitam yang terkenal akan kelicikan dan tipu dayanya.

Namanya… Ki Respada.

Dialah yang mengincar bayi malam satu Suro itu.

Dialah yang ingin mendahului para tokoh silat lainnya.

Dan jika Ki Martanu tak mampu menghentikan Warok Gondosupit malam ini…

Maka tak hanya keluarganya yang terancam.

Seluruh tanah Karangwilis bisa saja terseret dalam pusaran kekacauan.

Ki Martanu sadar, ia tak bisa berlama-lama.

Di dalam pedati, istrinya tengah berjuang antara hidup dan mati. Setiap detik yang terbuang bisa menjadi penyesalan seumur hidup.

Maka tanpa ragu, ia mengerahkan tenaga dalamnya hingga ke tingkat tertinggi.

Urat-urat di lengannya menegang. Nafasnya berubah dalam dan berat. Aura tipis berpendar di sekeliling tubuhnya, membuat dedaunan di tanah bergetar pelan seolah terseret arus tak kasatmata.

Sesaat setelah benturan dahsyat itu, Ki Martanu memutar tubuhnya secepat kilat.

Gerakannya nyaris tak tertangkap mata.

Pedangnya menyambar dalam lintasan melengkung, langsung mengarah ke leher Warok Gondosupit.

Sebuah tebasan bersih.

Cepat. Tajam. Tanpa ampun.

Warok Gondosupit terkejut. Ia tak menyangka Ki Martanu mampu meningkatkan tenaga dan kecepatan sedemikian rupa dalam waktu sesingkat itu.

Namun warok itu bukan petarung sembarangan.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang telah diasah bertahun-tahun, ia menghentakkan ujung kakinya ke tanah dan melesat mundur dalam satu gerakan ringan.

Tebasan pedang Ki Martanu hanya lewat segaris tipis dari lehernya.

Begitu tipis… hingga helaian rambut di tengkuk Warok terpotong dan melayang jatuh.

Warok terperangah.

Untuk pertama kalinya sejak duel dimulai, matanya membesar oleh keterkejutan.

Sedikit saja ia terlambat.

Seujung kuku saja.

Maka lehernya sudah tertebas dan kepalanya telah menggelinding di tanah hutan Tambak Baya.

Angin malam kembali berdesir.

Kini bukan hanya Ki Martanu yang memancarkan aura membunuh.

Warok Gondosupit pun mulai menyadari—

Ia tidak sedang menghadapi senopati biasa.

Ia sedang berhadapan dengan seorang pendekar sejati yang bertarung demi darah dagingnya.

Dan pertarungan ini… tak akan berakhir dengan mudah.

Warok Gondosupit tak tinggal diam.

Melihat serangan Ki Martanu yang nyaris merenggut nyawanya, ia pun meningkatkan kecepatan serta tenaga dalamnya. Otot-ototnya menegang, napasnya memburu, dan aura kelam di sekeliling tubuhnya semakin pekat.

Begitu menghindar, ia langsung melesat ke depan.

Tubuhnya seperti bayangan hitam yang diterjang angin malam.

Golok peraknya berdesing lurus ke arah dada Ki Martanu—sebuah tusukan cepat yang mematikan.

Ki Martanu sigap. Pedangnya terangkat dalam gerakan pendek namun presisi.

“Trang!”

Serangan itu tertangkis. Arah golok berbelok dan hanya membelah angin kosong.

Tak memberi kesempatan, keduanya langsung terlibat dalam jual beli serangan yang sengit.

Pedang Ki Martanu menari cepat, menyambar dari kanan, kiri, atas, dan bawah. Gerakannya sistematis, rapat, dan menekan. Ia bagai seekor elang yang mengepakkan sayapnya tinggi, lalu menyambar mangsa dengan cakar mematikan.

Namun Warok Gondosupit bukan kelinci yang mudah dicengkeram.

Ia adalah macan rimba.

Dengan kelincahan luar biasa, ia meloncat, berputar, dan menghindar dalam gerakan-gerakan pendek yang efisien. Setiap elakan dilakukan pada jarak yang nyaris tak masuk akal—selalu segaris dari maut.

Goloknya sesekali membalas dengan tebasan brutal, memaksa Ki Martanu menjaga jarak.

Di sisi lain, pertarungan empat pengawal melawan dua penghadang tak kalah sengit.

Meski jumlah mereka lebih banyak, para pengawal tidak sepenuhnya unggul. Dua penghadang itu rupanya bukan petarung biasa. Golok mereka menyambar ke segala penjuru dengan kecepatan mengerikan.

Kilatan bilah perak mereka bagai maut yang menari dalam gelap.

“Ahhh—!”

Sebuah rintihan perih memecah udara.

Salah satu pengawal terhuyung mundur. Lengannya tergores golok lawan. Sayatan itu tidak dalam, namun cukup membuat darah mengalir deras membasahi lengan bajunya.

Bau darah mulai tercium di udara malam.

Dan bau itu… membuat pertarungan semakin buas.

Ki Martanu melirik sekilas ke arah pengawalnya yang terluka.

Hatinya makin membara.

Ia tak bisa membiarkan ini berlarut-larut.

Karena semakin lama pertarungan berlangsung…

Semakin besar kemungkinan Nyai Raras di dalam pedati berada dalam bahaya.

Bab 3

Pedang Ki Martanu berkelebat semakin cepat.

Bilahnya menari tanpa jeda, membentuk jaring-jaring maut yang menyelimuti tubuh Warok Gondosupit dari segala arah. Tebasan datang bertubi-tubi, seolah tak memberi ruang bagi lawannya untuk bernapas.

Warok mulai terdesak.

Langkahnya makin mundur. Nafasnya memburu.

Dan pada satu celah yang tercipta dalam sepersekian detik—

“Crat!”

Ujung pedang Ki Martanu berhasil menggores dada kiri Warok.

Tak dalam, namun cukup membuat kain jubahnya robek dan seleret luka tipis memanjang di kulitnya. Darah merembes perlahan, hangat di bawah cahaya bulan.

“Kurang ajar…!” geram Warok sambil meraba lukanya. Matanya kini tak lagi sekadar tajam—ia membara oleh amarah.

Aura kelam di sekeliling tubuhnya mendadak bergejolak.

Warok Gondosupit menghentakkan kakinya keras ke tanah. Tanah retak tipis di bawah pijakannya.

Ia mulai mengerahkan salah satu jurus tertingginya.

Golok besar di tangannya bergetar halus… lalu perlahan mengeluarkan kepulan asap tipis. Asap itu berwarna kelabu gelap, berpilin seperti ular yang melingkari bilah senjata.

Seketika, hawa di sekitar mereka berubah.

Panas.

Menusuk.

Setiap sabetan golok Warok kini memendarkan hawa membakar. Angin yang terbelah oleh ayunannya terasa seperti semburan api yang menyengat kulit.

Ki Martanu tertegun sesaat.

Saat golok itu menyambar lagi—

“Wussshh!”

Hawa panasnya menyentuh lengan Ki Martanu meski belum mengenai tubuhnya. Rasa perih seperti tersiram bara menjalar cepat.

“Ilmu apa lagi ini…?” batin Ki Martanu.

Ia tak menyangka Warok Gondosupit menguasai jurus berhawa api seperti ini.

Asap dari golok itu makin tebal.

Tanah yang terkena sabetannya menghitam, daun-daun kering terbakar seketika.

Warok tersenyum dingin di balik kepulan asap.

“Ini adalah… Pangalasan Bara Sukma,” ucapnya rendah. “Ilmu yang mampu membakar bukan hanya raga… tapi juga tenaga dalam lawanku.”

Suhu di sekitar mereka terus meningkat.

Dan Ki Martanu mulai menyadari—

Jika pertarungan ini berlanjut dengan tempo seperti ini…

Ia bukan hanya harus menjaga nyawanya.

Ia harus menjaga agar tenaga dalamnya tak habis terkikis oleh panas golok Warok Gondosupit.

Walau Ki Martanu masih mampu bergerak secepat bayangan, dan tak satu pun sabetan golok Warok benar-benar menyentuh tubuhnya, hawa panas yang ditebarkan bilah perak itu semakin menyiksa.

Setiap ayunan terasa seperti semburan bara.

Kulitnya perih, napasnya makin berat.

Bukan hanya panasnya yang mengerikan—ia mulai menyadari sesuatu yang lebih berbahaya.

Tenaga dalamnya… perlahan seperti tersedot.

Setiap kali pedangnya beradu dengan golok Warok, ada sensasi aneh. Seperti pusaran halus yang menarik tenaga dari lengannya, dari dadanya, dari pusat pernapasannya.

Ki Martanu mulai gelisah.

Dan kegelisahannya berubah menjadi amarah saat sekilas ia melihat ke arah pertempuran para pengawal.

Salah satu pengawalnya terjerembab di tanah.

Sebuah luka tusuk menganga di perutnya. Darah mengalir deras membasahi tanah hutan.

“Ahhh…!” rintih pengawal itu sebelum tubuhnya melemah.

“Hahaha…!” tawa Warok menggema. “Nah, Ki Martanu. Bukankah sudah kubilang sejak awal? Kau tak perlu melawan.”

Ia melangkah maju perlahan, goloknya masih mengepulkan asap panas.

“Sekarang lihatlah. Kau mulai melemah. Anak buahmu mulai tumbang. Dan kau… akan menyesal.”

Senyumnya melebar.

“Aku masih memberimu kesempatan. Serahkan istrimu.”

Namun Ki Martanu bukan lelaki yang mudah dipatahkan.

Matanya menyala.

“Tidak!” bentaknya keras. “Kau tak akan bisa mengambil istriku sebelum kau melangkahi mayatku!”

“Heiyaaahhh—!!”

Ki Martanu menarik napas panjang, dalam… sangat dalam.

Ia memusatkan seluruh sisa tenaga dalamnya ke pusat perutnya, lalu menghentakkannya ke seluruh tubuh. Urat-uratnya menegang, auranya kembali memancar kuat.

Tanah di sekitarnya bergetar halus.

Dengan satu gerakan melintang dari arah kiri, pedangnya menyasar lambung Warok dalam tebasan penuh tenaga.

“Trangggg—!!”

Warok menangkisnya.

Namun kali ini benturannya jauh lebih dahsyat.

Golok Warok hampir terlepas dari genggamannya. Tangannya bergetar hebat. Rasa nyeri menjalar hingga ke bahunya.

Warok terbelalak.

Ternyata Ki Martanu masih mampu meningkatkan tenaga dalamnya lebih tinggi lagi.

Namun senyum tipis kembali muncul di bibir Warok.

Karena ia tahu…

Jurusnya bukan jurus biasa.

Semakin besar tenaga dalam yang dikerahkan Ki Martanu, semakin kuat pula daya serap goloknya bekerja.

Asap yang menyelimuti bilah itu makin tebal.

Dan Ki Martanu mulai merasakan pusaran energi di dalam tubuhnya semakin liar.

Tenaganya seperti mengalir… masuk… ke dalam golok Warok.

Jika ini terus berlangsung—

Bukan Warok yang akan kehabisan tenaga.

Melainkan dirinya sendiri.

Ternyata jumlah yang lebih banyak di kubu Ki Martanu bukanlah penentu kemenangan.

Ilmu yang lebih tinggi di pihak Warok membuat keadaan berbalik kejam.

Satu per satu pengawal Ki Tumenggung terkapar di tanah, bersimbah darah. Rintihan mereka memudar bersama hembusan angin malam. Dua anak buah Warok—dengan golok berlumur merah—berdiri terengah namun masih tegak.

Empat pengawal telah tumbang.

Hutan Tambak Baya kini berbau darah dan asap panas.

Ki Martanu sendiri mulai melemah. Nafasnya berat. Pusaran tenaga dalam di tubuhnya tak lagi stabil. Jurus penyerap energi milik Warok telah menggerogoti cadangan kekuatannya sedikit demi sedikit.

Namun sorot matanya belum padam.

Ia tahu—ini harus diakhiri sekarang.

Dengan sisa tenaga dalam yang masih tersimpan di pusat perutnya, Ki Martanu melompat mundur setapak. Tangannya bergerak cepat mencabut sebilah keris pusaka dari balik ikat pinggangnya.

Bilahnya berlekuk sembilan, memantulkan cahaya bulan dengan kilau dingin.

Ia mengangkat keris itu tinggi-tinggi di atas kepala.

Bibirnya komat-kamit membaca mantra kuno warisan leluhur Karangwilis.

Angin berputar liar.

Tanah di bawah kakinya bergetar.

Tiba-tiba—

Keris itu bergetar hebat… lalu membelah diri.

Satu menjadi dua.

Dua menjadi lima.

Lima bilah keris identik melayang di udara, tersusun setengah lingkaran, memancarkan cahaya biru terang yang menyilaukan.

Warok Gondosupit terkejut, namun ia cepat tanggap.

Dalam satu gerakan lincah, ia bersalto ke belakang tiga kali berturut-turut, menjauh dari jangkauan Ki Martanu.

Begitu mendarat, ia langsung duduk bersila.

Kedua tangannya disilangkan di depan dada. Matanya terpejam. Mantra hitam meluncur deras dari mulutnya.

Aura kelam berputar di atas kepalanya.

Lalu—

Dari pusaran asap itu terbentuk bola-bola api.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Bola api merah membara melayang tepat di atas kepalanya, berputar perlahan namun sarat daya hancur.

Dan memang benar.

Saat mata Ki Martanu terbuka—sorotnya tajam bagai petir—

Ia berteriak lantang.

“Heiyaaahhh—!!”

Lima keris bercahaya biru melesat secepat kilat, mengoyak udara malam, langsung mengarah ke Warok Gondosupit.

Warok pun telah siap.

Dengan hentakan kedua tangannya ke atas—

Lima bola api itu meluncur menyongsong.

Dua kekuatan berbeda unsur bertemu di udara.

Biru dan merah.

Cahaya dan bara.

“BLARRRRR—!!!”

Ledakan dahsyat mengguncang hutan.

Gelombang kejutnya menyapu pepohonan di sekitarnya. Ranting-ranting patah beterbangan. Tanah terbelah tipis. Burung-burung malam terbang panik meninggalkan sarang.

Asap tebal mengepul tinggi ke langit.

Sejenak…

Tak ada yang terlihat.

Hanya sisa cahaya dan debu yang melayang di udara malam satu Suro.

Dan di balik kepulan asap itu—

Nasib Ki Martanu dan Warok Gondosupit ditentukan oleh siapa yang masih mampu berdiri.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!