Malam itu, semesta seolah sedang bekerja sama untuk menghancurkan kewarasan Aruna. Jam di dinding menunjukkan pukul 02.15 pagi. Di atas meja kayu yang sudah reyot, bertumpuk tiga gelas kopi instan yang sudah dingin, sisa-sisa bungkus mi instan, dan sebuah laptop yang kipasnya berbunyi seperti mesin pesawat tempur yang akan lepas landas.
Aruna, mahasiswi DKV tingkat akhir, sedang berada dalam fase zombie produktif. Matanya merah, rambutnya yang dicepol asal-asalan menggunakan pensil 2B tampak seperti sarang burung yang baru saja terkena puting beliung.
"Satu layer lagi... cuma satu layer lagi dan aku akan tidur,"
gumam Aruna dengan suara parau, lebih mirip kutukan daripada harapan. Tangannya gemetar menggerakkan mouse.
"Kalau Photoshop ini crash sekarang, aku bersumpah akan pindah jurusan jadi peternak lele."
Tepat saat jarinya hendak menekan tombol Save, sebuah suara keras menghantam balkon kamar kosnya.
BRAAAKK!
Disusul dengan suara benda plastik yang pecah yang Aruna yakini adalah pot bunga kaktus Cactus Jack kesayangannya yang baru ia beli di Shopee minggu lalu.
"Maling?" Aruna membeku.
Pikirannya langsung melayang ke laptopnya.
"Jangan laptopnya, Bang! Ambil saja skripsiku, aku ikhlas! Ambil daster-dasterku juga boleh!"
Dengan keberanian yang dipaksakan (dan karena dia terlalu lelah untuk merasa takut), Aruna menyambar penggaris besi 60 cm miliknya. Dia mendekati pintu balkon dengan langkah mengendap-endap seperti ninja yang sedang encok.
Saat dia menyibak gorden, pemandangan di depannya jauh lebih absurd daripada sekadar maling.
Di sana, di antara reruntuhan kaktus dan jemuran daster motif macan tutul yang jatuh, tergeletak seorang pria.
Pria itu memakai jaket kulit hitam yang penuh dengan payet berkilauan, celana kulit ketat yang terlihat menyiksa sirkulasi darah, dan rambut perak yang tertata rapi meski habis jatuh dari ketinggian tiga meter.
"Heh! Maling! Kamu mau maling jemuran daster ya?!" teriak Aruna sambil membuka pintu balkon dan menodongkan penggaris besinya ke leher pria itu.
Pria itu tidak bergerak, dia mengerang pelan. Wajahnya tertutup masker hitam yang kemudian terlepas, menyingkap wajah yang begitu simetris, hidung yang begitu mancung, dan kulit yang begitu mulus sampai-sampai Aruna merasa kulitnya sendiri menyerupai permukaan aspal jalanan yang sedang diperbaiki.
"Aduh..." pria itu membuka matanya.
Matanya berkedip pelan, menatap Aruna dengan tatapan kosong.
"Jangan pasang muka melas begitu ya! Kamu pikir karena kamu ganteng, aku bakal luluh? Kamu tahu harga kaktus itu berapa? Itu kaktus impor dari planet Namec!" bentak Aruna, meski sebenarnya dalam hati dia berteriak,
Gila, ini orang atau manekin hidup? Kok hidungnya bisa tajam banget kayak duri kaktus yang dia timpa?
Pria itu duduk perlahan, memegang kepalanya. Dia menatap sekeliling, ke daster yang tersampir di kepalanya, ke penggaris besi Aruna, lalu kembali ke wajah Aruna yang penuh coretan pensil.
"Saya... di mana?" tanya pria itu.
Suaranya rendah dan merdu, tipe suara yang biasanya hanya terdengar di iklan kopi mahal atau drama Korea saat adegan hujan.
"Di kosan Aruna, area terlarang untuk kaum pria dan makhluk halus!" jawab Aruna galak.
"Cepat jelaskan, kenapa kamu manjat balkonku malam-malam begini? Kamu sasaeng? Atau pengedar panci?"
Pria itu terdiam lama. Dia mengerutkan kening seolah sedang mencoba memecahkan kode rahasia negara.
"Siapa... saya?"
Aruna terbahak.
"Hahaha! Klasik! Mau pakai jurus pura-pura hilang ingatan biar nggak aku laporin ke Mbak Widya? Enggak mempan, Bambang!"
"Bambang?" Pria itu memiringkan kepalanya.
"Apakah itu nama saya? Bambang? Rasanya... sedikit kurang... berkilau."
Aruna berhenti tertawa. Dia memperhatikan mata pria itu tidak ada tanda-tanda kebohongan, yang ada hanyalah tatapan polos yang biasanya hanya dimiliki oleh bayi baru lahir atau mahasiswa yang melihat soal ujian kalkulus.
"Eh, serius kamu nggak ingat?" Aruna mendekat, menurunkan penggaris besinya.
"Kamu jatuh tadi. Kepalamu kena pot kaktus. Jangan-jangan..."
Aruna menepuk pipi pria itu dengan pelan (yang sebenarnya lebih ke arah menampar karena dia gemas).
"Heh, kamu tahu siapa yang ada di TV-TV itu? Yang grup-grup nyanyi itu?"
Pria itu menoleh ke arah layar laptop Aruna yang kebetulan sedang menampilkan iklan produk skincare yang dibintangi oleh grup LUMINOUS. Dia menatap dirinya sendiri di layar ada sosok Javi yang karismatik, dingin, dan mematikan.
Lalu pria itu kembali menatap Aruna.
"Dia terlihat sangat lelah memakai jas seberat itu. Tapi tidak, saya tidak kenal dia. Kenapa wajahnya mirip saya? Apakah dia sepupu saya yang lebih sukses?"
Aruna melongo, Ini gila! Ini Javier! Javi! Si Ice Prince nasional yang wajahnya ada di setiap halte bus! Dan sekarang dia sedang duduk di lantai balkon kosannya dengan daster macan tutul di pundaknya, bertanya apakah dirinya sendiri adalah sepupunya yang sukses.
Otak Aruna yang sudah kelebihan beban kerja mulai berputar liar. Jika dia menyerahkan Javi ke agensinya sekarang, dia mungkin akan mendapat imbalan. Tapi bayangkan betapa repotnya berurusan dengan polisi, media, dan fans fanatik yang bisa membakar kosannya jika tahu idol kesayangan mereka pingsan di antara daster Aruna.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari tangga luar. Itu suara Mbak Widya, sang pemilik kos yang telinganya lebih tajam daripada radar sonar kapal selam.
"Aruna! Suara apa itu di balkon?! Kamu bawa cowok ya?!" teriak Mbak Widya dari lantai bawah.
Aruna panik, setengah mati panik. Kalau Javi ketahuan, Aruna bukan cuma diusir, tapi mungkin akan dicoret dari Kartu Keluarga oleh dunia.
"Gawat! Sembunyi!" Aruna menarik kerah jaket kulit Javi.
"Ke mana? Dan kenapa saya harus sembunyi dari wanita yang suaranya seperti toa masjid itu?" tanya Javi polos.
"Jangan banyak tanya, Ujang!"
"Ujang? Tadi Anda panggil saya Bambang."
"Nama tengahmu Ujang! Cepat masuk!"
Aruna menyeret Javi masuk ke kamarnya, lalu membanting pintu balkon. Dia mendorong Javi ke bawah tempat tidur, tapi karena Javi memiliki kaki yang sangat panjang, kakinya tetap mencuat keluar.
"Tekuk kakimu, Ujang! Kamu bukan model lagi sekarang!" bisik Aruna sambil menendang pelan kaki Javi agar masuk ke kolong.
"Aduh! Tempat ini sangat berdebu. Apakah asisten saya tidak membersihkan bawah ranjang ini selama tiga tahun?" keluh Javi dari bawah sana.
"Aku asistennya! Dan diamlah!"
Pintu kamar diketok dengan keras. Mbak Widya masuk tanpa izin adalah kebiasaan buruknya. Dia membawa sapu lidi, matanya menyisir setiap sudut kamar Aruna yang berantakan.
"Suara apa tadi, Ar? Tadi saya dengar suara 'brak'! Terus kayak ada suara cowok ganteng... eh, suara cowok!" Mbak Widya menyipitkan mata.
Aruna berkeringat dingin.
"Itu... itu tadi saya lagi latihan teater, Mbak! Buat tugas kuliah! Judulnya Jatuh dari Tangga Kehidupan. Makanya ada suara brak."
Mbak Widya mendekati tempat tidur. Aruna hampir pingsan saat melihat ujung sepatu Javi yang mengkilap sedikit menyembul dari sprei yang berantakan.
"Kok kayak ada bau parfum mahal di sini?" Mbak Widya menghirup udara.
"Bau-bau... Javi LUMINOUS. Kamu lagi dengerin lagunya ya?"
"Iya! Lagi dengerin lagu 'Love Me Like You Do' versi koplo, Mbak! Makanya wanginya sampai sini!" jawab Aruna asal-asalan.
Mbak Widya mengedikkan bahu.
"Ya sudah. Awas ya kalau bawa cowok. Kos-kosan ini suci dari polusi pria!"
Begitu Mbak Widya keluar dan menutup pintu, Aruna langsung merosot ke lantai. Dia menarik Javi keluar dari kolong tempat tidur. Pria itu keluar dengan wajah penuh debu dan seekor laba-laba kecil yang hinggap di telinganya.
"Ini keterlaluan," kata Javi sambil membersihkan debu di jaket mahalnya.
"Saya yakin saya bukan orang sembarangan. Aura saya tidak cocok dengan debu di bawah sana."
Aruna menatap Javi tajam.
"Dengar ya, Ujang. Kamu itu amnesia. Kamu nggak punya kartu identitas, nggak punya ingatan, dan yang paling parah, kamu sudah menghancurkan kaktusku. Jadi, selama kamu di sini, kamu harus patuh sama aku."
Javi berdiri, mencoba mendapatkan kembali martabatnya sebagai idol meski rambutnya berantakan.
"Apa tugas saya sebagai asisten?"
Aruna melirik ke arah tumpukan piring kotor di pojok kamar dan berpuluh-puluh sketsa yang belum di-scan. Sebuah senyum licik muncul di wajah Aruna yang lelah.
"Pertama, bersihkan piring-piring itu. Kedua, kalau ada yang tanya, kamu adalah sepupuku dari desa yang datang ke kota buat belajar jadi tukang cuci piring. Namamu Ujang Bambang. Mengerti?"
Javi menatap piring kotor itu dengan ngeri, seolah piring itu adalah monster dari dimensi lain.
"Mencuci piring? Dengan tangan kosong? Apakah tidak ada mesin otomatis yang bisa menyanyi sambil bekerja untuk melakukan ini?"
"Nggak ada! Di sini cuma ada sabun colek dan tenaga otot!"
Aruna mendorong Javi ke arah wastafel kecil di pojok.
Javi menghela napas panjang. Dia mulai menggulung lengan jaket kulit mahalnya yang seharga motor baru itu. Dia menatap tangannya yang mulus, lalu menatap Aruna.
"Baiklah, Majikan Aruna. Tapi saya minta satu hal."
"Apa?"
"Boleh saya ganti baju? Jaket ini membuat saya merasa ingin menari di depan ribuan orang, dan itu sangat mengganggu konsentrasi saya saat menatap piring berlemak ini."
Aruna menghela napas, lalu merogoh lemari pakaiannya. Dia mengeluarkan sebuah kaos oblong putih yang sudah agak kuning di bagian ketiak dan sebuah celana training kebesaran.
"Nih, pakai ini."
Beberapa menit kemudian, Javi keluar dari kamar mandi. Aruna hampir tersedak ludahnya sendiri. Bahkan dengan kaos oblong kuning dan celana training lusuh, pria ini masih terlihat seperti sedang melakukan pemotretan untuk majalah Vogue.
"Gimana?" tanya Javi sambil memutar badan.
"Saya merasa sangat... ringan. Apakah ini yang dirasakan rakyat jelata setiap hari? Kebebasan bergerak?"
"Sudah, jangan banyak gaya! Cepat cuci piringnya!"
Aruna kembali duduk di depan laptopnya, merasa sedikit menang.
Di tengah malam yang sunyi itu, di sebuah kamar kos sempit di pinggiran Jakarta, seorang superstar dunia sedang berjuang melawan noda lemak di piring plastik dengan perasaan bingung, sementara seorang mahasiswi hampir gila sedang mengawasi sang idol sambil mencoret-coret skripsi.
Amnesia memang masalah besar bagi dunia musik internasional, tapi bagi Aruna, itu hanyalah sebuah solusi untuk masalah piring kotornya.
"Ujang! Jangan pakai sabunnya terlalu banyak! Itu bukan busa pesta pantai!"
"Tapi busanya sangat menyenangkan, Aruna! Lihat, saya bisa membuat jenggot dari busa ini!"
Aruna memijat pelipisnya. Ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan mungkin, ratusan malam berikutnya akan jauh lebih kacau.
Matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi kamar kos Aruna, membawa serta aroma gorengan dari gerobak Mang Oleh di ujung gang. Namun, bagi Aruna, cahaya matahari itu terasa seperti laser yang membakar retina matanya yang hanya sempat terpejam selama dua jam.
"Aduh, kepalaku... rasanya seperti habis ditabrak truk tronton yang isinya buku skripsi,"
Rintih Aruna sambil meraba-raba lantai, mencari kacamatanya yang entah terlempar ke mana.
Saat jarinya menyentuh sesuatu yang lembut namun padat, Aruna membeku. Dia mengenakan kacamatanya dengan cepat. Di depannya, duduk seorang pria dengan kaos oblong kekuningan yang sedang menatap dinding dengan khusyuk.
"Selamat pagi, Majikan Aruna," sapa Javi dengan suara baritonnya yang tetap terdengar seperti pengisi suara film romantis, padahal ada bekas iler mengering di pipinya.
"Saya sudah merenung selama tiga jam. Saya sampai pada kesimpulan bahwa hidup sebagai Ujang memiliki satu kekurangan besar."
Aruna mengucek matanya.
"Apa? Kamu ingat siapa kamu sebenarnya? Kamu mau pulang?"
Javi menggeleng pelan, ekspresinya sangat serius.
"Tidak, perut saya mengeluarkan suara musik yang lebih keras daripada lagu LUMINOUS. Saya lapar, Aruna. Dan piring-piring yang saya cuci tadi malam tidak menghasilkan makanan secara otomatis, sistem ini rusak."
Aruna menepuk jidatnya. "Itu namanya lapar, Ujang! Bukan sistem rusak! kamu kira robot apa. Dan piring itu gunanya buat wadah makanan, bukan mesin ATM!"
Aruna melirik jam. Pukul 08.00 pagi. Perutnya sendiri mulai berdemo. Masalahnya, stok mi instannya habis dan semuanya dikonsumsi Javi tadi malam karena pria itu menganggap mi instan adalah pita emas surga yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Oke, kita harus ke warung depan. Tapi masalahnya, wajahmu itu... terlalu berkilau untuk ukuran manusia yang tinggal di gang sempit ini,"
Aruna memperhatikan Javi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Javi berdiri, mencoba membenarkan kaos oblongnya yang melar.
"Apa ada yang salah? Saya merasa sangat... minimalis. Ini gaya streetwear yang sedang tren, bukan?"
"Itu gaya gembel elit, Ujang! Kamu kelihatan kayak model yang lagi pura-pura miskin buat konten YouTube!"
Aruna menarik Javi ke depan cermin kecilnya yang sudah retak di pinggir.
"Lihat hidungmu! Mancung banget, bisa buat motong wortel. Kulitmu juga... kenapa sih nggak ada pori-porinya? Kamu kalau keringetan keluarnya air zam-zam ya?"
Javi memegang hidungnya.
"Saya juga heran. Kenapa struktur tulang saya begitu sempurna? Apakah di kehidupan sebelumnya saya adalah sebuah pahatan dari Yunani?"
"Stop! Berhenti memuji diri sendiri! Kita butuh penyamaran tingkat tinggi,"
Aruna mulai membongkar lemari pakaiannya yang lebih mirip gudang bencana alam.
Aruna mengeluarkan sebuah kain sarung motif kotak-kotak milik mendiang kakeknya yang tertinggal, sebuah peci hitam yang ukurannya agak kekecilan, dan sebuah kacamata hitam frame besar yang dia beli di pasar malam seharga sepuluh ribu rupiah.
"Pakai ini," perintah Aruna.
"Sarung? Apakah ini jenis rok terbaru untuk pria?" Javi menatap kain itu dengan bingung.
"Ini namanya sarung, simbol ketampanan pria lokal! Pakai!"
Setelah sepuluh menit perdebatan tentang cara memakai sarung yang benar (Javi hampir membuat sarung itu menjadi jubah superhero), akhirnya Ujang versi baru pun lahir. Dengan peci yang nangkring miring di kepalanya karena rambut peraknya terlalu tebal, dan kacamata hitam yang menutupi setengah wajahnya, Javi kini terlihat seperti... penjahat kelas teri yang salah kostum.
"Sempurna... Kamu sekarang kelihatan kayak pengangguran sukses," puji Aruna bohong.
"Saya merasa... sangat berangin di bagian bawah. Apakah ini aman dari serangan angin duduk?" tanya Javi sambil menggoyang-goyangkan sarungnya.
"Aman! Udah, ayo jalan. Ingat, jangan bicara! Kalau ada yang tanya, kamu lagi sakit gigi parah jadi nggak bisa buka mulut. Dan jalannya jangan tegak-tegak banget! Bungkuk dikit! Kamu itu Ujang, bukan CEO perusahaan teknologi!"
Mereka keluar dari kamar dengan sangat hati-hati. Aruna memimpin di depan, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri seperti agen rahasia yang sedang diburu intelijen negara. Saat mereka sampai di lantai bawah, suara petir tanpa hujan terdengar.
"ARUNAAA! MAU KE MANA?!"
Mbak Widya muncul dari balik jemuran, tangannya memegang daster basah. Matanya langsung tertuju pada makhluk tinggi besar di belakang Aruna yang memakai sarung sampai ke dada.
Aruna meloncat kaget.
"Eh, Mbak Widya! Ini... mau ke warung depan, Mbak. Cari sarapan."
Mbak Widya berjalan mendekati Javi. Dan Javi langsung membeku, kepalanya menunduk begitu dalam sampai pecinya hampir jatuh.
"Ini siapa? Kok tinggi banget? Kayak tiang listrik kelurahan," selidik Mbak Widya. Dia mencoba mengintip di balik kacamata hitam Javi.
"Ini... anu, Mbak. Ini Ujang! Sepupu saya yang dari kampung itu loh!" Aruna mencubit pinggang Javi dengan keras agar pria itu tetap diam.
Javi mengerang pelan,
"Nghhh..."
"Tuh, Mbak! Suaranya aja udah serak-serak becek gitu. Dia lagi sakit gigi parah, makanya kepalanya ditutup peci biar nggak masuk angin giginya," jelas Aruna dengan alasan paling tidak masuk akal dalam sejarah kedokteran.
Mbak Widya mengerutkan kening.
"Sakit gigi kok pakai kacamata hitam? Emang giginya silau?"
Aruna berkeringat dingin.
"Bukan, Mbak! Dia... dia malu kalau matanya ketahuan nangis terus gara-gara nahan sakit. Ujang ini hatinya lembut banget, Mbak. Disenggol dikit langsung meleyot."
Mbak Widya tampak ragu, tapi kemudian dia tertawa keras.
"Oalah, Ujang, Ujang. Ya udah, bawa ke warung Bu RT aja, di sana ada jamu kuat... eh, jamu sakit gigi maksud saya. Tapi Ar, si Ujang ini kalau dilihat-lihat kok posturnya kayak Javi LUMINOUS ya? Tinggi, pundaknya lebar..."
Javi tiba-tiba melakukan gerakan refleks. Karena terbiasa disapa fans, dia hampir saja melakukan bow (membungkuk hormat) ala idol. Untungnya, Aruna langsung menekan kepala Javi hingga pria itu terlihat seperti sedang ruku.
"Iya, Mbak! Banyak yang bilang gitu! Makanya di kampung dia dipanggil Javi-nya Kandang Ayam! Udah ya Mbak, Ujang udah gemeteran pengen makan!"
Aruna menarik lengan Javi sekuat tenaga, menyeret sang idol keluar dari gerbang kosan sebelum Mbak Widya menyadari bahwa
"Ujang" memakai sepatu sneakers edisi terbatas seharga harga kosan itu sendiri.
Di jalan, kekacauan berlanjut. Javi berjalan dengan sangat kaku. Setiap kali ada motor lewat, dia mencoba menutupi wajahnya dengan sarung.
"Majikan, kenapa orang-orang melihat saya? Apakah penyamaran saya terlalu sempurna sehingga mereka terintimidasi oleh misteri yang saya pancarkan?" bisik Javi di balik kacamata hitamnya.
"Mereka ngeliatin kamu karena kamu jalan kayak orang abis disunat, Ujang! Santai aja!"
Mereka sampai di warung ayam geprek. Aroma cabai yang digerus membuat hidung sensitif Javi bereaksi.
"Selamat datang, Mbak Aruna! Wah, bawa siapa nih? Tinggi bener kayak pemain basket," sapa Bu RT, pemilik warung.
"Ini sepupu, Bu. Ujang. Pesan ayam geprek dua ya, satu level nol buat dia, satu level lima belas buat saya," ujar Aruna.
Javi tiba-tiba bersuara,
"Level nol? Aruna, apakah Anda meremehkan keberanian saya? Saya merasa saya adalah seorang pejuang. Berikan saya level yang sama dengan gadis kecil ini, Bu."
Aruna melotot.
"Jangan sok jago, Ujang! Kamu itu punya perut ningrat! Level lima belas bisa bikin kamu ketemu leluhur kamu dalam sekejap!"
Javi tetap teguh.
"Saya ingin level lima belas. Saya merasa tantangan adalah bagian dari identitas saya yang hilang."
Bu RT tertawa.
"Waduh, Mas Ujang keren ya. Oke, ayam geprek level maut dua porsi!"
Sepuluh menit kemudian, dua piring ayam geprek merah membara mendarat di depan mereka. Javi menatap tumpukan cabai itu dengan penuh percaya diri. Dia mengambil satu suapan besar.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Wajah Javi berubah dari putih porselen menjadi merah padam. Matanya melotot hingga kacamatanya melorot. Keringat sebesar biji jagung mulai muncul di dahinya.
"U-Ujang? Kamu oke?" tanya Aruna khawatir.
Javi tidak bisa bicara. Dia mencoba bernapas, tapi yang keluar hanya bunyi
Haaaah... Haaaah...
Dia mulai mengibas-ngibaskan tangannya ke arah mulutnya. Tanpa sadar, insting panggungnya keluar. Dia mulai melakukan gerakan tangan seperti sedang melakukan rap cepat untuk mengalihkan rasa sakit.
"Aruna... saya... saya melihat cahaya putih..." bisik Javi dengan suara yang sudah pecah.
"Apakah ini akhir dari karier asisten saya? Tolong... tulis di batu nisan saya... bahwa Ujang mati sebagai pahlawan cabai."
"Minum, bego! Minum!" Aruna menyodorkan segelas es teh manis.
Javi meminumnya dalam sekali teguk, tapi rasa panas itu tidak hilang. Dalam keputusasaannya, Javi melihat sebuah ember berisi air di pojok warung (yang sebenarnya adalah air buat cuci tangan). Dia hampir saja mencelupkan wajahnya ke sana kalau Aruna tidak segera menahannya.
"Ujang! Sadar! Kamu lagi di warung, bukan lagi syuting iklan minuman segar!"
Tiba-tiba, dari TV di pojok warung, muncul berita sela.
"Berita terkini: Javier, leader dari grup LUMINOUS, masih dinyatakan hilang. Pihak agensi meminta masyarakat yang melihat pria dengan ciri-ciri tinggi 185 cm, rambut perak, dan memiliki tahi lalat di bawah mata kiri untuk segera melapor..."
Seluruh pengunjung warung menatap ke arah TV, lalu perlahan-lahan mereka menatap ke arah Javi yang sedang megap-megap kepedasan.
Aruna membeku. Javi, yang masih kepedasan, menoleh ke arah TV dengan wajah bodoh.
"Eh... itu kan sepupu saya yang sukses itu. Dia dicari polisi ya? Kasihan sekali."
Bu RT memicingkan mata. Dia melihat Javi, lalu melihat TV. Dia melihat Javi lagi, lalu melihat TV lagi.
"Loh... kok mirip ya?" gumam Bu RT.
Aruna langsung berdiri.
"Mirip apanya, Bu! Tuh di TV rambutnya rapi, pake jas. Lihat si Ujang, rambutnya kena debu kosan, pake sarung kakek saya, kerjanya cuma nyuci piring! Mana mungkin Javi LUMINOUS kepedasan sampe nangis ingusan kayak gini!"
Javi menyedot ingusnya dengan keras.
"Benar... saya... saya hanya Ujang..."
Bu RT tertawa lagi.
"Iya juga sih... Mana mungkin artis internasional mau makan di warung saya yang banyak lalatnya ini. Lagian, Javi itu kan katanya keren banget, si Ice Prince. Mas Ujang ini mah lebih kayak Ice Mambo."
Aruna menarik napas lega.
"Ayo Ujang, kita pulang! Kamu butuh kompres lidah!"
Mereka berlari kembali ke kosan. Sesampainya di kamar, Javi langsung menjatuhkan diri ke lantai, memeluk kipas angin Aruna yang berkarat seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Saya tidak mau lagi... tantangan level maut," rintih Javi.
"Saya ingin kembali menjadi amnesia yang tenang. Perut saya terasa seperti ada konser rock di dalamnya."
Aruna duduk di sampingnya, menyerahkan sebotol susu dingin.
"Makanya, dengerin kata bos. Kamu itu sekarang cuma rakyat biasa, Javi. Dunia luar itu keras. Lebih keras daripada latihan dance kamu."
Javi meminum susunya, lalu menatap Aruna dengan tatapan yang sedikit lebih lembut.
"Terima kasih, Aruna. Meskipun kamu galak dan memaksa saya mencuci piring, kamu menyelamatkan saya dari kematian akibat cabai."
"Sama-sama, Ujang. Sekarang, karena kamu sudah kenyang (dan tersiksa), ayo bantu aku scan tugas ini. Kamu yang bagian megangin kabelnya, karena kabel scanner-nya sering lepas."
Javi mendesah, tapi dia tersenyum kecil.
"Baik, Majikan. Tapi besok... bolehkah saya minta makanan yang tidak ada warna merahnya sama sekali?"
"Kita lihat nanti. Kalau kamu rajin nyapu, mungkin aku kasih bubur ayam."
Malam itu, rahasia Javi masih aman. Namun, di bawah sana, di depan gerbang kosan, seorang pria misterius dengan kamera DSLR sedang memperhatikan balkon Aruna dengan tatapan tajam.
Siang itu, matahari Jakarta seolah sedang membalas dendam. Setelah tragedi "Ayam Geprek Level Maut", Aruna terpaksa membuat keputusan tersulit dalam hidupnya yaitu meninggalkan Javi sendirian di kamar kos.
"Dengar, Ujang! Aku harus ke kampus karena Pak Bambang sudah mengancam akan mengganti namaku di daftar absen jadi Almarhumah kalau aku telat lagi," ucap Aruna sambil memakai tas ranselnya yang berat.
Javi terbaring di lantai dengan lidah terjulur, tangannya memegang botol susu kosong.
"Aruna... jangan tinggalkan saya... perut saya terasa seperti sedang mengadakan pesta kembang api ilegal..."
"Makanya jangan sok jago! Intinya JANGAN KELUAR KAMAR. Kalau ada suara ketukan, pura-pura mati saja. Kalau lapar, ada kerupuk di kaleng. Mengerti?"
Javi mengangguk lemah.
"Mengerti, Majikan... Hati-hati di jalan, sampaikan salam saya pada Pak Bambang, semoga dia segera insyaf."
Aruna pun berangkat, meninggalkan sang superstar amnesia itu sendirian dengan satu misi sederhana yaitu Diam.
Sepuluh menit setelah Aruna pergi, rasa panas di perut Javi mencapai titik didih. Dia butuh air dingin. Air di galon Aruna habis (karena dipakai Javi untuk membasuh mukanya yang kepedasan tadi).
"Saya tidak bisa mati konyol karena cabai," gumam Javi.
Dia bangkit, memakai kacamata hitamnya, dan melilitkan sarung kakek Aruna ke lehernya seperti syal high-fashion.
Javi membuka pintu sedikit. Lorong kosan sepi. Dia melihat ada dispenser besar di area umum dekat jemuran. Dengan gerakan mengendap-endap ala ninja yang lebih mirip model catwalk sedang sembunyi dari paparazzi, Javi meluncur menuju dispenser.
Namun, rintangannya bukan cuma dispenser. Di samping dispenser, ada jemuran milik Mbak Widya yang melambai-lambai tertiup angin.
"Warna ini..." Javi terpaku melihat sebuah daster pink motif bunga kamboja.
"Ini sangat artistik. Teksturnya terlihat... lembut."
Tiba-tiba, suara sandal jepit beradu dengan lantai terdengar.
Plak! Plak! Plak!
Itu Mbak Widya! Dia sedang menuju area jemuran sambil membawa ember.
Javi panik jantungnya berdegup lebih kencang daripada beat lagu dance-nya. Tidak ada tempat sembunyi selain di balik daster-daster yang sedang dijemur.
Tanpa pikir panjang, Javi masuk ke sela-sela jemuran. Tapi karena tubuhnya yang setinggi tiang basket, kakinya tetap terlihat jelas. Dalam keputusasaannya, Javi melihat daster pink tadi. Dia meraihnya dan... memakainya di atas kaos oblongnya.
"Siapa itu?!" teriak Mbak Widya yang melihat ada sosok tinggi besar berdiri kaku di balik jemuran dasternya.
Javi membeku. Dia menarik daster itu sampai menutupi kepalanya, menyisakan lubang kecil untuk matanya yang memakai kacamata hitam.
"Anu... saya... saya petugas kontrol jemuran, Mbak!" jawab Javi dengan suara yang diberatkan agar tidak dikenali.
Mbak Widya mendekat, memegang sapu lidi.
"Petugas kontrol jemuran? Seumur-umur saya punya kosan, nggak ada jabatan kayak gitu! Heh, kamu maling ya?! Kok pake daster saya?!"
Javi mulai melakukan gerakan robotic dance dengan refleks amnesianya saat panik.
"Ini... ini adalah seragam baru dari kelurahan, Mbak. Untuk memastikan... kelembapan kain agar tidak terjadi jamur estetik."
"Halah! Bohong kamu! Buka nggak?!" Mbak Widya mulai memukulkan sapu lidinya ke arah kaki Javi.
"Aduh! Mbak, jangan! Ini kulit asisten... maksud saya, kulit rakyat jelata ini sensitif!"
Javi lari berputar-putar di sekitar jemuran dengan daster pink yang berkibar-kibar.
Tepat saat itu, Aruna baru saja pulang karena kelasnya dibatalkan (Pak Bambang ternyata diare karena makan ayam geprek yang sama). Begitu masuk gerbang, Aruna nyaris pingsan melihat pemandangan di depannya.
Javi idol nomor satu di Asia, sedang dikejar-kejar Mbak Widya sambil memakai daster pink motif bunga kamboja miliknya.
"MBAK WIDYA! BERHENTI, MBAK!" teriak Aruna sambil meloncat turun dari motor.
"Ar! Liat ini! Ada maling gila pake daster aku! Tinggi bener, kayaknya dia maling spesialis daster ukuran XL!" seru Mbak Widya terengah-engah.
Aruna segera berdiri di antara mereka.
"Mbak! Mbak, tenang! Ini bukan maling! Ini... ini Ujang sepupu saya!"
Javi berhenti berlari, berdiri di belakang Aruna sambil masih memakai daster itu sebagai kerudung.
"Benar, Mbak. Saya Ujang. Saya sedang melakukan... uji coba ketahanan kain terhadap angin siang hari."
Mbak Widya melongo.
"Ujang sepupu kamu? Kok makin aneh sih kelakuannya? Tadi pagi sakit gigi, sekarang jadi pemerhati jemuran?"
"Iya, Mbak! Ujang ini emang punya trauma masa kecil, dulu dia pernah kehilangan jemuran kesayangannya, makanya sekarang dia sangat protektif sama kain-kain yang dijemur!"
Aruna mengarang bebas, otaknya bekerja lebih cepat daripada proses rendering Photoshop.
Mbak Widya menatap Javi dengan curiga.
"Tapi kok daster saya dipake sama dia?"
Javi dengan polosnya menjawab,
"Tadi saya merasa panas, Mbak. Daster ini memiliki pori-pori udara yang sangat futuristik. Saya merasa sangat adem."
"SUDAH! UJANG, MASUK KAMAR!"
Aruna menarik daster itu dari tubuh Javi dengan paksa dan menyerahkannya kembali pada Mbak Widya yang masih bengong.
"Maaf ya mbak ,sudah bikin ribut siang-siang", ucap Aruna sambil meringis malu.
"Jagain bener-bener Ar, sepupu kamu itu. Meskipun gantengnya kayak Javi tapi tingkah laku nya ampun deh ..."
Setelah berhasil masuk ke kamar dan mengunci pintu, Aruna langsung menjatuhkan dirinya ke kasur.
"Aku mau mati aja. Aku mau pindah ke Mars sekarang juga."
Javi duduk di lantai, merasa bersalah.
"Maaf, Majikan Aruna. Saya hanya ingin air dingin. Dan daster itu... benar-benar nyaman."
Aruna menatap Javi yang berkeringat.
"Javi... daster itu harganya lima puluh ribu di pasar. Kariermu harganya miliaran. Tolong, punya martabat sedikit kenapa sih?"
Javi tertawa kecil, suara baritonnya mengisi ruangan sempit itu.
"Di sini, saya tidak punya karier, Aruna. Saya hanya punya kamu dan perut yang perih. Dan tadi... saat Mbak Widya mengejar saya, saya merasa... bebas. Tidak ada yang memotret saya, hanya ada wanita galak dengan sapu lidi."
Aruna terdiam. Dia kaget dengan yang diucapkan Javi.
Apa jangan-jangan nie anak udah inget lagi.
" Kamu udah inget,kamu siapa jang??"
" Bukannya saya ini asistennya majikan Aruna , tapi entah kenapa dari dalam lubuk hati terdalam ada rasa seperti saya itu bintang yang menggantung di langit."
"Ya sudah. Nih,"
Aruna melempar dua buah es mambo stroberi yang tadi dia beli di jalan.
"Makan ini buat dinginin perutmu. Besok-besok kalau mau air, ketok tembok aja, biar Mbak Widya nggak nyangka ada penampakan penunggu jemuran."
Javi menerima es mambo itu dengan mata berbinar.
"Es stroberi? Ini... lebih baik daripada daster pink tadi."
Mereka berdua menghisap es mambo dalam diam di kamar kos yang pengap. Di luar, Mbak Widya masih bergumam heran sambil mengendus dasternya yang kini berbau parfum mahal. Sementara itu, di seberang jalan, Genta baru saja menurunkan kameranya setelah memotret Javi yang memakai daster.
"Ujang ya?"
Genta tersenyum licik sambil melihat hasil fotonya.
"Kayaknya aku tahu siapa yang bakal jadi pemenang lomba desain bulan ini kalau aku pakai foto ini buat negosiasi sama Aruna."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!