Indonesia
NovelToon NovelToon

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

BAB 1 - KEMATIAN DAN KEBANGKITAN

KEHIDUPAN PERTAMA - TIGA JAM SEBELUM KEMATIAN

"Dara, tolong periksa luka di lengan bos. Pelurunya tembus."

Dara Alvarino mengangguk tanpa ekspresi, tangannya sudah menyiapkan peralatan bedah dengan gerakan presisi. Ruang operasi bawah tanah ini dingin, bau antiseptik bercampur darah sudah jadi aroma familiar.

Tujuh tahun ia bekerja sebagai dokter untuk kelompok mafia terbesar di Jakarta. Tujuh tahun tangannya menyelamatkan nyawa para pembunuh, pengedar, dan preman bayaran.

"Sakit ya, Bos?" tanyanya datar sambil mulai membersihkan luka.

"Gak akan pernah sakit kalau yang nanganin kamu, Dok," Bos Rendra menyeringai meski wajahnya pucat.

Dara tidak membalas, dia tidak pernah membalas basa-basi mereka. Tangannya bergerak cepat, mengangkat pecahan peluru dengan pinset, menjahit luka dengan sempurna. Tidak ada gemetar, tidak ada ragu. Kebanggaannya hanya satu, dia adalah yang terbaik dalam pekerjaannya.

"Sudah selesai, jangan basahi lukanya tiga hari."

"Makasih, Dok. Kamu emang yang terbaik."

Dara membersihkan semua peralatan, mencuci tangan yang berlumuran darah. Di cermin, wajahnya terlihat lelah. Tiga puluh dua tahun, tapi matanya sudah seperti orang yang hidup enam puluh tahun. Terlalu banyak darah, terlalu banyak nyawa di tangannya.

"Dara."

Suara lembut itu. Dara menoleh, melihat Salma sahabatnya sejak kuliah kedokteran. Satu-satunya orang yang dia percaya di dunia kelam ini, berdiri di ambang pintu dengan senyum manis.

"Capek ya? Ayo, aku bikinin kopi."

"Makasih, Sal."

Mereka duduk di ruang istirahat kecil. Salma menyodorkan cangkir kopi hangat. Dara menerimanya, meneguk pelan.

"Kamu tidak pernah menyesal, Dar? Dengan semua ini?" tanya Salma pelan.

"Menyesal buat apa? Kita sudah terlanjur basah."

"Iya juga sih..."

Sesuatu dalam nada suara Salma terasa aneh, tapi Dara terlalu lelah untuk memikirkannya. Dia meneguk kopinya lagi, hangat... enak.

Tapi kenapa kepalanya tiba-tiba berat?

"Sal... ada yang aneh dengan kopi ini..."

Salma tidak menjawab. Dara mengangkat wajah, pandangannya mulai kabur. Salma berdiri, senyumnya menghilang, digantikan ekspresi dingin yang asing.

"Maafin aku, Dar. Bos Rendra mau kamu mati. Kamu terlalu banyak tahu."

Rasa dingin menjalar dari dada Dara. Bukan karena racun, tapi karena pengkhianatan. Salma, sahabat satu-satunya orang yang dia percaya.

"Kenapa... kamu..."

"Uang, Dar. Aku dapat uang banyak. Lagian, kita memang tidak punya masa depan di sini."

Tubuh Dara merosot dari kursi, pandangannya semakin gelap. Salma berjongkok, menatapnya tanpa emosi.

"Selamat tidur, sahabatku."

Kemudian... gelap.

***

KEHIDUPAN KEDUA - SEKARANG

PLAK!

Rasa sakit meledak di pipi. Kiara... bukan, DIA BUKAN KIARA... terhuyung, punggungnya membentur dinding. Perutnya... Ada yang salah dengan perutnya.

"NGAKU! NGAKU KALAU ANAK JALANG ITU BUKAN ANAKKU!"

Suara pria itu menggelegar. Kiara... Dara?mengangkat wajah. Penglihatannya kabur, tapi dia bisa melihat sosok tinggi besar di hadapannya. Pria itu mengangkat tangan lagi.

BUGH!

Pukulan mendarat di perutnya.

"TIDAAAAAK!" jeritnya... tapi itu bukan suaranya. Suara ini lebih lemah, lebih tinggi.

Rasa sakit yang berbeda, bukan sakit ditikam atau diracun. Ini sakit yang datang dari dalam dari perutnya yang membesar. Ada sesuatu di dalam sana, sesuatu yang hidup.

Hamil? Dia hamil...

Tapi bagaimana bisa? Dara tidak pernah hamil. Dara bahkan tidak punya pacar, Dara baru saja mati...

"Kak Arkan, jangan... jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Suara lembut itu. Dara... Kiara... memaksa diri menatap. Seorang wanita muda berdiri di belakang pria bernama Arkan itu. Wajahnya cantik, polos, dengan mata berkaca-kaca penuh kekhawatiran palsu.

Dara tahu wajah seperti itu, wajah Salma juga seperti itu sebelum mengkhianatinya.

"Lenna, minggir. Pelacur ini harus dikasih pelajaran!"

Arkan maju lagi. Kali ini tangannya mencengkeram rambut Kiara, menarik keras sampai kulit kepalanya terasa terbakar.

"Kamu pikir aku bodoh? Tiga bulan hamil, tapi kita tidak pernah berhubungan empat bulan terakhir! Kamu selingkuh, kan? NGAKU!"

Ingatan asing membanjiri kepala Dara. Bukan... Bukan... ingatannya, tapi ingatan Kiara... Pemilik tubuh yang Dara tempati.

Kiara Adisaputra, dua puluh lima tahun. Menikah dengan Arkan Adisaputra dua tahun lalu dalam pernikahan yang diatur keluarga. Arkan tidak pernah mencintai Kiara, karena Arkan sudah mencintai Lenna, adik angkatnya sendiri.

Empat bulan lalu, Arkan pulang dalam keadaan mabuk. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan, mereka berhubungan. Arkan bahkan tidak ingat keesokan harinya.

Dan sekarang Kiara hamil. Tapi Lenna membisikkan racun di telinga Arkan, mengatakan Kiara pasti selingkuh karena Arkan tidak pernah menyentuhnya.

Arkan percaya begitu saja, karena dia memang lebih percaya dengan Lenna daripada istrinya sendiri.

Amarah meledak di dada Dara.

"Lepaskan aku," suaranya keluar... masih lemah, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana.

"Apa? Kamu berani ngomong?"

"AKU BILANG LEPASKAN!"

Dara mengangkat tangannya... tangan yang lemah, gemetar, tapi dia tahu anatomy tubuh manusia. Jarinya menekan titik saraf di pergelangan tangan Arkan dengan presisi.

Arkan meringis, refleks melepaskan cengkeramannya.

"Sialan! Kamu..."

"Anak ini anakmu, dasar brengsek."

Semua orang terdiam, Lenna terlihat shock sedangkan Arkan ternganga tidak percaya dengan apa yang barusan dia saksikan sendiri.

Kiara yang lama tidak pernah melawan, Kiara yang lama hanya menangis dan memohon.

Tapi Dara bukan Kiara.

"Kamu mabuk empat bulan lalu. Pulang jam dua pagi, kamu masuk ke kamarku dan memaksaku. Kamu ingat sekarang?"

Wajah Arkan berubah, ada sekilas keraguan di sana.

"Bohong! Aku tidak..."

"Kamu bahkan mencium leherku sampai meninggalkan bekas. Aku menutupinya dengan foundation seminggu penuh. Kamu ingat atau tidak, itu bukan urusanku. Tapi anak ini..." Kiara meletakkan tangannya di perut yang membesar, "...adalah darah dagingmu."

"Kak Arkan, jangan percaya..." Lenna maju, suaranya bergetar. "Kak Kiara pasti bohong... dia pasti..."

"Tutup mulut."

Dara menatap Lenna dengan tatapan yang sama seperti saat dia menatap meja operasi. Dingin. Mematikan!

Lenna tersentak mundur.

"Aku tahu permainanmu," kata Dara pelan... terlalu pelan, tapi setiap kata terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. "Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku sebodoh itu?"

"A... aku tidak tahu apa yang Kakak bicarakan..."

"Belum sekarang. Tapi percayalah..." Dara tersenyum, senyum tanpa kehangatan, "...aku akan buat kamu mengaku sendiri."

Arkan masih terdiam, bingung dengan perubahan drastis istrinya.

Dara atau Kiara menatap mereka semua. Perut bawahnya masih sangat sakit, kepalanya berkunang-kunang. Tubuh ini lemah, terlalu lemah dibanding tubuh lamanya. Tapi jiwanya? Jiwanya adalah Dara Alvarino. Dokter mafia yang pernah membedah puluhan tubuh. Wanita yang bertahan tujuh tahun di dunia paling kelam.

Dia sudah pernah mati sekali karena pengkhianatan. Dia tidak akan mati sia-sia lagi.

"Mulai sekarang," katanya, suaranya semakin kuat, "kalian semua akan menyesal pernah menyakitiku."

Dia melangkah melewati Arkan yang masih terpaku, melewati Lenna yang wajahnya pucat, keluar dari ruangan dengan kepala tegak.

Setiap langkah terasa berat, tubuh ini sudah dipukuli habis-habisan. Tapi Dara tidak akan jatuh, tidak di depan mereka.

Begitu pintu kamar tertutup di belakangnya, tubuhnya ambruk. Dia merosot di lantai, memeluk perutnya yang masih terasa nyeri.

"Bertahanlah," bisiknya pada anak dalam kandungannya... anak yang bahkan bukan anaknya, tapi sekarang jadi tanggung jawabnya. "Kita harus bertahan, karena kita harus menang melawan mereka."

Air matanya jatuh, bukan air mata Kiara yang lemah. Tapi air mata Dara yang marah. Yang trauma, yang merasa bersalah karena mati bodoh di tangan orang yang dipercaya.

Air mata wanita yang bersumpah tidak akan pernah percaya lagi. Tapi akan membuat semua orang yang menyakitinya berlutut memohon ampun.

BAB 2 - INGATAN DUA KEHIDUPAN

Kiara terbangun dengan tubuh yang terasa seperti dihancurkan truk. Setiap inci tubuhnya sakit, memar di lengan, pipi bengkak, perut yang berdenyut mengerikan. Tapi yang membuatnya mengerang bukan rasa sakit fisik.

Melainkan banjir ingatan yang tidak berhenti.

Dua kehidupan... Dua identitas... Bercampur dalam satu kepala.

Dara Alvarino tiga puluh dua tahun, dokter bedah kelompok mafia, mati diracun sahabatnya sendiri.

Kiara Adisaputra dua puluh lima tahun, istri yang tidak dicintai, hamil tiga bulan, dipukuli suami yang percaya fitnah adik angkatnya.

"Sial..." Kiara atau Dara atau siapapun dia sekarang, menekan keningnya yang berdenyut.

Ingatan Kiara yang asli mengalir seperti film pernikahan tanpa cinta. Arkan yang dingin, Lenna yang manis di permukaan tapi beracun di belakang. Semua kebohongan, semua manipulasi, semua rasa sakit yang harus ditanggung Kiara selama dua tahun.

Dan yang paling menyakitkan, Kiara yang asli menerima semua itu. Diam... Pasrah... Berharap suatu hari Arkan akan mencintainya.

"Bodoh," desis Dara. "Kamu terlalu bodoh, Kiara."

Tapi kemudian rasa bersalah menusuk dadanya, Kiara yang asli sudah tidak ada. Entah kemana jiwanya pergi, mungkin sudah tenang, mungkin sudah bebas dari penderitaan. Dan sekarang Dara yang menempati tubuhnya.

Dara yang membawa semua amarah, trauma, dan kegelapan dari kehidupan sebelumnya.

"Maafkan aku," bisiknya pada Kiara yang sudah tiada. "Aku tidak tahu kenapa aku ada di tubuhmu. Tapi aku janji, aku akan balas dendam untuk kita berdua."

Ketukan di pintu membuatnya waspada.

"Siapa?"

"Nyonya, saya Sari. Saya bawakan sarapan."

Sari, pembantu yang sudah bekerja di rumah keluarga Adisaputra selama sepuluh tahun. Dari ingatan Kiara, Sari adalah satu-satunya orang yang pernah bersikap baik padanya meski hanya sesekali, karena takut dengan Lenna.

"Masuk."

Pintu terbuka. Sari masuk dengan nampan, wajahnya terlihat khawatir saat melihat kondisi Kiara.

"Nyonya... wajahnya..." Sari meletakkan nampan dengan tangan gemetar. "Perlu saya panggilkan dokter?"

"Tidak perlu."

Dara bangkit perlahan, mengabaikan protes tubuh yang sakit. Dia berjalan ke cermin, menatap wajahnya... wajah Kiara yang lebam, bibir pecah, mata bengkak.

"Sari, aku mau tanya sesuatu."

"Ya, Nyonya?"

"Kamu percaya aku selingkuh?"

Sari tersentak. "Ti... tidak, Nyonya! Saya tahu Nyonya tidak seperti itu!"

"Kenapa kamu yakin?"

"Karena... karena Nyonya bahkan tidak pernah keluar rumah tanpa izin Tuan Arkan. Nyonya tidak punya teman, Nyonya selalu sendirian..."

Dara tersenyum pahit. Iya, Kiara yang asli seperti tahanan di rumahnya sendiri. Dikontrol, dikekang, diabaikan.

"Tapi kenapa Arkan lebih percaya Lenna?"

Sari menunduk, takut menjawab.

"Jawab."

"Karena... Nona Lenna selalu ada untuk Tuan Arkan. Sejak kecil, mereka besar bersama. Tuan Arkan menganggap Nona Lenna seperti... seperti belahan jiwanya."

Belahan jiwa... Bukan istri sahnya, tapi adik angkatnya.

Dara merasakan amarah Kiara yang asli bergabung dengan amarahnya sendiri. Dua amarah jadi satu, membara di dadanya.

"Lenna ada di rumah sekarang?"

"Ada, Nyonya. Di ruang makan, sarapan dengan Tuan Arkan dan Nyonya Besar."

Nyonya Besar... ibunya Arkan. Salah satu orang yang paling membenci Kiara.

"Bagus." Dara berbalik dari cermin. "Siapkan baju untukku, yang paling bagus."

"Nyonya mau turun?"

"Kenapa tidak? Ini rumahku juga, kan?"

Sari terlihat ragu, tapi mengangguk. Dia membantu Kiara memilih dress sederhana tapi elegan, biru navy yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah meski penuh lebam.

Dara menatap pantulannya. Wajahnya memang hancur, tapi matanya... Matanya berbeda, tidak ada lagi ketakutan atau kesedihan yang biasa ada di mata Kiara.

Hanya tekad dingin.

Ruang makan keluarga Adisaputra luas dan mewah. Arkan duduk di ujung meja, membaca koran sambil sarapan. Lenna duduk di sebelahnya, cantik dengan dress putih, rambut terurai, tersenyum lembut sambil menuangkan kopi untuk Arkan.

Nyonya Devi, ibu Arkan duduk di seberang, menatap Lenna dengan penuh kasih sayang.

"Lenna sayang, kamu terlalu baik pada Arkan. Nanti tanganmu capek."

"Tidak apa-apa, Tante. Aku senang bisa membantu Kak Arkan."

"Harusnya istrinya yang melakukan ini, bukan kamu. Tapi ya sudahlah... istri seperti itu memang tidak berguna."

Arkan tidak berkomentar, dia hanya minum kopinya dalam diam.

Langkah kaki terdengar, mereka semua menoleh.

Kiara berdiri di pintu ruang makan, dengan wajah lebam tapi punggung tegak, dagu terangkat.

"Selamat pagi," katanya dengan nada datar.

Lenna hampir menjatuhkan cangkir kopinya, Nyonya Devi mengerutkan kening, Arkan menatapnya tanpa ekspresi.

"Kenapa kamu turun?" tanya Nyonya Devi ketus. "Kamu pikir kamu pantas makan bersama kami setelah perbuatanmu?"

"Perbuatan apa?" Dara berjalan tenang, menarik kursi, dan duduk. "Hamil dengan anak suamiku sendiri? Itu perbuatan apa, Bu?"

"Berani sekali kamu..."

"Atau maksud Ibu, perbuatan dipukuli sampai hampir keguguran? Itu memang perbuatan buruk, tapi yang melakukan bukan aku."

Hening.

Arkan akhirnya bicara, suaranya rendah. "Jaga bicaramu."

"Kenapa? Aku cuma bicara fakta."

Dara mengambil roti, mengoleskan selai dengan tenang seolah wajahnya tidak lebam dan perutnya tidak berdenyut sakit. Tangannya stabil... hasil latihan bertahun-tahun memegang pisau bedah.

Lenna menatapnya dengan campuran shock dan ketakutan. Ini bukan Kiara yang dia kenal. Kiara yang asli akan menangis, meminta maaf, bersembunyi di kamar.

"Kak Kiara... wajahnya..." Lenna bersuara lembut, pura-pura khawatir. "Kenapa tidak istirahat saja? Kamu sedang hamil, kan..."

Dara menoleh, menatap Lenna dengan tatapan yang membuat gadis itu terdiam.

"Kamu peduli?"

"Ten... tentu saja aku peduli... Kak Kiara kan kakak iparku..."

"Benarkah?"

Dara meletakkan rotinya, bersandar di kursi, menatap Lenna dengan intensitas yang membuat suasana berubah dingin.

"Kalau kamu peduli, kenapa kemarin kamu membiarkan Arkan memukuliku? Kamu berdiri di sana, kan? Cuma bilang 'jangan kasar' tapi tidak mencoba menghentikan. Bahkan tidak mencoba melindungiku."

"A... aku... aku takut..."

"Takut? Atau senang?"

"KIARA!" bentak Nyonya Devi. "Jangan menuduh Lenna sembarangan!"

"Aku tidak menuduh, Bu. Aku cuma bertanya." Dara tersenyum tipis. "Lagi pula, kalau dia benar-benar peduli, dia akan membawaku ke rumah sakit, bukan? Atau setidaknya memanggil dokter, tapi tidak ada yang datang. Aku dibiarkan sendirian semalam penuh dengan kondisi seperti ini."

Arkan terlihat tidak nyaman, ada sekilas rasa bersalah di wajahnya.

"Kamu... kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya kaku.

Dara tertawa... tawa pendek tanpa humor yang terdengar sedikit horor. "Baik-baik saja? Kamu hampir membunuh anakmu sendiri, dan kamu tanya aku baik-baik saja?"

"Anak itu belum tentu anakku."

"Sudah kubilang, itu anakmu. Tapi kalau kamu tidak percaya, kita bisa tes DNA. Aku tidak masalah."

Nyonya Devi menggebrak meja. "Tes DNA itu bisa dipalsukan!"

"Kalau begitu kita lakukan di rumah sakit pilihan Ibu, di depan Ibu. Aku akan tunjukkan kalau anak ini..." Dara meletakkan tangannya di perut, "...adalah darah daging keluarga Adisaputra."

"Kak Kiara..." Lenna mencoba lagi dengan suara gemetar. "Kenapa Kakak berubah seperti ini? Kakak seperti orang lain..."

Dara menatap Lenna. Oh, betapa dia ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa dia memang orang lain, bahwa Kiara yang lemah itu sudah tidak ada.

Tapi tidak sekarang.

"Orang berubah, Lenna, kalau sudah diperlakukan cukup buruk." Dara bangkit dari kursi. "Aku sudah kehilangan nafsu makan. Permisi."

Dia berbalik, melangkah keluar dengan punggung tegak.

Di belakangnya, dia bisa mendengar suara Lenna yang mulai terisak. "Tante... Kak Arkan... aku takut... Kak Kiara seperti benci padaku..."

"Sudah, sudah, sayang. Jangan menangis. Dia yang salah, bukan kamu."

Dara tersenyum dingin sambil berjalan ke kamarnya.

Menangis... Manipulasi... Mencari perlindungan...

Taktik yang sama persis dengan Salma dulu. Berpura-pura lemah, membuat orang lain melindunginya, sementara diam-diam menikam dari belakang.

Tapi Dara sudah tahu permainan ini, dia sudah jadi korban sekali.

Tidak akan ada kali kedua.

Sesampainya di kamar, dia mengunci pintu. Tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang ditahan.

Dia berjalan ke cermin, menatap wajah Kiara yang lebam.

"Aku berjanji, Kiara," bisiknya. "Aku akan buat mereka semua membayar. Lenna, Arkan, ibunya... semua orang yang menyakitimu. Mereka akan merasakan apa yang kamu rasakan. Berlipat ganda."

Trauma kehidupan lamanya masih segar. Pengkhianatan Salma, kematian sia-sia, rasa bersalah karena terlalu percaya.

Tapi sekarang dia punya kesempatan kedua, kesempatan untuk tidak mati bodoh.

Dan dia akan menggunakan semua pengetahuan, semua keterampilan, semua kegelapan yang dia bawa dari kehidupan lama untuk menghancurkan siapapun yang menghalangi.

Dimulai dengan rubah betina bernama Lenna.

BAB 3 - POLA YANG SAMA

Tiga hari sejak konfrontasi di ruang makan, Kiara menghabiskan waktunya mengamati.

Dara tahu satu hal dari kehidupan lamanya, sebelum menyerang, kamu harus tahu medan perang. Kamu harus tahu musuhmu, kebiasaan mereka, kelemahan mereka, pola mereka.

Dan Lenna punya pola.

Kiara duduk di balkon kamarnya, berpura-pura membaca buku. Tapi matanya terus mengawasi halaman belakang di mana Lenna sedang duduk di gazebo, minum teh dengan Nyonya Devi.

Dari jauh, mereka terlihat seperti ibu dan anak kandung. Lenna tertawa lembut, menuangkan teh untuk Nyonya Devi dengan penuh perhatian. Nyonya Devi tersenyum hangat, senyum yang tidak pernah diberikan pada Kiara.

"Tante, kue ini buatan Lenna sendiri lho. Coba deh, Tante pasti suka."

"Oh, Lenna sayang, kamu ini terlalu baik. Masak-masak segala untukku."

"Lenna senang kok kalau bisa bikin Tante senang."

Dara tersenyum sinis, klasik... Mendekati ibu, mendapat perlindungan, memposisikan diri sebagai anak yang sempurna. Sementara istri sah dijadikan musuh bersama.

Salma dulu juga begitu. Mendekati bos-bos mafia dengan cara yang sama, lembut, perhatian, selalu ada saat dibutuhkan. Sampai semua orang percaya dia adalah malaikat.

Padahal di belakang, dia merencanakan pembunuhan.

Kiara membuka buku catatan kecil, curi dari laci meja belajar tadi pagi. Di dalamnya, dia mulai menulis.

POLA LENNA :

Pagi : Sarapan dengan Arkan, selalu duduk di sebelahnya. Menuangkan kopi, menyiapkan piring. Bermain peran sebagai "istri sempurna" yang tidak pernah jadi.

Siang : Mendekati Nyonya Devi. Membuat kue, menemani minum teh, mendengarkan keluhan. Memposisikan diri sebagai anak kandung.

Sore : Menghabiskan waktu di ruang kerja Arkan dengan dalih "membantu pekerjaan". Waktu berduaan.

Malam : Kembali ke kamarnya yang tepat di sebelah kamar Arkan. Kamar yang lebih dekat dari kamar Kiara yang di sayap lain rumah.

Dara mengetuk-ketuk pulpen ke bibirnya. Semua strategi Lenna bertujuan satu hal... menggantikan posisi Kiara. Tidak cukup dengan merebut hati Arkan, Lenna ingin menghapus eksistensi Kiara sepenuhnya.

Dan hampir berhasil.

Ketukan pintu menginterupsi analisisnya.

"Masuk."

Sari muncul, membawa nampan obat dan segelas susu.

"Nyonya, sudah waktunya minum vitamin untuk kandungan."

"Terima kasih, Sari."

Dara meraih gelas susu, tapi kemudian berhenti. Instingnya... instink yang menyelamatkannya berkali-kali di dunia mafia, berteriak waspada.

"Sari, siapa yang menyiapkan susu ini?"

"Nona Lenna, Nyonya. Beliau bilang mau memastikan Nyonya dapat nutrisi yang cukup untuk kandungan."

Dara menatap susu itu, warnanya normal, baunya normal.

Tapi Lenna yang menyiapkannya.

"Sari, kamu sudah minum hari ini?"

"Sudah, Nyonya."

"Coba kamu minum ini dulu, sedikit saja."

Sari terlihat bingung tapi menurut. Dia meneguk sedikit susu, lalu menungggu.

Tidak ada reaksi.

Dara menghela napas, mungkin dia terlalu paranoid. Trauma dari diracun Salma membuatnya curiga pada semua makanan dan minuman.

"Baiklah, terima kasih Sari."

Dia meneguk susunya, sambil tetap waspada pada setiap sensasi di tubuhnya. Tidak ada rasa aneh, mungkin memang aman.

Atau mungkin racunnya bekerja lambat.

Dara meletakkan gelas kosong, mengambil catatan lagi. Dia harus lebih hati-hati. Di kehidupan lama, dia ahli dalam racun, tahu mana yang berbahaya, mana yang tidak. Tapi tubuh Kiara ini sedang hamil. Lebih rentan... Lebih lemah...

"Nyonya, boleh saya tanya sesuatu?"

Dara menatap Sari. "Apa?"

"Kenapa... kenapa Nyonya berubah? Maksud saya, saya senang Nyonya sekarang lebih berani, tapi... apa yang terjadi?"

Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan jujur.

"Kadang orang harus hampir mati dulu baru sadar, Sari. Aku hampir mati kemarin, dan aku sadar kalau aku terus jadi Kiara yang dulu, aku akan benar-benar mati."

"Tapi Nona Lenna bilang..."

"Lenna bilang apa?"

Sari terlihat ragu. "Beliau bilang... Nyonya mungkin kerasukan atau ada yang aneh dengan Nyonya. Beliau khawatir Nyonya berbahaya untuk Tuan Arkan dan keluarga."

Dara tertawa, tawa pahit yang membuat Sari tersentak.

"Kerasukan? Berbahaya?" Dara bangkit, berjalan ke jendela, menatap Lenna yang masih bercengkrama dengan Nyonya Devi di bawah. "Sari, kamu tahu apa bedanya orang baik dan orang jahat?"

"Tidak, Nyonya."

"Orang baik tidak perlu bilang dia baik. Tapi orang jahat selalu bilang orang lain yang jahat."

Sari terdiam, mencerna kata-kata itu.

"Kamu sudah bekerja di sini sepuluh tahun, kan? Kamu lihat sendiri bagaimana aku diperlakukan. Kamu lihat sendiri bagaimana Lenna selalu ada di sisi Arkan. Tapi kenapa kamu tidak pernah bertanya kenapa wanita yang sudah punya tempat di hati Arkan, masih perlu menyingkirkan istrinya?"

"Karena... karena Nona Lenna bilang dia tidak pernah..."

"Dia bilang, tapi apa yang dia lakukan?"

Sari membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tidak ada jawaban.

"Pergilah, Sari. Terima kasih untuk susunya."

Setelah Sari keluar, Dara kembali ke catatannya. Dia harus mencari lebih banyak bukti. Ingatan Kiara memberikan banyak informasi, tapi tidak cukup untuk membongkar Lenna sepenuhnya.

Dia butuh sesuatu yang konkret.

Malam itu, Dara menunggu sampai semua orang tidur. Pukul dua pagi, dia menyelinap keluar dari kamar, bergerak di koridor gelap dengan langkah hati-hati.

Tujuannya kamar Lenna.

Di kehidupan lama, Dara pernah belajar cara membuka kunci dari salah satu anggota mafia. Keterampilan yang tidak pernah dia kira akan berguna di kehidupan sebagai "istri teraniaya".

Dia mengeluarkan jepit rambut, memasukkannya ke lubang kunci kamar Lenna, memutar dengan lembut...

Klik.

Pintu terbuka.

Dara masuk, menutup pintu pelan di belakangnya. Kamar Lenna berbau parfum mawar manis, tapi terlalu kuat, seperti mencoba menutupi sesuatu.

Tempat tidur kosong, rapi, selimut tidak berantakan.

Lenna tidak tidur di sini.

Dara mengerutkan kening. Kalau Lenna tidak di kamarnya sendiri, berarti...

Kamar Arkan.

Amarah meledak di dadanya, tapi dia menahannya. Sekarang bukan waktunya untuk emosi, sekarang waktunya untuk mencari bukti.

Dia membuka laci meja rias Lenna. Kosmetik, perhiasan, surat-surat...

Tunggu.

Dara menarik amplop yang tersembunyi di balik cermin lipat. Amplop cokelat, agak tebal.

Dia membukanya.

Foto-foto.

Foto Lenna dengan seorang pria, bukan Arkan. Pria lain lebih muda, tampan, berpakaian kasual. Mereka berpelukan. Berciuman. Di salah satu foto, Lenna tertawa lepas, dengan ekspresi yang tidak pernah dia tunjukkan di rumah ini.

Ekspresi seorang wanita yang jatuh cinta.

Dara membalik foto. Ada tulisan di belakang [Untuk Lenna tersayang, dari Rio. Suatu hari nanti kita akan bersama.]

Rio.

Dara mengambil ponselnya, memfoto semua gambar dengan cepat. Ini belum cukup untuk menghancurkan Lenna, tapi ini awal yang bagus.

Dia memasukkan kembali amplop ke tempatnya, memastikan semuanya terlihat tidak tersentuh...

Suara langkah kaki.

Dara membeku.

Langkah kaki mendekat ke arah kamar Lenna.

Sial.

Dia tidak punya waktu keluar, dia melirik sekeliling... lemari. Dia meluncur ke dalam lemari pakaian Lenna, menutup pintunya tepat saat pintu kamar terbuka.

Melalui celah pintu lemari, Dara bisa melihat Lenna masuk. Rambutnya berantakan, bibir sedikit bengkak, baju tidur yang... tidak rapi.

Dan yang membuatnya ingin muntah... Arkan mengikuti di belakang Lenna.

"Kamu yakin tidak apa-apa aku di sini?" suara Arkan rendah.

"Tidak apa-apa, Kak. Lagian Kak Kiara kan sudah tidur."

Arkan menarik napas. "Aku masih merasa bersalah soal kemarin..."

"Kak Arkan tidak salah apa-apa. Kak Kiara yang berbohong, Kak Arkan cuma membela hakmu."

"Tapi dia hamil, Len. Aku hampir..."

"Ssshh..." Lenna meletakkan jari di bibir Arkan. "Jangan memikirkan dia lagi. Malam ini, pikirkan aku saja."

Dara mengepalkan tinjunya di dalam lemari. Mual merayap di tenggorokannya bukan karena hamil, tapi karena jijik.

Ini bukan cuma soal Lenna merebut Arkan. Ini soal tidak punya rasa malu, tidak punya batas.

Arkan terlihat ragu sebentar, tapi kemudian Lenna berjinjit, mencium bibirnya...

Dara menutup mata, dia tidak perlu melihat lebih jauh. Tapi dia mendengar...

Mendengar bisikan Lenna. "Aku mencintaimu, lebih dari siapapun."

Mendengar Arkan menjawab. "Aku juga..."

Kebohongan... Semuanya kebohongan.

Lenna punya Rio, tapi dia tetap memanipulasi Arkan. Karena Arkan punya nama, harta, status. Sementara Rio... Dara menebak mungkin pria biasa yang Lenna cintai tapi tidak bisa memberinya kehidupan mewah.

Sama seperti Salma, mengatakan "sahabat" tapi mengkhianati demi uang.

Pola yang sama.

Manipulasi yang sama.

Pengkhianatan yang sama.

Dan Dara sudah muak dengan pola ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!