Indonesia
NovelToon NovelToon

Jodoh Ku Mas Kades

Prawan Tua

Pagi itu Anggika Rosalia terbangun dengan jantung berdegup kencang saat suara gedoran keras mengguncang pintu kamarnya.

“ANGGI!”

“Bangun! Jam berapa ini kamu masih molor aja! Rezeki kamu dipatok ayam nanti!” teriak Kulsum lantang dari balik pintu.

“Iya, Mak … iya …” Anggi mengerang malas. “Ini Anggi udah bangun!”

Ia membuka mata setengah, rambutnya awut-awutan. Dengan langkah gontai, Anggi turun dari ranjang dan membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, Kulsum langsung melotot tajam.

“ASTAGA!”

“Kaya kerbau kamu baru bangun tidur! Ini udah mau jam sepuluh, Anggi!”

Anggi mengucek mata. “Jam sepuluh doang, Mak … ”

“Doang katamu?!” Kulsum berkacak pinggang.

“Anak gadis tuh ya harus rajin! Cepat mandi! Abis itu anterin makanan ke kebun. Bapakmu udah nunggu dari tadi, kasihan sudah kelaparan dia!”

Anggi menguap lebar. “Iya, iya. Anggi mandi dulu …”

“Jangan kebanyakan alasan. GERCEP!” bentak Kulsum.

“Iya, galak amat sih,” gumam Anggi sambil berjalan ke dapur.

Matanya langsung tertuju pada paha ayam goreng di meja. Tangannya refleks menyambar—

“Heh!”

PLAK!

Kulsum menepuk tangan Anggi.

“Belum mandi, belum cuci muka, udah nyomot makanan aja! Jorok tau!”

Anggi meringis. “Ya elah, Mak. Nyobain dikit doang …”

“MANDI!” potong Kulsum tegas.

“Siap, Komandan,” sahut Anggi sambil nyengir kecil lalu kabur ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Anggi keluar dengan rambut masih basah dan wajah setengah segar. Ia berganti pakaian sederhana, lalu melangkah ke ruang depan.

Kulsum sudah menyiapkan rantang di meja.

“Ini makanan buat bapakmu. Habis nganter, langsung pulang. Jangan keluyuran.”

“Iya, Mak.”

“Nanti malam kamu bantu Mak masak. Juragan Huda mau datang ke rumah.”

Anggi berhenti melangkah.

“Emang juragan Huda mau ngapain ke sini?”

Kulsum mendengus. “Jangan banyak tanya. Pokoknya kamu duduk yang manis aja.Jangan lupa dandan yang cantik. Jangan malu-maluin keluarga.”

Alis Anggi langsung berkerut.

“Mak… jangan bilang mau ngejodohin Anggi lagi?”

“Sudah!” bentak Kulsum.

“Cepat ke kebun! Kebanyakan mikir yang engak-enggak!”

“Iya, iya …” Anggi mengalah. “Anggi berangkat.”

Dengan rantang di tangan, Anggika berjalan menyusuri jalan desa. Angin pagi berembus sejuk, tapi pikirannya justru panas.

“Juragan Huda lagi, juragan Huda lagi …”

gumamnya kesal.

Tiba-tiba—

BRUAAAK!

Cipraaaat!

Air genangan muncrat tepat ke celananya.

“WOY!” Anggika melonjak kaget.

“MATA KAMU DI DENGKUL APA GIMANA, SIH?!”

Motor itu berhenti mendadak. Pengendaranya menoleh panik.

“Maaf, Mbak! Maaf banget! Aku nggak sengaja!”

Anggika melotot, menatap pria itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Eh … kamu?! Maryono,kan?!”

Pria itu menghela napas panjang.

“Mario. Namaku Mario. Dari dulu juga kamu selalu gajti-ganti nama orang seenak jidatnya.”

“Ah, sama aja!” bentakAnggika.

“Sekarang sombong banget, ya? Bawa motor nggak pakai otak!”

Mario menyeringai miring.

“Yang sombong itu kamu, Anggi. Baru pulang dari kota udah berasa jalan punya nenek moyang kamu.”

“Jaga mulut kamu!” Anggika menunjuknya.

“Jangan sok tahu hidup orang!”

“Yaudah, aku nggak mau ribut,” ujar Mario santai sambil menstarter motor.

“Oh iya, aku nyalon lurah. Ingat, nyoblos nomor dua.”

Anggika mendengus jijik.

“Najis. Mimpi aja sana!”

Mario tertawa kecil.

“Santai aja. Jangan baper dong calon warga ku.”

Motor itu pun melaju pergi, meninggalkan Anggika dengan celana basah dan emosi mendidih.

“Sialan!”

“Apes banget baru juga mandi, kena air comberan!”

“Kurang ajar emang Mario gak punya akhlak!”

Sesampainya di kebun, Anggika meletakkan rantang di atas gubuk kecil.

“Pak, ini makan siangnya,” katanya sambil membuka tutup rantang.

Bapaknya menoleh dan tersenyum hangat.

“Kamu sudah makan belum, Anggi?”

“Belum, Pak. Nanti aja di rumah.”

Bapaknya mengangguk sambil mulai menyuap nasi.

“Jangan lupa nanti sore dandan yang cantik.”

Anggika langsung menegang.

“Pak … jangan bilang Bapak mau ngejodohin Anggi sama juragan Huda?”

Bapaknya berhenti makan.

“Kenapa kamu mikir ke situ?”

“Soalnya emak bilang dia mau datang malam ini!” suara Anggi meninggi.

“Anggi nggak mau, Pak! Dia udah tua bangka bau tanah!”

Bapaknya menghela napas panjang.

“Anggi, umur kamu sudah 27. Kamu sudah gagal sama orang kota itu. Sekarang ada yang mau melamar, kenapa ditolak?”

Anggika mengepalkan tangan.

“Aku masih bisa cari jodoh sendiri!”

Ia berbalik pergi.

“Kenapa sih kalau belum nikah?! Emang aku nggak laku?!”

“Anggi!” panggil bapaknya.

Namun Anggika terus berjalan.

“Yang bikin mati itu bukan telat nikah, Pak!”

“Tapi nikah sama orang yang salah!”

Ia berhenti, napasnya berat.

“Semua ini gara-gara kamu, Rafly…” gumamnya.

Matanya memanas.

“Kalau kamu nggak selingkuh sama Tania, aku nggak bakal jadi bahan omongan satu desa!”

Dengan kesal, Anggika menendang sebuah batu.

TAK!

“WOY!”

“Siapa yang lempar batu?!”

Seseorang berteriak dari balik semak.

Wajah Anggika pucat.

“Astaga ... Apa yang sudah ku lakukan?Bisa mati aku,siapa yang sudah kena lemparan batu ku?”

Tangannya gemetar, jantungnya berdegup kencang.

Lamaran ditolak

Seseorang tiba-tiba keluar dari balik semak-semak sambil meringis kesakitan.

“Aduh … aduh … sakit—”

Anggika langsung menoleh tajam.

“HAH?!”

Begitu melihat siapa orangnya, matanya langsung membesar.

“Maryono?!”

“Ngapain kamu sembunyi di situ?! Jangan bilang kamu lagi ngintipin cewek-cewek! Dasar mesum! Awas aja mata kamu bintitan!”

Mario mendengus sambil memegangi jidatnya.

“Sembarangan kamu! Aku lagi pasang baliho kampanye, jatuh ke sini!”

“Alasan!” bentak Anggika.

“Dari dulu juga kamu tukang ngeles! Buktinya tim sukses kamu gak ada tuh. ”

Mario menunjuk jidatnya yang memerah.

“Lihat nih! Gara-gara kamu! Jidat aku benjol segede bakpao!”

Anggika melirik sekilas, lalu menyeringai sinis.

“Bagus. Cocok sama kelakuan kamu.”

“Enak aja!” Mario mendelik.

“Kamu tadi yang lempar batu, kan?!”

Anggika melipat tangan di dada.

“Iya, terus kenapa?”

Mario melongo.

“Ngaku pula?!”

“Biarin,” sahut Anggika enteng.

“Satu sama kamu tadi udah nyipratin baju aku pakai air comberan. Anggap aja itu sebagai karma.”

“Hah?!”

“Dasar cewek kejam!”

Belum sempat Mario bicara lagi, Anggika sudah berbalik dan lari terbirit-birit ke rumahnya.

“SUEK KAMU, ANGGIKA!” teriak Mario frustasi.

“AWAS YA! AKU BALAS!”

Anggika tertawa kecil sambil berlari.

“Balas aja aku gak takut! Aku mah bodo amat!”

Sambil ngos-ngosan, Anggika masuk ke halaman rumah.

“Resek emang si Maryono!” gerutunya.

“Baju aku jadi kotor, tapi jidat dia benjol. Impas!”

Begitu masuk rumah, Kulsum langsung melotot melihat kondisi putrinya.

“YA AMPUN!”

“Kenapa kamu lari-lari kaya dikejar setan? Terus kenapa ini bajumu comot begitu!”

“Kamu guling-guling di sawah, hah?!”

Anggika manyun.

“Mak, ini anaknya lagi kena musibah malah dimarahin.”

“Musibah apaan?”

“Kamu tuh kaya anak kecil tau gak!”

“Ini gara-gara si Maryono!” Anggika mendumel kesal.

“Dia nyipratin baju aku pakai air genangan! Tau nggak? Rasanya pengen aku sobek-sobek itu baliho gambar muka jeleknya!”

Kulsum terkejut.

“ASTAGA! Jangan sembarangan!”

“Biarin!Biar dia kapok!”

Kulsum menggeleng-geleng.

“Anggi, kamu tuh jangan kebanyakan benci sama orang. Siapa tahu malah jadi jodoh.”

“Amit-amit jabang bayi!” sergah Anggika cepat.

“GAK SUDI, MAK!”

Ia mengibaskan tangan dramatis.

“Mending aku nggak nikah seumur hidup kalau cowok terakhir di dunia cuma dia!”

Kulsum langsung menepuk lengannya.

“Jangan ngomong sembarangan!”

“Ucapan itu doa, Gi!”

Anggika cemberut.

“Ya Allah, jangan dikabulin, ya.”

“Sudah!” kata Kulsum tegas.

“Sana ganti baju! Habis itu bantu Mak masak di dapur!”

Anggika berjalan ke kamar sambil menggerutu pelan.

“Iya, Mak … kenapa hari ini aku sial banget … ”

Kulsum hanya bisa menghela napas sambil menggeleng.

“Anak satu ini selalu … bikin darah Mak naik tensi.”

Anggika menutup pintu kamar dengan dengusan kesal—

Setelah berganti pakaian, Anggika ikut membantu ibunya di dapur. Tangannya sibuk mengaduk sayur, sementara pikirannya berlari ke mana-mana.

“Anggi, itu bawang jangan kebanyakan,” tegur Kulsum.

“Iya, Mak,” sahut Anggika asal.

Beberapa jam kemudian diluar sudah gelap, Kulsum menepuk tangannya.

“Sudah. Sana kamu mandi, siap-siap.”

Anggika menelan ludah.

“Iya, Mak …”

Selesai mandi, Anggika masuk ke kamar. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, napasnya terasa berat.

“Pokoknya … aku harus membatalkan lamaran ini,” gumamnya tegas.

Ia mondar-mandir gelisah.

“Tapi gimana caranya, ya?”

“Kalau nolak langsung … bapak bisa ngamuk.”

“Celurit bisa melayang ke leher ku … tamat sudah riwayat ku.”

Ia berhenti mendadak.

“Ngaku punya pacar …”

Alisnya terangkat.

“Sepertimya ide terbaik aku bilang aja udah punya calon suami.”

Wajahnya kembali muram.

“Tapi … siapa yang masuk akal?”

Anggika memijat pelipisnya.

“Aduh, Gi … mikir dong!”

Tiba-tiba terdengar suara Kulsum dari luar kamar.

“ANGGI!”

“Cepetan keluar! Juragan Huda sama rombongan udah datang!”

Anggika terlonjak.

“I-Iya, Mak!”

Ia menarik napas panjang.

“Bismillah … nekat aja.”

Anggika melangkah ke ruang tamu. Di sana, juragan Huda duduk santai dengan senyum lebar, ditemani beberapa orang rombongan. Aisyah, istrinya, tersenyum ramah.

“Selamat malam, Juragan,” sapa Anggika sopan.

“Malem, Nduk,” jawab Juragan Huda.

“Wah, kamu cantik banget malam ini.”

Aisyah mengangguk setuju.

“Iya, Anggika kamu kelihatan cantik banget malam ini.”

“Terima kasih atas pujiannya, Tante,” ujar Anggika pelan.

Kulsum tersenyum bangga, sementara Herry—bapaknya—mengangguk kecil.

Anggika menelan ludah, lalu melangkah satu langkah ke depan.

“Maaf… sebelum pembicaraan dilanjutkan, saya ingin menyampaikan sesuatu.”

Suasana langsung hening.

Juragan Huda menaikkan alis.

“Apa itu, Nduk?”

Anggika menggenggam ujung bajunya.

“Saya sebenarnya … sudah punya calon suami.”

Semua orang terdiam.

“Apa?” Kulsum membelalak.

“Kamu ngomong apa, Gi?”

Herry ikut menatap tajam.

“Anggika … ini maksudnya apa? Jangan bercanda kamu! ”

Anggika menguatkan diri.

“Karena itu … dengan segala hormat, saya menolak lamaran Juragan Huda.”

Aisyah saling pandang dengan rombongan.

“Calon suami?” ulangnya pelan.

“Siapa?”

Kulsum dan Herry saling berpandangan panik.

“Gi…” bisik Kulsum.

“Jangan bercanda di depan tamu!”

Anggika membuka mulut, tapi suaranya tercekat.

Tiba-tiba—

PINTU TERBUKA.

Seorang pria masuk dengan langkah mantap. Ia mengenakan jas rapi, wajahnya tenang, tatapannya tajam.

“Permisi maaf saya terlambat.”

Semua mata langsung tertuju padanya.

Anggika langsung nyeletuk.

“D-dia orangnya …”

Calon Suami

Aisyah tersenyum lebar, wajahnya terlihat puas.

“Kalau begitu bagus dong,” katanya riang.

“Kenapa harus disembunyikan sih? Kalian kan sudah sama-sama suka.”

Anggika langsung membelalakkan mata.

“E-eh apa-apaan ini?”

Aisyah menoleh pada Herry dan Kulsum.

“Daripada panjang lebar, mending langsung kita tentukan tanggal pernikahannya saja.”

“HAH?! Tanggal pernikahan?”

Anggika refleks berteriak.

Ia menoleh cepat ke semua orang.

“Tunggu, tunggu! Jadi… yang melamar aku malam ini itu Mario?”

“Bukan Juragan Huda?!”

Juragan Huda terkekeh, menggeleng pelan.

“Kamu pikir orang tua seperti saya ini masih mau menikahi gadis muda seperti kamu?”

“Hahaha … saya disini cuma sebagai perantara saja.”

Anggika menelan ludah.

“Oh no…”

“Apa yang sudah aku lakukan …”

Ia melirik Mario yang berdiri tenang di sampingnya.

Dari semua orang di dunia ini … kenapa harus dia?

Musuh bebuyutan dari kecil, yang selalu menjahili aku dari dulu …

Herry mendadak tertawa bahagia.

“Bapak senang banget, Gi! Bapak kira kamu patah hati gara-gara diselingkuhi.”

“Ternyata kamu sudah pacaran sama Mario!”

Anggika menoleh panik.

“Pak—”

Kulsum ikut nimbrung sambil menyenggol lengan Anggika.

“Tadi kamu bilang amit-amit, sekarang malah ngaku terang-terangan.”

“Dasar anak ini!”

“Mak!” protes Anggika lirih.

“Ini salah paham!”

Mario berdeham pelan.

“Pakde sepertinya ada salah paham.”

Juragan Huda mengangguk puas.

“Apanya yang salah paham?”

“Mario, jangan bengong.”

Mario tersentak.

“Iya, Pakde.”

“Pasangin cincin tunangannya,” lanjut Juragan Huda.“Yang tadi kamu beli di kota.”

“Apa?!” Anggika spontan.

“Cincin?!”

Mario melangkah mendekat.

“Tenang aja ini cuma cincin pertunangan bukan petasan.”

“Tenang dari mana?!” bisik Anggika panik.

“Tangan aku gemetar!”

Mario tersenyum kecil.

“Bagus. Berarti masih hidup.”

Anggika melotot.

“Kurang ajar!”

Dengan gerakan pelan, Mario menggenggam tangan Anggika. Jari-jari Anggika terasa dingin, tubuhnya panas dingin.

“Jangan,” bisik Anggika nyaris tanpa suara.

“Ini gila.”

Mario menatapnya dalam.

“Kamu sendiri yang bilang aku calon suami kamu sek mau menyangkal?”

“Itu bohong!”

“Sekarang jadi kenyataan,” balas Mario pelan.

Di depan semua orang, Mario memasangkan cincin ke jari manis Anggika.

Kulsum bertepuk tangan senang.

“Alhamdulillah…”

Herry tersenyum berbicara dalam hati.

“Bapak bisa pergi dengan tenang jika seperti ini,Gi.”

Anggika menatap cincin di jarinya, napasnya tercekat.

Ini mimpi, kan?Siapa pun tolong cubit lengan ku.

Mario membungkuk sedikit ke arah Anggika.

“Mulai sekarang… biasakan.”

“Biasakan apa?” bisik Anggika dengan mata melebar.

Mario tersenyum penuh arti.

“Dipanggil aku Mas Mario,karena aku akan jadi suami sah kamu.”

Anggika hampir pingsan di tempat.

Kulsum tersenyum lebar, nadanya dibuat ringan seolah semua sudah beres.

“Gi, ajak Mario makan dulu sana.”

“Biar kami orang tua ngobrolin tanggal pernikahan yang cocok buat kalian menikah.”

Anggika menelan ludah.

“Iya, Mak,” jawabnya singkat.

Begitu masuk dapur, Anggika langsung menarik lengan Mario.

“Eh!” Mario hampir tersandung.

“Kamu kenapa sih narik- narik segala?”

Anggika menatapnya tajam.

“Kenapa kamu tadi siang gak bilang kalau kita dijodohin?!”

Mario menyilangkan tangan.

“Kamu sendiri yang ngaku kalau aku calon suami kamu.”

“Sekarang malah nyalahin aku.”

“Itu karena aku terdesak gak ada pilihan!” bantah Anggika.

“Lagian orang tuaku juga nggak ngomong dari awal kalau yang ngelamar aku itu kamu!”

“Kalau aku tahu, aku nggak akan mau!”

Mario menghela napas.

“Kalau gitu, kamu mau nolak sekarang?”

Anggika terdiam.

Mario melanjutkan dengan nada dingin.

“Silakan.”

“Sana bilang ke depan.”

“Tapi pastikan bapak kamu kuat nerimanya.”

Anggika langsung naik darah.

“Jangan ngomong sembarangan!”

“Kamu jangan doain yang aneh-aneh!”

“Aku bukan doain,” jawab Mario tenang.

“Aku cuma realistis.”

Ia mendekat setengah langkah.

“Gini aja. Aku jujur.”

Anggika mendengus.

“Jujur apaan lagi?”

“Aku butuh istri,” kata Mario lugas.

“Buat maju pemilihan lurah.”

Anggika terkejut.

“Jadi … kamu menganggap pernikahan ini cuma soal politik?”

“Kamu juga butuh suami,kan?” taya Mario tanpa ragu.

“Buat nutupin gosip kamu yang dibilang perawan tua dan untuk menyenangkan hati orang tua kamu. ”

“Aku BUKAN perawan tua!” Anggika membentak.

“Jaga mulut kamu!”

Mario mengangkat bahu.

“Itu stigma masyarakat.”

“Perempuan umur 27 belum nikah.”

Ia menatap Anggika lurus.

“Kalau aku?”

“Mau aku menikah di usia 50 nikah sama gadis 20 tahun juga masih dibilang wajar.”

“Kalau kamu? Tidak,kan.”

Anggika mengepalkan tangan.

" Tapi aku gak terima dengan perkataan kamu seperti merendahkan kaum hawa. "

Mario menghela napas pelan.

“Aku nggak ngatain kamu,Gi.”

“Aku cuma mau menawarkan sebuah solusi.”

Ia menatap Anggika serius.

“Kalau kamu nggak mau, ya sudah.”

“Keputusan ada di tangan kamu,aku gak akan memaksa kamu. Lagian di luar sana banyak wanita ngantri untuk jadi istri ku. ”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!